• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGENDALI JURANG ( GULLY PLUG )

Dalam dokumen Index of /ProdukHukum/kehutanan (Halaman 146-152)

B DAM PENAHAN ( DPn)

C. PENGENDALI JURANG ( GULLY PLUG )

1. Pembuatan Rancangan Pengendali Jurang (Gully Plug) a. Persiapan

1) Pemilihan dan penetapan calon lokasi

Lokasi bangunan Pengendali Jurang sebagaimana tercantum dalam RTT yang telah disusun. Untuk memperoleh tapak yang tepat dilakukan inventarisasi terhadap beberapa calon tapak (site) dengan kriteria sebagai berikut :

a) Lahan kritis dan potensial kritis

b) Kemiringan > 30 % dan terjadi erosi parit/ alur

c) Pengelolaan lahan sangat intensif atau lahan terbuka d) Sedimentasi tinggi

e) Curah hujan tinggi

f) Kemiringan alur maksimal 5% 2) Letak dan jumlah Bangunan

Penempatan bangunan pengendali jurang pada satu alur dibuat secara ”series” (berurutan) dengan prinsip ”Head to Toe” yaitu dasar bangunan bagian atas (hulu) menjadi patokan bagian atas bangunan yang berada dibawahnya. Dengan demikian pada satu alur sungai dapat dibuat bangunan pengendali jurang minimal 3 unit.

3) Orientasi lapangan

Calon lokasi yang terpilih (memenuhi kriteria) kemudian dilakukan orientasi lapangan untuk menentukan jumlah dan letak serta ukuran bangunan pengendali jurang.

4) Konsultasi

Berdasarkan hasil orientasi lapangan dilakukan konsultasi dengan instansi terkait baik formal (Dinas Kimpraswil/ PU, Dinas Pertanian, dsb) maupun non formal (kelompok tani, lembaga adat dsb) dengan tujuan untuk memperoleh masukan dan kesepakatan sebelum lokasi bangunan pengendali jurang ditetapkan.

5) Pengadaan bahan dan alat

Pengadaan bahan dan alat diprioritaskan terhadap bahan habis pakai, sedangkan peta dasar dan peralatan lain seperti alat ukur/ survey lapangan dapat memanfaatkan yang sudah ada atau meminjam.

6) Administrasi

Persiapan administrasi meliputi : a) Administrasi kegiatan

b) Surat menyurat (pemberitahuan, surat ijin, dsb) b. Pengumpulan data dan informasi lapangan

1) Data primer

Data primer dapat diperoleh dengan cara survey dan pengukuran lapangan, meliputi sebagai berikut :

a) Topografi

c) Penutupan lahan dan pola tanam. d) Erosi parit/ sedimentasi .

2) Data sekunder, meliputi :

Data sekunder dapat diperoleh dengan cara pengumpulan data yang telah ada/ tersedia baik di instansi pemerintah, swasta dsb.

a) Administrasi wilayah

b) Curah hujan (jumlah, intensitas) c) Erosi dan sedimentasi

d) Adat istiadat

c. Pengolahan dan analisa data/ informasi

Dari hasil pengumpulan data dan informasi di lapangan dilakukan pengolahan dan analisis, sebagai berikut :

1) Data tanah, erosi, topografi, curah hujan, kemiringan alur dan sedimentasi diolah dan dianalisa menjadi:

a) Letak bangunan

b) Spesifikasi teknis bangunan c) Debit aliran air, dll.

2) Data jumlah penduduk, mata pencaharian, pendapatan serta adat istiadat diolah dan dianalisa menjadi informasi:

a) Potensi ketersediaan tenaga kerja

b) Standar satuan biaya/ upah yang berlaku, c) I nformasi awal kondisi sosek.

d. Penyusunan rancangan teknis

Sesuai norma yang berlaku rancangan pembuatan bangunan pengendali jurang (gully plug) secara teknis-prosedural sama dengan pembuatan rancangan dam penahan.

e. Hasil Kegiatan

Sebagai hasil kegiatan dari penyusunan rancangan berupa buku rancangan pengendali jurang (gully plug) yang dilengkapi dengan lampiran data, gambar dan peta dan telah disahkan oleh instansi yang berwenang.

Contoh Gambar skematis bangunan pengendali jurang dapat dilihat pada Gambar 19 di bawah ini.

Gambar 19. Pengendali Jurang (Gully Plug)

2. Pembuatan Pengendali Jurang (Gully Plug) a. Persiapan

1) Penyiapan Kelembagaan

a) Pertemuan dengan masyarakat/ kelompok dalam rangka sosialisasi b) Pembentukan organisasi dan penyusunan program kerja

2) Pengadaan sarana dan prasarana

Pengadaan peralatan/ sapras diutamakan untuk jenis peralatan dan bahan yang habis pakai. Sedang pembuatan sarana dan prasarana untuk memperlancar pelaksanaan pekerjaan di lapangan a.l. :

a) Pembuatan jalan masuk

b) Pembuatan gubuk kerja/ gubuk material 3) Penataan areal kerja

a) Pembersihan lapangan b) Pengukuran kembali c) Pemasangan patok

d) Pembuatan profil lapangan

e) Pembuatan bangunan pengendali jurang pada tanah milik masyarakat tidak ada ganti rugi

b. Pembuatan

1) Stabilisasi ujung jurang dilakukan melalui :

a) pembuatan teras-teras dan bangunan terjunan air b) Pelandaian lereng

c) Pembuatan saluran diversi mengelilingi bagian atas 2) Stabilisasi tebing jurang dilakukan melalui :

b) Perkuatan lereng tebing

3) Stabilisasi dasar jurang terhadap bangunan pengendali lolos air dan bangunan pengendali tidak lolos air

c. Pemeliharaan

Pemeliharaan bangunan pengendali jurang meliputi : 1) Pemeliharaan bangunan terjunan dan teras 2) Pemeliharaan saluran diversi

d. Sistem Pelaksanaan Kegiatan

Pembuatan pengendali jurang dilaksanakan dengan sistem Swakelola, melalui SPKS dengan kelompok tani, dalam rangka pemberdayaan SDM dan meningkatkan partisipasi masyarakat lokal secara langsung serta menumbuhkan rasa memiliki dan bersedia memelihara nantinya apabila konstruksi telah selesai.

e. Organisasi pelaksana

Sebagai pelaksana pembuatan pengendali jurang adalah kelompok masyarakat, yang didampingi penyuluh kehutanan lapangan (PKL)/ Petugas Lapangan Gerhan (PLG) dengan satuan kerja Dinas Kabupaten/ Kota yang membidangi kehutanan.

f. Tahapan dan Jadwal Kegiatan

Tahapan dalam pelaksanaan sesuai dengan jadwal pelaksanaan yang tertuang dalam rancangan.

g. Hasil Kegiatan

Hasil kegiatan berupa bangunan Pengendali Jurang (Gully Plug) yang telah dibangun sesuai rancangan, dan untuk pemeliharaannya diserahkan kepada aparat desa.

D. EMBUNG AI R

1. Pembuatan Rancangan Embung Air

a. Persiapan

1) Pemilihan calon lokasi

Lokasi calon embung sebagaimana tercantum dalam RTT Gerhan. Untuk pemilihan lokasi tapak (site) dilakukan dengan cara inventarisasi terhadap beberapa calon lokasi embung air dengan kriteria sebagai berikut:

a) Daerah kritis dan kekurangan air (defisit)

b) Topografi bergelombang dengan kemiringan < 30% c) Air tanah sangat dalam

e) Pembangunan embung air diprioritaskan di dekat lokasi pemukiman dan lahan pertanian/ perkebunan dengan daya tampung air 500 M3 2) Orientasi lapangan, konsultasi, pengadaan bahan dan administrasi

secara teknis prosedural sama dengan pembuatan bangunan konservasi tanah lainnya.

b. Penyusunan rancangan teknis

Sesuai norma yang berlaku rancangan teknis prosedural pembuatan embung air sama dengan pembuatan dam pengendali/ dam penahan.

c. Hasil Kegiatan

Sebagai hasil kegiatan dari penyusunan rancangan berupa buku rancangan yang dilengkapi dengan lampiran data, gambar dan peta serta telah disahkan oleh instansi terkait yang berwenang.

Gambar skematis tentang bangunan embung air dapat dilihat pada Gambar di bawah ini.

Gambar 20. Embung Air

2. Pembuatan Embung Air a. Persiapan

1) Penyiapan acuan dan kelembagaan

a) Mempelajari rancangan embung yang telah disahkan,

b) Pertemuan dengan masyarakat/ kelompok dalam rangka sosialisasi c) Pembentukan organisasi dan penyusunan program kerja.

2) Pembuatan sarana dan prasarana

Pengadaan peralatan/ sapras diutamakan untuk jenis peralatan dan bahan yang habis pakai. Sedang pembuatan sarana dan prasarana dibuat dengan tujuan untuk memperlancar pelaksanaan pekerjaan di lapangan yang antara lain :

a) Pembuatan jalan masuk

b) Pembuatan gubuk kerja/ gubuk material 3) Penataan areal kerja

a) Pembersihan lapangan b) Pengukuran kembali c) Pemasangan patok / profil

d) Pembuatan embung, apabila dilaksanakan di tanah milik masyarakat, maka tidak ada ganti rugi.

b. Pembuatan

1) Penggalian tanah (kemiringan galian 100% , kedalaman 2,5 - 3 m). 2) Pembuatan saluran pelimpah dan saluran pembagi air

3) Pemadatan/ pelapisan badan embung air dengan tanah liat, batu kapur, plastik atau dengan pasangan batu

4) Pemasangan gebalan rumput c. Pemeliharaan

1) Pemeliharaan gebalan rumput

2) Perbaikan/ pemadatan dinding embung air 3) Pengerukan lumpur

d. Organisasi Pelaksana

Sebagai pelaksana pembuatan embung adalah kelompok masyarakat setempat dibawah koordinasi Dinas Kabupaten/ Kota yang mengurusi kehutanan.

e. Jadwal Kegiatan

Tahapan dalam pelaksanaan sesuai dengan jadwal pelaksanaan yang tertuang dalam rancangan.

f. Hasil Kegiatan

Bangunan embung yang telah dibuat sesuai rancangan, dan untuk pemeliharaan diserahkan kepada aparat desa/ kelompok tani.

Dalam dokumen Index of /ProdukHukum/kehutanan (Halaman 146-152)