PEMBUATAN TANAMAN
G. REHABI LI TASI HUTAN MANGROVE DAN HUTAN PANTA
1. Rehabilitasi Hutan Mangrove
a. Penyusunan Rancangan 1) Penetapan Calon Lokasi
Calon lokasi rehabilitasi hutan mangrove adalah kawasan pantai yang ditetapkan dalam Rencana Teknik Tahunan (RTT). Penentukan calon lokasi mempertimbangkan aspek teknis dan aspek sosial ekonomi sebagai berikut :
a) Aspek Teknis
(1) Kawasan hutan mangrove yang :
(a) Tidak dapat berfungsi sebagai habitat biota yang hidup di kawasan hutan mangrove;
(b) Mengalami degradasi yang dicirikan oleh menurunnya kerapatan tegakan sehingga terbuka dan tumbuhnya berbagai jenis semak seperti warakas (Achrosticum aureum) dan jerujen ( Acanthus ilicifolius);
(c) Adanya kenyataan dan atau berpotensi proses kejadian abrasi/ tsunami.
(2) Daerah pantai yang berfungsi lindung yang memenuhi persyaratan biofisik untuk pertumbuhan mangrove :
(a) Kondisi tanah berlumpur, sedikit berpasir dan dipengaruhi pasang surut air laut;
(b) Salinitas antara 10 - 30 0/
∞
, tetapi harus diperhatikan iklim dan kondisi pasang surut air laut yang menyebabkan tinggi-rendahnya kadar salinitas;(c) Ketahanan jenis mangrove terhadap pasang surut.
(3) Kawasan pantai berhutan mangrove dengan lebar minimal 130 kali nilai rata-rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah tahunan diukur dari garis air laut surut terendah ke arah darat. b) Aspek Sosial ekonomi
(1) Adanya pengaruh yang nyata keberadaan hutan mangrove terhadap kehidupan dan lingkungan;
(2) Adanya ketergantungan masyarakat terhadap keberadaan hutan mangrove sebagai mata pencaharian;
(3) Adanya kecenderungan berkembangnya pola usaha tani perikanan tambak/ pantai.
2) Pengumpulan Data dan I nformasi
Pengumpulan data dan informasi dilakukan sebagai bahan dalam penyusunan rancangan. Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data Primer diperoleh melalui wawancara dengan responden atau dengan mendatangi langsung obyek yang akan diambil datanya. Data Sekunder diperoleh melalui telaah data yang resmi (hasil laporan, penelitian dan lain-lain).
Jenis data yang dikumpulkan berupa data biofisik meliputi : letak dan luas, status lahan, tanah, salinitas, jenis tanaman, sarana dan prasarana, iklim dan zone hutan mangrove sedangkan data sosial ekonomi meliputi : demografi, mata pencaharian dan pendapatan, tenaga kerja, kelembagaan masyarakat.
3) Penataan Areal
Penataan areal dilakukan untuk mengumpulkan data dan informasi serta mengidentifikasi permasalahan yang berkaitan dengan penguasaan lahan.
Kegiatan penataan areal terdiri dari :
a) Survey ke lapangan untuk mengumpulkan data dan informasi lapangan (biofisik-sosek), yang dituangkan dalam risalah umum; b) Pengukuran luas dan batas luar areal yang dituangkan dalam peta
rancangan;
c) Penentuan pola tanam (penanaman merata, tumpangsari tambak dan/ atau model rumpun berjarak) dengan memperhatikan kondisi lahan dan tegakan yang ada di lapangan serta sosial ekonomi masyarakat setempat.
d) Pengukuran batas areal tanam :
(1) Luas areal sasaran rehabilitai hutan mangrove minimal 10 ha dalam satu hamparan yang kompak.
(2) Batas areal tanam dapat menggunakan batas alam seperti alur-alur, anak sungai, patok bambu/ kayu dan lain-lain yang sifatnya relatif permanen dan diberikan tanda batas yang jelas.
e) Dari hasil pengukuran dibuat sket lapangan (tanpa skala) dan dicatat dalam buku ukur untuk bahan pembuatan peta rancangan skala 1 : 1.000 s/ d 1 : 10.000 sesuai kegiatan dan operasional pelaksanaan.
4) Pengolahan dan Analisa Data
Data dan informasi yang telah dikumpulkan diolah tabulasi, sortasi dan validasi, yang selanjutnya dianalisis untuk bahan penyusunan
rancangan kegiatan dan rancangan anggaran biaya dan peta rancangan.
5) Rancangan Kegiatan
a) Kegiatan dirancang sesuai lokasi kawasan rehabilitasi : (1) Di Luar Kawasan Hutan Negara
Pola penanaman di luar kawasan hutan negara diterapkan pola RHL insentif, dilaksanakan pada areal yang masyarakatnya terkonsentrasi pada suatu wilayah tertentu, mempunyai semangat dan partisipasi yang tinggi dalam upaya pelestarian hutan mangrove dan didukung oleh tersedianya bibit yang berkualitas baik.
Selanjutnya, dirancang kegiatan pembuatan tanaman yang meliputi pola tanam, tata tanam, pemilihan jenis, persiapan lapangan, penanaman dan pemeliharaan. Jumlah bibit yang disediakan 1.100 bt/ Ha dengan sulaman tahun berjalan dan pemeliharaan tahun I sebesar 10% . Pola tanam dapat dirancang dengan pola murni (merata atau strip/ jalur) atau tumpangsari tambak.
Kegiatan yang dibiayai oleh Pemerintah meliputi: penyusunan rancangan dan penyediaan bibit, dan pengembangan kelembagaan. I nsentif berupa bantuan sebagian biaya penanaman dan pemeliharaan tanaman tahun I dan tahun I I sesuai ketentuan yang ditetapkan dalam dokumen anggarannya. (2) Di Dalam Kawasan Hutan
Rehabilitasi hutan mangrove di areal kawasan hutan negara dengan Pola RHL Subsidi/ Biaya Penuh.
Penanaman dilaksanakan dengan pola murni (merata atau strip/ jalur) dengan melibatkan masyarakat setempat dan didukung oleh tersedianya bibit yang berkualitas baik.
Dalam pola ini dirancang kegiatan yang akan dilaksanakan, biaya dan tatawaktu meliputi pola tanam, pemilihan jenis dan penyediaan bibit, penyiapan sarana dan prasarana, persiapan lapangan, penanaman dan pemeliharaan. Jumlah bibit yang disediakan 3.300 bt/ Ha dengan sulaman tahun berjalan dan pemeliharaan tahun I sebesar 10%
Kegiatan yang disubsidi meliputi penyusunan rancangan dan pengadaan bibit, penanaman, pemeliharaan tahun pertama dan tahun kedua, monitoring dan evaluasi, pengawasan dan pengendalian serta pengembangan kelembagaan.
b) Pemilihan Jenis
Jenis tanaman dipilih yang sesuai dengan kondidi ekologis, fisik dan sosial ekonomi masyarakat. Pada tahap ini perlu dipertimbangkan zonasi jenis tanaman mangrove berkaitan dengan ketahanannya terhadap pasang surut dan tingkat ketinggian air. Sebagai rujukan pemilihan jenis sebagaimana tercantum pada Tabel 13.
Tabel 13. Kesesuaian beberapa jenis tanaman mangrove dengan faktor lingkungan. Jenis Salinitas (o/ oo) Toleransi thd kekuatan ombak & angin Toleransi thd kandungan pasir Toleransi thd Lumpur Frequensi penggenang- an 1 2 3 4 5 6 Rhizophora mucronata (bakau) 10-30 S MD S 20 hr/ bln
R. stylosa (tongke besar) 10-30 MD S S 20 hr/ bln
R. apiculata (tinjang) 10-30 MD MD S 20 hr/ bln
Bruguiera parvilofa (bius) 10-30 TS MD S 10-19
hr/ bln B. sexangula (tancang) 10-30 TS MD S 10-19 hr/ bln B.gymnorhiza (tancang merah) 10-30 TS TS MD 10-19 hr/ bln Sonneratia alba (pedada
bogem)
10-30 MD S S 20 hr/ bln
S.caseolaris (padada) 10-30 MD MD MD 20 hr/ bln
Xylocarpus granatum (nyirih) 10-30 TS MD MD 9 hr/ bln
Heritiera littoralis (bayur laut) 10-30 STS MD MD 9 hr/ bln Lumnitzera racemora (Tarumtum) 10-30 STS S MD Beberapa kali/ thn
Cerbera manghas (bintaro) 0-10 STS MD MD Tergenang
musiman
Nypa fruticans (nipah) 0-10 STS TS S 20 hr/ bln
Avicenia spp. (api-api) 10-30 MD TS S
Keterangan : S = Sesuai, MD = Moderat, TS = Tidak Sesuai, STS = Sangat Tidak Sesuai
6) Rencana Anggaran Biaya (RAB)
Dari hasil pengolahan data dan informasi rancangan kegiatan yang meliputi kebutuhan bahan, peralatan dan tenaga kerja pada setiap komponen pekerjaan serta sarana dan prasarananya, selanjutnya dengan menggunakan harga pasar yang wajar dan ketentuan yang berlaku disusun Rencana Anggaran Biaya per komponen pekerjaan. 7) Pembuatan Gambar dan Peta
Dari hasil pengumpulan data, sket lapangan dan buku ukur kemudian dibuat gambar dan peta.
a) Peta situasi skala 1 : 100.000 dan/ atau 1 : 250.000 yang menunjukkan situasi dan letak lokasi kegiatan pada wilayah DAS dan Kabupaten/ Kota.
b) Peta rancangan yang menggambarkan peta kerja memuat batas- batas areal, petak, rencana jalan inspeksi, pola penanaman,
dengan skala 1 : 1.000 dan/ atau 1 : 10.000.
c) Peta rancangan dibuat sesuai dengan kaidah perpetaan dengan inzet lokasi dan ruang penilaian serta pengesahan peta.
d) Gambar/ bestek yang perlu dibuat adalah :
Gubuk Kerja, papan nama, tata ruang/ tata letak tanaman (pola tanam). Khusus untuk Kawasan Hutan Konservasi disesuaikan dengan Rencana Pengelolaan Kawasan Konservasi.
8) Perancangan Kelembagaan
Kegiatan ini mencakup penetapan pengaturan pelaksanaan kegiatan- kegiatan untuk memperkuat kelembagaan masyarakat sehingga secara individu maupun kelompok mampu melaksanakan kegiatan rehabilitasi mangrove. Kegiatan tersebut diprakondisikan terlebih dahulu melalui penyuluhan untuk menumbuhkembangkan kesadaran akan pentingnya hutan mangrove.
Demikian pula bagi petani tambak/ nelayan yang belum mempunyai kelompok tani diarahkan untuk membetuk kelompok tani dengan pendampingan oleh Petugas Lapangan Gerhan (PLG).
Kelompok tani diarahkan untuk mampu melaksanakan pembuatan tanaman, oleh karena itu mereka diharuskan mengikuti sosialisasi, penyuluhan, menyelenggarakan pertemuan-pertemuan kelompok, menyiapkan administrasi kelompok dan menyusun perangkat aturan/ kesepakatan internal kelompok. Berkaitan dengan ini dirancang pula kebutuhan pelatihan bagi petani.
9) Organisasi Pelaksana
a) Penyusun rancangan rehabilitasi mangrove :
(1) Di Kawasan Hutan Lindung dan Hutan Produksi oleh Sub Dinas Program/ Perencanaan pada Dinas Kabupaten/ Kota. (2) Di Kawasan Hutan Konservasi oleh Tim/ Pejabat yang
ditunjuk oleh Kepala BKSDA/ Balai Taman Nasional.
(3) Di TAHURA oleh Sub Dinas Program/ Perencanaan pada Dinas Propinsi/ Kabupaten/ Kota.
(4) Di Luar Kawasan Hutan oleh : oleh Sub Dinas
Program/ Perencanaan pada Dinas Kabupaten/ Kota.
(5) Penyusunan rancangan dapat memanfaatkan Jasa
Konsultansi/ Pihak Ketiga.
b) Penilai rancangan : Kepala Balai Pengelolaan DAS atau pejabat yang ditunjuk oleh Kepala BPDAS yang bersangkutan.
c) Pengesah rancangan :
(1) Kawasan Hutan Lindung dan Hutan Produksi oleh Kepala Dinas Kabupaten/ Kota..
(2) Kawasan Hutan Konservasi oleh Kepala BKSDA/ Balai Taman Nasional.
(3) TAHURA oleh Kepala Dinas Propinsi/ Kabupaten/ Kota. (4) Luar Kawasan Hutan oleh Kepala Dinas Kab/ Kota.
10) Tata Waktu
Rancangan rehabilitasi hutan mangrove disusun 1 (satu) tahun sebelum pelaksanaan (T-1), namun dalam kondisi tertentu/ ketersediaan anggaran dapat dilaksanakan pada tahun berjalan (T+ 0) tetapi dibuat sebelum pembuatan tanaman dilaksanakan.
11) Hasil Kegiatan
Hasil kegiatan pembuatan rancangan adalah buku rancangan rehabilitasi hutan mangrove dilengkapi peta-peta dan gambar/ bestek yang telah dinilai oleh Kepala Balai Pengelolaan DAS setempat dan disahkan oleh pejabat yang berwenang.
b. Pelaksanaan Rehabilitasi Hutan Mangrove 1). Persiapan Lapangan
a). Penyiapan kelembagaan
(1) Prakondisi dilakukan terhadap masyarakat pantai setempat yang akan terlibat dalam kegiatan rehabilitasi hutan mangrove berupa penyuluhan, pembentukan kelompok tani dan pendampingan oleh Petugas Lapangan Gerhan (PLG).
(2) Penyiapan organisasi pelaksana dan koordinasi dengan pihak terkait untuk lokasi dan areal yang akan direhabilitasi oleh Dinas Kabupaten/ Kota.
b). Pengadaan sarana dan prasarana
Penyiapan bahan dan pembuatan gubuk kerja, papan nama, patok batas, ajir dan penyiapan alat pengukuran (GPS/ alat ukur theodolit, kompas, altimeter dan lain-lain) serta perlengkapan kerja lainnya.
c). Penataan areal tanaman
(1) Berdasarkan rancangannya, dilakukan penataan lahan untuk kesesuaian lokasi dan areal tanam.
(2) Penyiapan areal tanam :
(a) Pengukuran ulang batas-batas areal, pemancangan patok batas luar areal tanam;
(b) Pembuatan jalur tanaman dimulai dengan penentuan arah larikan tanaman melintang terhadap pasang surut sesuai pola tanam yang telah dirancang pada lokasi dan areal tanam yang bersangkutan;
(c) Pembersihan jalur tanam dari sampah, ranting pohon, dan potongan kayu serta tumbuhan liar;
(d) Pemancangan ajir sesuai jarak tanam, dipasang tegak lurus dan kuat pada areal tanam;
(e) Penyiapan titik bagi bibit (di masing-masing areal penanaman).
2). Pembuatan Tanaman
a). Pemilihan jenis tanaman
(1) Jenis tanaman dipilih yang sesuai dengan hasil analisa yang telah dituangkan dalam rancangan.
(2) Spesifikasi bibit
(a) Jenis tanaman mangrove disesuaikan dengan zonasi berbagai tanaman sebagaimana tertuang dalam rancangan, yakni dengan memperhatikan ketahanan terhadap pasang surut dan tingkat ketinggian air; antara lain : zone Avicennia, zone Rhizophora, zone Bruguiera, dan zone kering serta nipah.
(b) Kualitas bibit siap tanam : Bibit sehat, berbatang tunggal dan leher berkayu. Kenampakan fisiologis yang baik ditandai ; Tinggi minimal 20 untuk jenis bibit dari benih non propagul; dan berdaun untuk jenis bibit dari benih propagul ;
b). Pola Tanam
Sebagaimana dituangkan dalam rancangan, pembuatan tanaman rehabilitasi hutan mangrove baik di luar kawasan hutan Negara maupun di dalam kawasan hutan dapat dilaksanakan dengan menerapkan 3 (tiga) pola tanam yaitu (1). penanaman murni sepanjang pantai (green belt); (2). tumpangsari tambak.
c). Penanaman
Pelaksanaan penanaman dimulai pada musim ombak tenang dan dari garis terdekat dengan darat agar terhindar dari ombak besar. Pelaksanaan pembuatan tanaman rehabilitasi hutan mangrove di luar kawasan hutan dan di dalam kawasan hutan dilakukan dengan menerapkan pola tanam sebagaimana tertuang dalam rancangan.
(1) Pola tanam murni
(a) Bibit dikeluarkan dari dalam kantong plastik dengan cara menyobek bagian bawah kantong dengan hati-hati supaya media tetap kompak dan perakaran tidak rusak; (b) Bibit ditanam dekat ajir, dan apabila tanahnya sangat
lunak atau mudah hanyut sebaiknya diikat dengan tali pada ajir agar bibit tidak roboh;
(c) Jarak tanam disesuaikan dengan kondisi lapangan dengan jumlah bibit 3.300 batang/ ha untuk penanaman dalam kawasan hutan dan 1.100 batang/ ha untuk penanaman di luar kawasan hutan;
(d) Pada tapak berombak besar disarankan ditanami dengan jenis Rhizophora, sp dengan pola selang seling, bibit diikat pada tiang pancang/ bambu serta dibuat penghalang ombak. Dan pada tapak berlumpur-dalam sebaiknya menggunakan jenis Rhizophora mucronata .
Pola tanam murni meliputi penanaman merata dan atau penamanan strip (jalur) dapat dilihat pada gambar 7.
(2) Pola tanam tumpangsari tambak (Sylvofishery/ wanamina) (a) Penanaman tumpangsari tambak dilaksanakan seperti
halnya dengan penananam murni, tetapi dikombinasikan dengan kegiatan pertambakan. Penanaman selain pada jalur tanam juga dilakukan di pelataran tambak sesuai dengan rancangan;
(b) Jarak tanam disesuaikan dengan kondisi lapangan dengan jumlah bibit maksimal 1.100 batang/ ha, dan untuk sulaman maksimal 10% (110 batang/ Ha);
(c) Pola tumpangsari tambak (sylvofishery/ wanamina) terdiri dari 4 (empat) macam cara yaitu : empang parit tradisional, komplangan, empang parit terbuka dan kao- kao;
Bagian bawah kantong plastik dibuka/disobek
Ajir
Gambar 6 a. Cara menanam dengan ajir tanpa tali pengikat
Gambar 6 b. Cara menanam dengan bibit yang diikat pada ajir
Bagian bawah kantong plastik dibuka/disobek Ajir Tali
x x x x x x x x x x x x x
x x x x x x x x x x x x x
x x x x x x x x x x x x x
x x x x x x x x x x x x x
- - - -- - - laut - - - - -- - -
- - - -- - - --
x x x x x x x x x x x x x x x x x
x x x x x x x x x x x x x x x x
x x x x x x x x x x x x x x x x x
x x x x x x x x x x x x x x x x
- - - -- - - laut - - - - -- - -
- - - -- - - --
Strip Stripa. Penanaman Merata b. Penanaman Strip (jalur )