• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

E. Perhitungan Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Perhitungan Pajak secara umum diatur dalam undang-undang No. 42 Tahun 2009 pasal 18a yaitu mengalihkan dasar pengenaan pajak dengan tarif pajak.

PPN= Dasar Pengenaan Pajak x Tarif Pajak

Untuk menghitung besarnya pajak (PPN dan PPnBM) yang terutang perlu adanya Dasar pengenaan pajak (DPP) seperti:

1. Harga Jual dan Pengganti

Dalam pasal 1 angka 18 dirumuskan: “Harga Jual adalah nilai berupa uang, termaksud semua biaya yang di minta seharusnya diminta oleh penjual karena penyerahan BKP, tidak termaksud pajak pertambahan nilai yang dipungut menurut UU PPN 1984 dan potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak”.

Kemudian dalam pasal 1angka 19 UU PPN 1984 dirumuskan: “Pengganti adalah nilai berupa uang, termaksud semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh pengusaha karena penyerahan JKP, ekspor JKP, ekspor BKP tidak berwujud, tetapi tidak termaksud pajak pertambahan nilai yang dipungut menurut Undang-Undang PPn 1984 dan pemotongan harga yang dicantumkan dalam faktur pajak atau nilai berupa uang yang dibayar atau seharusnya dibayar oleh penerima jasa kena pemanfaatan JKP dan/atau olehpenerima manfaat BKP Tidak Berwujud karena pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean didalam Daerah Pabean”.

Adapun yang dimaksud dengan semua biaya dalam ketentuantersebut antara lain biaya pengangkutan, biaya asuransi, biaya bantuan teknik, biaya pemeliharaan, biaya pengiriman, biaya garansi, biaya pendidikan.

+ - =

Nilai berupa

uang Sumber biaya Pot. Harga

dalam FP

Harga jual

pengganti

DALAM HARGA JUAL TIDAK PERNAH TERMAKSUD PPN DAN PPnBM DALAM PENGGANTIAN TIDAK TERMAKSUD PPN

Gambar 3: Harga Jual dan Pengganti

2. Nilai Impor adalah nilai berupa uang yang menjadi dasar penghitungan bea masuk ditambah pungutan berdasarkan ketentuan berdasarkan ketentuan dalam perundang-undangan yang mengatur mengenai kepabeanan dan cukai untuk impor BKP, tidak termaksud PPN dan PPnBM yang dipungut menurut UU PPN 1984.

+ =

Gambar 4: Nilai Impor

3. Nilai Ekspor adalah nilai berupa uang, termaksuk biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh eksportir, ini berdasarkan Pasal 1 angka 26 UU PPN 1984.

4. Nilai Lain sebagai Dasar Pengenaan Pajak yang diatur Menteri Keuangan.

Cost.Insurace

& Freight (CIF)

Bea Masuk Nilai Impor

Dalam Nilai Impor Tidak Pernah Termasud PPN dan PPnBM

F. PERHITUNGAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI MENURUT UU NOMOR 42 TAHUN 2009

Undang-Undang Republik Indonrsia Nomor 8 Tahun 1983, Sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Republik indinesia nomor 42 Tahun 2009 Tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang atau Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah. UU Nomor 42 Tahun 2009 yang mulai berlaku pada tanggal 1 April 2010 tidak mencabut UU Nomor 8 Tahun 1983, kesimpulannya tidak pernah ada UU PPN Tahun 1994, UU PPN 2000, UU PPN 2009. Pada tanggal 4 Januari 2012 telah diundangkan peraturan pemerintah nomor 1 Tahun 2012 yang merupakan peraturan pelaksanaan UU PPN 1984 setelah perubahan ketiga dengan UU Nomor 42 Tahun 2009. Adapun yang menjadi latar belakang pengundangan peraturan pengundangan peraturan pemerintah ini adalah:

1. UU Nomor 42 Tahun 2009 yang merupakan undang-undang tentang perubahan ketiga terhadap UU PPN 1984 telah berlaku sejak 1 April 2010;

2. Sebagai peraturan pelaksanaan, peraturan pemerintah Nomor 143 Tahun 2000 sudah tudak memadai lagi.

Perhitungan besarnya Pajak Pertambahan nilai yang lebih bayar atau yang kurang bayar dapat dihitung berdasarkan data-data pajak keluaran dan pajak masukan. Apabila Pajak keluaran lebih besar dari pada pajak masukan, maka Pajak Pertambahan Niai kurang bayar yang berarti perusahaan berkewajiban membayar kekurangan pembayaran Pajak Pertambahan Nilai kepada kas Negara. Sedangkan, apabila pajak keluaran lebih kecil dari pada pajak masukan, maka Pajak Pertambahan Nilai lebih bayar yang berati perusahaan berhak menentukan apakah kelebihan pembayaran Pajak tersebut akan direstitusi atau pun dikompensasikan Masa Pajak berikutnya.

G. FAKTUR PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (PPN)

Salah satu sarana penting dalam Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang berguna baik untuk Perusahaan Kena Pajak (PKP) maupun juga bagi Derektorat Jendral Pajak adalah Faktur Pajak. Dengan adanya Faktur Pajak ini, syarat adanya penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak secara sah akan menjadi lebih diakui keberadaannya dalam PPN apabila timbul kewajiban perpajak untuk PPN. Misalnya para Pengusaha Kena Pajak yang akan melakukan pengkreditan Pajak Masukan, Faktur Pajak sangat berperan penting.

a. Fungsi dan Manfaat Faktur Pajak

Adapun Fungsi dan Manfaat Faktur Pajak ini baik bagi Wajib Pajak maupun direktorat Jendral Pajak merupakan salah satu dokuman penting dalam system PPN.

Hal ini didasarkan atas penggunaannya yaitu:

1) Merupakan bukti pemungutan pajak yang sah apabila Faktur pajak dibuat Oleh pengusaha kena pajak atau Derektorat Jendral Bea dan Cukai, dimana hal ini secara ekspliris ditegaskan dalam pasal 1 huruf F UU No.8 Tahun 1983 dan pasal 23 ayat 3 PP No.22 Tahun 1985.

2) Merupakan bukti pembayaran pajak pembayaran Pajak Masukan yang dapat dikendalikan dengan pajak pengeluarannya.

3) Merupakan data bagi Derectorat Jendral Pajak dalam melakukan uji silang (cross check) atas transaksi-transaksi yang dilakukan oleh pengusaha Kena Pajak.

Faktur Pajak adalah bukti pemungutan Pajak yang dibua oleh Perusahaan Kena Pajak yang melakukan penyerahan BKP atau penyerahan JKP. Faktur Pajak dibuat pada:

1. Saat penyerahan Barang Kena Pajak dan atau Jasa Kena Pajak

2. Saat penerimaan pembayaran dalam hal penerimaan pembayaran terjadi sebelum penyerahan Barang Kena Pajak atau sebelum penyerahan Jasa Kena Pajak.

3. Saat penerimaan pembayaran termin dalam hal penyerahan sebagai tahap pekerjaan.

4. Saat lain yang diatur dengan atau berdasakan Peraturan Menteri Keuangan.

H. PEMUNGUTAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (PPN)

Undang-Undang merumuskan bahwa yang dimaksud pemungutan PPN adalah bendaharawan Pemerintah, Badan, atau Instansi Pemerintah yang ditunjuk oleh menteri Keungan untuk memungutu, Menyetor, dan Melaporkan Pajak yang terutang oleh Pengusaha Kena Pajak atas penyerahahan BKP dan JKP kepada Bendaharawan Pemerintah,Badan, atau Instansi Pemerintah tersebut.

Dalam pemungutan PPN tidak semua pihak secara bebas di perkenankan melakukan pemungutan pajak melainkan ada persyaratannya. Hal ini untuk menjaga agar jangan sampai ada pihak yang sebenarnya tidak berhak melakukan pemungutan pajak. Pajak yang di pungut kemungkinan bisa tidak di setor ke kas Negara atau ketempat lain yang di tetapkan oleh

pemerintah. Apabila tidak disetor berarti pajak yang di pungut tersebut akan berada ditangan pemungut, sedangkan pihak pembeli atau konsumen akan terbebani dengan pengenaan PPN yang dilakukan oleh pihak pemungut. Sehingga disamping pembeli (masyarakat), juga pemerintah dirugikan dalam penerimaan pajak.

Ada dua cara yang dapat di lakukan dalam pemungutan PPN. Adapun yang membedakan atas kedua cara pemungutan tersebut adalah bentuk dan keberadaan usahanya serta sifat dari pihak yang akan melakukan pemungutan tersebut. kedua cara tersebut adalah:

a. Pemungutan secara umum

1. Pemungutan PPN atas penyerahan dalam negeri

Berdasarkan atas sistem perpajakan yang kita anut yakni “self assessment system”, maka diberikan hak dan wewenang kepada Wajib Pajak yang dalam PPN

adalah para Pengusaha Kena Pajak untuk melaksanakan kewajiban perpajakannnya.

Dalam hal pemungutan PPN, secara umum berlaku adalah pihak mana yang menyerahkan barang kena ajak atau jasa kena pajak di dalam negeri, maka dialah yang akan memungut PPN. Sedangkan yang menerima barang kena pajak atau jasa kena pajak adalah pihak yang menangggung PPN atau pihak yang membayar PPN.

2. Pemungutan PPN atas impor

Pada dasarnya setiap barang kena pajak yang diimpor adalah terutang dan pemungutan PPN namun jika dibebaskan dari bea masuk maka atas barang kena pajak yang di impor tersebut tidak dipungut PPN

3. Pemungutan berdasarkan keputusan presiden No.56 tahun 1988

Pada umumnya PPN dipungut oleh Pengusaha Kena Pajak yang menyerahkan barang kena pajak atau jasa kena pajak, atau yang menerima pembayaran atas transaksi tersebut, sebagaimana dikemukakan diatas. Namun dalam rangka

pengamanan penerimaan Negara dari pajak serta untuk memberikan pembinaan guna meningkatkan kepatuhan para penguaha kena pajak untuk memasukkan surat pemberitahuan (SPT) masa PPN dengan tertib serta meningkatkan kewajiban perpajakannnya, maka berdasarkan keputusan presiden No. 56 tahun 1988 telah di tunjuk badan-badan tertentu dan bendaharawan untuk memungut dan menyetor PPN.

I. AKUNTANSI

1. Pengertian Akuntansi

Secara umum akuntansi merupakan suatu system informasi yang digunakan untuk mengubah data transaksi menjadi informasi keuangan. Proses akuntansi meliputi kegiatan mengidentifikasi, mencatat dan menafsirkan, mengkomunikasikan perristiwa ekonomi dari sebuah organisasi kapada pemakai akuntansi. Dalam buku A Statemen of Basic Accounting Theory (ASOBAT), akuntansi di artikan sebagai berikut.

“Proses mengidentifikasikan, mengukur, dan menyamaikan informasi ekonomi sebagai bahan informasi dalam hal mempertimbangkan berbagai alternative dalam mengambil kesimpulan oleh para pemakainya”.

Komite istilah American Institute Of Certified Public Accounting (AICPA) mendefinisikan akuntansi sebagai berikut:

“Akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan, dan pengikhtisaran dengan cara tertentu dan dalam ukuran moneter, transaksi dan kejadian-kejadian yang umamnya bersifat keuangan dan termaksud menafsikan hasil-hasilnya”.

Accounting Principel Board (APB) Statemen No.4 mendefinisiskan akuntansi sebagai

berikut:

Akuntansi adalah suatu kegiatan jasa, Fungsinya adalah membarikan informasi kuantitatif umumnya dalam ukuran uang, mengenai suatu badan ekonomi yang dimaksudkan

untuk digunakan dalam pengambilan keputusan ekonomi sebagai dasar memilih antara beberapa alternatife.

Berdasarkan devinisi-devinisi diatas dapat disimpulkan bahwa, Akuntansi adalah suatu sistem informasi yang mengidentifikasikan, mencatat, dan mengomunikasikan kejadian ekonomi dari suatu organisasi kepada pihak yang berkepentingan. Akuntansi juga sering dianggap sebagai bahasa bisnis, dimana informasi bisnis dikomunikasikan kepada stakeholder melalui laporan akuntansi. Mula-mula sebuah transaksi bisnis akan

diidentifikasikan (dianalisis), dicatat, dan barulah dilapokan lewat laporan akuntansi yang merupakan media komunikasi informasi akuntansi. Transaksi bisnis disini dapat diartikan sebagai suatu kejadian atau peristiwa ekonomi yang memengaruhi perubahan posisi keuangan perusahan.

2. Akuntansi Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

didalam akuntansi komersil tidak mengatur tersendiri perlakuan akuntansi khusus untuk PPN dan PPnBM, PSAK tahun 2007 Hanya mengatur Pajak penghasilan. Namun baik dalam akuntansi komersil dan akuntansi pajak terdapat persamaan dalam melakukan pencatatan yang harus dipersiapkan adalah:

a. Akun Pajak masukan

Untuk mencatat besarnya pajak masukan yang dibayar atau dipungut atas terjadinya transaksi pembelian, penerimaan Jasa Kena Pajak, atau inpor Barang Kena Pajak, yang digunakan untuk kegiatan usaha. PPN yang disetor keKas Negara oleh perusahaan tersebut bukanlah sebesar pajak yang dipungut, melainkan harus lebih dulu diperhitungkan dengan PPN yang telah dikenakan terlebih dahulu, yakni ketika perusahaan membeli BKP atau memperoleh JKP yang berhubungan dengan proses

produksi atau dalam usahanya, yang disebut sebagai Pajak Masukan. Karena dalam penjelasan pasal 9 ayat 2 UU Nomor 8 Tahun 1983 dengan jelas dinyatakan bahwa:

“Pajak masukan yang telah dibayar oleh Pengusaha Kena Pajak pada waktu perolehan atau impor Barang Kena Pajak atau penerimaan Jasa kena Pajak dapat dikreditkan dengan pajak keluaran yang dipungut oleh Pengusaha Kena Pajak pada waktu penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak Pengkreditan Pajak Masukan terhadap Pajak Keluaran tersebut diatas dilakukan dalam Masa Pajak yang sama.”

b. Akun Pajak Keluaran

Pada akun ini untuk mencatat Pajak Keluaran yang dipungut atau disetorkan kekas Negara atas Transaksi. Terjadinya transaksi penyerahan barang kena pajak atau jasa kena pajak. Akun biaya yang digunakan tetap sama dengan akun yang biasa digunakan dalam akuntansi komersial.

3. Akuntansi Pajak Pertambahan Nilai Pengakuan PPN Terutang Pada prinsipnya PPN dipungut berdasarkan dua (2) prinsip yaitu:

a. Prinsip akrual: sesuai pasal 11 ayat 1 UU PPN, PPN terutang pada saat penyerahan Barang, jasa/ import Barang.

b. Prinsip Kas: sesuai pasal 11 ayat 2 UU PPN, PPN terutang pada saat penerimaan pembayaran.

Atas dasar hal tersebut diatas, faktur pajak harus dibuat pada saat : a) Penyerahan barang,

b) Pembayaran barang, sebelum penyerahan barang atau jasa dilakukan. Dalam hal pembayaran diterima setelah pembayaran barang, faktur pajak dibuat pada akhir bulan berikutnya setelah penyerahan barang.

4. Prosedur Akuntansi PPN

Seperti yang dinyatakan pada pasal 9 ayat 8 UU No. 42 Tahun 2009 tentang PPN, tidak semua PPN masukan atau uang muka PPN dapat dikreditkan pada PPN keluaran atau utang PPN. Tergantung pada keadaan, pada dasarnya terdapat tiga (3) alternative perlakuan akuntansi PPN masukan yang tidak dapat di kreditkan, yaitu:

a. Dikapitalisasi sebagi nilai perolehan aktiva tetap.

b. Dibebankan sebagai harga pokok penjualan, atau biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara panghasilan.

c. Biaya tidak dapat dikurangkan.

J. PENYAJIAN PPN PADA LAPORAN KEUANGAN 1. Pengertian Laporan Keuangan

Laporan keuangan adalah hasil akhir dari suatu proses akuntansi yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan. Akuntansi merupakan salah satu bahasa bisnis karena merupakan salah satu alat untuk menyimpan informasi keuangan kepada pihak-pihak yang memerlukannya. Untuk menyampaikan informasi tersebut maka dibutuhkan Laporan Keuangan. Laporan keuangan dalam suatu perusahaan biasa terdiri atas empat jenis laporan keuangan, yaitu Neraca, Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Modal, dan Laporan Arus kas. Dalam penyajian PPN, PPN disajikan atau dicatat hanya dalam laporan Neraca saja.

1. Neraca

Neraca adalah laporan yang menggambarkan posisis keunagan perusahaan terdiri dari Aktiva (harta kekayaan), Kewajiban dan Modal pada satu tanggal tertentu. Neraca berisi Akun-Akun yang tidak termaksud dalam Pendapatan dan Beban. Oleh karena itu

akun-akun yang masuk dalam Neraca adalah akun-akun berada diluar atau selain Beban atau pendapatan.

Neraca disebut sebagai daftar sistematis, karena neraca tersusun berdasarkan urutan tertentu. Dalam neraca dapat diketahui berapa jumlah kekayaan perusahaan, kemampuan perusahaan membayar kewajiban serta kemampuan perusahaan memperoleh tambahan pinjaman dari pihak luar. Selain itu juga dapat diperolah informasi tentang jumlah utang perusahaan kepada kreditur dan jumlah investasi pemilik yang ada dalam perusahaan tersebut. Rumus Neraca yang berlaku sama seprti dengan Akuntansi, yaitu Harta (Aktiva) harus sama dengan Kewajiban (Pasiva).

AKTIVA = PASIVA

Istilah yang muncul dalam neraca adalah:

a) Harta Lancar adalah harta “cair” yang dapat langsung digunakan dalam kegiatan operasional perusahaan, contohnya Kas.

b) Harta Tetap adalah harta yang tak dapat habis dan dapat digunakan lebih dari setahun.

Contohnya, peralatan dan Kendaraan.

c) Utang lancar adalah utang jangka pendek yang pelunasannya kurang dari setahun.

d) Utang Jangka Panjang adalah uatang yang jangka waktu pelunasannya lebih dari setahun. Contohnya hutang hipaotik.

Didalam Neraca terdapat Modal yang berasal dari laporan Perubahan Modal, bukan Modal yang disetor awal. Karena Modal awal yang telah disetor mengalami perubahan baik karena Laba atau Rugi, dan neraca dibuat pada akhir periode.

Nama Perusahaan

Asuransi dibayar dimk Rp.xxxx Utang jangka Panjang

Total harta Lanca Rp.xxxx Pinjaman Hipotik Rp.xxxx

Laporan Keuangan dipersiapkan atau dibuat dengan maksud untuk memberikan gambaran atau laporan kemajuan (progress report) secara periodic yang dilakukan pihak managemen yang bersangkutan. Jadi laporan Keuangan bersifat Historis serta menyeluruh dan sebagai

suatu Progres report Laporan Keuangan terdiri dari data-data yang merupakan hasil dari suatau kombinasi antara lain:

a. Fakta Yang Telah dicatat (Recorde fact)

Laporan keuangan dibuat atas dasar dari catatan akuntansi, seperti jumlah uang kas yang tersedia dalam perusahaan maupunyang disimpan dibank, jumlah piutang, persediaan barang dagangan, hutang maupun aktifa tetap yang dimiliki perisahaan. Pencatatan dari pos-pos ini berdasarkan catatan historis dari peristiwa-peristiwa yang telah terjadi dimasa lampau, dan jumlah-jumlah uang yang tercatat dalam pos-pos itu dinyatakan dalam harga-harga pada waktu terjadinya peristiwa tersebut (At Original Cost).

Dengan sifat yang demikian itu maka laporan keuangan tidak dapat mencerminkan posisi keuangan dari suatu perusahaan dalam kondisi perekonomian yang paling akhir, karena segala sesuatunya sifatnya historis. Sehingga terdapat beberapa hal yang dapat membawa akibat terhadap posisis keuangan perusahaan yang tidak dicatat dalam pencatatan akuntansi atau tidak nampak dalam laporan keuangan, misalnya adanya pesanan yang tidak dapat dipenuhi, berbagai kontrak pembelian atau penjualan yang telah disetujui dan adanya hak-hak paten yang masi dalam pengurusan karuna factor-faktor tersebut tidak dapat dikuantifisir.

b. Prinsip-Prinsip dan kebiasaan-kebiasaan didalam akuntansi (accounting convention and postulate).

Data yang dicatat itu didasarkan pada prosedur maupun anggapan-anggapan tertentu yang merupakan prinsip-prinsip akuntansi yang lazim (general acceptec accounting principles), hal ini dilakukan dengan tujuan memudahkan pencatatanatau untuk keseragaman.

c. Pendapatan Pribadi (Personal Judment)

Pencatatan akuntansi telah diatur oleh konfensi-konfensi atau dalil-dalil dasar yang sudah ditetapkan yang menjadi standar praktek pembukuan, namun penggunaan dari konfensi-konfensi dan dalil tersebut tergantung dari pada akuntan atau menegemen perusahaan yang bersangkutan. Judgment atau pendapat ini tergantung kepada kemampuan atua integritas pembuatnya yang di kombinasikan dengan fakta yang tercatat dan kebiasaan serta dalil-dalil dasar akuntansi yang telah disetujui akan digunakan didalam beberapa hal.

1. Keterbatasan Laporan Keuangan

Laporan keuangan memiliki keterbatasan antara lain:

a. Laporan Keuangan yang dibuat secara periodic pada dasarnya merupakan intern report (Laporan yang dibuat antara waktu tertentu yang sifatnya sementasa) dan

bukan merupakan laporan final. Karena itu semua-jumlah-jumlah atau hal-hal yang dilaporkan dalam laporan keuangan tidak menunjukan nilai likuidasi atau realisasi dimana dalam laporan initerkandung terdapat pribadi yang telah dilakukan oleh akuntan atau manegemen yang bersangkutan.

b. Laporan keuangan menunjukan angka dalam rupiah yang kelihatannya bersifat pasti dan tetap. Tetapi seharusnya dasar penyusununnya dengan standar nilai mungkin berbeda atu berubah.

c. Laporan keuangan disusun berdasarkan hasil pencatatan transaksi keuangan atau nilai rupiah berbagai waktu atau tanggal yang lalu dimana daya beli uang tersebut semakin menurun, dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnyasehingga kenaikan folume kegiatan yang dinyatakan dalam kegiatan rupiah belum tentu menunjukan unit yang terjual semakin besar, mungkin kenaikan itu disebabkan karena naiknya harga jual barang tersebut yang mungkin juga diikutu kenaiakn tingkat harga-harga.

d. Laporan keuangan tidak dapat mencerminkan berbagi faktor yang dapat mempengaruhi posisi atau keadaan keuangan perusahaan karena factor-faktor tersebut tidak dapat diukur dengan satuan uang.

K. KERANGKA PIKIR

Perusahaan PT.Adhi Karya,Tbk Makassar ini bergerak dibidang industry kontruksi yang besar, terutama dalam bidang highrise building. Yang mana dalam setiap periode akuntansi yang biasanya setiap akhi tahun akan membuat laporan keuangan yang terdiri dari Neraca dan Laporan Rugi/Laba. Pada laporan Neraca ini kita akan dapat melihat keadaan Asset (Harta), Liabilitas dan Ekuitas, dan Perubahan Modal, sedangkan dalam Laporan Rugi/Laba kita dapat mengetahui besarnya pendapatan yang diterima dan biaya-biaya yang dikeluarkan sehingga menghasilkan laba atau rugi perusahaan.

Dari kedua laporan ini kita akan melakukan analisis bagaimana penggunaan Akuntansi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Penyajiannya Dalam Laporan Keuangan apakah telah sesuai dengan UU Nomor 42 Tahun 2009. Dalam pembebanan PPN, metode yang dianjurkan dalam UU Nomor 42 tentang PPN yaitu credit method. Dari analisis ini kita dapat mengetahui sumber PPN kurang bayar dan PPN lebih bayar.

Untuk itu dapat mengoptimalkan PPN suatu perusahaan untuk massa yang akan datang maka diperlukan perencaan PPN yang kurang bayar dengan benar sehingga tidak merugikan perusahaan dan Negara (pemerintah) yang digunakan guna mencapai suatu tujuan yang diinginkan.

Adapun kerangka pikir yang telah diuraikan dapat digambarkan dalam bagan alur sebagai berikut:

Gambar 5 : hipotesis

L. HIPOTESIS

Berdasarkan dari uraian permasalahan diatas diajukan Hipotesisnya adalah diduga bahwa perlakuan Akuntansi PPN telah sesuai dengan penyajian PPN dalam Laporan Keungan dengan UU Nomor 42 Tahun 2009.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan Waktu Penelitian

PT.Adhi Karya,tbk

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Akuntansi UU No.42 Tahun 2009

Analisis

Rekomendasi

Penelitian ini dilakukan pada PT. Adhi Karya (perseroan) Tbk Makassar yang berlokasi di Jl. Hertasning Makassar. Sedang waktu penelitian diperkirakan berlangsung selama 2 bulan.

B. Metode Pengumpulan Data

Untuk mengumpulkan data serta keterangan yang diperlukan dalam penyusunan tugas akhir ini, maka digunakan metode penelitian studi kasus (case study method) dan pengumpulan data melalui penelitian sebagai berikut:

1. Field Research (Penelitian Lapangan)

a. Observasi (Pengamatan) yaitu pengamatan secara langsung pada objek penelitian.

b. Interview (Wawancara) yaitu cara pengumpulan data dengan jalan melakukan tanya jawab dengan responden untuk mendapatkan data yang dibutuhkan pada Universitas Muhammadiyah Makassar.

2. Library Research (Penelitian Perpustakaan)

Penelitian berorientasi pada buku dan litertur serta bahan bacaan lainnya yang ada kaitannya dengan penulis ini dengan maksud untuk mendapatkan kerangka teori tentang masalah yang dibahas sekaligus sebagai alat pertimbangan hipotesis yang diajukan.

C. Sumber dan Jenis Data

Dalam menganalisis data, penulis didukung dengan jenis data dan sumber data.

1. Jenis Data

a. Data Kuantitatif, yaitu data yang diperoleh dalam bentuk angka-angka yang diperoleh melalui objek yang diteliti.

b. Data Kualitatif, yaitu data yang diperoleh dalam bentuk penjelasan-penjelasan yang relevan dengan obyek penelitian berupa gambaran umum PT.Adhi Karya Makassar, maupun informasi langsung yang menyangkut kebijakan pimpinan.

2. Sumber Data

a. Data Primer yaitu data yang diperoleh langsung dari PT.Adhi Karya Makassar melalui pengamat, wawancara yang dilakukan dengan karyawan yang menangani Akuntansi dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) pada PT.Adhi Karya Makassar sebagai objek penelitian.

a. Data Primer yaitu data yang diperoleh langsung dari PT.Adhi Karya Makassar melalui pengamat, wawancara yang dilakukan dengan karyawan yang menangani Akuntansi dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) pada PT.Adhi Karya Makassar sebagai objek penelitian.