• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. PENELITIAN PENDAHULUAN

4.1.1. Pembuatan Ekstrak Komponen Minuman dan Pengukuran

Hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan ekstrak penyusun minuman terutama ekstrak jahe dan temulawak adalah prinsip pembuatan ekstrak penyusun minuman. Pembuatan ekstrak penyusun minuman berpengaruh terhadap rendemen ekstrak yang dihasilkan. Hal tersebut perlu dipahami agar dalam pembuatan ekstrak penyusun minuman tidak terpaku dengan cara yang sudah ada. Pembuatan ekstrak penyusun minuman yang sudah adadimungkinkan menghasilkan rendemen ekstrak yang sangat kecil, sehingga diperlukan pembuatan dengan cara yang lain yang menghasilkan rendemen ekstrak yang lebih banyak dan lebih efisien.

Kendala yang ditemukan dalam pembuatan ekstrak jahe dan temulawak pada penelitian ini adalah rendemen ekstrak yang terlalu kecil jika digunakan alat juice extractor, sehingga dilakukan pengekstrakan jahe dan temulawak secara manual dengan parutan kelapa. Rendemen ekstrak yang terlalu kecil mungkin disebabkan pisau parut juice extractor yang sudah tidak terlalu tajam sehingga efektivitas pengekstrakannya menjadi kecil.

Prinsip pembuatan ekstrak jahe dan temulawak meliputi pembersihan rimpang, pemblansiran, pengekstrakan, pendekantasian, dan pasteurisasi. Pembersihan rimpang dilakukan dengan cara mencuci dan menyikatnya. Pemblansiran dilakukan dengan merebus rimpang yang telah dibersihkan selama tiga menit. Pengekstrakan dilakukan dengan memarut rimpang kemudian diperas tanpa penambahan air. Pengekstrakan ini menghasilkan ekstrak jahe I dan temulawak I. Ekstrak jahe I dan temulawak I selanjutnya disaring untuk mendapatkan ekstrak jahe II dan temulawak II. Ekstrak jahe II dan temulawak II didekantasi dalam lemari pendingin selama 12 jam untuk mengendapkan pati. Endapan pati selanjutnya dibuang untuk mendapatkan ekstrak jahe III dan temulawak III. Ekstrak jahe III dan temulawak III dimasukkan ke dalam botol steril dan dipasteurisasi pada suhu 80 oC selama 30 menit. Ekstrak jahe III dan temulawak III yang telah dipasteurisasi kemudian dishock cooling untuk menghasilkan larutan stok ekstrak jahe dan temulawak. Larutan stok yang dihasilkan selanjutnya disimpan dalam lemari pendingin. Pembuatan ekstrak jahe dan temulawak dapat dilihat pada Lampiran 4 dan 6.

Pembuatan minuman standar (Lampiran 10) dan pengukuran aktivitas antioksidan dilakukan sebelum pembuatan model minuman. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari bias yang diakibatkan oleh komponen penyusun minuman, sehingga perbedaan yang dihasilkan di antara model minuman merupakan perbedaan akibat perlakuan pada minuman.

Pembuatan minuman standar dengan menggunakan ekstrak daun kumis kucing berbunga putih menghasilkan aktivitas antioksidan sebesar 307.59 ppm AEAC. Aktivitas antioksidan tersebut memiliki nilai yang jauh berbeda dibandingkan dengan minuman standar yang yang dibuat oleh Kordial (2009). Minuman standar yang dibuat oleh Kordial (2009) memiliki aktivitas antioksidan sebesar 621.70 ppm AEAC, sehingga dilakukan pembuatan minuman standar kembali dengan menggunakan ekstrak daun kumis kucing berbunga ungu. Aktivitas antioksidan yang dihasilkan dari penggunaan ekstrak daun kumis kucing berbunga ungu adalah sebesar 509.90 ppm AEAC. Aktivitas antioksidan tersebut relatif mendekati aktivitas antioksidan minuman standar yang dibuat oleh Kordial (2009), sehingga penelitian dapat dilanjutkan dengan pembuatan model minuman sesuai perlakuan yang telah ditentukan. Aktivitas antioksidan minuman standar dapat dilihat pada Gambar 3.

48

Aktivitas antioksidan minuman standar yang diukur pada penelitian pendahuluan menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak kumis kucing yang berbeda varietasnya meskipun berasal dari tempat yang sama (pusat studi biofarmaka (PSB) IPB) menghasilkan aktivitas antioksidan minuman standar yang berbeda. Aktivitas antioksidan minuman standar dipengaruhi oleh komponen tunggal penyusun minuman. Komponen tunggal penyusun minuman yang memiliki pengaruh besar terhadap aktivitas antioksidan minuman adalah ekstrak kumis kucing, ekstrak jahe, ekstrak lemon, ekstrak secang, dan ekstrak temulawak. Hasil penelitian Herold (2007) menunjukkan minuman komponen tunggal kumis kucing memiliki aktivitas antioksidan sebesar 650.11 ppm AEAC, minuman komponen tunggal jahe memiliki aktivitas antioksidan sebesar 310 ppm AEAC, minuman komponen tunggal lemon memiliki aktivitas antioksidan sebesar 290 ppm AEAC, minuman komponen tunggal secang memiliki aktivitas antioksidan sebesar 210 ppm AEAC, dan minuman komponen tunggal temulawak memiliki aktivitas antioksidan sebesar 150 ppm AEAC. Oleh karena itu, komponen tunggal penyusun minuman standar yang memiliki aktivitas antioksidan yang relatif rendah akan menghasilkan aktivitas antioksidan minuman standar yang rendah dan sebaliknya.

Keterangan :

MS KK putih PSB: Minuman formula standar yang dibuat dengan stok larutan ekstrak daun kumis kucing berbunga putih pusat studi biofarmaka IPB;

MS KK ungu PSB: Minuman formula standar yang dibuat dengan stok larutan ekstrak daun kumis kucing berbunga ungu pusat studi biofarmaka IPB ;

MS Kordial : Minuman formula standar pembanding (Kordial 2009, dengan ekstrak daun kumis kucing dari pekarangan sekitar kampus IPB Darmaga).

Gambar 3. Grafik aktivitas antioksidan minuman standar yang dilakukan pada penelitian pendahuluan

Syukur (2008) mengatakan varietas kumis kucing berbunga putih paling produktif dan terbaik mutunya untuk ekspor di antara 3 varietas kumis kucing (satu varietas berbunga ungu dan dua varietas berbunga putih). Meskipun demikian, tumbuhan yang hidup pada kondisi yang berbeda memiliki sifat morfologi dan fisiologi yang berbeda. Oleh karena itu, minuman komponen tunggal ekstrak kumis kucing yang berbeda varietasnya (berbunga ungu & putih) dan asalnya (PSB & BALITRO) diukur aktivitas antioksidannya.

Minuman komponen tunggal ekstrak daun kumis kucing berbunga ungu yang berasal dari PSB (729 ppm AEAC) memiliki nilai aktivitas antioksidan berbeda nyata pada taraf α= 5% dibandingkan dengan nilai aktivitas antioksidan minuman komponen tunggal ekstrak daun kumis kucing berbunga

308 510 622 0.00 100.00 200.00 300.00 400.00 500.00 600.00 700.00 800.00

MS KK putih MS KK ungu MS Kordial

p p m A E A C

49

putih yang berasal dari PSB (570 ppm AEAC). Oleh karena itu, minuman formula standar pada penelitian pendahuluan yang dibuat dengan stok larutan ekstrak daun kumis kucing berbunga ungu PSB memiliki nilai aktivitas antioksidan yang lebih besar dibandingkan dengan minuman formula standar pada penelitian pendahuluan yang dibuat dengan stok larutan ekstrak daun kumis kucing berbunga putih PSB.

Minuman komponen tunggal ekstrak daun kumis kucing berbunga ungu yang berasal dari PSB memiliki nilai aktivitas antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan dengan minuman komponen tunggal ekstrak kumis kucing lainnya yaitu sebesar 729 ppm AEAC. Minuman komponen tunggal ekstrak daun kumis kucing berbunga ungu PSB (729 ppm AEAC) memiliki nilai aktivitas antioksidan yang berbeda nyata pada taraf α=5% dibandingkan dengan aktivitas antioksidan minuman komponen tunggal ekstrak kumis kucing berbunga putih yang berasal dari PSB (570 ppm AEAC). Minuman komponen tunggal ekstrak daun kumis kucing berbunga ungu yang berasal dari BALITRO Sukabumi (617 ppm AEAC) memiliki nilai aktivitas antioksidan yang tidak berbeda nyata α= 5 % dibandingkan dengan aktivitas antioksidan minuman komponen tunggal ekstrak daun kumis kucing berbunga putih yang berasal dari BALITRO Sukabumi ( 673 ppm AEAC). Meskipun demikian, minuman komponen tunggal ekstrak daun kumis kucing berbunga putih yang berasal dari BALITRO Sukabumi (673 ppm AEAC) memiliki aktivitas antioksidan yang tidak berbeda nyata pada taraf α=5 % jika dibandingkan dengan minuman komponen tunggal ekstrak daun kumis kucing berbunga ungu yang berasal dari PSB. Oleh karena itu, pembuatan minuman fungsional berbasis kumis kucing dapat menggunakan ekstrak daun kumis kucing berbunga ungu PSB atau ekstrak daun kumis kucing berbunga putih BALITRO. Aktivitas antioksidan minuman komponen tunggal ekstrak daun kumis kucing berbunga putih dan ungu yang masing-masing berasal dari BALITRO (Balai Penelitian Tanaman Obat dan Rempah-rempah) Sukabumi dan PSB (Pusat Studi Biofarmaka) taman kencana Bogor dapat dilihat pada Gambar 4.

Keterangan : huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf signifikasi 5 % KKP BAL ( Kumis Kucing Putih BALITRO Sukabumi)

KKU BAL ( Kumis Kucing Ungu BALITRO Sukabumi) KKP PSB ( Kumis Kucing Putih Pusat Studi Biofarmaka) KKU PSB ( Kumis Kucing Ungu Pusat Studi Biofarmaka)

Gambar 4. Perbandingan aktivitas antioksidan jenis dan asal komponen tunggal ekstrak kumis kucing dalam minuman

0 100 200 300 400 500 600 700 800 900

KKP BAL KKU BAL KKP PSB KKU PSB

p p m A E A C

Jenis dan Asal Komponen ekstrak Kumis Kucing dalam Minuman

673 bc

729 c

570 a

50

Aktivitas antioksidan ekstrak tanaman kumis kucing dipengaruhi oleh lokasi tempat tanaman tersebut ditanam. Aktivitas antioksidan tanaman kumis kucing yang berasal dari daerah geografis yang berbeda menunjukkan perbedaan yang signifikan pada taraf α(0.05) dan aktivitas antioksidan ekstrak tanaman kumis kucing tidak semata-mata dipengaruhi oleh kandungan komponen fenol yang terdapat di dalamnya (Khamsah et al. 2006). Hal tersebut mungkin disebabkan oleh faktor-faktor lingkungan seperti: kandungan unsur hara tanah, ketinggian tempat, intensitas cahaya, suhu udara, iklim, dan lain-lain (Syukur 2008). Oleh karena itu, standardisasi ekstrak kumis kucing yang digunakan sangat diperlukan agar dihasilkan ekstrak kumis kucing yang terstandar.

Standardisasi ekstrak kumis kucing dapat dilakukan melalui penggunaan tanaman kumis kucing dari lahan yang menghasilkan daun kumis kucing yang memiliki aktivitas antioksidan minuman komponen tunggal yang tidak jauh berbeda dari aktivitas antioksidan minuman komponen tunggal yang dilakukan pada penelitian ini, yaitu sebesar 673 ppm AEAC. Standardisasi ingridien minuman lainnya juga diperlukan agar menghasilkan minuman fungsional berbasis kumis kucing yang terstandar.

Dokumen terkait