TUGAS AKHIR
TAHUN AKADEMIS 20019/2020 Judul :
SEKOLAH FILM DI JAKARTA Topik :
EKSPRESI BENTUK Tema :
PENERAPAN EKSPRESI BENTUK TERHADAP PERLETAKANMASSA BANGUNAN SEKOLAH FILM
Disusun Oleh
SHANDY REZA PRATAMA 1834170003
Pembimbing : Dr. Ir. Siti Sujatini, MT
PROGRAM STUDI ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNOLOGI DAN DESAIN UNIVERSITAS PERSADA INDONESIA Y.A.I.
JAKARTA
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... i
LEMBAR PENGESAHAN ...ii
DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG... 1
1.1.1 Latar Belakang Proyek……….………... 1
1.1.2 Latar Belakang Topik Tema... 1
1.2 MAKSUD DAN TUJUAN... 2
1.3 LINGKUP PEMBAHASAN ... 2
1.4 METODOLOGI... 2
1.4.1 Pengumpulan Data... 2
1.4.2 Analisis... 3
1.4.3 Kerangka Berpikir... 5
1.5 SISTEMATIKA PEMBAHASAN………...... 6
BAB II TINJAUAN DAN LANDASAN TEORI
2.1 Tinjauan Terhadap Pendidikan…... 7
2.1.1 Pengertian Pendidikan... 7
2.1.2 Tujuan Pendidikan Nasional... 7
2.2 Tinjauan Perguruan Tinggi ....………....……….. 9
2.2.1 Satuan Pengelenggara Pendidikan...………... 9
2.2.2 Tujuan Perguruan Tinggi…... 10
2.2.3 Penyelenggara Perguruan Tinggi………... 10
2.2.4 Persyaratan Perguruan Tinggi……….... 11
2.3 Tinjauan Terhadap Film... 11
2.3.1 Fungsi Film………...….……… 11
2.3.2 Klasifikasi dan Jenis Film...….……… 12
2.4 Tinjauan Kota Jakarta... 13
2.5 Study Banding... 14
2.5.1 Institut Kesenian Jakarta... 14
2.5.2 London Film School Academy... 18
2.5.3 SAE Institut Jakarta... 21
2.6 Tinjauan Teori Ekspresi Bentuk... 24
2.6.1 Pengertian Topik dan Tema... 24
BAB III PERMASALAHAN
3.1 Masalah Aspek Manusia... 26
3.2 Masalah Aspek Lingkungan... 26
3.3 Masalah Aspek Bangunan... 27
BAB IV ANALISA 4.1 Analisa Aspek Manusia... 28
4.1.1 Analisis Pelaku kegiatan... 28
4.1.2 Jenis Pelaku Kegiatan... 28
4.1.2.1 Jumlah Pelaku Kegiatan... 29
4.1.3 Analisa Kegiatan Pengguna ... 30
4.1.4 Analisa Jenis Kegiatan... 32
4.1.5 Analisa Ruang dan Luasan... 34
4.1.6 Analisis Kapasitas Ruang... 34
4.1.7 Analisa Kebutuhan Ruang... 36
4.1.8 Analisa Kebutuhan Luas Ruang Dalam... 40
4.1.9 Analisa Hubungan Ruang ... 44
4.1.9.1 Skema Organisasi Ruang ... 45
4.1.10 Program Ruang ... 46
4.1.11 Analisa Kebutuhan Luas Ruang Luar... 53
4.2 Analisa Aspek Lingkungan... 56
4.2.1 Pemilihan Wilayah... 56
4.2.2 Analisis Pemilihan Kecamatan... 58
4.2.3 Analisis Pemilihan Kelurahan... 59
4.2.4 Tapak yang Terpilih... 60
4.2.4.1 Keterangan Kelurahan Duri Kepa... 60
4.2.5 Analisis Pemilihan Tapak... 60
4.2.6 Analisis Pengolahan Tapak... 65
4.2.6.1 Perhitungan lahan... 65
4.2.6.2 Kriteria Pencapaian Tapak... 66
4.2.6.3 Pencapaian Ke dalam Tapak... 67
4.2.6.4 Orientasi Tapak Terhadap Lingkungan... 69
4.2.6.5 Sirkulasi Dalam tapak... 69
4.2.6.6 Analisa Kebisingan... 71
4.2.6.7 Analisa View... 72
4.2.6.8 Zoning Tapak... 72
4.2.6.9 Analisa Tata Ruang Luar... 73
4.2.6.10 Spatial Quality... 78
4.3 Analisa Aspek Bangunan
4.3.1 Segi Bangunan... 79
4.3.1.1 Pola Massa Bangunan... 79
4.3.1.2 Analisa Penampilan Bangunan... 81
4.3.1.3 Bentuk... 81
4.3.1.4 Pola Gubahan Massa... 85
4.3.1.5 Sirkulasi dalam Bangunan... 86
4.3.1.6 Aesthathic Design... 88
4.3.2 Struktur... 89
4.3.2.1 Sistem Struktur... 89
4.3.2.2 Use of Material... 89
4.3.3 Utilitas... 90
4.3.3.1 Sistem Pencahayaan... 90
4.3.3.2 Sistem Penghawaan... 90
4.3.3.3 Sistem Sanitasi... 91
4.3.3.4 Sistem Listrik... 93
4.3.3.5 Sistem Komunikasi... 93
4.3.3.6 Sistem bahaya kebakaran... 93
4.3.3.7 Sistem Air Hujan... 94
4.3.3.8 Sistem Penangkal Petir... 94
4.3.3.9 Sistem Tata Suara... 95
4.3.3.10 Sistem Transportasi... 96
4.3.3.11 Pembuangan Sampah... 96
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
5.1 Dasar Perencanaan dan Perancangan ... ………97
5.1.1 Tujuan Perancangan... 97
5.1.2 Pendekatan Terhadap Perilaku... 97
5.1.3 Pendekatan Terhadap Arsitektural...97
5.2 Konsep Dasar Perancangan...98
5.1.2 Penerapan Tema Terhadap Konsep Dasar Perancangan...98
5.3 Aspek Manusia………...100
5.3.1 Pelaku dan Kelompok Kegiatan...100
5.3.2 Alur Kegiatan Manusia...100
5.3.3 Kebutuhan Luas Ruangan...101
5.4 Aspek Lingkungan ...102
5.4.1 Lokasi dan Tapak ...102
5.4.2 Pencapaian Kedalam Tapak...103
5.4.3 Penzoningan Tapak...105
5.4.4 Sirkulasi dalam Tapak...106
5.5 Aspek Bangunan...107
5.5.1 Peletakanan Massa Aspek...107
5.5.2 Gubahan Massa Bangunan …...108
5.6 Aspek Arsitektural...109
5.6.1 Penerapan Topik Tema...109
5.6.2 Pengolahan Ruang Luar...110
5.6.3 Plaza………...111
5.6.4 Amphiteater ...112
5.6.5 Struktur ...112
5.6.6 Utilitas …...113
Daftar Pustaka ...116
1
BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG 1.1.1 Latar Belakang Proyek
Seiring dengan perkembangan dunia, kebutuhan akan pendidikan juga turut berkembang pesat. Pendidikan yang dimaksud pun tidak hanya terbatas kepada pendidikan akademik disekolah umum saja, namun juga mencangkup pendidikan seni yang dapat dikenyam setelah lulus sekolah. Pendidikan itu jenisnya beragam pula, seperti Perfilman, seni musik, theater, dan lain sebagainya. Film telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Film merupakan bagian dari kesenian dan kebudayaan.
Film juga memiliki pengaruh dalam perkembangan kepribadian seseorang. Saat ini di Indonesia, khususnya di daerah ibukota Jakarta telah banyak institusi pendidikan yang telah terjun ke industri pendidikan Perfilman, namun sayangnya belum dapat menyediakan fasilitas yang dapat menampung jumlah peminat terhadap dunia Film yang semakin meningkat.
Sebagai contoh yaitu fasilitas pendidikan praktek penyutradaraan, editing, produksi yang tidak lengkap. Hanya institut kesenian jakarta (IKJ) yang memiliki fasilitas lengkap untuk menunjang pendidikan perfilman di jakarta. Untuk itu, perlu adanya suatu lembaga pendidikan Film yang diwadahi oleh suatu bangunan yang memadai serta cukup mempresentasikan sebuah seni perfilman.
Dalam proyek yang akan dirancang ini, bangunan pendidikan Film sudah seharusnya ditunjang dengan suatu fasilitas praktek sinematografi yang diharapkan dapat memotivasi kemauan belajar dan berprestasi para mahasiswanya serta didukung juga dengan fasilitas komersial untuk penyediaan barang dan peralatan perfilman bagi para mahasiswa maupun bagi masyarakat umum yang ingin memperdalam pengetahuan dan keterampilan dalam sinematografi
1.1.2 Latar Belakang Pemilihan Topik Tema
Saat ini perkembangan film di Indonesia khususnya di ibukota Jakarta telah mengalami perkembangan. Seiring dengan perkembangan prestasi sineas tanah air, peminat pendidikan film pun mulai meningkat. Pendidikan film yang ada sekarang biasanya hanya menyewa tempat dan tanpa ada suatu bangunan yang memiliki bentuk dan karakteristik bangunan film sesuai dengan fungsinya sehingga menjadi landmark kota. Untuk itu
2
pembangunan Akademi perfilman dianggap perlu sebagai sarana untuk memfasilitasi peminat pendidikan film yang semakin meningkat dan sebagai ungkapan penghargaan atau apresiasi terhadap perkembangan film di tanah air, khususnya di Jakarta.
1.2 MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud pembahasan ini adalah untuk memperoleh pedoman acuan proses perencanaan dan perancangan Akademi perfilman, dengan Topik Ekspresi Bentuk dan tema Penerapan Ekspresi Bentuk Terhadap Bentuk Bangunan Akademi Film Di Daerah Jakarta.
Tujuan dari perancangan akademi perfilman ini adalah merancang suatu bangunan yang bisa menjadi pusat pendidikan dalam bidang perfilman dan juga diharapkan agar akademi ini bisa menghadirkan nuansa (citra/image) yang baru akan pendidikan yang biasanya terkesan kaku, kuno/ketinggalan jaman, menjadi akademi yang memiliki “magnet”
bagi para siswa. Selain bagaimana kehadiran akademi ini bisa menjadi suatu elemen baru yang “menjembatani” keberadaan bangunan-bangunan kultural lain yang berada di sekitar lingkungan tapak.
1.3 LINGKUP PEMBAHASAN
Adapun lingkup pembahasan dalam perencanaan dan perancangan Akademi perfilman ini adalah :
1. Penekanan penyelesaian pada bentuk dan penampilan bangunan yang menunjang fasilitas dan fungsi sebagai akademi perfilman.
2. Kebutuhan ruang dan kapasitas dari Akademi Perfilman sesuai dengan fungsinya.
3. Dengan topik “Ekspresi Bentuk” ini diharapkan dengan adanya Akademi Perfilman ini bisa menjadi sebuah “elemen” baru yang bisa mendekatkan/menghubungkan antara elemen yang satu dengan elemen yang lainnya sehingga dapat membentuk suatu keterikatan dalam sebuah lingkungan spasial.
1.4 METODOLOGI 1.4.1 Pengumpulan Data
1. Studi Literatur
Pengumpulan data-data berupa definisi mengenai topik dan tema yang diangkat. Pengumpulan standard an persyaratan bangunan. Baik dari buku-
3
buku referensi, literatur, maupun internet.
2. Studi Banding
Melakukan pengamatan pada bangunan yang sejenis, yang bertujuan membandingkan pendekatan yang dipakai, mendapatkan contoh dan mengetahui beberapa alternative pertimbangan desain sehingga diperoleh hasil rancangan yang baik dan dapat dijadikan alternative pertimbangan desain perencanaan dan perancangan pada proyek bangunan ini.
3. Survey Lapangan
Melakukan peninjauan secara langsung pada tapak, guna mengetahui lingkungan sekitar lokasi tapak. Selain itu proses ini bertujuan memperoleh keterangan mengenai data bangunan, kondisi dan potensi kawasan dan mempelajari tapak terpilih.
4. Wawancara
Melakukan wawancara dengan pihak-pihak terkait yang bisa memberikan informasi yang bisa dipercaya untuk memperoleh keterangan mengenai data bangunan, organisasi yang dimiliki, serta mendapatkan gambaran tentang permasalahan apa saja yang dihadapi.
1.4.2 Analisis
Pendekatan analisis yang dipilih mengacu pada system perancangan arsitektur yang dikembangkan oleh Geoffrey Broadbent dalam bukunya Design In Architecture yang prosesnya ditinjau dari 3 (tiga) system, yaitu :
1. Sistem Manusia (Human System)
Aspek ini membahas unsur manusia yang terlibat didalam kegiatan pendidikan sebuah akademi film.
Analisis ini bertujuan untuk mencapai suatu pemecahan masalah yang berkaitan dengan pemakai dan aktifitasnya. Dalam hal ini lebih ditekankan pada perilaku (behavior) si pemakai yang nantinya akan menghasilkan dimensi ruang dan hubungan antar kegiatan dalam bangunan, serta sirkulasi kegiatan.
4
2. Sistem Lingkungan (Environment System)
Analisis terhadap lingkungan sekitar tapak. Bagaimana menentukan lokasi yang strategis dan sesuai untuk sebuah akademi. Bagaimana mencari tapak yang dapat menunjang keberadaan akademi, letak tapak, bentuk tapak, potensi, sarana dan pra sarana di sekitar tapak, pengaruh akademi terhadap tapak, akses pencapaian ke tapak, pengolahan sirkulasi di dalam tapak, serta pengolahan tata ruang luar tapak.
3. Sistem Bangunan (Building System)
Bagaimana mengelola bentuk massa bangunan, penampilan bangunan Akademi Film berdasarkan konsep, kaidah dan tentunya menyesuaikan dengan lingkungan sekitar, serta memperhatikan system di peraturan standar ruang sekolah.
5
1.4.3 Kerangka Berpikir
LATAR BELAKANG PROYEK Akademi film adalah lembaga pendidikan yang melayani kepentingan masyarakat umum, yang bertujuan untuk pembelajaran di bidang perfilman dan memajukan industri film tanah air.
LATAR BELAKANG TOPIK TEMA Menyatukan objek-objek film tanah air dengan penambahan elemen-elemen baru, sehingga dapat mempertegas hubungan-hubungan antara bangunan akademi film dengan sekitar sehingga tercipta sebuah jaringan struktural dan membentuk sebuah ikon menjadi satu kesatuan tatatan.
MAKSUD DAN TUJUAN
Tujuan dari dibuatnya proyek ini adalah adalah merancang suatu bangunan yang bisa menjadi pusat pendidikan tentang industri perfilman serta berfungsi sebagai sarana rekreasi dan dapat menjadi sebuah ikon baru dalam keterkaitannya dengan pemilihan topik yaitu ekspresi bentuk
PERMASALAHAN
➢ Aspek Manusia
➢ Aspek Lingkungan
➢ Aspek Bangunan
ANALISIS
➢ Aspek Manusia
➢ Aspek Lingkungan
➢ Aspek Bangunan
KONSEP PERANCANGAN
SKEMATIK DESAIN
TAHAP PERANCANGAN
6
1.5 SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Sistematika pembahasan penulisan laporan tugas akhir ini dapat dijabarkan sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Yaitu menguraikan latar belakang proyek, topic dan tema, maksud dan tujuan.
Lingkup pembahasan, metode pembahasan serta sistematika pembahasan.
BAB II TINJAUAN DAN LANDASAN TEORI
Tinjauan dan landasan teori mengenai Film, dan Pendidikan di Indonesia serta tinjauan terhadap topic dan tema dengan kelengkapan data dari sumber pustaka pendukung.
BAB III PERMASALAHAN
Dengan mengidetifikasian permasalahan arsitektural yang didapat, dikaji dan hasil tinjauan referensi dan landasan teori. Terdapat tiga pokok permasalahan yang diambil yaitu : Manusia, bangunan dan Lingkungan.
BAB IV ANALISIS
Menguraiakan pendekatan pemecahan permasalahan dan analisis dilihat dari proyek, topik tema dan studi kasus.
Analisis manusia meliputi kegiatan manusia, system ruang, hubungan dan program ruang.
Analisis lingkungan meliputi pemilihan tapak, pengolahan tapak, orientasi, sirkulasi.
Analisis bangunan meliputi bentuk bangunan, struktur dan utilitas.
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
Merupakan konsep yang digunakan sebagai dasar penyusunan skematik desain. Berupa kesimpulan dari analisa dan fungsi sebagai evaluasi keseluruhan proses yang menjadi pedoman perencanaan dan perancangan.
7
BAB II TINJAUAN TEORI
2.1 TINJAUAN TERHADAP PENDIDIKAN 2.1.1 Pengertian Pendidikan
A. Pendidikan Menurut Kamus
Kamus Bahasa Indonesia, 1991, Pendidikan berasal dari kata "didik", Lalu kata ini mendapat awalan kata "me" sehingga menjadi mendidik"
artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.
B. Pendidikan Menurut Bahasa
a) Bahasa Yunani : Pendidikan berasal dari kata "Pedagogi" yaitu kata
"paid" artinya "anak" sedangkan "agogos" yang artinya membimbing
"sehingga " pedagogi" dapat di artikan sebagai "ilmu dan seni mengajar anak".
b) Bahasa Jerman : Pendidikan berasal dari kata "Erziehung" yang setara dengan "Educare" yaitu membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan potensi anak.
c) Bahasa Jawa : Pendidikan berasal dari kata "Penggulawentah"atau
“Pengolahan” yaitu mengolah, mengubah kejiwaan, mematangkan perasaan, pikiran, kemauan, dan watak, mengubah kepribadian sang anak.
Kesimpulan:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya supaya memiliki kekuatan spiritual keagamaan, emosional, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
2.1.2 Tujuan Pendidikan Nasional
Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat jasmani dan rokhani, berilmu, cakap,
8
kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.Pendidikan Nasional bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantab dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan berkebangsaan.
I. Jalur Pendidikan
Dilihat dari wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan, maka jalur pendidikan dapat digolongkan menjadi beberapa jenis seperti:
a) Pendidikan Formal
Pendidikan formal merupakan pendidikan yang di selenggarakan di sekolah-sekolah pada umumnya. Jalur pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang jelas, mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai pendidikan tinggi.
b) Pendidikan Nonformal
Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
c) Pendidikan Informal
Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri yang dilakukan secara sadar dan bertanggung jawab.
II. Jenjang Pendidikan a) Pendidikan Dasar
Pendidikan Dasar merupakan jenjang pendidikan awal selama 9 (sembilan) tahun pertama masa sekolah anak-anak yang melandasi jenjang pendidikan menengah.
b) Pendidikan Menengah
Pendidikan menengah merupakan jenjang pendidikan lanjutan pendidikan dasar, pendidikan umum, pendidikan kejuruan, pendidikan kedinasan, dan pendidikan keagamaan
c) Pendidikan Tinggi
Pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.
9
• Pendidikan Akademik dimana perguruan tinggi tersebut dapat berbentuk : a) Sekolah Tinggi
Menyelenggarakan pendidikan akademik atau profesional b) Institut
Terdiri atas sejumlah fakultas yang meyelenggarakan pendidikan akademik dan profesional dalam sejumlah disiplin ilmu tertentu.
• Pendidikan profesional dimana pendidikan tinggi tersebut dapat berbentuk : a) Akademi
Menyelenggarakan pendidikan terapan dalam satu cabang atau sebagian cabang ilmu pengetahuan, teknologi, atau kesenian tertentu.
b) Politeknik
Menyelengarakan pendidikan terapan dalam sejumlah bidang pengetahuan khusus.
2.2 TINJAUAN PERGURUAN TINGGI
Perguruan Tinggi adalah lembaga ilmiah yang mempunyai tugas menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran di atas perguruan tingkat menengah, dan yang memberikan
pendidikan dan pengajaran berdasarkan kebudayaan kebangsaan Indonesia dan dengan cara ilmiah.
Perguruan Tinggi di Indonesia menyelenggarakan beberapa program pendidikan yaitu diatur sesuai dengan ketentuan yang telah diterapkan:
2.2.1 Satuan Pendidikan Penyelenggara A. Akademi
Perguruan tinggi yang menyelengarakan satu jurusan atau lebih. Kurikulum untuk pendidikan akademi meyelenggarakan program D1, program D2, dan/atau program D3.
B. Politeknik
Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam sejumlah bidang pengetahuan khusus.
10
C. Sekolah Tinggi
Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau vokasi dalam lingkup satu disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi.
D. Institut
Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau vokasi dalam sekelompok disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi.
E. Universitas
Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau vokasi dalam sejumlah ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. Kata universitas berasal dari bahasa Latin yang
artinya adalah umum dan menyeluruh.
2.2.2 Tujuan Perguruan Tinggi
Perguruan Tinggi pada umumnya bertujuan untuk :
a) Membentuk manusia susila yang berjiwa Pancasila dan bertanggung-jawab akan terwujudnya masyarakat sosialis Indonesia yang adil dan makmur, materiil dan spiritual.
b) menyiapkan tenaga yang cakap untuk memangku jabatan yang memerlukan pendidikan tinggi dan yang cakap berdiri sendiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan.
c) Melakukan penelitian dan usaha kemajuan dalam lapangan ilmu pengetahuan,kebudayaan dan kehidupan kemasyarakatan.
2.2.3 Penyelenggara Perguruan Tinggi a) Pemerintah
b) Badan hukum Swasta.
11
2.2.4 Persyaratan Perguruan Tinggi
Pendidikan perguruan tinggi harus memenuhi persyaratan yang meliputi:
a) Penyelenggara Perguruan Tinggi
b) Rencana Induk Penelitian dan Pengembangan c) Kurikulum
d) Tenaga Kerja e) Calon Mahasiswa f) Pendanaan
2.3 TINJAUAN TERHADAP FILM
Film juga dikenal sebagai movie, gambar hidup, film teater atau foto bergerak, merupakan serangkaian gambar diam, yang ketika ditampilkan pada layar akan menciptakan ilusi gambar bergerak karena efek fenomena phi. Ilusi optik ini memaksa penonton untuk melihat gerakan berkelanjutan antar objek yang berbeda secara cepat dan berturut-turut . Proses pembuatan film merupakan gabungan dari seni dan industri. Sebuah film dapat dibuat dengan memotret adegan sungguhan dengan kamera film memotret gambar atau model miniatur menggunakan teknik animasi tradisional dengan CGI dan animasi komputer atau dengan kombinasi beberapa teknik yang ada dan efek visual lainnya.
Kata sinema "sinema", yang merupakan kependekan dari sinematografi, sering digunakan untuk merujuk pada industri film, pembuatan film dan seni pembuatan film.
Definisi sinema zaman sekarang merupakan seni dalam simulasi pengalaman untuk mengkomunikasikan ide, cerita, sudut pandang, rasa, keindahan atau suasana dengan cara direkam dan gambar bergerak yang di program bersamaan dengan penggerak sensorik lainnya
2.3.1 Fungsi Film
Fungsi utama dalam film terutama untuk hiburan. Akan tetapi dalam film terkandung fungsi informatif, maupun edukatif bahkan persuasif. Film nasional dapat digunakan sebagai media edukasi untuk pembinaan generasi muda dalam rangka nation and character building.
Fungsi edukasi dapat dicapai apabila film nasional memproduksi film-film sejarah yang objektif atau film dokumenter atau film yang diangkat dari kehidupan sehari-hari secara berimbang.
12
2.3.2 Klasifikasi dan jenis Film
Film dikelompokkan pada jenis film cerita, film berita, film dokumenter dan film kartun (Effendy, 2003:210)
a) Film Cerita
Film cerita (story film) adalah jenis film yang mengandung suatu cerita yang lazim dipertunjukkan di gedung-gedung bioskop dengan bintang film tenar dan didistribusikan sebagai barang dagangan. Cerita yang diangkat menjadi topik film bisa berupa cerita fiktif atau berdasarkan kisah nyata yang dimodifikasi, sehingga ada unsur menarik, baik dari jalan ceritanya maupun dari segi artistinya.
b) Film Berita
Film berita atau newsreel adalah film mengenai fakta, peristiwa yang benar-beanr terjadi. Karena sifatnya berita maka film yang disajikan kepada publik harus mengandung nilai berita. Kriteria berita itu adalah penting dan menarik
c) Film Dokumenter
Film dokumenter didefenisikan oleh Robert Flaherty sebagai ”karya ciptaan mengenai kenyataan(creative treatment of actuality) berbeda dengan film berita yang merupakan rekaman kenyataan, maka film dokumenter adalah hasil interpretasi pribadi (pembuatnya mengenai kenyataan tersebut).
d) Film Kartun
Film kartun (cartoon film) dibuat untuk konsumsi anak-anak, dan dapat dipastikan kita semua mengenal tokoh Donald bebek (Donald duck), Putri Salju (Snow White), Miki Tikus (Mickey Mouse) yang diciptakan oleh seniman Amerika Serikat Walt Disney. Sebagian film kartun, sepanjang film in diputarkan akan membuat kita tertawa karena kelucuan dari tokoh- tokohnya.
Kesimpulan :
Sekolah Film adalah suatu tempat menampung kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan perfilman secara terpusat dimana didalamnya terdapat pendidikan keahlian khusus dibidang
13
perfilman serta memiliki sarana penunjang untuk pameran, promosi, atau penjualan produk industri film.
2.4 TINJAUAN KOTA JAKARTA
Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta, Jakarta Raya) adalah ibu kota negara Indonesia. Jakarta merupakan satu-satunya kota di Indonesia yang memiliki status setingkat provinsi. Kota Jakarta terletak pada 106 derajat 49' 35" Bujur Timur dan 06 derajat 10' 37"
Lintang Selatan.31 Berada di dataran rendah pantai utara bagian barat Pulau Jawa, terdapat sekitar 10 buah sungai alam dan buatan. Jakarta terletak di bagian barat laut Pulau Jawa.
Dahulu pernah dikenal dengan nama Sunda Kelapa (sebelum 1527), Jayakarta (1527- 1619), Batavia (1619-1942), dan Djakarta (1942-1972). Jakarta memiliki luas sekitar 661,52 km² (lautan : 6.977,5 km²), dengan penduduk berjumlah 8.523.157 jiwa (20097)32. Bersama metropolitan Jabodetabek yang berpenduduk sekitar 23 juta jiwa, wilayah ini merupakan metropolitan terbesar di Indonesia atau urutan keenam dunia.
14
2.5 STUDI BANDING
Untuk menambah data mengenai Sekolah film , di adakan pula kajian banding antara 2 pendidikan/sekolah perfilman yang mempunyai fungsi yang sama. Hal ini memberikan gambaran terhadap aktifitas dan fasilitas yang terjadi pada bangunan. Pada kajian banding ini, akan di tinjau Institut Kesenian Jakarta (IKJ), London School Academy, dan SAE Indonesia.
2.5.1 INSTITUT KESENIAN JAKARTA
Institut Kesenian Jakarta adalah sebuah perguruan tinggi yang berkedudukan di Jakarta, Indonesia. Institut ini khusus mengajarkan bidang-bidang seni yang meliputi seni rupa, seni peran, dan perfilman. Kali pertama, lembaga ini bernama LPKJ (Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta) yang didirikan oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, dan diresmikan pada pada tanggal 25 Juni 1976 oleh Presiden Suharto.
PROGRAM
Sistem pendidikan di IKJ adalah strata satu (S1) dengan kurikulum 4 tahun yaitu : Semester 1-4 = Umum
Semester 5-8 = Peminatan
15
Untuk sistem peminatan yang akan dipilih oleh mahasiswa di semester 5 yaitu :
• Animasi
Mahasiswa memahami aplikasi, fungsi animasi dan terampil dalam mewujudkan berbagai bentuk animasi.
• Artistik
Mahasiswa memahami jenis/bentuk set dan mampu berpraktek secara profesional;
memahami, mengetahui dan mampu berpraktek membuat set disain secara terampil;
mengetahui, memahami trik pengambilan gambar dengan bantuan art dan special effects manual.
• Editing
Mahasiswa memahami prosedur kerja editing dan cara mengedit berbagai format program;
memahami prosedur kerja editing film/editing video dan melakukan praktek editing video non-linier.
• Kamera
Mahasiswa mengerti dan memahami teknik pengambilan gambar secara profesional;
mengerti dan memahami serta mampu praktek komposisi; memahami penataan lighting dan kamera serta pedoman-pedoman pertelevisian/perfilman.
• Penyutradaraan
Mahasiswa mampu memahami apa yang dimaksud dengan sutradara televisi/film; mampu melakukan kajian tentang konsep-konsep penyutradaraan; mampu melakukan kombinasi sutradara pentas dan pengarah acara serta peran dan tanggung jawab sutradara film dan/atau program televisi.
• Produksi
Mahasiswa memahami tahap-tahap dalam menciptakan berbagai bentuk program, rincian manajemen produksi, pra produksi serta pemasaran sebuah film dan/atau program televisi.
• Skenario
Mahasiswa memahami perbedaan karakteristik film naratif dan drama televisi; memahami cara menyusun struktur dramatik drama televisi dan film; memahami karakteristik film pendek dan film panjang.
16
• Suara
Mahasiswa memahami aspek-aspek dalam produksi suara; mempraktekkan secara terampil digital audio production.
FASILITAS IKJ
Ruang Theater
Fasilitas yang digunakan oleh mahasiswa semester 1 sampai 4 dan mahasiswa untuk program peminatan.
Fasilitas Theater memiliki kapasitas untuk 60 mahasiswa dengan luas ruangan 120 m2 untuk ruang theater besar dan 60 m2 untuk ruang theater kecil dilengkapi dengan tempat duduk observasi untuk mahasiswa sebanyak 60 kursi di ruang theater besar dan 30 kursi di ruang theater kecil dan layar display besar untuk pertunjukan film pendek dan presentasi
Lab Editing, Animasi dan Praktek Kamera
Fasilitas yang digunakan oleh mahasiswa semester 1 sampai 4 dan mahasiswa untuk program peminatan Animasi, Editing, dan Peminatan Kamera.
Fasilitas lab animasi memiliki ruangan animasi digital sebesar 100 m2 untuk menampung 40 mahasiswa dan peralatan komputer untuk pengolahan animasi dan 80 m2 ruangan praktek
17
kamera untuk menampung 10 orang mahasiswa, peralatan kamera dan 1 set latar hijau beserta properti yg dibutuhkan untuk set panggung.
Setting Penyutradaraan dan Artistik
Fasilitas yang digunakan oleh mahasiswa semester 1 sampai 4 dan mahasiswa untuk program peminatan Penyutradaraan dan peminatan Artistik untuk keperluan produksi film.
Fasilitas ruang praktek penyutradaraan memiliki ruangan sebesar 80 m2 untuk menampung 5 mahasiswa dan peralatan syuting seperti kamera, lampu, mikropon, dan setting panggung untuk artistik
Perpustakaan / Ruang Skenario
Fasilitas yang digunakan oleh mahasiswa umum dan mahasiswa untuk program peminatan Skenario.
Ruang perpustakaan sebesar 500 m2 dibagi menjadi 2 lantai untuk menampung 5000 koleksi buku, skripsi, dan bahan diktat perkuliahan dapat menampung sekitar 200 mahasiswa secara
18
bersamaan dan ruangan ini juga menjadi ruang praktek untuk mahasiswa program peminatan skenario sehingga menunjang kreativitas mahasiswa dalam penulisan skenario.
2.5.2 LONDON FILM SCHOOL ACADEMY
London Film School Academy terletak di daerah Convent Garden, London, tepatnya di Shelton Street nomor 24. Lokasi kampus LFS terletak di pusat industri film di Inggris yaitu Wardour street di Soho. Dan berada di kompleks area West End Cinema And Theatres, the Royal Opera House, the National Gallery, the British Museum, the British Film Institute Library, the BFI Southbank dan the Tate Modern.
London Film School merupakan Sekolah Film internasional yang tertua di dunia yang didirikan pada tahun 1956.
PROGRAM
Di kampus ini ada dua program utama yaitu MA Filmmaking dan MA Screenwriting. MA Filmmaking adalah program intensif yang dijalankan selama dua tahun masa studi.
Pembelajarannya berdasarkan film-film pendek. Tidak hanya itu juga akan diperlengkapi dengan pengetahuan tentang language (image, meaning, style), practice (fiction dan non- fiction), sythesis (Industry dan independents).
FASILITAS
Kemampuan membuat film handal di LFS ditunjang dengan fasilitas kampus yang lengkap dan berkualitas. Fasilitas-fasilitas tersebut antara lain:
Virtual Learning Environment
19
Fasilitas Sound dan Mixer
Fasilitas yang digunakan oleh mahasiswa umum dan mahasiswa untuk program peminatan Sound.
Fasilitas Kamera
Fasilitas yang digunakan oleh mahasiswa umum dan mahasiswa untuk program peminatan Kamera.
Auditorium Film
Fasilitas yang digunakan oleh mahasiswa umum.
20
Fasilitas Editing dan Animasi
Fasilitas laboratorium komputer dan grafis yang digunakan oleh mahasiswa umum dan mahasiswa untuk program peminatan Editing dan peminatan Animasi.
Fasilitas Tata Cahaya
Fasilitas ruang kontrol tata cahaya yang berhubungan langsung dengan ruangan set produksi dan digunakan oleh mahasiswa umum dan mahasiswa untuk program peminatan Lighting.
21
2.5.3 SAE INSTITUT JAKARTA
SAE jakarta atau School of Art and Entertainment yang terletak di jl Pejaten raya, jakarta selatan adalah salah satu institusi pendidikan dibidang kreatif seperti Film Production, Animasi, Audio Engineering dan Music Bisnis.
PROGRAM
Institusi pendidikan ini memiliki program pendidikan untuk strata 1 dengan kurikulum 4 tahun dibidang produksi film dan Diploma 3 dengan kurikulum 3 tahun dibidang Animasi dan Audio Engineering.
22
FASILITAS SAE JAKARTA INSTITUT
Fasilitas Program Jurusan Produksi Film SAE Institut antara lain :
Auditorium
Fasilitas yang digunakan oleh mahasiswa umum.
Fasilitas auditorium di SAE memiliki ruangan dengan kapasitas 100 mahasiswa dan fasilitas layar lebar untuk presentasi dan pembelajaran film pendek.
Fasilitas Animasi
Fasilitas laboratorium komputer grafis dan studio gambar yang digunakan oleh mahasiswa umum dan mahasiswa untuk program peminatan Animasi.
Fasilitas untuk program jurusan animasi di SAE memiliki dua tipe yaitu lab animasi digital dengan ukuran ruangan sekitar 50 m2 dengan kapasitas 20 mahasiswa dan peralatan komputer untuk pengolahan animasi digital, sedangkan tipe berikutnya adalah lab animasi untuk manual atau freehand. Studio gambar ini memiliki ukuran ruangan sebear 50 m2 dengan kapasitas sebesar 15 mahasiswa dan peralatan freehand seperti meja gambar.
23
Laboratorium Produksi Musik
Fasilitas yang digunakan oleh mahasiswa umum dan mahasiswa untuk program peminatan Sound.
Fasilitas untuk produksi musik di SAE memiliki 2 ruangan yaitu lab musik digital yaitu ruang praktek pengolahan musik secara digital dengan ukuran ruangan 50 m2 dengan kapasitas 20 mahasiswa serta peralatan instrument musik dan komputer untuk pengolahannya. Sedangkan fasilitas berikutnya adalah ruangan mixer untuk komposing musik menuju proses akhir dengan ukuran 20 m2 untuk kapasitas 2 mahasiswa sebagai composer dan peralatan mixer.
Fasilitas Produksi dan Rekayasa Artistik
Fasilitas yang digunakan oleh mahasiswa umum dan mahasiswa untuk program peminatan penyutradaraan dan peminatan artistik.
Fasilitas untuk ruang praktek penyutradaraan di SAE digabung dengan program rekayasa artistik. Dengan ukuran ruangan sebesar 100 m2 ruangan ini dapat menampung 1 tim penyutingan film sebesar 15 sampai 20 kru di tim tersebut. Dan juga menampung peralatan untuk syuting seperti kamera, lampu, monitor, setting hijau, dan lainnya.
24
Kesimpulan:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya. Dalam studi banding yg dilakukan penulis dapat ditemukan permasalahan yang ada seperti kapasitas ruangan yang tidak mencukupi sedangkan jumlah mahasiswa berlebih sehingga diterapkan jadwal yang sangat sempit sehingga kurang mengeksplorasi kemampuan mahasiswa tersebut. Sehingga permasalahan tersebut harus dipecahkan dengan merencanakan pusat pendidikan yang lengkap sistem dan fasilitas. Sehingga peserta didik dapat belajar secara maksimal.
2.6 TINJAUAN TEORI EKSPRESI BENTUK 2.6.1 Pengertian Topik dan Tema 1. Tinjauan Terhadap Ekspresi
Secara harafiah kata Ekspresi Bentuk berarti:
Ekspresi berasal dari bahasa inggris Expression, yang berarti : Kelakuan, ungkapan atau proses berekspresi.
Ekspresi :
• Adalah ungkapan, pengutaraan, cara pernyataan.
• Raut muka penampilan.
• Komposisi dari karakter yang diciptakan oleh bangunan.
Bentuk :
• Suatu rupa yang dapat dinikmati secara visual, terbentuk dari sebuah titik yang diperpanjang menjadi sebuah garis, lingkaran, segitiga, persegi empat, persegi panjang, dll. berubah menjadi bola, piramid, kubus, balok, dll. Terpadu dalam segala bentuk, selain bentuk dasar tersebut jenis bahan bangunan ikut berperan juga seperti sejenis permukaan, tekstur serta warna.
Dibawah ini tercantum beberapa pengertian ekspresi bentuk menurut pendapat para ahli- ahli yang ada:
• Pendapat ‘L.C.Snyder dalam bukunya Pengantar Arsitektur,’menyatakan bahwa Ekspresi Bentuk erat kaitannya dengan estetika dan estetika itu sangat dekat dengan fungsi, ekspresi, komposisi, proporsi, dan kekokohan. Pengertian ekspresi itu sendiri
25
menurut L.C.Snyder ialah ilustrasi/penggambaran dari emosi ekspresi arsitek dalam menciptakan suatu rancangan bangunan.
• Pendapat Kant dalam buku Ruang Dalam Arsitektur menyatakan bahwa Ekspresi Bentuk adalah segala hal yang berkaitan dengan penggambaran bentuk dan materinya. Bentuk tersebut bisa berupa bentuk luar atau fisik maupun pola ruang.
Dimana sistem konseptual estetik.
• Menurut Mies van de Rohe, bentuk merupakan wujud dari penyelesaian akhir suatu konstruksi yang pengertiannya sama.
• Pendekatan dari Alvar Alto dalam bukunya Charles Janks, menyatakan bahwa bentuk merupakan media bagi arsitek untuk menyampaikan informasi dan mengapresiasikan diri, dimana kedua unsur itu di padukan dengan arsitektur anthropomorphic (mengembangkan bentuk dengan pertimbangan manusiawi).
Kesimpulan :
Ekspresi Bentuk adalah ungkapan emosi atau perasaan didalam proses penciptaan suatu rupa/bentuk yang dapat dinikmati secara visual dan memiliki dasar tertentu seperti keterpaduan, keseimbangan, proporsi, atau skala.
2. Tinjauan Terhadap Bentuk
Teori Bentuk sebagai fungsi komunikasi oleh Geoffrey Broadbent: Bangunan yang baik adalah memuat sejumlah komunikasi kedalam totalitas dan mengeksprasikannya dengan ringkas dan indah. Karena itu bangunan dan pengamatnya harus berkomunikasi seperti yang dikatakan oleh beliau yaitu:
“Pengamat akan melihat suatu bangunan berdasarkan pendekatan visual sehingga menimbulkan suatu persepsi. Kesesuaian visual penting ditempat paling mungkin dilihat/dikunjungi orang, khususnya ruang yang bersifat publik dari suatu bangunan”.
Dalam arsitektur bentuk mempunyai pengertian yang berbeda-beda, sesuai dengan pandangan dan pemikiran pengamatnya, antara lain sebagai berikut:
1. Bentuk adalah suatu perwujudan dari organisasi ruang yang merupakan hasil dari suatu proses pemikiran, dengan pertimbangan fungsi dan usaha pernyataan diri atau ekspresi.
2. Bentuk merupakan media bagi arsitek utnuk menyampaikan informasi dan mengekspresikan diri.
26
3. Bentuk adalah wujud dari penyelesaian akhir dari suatu konstruksi.
4. Bentuk adalah hasil dipenuhinya syarat kekuatan, fungsi, dan keindahan.
Jadi kesimpulannya adalah dalam akademi film ini untuk penerapan topik ekspresi bentuk yaitu penerapan suatu ikon perfilman kedalam pengolahan site dan fasade sehingga bangunan ini memiliki sebuah ciri khusus. Selain itu penerapan topik ekspresi bentuk pada bangunan ini dapat juga menggunakan ekspose struktur didalam fasade sehingga mempertegas topik ekspresi bentuk pada bangunan akademi film ini.
26
BAB III PERMASALAHAN
PERMASALAHAN UMUM
Secara umum permasalahan dalam perencanaan dan perancangan Akademi Film ini adalah, bagaimana merencanakan dan merancang bangunan yang mampu memenuhi kegiatan pendidikan, terkait bagaimana menciptakan suatu lembaga pendidikan yang lebih edukatif dan interaktif. Selain itu bagaimana menempatkan Akademi Film ini, sehingga bisa membentuk suatu keterkaitan dengan area tapak dan menjadi ikon di area tersebut sesuai dengan tema perancangan ini yaitu Ekspresi Bentuk .
3.1 Aspek Manusia
▪ Bagaimana menentukan kebutuhan jenis ruang, luasan ruang serta jumlahnya sesuai dengan kegiatan/kebutuhan pengguna bangunan itu sendiri, baik siswa akademi maupun pengelola dan staf akademi.
▪ Bagaimana menata pola sirkulasi yang baik pada ruang dalam dan ruang luar antara siswa, pengajar dan dan pengelola di akademi itu sendiri.
▪ Bagaimana mengatur zoning, sirkulasi pencapaian ruang luar dan ruang dalam yang baik sehingga memudahkan siswa/staf akademi.
▪ Bagaimana menciptakan suasana pembelajaran yang kreativ dan edukasi untuk para siswa, staf pengajar dan pengelola bahkan masyarakat sekitar.
3.2 Aspek Lingkungan
▪ Bagaimana kondisi eksisting tapak dan keadaan lingkungan sekitar tapak.
▪ Bagaimana merencanakan jalur sirkulasi di dalam dan di luar tapak, baik bagi pejalan kaki maupun pengguna kendaraan pribadi, sehingga tidak terjadi penumpukan diantara keduanya.
▪ Bagaimana konsep ruang luar akademi dapat diolah dengan sedemikian rupa sehingga tema ekspresi bentuk dapat diterapkan kedalam pengolahan tapak.
▪ Bagaimana merencanakan jalur pedestrian, pemberian pembatas jalan dan penempatan plaza yang tepat sehingga tercipta suatu ruang terbuka hijau pada tapak dan penerapan ekspresi bentuk dapat terwujud.
27
▪ Bagaimana merespon seluruh aspek terkait matahari, kebisingan serta orientasi.
▪ Bagaimana mengolah tapak sehingga dapat menerapkan konsep ekspresi bentuk kedalam site.
3.3 Aspek Bangunan
▪ Bagaimana mengolah massa bangunan yang sesuai dengan peraturan tata guna tanah dan dapat sesuai dengan kebutuhan bangunan sehingga penerapan tema ekspresi bentuk dapat terwujud kedalam massa bangunan.
▪ Bagaimana mengolah sirkulasi tata ruang dalam dan ruang terbuka sehingga dapat menciptakan interaksi antara bangunan dan ruang terbuka diarea tapak.
▪ Bagaimana mengolah tampilan fasade bangunan yang mewakili karakteristik tema ekspresi bentuk sehingga menjadi sebuah simbol perfilman.
▪ Melengkapi bangunan akademi film dengan sistem utilitas dan keamanan yang baik bagi pengguna dan staf akademi.
28 BAB IV
ANALISA
4.1 ANALISA ASPEK MANUSIA
4.1.1 Analisa Pelaku Kegiatan Sekolah Pendidikan Film
Para pelaku kegiatan pada akademi pendidikan film ini secara garis besar adalah :
1. Pengelola dan karyawan merupakan pihak yang bertanggung jawab terhadap terhadap segala hal yang menyangkut masalah pelayanan terhadap seluruh pengguna bangunan.
Kelompok ini terdiri dari Pimpinan, staff, karyawan service, dan karyawan.
2. Instruktur pengajar merupakan pihak yang bertugas sebagai tenaga pengajar dan memberikan pelajaran film mahasiswa baik teori ataupun praktek alat shooting.
3. Mahasiswa/siswa merupakan pelaku kegiatan utama dan terbanyak mengikuti kegiatan belajar, mempelajari pengetahuan tentang perfilman dan alat perlengkapan film.
4. Pengunjung merupakan kelompok pelaku kegiatan yang datang, mengunjungi, mengantar, membeli, dan menonton pertunjukan dalam bangunan, tetapi tidak berstatus sebagai siswa, biasanya berkunjung secara perorangan atau berkelompok.
Pengunjung dapat dibagi 2 kategori :
a. Pengunjung Umum adalah pengunjung yang sehari-hari mengantar atau menjemput siswa.
b. Pengunjung khusus adalah pengunjung yang bertujuan untuk menikmati acara-acara yang diselengarakan dan pengunjung pembeli peralatan/asesoris alat shooting di pameran.
4.1.2. Jenis Pelaku Kegiatan Sekolah Pendidikan Film A. Kegiatan Pendidikan
Program pendidikan yang berlangsung dalam beberapa semester, sesuai dengan kurikulum Akademi yaitu D3.
B. Kegiatan Pameran
29 Kegiatan ini merupakan pertunjukan hasil karya sinema baik secara individu maupun berkelompok.
C. Kegiatan Pengelolaan
Kegiatan ini bertanggunag jawab terhadap seluruh kegiatan yang terdapat dalam gedung meliputi kegiatan administrasi seperti tata usaha, keuangan, dan lain-lain.
D. Kegiatan Penunjang
Merupakan kegiatan yang mewadahi apresiasi masyrakat pada umumnya dan mahasiswa pada khususnya seperti ruang ruang tunggu, seminar, cafetaria, workshop peralatan perfilman, galeri fotografi, ruang tunggu, perpustakaan dan ruang skenario, dan lain-lain.
4.1.2.1. Pengelompokan Jenis Kegiatan Akademi Pendidikan Film
Dalam beberapa jenis kegiatan diatas, kegiatan terbagi dalam beberapa kelompok dimana dalam satu kelompok terdapat seluruh jenis kegiatan yang saling menunjang dan melengkapi.
Secara garis besar dalam Akademi Pendidikan Film ini terdapat empat kelompok kegiatan yaitu :
1. Kegiatan Pendidikan 2. Kegiatan Pengelola 3. Kegiatan Pameran 4. Kegiatan Penunjang 5. Kegiatan Service
Dalam penentuan zoning perlu diperhatikan pengelompokan kegiatan yang sesuai sifatnya agar kegiatan yang berlangsung tidak saling menggangu namun saling melengkapi dan masing-masing kegiatan memiliki pencapaian / sirkulasi yang baik.
Pertimbangan yang perlu dipikirkan dalam merencanakan hubungan antar kegiatan pada Akademi Pendidikan film ini adalah :
a. Kedekatan antar kegiatan yang saling berkaitan.
b. Pemisahan kegiatan yang tidak berhubungan.
c. Pengaturan kelompok kegiatan yang saling menunjang.
30 4.1.3. Analisa Kegiatan Pengguna Bangunan
Alur kegiatan setiap pengguna bangunan ini sebagai berikut : 1. Mahasiswa/Siswa
PARKIR DATANG
MASUK BANGUNAN
MASUK TIDAK MASUK
CAFETARIA PERPUSTA
KAAN ABSEN
R,KELAS R.PRAKTEK
MUSOLLA A
PULANG
31 2. Pengelola
3. Pengajar / Dosen
PARKIR DATANG
MASUK BANGUNAN
Istirahat, Makan,
Ibadah
Pengelolaan Akademi Film
RAPAT
PULANG
Pengelolaan Pameran Akademi
PARKIR DATANG
MASUK BANGUNAN
MENGAJAR TIDAK
MENGAJAR ABSEN
R.KELAS R.PRAKTEK
ABSEN
PULANG
Istirahat, Makan,
Ibadah R.DOSEN
RAPAT
32 4. Pengunjung
4.1.4. Analisa Jenis Kegiatan
Jadwal kegiatan perkuliahan dalam Akademi Film mengacu pada jadwal institut (survey IKJ) yang ada, yaitu:
A. Waktu Kegiatan Pendidikan a. Kegiatan Sekolah Film Jadwal Hari : Senin - Jumat Jadwal Waktu : 08.00 – 17.00
b. Administrasi
Disesuaikan dengan jam kerja, yaitu:
PARKIR DATANG
MASUK BANGUNAN
INFORMASI PENDAFTARAN
INFORMASI PAMERAN
INFORMASI &
ADMINISTRASI
SSC
MENUNGGU
INFORMASI &
ADMINISTRASI
MENUNGGU
PULANG
33 Jadwal Hari : Senin - Jumat
Jadwal Waktu : 09.00 – 16.00 (Waktu istirahat 12.00 – 13.00)
c. Pameran Film dan Fotografi Jadwal Hari : Senin - Sabtu Jadwal Waktu : 15.00 – 22.00
d. Theater Seni
Jadwal Hari : Senin - Sabtu Jadwal Waktu : 09.00 – 22.00
e. Cafetaria
Jadwal Hari : Senin - Sabtu Jadwal Waktu : 08.00 – 22.00
B. Pembagian Kelas Berdasarkan Peminatan
Terdapat 8 Peminatan yang dapat dipilih pada saat mahasiswa telah menyelesaikan semester 3 (Mata Kuliah Umum) di Akademi Perfilman ini, yaitu:
a. Peminatan Animasi b. Peminatan Artistik
c. Peminatan Fotografi dan Kajian Sinema d. Peminatan Penyutradaraan
e. Peminatan Produksi
f. Peminatan Editing dan Suara g. Peminatan Kamera
h. Peminatan Skenario
C. Kurikulum Kegiatan Pendidikan Kurikulum Akademi Pefilman (Survei IKJ) Lamanya Pendidikan : 3,5 Tahun
Materi : Teori dan Praktek
34 Waktu belajar : ditentukan SKS tiap semester.
Kurikulum : 125 SKS Dengan rincian per semester
1. Semester 1 = 22 SKS (Mata Kuliah Umum) 2. Semester 2 = 22 SKS
3. Semester 3 = 23 SKS
4. Semester 4 = 20 SKS (Mata Kuliah Peminatan) 5. Semester 5 = 20 SKS
6. Semester 6 = 12 SKS
7. Semester 7 = 6 SKS ( Tugas Akhir Sesuai Peminatan) 4.1.5. Analisa Ruang
Struktur Organisasi
Kelengkapan struktur organisasi pendidikan yang telah diatur oleh Undang-Undang RI No.20 tahun 1961 tentang Perguruan Tinggi yaitu mencangkup:
1. Ketua Sekolah Tinggi 2. Dewan Penyantun/Penasehat 3. Lembaga Penelitian
4. Pegawai
5. Bagian Pengajar
4.1.6. Analisa Kapasitas Ruang
A. Jumlah Mahasiswa Sekolah Perfilman
Perhitungan jumlah mahasiswa yang akan ditampung ditentukan dari :
1. Jumlah mahasiswa baru yang masuk setiap tahun 2. Jumlah mahasiswa yang tidak lulus
3. Mahasiswa yang drop out (mengundurkan diri)
Banyaknya mahasiswa yang baru yang akan ditampung setiap tahunnya mengikuti survey yaitu standart IKJ, perkiraan mahasiswa yang mendaftar 200 orang tiap tahunnya dan yang diterima 140 orang tiap angkatannya. Jumlah mahasiswa yang tidak lulus setiap angkatan
35 biasanya 5% sehingga 5% x 140 = 7 mahasiswa. Jumlah mahasiswa yang drop out 5% dari jumlah angkatan sehingga 10% x 140 = 14 mahasiswa, sehingga:
Tahun Pertama = 140 mahasiswa Tahun Kedua 140 - 14 = 126 mahasiswa Tahun Ketiga 140 - 14 = 126 mahasiswa Tahun Keempat 140 -126 = 14 mahasiswa +
406 mahasiswa
Sehingga jumlah mahasiswa pada satu tahun ajaran adalah 406 mahasiswa. Maka pada perencanaan Akademi Perfilman ini ditetapkan jumlah mahasiswa adalah 406 orang untuk jenjang 3,5 tahun.
B. Perhitungan Jumlah Pengajar
Perbandingan ideal antara dosen dan mahasiswa adalah 1 : 30 untuk kuliah teori dan 1 : 6 untuk kuliah praktek shooting.
a. Persentase kuliah teori = 30% dan kuliah praktek = 70%.
b. Seorang pengajar dapat mengajar teori maupun praktek sesuai dengan jadwal.
c. Kuliah teori lebih singkat waktunya.
Maka jumlah pengajar ditentukan berdasarkan jumlah yang dibutuhkan untuk penanganan kuliah praktek. Jadi jumlah pengajar yaitu 406 : 6 = 67,6 ~ 68 orang.
C. Jumlah Karyawan Non Edukatif
Perbandingan ideal jumlah karyawan non edukatif dengan siswa adalah 1 : 25 (Universitas Tarumanegara, 1987 ; III-7), maka :
Jumlah karyawan non edukatif adalah (406 : 25) = 17 orang.
36 4.1.7. Analisa Kebutuhan Ruang
Untuk mengetahui kebutuhan ruang perlu ditinjau berbagai macam kegiatan yang dilakukan oleh pengguna bangunan :
No Jenis Kegiatan Pelaku Kegiatan
Kegiatan Sifat Kebutuhan Ruang
1 Kegiatan Pendidikan
Mahasiswa Parkir Publik Parkir Kendaraan
siswa
Kuliah Semi
Private
Ruang Kelas Teori
Praktek Peminatan
Semi Private
Ruang Kelas Praktek
Tugas Akhir Semi Private
Ruang Kelas Praktek
WorkShop Publik Ruang Pameran Event Film Publik Ruang Pameran Istirahat/Makan Publik Cafetaria Tugas Kuliah Semi
Private
Perpustakaan
Ibadah Publik Musolla
Pengajar Parkir Publik Parkir Dosen
Rapat Semi
Private
Ruang Rapat
Mengajar Semi
Private
Ruang Kelas Teori Ruang Kelas Praktek Konsultasi Semi
Private
Ruang Dosen
37 Istirahat/Makan Semi
Private
Ruang Dosen
2 Kegiatan Administrasi
Pimpinan Badan Pengelola
Memimpin Badan Pengelola
Private Ruang Ka Badan Pengelola
Private Ruang Wa Ka Bp Mengatur
Administrasi Utama
Private Ruang Staff
Mengelola Lembaga LitBang
Private Ruang Litbang
Menerima Tamu
Semi Private
Ruang Tamu
Menyimpan Arsip
Private Ruang Arsip
Bidang Administrasi
Mengelola Administrasi Umum
Private Ruang Kabid Adm.
Umum
Mengatur Tata Usaha
Private Ruang Staff
Mengatur Keuangan
Private Ruang Kasubag TU
Mengatur Urusan Rumah Tangga
Private Ruang Kasubag Rumah Tangga
Menyimpan Arsip
Private Ruang Arsip
Menerima Semi Ruang Tamu
38
Tamu Private
Bidang Pendidikan
Mengepalai Bidang Pendidikan
Private Ruang Kabid Pendidikan
Mengelola kegiatan Pendidikan
Private Ruang Staff
Mengurus Administrasi
Private Ruang Kasubag Adm. Pendidikan Mengurus
Humas
Private Ruang Kasubag Humas
Mengatur Bidang Keahlian
Private Ruang Kasubag Keahlian
Mengurus Lab Komputer Animasi dan R.Praktek
Private Ruang Kasubag Lab
Animasi dan
R.Praktek
Menyimpan Arsip
Private Ruang Arsip
3 Pameran Bidang
Pameran
Mengelola Pameran
Private Ruang. Kabid Pameran
Mengurus Adm.
Pameran
Private Ruang Admin.
Pameran Mengatur
Humas /
Publikasi
Private Ruang Humas / Publikasi
Mengatur Private Ruang Kasubag
39
Perlengkapan Perlengkapan
Menyimpan Arsip
Private Ruang Arsip
Menerima Tamu
Semi Private
Ruang Tamu
Ibadah / Wudhu Publik Musolla
5 Service Teknisi Bekerja
mengoprasikan dan mengatur operasional bangunan
Private Ruang Teknisi
Mengotrol peralatan teknik dan
perlengkapan mekanik
Private Ruang Operasional
Maintenance Pengotrolan rutin Bangunan
Private Ruang Enginering Private Ruang Kontrol Private Ruang Service Cleaning
Service
Bertanggung jawab atas kebersihan
Private Ruang Cleaning Service
Menyiapkan minuman
Private Dapur
Membersihkan eksterior dan interior
Private Pantry Private Janitor
Security Menjaga Private Ruang Keamanan
40 Keamana
bangunan Memeriksa kegiatan yang masuk dan keluar
bangunan
Semi Private
Pos Jaga Keamanan
Parking Bekerja atas kemamanan kendaraan memeriksa tiket masuk dan keluar
Publik Area Parkir Semi
Private
Pos Tiket
4.1.8. Analisa Kebutuhan Luas Ruang Dalam A. Perhitungan Kapasitas Ruang Pendidikan
Untuk Akademi Perfilman ini diperlukan 6 jenis Ruang Praktek yang disesuaikan dengan peminatan mahasiswa ditahap semester 4, yaitu :
a) Ruang Praktek Editing & Audio
b) Ruang Praktek Produksi & Penyutradaraan c) Ruang Praktek Artistik
d) Ruang Praktek Animasi (Lab Komputer dan Studio Animasi) e) Ruang Praktek Fotografi & Kamera
f) Ruang Praktek Skenario
Berikut perhitungan kapasitas ruang teori dan praktek : 1. Ruang Kelas Teori
Kapasitas 1 kelas = 30 orang
Mahasiswa peserta kuliah teori diasumsikan mahasiswa seluruh angkatan (406 orang) dengan pemakaian ruangan diasumsikan 2 kali sehari. Maka perhitungannya sebagai berikut:
41 Kebutuhan ruang gerak = 64 m² untuk 30-35 siswa (Joseph de Chiara, 1981 :281).
Jumlah kelas teori = (406) = 406 = 6,7 ~ 7 kelas (30x2) 60
Maka keseluruhan luas total ruang kelas teori = 64 x 7= 448 m²
2. Ruang Praktek Produksi & Penyutradaraan Luas Ruang = 4 m²/org (Studi Banding IKJ) Asumsi kapasitas/ruang = 5 orang
Bila setiap Jurusan jumlah mahasiswa sama, maka jumlah kelas Produksi dan Penyutradaraan
= 100 mahasiswa.
Idealnya tiap siswa berlatih selama 3 jam sehari. Waktu belajar dalam 1 hari adalah 12 jam (pukul 08.00-20.00). Jadi setiap mahasiswa memakai ruang kelas selama 3 jam, maka dalam 1 hari sebuah ruang dapat dipakai 4 siswa secara bergantian.
Jumlah R.Kelas Praktek Produksi & Penyutradaraan = 1) Mahasiswa = (100) = 5 kelas
4 x 5
Maka ruang kelas Praktek Produksi & Penyutradaraan adalah @ 7 kelas
3. Ruang Praktek Editing & Suara
Luas Ruang = 8 m²/org (Studi Banding IKJ) Asumsi kapasitas/ruang = 3 orang
Bila setiap Jurusan jumlah mahasiswa sama, maka jumlah kelas Editing & Audio = 50 mahasiswa. Jadi setiap mahasiswa memakai ruang kelas selama 3 jam, maka dalam 1 hari sebuah ruang dapat dipakai 4 siswa secara bergantian.
Maka jumlah R.Kelas Praktek Editing & Audio =
Mahasiswa = (50) = 4,16 ~ 5 kelas 4 x 3
42 4.Ruang Studio Animasi
Luas Ruang = 8 m²/org (Studi Banding IKJ) Asumsi kapasitas/ruang = 4 orang
Per mahasiswa untuk praktek animasi diharuskan memiliki peralatan meja gambar untuk praktek animasi freehand dan 1 peralatan komputer untuk praktek animasi digital.
Bila setiap Jurusan jumlah mahasiswa sama, maka jumlah kelas studio animasi = 50 mahasiswa. Jadi setiap mahasiswa memakai ruang kelas selama 3 jam, maka dalam 1 hari sebuah ruang dapat dipakai 4 siswa secara bergantian maka dalam 1 hari sebuah ruangan dapat dipakai 4 siswa secara bergantian.
Maka jumlah R.Kelas Studio Animasi = Mahasiswa = (50) = 3,125 ~ 4 kelas
4 x 4 5. Ruang Praktek Kamera
Luas Ruang = 10 m²/org (Studi Banding IKJ) Asumsi kapasitas/ruang = 4 orang
Maka jumlah R.Kelas Praktek Kamera = Mahasiswa = (50) = 3,125 ~ 4 kelas
(4 x 4)
6. Ruang Praktek Artistik
Luas Standart = 10 m²/org (Studi Banding IKJ) Asumsi kapasitas/ruang = 4 orang
Maka jumlah R.Kelas Praktek Artistik = Mahasiswa = (50) = 3,125 ~ 4 kelas
(4 x 4) 7. Ruang Skenario
Luas Ruang = 8 m²/org (Studi Banding IKJ) Asumsi kapasitas/ruang = 6 orang
Maka jumlah R.Kelas Skenario = Mahasiswa = (50) = 2,08 ~ 3 kelas
(4 x 6)
43 8. Ruang Pengajar
Jumlah pengajar 68 orang dengan perbandingan dosen tetap dan tidak tetap adalah 50 : 50, sehingga jumlah dosen tetap adalah 34 orang dan dosen tidak tetap adalah 34 orang.
i. Standar kebutuhan ruang gerak = 2,5 m² (Depdikbud, 1986 : 34-35) ii. Luas ruang dosen tetap = 34 x 2,5 m² = 85 m².
iii. Luas ruang dosen tidak tetap diperhitungkan berdasarkan luas permeja kerja yang dapat dipakai 6 orang. Luas 1 meja ditetapkan 20 m² (4 x 5 m²). Diasumsikan yang hadir dalam 1 hari adalah 50% jumlah dosen tidak tetap yaitu 34 x 50% = 17 orang.
Maka kebutuhan meja = 17 : 6 = 2,8~ 3 meja. Luas ruang dosen tidak tetap = 3 x 20 m² = 60 m².
9. Ruang Pameran
Penggolongan kapasitas gedung pertunjukan (Roderick Ham,1972: 224) I. Kecil = < 500 orang
II. Sedang = 500 – 900 orang III. Besar = 900 – 1500 orang IV. Sangat Besar = > 1500 orang
A. Ruang Theater Perhitungan Kapasitas
Standart kebutuhan luas = 1,5 m² / penonton (Edward D. Millis, 1972 : 224). Gedung pertunjukan diasumsikan dapat menampung 500 orang (kecil) (survey IMI). Maka luas ruang pertunjukan = 500 x 1,5 m² = 750 m².
i. Sudut maksimum antar kursi 30o antar kursi penonton yang terdekat dengan panggung (George C. Izenour, 1977).
ii. Kemiringan maksimum tempat kursi penonton adalah 35 o jika berundak atau 10 o tanpa undakan.
iii. Jarak antar deret tempat duduk adalah 1,143 (Buris Meyer, Harold S, Edward).
9. Ruang Audio
Ditetapkan luas = 3 x 2,4 m² = 72 m²
44 4.1.9. Analisa Hubungan Ruang
Hubungan ruang tertentu memungkinkan ruang itu memiliki sifat yang mudah menyesuaikan diri dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi hal tersebut adalah mengusahakan aliran pengunjung yang jelas dan mudah memanfaatkan fasilitas yang ada.
Pola hubungan ruang dalam bangunan mempertimbangkan beberapa unsur, antara lain : 1. Hubungan yang memungkinkan ruang tertentu memiliki sifat yang mudah menyesuaikan diri dalam menghadapi perubahanperubahan yang terjadi.
2. Tuntutan hubungan antara kegiatan yang saling berkaitan, menunjang, atau melengkapi.
3. Hubungan ruang ditentukan oleh alur tingkatan kegiatan.
Untuk bangunan Akademi Perfilman menggunakan pendekatan F.D.K. Ching pada pola ruang yang ditunjukan sebagai berikut :
45 4.1.9.1. Skema Organisasi Ruang
MAIN ENTRANCE
PENGELOLA
PENDIDIKAN
SERVICE
PAMERAN PARKIR
PARKIR PLAZA
FASILITAS PENUNJANG MUSOLLA
46 4.1.10. Program Ruang
KELOMPOK KEGIATAN
RUANG JUM
LA H RU AN G
KAPASITAS RUANG
STANDAR (M²)
SUMBER LUAS
(M²)
Fasilitas Pendidikan
Lobby 1 435 (80% dari
kapasitas) = 348
0,80 / org NAD 278,40
R.Kelas Teori 7 30 Mahasiswa 64 M² SB 448,00
R. Produksi &
Penyutradara
4 5 Mahasiswa 4 M²/ org SB 80,00
Gudang 1 SB 20.00
R.Editing &
Suara
5 3 Mahasiswa 8M² / org SB 120,00
R. Kontrol Suara
1 15 M² / org SB 15,00
Gudang 1 SB 20,00
R.Studio Animasi
4 4 Mahasiswa 8 M² / org SB 128,00
R.Praktek Kamera
4 4 Mahasiswa 10 M² / org SB 160,00
R. Praktek Artistik
4 4 Mahasiswa 10 M² / org SB 160,00
R.Praktek Skenario
3 6 Mahasiswa 8 M² / org SB 144,00
Laboratorium Komputer
7 30 Mahasiswa 64 M² / org NAD 448,00
Gudang 4 6 M² / org NAD 24,00
Toilet 8 Toilet Pria 2 M² / org TSS 50,00
47 8 Toilet Wanita 2 M² / org TSS
4 Urinoir 0,8 M² / org TSS
Jumlah 2095,00
Sirkulasi 20% 419,00
Sub Total 2514,00
KELOMPOK KEGIATAN
RUANG JUM
LA H RU AN G
KAPASITAS RUANG
STANDAR (M²)
SUMBER LUAS
(M²)
Fasilitas Pengajar
R. Dosen Tetap
1 34 Pengajar 2,5 M² / org NAD 85,00
R. Dosen Tidak Tetap
1 17 Pengajar 2,5 M² / org NAD 42,50
R. Arsip 1 2 Orang 5 M² / org NAD 10,00
R. Informasi 1 3 Orang 4 M² / org NAD 12,00
R. Tamu 1 6 Orang 7,5 M² SB 45.00
R. Rapat 1 20 Orang 2,88 M² / org NAD 57.60
R. Arsip 1 6 M² / org NAD 6,00
R. Peralatan Praktek
2 50 M² SB 100,00
Pantry 4 4 M² 16,00
Janitor 1 4 M² 4,00
Toilet 4 Toilet Pria 2 M² / org TSS 16,00
4 Toilet Wanita 2 M² / org TSS 16,00