• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

3.4 Prosedur Kerja .1 Pengambilan bahan .1 Pengambilan bahan

3.4.8 Pembuatan sediaan tablet

Pembuatan sediaan tablet dengan menggunakan metode granulasi basah dilakukan dengan cara:

Zat berkhasiat, zat pengisi dan zat penghancur dicampur baik-baik, lalu dibasahi dengaan larutan bahan pengikat, bila perlu ditambah bahan pewarna. Setelah itu diayak menjadi granul, dan dikeringkan dalam lemari pengering pada suhu 40-50oC. Setelah kering diayak lagi untuk memperoleh granul dengan

ukuran yang diperlukan dan ditambahkan bahan pelicin dan dicetak menjadi tablet dengan mesin tablet (Anief, 2008).

Pembuatan bahan pengikat pasta amilum manihot 10 % b/b adalah dengan cara sebagai berikut: amilum manihot ditimbang sebanyak 1,875 g dimasukkan ke beaker glass ditambahkan aquades 16,875 g sehingga terbentuk suspensi. Suspensi dipanaskan dengan api langsung sambil diaduk-aduk sampai mendidih dan membentuk gel, didinginkan, ditimbang dan dicek beratnya, sehingga diperoleh massa pasta amilum manihot 18,75 g (Cartensen, 1977).

Prosedur pembuatan sediaan tablet ekstrak kering temulawak dengan menggunakan metode granulasi basah dilakukan dengan cara:

1. Alat-alat yang digunakan dibersihkan

2. Laktosa dimasukkan kedalam lumpang dan digerus

3. Ekstrak kering temulawak ditambahkan kedalam lumpang dan digerus homogen

4. Pasta amilum manihot dibuat hingga terbentuk massa yang transparan dan didinginkan

5. Pasta amilum yang telah dingin ditambahkan kedalam lumpang sedikit demi sedikit hingga terbentuk massa yang kompak

6. Massa yang kompak diayak dengan mesh 14 dan dikeringkan 7. Massa yang kering diayak kembali dengan mesh 16

8. Talkum dan Mg stearat ditambahkan kedalam granul yang kering dan dilakukan uji preformulasi

9. Tablet dapat dicetak dan dilakukan uji evaluasi

Prosedur pembuatan sediaan tablet ekstrak kering temulawak dengan menggunakan metode cetak langsung dilakukan dengan cara:

1. Alat-alat yang digunakan dibersihkan

2. Amilum manihot/ laktosa/ amilum manihot : laktosa dibuat terlebih dahulu menjadi granul dengan metode granulasi basah

a. Amilum manihot/ laktosa/ amilum manihot : laktosa ditimbang, dimasukkan kedalam lumpang dan digerus

b. Pasta amilum manihot dibuat hingga terbentuk massa yang transparan dan didinginkan

c. Pasta amilum yang telah dingin ditambahkan kedalam lumpang sedikit demi sedikit hingga terbentuk massa yang kompak

d. Massa yang kompak diayak dengan mesh 14 dan dikeringkan e. Massa yang kering diayak kembali dengan mesh 16

3. Ekstrak kering temulawak ditambahkan kedalam lumpang dan ditambahkan granul amilum manihot/ laktosa/ amilum manihot : laktosa/ avicel 102 dihomogenkan dengan sudip

4. Talkum dan Mg stearat ditambahkan kedalam lumpang, dihomogenkan dengan sudip dan dilakukan uji preformulasi

5. Tablet dapat dicetak dan dilakukan uji evaluasi 3.4.9 Uji preformulasi

3.4.9.1 Sudut diam granul

Penentuan sudut diam granul dilakukan dengan cara:

Granul sebanyak 100 g, ditimbang, kemudian dimasukkan ke dalam corong alir yang telah dirangkai , permukaan granul di dalam corong diratakan, lalu penutup corong dibuka, sehingga granul mengalir sampai habis. Tinggi tumpukan granul yang terbentuk diukur. Sudut diam dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

���= 2� � Keterangan: θ = sudut diam

H = tinggi tumpukan granul (cm) D = diameter tumpukan granul (cm)

Granul yang mempunyai daya alir bebas akan mempunyai sudut diam antara 20° sampai 40° (Banker dan Anderson, 1994).

3.4.9.2 Waktu alir granul

Penentuan waktu granul dilakukan dengan cara:

Granul sebanyak 100 g, ditimbang, kemudian dimasukkan ke dalam corong yang telah dirangkai kemudian permukaanya diratakan. Penutup bawah dibuka bersamaan dengan dihidupkan stopwatch. Stopwatch dihentikan tepat pada saat garnul habis melewati corong dan dicatat waktu alirnya. Syarat waktu alir granul lebih kecil dari 10 detik (Voigt, 1995).

3.4.9.3 Indeks tap granul

Penentuan indeks tap dilakukan dengan cara:

Granul dimasukkan ke dalam gelas ukur sampai garis tanda dan dinyatakan sebagai volume awalnya (V1), kemudian gelas ukur dihentakkan sebanyak 20 kali dengan alat yang dimodifikasi sehingga diperoleh volume akhir (V2). Indeks tap dapat dihitung dengan rumus :

���������= �1− �2

�2 � 100% Syarat indeks tap lebih kecil dari 20 % (Voigt, 1995). 3.4.10 Evaluasi tablet

3.4.10.1 Keseragaman bobot

Penetapan keseragaman bobot menggunakan neraca analitik Boeco. Tablet tidak bersalut harus memenuhi syarat keseragaman bobot yang ditetapkan

sebagai berikut: Timbang 20 tablet, hitung bobot rata-rata tiap tablet. Jika ditimbang satu persatu, tidak boleh lebih dari 2 tablet yang masing-masing bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih besar dari harga yang ditetapkan kolom A, dan tidak satu tablet pun yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih dari harga yang ditetapkan kolom B. Jika tidak mencukupi 20 tablet, dapat digunakan 10 tablet; tidak satu tablet pun yang bobotnya menyimpang lebih besar dari bobot rata-rata yang ditetapkan kolom A dan tidak satu tablet pun yang bobotnya menyimpang lebih besar dari bobot rata-rata yang ditetapkan kolom B (Depkes RI, 1979).

Tabel 3.3 Syarat penyimpangan bobot

Bobot rata – rata Penyimpanan bobot rata – rata dalam %

A B 25 mg atau kurang 15% 30% 26 mg sampai dengan 150 mg 10% 20% 151 mg sampai dengan 300 mg 7,5% 15% Lebih dari 300 mg 5% 10% 3.4.10.2 Uji friabilitas

Penetapan friabilitas tablet menggunakan alat Roche friabilator. Tablet yang akan diuji sebanyak 20 tablet. Ditimbang 20 tablet yang telah dibersihkan dari debu (A) dimasukkan ke dalam alat dan diputar selama 4 menit. Tablet dikeluarkan dan dibersihkan dari debu kemudian ditimbang (B), kehilangan bobot tidak lebih dari 0,8 % (Banker dan Anderson, 1994). Friabilitas dapat dihitung dengan rumus:

Friabilitas = A − B

B x 100% 3.4.10.3 Uji kekerasan

Penetapan kekerasan tablet menggunakan alat Strong cobb hardness tester. Tablet yang akan diuji sebanyak 5 tablet. Diletakkan sebuah tablet antara

anvil dan punch tegak lurus, tablet dijepit dengan cara memutar skrup pemutar sampai lampu stop menyala. Skrup ditekan dan dicatat angka yang ditunjukkan jarum penunjuk skala pada saat tablet pecah. Percobaan ini dilakukan untuk 5 tablet. Syarat kekerasan tablet 4 kg–8 kg (Parrott, 1971).

3.4.10.4 Uji waktu hancur

Penetapan waktu hancur tablet menggunakan alat Disintegration tester. Alat ini terdiri dari suatu rangkaian keranjang, gelas piala berukuran 1000 mL thermostat dengan suhu 35-39°C dan alat untuk menaik turunkan keranjang dengan frekuensi antara 29-32 kali per menit. Tablet yang diuji sebanyak 6 tablet, dimasukkan 1 tablet ke dalam masing-masing tabung keranjang, masukkan satu cakram pada tiap tabung dan jalankan alat, turun naikkan keranjang secara teratur antara 29-32 kali tiap menit. Tablet dinyatakan hancur jika tidak ada bahagian tablet yang tertinggal di atas kasa. Waktu yang diperlukan untuk menghancurkan keenam tablet tidak lebih dari 15 menit. Apabila 1 tablet atau 2 tablet tidak hancur sempurna, ulangi pengujian menggunakan 12 tablet lainnya, tidak kurang 16 dari 18 tablet yang diuji harus hancur sempurna (Depkes RI, 1995).

BAB IV

Dokumen terkait