• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Bambu

Dalam dokumen Index of /ProdukHukum/kehutanan (Halaman 79-84)

Gambar 7 Alternatif Pola Tanam Murn

H. PENGEMBANGAN TANAMAN HASI L HUTAN BUKAN KAYU ( HHBK)

1. Pengembangan Bambu

a. Penyusunan Rancangan 1) Penetapan Lokasi

Lokasi tanaman bambu ditetapkan melalui analisa kelayakan teknis, usaha, finansial/ ekonomis, ekologis dan kelayakan sosial budaya. Lokasi tanaman bambu harus terpadu dengan lokasi industri pengolahannya dengan memperhatikan pertimbangan sebagai berikut :

a) Lokasi pengembangan tanaman bambu adalah lahan kosong. b) Lokasi secara biofisik dan teknis memenuhi persyaratan bagi

tanaman bambu.

c) Areal tanaman bukan merupakan lokasi kegiatan/ proyek Pemerintah atau Pemerintah Provinsi/ Kabupaten/ Kota.

d) Areal tanaman dapat di lahan negara yang tidak produktif (kritis) serta lahan milik masyarakat dengan status kepemilikan lahan yang jelas.

e) Lokasi tanaman diupayakan kompak dalam satu hamparan agar penanaman, pemeliharaan, pemanenan dan transportasi ke industri dapat dilakukan secara ekonomis.

f) Aksesibilitas baik, dekat dengan prasarana jalan angkutan dan lokasi industri pengolahan.

g) Lokasi pengembangan tanaman dipilih pada daerah dimana petani sudah mengenal budidaya dan pemanfaatan bambu.

h) Pada lokasi tersebut masyarakatnya (kelompok tani dan investor) mempunyai minat dalam pemanfaatan dan pengolahan bambu. 2) Pengumpulan Data dan I nformasi

a) Pengumpulan data meliputi data primer di lapangan dan data sekunder berupa informasi yang tersedia dalam bentuk data dan laporan serta peta yang ada.

b) Pengumpulan data/ informasi meliputi ; a) aspek biofisik berupa data tanah, iklim, topografi, potensi dan jenis bambu yang ada, ketersediaan lahan, kemampuan lahan dan b) aspek sosial ekonomis meliputi data kependudukan, tenaga kerja, mata pencaharian, pendidikan, kelembagaan masyarakat, pemilikan dan penggunaan lahan, aksesibilitas, sarana dan prasarana perhubungan dan perekonomian (jalan, pelabuhan, perbankan, industri pemanfaatan bambu yang telah ada) serta data sosial budaya masyarakat setempat.

3) Penataan Areal

Penataan lokasi bertujuan untuk menentukan batas areal, luas dan tata letak areal tanaman mencakup kegiatan :

a) Pengukuran, pemancangan patok batas luar areal dan petak/ blok.

b) Hasil pengukuran dan penataan di tuangkan dalam peta rancangan skala 1 : 5.000 s/ d 1 : 10.000 sesuai dengan keperluan operasional pelaksanaan kegiatan.

c) Penentuan pola tanaman, jenis tanaman dan jarak tanam sesuai dengan kondisi lapangan.

4) Rancangan Kegiatan

Rancangan kegiatan meliputi penentuan pola tanam, penyiapan lapangan, sarana prasarana, pemilihan jenis, pembibitan, penanaman dan pemeliharaan.

a) Pola tanam bambu dilakukan dengan sistem campuran (tumpang sari/mixed planting) dengan jenis tanaman bambu untuk keperluan industri bambu. Jarak tanam disesuaikan dengan jenis bambu dan kondisi lahan. Di dalam 1 Ha di tanam 400 batang dengan sulaman tahun berjalan 10 % dan pemeliharaan tahun pertama 10 % .

b) Rancangan tapak disusun berdasarkan hasil analisa ketersediaan lahan, kelayakan biofisik dan sosial ekonomi.

c) Tahapan pelaksanaan kegiatan detail pembuatan tanaman disesuaikan dengan pengaturan rencana petak tebangan sebagai unit produksi usaha bambu.

d) Dirancang kebutuhan sarana prasarana diantaranya meliputi : gubuk kerja, papan nama, ajir, saprodi (pupuk, bibit, obat). e) Rancangan kegiatan dituangkan dalam peta rancangan yang

memuat batas petak, batas pemilikan dan rencana tanaman (tata letak, pola dan jenis tanaman bambu) dan gambar.

f) Pemilihan Jenis

Pemilihan jenis memperhatikan kesesuaian lahan dan jenis produk bambu yang akan dihasilkan dari industri pengolahan bambu. Penyesuaian jenis bambu dengan jenis produk industri pengolahan bambu merupakan pertimbangan penting karena seluruh hasil tanaman akan diserap sebagai bahan baku utama industri.

Jenis bambu yang cocok untuk jenis produk industri pengolahan bambu untuk tujuan subtitusi kayu adalah sebagai berikut :

Tabel 15. Jenis Bambu dan Produk Pengolaan Bambu

No Nama Latin Nama Lokal Jenis Produk

1. Bambusa arundinaceae - Kertas

2. Bambusa vulgaris Ampel hijau, pring gading, pring tutul, bambu ampel

Kertas

3. Bambusa blumeana Bambu duri, pring ori, haour cucuk

Kertas 4. Giganthochloa levis Pring petung, buluh suluk Kertas 5. Dendrocalamus apus Bambu apus Kertas

6. Giganthochloa apus Bambu tali Papan semen bambu

7. Giganthochloa atroviolaceae

Bambu hitam, pring wulung

Papan semen bambu

8. Giganthochloa robusta Pring serit, awi mayan Papan semen bambu

9. Giganthoclhoa atter Bambu jawa Papan semen bambu

10. Dendrocalamus asper Bambu petung

coklat/ hijau/ / hitam

Ply bambu

11. Dendrocalamus latiforus - Ply bamboo

dan rebung

12. Bambusa vulgaris - Particle board

5) Rancangan Kelembagaan

a) Arahan non teknis dalam penyusunan rancangan kelembagaan antara lain : sosialisasi kepada petani/ masyarakat yang akan terlibat dalam kegiatan pembuatan tanaman bambu, prakondisi melalui penyuluhan untuk menumbuhkembangkan kelembagaan kelompok tani dan kelembagaan usaha sesuai pola kegiatan yang dilaksanakan.

b) Rancangan pemanenan tanaman dengan mempertimbangkan rencana dan kapasitas industri pengolahan bambu.

c) Rancangan jenis dan kapasitas produksi bambu untuk menyusun pengaturan jangka produksi bambu selama daur untuk memasok industri secara berkelanjutan.

d) Rancangan kelembagaan tanaman serta pola pengusahaannya.

6) Rencana Anggaran Biaya

a) Sesuai dengan analisa rencana pekerjaan/ komponen kegiatan yang akan dilaksanakan, maka dilakukan analisa kebutuhan bahan dan peralatan per komponen pekerjaan.

b) Berdasarkan analisa rencana pekerjaan dihitung kebutuhan tenaga kerja, kemudian berdasarkan survey sosial dan ekonomi dilakukan analisa ketersediaan tenaga kerja dari desa setempat dan sekitarnya untuk pemenuhan tenaga kerja yang dibutuhkan.

c) Berdasarkan point a) dan b) tersebut diatas, dibuat analisa dan harga pasar yang wajar, disajikan dalam Rencana Anggaran Biaya per komponen kegiatan.

7) Tata Waktu Penyusunan Rancangan

a) Penyusun rancangan tanaman dilaksanakan pada tahun (T-1) pada kondisi tertentu dapat dilaksanakan pada tahun berjalan (T- 0).

b) Dibuat tata waktu tahapan pelaksanaan pembuatan tanaman dari penyiapan lapangan sampai dengan pemanenan.

8) Penyusun dan Pengesahan Rancangan

a) Rancangan disusun secara swakelola oleh Dinas Kehutanan Kabupaten/ Kota setempat dapat dibantu tenaga ahli/ pakar dalam bidangnya.

b) Rancangan disusun oleh Sub Dinas Kabupaten/ Kota dinilai oleh Balai Pengelolaan DAS dan disahkan oleh Kepala Dinas Kabupaten/ Kota setempat.

9) Hasil Kegiatan

Hasil kegiatan penyusunan rancangan adalah buku rancangan teknis pengembangan tanaman yang sudah disahkan oleh BP DAS atau Dinas Kehutanan Kabupaten. Buku rancangan merupakan hasil analisa kelayakan pengembangan tanaman bambu secara detail dan lengkap serta merupakan dasar dan acuan teknis pelaksanaan kegiatan dilapangan. Format rancangan sebagaimana diatur dalam Bab I I , B.4.

b. Pelaksanaan Pengembangan Bambu 1) Penyiapan Kelembagaan

Penyiapan kelembagaan kelompok tani yang dilaksanakan oleh Dinas Kabupaten/ Kota meliputi kegiatan :

a) Pelaksanaan pengembangan bambu dilaksanakan oleh kelompok tani. Untuk lokasi yang belum ada kelompok tani-nya agar dibentuk kelompok tani sesuai kebutuhan yang difasilitasi oleh Dinas Kabupaten/ Kota.

b) Untuk membentuk kesepahaman dilakukan sosialisasi, penyuluhan dan pelatihan serta pertemuan kelompok tani.

c) Memfasilitasi penyusunan rencana kegiatan kelompok tani bersama penyuluh dan PLG yang ditunjuk.

d) Menyiapkan kelengkapan administrasi kelompok tani.

e) Mendorong dan memfasilitasi penyusunan perangkat dan aturan internal kelompok tani.

2) Penataan Ulang Areal Tanaman

Penataan ulang areal tanaman untuk mengatur dan menata areal tanaman sesuai dengan rancangan.

a) Pengukuran ulang batas areal, pemancangan patok batas definitif.

b) Pembuatan jalur tata tanam baik komposisi maupun jarak tanam. 3) Pembuatan Tanaman

Pembuatan tanaman meliputi kegiatan sebagai berikut : a) Persiapan Lapangan

Persiapan lapangan meliputi : pembersihan lahan sesuai jalur tanaman, pemasangan ajir, pembuatan lubang tanam, penyiapan pupuk dasar dan tempat pengumpulan bibit.

b) Penyiapan Bibit

(1) Bibit tanaman bambu disiapkan melalui stek ranting, stek batang, atau stek rizoma serta anakan cabutan. Yang umum dilakukan adalah bibit dari stek batang dan stek ranting. (2) Mutu Bibit Siap Tanam

Bibit sehat, berbatang tunggal tinggi minimal 30 cm diukur dari mata tumbuh tunas sampai pangkal daun terluar dan media polybag kompak.

(3) Pengadaan bibit dilakukan oleh pihak ketiga sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

(4) Pelaksana pengadaan bibit adalah Balai Pengelolaan DAS sesuai ketersediaan anggaran yang ada.

(5) Penilaian bibit mutu fisik fisiologis bibit siap tanam dilakukan oleh Lembaga Penilai I ndependen (LPI ) yang ditunjuk sesuai standar mutu dan ketentuan yang berlaku.

c) Pola Tanam

Pola tanam disesuaikan dengan kondisi lahan di lapangan dan mengacu pada rancangan yang telah disusun baik komposisi jenis maupun tata tanamnya.

d) Penanaman

Kegiatan penanaman dilaksanakan pada awal musim hujan agar diperoleh persentase tumbuh tanaman yang tinggi. Tahap penanaman sebagai berikut :

(1) Pembersihan lapangan sesuai pola tanam.

(2) Pembuatan lubang tanam disesuaikan jenis tanaman bambu yang akan ditanam.

(3) Pemberian pupuk dasar sesuai rancangan.

(4) Penanaman bibit bambu dengan melepas polybag dan bibit ditanam dalam lobang dan dipadatkan.

(5) Untuk memperoleh hasil tanaman yang baik maka

penanaman harus disesuaikan dengan ketinggian tempat, suhu udara, curah hujan dan kelembaban udara. Bambu dapat ditanam pada ketinggian 0 s/ d 1000 meter diatas permukaan laut tergantung jenisnya.

4) Pemeliharaan

a) Pemeliharaan Tahun Berjalan (T-0)

Pemeliharaan T-0 berupa penyulaman tanaman yang mati (10% ), penyiangan, penggemburan tanah dan pemupukan.

b) Pemeliharaaan Tahun I dan I I

pemeliharaan meliputi penyiangan dan penggemburan tanah, penyulaman tanaman yang mati atau tumbuh tidak normal dengan jumlah bibit sulaman 10% (pemeliharaan I I tidak disediakan bibit untuk sulaman dari dana pemerintah), pemupukan sesuai dosis untuk umur tanaman, pemangkasan cabang abnormal, pendangiran dan pengguludan dasar rumpun. 5) Perlindungan Tanaman

Perlindungan tanaman meliputi pemberantasan hama dan penyakit dan perlindungan terhadap kebakaran. Pemberantasan hama antara lain hama ulat yang menyerang pucuk tanaman dan penggerek batang. Pemberantasannya dilakukan dengan penyemprotan pestisida.

Dalam dokumen Index of /ProdukHukum/kehutanan (Halaman 79-84)