Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta, Jakarta Raya) adalah ibu kota negara Indonesia. Jakarta merupakan satu-satunya kota di Indonesia yang memiliki status setingkat provinsi. Kota Jakarta terletak pada 106 derajat 49' 35" Bujur Timur dan 06 derajat 10' 37"
Lintang Selatan.31 Berada di dataran rendah pantai utara bagian barat Pulau Jawa, terdapat sekitar 10 buah sungai alam dan buatan. Jakarta terletak di bagian barat laut Pulau Jawa.
Dahulu pernah dikenal dengan nama Sunda Kelapa (sebelum 1527), Jayakarta (1527-1619), Batavia (1619-1942), dan Djakarta (1942-1972). Jakarta memiliki luas sekitar 661,52 km² (lautan : 6.977,5 km²), dengan penduduk berjumlah 8.523.157 jiwa (20097)32. Bersama metropolitan Jabodetabek yang berpenduduk sekitar 23 juta jiwa, wilayah ini merupakan metropolitan terbesar di Indonesia atau urutan keenam dunia.
14
2.5 STUDI BANDING
Untuk menambah data mengenai Sekolah film , di adakan pula kajian banding antara 2 pendidikan/sekolah perfilman yang mempunyai fungsi yang sama. Hal ini memberikan gambaran terhadap aktifitas dan fasilitas yang terjadi pada bangunan. Pada kajian banding ini, akan di tinjau Institut Kesenian Jakarta (IKJ), London School Academy, dan SAE Indonesia.
2.5.1 INSTITUT KESENIAN JAKARTA
Institut Kesenian Jakarta adalah sebuah perguruan tinggi yang berkedudukan di Jakarta, Indonesia. Institut ini khusus mengajarkan bidang-bidang seni yang meliputi seni rupa, seni peran, dan perfilman. Kali pertama, lembaga ini bernama LPKJ (Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta) yang didirikan oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, dan diresmikan pada pada tanggal 25 Juni 1976 oleh Presiden Suharto.
PROGRAM
Sistem pendidikan di IKJ adalah strata satu (S1) dengan kurikulum 4 tahun yaitu : Semester 1-4 = Umum
Semester 5-8 = Peminatan
15
Untuk sistem peminatan yang akan dipilih oleh mahasiswa di semester 5 yaitu :
• Animasi
Mahasiswa memahami aplikasi, fungsi animasi dan terampil dalam mewujudkan berbagai bentuk animasi.
• Artistik
Mahasiswa memahami jenis/bentuk set dan mampu berpraktek secara profesional;
memahami, mengetahui dan mampu berpraktek membuat set disain secara terampil;
mengetahui, memahami trik pengambilan gambar dengan bantuan art dan special effects manual.
• Editing
Mahasiswa memahami prosedur kerja editing dan cara mengedit berbagai format program;
memahami prosedur kerja editing film/editing video dan melakukan praktek editing video non-linier.
• Kamera
Mahasiswa mengerti dan memahami teknik pengambilan gambar secara profesional;
mengerti dan memahami serta mampu praktek komposisi; memahami penataan lighting dan kamera serta pedoman-pedoman pertelevisian/perfilman.
• Penyutradaraan
Mahasiswa mampu memahami apa yang dimaksud dengan sutradara televisi/film; mampu melakukan kajian tentang konsep-konsep penyutradaraan; mampu melakukan kombinasi sutradara pentas dan pengarah acara serta peran dan tanggung jawab sutradara film dan/atau program televisi.
• Produksi
Mahasiswa memahami tahap-tahap dalam menciptakan berbagai bentuk program, rincian manajemen produksi, pra produksi serta pemasaran sebuah film dan/atau program televisi.
• Skenario
Mahasiswa memahami perbedaan karakteristik film naratif dan drama televisi; memahami cara menyusun struktur dramatik drama televisi dan film; memahami karakteristik film pendek dan film panjang.
16
• Suara
Mahasiswa memahami aspek-aspek dalam produksi suara; mempraktekkan secara terampil digital audio production.
FASILITAS IKJ
Ruang Theater
Fasilitas yang digunakan oleh mahasiswa semester 1 sampai 4 dan mahasiswa untuk program peminatan.
Fasilitas Theater memiliki kapasitas untuk 60 mahasiswa dengan luas ruangan 120 m2 untuk ruang theater besar dan 60 m2 untuk ruang theater kecil dilengkapi dengan tempat duduk observasi untuk mahasiswa sebanyak 60 kursi di ruang theater besar dan 30 kursi di ruang theater kecil dan layar display besar untuk pertunjukan film pendek dan presentasi
Lab Editing, Animasi dan Praktek Kamera
Fasilitas yang digunakan oleh mahasiswa semester 1 sampai 4 dan mahasiswa untuk program peminatan Animasi, Editing, dan Peminatan Kamera.
Fasilitas lab animasi memiliki ruangan animasi digital sebesar 100 m2 untuk menampung 40 mahasiswa dan peralatan komputer untuk pengolahan animasi dan 80 m2 ruangan praktek
17
kamera untuk menampung 10 orang mahasiswa, peralatan kamera dan 1 set latar hijau beserta properti yg dibutuhkan untuk set panggung.
Setting Penyutradaraan dan Artistik
Fasilitas yang digunakan oleh mahasiswa semester 1 sampai 4 dan mahasiswa untuk program peminatan Penyutradaraan dan peminatan Artistik untuk keperluan produksi film.
Fasilitas ruang praktek penyutradaraan memiliki ruangan sebesar 80 m2 untuk menampung 5 mahasiswa dan peralatan syuting seperti kamera, lampu, mikropon, dan setting panggung untuk artistik
Perpustakaan / Ruang Skenario
Fasilitas yang digunakan oleh mahasiswa umum dan mahasiswa untuk program peminatan Skenario.
Ruang perpustakaan sebesar 500 m2 dibagi menjadi 2 lantai untuk menampung 5000 koleksi buku, skripsi, dan bahan diktat perkuliahan dapat menampung sekitar 200 mahasiswa secara
18
bersamaan dan ruangan ini juga menjadi ruang praktek untuk mahasiswa program peminatan skenario sehingga menunjang kreativitas mahasiswa dalam penulisan skenario.
2.5.2 LONDON FILM SCHOOL ACADEMY
London Film School Academy terletak di daerah Convent Garden, London, tepatnya di Shelton Street nomor 24. Lokasi kampus LFS terletak di pusat industri film di Inggris yaitu Wardour street di Soho. Dan berada di kompleks area West End Cinema And Theatres, the Royal Opera House, the National Gallery, the British Museum, the British Film Institute Library, the BFI Southbank dan the Tate Modern.
London Film School merupakan Sekolah Film internasional yang tertua di dunia yang didirikan pada tahun 1956.
PROGRAM
Di kampus ini ada dua program utama yaitu MA Filmmaking dan MA Screenwriting. MA Filmmaking adalah program intensif yang dijalankan selama dua tahun masa studi.
Pembelajarannya berdasarkan film-film pendek. Tidak hanya itu juga akan diperlengkapi dengan pengetahuan tentang language (image, meaning, style), practice (fiction dan non-fiction), sythesis (Industry dan independents).
FASILITAS
Kemampuan membuat film handal di LFS ditunjang dengan fasilitas kampus yang lengkap dan berkualitas. Fasilitas-fasilitas tersebut antara lain:
Virtual Learning Environment
19
Fasilitas Sound dan Mixer
Fasilitas yang digunakan oleh mahasiswa umum dan mahasiswa untuk program peminatan Sound.
Fasilitas Kamera
Fasilitas yang digunakan oleh mahasiswa umum dan mahasiswa untuk program peminatan Kamera.
Auditorium Film
Fasilitas yang digunakan oleh mahasiswa umum.
20
Fasilitas Editing dan Animasi
Fasilitas laboratorium komputer dan grafis yang digunakan oleh mahasiswa umum dan mahasiswa untuk program peminatan Editing dan peminatan Animasi.
Fasilitas Tata Cahaya
Fasilitas ruang kontrol tata cahaya yang berhubungan langsung dengan ruangan set produksi dan digunakan oleh mahasiswa umum dan mahasiswa untuk program peminatan Lighting.
21
2.5.3 SAE INSTITUT JAKARTA
SAE jakarta atau School of Art and Entertainment yang terletak di jl Pejaten raya, jakarta selatan adalah salah satu institusi pendidikan dibidang kreatif seperti Film Production, Animasi, Audio Engineering dan Music Bisnis.
PROGRAM
Institusi pendidikan ini memiliki program pendidikan untuk strata 1 dengan kurikulum 4 tahun dibidang produksi film dan Diploma 3 dengan kurikulum 3 tahun dibidang Animasi dan Audio Engineering.
22
FASILITAS SAE JAKARTA INSTITUT
Fasilitas Program Jurusan Produksi Film SAE Institut antara lain :
Auditorium
Fasilitas yang digunakan oleh mahasiswa umum.
Fasilitas auditorium di SAE memiliki ruangan dengan kapasitas 100 mahasiswa dan fasilitas layar lebar untuk presentasi dan pembelajaran film pendek.
Fasilitas Animasi
Fasilitas laboratorium komputer grafis dan studio gambar yang digunakan oleh mahasiswa umum dan mahasiswa untuk program peminatan Animasi.
Fasilitas untuk program jurusan animasi di SAE memiliki dua tipe yaitu lab animasi digital dengan ukuran ruangan sekitar 50 m2 dengan kapasitas 20 mahasiswa dan peralatan komputer untuk pengolahan animasi digital, sedangkan tipe berikutnya adalah lab animasi untuk manual atau freehand. Studio gambar ini memiliki ukuran ruangan sebear 50 m2 dengan kapasitas sebesar 15 mahasiswa dan peralatan freehand seperti meja gambar.
23
Laboratorium Produksi Musik
Fasilitas yang digunakan oleh mahasiswa umum dan mahasiswa untuk program peminatan Sound.
Fasilitas untuk produksi musik di SAE memiliki 2 ruangan yaitu lab musik digital yaitu ruang praktek pengolahan musik secara digital dengan ukuran ruangan 50 m2 dengan kapasitas 20 mahasiswa serta peralatan instrument musik dan komputer untuk pengolahannya. Sedangkan fasilitas berikutnya adalah ruangan mixer untuk komposing musik menuju proses akhir dengan ukuran 20 m2 untuk kapasitas 2 mahasiswa sebagai composer dan peralatan mixer.
Fasilitas Produksi dan Rekayasa Artistik
Fasilitas yang digunakan oleh mahasiswa umum dan mahasiswa untuk program peminatan penyutradaraan dan peminatan artistik.
Fasilitas untuk ruang praktek penyutradaraan di SAE digabung dengan program rekayasa artistik. Dengan ukuran ruangan sebesar 100 m2 ruangan ini dapat menampung 1 tim penyutingan film sebesar 15 sampai 20 kru di tim tersebut. Dan juga menampung peralatan untuk syuting seperti kamera, lampu, monitor, setting hijau, dan lainnya.
24
Kesimpulan:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya. Dalam studi banding yg dilakukan penulis dapat ditemukan permasalahan yang ada seperti kapasitas ruangan yang tidak mencukupi sedangkan jumlah mahasiswa berlebih sehingga diterapkan jadwal yang sangat sempit sehingga kurang mengeksplorasi kemampuan mahasiswa tersebut. Sehingga permasalahan tersebut harus dipecahkan dengan merencanakan pusat pendidikan yang lengkap sistem dan fasilitas. Sehingga peserta didik dapat belajar secara maksimal.
2.6 TINJAUAN TEORI EKSPRESI BENTUK 2.6.1 Pengertian Topik dan Tema 1. Tinjauan Terhadap Ekspresi
Secara harafiah kata Ekspresi Bentuk berarti:
Ekspresi berasal dari bahasa inggris Expression, yang berarti : Kelakuan, ungkapan atau proses berekspresi.
Ekspresi :
• Adalah ungkapan, pengutaraan, cara pernyataan.
• Raut muka penampilan.
• Komposisi dari karakter yang diciptakan oleh bangunan.
Bentuk :
• Suatu rupa yang dapat dinikmati secara visual, terbentuk dari sebuah titik yang diperpanjang menjadi sebuah garis, lingkaran, segitiga, persegi empat, persegi panjang, dll. berubah menjadi bola, piramid, kubus, balok, dll. Terpadu dalam segala bentuk, selain bentuk dasar tersebut jenis bahan bangunan ikut berperan juga seperti sejenis permukaan, tekstur serta warna.
Dibawah ini tercantum beberapa pengertian ekspresi bentuk menurut pendapat para ahli-ahli yang ada:
• Pendapat ‘L.C.Snyder dalam bukunya Pengantar Arsitektur,’menyatakan bahwa Ekspresi Bentuk erat kaitannya dengan estetika dan estetika itu sangat dekat dengan fungsi, ekspresi, komposisi, proporsi, dan kekokohan. Pengertian ekspresi itu sendiri
25
menurut L.C.Snyder ialah ilustrasi/penggambaran dari emosi ekspresi arsitek dalam menciptakan suatu rancangan bangunan.
• Pendapat Kant dalam buku Ruang Dalam Arsitektur menyatakan bahwa Ekspresi Bentuk adalah segala hal yang berkaitan dengan penggambaran bentuk dan materinya. Bentuk tersebut bisa berupa bentuk luar atau fisik maupun pola ruang.
Dimana sistem konseptual estetik.
• Menurut Mies van de Rohe, bentuk merupakan wujud dari penyelesaian akhir suatu konstruksi yang pengertiannya sama.
• Pendekatan dari Alvar Alto dalam bukunya Charles Janks, menyatakan bahwa bentuk merupakan media bagi arsitek untuk menyampaikan informasi dan mengapresiasikan diri, dimana kedua unsur itu di padukan dengan arsitektur anthropomorphic (mengembangkan bentuk dengan pertimbangan manusiawi).
Kesimpulan :
Ekspresi Bentuk adalah ungkapan emosi atau perasaan didalam proses penciptaan suatu rupa/bentuk yang dapat dinikmati secara visual dan memiliki dasar tertentu seperti keterpaduan, keseimbangan, proporsi, atau skala.
2. Tinjauan Terhadap Bentuk
Teori Bentuk sebagai fungsi komunikasi oleh Geoffrey Broadbent: Bangunan yang baik adalah memuat sejumlah komunikasi kedalam totalitas dan mengeksprasikannya dengan ringkas dan indah. Karena itu bangunan dan pengamatnya harus berkomunikasi seperti yang dikatakan oleh beliau yaitu:
“Pengamat akan melihat suatu bangunan berdasarkan pendekatan visual sehingga menimbulkan suatu persepsi. Kesesuaian visual penting ditempat paling mungkin dilihat/dikunjungi orang, khususnya ruang yang bersifat publik dari suatu bangunan”.
Dalam arsitektur bentuk mempunyai pengertian yang berbeda-beda, sesuai dengan pandangan dan pemikiran pengamatnya, antara lain sebagai berikut:
1. Bentuk adalah suatu perwujudan dari organisasi ruang yang merupakan hasil dari suatu proses pemikiran, dengan pertimbangan fungsi dan usaha pernyataan diri atau ekspresi.
2. Bentuk merupakan media bagi arsitek utnuk menyampaikan informasi dan mengekspresikan diri.
26
3. Bentuk adalah wujud dari penyelesaian akhir dari suatu konstruksi.
4. Bentuk adalah hasil dipenuhinya syarat kekuatan, fungsi, dan keindahan.
Jadi kesimpulannya adalah dalam akademi film ini untuk penerapan topik ekspresi bentuk yaitu penerapan suatu ikon perfilman kedalam pengolahan site dan fasade sehingga bangunan ini memiliki sebuah ciri khusus. Selain itu penerapan topik ekspresi bentuk pada bangunan ini dapat juga menggunakan ekspose struktur didalam fasade sehingga mempertegas topik ekspresi bentuk pada bangunan akademi film ini.
26
BAB III PERMASALAHAN
PERMASALAHAN UMUM
Secara umum permasalahan dalam perencanaan dan perancangan Akademi Film ini adalah, bagaimana merencanakan dan merancang bangunan yang mampu memenuhi kegiatan pendidikan, terkait bagaimana menciptakan suatu lembaga pendidikan yang lebih edukatif dan interaktif. Selain itu bagaimana menempatkan Akademi Film ini, sehingga bisa membentuk suatu keterkaitan dengan area tapak dan menjadi ikon di area tersebut sesuai dengan tema perancangan ini yaitu Ekspresi Bentuk .
3.1 Aspek Manusia
▪ Bagaimana menentukan kebutuhan jenis ruang, luasan ruang serta jumlahnya sesuai dengan kegiatan/kebutuhan pengguna bangunan itu sendiri, baik siswa akademi maupun pengelola dan staf akademi.
▪ Bagaimana menata pola sirkulasi yang baik pada ruang dalam dan ruang luar antara siswa, pengajar dan dan pengelola di akademi itu sendiri.
▪ Bagaimana mengatur zoning, sirkulasi pencapaian ruang luar dan ruang dalam yang baik sehingga memudahkan siswa/staf akademi.
▪ Bagaimana menciptakan suasana pembelajaran yang kreativ dan edukasi untuk para siswa, staf pengajar dan pengelola bahkan masyarakat sekitar.
3.2 Aspek Lingkungan
▪ Bagaimana kondisi eksisting tapak dan keadaan lingkungan sekitar tapak.
▪ Bagaimana merencanakan jalur sirkulasi di dalam dan di luar tapak, baik bagi pejalan kaki maupun pengguna kendaraan pribadi, sehingga tidak terjadi penumpukan diantara keduanya.
▪ Bagaimana konsep ruang luar akademi dapat diolah dengan sedemikian rupa sehingga tema ekspresi bentuk dapat diterapkan kedalam pengolahan tapak.
▪ Bagaimana merencanakan jalur pedestrian, pemberian pembatas jalan dan penempatan plaza yang tepat sehingga tercipta suatu ruang terbuka hijau pada tapak dan penerapan ekspresi bentuk dapat terwujud.
27
▪ Bagaimana merespon seluruh aspek terkait matahari, kebisingan serta orientasi.
▪ Bagaimana mengolah tapak sehingga dapat menerapkan konsep ekspresi bentuk kedalam site.
3.3 Aspek Bangunan
▪ Bagaimana mengolah massa bangunan yang sesuai dengan peraturan tata guna tanah dan dapat sesuai dengan kebutuhan bangunan sehingga penerapan tema ekspresi bentuk dapat terwujud kedalam massa bangunan.
▪ Bagaimana mengolah sirkulasi tata ruang dalam dan ruang terbuka sehingga dapat menciptakan interaksi antara bangunan dan ruang terbuka diarea tapak.
▪ Bagaimana mengolah tampilan fasade bangunan yang mewakili karakteristik tema ekspresi bentuk sehingga menjadi sebuah simbol perfilman.
▪ Melengkapi bangunan akademi film dengan sistem utilitas dan keamanan yang baik bagi pengguna dan staf akademi.
28 BAB IV
ANALISA
4.1 ANALISA ASPEK MANUSIA
4.1.1 Analisa Pelaku Kegiatan Sekolah Pendidikan Film
Para pelaku kegiatan pada akademi pendidikan film ini secara garis besar adalah :
1. Pengelola dan karyawan merupakan pihak yang bertanggung jawab terhadap terhadap segala hal yang menyangkut masalah pelayanan terhadap seluruh pengguna bangunan.
Kelompok ini terdiri dari Pimpinan, staff, karyawan service, dan karyawan.
2. Instruktur pengajar merupakan pihak yang bertugas sebagai tenaga pengajar dan memberikan pelajaran film mahasiswa baik teori ataupun praktek alat shooting.
3. Mahasiswa/siswa merupakan pelaku kegiatan utama dan terbanyak mengikuti kegiatan belajar, mempelajari pengetahuan tentang perfilman dan alat perlengkapan film.
4. Pengunjung merupakan kelompok pelaku kegiatan yang datang, mengunjungi, mengantar, membeli, dan menonton pertunjukan dalam bangunan, tetapi tidak berstatus sebagai siswa, biasanya berkunjung secara perorangan atau berkelompok.
Pengunjung dapat dibagi 2 kategori :
a. Pengunjung Umum adalah pengunjung yang sehari-hari mengantar atau menjemput siswa.
b. Pengunjung khusus adalah pengunjung yang bertujuan untuk menikmati acara-acara yang diselengarakan dan pengunjung pembeli peralatan/asesoris alat shooting di pameran.
4.1.2. Jenis Pelaku Kegiatan Sekolah Pendidikan Film A. Kegiatan Pendidikan
Program pendidikan yang berlangsung dalam beberapa semester, sesuai dengan kurikulum Akademi yaitu D3.
B. Kegiatan Pameran
29 Kegiatan ini merupakan pertunjukan hasil karya sinema baik secara individu maupun berkelompok.
C. Kegiatan Pengelolaan
Kegiatan ini bertanggunag jawab terhadap seluruh kegiatan yang terdapat dalam gedung meliputi kegiatan administrasi seperti tata usaha, keuangan, dan lain-lain.
D. Kegiatan Penunjang
Merupakan kegiatan yang mewadahi apresiasi masyrakat pada umumnya dan mahasiswa pada khususnya seperti ruang ruang tunggu, seminar, cafetaria, workshop peralatan perfilman, galeri fotografi, ruang tunggu, perpustakaan dan ruang skenario, dan lain-lain.
4.1.2.1. Pengelompokan Jenis Kegiatan Akademi Pendidikan Film
Dalam beberapa jenis kegiatan diatas, kegiatan terbagi dalam beberapa kelompok dimana dalam satu kelompok terdapat seluruh jenis kegiatan yang saling menunjang dan melengkapi.
Secara garis besar dalam Akademi Pendidikan Film ini terdapat empat kelompok kegiatan yaitu :
Dalam penentuan zoning perlu diperhatikan pengelompokan kegiatan yang sesuai sifatnya agar kegiatan yang berlangsung tidak saling menggangu namun saling melengkapi dan masing-masing kegiatan memiliki pencapaian / sirkulasi yang baik.
Pertimbangan yang perlu dipikirkan dalam merencanakan hubungan antar kegiatan pada Akademi Pendidikan film ini adalah :
a. Kedekatan antar kegiatan yang saling berkaitan.
b. Pemisahan kegiatan yang tidak berhubungan.
c. Pengaturan kelompok kegiatan yang saling menunjang.
30 4.1.3. Analisa Kegiatan Pengguna Bangunan
Alur kegiatan setiap pengguna bangunan ini sebagai berikut : 1. Mahasiswa/Siswa
PARKIR DATANG
MASUK BANGUNAN
MASUK TIDAK MASUK
CAFETARIA PERPUSTA
KAAN ABSEN
R,KELAS R.PRAKTEK
MUSOLLA A
PULANG
31
32 4. Pengunjung
4.1.4. Analisa Jenis Kegiatan
Jadwal kegiatan perkuliahan dalam Akademi Film mengacu pada jadwal institut (survey IKJ) yang ada, yaitu:
A. Waktu Kegiatan Pendidikan a. Kegiatan Sekolah Film Jadwal Hari : Senin - Jumat Jadwal Waktu : 08.00 – 17.00
b. Administrasi
Disesuaikan dengan jam kerja, yaitu:
PARKIR DATANG
MASUK BANGUNAN
INFORMASI PENDAFTARAN
INFORMASI PAMERAN
INFORMASI &
ADMINISTRASI
SSC
MENUNGGU
INFORMASI &
ADMINISTRASI
MENUNGGU
PULANG
33 Jadwal Hari : Senin - Jumat
Jadwal Waktu : 09.00 – 16.00 (Waktu istirahat 12.00 – 13.00)
c. Pameran Film dan Fotografi Jadwal Hari : Senin - Sabtu
B. Pembagian Kelas Berdasarkan Peminatan
Terdapat 8 Peminatan yang dapat dipilih pada saat mahasiswa telah menyelesaikan semester 3 (Mata Kuliah Umum) di Akademi Perfilman ini, yaitu:
a. Peminatan Animasi b. Peminatan Artistik
c. Peminatan Fotografi dan Kajian Sinema d. Peminatan Penyutradaraan
e. Peminatan Produksi
f. Peminatan Editing dan Suara g. Peminatan Kamera
h. Peminatan Skenario
C. Kurikulum Kegiatan Pendidikan Kurikulum Akademi Pefilman (Survei IKJ) Lamanya Pendidikan : 3,5 Tahun
Materi : Teori dan Praktek
34 Waktu belajar : ditentukan SKS tiap semester.
Kurikulum : 125 SKS Dengan rincian per semester
1. Semester 1 = 22 SKS (Mata Kuliah Umum) 2. Semester 2 = 22 SKS
3. Semester 3 = 23 SKS
4. Semester 4 = 20 SKS (Mata Kuliah Peminatan) 5. Semester 5 = 20 SKS
6. Semester 6 = 12 SKS
7. Semester 7 = 6 SKS ( Tugas Akhir Sesuai Peminatan) 4.1.5. Analisa Ruang
Struktur Organisasi
Kelengkapan struktur organisasi pendidikan yang telah diatur oleh Undang-Undang RI No.20 tahun 1961 tentang Perguruan Tinggi yaitu mencangkup:
1. Ketua Sekolah Tinggi 2. Dewan Penyantun/Penasehat 3. Lembaga Penelitian
4. Pegawai
5. Bagian Pengajar
4.1.6. Analisa Kapasitas Ruang
A. Jumlah Mahasiswa Sekolah Perfilman
Perhitungan jumlah mahasiswa yang akan ditampung ditentukan dari :
1. Jumlah mahasiswa baru yang masuk setiap tahun 2. Jumlah mahasiswa yang tidak lulus
3. Mahasiswa yang drop out (mengundurkan diri)
Banyaknya mahasiswa yang baru yang akan ditampung setiap tahunnya mengikuti survey yaitu standart IKJ, perkiraan mahasiswa yang mendaftar 200 orang tiap tahunnya dan yang diterima 140 orang tiap angkatannya. Jumlah mahasiswa yang tidak lulus setiap angkatan
35 biasanya 5% sehingga 5% x 140 = 7 mahasiswa. Jumlah mahasiswa yang drop out 5% dari jumlah angkatan sehingga 10% x 140 = 14 mahasiswa, sehingga:
Tahun Pertama = 140 mahasiswa Tahun Kedua 140 - 14 = 126 mahasiswa Tahun Ketiga 140 - 14 = 126 mahasiswa Tahun Keempat 140 -126 = 14 mahasiswa +
406 mahasiswa
Sehingga jumlah mahasiswa pada satu tahun ajaran adalah 406 mahasiswa. Maka pada perencanaan Akademi Perfilman ini ditetapkan jumlah mahasiswa adalah 406 orang untuk jenjang 3,5 tahun.
B. Perhitungan Jumlah Pengajar
Perbandingan ideal antara dosen dan mahasiswa adalah 1 : 30 untuk kuliah teori dan 1 : 6 untuk kuliah praktek shooting.
a. Persentase kuliah teori = 30% dan kuliah praktek = 70%.
b. Seorang pengajar dapat mengajar teori maupun praktek sesuai dengan jadwal.
c. Kuliah teori lebih singkat waktunya.
Maka jumlah pengajar ditentukan berdasarkan jumlah yang dibutuhkan untuk penanganan kuliah praktek. Jadi jumlah pengajar yaitu 406 : 6 = 67,6 ~ 68 orang.
C. Jumlah Karyawan Non Edukatif
Perbandingan ideal jumlah karyawan non edukatif dengan siswa adalah 1 : 25 (Universitas Tarumanegara, 1987 ; III-7), maka :
Jumlah karyawan non edukatif adalah (406 : 25) = 17 orang.
36 4.1.7. Analisa Kebutuhan Ruang
Untuk mengetahui kebutuhan ruang perlu ditinjau berbagai macam kegiatan yang dilakukan oleh pengguna bangunan :
No Jenis Kegiatan Pelaku Kegiatan
Kegiatan Sifat Kebutuhan Ruang
1 Kegiatan Pendidikan
Mahasiswa Parkir Publik Parkir Kendaraan
siswa
WorkShop Publik Ruang Pameran Event Film Publik Ruang Pameran Istirahat/Makan Publik Cafetaria Tugas Kuliah Semi
Private
Perpustakaan
Ibadah Publik Musolla
Pengajar Parkir Publik Parkir Dosen
Rapat Semi
37
Private Ruang Staff
Mengelola Lembaga LitBang
Private Ruang Litbang
Menerima
Private Ruang Arsip
Bidang
Private Ruang Staff
Mengatur Keuangan
Private Ruang Kasubag TU
Mengatur Urusan Rumah Tangga
Private Ruang Kasubag Rumah Tangga
Menyimpan Arsip
Private Ruang Arsip
Menerima Semi Ruang Tamu
38
Private Ruang Staff
Mengurus Administrasi
Private Ruang Kasubag Adm. Pendidikan Mengurus
Humas
Private Ruang Kasubag Humas
Mengatur Bidang Keahlian
Private Ruang Kasubag Keahlian
Private Ruang Arsip
3 Pameran Bidang
Mengatur Private Ruang Kasubag
39
Perlengkapan Perlengkapan
Menyimpan Arsip
Private Ruang Arsip
Menerima Tamu
Semi Private
Ruang Tamu
Ibadah / Wudhu Publik Musolla
5 Service Teknisi Bekerja
mengoprasikan dan mengatur operasional bangunan
Private Ruang Teknisi
Mengotrol peralatan teknik dan
perlengkapan mekanik
Private Ruang Operasional
Maintenance Pengotrolan rutin Bangunan
Private Ruang Enginering Private Ruang Kontrol Private Ruang Service Cleaning
Private Ruang Enginering Private Ruang Kontrol Private Ruang Service Cleaning