TANGGUNG JAWAB PARA PIHAK APABILA TERJADI WANPRESTASI DALAM TRANSAKSI ELEKTRONIK (E commerce)
D. Pembuktian dan Mekanisme Penyelesaian Sengketa
Dalam praktek hukum di masyarakat, untuk menentukan sejak kapan seorang debitur wanpestasi kadang-kadang tidak selalu mudah, karena kapan debitur harus memenuhi prestasi tidak selalu ditentukan dalam perjanjian. Dalam perjanjian jual-beli sesuatu misalnya ditetapkan kapan penjual harus menyerahkan barang yang dijualnya kepada pembeli,dan kapan pembeli harus membayar harga yang dibelinya itu kepada penjual, lain halnya dalam menetapkan kapan debitur wanprestasi pada perjanjian yang prestasinya untuk tidak berbuat sesuatu.
Perjanjian yang prestasinya untuk memberi sesuatu atau untuk berbuat sesuatu, yang tidak menetapkan kapan debitur harus memenuhi prestasi itu, sehingga untuk pemenuhan prestasi tersebut debitur harus lebih dahulu diberi teguran (sommatie/ingebrekestelling) agar ia memenuhi kewajibannya. Kalau prestasi dalam perjanjian tersebut dapat seketika dipenuhi, misalnya penyerahan barang yang dijual dan barang yang akan diserahkan sudah ada, prestasi itu dapat dituntut supaya dipenuhi seketika, tetapi kalau prestasinya dalam perjanjian itu tidak dapat dipenuhi seketika, misalnya barang yang harus diserahkan masih belum berada di tangan debitur, kepada debitur (penjual) diberi waktu yang pantas untuk memenuhi prestasi tersebut .
Pada kenyataannya, dalam suatu peristiwa hukum termasuk transaksi jual beli secara elektronik tidak terlepas dari kemungkinan timbulnya pelanggaran yang dilakukan oleh salah satu atau kedua pihak, dan pelanggaran hukum tersebut mungkin saja dapat dikategorikan sebagai Perbuatan Melawan Hukum (Onrechtmatigedaad) sebagaimana ditentukan dalam Pasal 1365 KUHPerdata yang menyatakan bahwa :
“Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada seorang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut.”
Kerugian yang disebabkan perbuatan melawan hukum dapat berupa kerugian materiil dan atau kerugian immateriil. Kerugian materiil dapat terdiri kerugian nyata yang diderita dan keuntungan yang diharapkan. Berdasarkan yurisprudensi, ketentuan ganti kerugian karena wanprestasi sebagaimana ditentukan dalam Pasal 1243 sampai Pasal 1248 KUHPerdata diterapkan secara analogis terhadap ganti kerugian yang disebabkan perbuatan melawan hukum.
Kerugian immateriil adalah kerugian berupa pengurangan kenyamanan hidup seseorang, misalnya karena penghinaan, cacat badan dan sebagainya, namun seseorang yang melakukan perbuatan melawan hukum tidak selalu harus memberikan ganti kerugian atas kerugian immateril tersebut.
Pasal 15 Undang-Undang Informasi dan Transaksi elektronik (UUITE) menjelaskan bahwa sistem penyelenggaraan informasi dan transaksi elektronik harus dilakukan secara aman, andal dan dapat beroperasi sebagaimana mestinya. penyelenggaraan sistem elektronik bertanggung jawab atas sistem yang diselenggarakannya. Pasal 16 UUITE menjelaskan bahwa sepanjang tidak ditentukan lain oleh undang-undang tersendiri, setiap penyelenggaraan system elektronik wajib mengoperasikan sistem elektronik secara minimum, yang harus dapat dilakukan oleh penyelenggara sistem elektronik adalah:
1. Dapat menampilkan kembali informasi elektronik yang berkaitan dengan penyelenggaraan sistem elektronik yang telah berlangsung;
2. Dapat melindungi otentifikasi, integritas, rahasia, ketersediaan, dan akses dari informasi elektronik dalam penyelenggaraan sistem elektronik tersebut;
3. Dapat beroperasi sesuai dengan prosedur atau petunjuk dalam penyelenggaraan sistem elektronik tersebut;
dapat dipahami oleh pihak yang bersangkutan dengan penyelenggaraan sistem elektronik tersebut; dan
5. Memiliki fitur untuk menjaga kebaruan, kejelasan, dan pertanggungjawaban prosedur atau petunjuk tersebut secara berkelanjutan;
Dalam Pasal 9 UUITE dijelaskan bahwa pelaku usaha yang menawarkan produk melalui sistem elekronik harus menyediakan informasi yang dilengkap dan benar berkaitan dengan syarat kontrak, produsen, dan produk yang ditawarkan.
Dalam Pasal 10 ayat (1) UUITE dijelaskan bahwa setiap pelaku usaha yang menyelenggarakan Transaksi Elektronik dapat disertifikasi oleh lembaga Sertifikasi keandalan.
Dalam Pasal 10 ayat (2) UUITE menyebutkan “ketentuan mengenai pembentukan Lembaga Sertifikasi keandalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan pemerintah.
Terkait dengan tanggung jawab seseorang mengenai tanda tangan elektronik maka dalam Pasal 12 ayat (1) UU ITE disebutkan bahwa
“setiap orang yang terlibat dalam tanda tangan elektronik berkewajiban memberikan pengamanan atas tanda tangan elektronik yang digunakannya”.
Untuk dapat menuntut ganti kerugian terhadap orang yang melakukan perbuatan melawan hukum, selain harus adanya kesalahan, Pasal 1365 KUHPerdata juga mensyaratkan adanya hubungan sebab akibat/hubungan kausal antara perbuatan melawan hukum, kesalahan dan kerugian yang ada, dengan demikian kerugian yang dapat dituntut penggantiannya hanyalah kerugian yang memang disebabkan oleh perbuatan melawan hukum tersebut. Perbuatan melawan hukum sebagaimana diatur dalam Pasal 1365 KUHPerdata ini dapat pula digunakan sebagai dasar untuk mengajukan ganti kerugian atas perbuatan yang dianggap melawan hukum dalam
proses transaksi jual beli secara elektronik, baik dilakukan melaui penyelesaian sengketa secara litigasi atau melalui pengadilan dengan mengajukan gugatan, maupun penyelesaian sengketa secara non litigasi atau di luar pengadilan misalnya dengan cara negosiasi, mediasi, konsiliasi atau arbitrase.
Bentuk-Bentuk Wanprestasi Dalam Perjanjian Jual Beli.
Secara Online
Dalam menjalankan ataupun melakukan bisnis dalam dunia maya (e-commerce) sebenarnya banyak sekali hal yang dapat digolongkan terhadap suatu bentuk dari wanprestasi. Namun terkadang hal tersebut sering kita abaikan dan kita anggap sebagai suatu bentuk kesalahpahaman biasa dan masih bersifat permitif. Adapun bentuk-bentuk wanprestasi dalam perjanjian jual beli secara online adalah:
1. Ditinjau dari sisi pembeli (buyers), antara lain: a. keterlambatan membayar
Dalam hal ini kerlambatan pembayaran biasanya pihak yang sering melakukan hal keterlambatan tersebut adalah pembeli (buyers). Beberapa merchant atau tahapan dalam urusan pembayaran dalam bisnis (jual-beli) online salah satu contohnya adalah ketika buyers ingin membeli barang tertentu melalui internet maka biasanya mereka harus menyetujui berapa uang yang harus mereka bayar. Setelah harga dirasa cocok atau pas, maka si pembeli harus melakukan semacam proses registrasi atau pra-dealing, kemudian pihak penjual akan mengkonfirmasi pembeli yang didalamnya juga ada perintah untuk membayar DP (Down Pointment) melalui bank yang telah ditentukan, maka si pembeli harus melakukan pelaporan atas pembayarannya kepada si penjual. Untuk selanjutnya penjual yang akan mengirim barang yang telah disepakati
oleh kedua belah pihak bersamaan dengan pelunasan akhir dari si pembeli. sebagian penjual biasanya menunggu pelunasan dari si pembeli, setelah itu baru si penjual mengirim barangnya kepada pembeli.
Mengenai keterlambatan dalam proses pembayaran yang dilakukan oleh pembeli, ini yang sering terjadi dalam jual beli online dan merupakan suatu bentuk wanprestasi. Hal tersebut ternasuk dalam tindakan wanprestasi jika dihubungkan dengan pendapat Prof. Subekti, SH. Yaitu “Melakukan apa yang dijadikan tapi terlambat
b. Tidak melakukan pembayaran.
Setiap pembeli biasanya berbeda-beda, artinya dalam melakukan transaksi secara online mereka mempunyai tujuan dan maksud sendiri-sendiri. Pada kenyataannya ada sebagian dari pembeli yang tidak melakukan kewajiban mereka secara baik. Contohnya: tidak melakukan pembayaran. Disatu sisi si penjual telah terlanjur berbuat prestasi. Misalnya seorang yang membeli baju pada online shop. Si A telah sepakat dengan penjualnya untuk bertransaksi secara elektronik atas baju tidur model/merk ABC. Setelah semua proses dijalani, dalam artian baju sudah terlanjur dikirim kepada pembeli namun pembeli tidak kunjung membayar sisa/kekurangan uang kepada penjual dalam batas waktu tertentu.
Jika terjadi kasus seperti diatas, maka sebaiknya penjual lebih berhati-hati dan melakukan pengiriman barang kepada pembeli jika uang pembayarannya sudah lunas dan hal itu dirasa aman. Namun sebelumnya juga harus ada pembicaraan tantang aturan-aturan yang diberlakukan oleh si penjual yang harus disetujui oleh si pembeli terutama tentang proses pembayaran atas suatu barang tertentu.
c. Melakukan pembayaran namun tidak sesuai dengan apa yang diperjanjikan / disepakati.
Hal ini jarang terjadi dalam jual beli online. Pembeli yang melakukan bentuk wanprestasi seperti ini adalah pembeli yang bukan merupakan klien/pelanggan tetap dari suatu marchant tertentu. Lebih rinci lagi dapat dijelaskan bahwa si pembeli tepat waktu dalam melakukan pembayaran atas suatu barang baik yang merupakan DP (Down Pointment) atau pelunasan pembayaran atau juga pembayaran secara total/kontan. Akan tetapi nilai/harganya tidak sesuai dengan apa yang telah disepakati. Misalnya, harga baju pesta merk ABC RP. 950.000,- namun si pembeli hanya membayar Rp. 920.000,-. Kasus tersebut dapat dikategorikan sebagai suatu bentuk wanprestasi.
2. Ditinjau dari sisi penjual (sellers), antara lain:
a. Mengirim barang, namun tidak sesuai dengan apa yang telah disepakati
Salah satu hal utama dan penting dalam menjalankan bisnis jual beli online adalah komunikasi. Karena apabila terjadi miss communication akan menimbulkan kerugian bai secara materiil ataupun non materiil (fungsional). Pada akhirnya itu juga itu semua akan menjadi bentuk wanprestasi. Misalnya, pembeli membeli kemeja dengan merk ABC dan warna merah muda ditambah dengan enam kancing baju, namun pada saat barang tersebut dikirim oleh penjual dan telah diterima oleh si pembeli warna dari kemeja tersebut adalah merah bata dan kancing bajunya hanya ada lima buah. Maka secara non materiil si pembeli kecewa dan mungkin sudah tidak sesuai dengan acara dan yang warna baju itu akan dipakai, secara fungsional juga demikian, kancing baju yang semula enam namun ternyata hanya lima buah. Dapat juga menjadi suatu yang dapat mengurangi nilai fungsi dan kegunaan dari barang tersebut. Agar tidak terjadi kesalahpahaman maka sebaiknya barang yang akan dijadikan objek jual beli mempunyai profil dan gambar detail tentang barang tersebut sehingga si pembeli tidak kebingungan dan dapat lebih efektif dalam menentukan dan membeli barang. Si penjual juga harus lebih selektif dan berhati-
hati dalam melakukan pengiriman barang agar pembeli tidak kecewa dan bisnisnya berjalan lancar.
b. Mengirim barang namun terlambat
Bagi penjual dalam bisnis jual beli online harus berusaha tidak melakukan kesalahan terutama dalam melakukan proses pengiriman barang kepada si pembeli. harus sesuai dengan apa yang diperjanjikan tetapi juga tidak mengalami keterlambatan. Masalah keterlambatan dapat disebabkan oleh dua faktor yaitu:
1) Unsur kesengajaan dari si penjual.
Keterlambatan dari si penjual yang disebabkan karena kesengajaan penjual itu sendiri biasanya dikarenakan barang yang telah diperjual belikan tidak ada stok ataupun terjadi kesalahan dalam proses pembuatan atau pengadaannya sehingga sipenjual sengaja memperlambat pengirimannya.
2) Unsur Force Majure/Over Macht/Keadaan Memaksa
Keadaan memaksa ialah keadaan tidak dapat dipenuhinya prestasi oleh pihak penjual karena terjadi suatu peristiwa bukan karena kesalahannya. Peristiwa mana tidak dapat diketahui atau tidak dapat diduga akan terjadi pada waktu membuat perikatan. Dalam hukum anglo sacon
(inggris), keadaan memaksa ini dilukiskan dengan istilah Fristration yang berarti kehilangan, yaitu suatu keadaan atau peristiwa yang terjadi diluar tanggung jawab pihak-pihak yang membuat perikatan (perjanjian) itu tidak dapat dilaksanakan sama sekali.
Misalnya, si penjual telah mengirim barang yang telah disepakati kepada pembeli akan tetapi kurir/pengantar barang terlambat tiba ditempat si pembeli. Selain itu, sulitnya mencari alamat si pembeli juga menjadi salah satu kendala yang menyebabkan terjadinya keterlambatan dalam
pengiriman barang. Jadi si pembeli seharusnya memberikan alamat dengan lengkap dan jelas agar tidak terjadi keterlambatan dalam proses pengiriman barang.31
Pada transaksi jual beli secara elektronik terdapat beberapa kendala yang sering muncul antara lain :
1. Pilihan hukum (choise of law) dalam rangka penyelesaian sengketa yang timbul, walaupun pada perjanjian biasanya telah dicantumkan mengenai pilihan hukum ini, tapi pada kenyataannya masalah baru justru muncul dalam hal penentuan mengenai hukum mana yang akan digunakan dalam menyelesaikan sengketa yang terjadi. Meskipun komunikasi antara para pihak yang terkait dalam proses jual beli secara elektronik ini dapat dilakukan melalui media internet, namun tidak seefektif dan seefisien komunikasi yang dilakukan secara langsung bertatap muka. dalam transaksi jual beli secara elektronik.
2. Proses pembuktian adanya suatu perbuatan melawan hukum agak sulit untuk dilakukan, karena masing-masing pihak yang terkait dalam transaksi jual beli melalui internet ini tidak berhadapan secara langsung, baik masih dalam ruang lingkup satu negara bahkan tidak menutup kemungkinan masing-masing pihak berada pada negara yang berbeda, sementara untuk dapat dinyatakan sebagai perbuatan melawan hukum harus memenuhi unsur-unsur sebagaimana telah diatur dalam Pasal 1365 KUH Perdata. Pada kenyataannya penyelesaian sengketa dalam transaksi jual beli secara elektronik dapat dilakukan melalui media internet, tetapi tetap harus mengikuti ketentuan dalam penyelesaian sengketa yang berlaku, dan hal ini menjadi kendala pula sehingga pada akhirnya proses pembuktian adanya perbuatan melawan hukum tersebut sulit untuk dibuktikan.
31 Jendela Hukum Universitas Wiraraja Sumenep/2012, Mohamad Anwar, Tinjauan Yuridis tentang Tanggung
3. Minimnya pengetahuan dan keahlian pihak-pihak yang berwenang menyelesaikan sengketa yang terjadi dalam dunia maya, khususnya transaksi jual beli secara elektronik.
4. Belum adanya peraturan perundang-undangan yang secara khusus mengatur tentang kegiatan-kegiatan yang dilakukan di dunia maya, termasuk transaksi jual beli secara elektronik. Pada saat ini, di Indonesia telah dibuat Rancangan Undang-Undang Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), namun sampai saat ini belum diundangkan dan belum diberlakukan, sehingga terhadap permasalahan hukum yang timbul dari berbagai macam kegiatan dalam internet termasuk masalah perbuatan melawan hukum pada transaksi jual beli secara elektronik termaksud hanya dapat diterapkan ketentuan hukum yang ada seperti ketentuan Pasal 1365 KUH Perdata, dengan cara melakukan perbandingan atau penafsiran hukum serta konstruksi hukum.
5. Sulitnya pelaksaan putusan dari suatu proses penyelesaian sengketa atas perbuatan melawan hukum dalam transaksi jual beli secara elektronik ini, karena walaupun sengketa yang ada dapat diselesaikan baik secara litigasi maupun secara non litigasi, namun pelaksanaan putusannya terkadang membutuhkan daya paksa dari pihak berwenang, dalam hal ini lembaga peradilan yang mengadili kasus tersebut, sementara para pihak yang bersengketa mungkin berada dalam wilayah yang berbeda, dengan demikian secara teknis akan menimbulkan kesulitan, karena daya paksa yang dimaksud harus diberikan secara langsung tanpa melalui internet.
Dengan demikian dalam menghadapi kasus perbuatan melawan hukum pada transaksi jual beli secara elektronik ini, dapat diterapkan ketentuan yang ada dan berlaku sesuai dengan hukum yang dipilih untuk digunakan, mengingat transaksi jual beli melalui internet ini tidak ada batas ruang, sehingga dimungkinkan orang Indonesia bermasalah dengan warga negara
asing. Pilihan hukum yang dimaksud tersebut di atas juga ditentukan oleh isi perjanjian awal pada saat terjadi transaksi jual beli secara elektronik.
Ketentuan hukum yang dapat diterapkan atas perbuatan melawan hukum yang terjadi dalam transaksi jual beli secara elektronik adalah ketentuan hukum yang termuat dalam KUH Perdata, antara lain Pasal 1365 KUH Perdata. Penerapan ketentuan pasal 1365 termaksud dilakukan dengan cara melakukan penafsiran hukum ekstensif yaitu memperluas arti kata perbuatan melawan hukum itu sendiri, tidak hanya yang terjadi dalam dunia nyata, tetapi juga dimungkinkan perbuatan melawan hukum yang terjadi di dunia maya, dalam hal ini pada transaksi jual beli secara elektronik. Selain itu, dapat pula diterapkan Pasal 1365 KUH Perdata dengan melakukan konstruksi hukum analogi yakni dengan cara membandingkan antara perbuatan melawan hukum yang dilakukan di dunia nyata dengan dunia maya, sehingga pada akhirnya unsur-unsur perbuatan melawan hukum sebagaimana disyaratkan tetap dapat terpenuhi. Walaupun pada prakteknya muncul kesulitan-kesulitan dalam penerapannya, namun tetap diharapkan perbuatan melawan hukum yang terjadi harus tetap mendapat sanksi secara hukum sehingga tidak ada kekosongan hukum.
Namun demikian, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, dalam bahwa jual – beli melalui media elektronik atau E – commerce dilahirkan dengan maksud untuk meniadakan hambatan – hambatan dalam model transaksi bisnis yang konvensional berupa pertemuan langsung, sehingga dibatasi oleh waktu dan tempat, serta diperlukannya suatu kertas sebagai dokumen.
Penyelesaian sengketa sendiri pada dasarnya melibatkan pihak – pihak tertentu atau pihak ketiga yang ditunjuk untuk menengahi sengketa antara kedua belah pihak. Pada model
pada model penyelesaikan sengketa secara adversarial lebih menguatkan peran pihak ketiga sebagai penengah tetapi tidak terlibat langsung dalam sengketa. Dalam hal musyawarah mufakat hanya mengusahakan para pihak agar menyelesaikan persengketaan mereka tanpa harus diproses secara lama dan berbelit – belit. Pada penyelesaian sengketa adversarial seperti ; Negosiasi, Mediasi, dan konsiliasi pihak ketiga berperan lebih aktif untuk langsung menyelesaikan persengketaan para pihak.
Menurut ketentuan Undang – Undang Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), khusunya Pasal 34 dikatakan bahwa masyarakat dapat mengajukan gugatan secara perwakilan terhadap pihak yang menggunakan teknologi informasi yang berakibat merugikan masyarakat. Seseorang dapat melakukan gugatan secara perwakilan atas nama masyarakat lainnya yang dirugikan tanpa harus terlebih dahulu memperoleh surat kuasa sebagaimana lazimnya kuasa hukum. Gugatan secara perwakilan dimungkinkan apabila telah memenuhi hal- hal sebagai berikut :
1. Masyarakat yang dirugikan sangat besar jumlahnya, sehingga apabila gugatan tersebut diajukan secara perorangan menjadi tidak efektif;
2. Sekelompok masyarakat yang mewakili harus mempunyai kepentingan yang sama dan tuntutan yang sama dengan masyarakat yang diwakilinya, serta sama-sama merupakan korban atas suatu perbuatan melawan hukum dari orang atau lembaga yang sama.
3. Ada beberapa tindakan hukum yang dapat dilakukan oleh pihak yang berkepentingan atas terjadinya perbuatan melawan hukum yang telah dilakukan oleh pihak lain sehingga menimbulkan kerugian, yaitu menyelesaikan sengketa tersebut baik secara litigasi atau pengajuan surat gugatan melalui lembaga peradilan yang berwenang sesuai ketentuan hukum acara perdata yang berlaku di Indonesia atau berdasarkan hukum acara yang dipilih oleh para
pihak, maupun secara non litigasi atau di luar pengadilan, antara lain melalui cara adaptasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi serta arbitrase sesuai ketentuan yang berlaku. Penentuan cara dalam menyelesaikan sengketa seperti tersebut di atas, tergantung kesepakatan para pihak yang bersengketa, dan biasanya telah dicantumkan pada perjanjian sebagai klausula baku tertentu. Apabila dalam perjanjian jual beli semula beluam ada kesepakatan mengenai cara penyelesaian sengketanya, maka para pihak tetap harus sepakat memilih salah satu cara penyelesaian sengketa yang terjadi, apakah secara litigasi atau non litigasi.
4. Apabila penyelesaian sengketa yang dipilih adalah secara litigasi, maka harus diperhatikan ketentuan hukum acara perdata yang berlaku. Di Indonesia, sesuai ketentuan hukum acara perdatanya, maka suatu perbuatan melawan hukum harus dibuktikan melalui proses pemeriksaan di lembaga peradilan mulai dari tingkat pertama (Pengadilan Negeri) sampai tingkat akhir (Pengadilan Tinggi atau mungkin Mahkamah Agung) dengan syarat adanya putusan hakim yang telah memiliki kekuatan hukum yang tetap dan pasti (inkracht vangewijsde).
Gugatan yang diajukan didasari dengan ketentuan hukum perdata yaitu Pasal 1365 KUH Perdata. Selanjutnya pada proses pembuktian, harus dapat dibuktikan unsur-unsur yang menunjukkan adanya perbuatan melawan hukum ini melalui alat-alat bukti yang diakui dalam Pasal 164 HIR (Het Herziene Indonesisch Reglement), baik bukti secara tertulis (misalnya print out dokumen-dokumen yang berhubungan dengan transaksi jual beli secara elektronik tersebut), saksi-saksi termasuk saksi ahli (sepeti ahli teknologi informasi dan sebagainya) sebagaimana diatur dalam Pasal 153 HIR, persangkaan, pengakuan dan sumpah. Berdasarkan ketentuan Uncitral Model Law, print out dari suatu transaksi jual beli secara elektronik dapat digunakan sebagai bukti tertulis, oleh karena itu Indonesia dapat merujuk ketentuan termaksud,
sebab Indonesia telah menjadi warga dunia yang ditandai dengan masuknya Indonesia menjadi anggota World Trade Organization. Dengan demikian hakim akan mendapatkan keyakinan mengenai perbuatan melawan hukum yang telah terjadi.
Sementara Pasal 35 RUU Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) ini menegaskan bahwa gugatan perdata dilakukan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan penyelesaian sengketa tersebut diatas khususnya sengketa yang timbul dalam transaksi jual beli melalui media internet ini dapat diselesaiakan secara alternatif di luar pengadilan.
Ada beberapa tindakan hukum yang dapat dilakukan oleh pihak yang berkepentingan atas terjadinya perbuatan melawan hukum yang telah dilakukan oleh pihak lain sehingga menimbulkan kerugian, yaitu menyelesaikan sengketa tersebut baik secara litigasi atau pengajuan surat gugatan melalui lembaga peradilan yang berwenang sesuai ketentuan hukum acara perdata yang berlaku di Indonesia atau berdasarkan hukum acara yang dipilih oleh para pihak, maupun secara non litigasi atau di luar pengadilan, antara lain melalui cara adaptasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi serta arbitrase sesuai ketentuan yang berlaku. Penentuan cara dalam menyelesaikan sengketa seperti tersebut di atas, tergantung kesepakatan para pihak yang bersengketa, dan biasanya telah dicantumkan pada perjanjian sebagai klausula baku tertentu. Apabila dalam perjanjian jual beli semula beluam ada kesepakatan mengenai cara penyelesaian sengketanya, maka para pihak tetap harus sepakat memilih salah satu cara penyelesaian sengketa yang terjadi, apakah secara litigasi atau non litigasi.
Apabila penyelesaian sengketa yang dipilih adalah secara litigasi, maka harus diperhatikan ketentuan hukum acara perdata yang berlaku. Di Indonesia, sesuai ketentuan hukum acara perdatanya, maka suatu perbuatan melawan hukum harus dibuktikan melalui proses
pemeriksaan di lembaga peradilan mulai dari tingkat pertama (Pengadilan Negeri) sampai tingkat