• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

H. Pemungutan Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Undang-Undang merumuskan bahwa yang dimaksud pemungutan PPN adalah bendaharawan Pemerintah, Badan, atau Instansi Pemerintah yang ditunjuk oleh menteri Keungan untuk memungutu, Menyetor, dan Melaporkan Pajak yang terutang oleh Pengusaha Kena Pajak atas penyerahahan BKP dan JKP kepada Bendaharawan Pemerintah,Badan, atau Instansi Pemerintah tersebut.

Dalam pemungutan PPN tidak semua pihak secara bebas di perkenankan melakukan pemungutan pajak melainkan ada persyaratannya. Hal ini untuk menjaga agar jangan sampai ada pihak yang sebenarnya tidak berhak melakukan pemungutan pajak. Pajak yang di pungut kemungkinan bisa tidak di setor ke kas Negara atau ketempat lain yang di tetapkan oleh

pemerintah. Apabila tidak disetor berarti pajak yang di pungut tersebut akan berada ditangan pemungut, sedangkan pihak pembeli atau konsumen akan terbebani dengan pengenaan PPN yang dilakukan oleh pihak pemungut. Sehingga disamping pembeli (masyarakat), juga pemerintah dirugikan dalam penerimaan pajak.

Ada dua cara yang dapat di lakukan dalam pemungutan PPN. Adapun yang membedakan atas kedua cara pemungutan tersebut adalah bentuk dan keberadaan usahanya serta sifat dari pihak yang akan melakukan pemungutan tersebut. kedua cara tersebut adalah:

a. Pemungutan secara umum

1. Pemungutan PPN atas penyerahan dalam negeri

Berdasarkan atas sistem perpajakan yang kita anut yakni “self assessment system”, maka diberikan hak dan wewenang kepada Wajib Pajak yang dalam PPN

adalah para Pengusaha Kena Pajak untuk melaksanakan kewajiban perpajakannnya.

Dalam hal pemungutan PPN, secara umum berlaku adalah pihak mana yang menyerahkan barang kena ajak atau jasa kena pajak di dalam negeri, maka dialah yang akan memungut PPN. Sedangkan yang menerima barang kena pajak atau jasa kena pajak adalah pihak yang menangggung PPN atau pihak yang membayar PPN.

2. Pemungutan PPN atas impor

Pada dasarnya setiap barang kena pajak yang diimpor adalah terutang dan pemungutan PPN namun jika dibebaskan dari bea masuk maka atas barang kena pajak yang di impor tersebut tidak dipungut PPN

3. Pemungutan berdasarkan keputusan presiden No.56 tahun 1988

Pada umumnya PPN dipungut oleh Pengusaha Kena Pajak yang menyerahkan barang kena pajak atau jasa kena pajak, atau yang menerima pembayaran atas transaksi tersebut, sebagaimana dikemukakan diatas. Namun dalam rangka

pengamanan penerimaan Negara dari pajak serta untuk memberikan pembinaan guna meningkatkan kepatuhan para penguaha kena pajak untuk memasukkan surat pemberitahuan (SPT) masa PPN dengan tertib serta meningkatkan kewajiban perpajakannnya, maka berdasarkan keputusan presiden No. 56 tahun 1988 telah di tunjuk badan-badan tertentu dan bendaharawan untuk memungut dan menyetor PPN.

I. AKUNTANSI

1. Pengertian Akuntansi

Secara umum akuntansi merupakan suatu system informasi yang digunakan untuk mengubah data transaksi menjadi informasi keuangan. Proses akuntansi meliputi kegiatan mengidentifikasi, mencatat dan menafsirkan, mengkomunikasikan perristiwa ekonomi dari sebuah organisasi kapada pemakai akuntansi. Dalam buku A Statemen of Basic Accounting Theory (ASOBAT), akuntansi di artikan sebagai berikut.

“Proses mengidentifikasikan, mengukur, dan menyamaikan informasi ekonomi sebagai bahan informasi dalam hal mempertimbangkan berbagai alternative dalam mengambil kesimpulan oleh para pemakainya”.

Komite istilah American Institute Of Certified Public Accounting (AICPA) mendefinisikan akuntansi sebagai berikut:

“Akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan, dan pengikhtisaran dengan cara tertentu dan dalam ukuran moneter, transaksi dan kejadian-kejadian yang umamnya bersifat keuangan dan termaksud menafsikan hasil-hasilnya”.

Accounting Principel Board (APB) Statemen No.4 mendefinisiskan akuntansi sebagai

berikut:

Akuntansi adalah suatu kegiatan jasa, Fungsinya adalah membarikan informasi kuantitatif umumnya dalam ukuran uang, mengenai suatu badan ekonomi yang dimaksudkan

untuk digunakan dalam pengambilan keputusan ekonomi sebagai dasar memilih antara beberapa alternatife.

Berdasarkan devinisi-devinisi diatas dapat disimpulkan bahwa, Akuntansi adalah suatu sistem informasi yang mengidentifikasikan, mencatat, dan mengomunikasikan kejadian ekonomi dari suatu organisasi kepada pihak yang berkepentingan. Akuntansi juga sering dianggap sebagai bahasa bisnis, dimana informasi bisnis dikomunikasikan kepada stakeholder melalui laporan akuntansi. Mula-mula sebuah transaksi bisnis akan

diidentifikasikan (dianalisis), dicatat, dan barulah dilapokan lewat laporan akuntansi yang merupakan media komunikasi informasi akuntansi. Transaksi bisnis disini dapat diartikan sebagai suatu kejadian atau peristiwa ekonomi yang memengaruhi perubahan posisi keuangan perusahan.

2. Akuntansi Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

didalam akuntansi komersil tidak mengatur tersendiri perlakuan akuntansi khusus untuk PPN dan PPnBM, PSAK tahun 2007 Hanya mengatur Pajak penghasilan. Namun baik dalam akuntansi komersil dan akuntansi pajak terdapat persamaan dalam melakukan pencatatan yang harus dipersiapkan adalah:

a. Akun Pajak masukan

Untuk mencatat besarnya pajak masukan yang dibayar atau dipungut atas terjadinya transaksi pembelian, penerimaan Jasa Kena Pajak, atau inpor Barang Kena Pajak, yang digunakan untuk kegiatan usaha. PPN yang disetor keKas Negara oleh perusahaan tersebut bukanlah sebesar pajak yang dipungut, melainkan harus lebih dulu diperhitungkan dengan PPN yang telah dikenakan terlebih dahulu, yakni ketika perusahaan membeli BKP atau memperoleh JKP yang berhubungan dengan proses

produksi atau dalam usahanya, yang disebut sebagai Pajak Masukan. Karena dalam penjelasan pasal 9 ayat 2 UU Nomor 8 Tahun 1983 dengan jelas dinyatakan bahwa:

“Pajak masukan yang telah dibayar oleh Pengusaha Kena Pajak pada waktu perolehan atau impor Barang Kena Pajak atau penerimaan Jasa kena Pajak dapat dikreditkan dengan pajak keluaran yang dipungut oleh Pengusaha Kena Pajak pada waktu penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak Pengkreditan Pajak Masukan terhadap Pajak Keluaran tersebut diatas dilakukan dalam Masa Pajak yang sama.”

b. Akun Pajak Keluaran

Pada akun ini untuk mencatat Pajak Keluaran yang dipungut atau disetorkan kekas Negara atas Transaksi. Terjadinya transaksi penyerahan barang kena pajak atau jasa kena pajak. Akun biaya yang digunakan tetap sama dengan akun yang biasa digunakan dalam akuntansi komersial.

3. Akuntansi Pajak Pertambahan Nilai Pengakuan PPN Terutang Pada prinsipnya PPN dipungut berdasarkan dua (2) prinsip yaitu:

a. Prinsip akrual: sesuai pasal 11 ayat 1 UU PPN, PPN terutang pada saat penyerahan Barang, jasa/ import Barang.

b. Prinsip Kas: sesuai pasal 11 ayat 2 UU PPN, PPN terutang pada saat penerimaan pembayaran.

Atas dasar hal tersebut diatas, faktur pajak harus dibuat pada saat : a) Penyerahan barang,

b) Pembayaran barang, sebelum penyerahan barang atau jasa dilakukan. Dalam hal pembayaran diterima setelah pembayaran barang, faktur pajak dibuat pada akhir bulan berikutnya setelah penyerahan barang.

4. Prosedur Akuntansi PPN

Seperti yang dinyatakan pada pasal 9 ayat 8 UU No. 42 Tahun 2009 tentang PPN, tidak semua PPN masukan atau uang muka PPN dapat dikreditkan pada PPN keluaran atau utang PPN. Tergantung pada keadaan, pada dasarnya terdapat tiga (3) alternative perlakuan akuntansi PPN masukan yang tidak dapat di kreditkan, yaitu:

a. Dikapitalisasi sebagi nilai perolehan aktiva tetap.

b. Dibebankan sebagai harga pokok penjualan, atau biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara panghasilan.

c. Biaya tidak dapat dikurangkan.

J. PENYAJIAN PPN PADA LAPORAN KEUANGAN