• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBUATAN HUTAN RAKYAT PADA DAERAH TANGKAPAN AI R ( DTA) WADUK DAN DANAU PRI ORI TAS

Dalam dokumen Index of /ProdukHukum/kehutanan (Halaman 126-130)

REHABI LI TASI HUTAN DAN LAHAN POLA MODEL

E. PEMBUATAN HUTAN RAKYAT PADA DAERAH TANGKAPAN AI R ( DTA) WADUK DAN DANAU PRI ORI TAS

Dalam rangka Gerhan, teknologi konservasi tanah dengan metode vegetatif dan sipil teknis akan dilakukan untuk merehabilitasi lahan kritis di daerah tangkapan air (DTA) waduk/ danau untuk melindungi waduk/ danau dari tanah longsor dan sedimentasi, sekaligus menjadi contoh dan pendorong bagi masyarakat untuk mengadopsi dan mengembangkannya secara swadaya dan swadana.

Model Rehabilitasi lahan pada DTA waduk dan danau prioritas adalah pelaksanaan pembuatan tanaman hutan rakyat pada DTA waduk dan danau yang berfungsi sangat penting bagi kehidupan sebagai upaya mencegah terjadinya erosi dan sedimentasi dalam rangka melindungi dan mempertahankan umur ekonomis/ teknis dan fungsi bangunan air dimaksud.

1. Penyusunan Rancangan a. Penetapan Calon Lokasi

Calon lokasi pembuatan model rehabilitasi lahan pada DTA waduk dan danau prioritas adalah lokasi pada DTA waduk/ danau dan diduga sebagai sumber erosi dan sedimentasi kedalam waduk/ bendungan/ danau. Dalam penentuan calon lokasi pembuatan model hutan rakyat pada DTA waduk dan danau prioritas ada beberapa hal perlu dipertimbangkan :

1) Tanah milik yang kritis atau rusak di DTA waduk dan danau prioritas menurut kesesuaiann lahan dan dan pertimbangan ekonomis sesuai untuk model hutan rakyat pada DTA waduk dan danau prioritas.

2) Tanah milik rakyat yang terlantar yang berada di DTA waduk dan danau prioritas.

3) Tanah desa, tanah marga/ adat, tanah negara bebas serta tanah lainnya yang terlantar dan bukan kawasan hutan negara yang terletak di DTA waduk dan danau prioritas.

4) Tanah milik rakyat/ tanah desa/ tanah lainnya di DTA waduk dan danau prioritas yang sudah ada tanaman kayu kayuan tetapi masih perlu dilakukan pengkayaan tanaman.

b. Data I nformasi dan Penyusunan rancangan.

Data dan informasi yang diperlukan, Penataan areal dan pola tanam termasuk pemilihan jenis tanaman dan proses perancangan kegiatan dan biaya dalam rangka penyusunan rancangan selanjutnya dapat dikembangkan sesuai dengan kondisi lahan sebagaimana diatur dalam pembuatan hutan rakyat yang diatur pada Bab I V.B.

Dalam hal pemilihan jenis dipilih jenis tanaman yang berfungsi lindung, dengan perakaran dalam, umur panjang dan mampu menyerap air yang tinggi.

Pola tanam diatur sedemikian rupa sehingga dapat memperkecil aliran permukaan (run off), erosi dan memperbesar infiltrasi air kedalam tanah. Untuk hal ini diarahkan dalam bentuk tanaman sabuk gunung (contour planting).

2. Pembuatan Tanaman

Pelaksanaan pembuatan tanaman model rehabilitasi lahan pada DTA waduk dan danau prioritas meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

a. Persiapan Lapangan

1) Penyiapan kelembagaan

Kelompok tani diarahkan untuk melaksanakan persiapan pembuatan tanaman model rehabilitasi lahan pada DTA waduk dan danau prioritas antara lain :

g) Mengikuti sosialisasi penyuluhan dan pelatihan

h) Menyusun rencana kegiatan bersama-sama Penyuluh Kehutanan dan atau Petugas Lapangan Gerhan.

i) Menyiapkan lahan miliknya untuk lokasi kegiatan pembuatan tanaman

j) Menyelenggarakan pertemuan-pertemuan kelompok tani k) Menyiapkan administrasi kelompok tani

l) Menyusun perangkat aturan/ kesepakatan internal kelompok tani 2) Pembuatan Sarana dan Prasarana

a) Pembuatan gubuk kerja dan papan pengenal di lapangan yang memuat keterangan tentang lokasi, luas, jenis tanaman, nama kelompok tani dan jumlah peserta serta tahun pembuatan tanaman hutan rakyat.

b) Pembuatan jalan inspeksi/ setapak dan atau jembatan di dalam lokasi tanaman model rehabilitasi lahan pada DTA waduk dan danau prioritas, jika diperlukan.

3) Penataan Areal Tanaman

Penataan areal tanaman dimaksudkan untuk pengaturan tempat dan waktu. Areal tanaman dibagi dalam beberapa petak sesuai dengan pembagian kelompok.

Kegiatan penataan areal tanaman dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :

a) Pemancangan tanda batas dan pengukuran lapangan, untuk menentukan luas serta letak yang pasti sehingga memudahkan perhitungan kebutuhan bibit.

b) Pembersihan lapangan dan pengolahan tanah. c) Penentuan arah larikan serta pemancangan ajir d) Pembuatan piringan tanaman di sekeliling ajir

e) Pembuatan lubang tanaman yang ukurannya sesuai dengan keperluan untuk masing-masing jenis tanaman yang tertuang dalam rancangan.

b. Teknik Penanaman 1) Pola Penanaman

Pola penanaman dapat dikembangkan sesuai dengan kondisi lahan dan mengacu pada rancangan yang telah disusun, adapun polanya adalah sebagai berikut :

a) Pola penanaman di lahan terbuka meliputi : (1) Baris dan larikan tanaman lurus

(2) Tanaman jalur dengan sistem tumpangsari (3) Penanaman searah garis kontur

b) Pola penanaman di lahan tegalan dan pekarangan meliputi : (1) Penanaman pengkayaan pada batas pemilikan

(2) Pengkayaan penanaman/ sisipan 2) Pemilihan Jenis Tanaman

Pemilihan jenis sesuai dengan rancangan yang telah disusun yang didasarkan pada minat masyarakat, kesesuaian agroklimat serta permintaan pasar.

3) Penanaman

Penanaman diupayakan dilakukan pada awal musim hujan yang meliputi kegiatan-kegiatan :

a) Pembersihan lapangan sesuai dengan pola tanam b) Pembuatan lubang tanam sesuai dengan rancangan

c) Pemberian pupuk dasar (pupuk kandang/ bokasi) sesuai dengan rancangan

d) Pemancangan ajir e) Penanaman bibit

Bibit yang akan ditanam terlebih dahulu dilepas kantong plastiknya agar tidak menggangu pertumbuhan selanjutnya. Dalam penanaman, hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu :

a) Bibit dimasukan dalam tanah (lubang tanaman) sedalam leher akar b) Ujung akar tunggang supaya tetap lurus

c) Tanah sekitar batang harus dipadatkan

d) Permukaan tanah harus rata atau agak cembung supaya tidak tergenang air.

Penanaman model rehabilitasi lahan pada DTA waduk dan danau prioritas dapat dilakukan dengan pola tanam tumpangsari dan teknik penanaman sistem cemplongan sebagai berikut :

a) Pola Tanam Tumpangsari

Pola tumpangsari adalah suatu pola tanam yang dilaksanakan dengan menanam tanaman semusim dan tanaman sela diantara larikan tanaman pokok (kayu-kayuan/ MPTS), biasanya dilaksanakan di daerah yang pemilikan tanahnya sempit dan berpenduduk padat, tanahnya masih cukup subur dan topografi datar atau landai. Pengolahan tanah dapat dilakukan secara intensif.

b) Sistem Cemplongan

Pola cemplongan adalah teknik pembuatan tanaman yang dilaksanakan dengan membersihkan tempat-tempat yang akan ditanami dan pengolahan tanahnya hanya dilaksanakan pada piringan disekitar lobang tanaman. Sistem cemplongan dilaksanakan pada lahan-lahan yang miring dan peka terhadap erosi.

4) Pemeliharaan Tanaman

Untuk tahun pertama disediakan bibit sebanyak 10 % dengan ukuran bibit yang digunakan minimal sama atau lebih tinggi dari bibit standar (

30 cm).

Tahapan kegiatan pemeliharaan dilakukan pada tahun berjalan, tahun ke I dan I I yang meliputi : penyulaman, penyiangan, pemupukan dan pengendalian hama penyakit.

a) Penyiangan : Pembersihan tanaman pengganggu

b) Penyulaman : Penanaman kembali pada tanaman yang mati/ tumbuhnya tidak normal (hanya disediakan bibit sulaman di pemeliharaan tahun I )

c) Pemupukan : Dilakukan pemupukan dengan pupuk kandang/ buatan sesuai takaran

d) Penyiraman : Dilakukan pada musim kemarau untuk menjaga tanaman dari kematian.

e) Perlindungan dan Pengamanan Tanaman

Perlindungan tanaman meliputi kegiatan pemberantasan hama dan penyakit serta pencegahan dari bahaya kebakaran. Pengamanan dilakukan untuk mencegah kerusakan hutan dari gangguan kerusakan tanaman dan kebakaran hutan.

3. Hasil Kegiatan

Terwujudnya tanaman hutan rakyat sejumlah 400 batang/ ha sesuai dengan rancangan yang telah disahkan.

Dalam dokumen Index of /ProdukHukum/kehutanan (Halaman 126-130)