• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN TEORETIS

B. Tinjauan Umum Mengenai Kolusi, Korupsi dan Nepotisme

Dalam UU No. 28 Tahun 1999 secara gamblang telah menjelaskan mengenai aspek-aspek pemerintahan yang bersih, juga dalam undang-undang tersebut menjelaskan mengenai sebab dan akibat penyalahgunaan wewenang yang mengakibatkan pidana penjara bagi apparat pemerintah yang tidak menjalankan kewajibannya dalam penyelenggaran negara.

Selanjutnya penulis akan menguraikan tinjauan-tinjauan terhadap hukum mengenai kolusi, korupsi dan nepotisme.

1. Pengertian Korupsi, Kolusi dan Nepotisme dalam Persperktif Undang-undang.

a. Undang-undang No. 28 Tahun 1999 Bab I, Ketentuan Umum, Pasal 1.

• Korupsi adalah tindak pidana sebagaimana yang dimaksud dalam ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang tindak pidana Korupsi.

• Kolusi adalah permufakatan atau kerjasama secara melawab hukum antar penyelenggara negara atau antar penyelenggara negara dengan pihak lain yang merugikan orang lain, masyarakat dan atau negara.

5 Dahlan Thaib, Ketatanegaraan Indonesia: Perspektif Konstitusional (Yogyakarta: Total Media, 2009) h.35.

22

• Nepotisme adalah setiap perbuatan penyelenggara negara secara melawan hukum yang menguntungkan keluarganya dan atau kroninya diatas kepentingan masyarakat, bangsa dan negara.

b. Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi.

BAB I, Ketentuan Umum, Pasal 1. Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan:

• Korporasi adalah kumpulan orang dan atau kekayaan yang terorganisasi baik merupakan badan hukum maupun bukan badan hukum.

• Pegawai Negeri adalah meliputi:

- Pegawai negeri sebagaimana yang dimaksud dalam undang-undang kepegawaian.

- Pegawai negeri sebagaimana yang dimaksud dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana.

- Orang yang menerima gaji atau upah dari keuangan negara atau daerah.

- Orang yang menerima gaji atau upah dari suatu korporasi yang meminta bantuan keuangan negara atau daerah, atau

- Orang yang menerima gaji atau upah dari korporasi lain yang mempergunakan modal atau fasilitas dari negara atau masyarakat.

• Setiap orang adalah orang perseorangan atau termasuk korporasi.

Adapun penjelesan lebih lanjut mengenai Korupsi, Kolusi dan Nepotisme akan di terangkan sebagai berikut:

23 1. Korupsi

Korupsi berasal dari Bahasa latin Corruptio atau Corruptus, lalu asal kata Corruptio ini berasal dari kata Corrumpere sebuah Bahasa latin yang lebih tua.

Berdasar dari Bahasa latin tersebutlah kata korupsi banyak dianut oleh banyak negara, inggris menyebutnya dengan nama Corruption, sedangkan Prancis dan Belanda menyebutnya dengan nama Corruptie. Indonesia sendiri yang hukumnya banyak menganut sistem hukum Belanda menyebutnya dengan istilah “Korupsi”.6

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia defenisi korupsi berarti sebuah penyelewengan atau penggelapan uang negara atau perusahaan, dan sebagainya untuk kepentingan pribadi maupun orang lain. Korupsi sendiri berasal dari kata korup yang berarti buruk, rusak, busuk, suka memakai barang (uang) yang dipercayakan kepadanya, dapat disogok (melalui kekuasaannya) untuk kepentingan pribadi.7

UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001, pasal perpasal telah diterangkan secara terperinci terkait dengan masalah Korupsi dan mengenai perbuatan yang mengakibatkan pidana penjara korupsi.

Beberapa penulis ahli juga mendefinisikan mengenai korupsi yang erat kaitannya dengan masalah jabatan dalam pemerintahan, yaitu:

6 Setiyawati dkk, Buku Seri Pendidikan Anti Korupsi Jilid 1 (Surakarta: PT. Tirta Asih Jaya, 2017) h.7.

7 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta:

Balai Pustaka, 1994) h.527.

24 a. Barley, kata korupsi dikaitkan dengan kegiatan penyuapan yang berhubungan dengan penyalahgunaan wewenang atau kekuasaan sebagai akibat adanya pertimbangan dari mereka yang memegang jabatan bagi keuntungan pribadi.

b. M. Mc. Cullan, seorang pejabat pemerintah dikatakan ‘korup’ apabila ia menerima uang yang dirasakan sebagai dorongan untuk melakukan sesuatu yang dia bias lakukan dalam tugas jabatannya, padahal dia selama menjalankan tugasnya seharusnya tidak berbuat demikian

c. J.S Nye, menyebutkan korupsi sebagai perilaku yang menyimpang dari kewajiban-kewajiban normal suatu peranan jabatan pemerintah, karena kepentingan pribadi (keluarga, golongan, teman akrab), demi mengejar gengsi atau pencari pengaruh bagi kepentingan pribadi.8

Jadi, dapat disimpulkan bahwa korupsi merupakan sebuah kegiatan penyelewengan uang negara oleh apparat pemerintahan dalam menjalankan kewajibannya demi kepentingan pribadinya.

2. Kolusi

Sebagaimana yang telah diketahui mengenai korupsi, lalu muncul istilah Kolusi dan Nepotisme. Kedua istilah ini saling erat kaitannya dan saling

8 Setiyawati dkk, Buku Seri Pendidikan Anti Korupsi Jilid 1 (Surakarta: PT. Tirta Asih Jaya, 2017) h.8.

25 mengandung makna inti yang sama, sebab esensi Kolusi dan Nepotisme merujuk juga pada Korupsi, baik dalam arti ekonomi maupun politik.9

David W. Pierce sebagaimana dalam bukunya “Dictionary of Modern Economics” dan telah di terjemahkan oleh Dawam Rahardjo, memberikan penjelasan terkait masalah Kolusi yaitu Kolusi merupakan Perjanjian antar perusahaan untuk bekerja sama, guna menghindari persaingan yang saling merusak.

Cara untuk mencapai kerja sama itu sejak perjanjian yang sifatnya informal hingga yang rahasia atau sifatnya sembunyi-sembunyi, mulai dari penggabungan informasi umpanya, hingga pengaturan resmi dalam suatu organisasi kartel, dimana sanksi dikenakan bagi yang melanggar.10 Lebih lanjut Dawam Rahardjo memberikan penjelasan mengenai beberapa factor Kolusi yang dapat dikenali yaitu: pertama, peranan pemerintah yang sangat kuat dalam pembangunan ekonomi maupun dalam mendorong perkembangan bisnis. Kedua, tumbuhnya korporasi dan konglomerasi yang perkembangannya dan besarnya sangat mengesankan. Ketiga, sedikitnya orang yang memperoleh kesempatan dan mampu mengembangkan usaha besar.

Keempat, nampaknya kerjasama antara pengusaha-pengusaha tertentu dengan penguasa, dan Kelima, berkembangnya politik sebagai sumber daya baru atau factor produksi baru yang menentukan keberhasilan perusahaan.

Kolusi berasal dari Bahasa latin Colluisio yang berarti kesepakatan rahasia, persenkongkolan untuk melakukan suatu perbuatan jahat atau tidak baik. Istilah ini

9 Ismansyah & Purwwanto Agung Sulistyo, “Permasalahan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme di Daerah serta Strategi Penanggulangannya” (Demokrasi Vol. IX No. 1, 2010) h.48.

10 Eman Suparman, Korupsi Yudisial (Judicial Corruption) dan KKN di Indonesia (Padjadjaran Jurnal Hukum, Volume 1 – No 2, 2014) h.213.

26 kemudian berkembang dan menjadi sebuah term yang di jabarkan sebagai suatu bentuk kerja sama dalam hal yang tidak patut adanya, persekongkolan atau sebuah hambatan usaha pemerataan antara pejabat dan pengusaha.11

Berdasarkan dari beberapa pendapat diatas maka dapat diberi kesimpulan bahwa, Kolusi merupakan bentuk kerja sama pejabat negara (wakil rakyat) dengan pengusaha atau pihak lain untuk kepentingan pribadi dan dengan maksud untuk menghambat pemerataan usaha bagi masyarakat maupun negara.

3. Nepotisme

Nepotisme akar katanya merujuk pada dua suku kata yaitu, Nepos dan Otis, yang berarti cucu laki-laki, keturunan atau saudara sepupu. Lalu Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan artian luas terkait masalah Nepotisme yaitu:

Pertama, perilaku yang memperlihatkan kesukaan yang berlebihan kepada kerabat dekat. Kedua, kecendrungan untuk mengutamakan (menguntungkan) sanak saudara sendiri terutama dalam jabatan, atau pangkat dalam lingkungan pemerintah. Ketiga, tindakan memilih kaum kerabat atau sanak saudara sendiri adalah untuk memegang jabatan pemerintahan.12

Salah satu tokoh Sosiolog dari Negeri Jiran (Malaysia) juga memberikan pendapat mengenai Nepotisme itu sendiri, ia mengungkapkan bahwa Nepotisme atau Korupsi Perkerabatan adalah penunjukan yang tidak sah terhadap teman atau

11 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2001), Edisi III, Cet. Ke-1, h.109.

12 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta:

Balai Pustaka, 1994) h.687.

27 sanak saudara untuk memegang jabatan dalam pemerintahan, baik dalam bentuk uang ataupun dalam bentuk lain kepada mereka, secara bertentangan dengan norma atau hukum yang berlaku.

Dari pengertian di atas dapat digambarkan bahwa Nepotisme merupakan tindakan penyelenggara negara yang secara melawan hukum dengan sikap menguntungkan keluarganya, kerabat ataupun kroninya dengan jalan mengangkatnya dalam sistem pemerintahan yang meyalahi aturan yang berlaku.