• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN TEORETIS

C. Pemerintahan Desa

Dalam BAB I Pasal 1 UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa memberikan penjelasan mengenai Desa. Desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepetingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dengan lahirnya UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa telah memberikan otoritas kepada desa untuk memupuk, memperkuat dan mengembangkan prakarsa lokal, semangat otonom dan kemandirian dalam pengelolaannya. Bersinergi dengan Undang-undang tersebut kini desa mempunyai kewenangan yang lebih dalam menyelenggarakan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan terhadap masyarakat lokal serta memberdayakan masyarakat agar lebih sejahtera.

28 Berlakunya UU tentang desa membuat desa bukan lagi sekedar wilayah administrasi dibawah kabupaten melainkan menjadi entitas yang berhak untuk mengatur dan mengrurus urusan pemerintahan sendiri berdasarkan prakarsa atau semangat setempat. UU tentang Desa, pasal 24 dengan gambling menegaskan bahwa penyelenggaraan pemerintahan desa berdasarkan asas: a. kepastian hukum,:

b. tertib penyelenggaraan,: c. tertib kepentingan umum,: d. keterbukaan,: e.

proporsionalitas,: f. profesionalitas,: g. akuntabilitas,: h. efektivitas dan efisiensi,:

i. kearifan lokal,: j. keberagaman,: k. partisipatif.

Makna dalam kalimat Keterbukaan dalam asas yang dimaksud ialah asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan desa dengan tetap memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan.13

Lebih lanjut dalam pasal 127 ayat (2) huruf e Peraturan Pemerintah tentang Peratuan Pelaksanaan UU Desa juga menyatakan bahwa upaya pemberdayaan masyarakat Desa dilakukan dengan mengembangkan sistem Transparansi dan Akuntabilitas dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa dan pembangunan Desa.14

Jadi, terkait mengenai keterbukaan atau transparansi mutlak dibutuhkan dalam penyelenggaraan pemerintahan agar hak masyarakat dalam memperoleh informasi

13 Komisioner Komisi Informasi Provinsi Jawa Timur, Pedoman Standar Layanan Informasi Publik Untuk Pemerintahan Desa (Surabaya: Komisi Informasi Provinsi Jawa Timur, 2015) h.1

14 Komisioner Komisi Informasi Provinsi Jawa Timur, Pedoman Standar Layanan Informasi Publik Untuk Pemerintahan Desa, h.2

29 yang benar, jujur dan adil serta tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan pemerintahan desa. Hal tersebut juga diperlukan sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban pemerintah atas semua keputusan dan kebijakan yang telah diambil dan dilaksanakan. Transparansi juga dapat mendorong masyarakat untuk turut andil dalam pembangunan dengan memberi masukan, dukungan sekaligus kontrol terhadap jalannya pemerintahan desa.

1. Kewenangan Desa

Menempatkan kewenangan desa dan kepala desa dalam ketatanegaraan Indonesia perlu dipahami sebagai penyelenggaraan urusan yang dilaksanakan dalam rangka pemerintahan dalam arti luas, yaitu untuk melayani masyarakat.

Mengenai kewenangan desa Rosjidi Ranggawidjaja menautkannya dari pengakuan dan penghormatan pasal 18B ayat (2) UUD 1945 yakni Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat serta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam Undang-undang.15

Asas rekognisi dan subsidiaritas dalam Undang-undang No. 6 Tahun 2014 menegaskan kedudukan desa dalam sistem ketatanegaraan dan pemerintahan NKRI, sejalan dengan konsep Desentralisasi. Desentralisasi semdiri merupakan konsep untuk memahami dan menjabarkan asas otonomi yang terdapat dalam pasal 18 UUD 1945, terutama untuk mendudukan daerah otonom provinsi dan

15 Joko Purnomo, Penyelenggaraan Pemerintahan Desa (Yogyakarta: Infest, 2016) h.3

30 kabupaten/kota. Sedangkan rekognisi merupakan konsep pengakuan dan penghormatan negara trhadap kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat atau dapat dikatakan sebagai Desa.

Asas rekognisi ini dalam penerapannya disertakan dengan asas subsidiaritas.

Asas subsidiaritas bermakna yakni: a. urusan lokal atau kepentingan masyarakat setempat yang berskala lokas lebih layak ditangani oleh desa yang lebih dekat dengan masyarakat, b. negara bukan menyerahkan kewenangan melainkan menetapkan kewenangan desa secara langsung melalui undang-undang tanpa melalui mekanisme penyerahan kewenangan dari kabupaten atau kota, c.

pemerintah tidak melakukan intervensi (campur tangan) dari atas terhadap kewenangan lokal skala desa, melainkan memberikan dukungan dan fasilitas terhadap desa.16

Dalam UU No. 6 Tahun 2014 kewenangan desa tercermin dalam pasal 2 dan pasal 5 yang berbunyi:

Pasal 2

“Penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan masyarakat Desa berdasarkan Pancasila, Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika”.

Pasal 5

16 Joko Purnomo, Penyelenggaraan Pemerintahan Desa, h.4

31

“Desa berkedudukan di wilayah Kabupaten atau Kota.”

Lebih lanjut mengenai Kewenangan Desa di jelaskan dalam BAB IV Kewenangan Desa, Undang-undang No. 6 Tahun 2014 yakni:

Pasal 18

Kewenangan Desa meliputi kewenangan di bidang [enyelenggaraan Pemerintahan Desa, Pelaksanaan Pembangunan Desa pembinaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan masyarakat Desa berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul dan adat istiadat Desa.

Pasal 19

Kewenangan Desa Meliputi:

a. Kewenangan berdasarkan hak asal usul;

b. Kewenangan lokal berskala Desa;

c. Kewenangan yang ditugaskan oleh Pemerintah Daerah Provinsi, atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota;

d. Kewenangan lain yang ditugaskan oleh Pemerintah Daerah Provinsi, atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 20

Pelaksanaan kewenangan berdasarkan hak asal usul dan kewenangan lokal berskala Desa sebagaimana dimaksud dalam pasal 19 huruf a dan huruf b diatur dan diurus oleh Desa.

32 Pasal 21

Pelaksanaan kewenangan yang ditugaskan dan pelaksanaan kewenangan tugas dari Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud dalam pasal 19 huruf c dan huruf d diurus oleh Desa.

Pasal 21

(1) Penugasan dari Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah kepada Desa meliputi penyelenggaraan Pemerinthan Desa, pelaksanaan Pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan masyarakat Desa.

(2) Penugasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disertai biaya.

2. Struktur dan Tata Kerja Pemerintahan Desa

Struktur pemerintahan desa meliputi kepala desa, perangkat desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Sesuai dengan pasal 48, UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa dan Pasal 61, PP No. 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa menyatakan bahwa perangkat desa terdiri atas Sekretaris Desa, Pelaksana Kewilayahan dan Pelaksana Teknis.

a) Kepala Desa

1. Kepala Desa bertugas menyelenggarakan pemerintahan desa, melaksanakan pembangunan desa, pembinaan kemasyarakatan desa, dan pemberdayaan masyarakat.

2. Kepala desa dalam melakukan tugasnya mempunyai wewenang:

a. Memimpin penyelenggaraan pemerintahan desa.

b. Mengangkat dan memberhentikan perangkat desa.

33 c. Memegang kekuasaan pengelolaan keuangan desa.

d. Menetapkan peraturan desa.

e. Menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa.

f. Membina kehidupan masyarakat.

g. Membina ketentraman dan ketertiban masyarakat desa.

h. Membina dan meningkatkan perekonomian desa serta mengintegrasikan agar mencapai perekonomian skala produktif untuk sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat desa.

i. Mengembangkan sumber pebdapatan desa.

j. Mengusulkan dan menerima pelimpahan sebagian kewenangan.

k. Mengembangkan kehidupan sosial budaya masyarakat desa.

l. Memanfaatkan teknologi tepat guna.

m. Mengordinasikan pembangunan desa secara partisipatif.

n. Mewakili desa didalam dan diluar pengadilan atau menunjuk kuasa hukum untuk mewakilinya sasuai dengan ketentuan perundang-undangan.

o. Melaksanakan wewenang lain yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

3. Dalam melaksanakan tugas tersebut kepala desa berhak:

a. Mengusulkan struktur organisasi dan tata kerja pemerintah desa.

b. Mengajukan rancangan dan menetapkan peraturan desa.

c. Menerima penghasilan tetap setiap bulan, tunjangan dan penerimaan lainnya yang sah, serta mendapatkan jaminan kesehatan.

d. Mendapatkan perlindungan hukum atas kebijakan yang dilaksanakan.

34 e. Memberikan mandat pelaksanaan tugas dan kewajiban kepada perangkat

desa.

4. Dalam menjalankan tugas tersebut, kepala desa berkewajiban:

a. Memegang teguh dan mengamalkan Pancasila, melaksanakan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika.

b. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

c. Memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat desa.

d. Menaati dan menegakkan peraturan perundang undangan.

e. Melaksnakan kehidupan demokrasi dan berkadilan gender.

f. Melaksnakan prinsip tata pemerintahan desa yang akuntabel, transparan, professional, efektif dan efisien, bersih, serta bebas dari kolusi, korupsi dan nepotisme.

g. Menjalin kerja sama dan koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan desa.

h. Menyelenggarakan administrative pemerintahan desa yang baik.

i. Mengelola keuangan dan aset desa.

j. Melaksnakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan desa.

k. Menyelesaikan perselisihan masyarakat desa.

l. Mengembangkan perekonomian masyarakat di desa.

m. Membina dan melestarikan nilai sosial budaya masyarakat desa.

n. Memberdayakan masyarakat dan Lembaga kemasyarakatan di desa.

35 o. Mengembangkan potensi sumber daya alam dan melestarikan lingkungan

hidup.

p. Memberikan informasi kepada masyarakat.

5. Dalam melaksanakan tugas, hak, dan kewajibannya, kepala desa wajib:

a. Menyampaikan laporan penyelenggaraan pemerintahan desa setiap akhir tahun anggaran kepada bupati atau walikota.

b. Menyampaikan laporan penyelenggaraan pemerintahan desa pada akhir masa jabatannya kepada bupati atau walikota.

c. Memberikan laporan keterangan penyelenggaraan pemerintahan secara tertulis kepada badan permusyawaratan desa setiap akhir tahun anggaran.

d. Memberikan dan atau menyebarkan informasi penyelanggaraan pemerintahan secara tertulis kepada masyarakat desa setiap akhir tahun anggaran.

Adapun larangan bagi kepala desa, yaitu:

a. Merugikan kepentingan umum.

b. Membuat keputusan yang menguntungkan diri sendiri, anggota keluarga, pihak lain dan atau golongan tertentu.

c. Menyalahgunakan wewenang, tugas, hak dan atau kewajibannya.

d. Melakukan tindakan diskriminatif terhadap warga dan atau golongan tertentu.

e. Melakukan tindakan meresahkan sekelompok masyarakat desa.

f. Melakukan kolusi, korupsi dan nepotisme, menerima uang, barang, dan atau jasa dari pihak lain yang dapat memengaruhi keputusan atau tindakan yang dilakukannya.

36 g. Menjadi pengurus partai potilik.

h. Menjadi anggota dan atau pengurus oraganisasi terlarang.

i. Merangkap jabatan sebagai ketua dan atau anggota badan permusyawaratan desa, anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Dewan Perwakilan Daerah Provinsi atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota, dan jabatan lain yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan.

j. Ikut serta dan atau terlibat dalam kampanye pemilihan umum dan atau pemilihan kepala daerah.

k. Melanggar sumpah janji atau jabatan.

l. Meninggalkan tugas selama 30 (tiga puluh) hari kerja berturut-turut tanpa adanya alasan yang jelas dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Kepala desa yang tidak melaksanakan kewajibannya dan melanggar larangan, dapat dikenai sanksi administrative berupa teguran lisan dan atau teguran tertulis.

Dan jika sanksi administrative tidak dilaksanakan oleh kepala desa maka dapat dilakukan tindakan pemberhentian sementara dan dapat dilanjutkan dengan pemberhentian

Berikut adalah struktur organisasi pemerintahan desa yang sesuai dengan UU No. 6 Tahun 2014. Dimana Sekretaris Desa memimpin sekretariat yang membawahi maksimal 3 bagian urusan. Setiap urusan dipimpin oleh Kepala urusan (Kaur), yang bertanggungjawab kepada sekretaris, dan (dapat) memiliki 1 orang atau lebih staf sesuai kebutuhan dan kemampuan keuangan desa. Salah seorang staf

37 kaur ditetapkan sebagai bendahara desa yang umumnya ditempatkan di Kaur keuangan.

Struktur organisasi Pemerintah Desa sesuai UU No. 6 Tahun 2014

Lalu dalam menjalankan tugasnya sebagai kepala desa, kepala desa dibantu oleh perangkat Desa sebagaimana yang dijelaskan dalam UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa, Bagian Kelima tentang Perangkat Desa. Perangkat Desa sendiri terdiri atas:

a. Sekertariat Desa

b. Pelaksana kewilayahan, dan c. Pelaksana teknis

KADES

SEKDES

KAUR KAUR

KAUR

KASI KASI

KASI

KADUS KADUS

KADUS

Sekretariat Desa

Pelaksana Teknis

Pelaksana Wilayah

38 b) Sekretariat Desa

Sekertaris desa memimpin kesekretariatan desa yang dibantu oleh unsur staf sekretariat yang bertugas membantu kepala desa dalam bidang asministrasi pemerintahan. Sekertaris desa mempunyai kedudukan sebagai unsur pelayanan yang tugasnya membantu kepala desa dalam menjalankan tugas, wewenang dan kewajiban pimpinan pemerintah desa.

Adapun fungsi sekertaris desa dalam Permendagri No. 84 Tahun 2015 Tentang Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) Pemerintah Desa, yakni:

a. Melaksanakan urusan ketatausahaan seperti tat naskah, administrasi surat menyurat, arsip, dan ekspedisi.

b. Melaksanakan urusan umum seperti penataan administrasi perangkat desa, penyediaan prasarana perangkat desa dan kantor, penyiapan rapat, pengadministrasian aset, inventarisasi, perjalanan dinas, dan pelayanan umum.

c. Melaksanakan urusan keuangan seperti pengurusan administrasi keuangan, administrasi sumber-sumber pendapatan dan pengeluaran, verifikasi administrasi keuangan, dan administrasi penghasilan Kepala Desa, perangkat Desa, Badan Permusyawaratan Desa dan Lembaga pemerintahan Desa lainnya.

d. Melaksnakan urusan perencanaan seperti menyusun rencana anggaran pendapatan dan belanja desa, menginventarisir data-data dalam rangka

39 pembangunan. Melakukan monitoring dan evaluasi program, serta penyusunan laporan.17

Sekertaris Desa membawahi paling banyak 3 bidang urusan yang masing-masing urusan di kepalai oleh kepala urusan (Kaur) tergantung pada kebutuhan pemerintah setempat, beberapa urusan yang dimaksud ialah: urusan pemerintahan, pembangunan, perekonomian, kesejahteraan rakyat, keuangan dan umum. Masing-masing urusan tersebut bertugas membantu sekretaris desan sesuai dengan tugasnya masing-masing.

Sekertaris desa: bertanggung jawab atas pengelolaam buku administrasi desa.

Mengelola Buku Data Peraturan Desa, Buku Data Peraturan Kepala Desa, Buku Data Kepustakaan Kepala Desa, Buku Monografi Desa dan Buku Profil Desa.

Kaur Umum: bertanggungjawab atas pengelolaan Buku Data Inventaris Desa, Buku Tanah Milik Desa, Buku Data Aparat Pemerintahan Desa, Buku Agenda Surat Masuk, Buku Agenda Surat Keluar, Buku Ekspedisi, dan Buku Tamu.

Kaur Keuangan: Bertanggungjawab atas pengelolaan Buku Kas Umum, Buku Kas Pembantu Perincian Obyek Penerimaan, Buku Kas Pembantu Perincian Obyek Pengeluaran, Buku Kas Harian Pembantu, Buku Catatan Pajak (PPN dan PPH)

Kaur Pemerintahan: Bertanggungjawab atas pengelolaan Buku Data Tanah di Desa, Buku Harian Peristiwa Kependudukan dan Peristiwa Penting penduduk WNI, Buku Mutasi Penduduk WNI, Buku Induk Penduduk WNI, Buku Catatan PBB.

17 Permendagri No. 84 Tahun 2015 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Desa.

40 c) Pelaksana Kewiliyahan

Unsur kewilayahan yakni unsur pembantu kepala desa di wilayah bagian desa sebagai satuan tugas kewilayahan yang sering disebut kepala dusun atau dengan nama lain. Adapun tugas kepala dusun adalah membantu melaksanakan tugas-tugas operasional kepala desa dalam wilayah kerjanya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Jumlah pelaksana kewilayahan ini ditentukan proporsional antara pelaksana kewilayahan dengan kemampuan keuangan desa.

d) Pelaksana Teknis

Unsur pelaksana teknis adalah unsur pembantu kepala desa yang tugasnya melaksanakan tugas operasional lapangan seperti: pamong tani desa, urusan pengairan, urusan keamanan, urusan keagamaan, kebersihan, pengembangan ekonomi desa, kesejahteraan sosial, kesehatan dan pungutan desa. Unsur pelaksana tugas ini memimpin dan melaksanakan kegiatan teknis lapangan dalam bidang tugasnya.

e) Badan Permusyawaratan Desa

Badan Permusyawaratan Desa telah diatur dalam UU No. 6 Tahum 2014 Tentang Desa, Bagin Ketujuh. Adapun fungsi dari BPD ialah:

- Membahas dan menyepakati Rancangan Peraturan Desa bersama Kepala Desa.

- Menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat Desa.

- Melakukan pengawasan kinerja Kepala Desa.

41 Badan permusyawaratan desa atau yang disebut dengan nama lain merupakan Lembaga yang melakukan fungsi pemerintahan yang anggotanya merupakan wakil dari penduduk desa berdasarkan keterwakilan wilayah dan ditetapkan secara demokratis. Badan permusyawaratan ini juga menjadi wahana untuk melaksanakan demokrasi berasaskan Pancasila dan menjadi mitra dari pemerintah desa yang turut membahas dan menyepakati berbagai kebijakan dalam penyelenggaraan pemerintahan sesuai dengan UU yang telah dijelaskan sebelumnya.

BPD juga berfungsi mengayomi adat istiadat, membahas dan menyepakati Rancangan Peraturan Desa bersama Kepala Desa, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat, serta melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan setempat. Adapun jumlah anggota BPD ditetapkan dalam jumlah gasal yakni 5 paling sedikit dan 9 orang paling banyak, dengan memperhatikan wilayah, perempuan, penduduk, dan kemampuan keuangan desa. Masa keanggotaan BPD selama 6 tahun terhitung sejak tanggal pengucapan sumpah atau janji.

3. Hubungan Pemerintahan Desa dengan Pemerintahan Daerah.

Pengaturan tentang pemerintahan daerah yang mencakup pengaturan tentang desa didalamnya telah mengalami empat kali perubahan. Bermula pada UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, dan yang terakhir dimana pengaturan tentang Desa diatur secara tersendiri melalui UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa.

42 Untuk mewujudkan otonomi daerah yang luas, nyata dan bertanggung jawab sebagaimana yang tertuang dalam UU No. 22 Tahun 1999 diantaranya melalui Tap MPR RI No. XV/MPR/1998 Tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah yang berisikan penyelenggaraan otonomi daerah dilaksanakan dengan memberikan kewenangan yang luas, nyata dan bertanggungjawab kepada daerah secara proporsional yang diwujudkan dengan pengaturan, pembagian dan pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilan, serta pertimbangan keuangan pusat dan daerah. Disamping itu, penyelenggaraan otonomi daerah juga dilaksanakan dengan prinsip-prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan dan keadilan, serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman masing-masing daerah.18

Berpedoman pada UU No. 22 Tahun 1999 Ni’matul Huda juga memberikan beberapa prinsip yakni sebagai berikut:19

a) Penyelenggaraan otonomi daerah dilaksanakan dengan memperhatikan aspek demokrasi, keadilan, pemerataan serta potensi dan keanekaragaman Daerah.

b) Pelaksanaan otonomi daerah didasarkan pada otonomi luas, nyata dan bertanggungjawab.

c) Pelaksanaan otonomi daerah yang luas dan utuh diletakkan pada daerah kabupaten dan daerah kota, sedangkan otonomi daerah provinsi merupakan otonomi daerah yang terbatas.

18 M. Solly Lubiis, Hukum Tatanegara (Jakarta: Mandar Maju, 1992) hal.18-19

19 Ni’matul Huda, Hukum Pemerintahan Desa: Dalam Konstitusi Indonesia Sejak Kemerdekaan Hingga Era Reformasi (Malang: Setara Press, 2015) hal.172

43 d) Pelaksanaan otonomi daerah harus sesuai dengan konstitusi negara sehingga tetap terjamin hubungan yang serasi antara pusat dan daerah, serta antar daerah.

e) Pelaksanaan otonomi daerah harus lebih meningkangtakan kemandirian daerah otonom, dan karenanya dalam Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak ada lagi wilayah administrasi. Demikian pula dikawasan-kawasan khusus yang dibina oleh pemerintah atau pihak lain, seperti badan otorita, Kawasan pelabuhan, Kawasan perumahan, Kawasan industry, Kawasan perkebunan, Kawasan pertambangan, Kawasan kehutanan, Kawasan perkotaan baru, Kawasan pariwisata, dan semacamnya berlaku ketentuan peraturan daerah otonomi.

f) Pelaksanaan otonomi daerah harus lebih meningkatkan peranan dan fungsi legislative daerah, baik sebagai funsi legislasi, fungsi pengawasan, maupun fungsi anggaran atas penyelenggaraa pemerintahan daerah.

g) Pelaksanaan asas dekonsentrasi diletakkan pada Daerah Provinsi dalam kedudukan sebagai wilayah adminstrasi untuk melaksanakan kewenangan pemerintah tertentu yang dilimpahkan kepada Gubernur sebagai Wakil Pemerintah.

h) Pelaksanaan asas tugas pembantuan dimungkinkan, tidak hanya dari Pemerintah kepada Daerah, tetapi juga dari Pemerintah dan Daerah kepada Desa yang disertakan dengan pembiayaan, sarana dan prasarana serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaan dan memepertanggungjawabkan kepada yang menugaskannya.

Dengan demikian, prinsip-prinsip otonomi yang diatas dengan sendi otonomi meliputi pembagian kekuasaan (sharing of power), pembagian pendapatan (sharing

44 of income), dan kemandirian administrasi Pemerintahan Daerah (empowering), merupakan bagian dari Pemerintah dan Daerah. Dan terkhusus untuk Desa hubungan didasarkan atas asas tugas pembantuan baik dari Pemerintah, Daerah kepada Desa. Hubungan diantaranya meliputi hubungan sistem pemerintahan dan oraganisasi pemerintahan, hubungan kewenangan dan hubungan keuangan.

a. Hubungan Sistem dan Organisasi Pemerintahan.

Oraganisasi pemerintahan Daerah dan Desa dalam UU No. 22 Tahun 1999 mengenai bentuk dari pemerintahan daerah dibagi menjadi dua bagian yakni:

Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten dan Kota.

Pasal 4 disebutkan, dalam rangka pelaksanaan asas desentralisasi dibentuk dan disusun Daerah Provinsi, Daerah Kabupaten dan Daerah Kota yang berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri dan aspirasi masyarakat.20 Sedangakan susunan Pemerintahan Daerah terdiri dari Pemerintahan Eksekutif dan Pemerintahan Legislatif, sebagaimana dalam pasal 14 Ayat (1 dan 2) disebutkan, di daerah dibentuk DPRD sebagai Badan Eksekutif Daerah. Kemudian, Pemerintahan Daerah terdiri atas kepala daerah beserta perangkat lainnya, dan masing-masing memiliki tugas dan wewenang yang berbeda-beda pula. Selain Badan Eksekutif dan Badan Legislatif Daerah, Pemerintah Daerah dalam susunannya terdapat pula Perangkat Daerah yang terdiri dari Sekretaris Daerah, Dinas Daerah, dan Lembaga teknis Daerah lainnya sesuai dengan kebutuhan Daerah. Mengenai pertanggungjawaban tugas dari

20 Pasal 4 ayat (1 dan 2) UU No. 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah

45 masing perangkat daerah bertanggungjawab kepada Kepala Daerah. Adapun Pemerintahan Desa dalam sturuktur dan organisasi Pemerintahannya tidak jauh berbeda dengan susunan pemerintahan Daerahnya.

Secara sederhana sistem pemerintahan antara Daerah dan Desa dalam UU No.

22 Tahun 1999 dibedakan sebagai berikut:

- Kepala daerah dipilih oleh DPRD, sedangkan Kepala Desa dipilih langsung oleh rakyat Desa.

- Kepala Daerah bertanggungjawab kepada DPRD, sedangkan Kepala Desa bertanggungjawab kepada rakyat Desa melalui DPD.

- Fungsi, tugas dan wewenang DPRD lebih kuat disbanding tugas dan wewenang Badan Perwakilan Desa.

b. Hubungan Kewenangan

Selain pola hubungan struktur pemerintahan antara Daerah dan Desa, terdapat hubungan kewenangan yang diatur dalam UU No. 22 Tahun 1999, UU No. 32 Tahun 2004, UU No. 23 Tahun 2014, dan yang terakhir UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa.

Dalam UU No. 22 Tahun 1999, kewenangan desa mencakup: a) kewenangan yang sudah ada berdasarkan hak asal-usul Desa. b) kewenangan yang oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku belum dilaksanakan oleh daerah dan pemerintah. c) tugas pembantuan dari Pemerintah, Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten. Sedangkan tugas pembantuan dari Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten kepada Desa disertai dengan pembiayaan, sarana

46 dan prasarana, serta sumberdaya manusia.21 Sedangkan kewenangan Daerah dalam UU No. 22 Tahun 1999 meliputi: a) kewenangan Daerah mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan, kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, agama, serta kewenangan bidang lain. b) kewenangan bidang lain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi kebijakan tentang perencanaan nasional dan pengendalian pembangunan nasional secara makro, dana perimbangan keuangan, sistem administrasi negara dan Lembaga perekonomian negara, pembinaan dan pemberdayaan sumber daya manusia, pendayagunaan sumber daya alam serta teknologi tinggi yang strategis, konservasi, dan standarisasi nasional.22

46 dan prasarana, serta sumberdaya manusia.21 Sedangkan kewenangan Daerah dalam UU No. 22 Tahun 1999 meliputi: a) kewenangan Daerah mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan, kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, agama, serta kewenangan bidang lain. b) kewenangan bidang lain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi kebijakan tentang perencanaan nasional dan pengendalian pembangunan nasional secara makro, dana perimbangan keuangan, sistem administrasi negara dan Lembaga perekonomian negara, pembinaan dan pemberdayaan sumber daya manusia, pendayagunaan sumber daya alam serta teknologi tinggi yang strategis, konservasi, dan standarisasi nasional.22