PRINSIP – PRINSIP UMUM TRANSAKSI JUAL BELI DALAM MEDIA ELEKTRONIK
A. Perkembangan Transaksi Melalui Media Elektronik.
Pesatnya pertumbuhan teknologi informasi dan sistem transaksi elektronik telah menjadi industri yang telah diunggulkan. Selain memberi kemudahan dan efisiensi waktu, teknologi informasi juga memberikan keuntungan yang lainnya yaitu untuk memperluas pangsa pasar keseluruh dunia tanpa harus pergi atau mengirim orang ke negara – negara lain untuk memasarkannya. Teknologi informasi dapat memberikan suatu kemudahan dan bersifat praktis sebagai sarana penunjang bagi perindustrian. Pada kenyataannya hal ini membuat para pelaku bisnis begitu yakin untuk melakukan bisnis dengan menggunakan sarana teknologi informasi bahkan tidak hanya para pelaku bisnis saja yang memanfaatkan teknologi informasi ini tetapi Negara juga ikut menjadi bagian dari pelaku bisnis didalamnya.
Salah satu hasil perkembangan teknologi informasi adalah jual beli yang dilakukan melalui media elektronik dan dikenal dengan kontrak jual beli secara elektronik. Berdasarkan sumber hukum di Indonesia, suatu kontrak jual beli harus memiliki beberapa klausula – klausula yang tekstual yaitu bentuk kata atau kontrak tertulis, jelas, dan nyata, baik berupa akta otentik maupun akta dibawah tangan. Hal ini akan mempermudah pelaksanaan kontrak jual beli termasuk hak dan kewajiban dari para pelakunya.
Perkembangan perdagangan internasional tidak akan pernah terlepas dari perkembangan teknologi. Karenanya dalam upaya bangsa-bangsa mencapai kemakmuran, teknologi tidak terlepas dari upaya tersebut. Perkembangan aturan-aturan perdagangan juga tidak terlepas dari pengaruh perkembangan teknologi. Pengaruh tersebut dewasa ini semakin nyata dengan lahirnya e-commerce (electronic commerce). Perkembangan ini cukup signifikan antara lain tampak dari kuantitas transaksi melalui sarana ini. John Nielson, salah seorang pimpinan perusahaan Microsoft,
menyatakan bahwa dalam kurun waktu 30 tahun, 30 % dari transaksi penjualan kepada konsumen akan dilakukan melalui e-commerce11.
Batasan e-commerce adalah transaksi-transaksi dalam perdagangan internasional yang dilakukan melalui pertukaran data elektronik dan cara-cara komunikasi lainnya 12 Pertukaran data elektronik tersebut dilakukan melalui berbagai teknologi.
Transaksi melalui e-commerce ini memiliki beberapa ciri - ciri berikut:
(1) transaksi secara e-commerce memungkinkan para pihak memasuki pasar global secara cepat tanpa dirintangi oleh batas-batas negara;
(2) transaksi secara e-commerce memungkinkan para pihak berhubungan tanpa mengenal satu sama lainnya;
(3) transaksi melalui e-commerce sangat bergantung pada sarana (teknologi) yang keandalannya kurang dijamin. Karena itu transaksi secara e-commerce ini keamanannya belum atau tidak begitu dapat diandalkan13.
Berdasarkan ketentuan hukum jual beli yang berlaku ada beberapa hal yang bersifat esensial dalam proses jual beli, yaitu mengenai hak dan kewajiban para pelakunya dalam melakukan kontrak jual beli yang ditegaskan pada saat adanya kesepakatan jual beli sebagai pendukung keabsahan pembuktian dari suatu perjanjian jual beli tersebut
Dewasa ini pengusaha kecil dan menengah dapat memasarkan produknya secara internasional cukup dengan membuat situs atau website dan memasang iklan penjualan disitus internet tanpa batas waktu, dan tentu saja pelanggan dari seluruh dunia dapat mengakses situs tersebut dan melakukan transaksi secara online.
11 Abu Bakar Munir, Cyber Law: Policies an challenge, Malaysia, Singapore, Hong Kong Butterworths Asia, 1999,
hal 205
12 Definisi UNCITRAL, dalam Resolusi Majelis Umum-PBB, 51/162 (“transactions in international trade which
are carried out by means of electonic data interchange and other means of communications”).
13 Abu Bakar Munir, op.cit., hlm. 205; Sanson, op.cit., hlm. 144 (Sanson mengungkapkan pula 4 masalah dalam
E-Commerce termasuk salah satu istilah pada ” perdagangan elektronik’ yang berubah sejalan dengan waktu. Awalnya, perdagangan elektronik merupakan aktivitas perdagangan yang memanfaatkan transaksi komersial, misalnya mengirim dokumen komersial seperti pesanan pembelian secara elektronik. Kemudian berkembang menjadi suatu aktivitas yang mempunya istilah yang lebih tepat yaitu “perdagangan web” (pembelian barang dan jasa melalui World Wide Web).
Sejarah perkembangan internet
Pada awalnya ketika web mulai terkenal di masyarakat pada 1994, banyak jurnalis memperkirakan bahwa e-commerce akan menjadi sebuah sektor ekonomi baru. Sehingga Antara pada era 1998 dan 2000 banyak bisnis di AS dan Eropa mengembangkan situs web perdagangan ini14. Fakta sekarang ini transaksi elektronik sudah menjadi bagian dalam kehidupan sehari – hari, baik secara domestic maupun lintas Negara. Transaksi elektronik telah memiliki ketentuan hukum baik secara nasional ( pasal 1320 KUHPerdata dan Undang – Nomor. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun secara internasional dengan diberlakukannya United Nation Convention on the Use of Electronic Communication in International Contracts pada tahun 2005 ( selanjutnya disebut ECC )15
E-com, atau Electronic Commerce merupakan salah satu teknologi yang berkembang pesat dalam dunia bisnis dan per-internet-an. Penggunaann sistem E-commerce, sebenarnya dapat menguntungkan banyak pihak, baik pihak konsumen, maupun pihak produsen dan penjual (retailer). Misalnya bagi pihak konsumen, menggunakan E-Commerce dapat membuat waktu berbelanja menjadi singkat. Selain itu, harga barang-barang yang dijual melalui E-Commerce
14
www.google.com/ sejarah perkembangan internet.
15 Edmon Makarim, Notaris dan Transaksi Elektronik; ( Kajian Hukum Tentang Cybernotary atau Electronic
biasanya lebih murah dibandingkan dengan harga di toko, karena jalur distribusi dari produsen barang ke pihak penjual lebih singkat dibandingkan dengan toko konvensional.
Di Indonesia, sistem E-commerce ini kurang populer, karena banyak pengguna internet yang masih meragukan keamanan sistem ini, dan kurangnya pengetahuan mereka mengenai apa itu E-Commerce yang sebenarnya. Sehingga sampai saat ini, web resmi yang telah menyelenggarakan e-commerce di Indonesia adalah RisTI Shop. Risti, yaitu Divisi Riset dan Teknologi Informasi milik PT. Telkom, menyediakan layanan e-commerce untuk penyediaan informasi produk peralatan telekomunikasi dan non-telekomunikasi. Web ini juga telah mendukung proses transaksi secara online.
Selain RisTI, tampaknya belum ada web lain yang menyelenggarakan E-commerce di Indonesia. Padahal, untuk membuat sistem E-commerce, investasi yang dikeluarkan tidak terlalu besar. Selain itu, lingkup pemasaran produknya bisa jauh lebih luas dan biaya penyelenggaraan serta promosi pada E-commerce juga lebih kecil jika dibandingkan dengan biaya pada sitem toko konvensional.
Pengimplementasian e-commerce di Indonesia masih harus menempuh jalan yang panjang dan berliku. Berbagai hambatan yang ada dalam pengimplementasiannya dapat berupa teknis dan non-teknis yang kesemua itu membutuhkan kerjasama yang utuh antara pemerintah, pengembang dari e-commerce, pebisnis dan para konsumen pemanfaatnya. Seperti produk- produk teknologi informasi lainnya seperti juga e-government, e-commerce masih membutuhkan waktu yang lama untuk dapat dikenal dan diterima di Indonesia. Berbagai hambatan tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Dukungan pemerintah. Dukungan pemerintah yang masih belum jelas ditambah dengan belum adanya kebijakan - kebijakan yang mendukung perkembangan dari e-commerce ini dikeluarkan, belum jelasnya deregulasi dari system teknologi informasi khususnya internet yang merupakan salah satu tulang punggung dari perkembangan e-commerce, perbaikan sistem pabeanan dan deregulasi dalam ekspor impor barang.
Perkembangan infrastruktur yang lambat. Salah satu hambatan utama adalah masih kurangnya insfrastrukur yang ada dan belum merata kepelosok Indonesia. Dibutuhkan keseriusan pemerintah untuk secara bertahap membangun infrastrukur yang baik dan terprogram sehingga secara bertahap, rakyat Indonesia mulai dapat dikenalkan dengan internet sebagai salah satu hasil dari perkembangan teknologi informasi dengan biaya yang murah dan terjangkau.
Kurangnya sumber daya manusia. Kurangnya SDM Indonesia yang benar-benar menguasai sistem e-commerce ini secara menyeluruh, yang tidak saja menguasai secara teknis juga non-teknis seperti sistem perbankan, lalu lintas perdagangan hingga sistem hukum yang berlaku. Salah satu alasan yang cukup utama yaitu masih kurangnya ketersediaan informasi, mulai dari buku-buku referensi, jurnal, majalah/tabloid yang membahas tentang e-commerce juga sarana pendidikan, seminar, workshop hingga pusat- pusat pengembangan yang dibangun antara pemerintah, pusat-pusat pendidikan dan tenaga ahli di bidang e-commerce.
Dukungan dari institusi finansial seperti bank dan asuransi. Belum banyaknya bank yang telah membangun system ’electronic banking’ nya dengan baik, selain itu perbankan Indonesia juga masih sulit untuk melakukan transaksi dengan menggunakan mata
uang lain, apalagi dalam jumlah nilai yang kecil serta belum adanya pihak ketiga sebagai penjamin transaksi secara online yang benar-benar berada di Indonesia.
Perbaikan sistem perdagangan yang ada. Adanya keseriusan dari pemerintah untuk menderegulasi sistem perdagangan yang memberi kesempatan luas bagi berkembangnya UKM, sistem jaringan pengiriman yang baik dan aman, tidak adanya gangguan diperjalanan dan di institusi yang berhubungan dengannya seperti pelabuhan, pintu-pintu perbatasan dan international airport. Serta yang paling penting deregulasi di bidang ke pabeanan dan pajak yang mendukung sistem e-commerce ini berkembang. Kesemuanya itu bukanlah penghalang yang menjadi hambatan bagi perkembangan e-commerce di Indonesia, diharapkan sekali hambatan tersebut menjadi poin penting untuk mulai mengembangkan e-commerce di Indonesia. Sedangkan jika kita melihat peluang-peluang yang ada, kesemuanya itu tentunya diharapkan memberikan energi atau semangat khusus bagi semua pihak bahwa sebenarnya ecommerce dapat menjadi solusi baru bagi ketertinggalan kita disemua bidang selama ini, seperti:
1. Jumlah penduduk Indonesia yang besar merupakan pangsa pasar yang masih dapat banyak digarap.
2. Kondisi geografis yang sangat mendukung berkembangnya e-commerce, dengan begitu banyaknya pulau-pulau yang tersebar diseluruh nusantara, e-commerce merupakan salah satu jalan terbaik untuk meningkatkan bisnis antar pulau
3. Begitu banyaknya bahan alam yang dapat diolah menjadi produk-produk yang bagus dan istimewa
4. Begitu banyaknya adat-istiadat dan budaya yang ada, merupakan sumber inspirasi bagi perkembangan usaha kerajinan yang dapat menjadi sumber perdagangan dan komoditi pariwisata jika dikelola dengan baik.
Perkembangan Teknologi Informasi telah berhasil menciptakan infrastruktur informasi baru. Internet memiliki beberapa daya tarik dan keunggulan bagi para konsumen maupun organisasi, misalnya dalam hal kenyamanan, kecepatan data, akses 24 jam sehari, efisiensi, alternatif ruang dan pilihan yang tanpa batas, personalisasi, sumber informasi dan teknologi yang potensial dan lain lainnya. Dalam konteks bisnis, internet membawa dampak transformasional yang menciptakan paradigma baru dalam dunia bisnis berupa ‘DigitalMarketing’..
Pada awal penerapan electronic commerce yang bermula di awal tahun 1970-an dengan adanya inovasi semacam Electronic fund Transfer(EFT). Saat itu penerapan sistem ini masih sangat terbatas pada perusahaan berskala besar, lembaga keuangan pemerintah dan beberapa perusahaan menengah kebawah yang nekat, kemudian berkembang hingga muncullah yang dinamakan EDI ( Electronic Data Interchange). Bermula dari transaksi keuangan ke pemprosesan transaksi lainnya yang membuat perusahaan-perusahaan lain ikut serta, mulai dari lembaga- lembaga keuangan hingga ke manufacturing, ritel, jasa dan lainnya. Kemudian terus berkembang aplikasi-aplikasi lain yang memiliki jangkauan dari trading saham sampai ke sistem reservasi perjalanan. Pada waktu itu sistem tersebut dikenal sebagai aplikasi telekomunikasi.
Karakteristik Transaksi Elektronik ( E- Commerce)
Berbeda dengan transaksi perdagangan lainnya, transaksi elektronik atau yang dikenal e-commerce memiliki beberapa karakteristik khusus yaitu :
Pertama, Transaksi tanpa batas . Sebelum era internet, batas – batas geografis menjadi penghalang suatu perusahaan atau individu yang ingin go – international. Sehingga hanya segelintir perusahaan atau individu berbadan hukum dengan bermodal besar yang dapat memasarkan produknya ke luar negeri. Kegiatan bisnis perdagangan melaui internet dilakukan oleh banyak orang, karena selain dapat mengefektifkan waktu juga memaksimalkan pelayanan dan memperluas hubungan perdagangan bagi para pelaku usaha dengan pelaku usaha lainnya. Kedua, transaksi anonim : para penjual dan pembeli melalui transaksi elektronik tidak harus bertemu muka satu sama lain. Penjual tidak memerlukan nama dari pembeli sepanjang mengenai pembayaran telah diotorisasi oleh penyedia sistem pembayaran yang ditentukan, yang biasanya dilakukan dengan kartu kredit. Ketiga Produk
Digital dan Non Digital : Produk – produk digital seperti software komputer, musik dan produk lainnya yang bersifat digital dapat dipasarkan melaui internet dengan cara
mendownload secara elektronik. Keempat Produk barang yang tak berwujud. Banyak perusahaan yang bergerak di bidang E-commerce dengan menawarkan barang tak berwujud seperti data, software dan ide – ide yang dijual melalui internet.
Pada saat internet diperkenalkan pada masyarakat dunia, perubahan besar di era komunikasi mulai terjadi. Jika dahulu, untuk menjangkau seseorang ditempat yang jauh tidaklah mudah karena memerlukan biaya yang cukup besar dan waktu yang relative lama, maka dengan adanya fasilitas internet sebagai media bertransaksi, menjadikan semua bentuk kegiatan jual beli semakin mudah dan ringan, dampaknya mengefisienkan dari
segi waktu dan biaya. Banyak hal – hal yang dahulu mustahil dilakukan kini bisa dilakukan.
Kemungkinan baru dalam berinternet tersebut semakin jelas terpola seiring dengan adanya kebutuhan untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas dalam melakukan transaksi jual beli. Berdasarkan kebutuhan itu timbul sebuah pemikiran baru bahwa pasar yang berarti terjadi pertemuan penjual dan pembeli, tidaklah harus secara fisik lagi. Oleh karena itu kecenderungan pasar menjadi berubah, dimana pangsa pasar tidak lagi dibatasi oleh pembeli yang dapat dijumpai secara fisik dan dalam jumlah yang besar.
Dengan adanya internet terjadinya transaksi jual beli tanpa adanya pertemuan fisik tidak ada masalah lagi. Bahkan lebih dari itu, masyarakat juga mulai berpikir bahwa melakukan transaksi dengan pihak lain diseluruh penjuru dunia bisa menjadi kenyataan, karena batasan maupun letak geografis bukan menjadi halangan lagi. Dengan kata lain, peluang untuk melakukan penjualan pun semakin besar.
Manfaat yang dirasakan masyarakat dengan adanya internet dapat mengakses baik mengirim maupun menerima informasi, guna mempermudah aktifitas masyarakat seperti dalam melakukan transaksi, perdagangan, perbankan dan pendidikan, baik yang bersifat ekonomis maupun sosial. Teknologi informasi dan komunikasi ini sedang mengarah kepada konvergensi yang memudahkan kegiatan manusia sebagai pencipta, pengembang dan pengguna teknologi. Sebagai contoh dapat kita lihat dari pesatnya perkembangan media yang telah banyak dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan .
Pemikiran itulah yang mendasari lahirnya istilah yang kini dikenal dengan sebutan