• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN TEORETIS

4. Perspektif Siyasah Syar’iyyah Terhadap Pemerintahan Yang Bersih Dari KKN

Sebagaimana yang disebutkan dalam QS. al-Baqarah/2: 188 menjelaskan:

ۡمَأ ۡنِ م اٗقيِرَف ْاوُلُكۡأَِلِ ِم اكَُّۡلۡٱ َلَِإ ٓاَهِب ْاوُلۡدُتَو ِلِطََٰبۡلٱِب مُكَنۡيَب مُكَلََٰوۡمَ harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. Q.S Al-Baqarah(2):18832

Asbabun nuzulnya berkenaan dengan Amru Al-Qais bin ‘Abis dan ‘Abdan bin Asyara’al-Hadlrawi yang bertengkar dalam soal tanah. Amru Al-Qais berusaha mendapatkan tanah itu agar menjadi miliknya denga bersumpah di depan hakim.

Ayat ini turun sebagai peringatan kepada orang-orang yang merampas hak orang lain dengan jalan batil. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Said bin Jubair.33

Ayat diatas menerangkan larangan untuk mendapatkan kepemilikan benda dengan cara yang batil. Batil yang dimaksud ialah segala sesuatu yang tidak hak,

32 Kementrian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta: WALI, 2016) h.29.

33 H.A.A. Dahlan, Asbabun Nuzul (Bandung: Diponegoro, 2000) h. 54-55.

53 tidak dibenarkan oleh hukum, serta tidak sejalan dengan tuntutan ilahi walaupun dilakukakan atas dasar kerelaan yang berinteraksi.34 Ayat ini juga menyebutkan mengenai perbuatan menyogok yang di gambarkan seperti menurunkan timba kedalam sumur untuk memperoleh air, timba yang turun tidak dilihat oleh orang lain terlebih jika orang lain tersebut jauh dari permukaan sumur. Penyogok yang menyalurkan keinginannya terhadap yang berwenang untuk memutuskan sesuatu tetapi dengan cara tersembunyi dengan tujuan untuk mengambil sesuatu secara tidak sah.

Adapun tata cara mendapatkan suatu benda yaitu dengan cara berusaha dan adakalanya didapat dengan tanpa usaha pula. Usaha yang dimaksud ialah dengan cara jual-beli, bekerja sehingga mendapatkan upah, mengalirkan air dari sungai, dan menghidupkan tanah yang mati juga termasuk usaha yang mengantarkan seseorang mendapatkan kepemilikan.

Hadits Nabi Saw. berbunyi:

Artinya:

Telah menceritakan Muhammad bin Basar, mengabarkan kepada saya Abdul Wahhab Al-Tsaqafy, memberi kabar kepadaku Ayyub dan Hisam bin Urwah, dari bapaknya, dari Said bin Zaid dari Nabi Saw., bersabda: Barang siapa yang menghidupkan Tanah yang mati, maka tanah tersebut adalah miliknya.35

34 M.Quraish Shibab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an (Jakarta: Lentera Hati, 2002) Vol.1, h.498.

35 Al-Razi, Mafatih al–Ghayib V (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1990) h.100.

54 Pemilikan juga bisa melalui rampasan harta milik orang kafir harbi yang berupa ghanimah, fai. Semua harta orang kafir harbi halal bagi orang muslim dan dibagi pada orang-orang yang berhak dengan adil. Adapun pemilikan yang tanpa melalui usaha seperti hibah atau wasiat. Kata batil dalam ayat di atas adalah dengan jalan yang tidak sesuai dengan diisyaratkan Allah. Sebagai contoh dengan menyuap seorang hakim dalam persidangan, sehingga adanya sumpah palsu dan memutuskan perkara tidak sesuai dengan yang sesungguhnya atau bebuat zolim Q.S Ali

‘Imran/3: 161 menjelaskan:

اام ٖسۡفَن ُّ ُكُ َٰافََّوُت امُث ِِۚةَمََٰيِقۡلٱ َمۡوَي الَغ اَمِب ِتۡأَي ۡلُلۡغَي نَمَو َّۚ الُغَي نَأ ٍّ ِبَِلن َنَكَ اَمَو َب َسَك َنوُمَل ۡظُي لَ ۡمُهَو ۡت َ

Terjemahnya:

Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya. Q.S Ali ‘Imran(3): 16136

Ayat ini berbicara mengenai perbuatan khianat, yang mana sifat inilah yang menjadi sebab utama ketidakhadiran pertolongan Allah. Sedang, menjauhi sifat ini merupakan syarat utama akan pertolongan-Nya.37 Petaka dalam perang uhud ialah khianat yang termaktub dalam ayat ini, pasukan pemanah yang meninggalkan posisinya demi untuk mengambil harta rampasan perang akibat kekhawatiran

36 Kementrian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta: WALI, 2016) h.71.

37 M.Quraish Shibab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an (Jakarta: Lentera Hati, 2002), Vol.2, h.319.

55 mereka akan harta yang akan dimiliki oleh kawanannya yang berada di posisi lain yang bebas untuk berkeliaran di medan perang.

Kata (

َّۚالُغَي

) yaghulla yang diterjemahkan dari segi bahasa menggunakan kata

tersebut dalam pengertian khianat secara umum, baik dalam amanah yang diserahkan masyarakat maupun pribadi demi pribadi.38 Ayat ini menegaskan bahwa tidak mungkin seorang nabi berkhianat (ghulul) karena pada dasarnya sifat nabi adalah amanah mutlak adanya, termasuk tidak mungkin berkhianat dalam hal harta rampasan perang (ghanimah) hal tersebut tidak mungkin bagi semua nabi, apalagi Nabi Muhammad saw., yang merupakan penghulu para nabi. Allah SWT telah menjaga para nabi dari pelanggaran, walau sekecil apapun itu. Jika ada nabi yang tergelincir dari Syari’ah, maka Allah SWT selalu langsung menegur dan meluruskannya dengan diturunkannya wahyu. Oleh karena itu tidak pantas bagi siapapun yang menyangka seorang nabi berbuat korupsi atau khianat. Rasul SAW memiliki kedudukan yang tinggi dan meraih derajat mulia dan berakhlaq terpuji.

Sebuah hadits menyebutkan bahaya ghulul yakni:

38 M.Quraish Shibab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an (Jakarta: Lentera Hati, 2002), Vol.2, h.320.

56 Artinya:

“Barangsiapa di antara kalian yang kami tugaskan untuk suatu pekerjaan (urusan), lalu dia menyembunyikan dari kami sebatang jarum atau lebih dari itu, maka itu adalah ghulul (belenggu, harta korupsi) yang akan dia bawa pada hari kiamat”. (‘Adiy) berkata: Maka ada seorang lelaki hitam dari Anshar berdiri menghadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seolah-olah aku melihatnya, lalu dia berkata, ”Wahai Rasulullah, copotlah jabatanku yang engkau tugaskan.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ”Ada apa gerangan?” Dia menjawab, ”Aku mendengar engkau berkata demikian dan demikian (maksudnya perkataan di atas).” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, ”Aku katakan sekarang, (bahwa) barangsiapa di antara kalian yang kami tugaskan untuk suatu pekerjaan (urusan), maka hendaklah dia membawa (seluruh hasilnya), sedikit maupun banyak. Kemudian, apa yang diberikan kepadanya, maka dia (boleh) mengambilnya. Sedangkan apa yang dilarang, maka tidak boleh.”(HR. Muslim).39

Hadits tersebut menjelaskan mengenai salah satu penyebab terhalangnya seseorang masuk surga karena penghianatan (ghulul), hadits ini sangat tegas, siapa saja yang terbelit akan masalah tersebut akan terhalangi untuk masuk surga. Pelaku ghulul atau korupsi harus mengembalikan semua kekayaan hasil korupsi, bila tidak menjadi hutang yang harus dibayar. Seorang yang tidak tertangkap atau tidak diketahui oleh pihak lain bahwa ia korupsi maka tetap hal tersebut menjadi hutang padanya dan harus dikembalikan. Jika tidak, maka dia sendiri yang mengganjal pintunya untuk masuk ke surga.

اَ

39 Abi al-Husein Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi al-Nisaburi, Shahih Muslim, Juz 2 (Beirut: Dar al-Fikr, 1988), h.191.

57

“Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Manshur dan Qutaibah bin Sa'id serta Abu kamil al-Jahdari sedang lafazh milik Said, mereka berkata, telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah dari Simak bin Harb dari Mush'ab bin Sa'd dia berkata, "Abdullah bin Umar menemui Ibnu Amir untuk menjenguknya yang saat itu sedang sakit. Ibnu Amir lalu berkata, 'Tidakkah engkau mendoakanku wahai Ibnu Umar'. Ibnu Umar menjawab, 'Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak diterima shalat tanpa bersuci, dan tidak diterima sedekah dari pengkhiatan (harta ghanimah) ', dan kamu ketika itu berada di Bashrah." (HR. Muslim) 40

Hadits-hadits diatas telah menunjukkan kerasnya larangan ghulul (korupsi), hadits tersebut juga menunjukkan bahwa korupsi terjadi dalam konteks harta atau kekayaan publik pada masa terdahulu yang dicontohkan dengan harta rampasan perang. Dalam konteks kekinian ghulul (korupsi) dapat diambil contoh seperti:

pejabat atau pegawai yang menggunakan fasilitas negara atau publik demi kepentingan pribadi atau kelompoknya, pejabat pengadaan barang yang menggelembungkan biaya pembelian dari yang seharusnya, petugas pajak yang bermain dengan wajib pajak guna mendapatkan pajak lebih kecil dari yang seharusnya sembari memberi suap dari wajib pajak tersebut, serta banyak hal dari penyelewengan jabatan oleh pejabat itu sendiri guna mendapatkan keuntungan untuk pribadinya, kelompok, kroni, atau partainya.

40 Abi al-Husein Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi al-Nisaburi, Shahih Muslim, Juz 2.

h.124

58 BAB III