• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemilihan Rancangan Penelitian: Asumsi Dasar

Dalam dokumen Cifor kaji dampak lingkungan hidup (Halaman 32-34)

untuk Pembelajaran dari Proyek-proyek ReDD+

2.1 Pemilihan Rancangan Penelitian: Asumsi Dasar

Dalam pedoman ini, kami menjelaskan berbagai metode evaluasi dampak proyek REDD+ yang merupakan kegiatan daerah—yakni proyek yang dilaksanakan di wilayah geograis yang ditetapkan dan/atau dengan sebagian kecil ‘pengguna hutan’ yang ditetapkan, termasuk rumah tangga dan mungkin usaha yang memiliki, mengelola dan menggunakan sumber daya hutan. Metode- metode yang sama ini juga dapat digunakan untuk memperkirakan dampak keikutsertaan dalam program nasional (misalnya, PES di Kosta Rika dan Meksiko), selama terdapat keragaman dalam cakupan (misalnya, tidak semua pengguna hutan yang memenuhi syarat ikut serta).

Dengan jenis proyek dan program ini, keseluruhan dampaknya merupakan fungsi proporsi populasi yang dicakup (misalnya, wilayah mana yang dipilih atau pengguna hutan mana yang ikut serta) maupun pengaruh sebab-akibat kegiatan terhadap populasi tersebut. Metode-metode yang diuraikan dalam pedoman ini terutama berkenaan dengan memperkirakan pengaruh sebab-akibat bagi populasi yang tercakup. Dalam evaluasi dampak, ini biasanya disebut dengan pengaruh ‘perlakuan’. Sebagaimana dibahas selanjutnya dalam bagian ini, ‘perlakuan’ dapat diberi batasan macam-macam, dari pemilik hutan yang secara

sukarela melakukan kontrak untuk PES hingga masyarakat yang bergantung pada hutan di sekitar wilayah yang terpengaruh oleh perubahan dalam pengelolaannya.

Metode-metode evaluasi dampak yang diuraikan dalam pedoman ini didasarkan pada analisis statistik berdasarkan bukti empiris, yakni pengamatan (baik dari survei, pengindraan jauh atau data sekunder) hasil di dunia nyata. Metode-metode ini berlaku dengan syarat perlakuan berikut.

1. Harus ada kawasan dan/atau pengguna hutan yang ‘diberi perlakuan’ dan ‘tidak diberi perlakuan’. Semestinya, adalah wajar untuk membayangkan bahwa kawasan atau pengguna hutan yang diberi perlakuan mungkin saja tidak diberi perlakuan. Misalnya, metode- metode ini tidak berlaku bagi kebijakan nasional yang mempengaruhi setiap orang di suatu negara atau yang mempengaruhi setiap orang dalam kategori tertentu, seperti hukum yang berlaku bagi semua kelompok masyarakat adat.

2. Pasti ada banyak peserta sehingga wajar untuk memperkirakan rata-rata pengaruh perlakuan (rata-rata pengaruh bagi populasi yang diberi perlakuan atau populasi keseluruhan). Misalnya, metode-metode ini tidak sesuai untuk memperkirakan dampak bagi sebuah perusahaan pembalakan besar di sebuah negara ketika hanya ada beberapa perusahaan seperti itu yang beroperasi.

Ketika kemungkinan banyak pengguna hutan terkena pengaruh sebuah proyek, tetapi tidak semuanya benar-benar ‘diberi perlakuan’, maka metode yang diuraikan dalam pedoman ini dapat digunakan untuk mengevaluasi jenis-jenis dampak berikut.

1. Evaluasi dampak yang terwujud setelah kegiatan, yakni evaluasi tentang apa yang terjadi akibat suatu proyek. Dalam hal standar pasar karbon sukarela sekarang, ini sangat mirip dengan proses veriikasi, yaitu data dasar proyek juga dinilai ulang dan dimutakhirkan. Ini berbeda dengan prakiraan sebelum kegiatan yang dibutuhkan untuk pengesahan proyek berdasarkan standar pasar

karbon sukarela. Sebagian besar metode yang diuraikan dalam pedoman ini juga berbeda dengan veriikasi mengenai apa yang terjadi di daerah proyek dibandingkan dengan prakiraan data dasar, yang sering dibutuhkan untuk veriikasi awal proyek. Menimbang proyek dengan prakiraan data dasar mengurangi ketidakpastian tentang kredit perdagangan karbon yang dapat diharapkan karena ini berarti bahwa kredit tersebut hanya tergantung pada apa yang dilakukan proyek dibandingkan dengan prakiraan data dasar dan bukan pada semua faktor di luar kendali proyek yang memungkinkan menciptakan kontrafaktual. Metode-metode yang diuraikan dalam pedoman ini memberi sedikit kepastian dari sudut pandang investor karena mengukur dampak proyek dibandingkan dengan kontrafaktual yang menggambarkan apa yang benar-benar terjadi tanpa proyek tersebut. Dengan demikian, metode-metode untuk menilai dampak proyek ini mungkin lebih tepat sebagai pembelajaran untuk masa mendatang dan bukan menilai kinerja proyek pada masa lalu.

2. Evaluasi dampak yang diharapkan dalam kurun waktu yang tepat untuk penetapan kebijakan. Dalam hal evaluasi dampak untuk dijadikan bahan perbincangan kebijakan REDD+, hasil evaluasi harus tersedia dalam kurun waktu yang tepat dengan perbincangan kebijakan tersebut. Ini tidak memungkinkan waktu pengamatan empiris dampak jangka panjang proyek REDD+, apabila kita berharap keputusan tentang kebijakan mitigasi

perubahan iklim akan ditetapkan sebelum dampak jangka panjang teramati (lebih dari 10 tahun sejak sekarang). Akan tetapi, sebagaimana diuraikan pada Lembar Kerja 8, hasil yang teramati dapat menjadi langkah- antara dalam model sebab-akibat jangka panjang. Misalnya, perubahan yang dapat diamati pada kepemilikan modal atau pola perpindahan penduduk musiman mungkin merupakan variabel penting dalam model capaian kesejahteraan jangka panjang dan pola penggunaan lahan. Dampak jangka panjang REDD+ jelas sangat penting bagi

mitigasi perubahan iklim. Kita dapat memiliki kepercayaan yang lebih besar terhadap

prakiraan jangka panjang yang didasarkan pada asumsi yang sesuai dengan temuan dari evaluasi dampak-antara secara empiris setelah kegiatan, dengan menggunakan metode ketat yang mengesampingkan penjelasan tandingan. 3. Evaluasi dampak langsung suatu perlakuan.

Penyederhanaan yang dipertahankan dalam uraian metode dalam pedoman ini ialah bahwa perlakuan ini bercabang dua (biner): pengguna hutan yang diberi ‘perlakuan’ atau yang ‘tidak’ oleh proyek. Ini tidak harus berarti tempat tinggal mereka di dalam batas proyek, sebagaimana diberikan batasan untuk tujuan penghitungan karbon. Misalnya, perlakuan dapat diberi batasan sebagai tempat tinggal (pada awal proyek) di dalam ‘kawasan’ proyek, termasuk masyarakat yang berbatasan dengan daerah proyek, sebagaimana pada standar CCB. Untuk lebih jelasnya, kenyataan bahkan lebih memiliki perbedaan kecil: sebagian besar proyek REDD+ memiliki banyak ukuran atau tingkat keikutsertaan dan sebagian besar dapat mempengaruhi rumah tangga dan usaha, baik langsung maupun tidak langsung. Tantangan dan keragaman tentang batasan keikutsertaan, atau perlakuan, dibahas di bawah ini.

Tabel 1 memberi pedoman pilihan rancangan penelitian untuk mengukur dampak proyek REDD+ dengan persyaratan yang diuraikan di atas. Berdasarkan persyaratan ini, metode- metode tersebut dapat digunakan untuk menilai dampak setiap jenis kegiatan proyek REDD+ bagi setiap hasil yang terukur, termasuk tutupan hutan, keanekaragaman hayati dan kesejahteraan sosial. Dalam hal kesejahteraan, terdapat banyak kemungkinan hasil dan indikator. Pemilihan indikator jelas merupakan keputusan penting (lihat Lembar Kerja 2), yang sangat bergantung pada pilihan rancangan penelitian. Pengecualian pentingnya ialah bahwa ketika rancangan penelitian mengharuskan peserta untuk mengingat kembali keadaan sebelum proyek (atau membayangkan berbagai keadaan tanpa proyek), maka evaluasi perlu dibatasi pada jenis hasil dan tingkat perincian yang secara logis responden diharapkan dapat mengingatnya (lihat Lembar Kerja 6).

2.2 Pemilihan Rancangan Penelitian:

Dalam dokumen Cifor kaji dampak lingkungan hidup (Halaman 32-34)