• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS YURIDIS PUTUSAN PENGADILAN NEGERI NOMOR 468/PDT.P/2020/PN JKT SEL YANG MEMBATALKAN PUTUSAN NOMOR

USAHA TERTENTU DALAM UU NO. 5/1999

A. Konsep Hukum Persaingan Usaha di Indonesia dalam UU Nomor 5 Tahun 1999

5. Penanganan Perkara Secara Elektronik dalam Peraturan KPPU No

1/2020 Tentang Penanganan Perkara Secara Elektronik

Pandemi Covid-19 sempat membuat penundaan beberapa kegiatan penegakan hukum persaingan usaha (termasuk penundaan penanganan perkara serta penundaan penilaian dan proses notifikasi untuk merger dna akuisisi) yang dilakukan sejak 17 Maret hingga 6 April 2020. Penundaan tersebut didasarkan pada Keputusan KPPU No. 11/KPPU/Kep.1/III/2020 tentang Perubahan atas Keputusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 10/KPPU/Kep.1/III/2020 tentang Penghentian Sementara Kegiatan Penegakan Hukum di Lingkungan

Sekretariat Komisi Pengawas Persaingan Usaha.129 Namun, Kegiatan penegakan hukum yang dilakukan KPPU kembali berjalan mulai 7 April 2020 berdasarkan Keputusan KPPU No. 12/KPPU/Kep.1/IV/2020 tentang Penanganan Perkara Dalam Kondisi Kedaruratan Bencana Wabah Penyakit Akibat Virus Corona di Indonesia telah mencabut dan menyatakan tidak berlakunya Keputusan KPPU No.

11/KPPU/Kep.1/III/2020 tentang Perubahan atas Keputusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 10/KPPU/Kep.1/III/2020 tentang Penghentian Sementara Kegiatan Penegakan Hukum di Lingkungan Sekretariat Komisi Pengawas Persaingan Usaha.130 Untuk mengatur penanganan perkara di tengah pandemi, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) telah mengeluarkan Peraturan No.1 Tahun 2020 tentang Penanganan Perkara Secara Elektronik (Perkom 1/2020) yang mulai berlaku sejak 6 April 2020.

Peraturan KPPU No. 1/2020 hanya dasar bagi KPPU dan para pihak (pelapor, terlapor, saksi, dan/atau ahli) untuk menggunakan fasilitas elektronik.

Oleh karena itu, prosedur dari masing-masing kegiatan penanganan perkara di KPPU tetap harus mengacu pada peraturan KPPU yang telah berlaku. Penanganan perkara dalam Peraturan Komisi ini yang dilakukan secara elektronik, meliputi:

a. penilaian notifikasi;

b. pengawasan kemitraan;

c. penanganan perkara persaingan usaha;

d. pemeriksaan perkara keterlambatan pemberitahuan penggabungan atau peleburan badan usaha dan pengambilalihan saham perusahaan;

e. pemeriksaan perkara kemitraan;

129 Romi Emirat, Oene Marseille, dkk, “KPPU Memberlakukan Peraturan Baru yang Mendorong Penggunaan Media Elektronik Bagi Kegiatan KPPU di Tengah Pandemi Covid-19”, https://kliklegal.com/kppu-memberlakukan-peraturan-baru-yang-mendorong-penggunaan-media-elektronik-bagi-kegiatan-kppu-di-tengah-pandemi-covid-19/ diakses pada 17April 2021.

130 KPPU, “KPPU Efektifkan Penegakan Hukum Secara Elektronik”, https://kppu.go.id/blog/2020/04/kppu-efektifkan-penegakan-hukum-secara-elektronik/ diakses pada 17 April 2021.

f. Sidang Majelis Komisi.131

Adapun pelaksanaan kegiatan KPPU yang berubah dalam penanganan perkara dalam Peraturan KPPU No. 1/2020, ialah:

1. Segala bentuk kegiatan penanganan perkara seperti halnya mengenai pengajuan dokumen, penyampaian waktu sidang, panggilan sidang, penyampaian jadwal pembacaan putusan, penyampaian salinan putusan, persidangan KPPU, dapat menggunakan media elektronik KPPU, termasuk namun tak terbatas pada surat elektronik dan telekonferensi visual;

2. Dalam hal dilaksanakannya persidangan menggunakan Media Elektronik, seluruh Pihak dalam persidangan menunjukkan kepada Majelis Komisi mengenai informasi kedudukan dan suasana ruang untuk menjaga independensi dan intervensi dalam persidangan;

3. Dalam hal diperlukan pengambilan sumpah atau janji saksi atau ahli, wajib menggunakan Telekonferensi Visual.

4. Terlapor dan/atau investigator yang tidak menyampaikan Dokumen Elektronik sesuai jadwal dan acara Sidang Majelis Komisi melalui Media Elektronik tanpa alasan yang sah berdasarkan penilaian Majelis Komisi, dianggap tidak menggunakan haknya.

5. Segala Kegiatan yang sedang berlangsung dapat menggunakan fasilitas elektronik berdasarkan Perkom 1/2020.

131 KPPU, Peraturan KPPU No. 1/2020 tentang Penanganan Perkara Secara Elektronik, Pasal 2.

B. Pendekatan Per se Illegal dan Rule of Reason

Dalam hukum persaingan usaha dikenal dua pendekatan dalam penerapan hukumnya, yaitu pendekatan per se illegal dan pendekatan rule of reason.

Landasan dari kedua pendekatan ini adalah apakah pelaku usaha harus dihukum karena melakukan suatu perjanjian atau perbuatan dengan alasan bahwa perbuatan tersebut dapat dianggap membahayakan persaingan.132 Pendekatan per se illegal dan rule of reason diterapkan untuk menilai apakah suatu tindakan tertentu yang dilakukan oleh pelaku usaha melanggar undang-undang persaingan usaha atau tidak.133 Kedua pendekatan ini digunakan KPPU untuk menganalisis terjadinya pelanggaran terhadap UU Nomor 5 Tahun 1999 serta menindak pelaku usaha yang secara terang-terangan melanggar UU No. 5 Tahun 1999.134

1. Pendekatan Per Se Illegal

Per se illegal merupakan pendekatan yang menyatakan bahwa suatu perjanjian atau kegiatan tertentu adalah sebagai perbuatan yang dilarang tanpa dibuktikan lebih lanjut dampak yang ditimbulkan dari perjanjian atau kegiatan yang dilakukan oleh pelaku usaha tersebut.135 Menurut Dr. Sutrisno Iwantono, MA. dalam tulisannya yang berjudul “Per se illegal dan Rule of Reason dalam Hukum Persaingan Usaha”, per se illegal merupakan suatu perbuatan yang secara inheren yang bersifat dilarang atau ilegal. Perbuatan atau tindakan atau praktik yang bersifat dilarang atau ilegal tersebut tidak diperlukan pembuktian terhadap

132 Ahmad Fajar Herlani, Awaliani Kharisma Septiana, Loc. Cit.

133 Ibid.

134 Suhasril & Mohammad Taufik Makarao, Op. Cit., hal. 107.

135 Ningrum Natasya Sirait II, dkk, Op. Cit., hal. 172.

dampak dan perbuatan tersebut.136 Per se illegal juga dapat diartikan sebagai suatu terminologi yang menyatakan bahwa suatu tindakan yang dinyatakan melanggar hukum dan dilarang secara mutlak, serta tidak diperlukan proses pembuktian apakah tindakan tersebut memiliki dampak negatif terhadap persaingan usaha atau tidak.137

Dalam hal suatu perilaku ditetapkan oleh pengadilan sebagai per se illegal, akan dihukum tanpa memerlukan proses penyelidikan yang rumit. Jenis perilaku yang ditetapkan secara per se illegal hanya akan dilaksanakan, setelah pengadilan memiliki pengalaman yang memadai terhadap perilaku tersebut, yakni bahwa perilaku tersebut hampir selalu bersifat antipersaingan, dan hampir selalu tidak pernah membawa manfaat sosial.138 Pendekatan per se illegal dari segi proses administratif merupakan proses yang mudah. Hal ini dikarenakan metode ini membolehkan pengadilan untuk melakukan penolakan penyelidikan secara rinci, yang biasanya memerlukan waktu lama dan biaya yang mahal guna mencari fakta di pasar yang bersangkutan.139

Pasal-pasal yang bersifat per se illegal dalam UU Nomor 5 Tahun 1999, dapat diidentifikasi dari penormaannya yang tidak mempersyaratkan keadaan

“yang dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat” sebagai determinan terjadinya pelanggaran. Pendekatan ini

136 Hermansyah, Op. Cit., hal. 78.

137 Ibid.

138 Andi Fahmi Lubis, dkk, Op. Cit., hal 70.

139 Ibid.

biasanya dalam UU Nomor 5 Tahun 1999 menggunakan istilah “dilarang”, tanpa anak kalimat “yang dapat mengakibatkan..”.140

2. Pendekatan Rule of Reason

Rule of reason adalah jenis pendekatan yang dipergunakaan oleh KPPU selain pendekatan Per se illegal, dalam membuat evaluasi mengenai akibat suatu perjanjian atau kegiatan tertentu, apakah perbuatan atau kegiatan tersebut telah menimbulkan akibat yang disebutkan dalam UU Nomor 5 Tahun 1999 atau tidak.141 Pendekatan rule of reason adalah kebalikan dari pendekatan per se illegal dan mempunyai ruang lingkup yang lebih luas. Meskipun suatu perbuatan yang dilakukan oleh pelaku usaha tersebut telah memenuhi unsur-unsur ketentuan dalam undang-undang, namun bila ternyata terdapat alasan objektif (alasan ekonomi) yang membenarkan perbuatan tersebut, maka perbuatan tersebut tidak melanggar hukum. Dengan arti, bahwa penerapan hukumnya tergantung pada akibat yang timbul, yaitu apakah perbuatan pelaku usaha tersebut menimbulkan praktik monopoli atau tidak.142

Penerapan pendekatan rule of reason pada dasarnya dilakukan terhadap tindakan-tindakan yang berpotensi menyebabkan akibat negatif terhadap persaingan usaha. Di samping itu juga, harus dilihat seberapa jauh efek negatif terhadap kegiatan yang dilarang yang dilakukan oleh pelaku usaha tersebut.

Apabila terbukti terdapat unsur yang menghambat persaingan, maka tindakan hukum harus segera diambil. Setidaknya, terbukti bahwa perbuatan yang

140 Andi Fahmi Lubis II, dkk, 2009, Hukum Persaingan Usaha Antara Teks dan Konteks, (Jakarta: Deutsche Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit (GTZ) GmbH), hal. 55.

141 Ningrum Natasya Sirait II, dkk, Loc. Cit.

142 Rachmadi Usman, Op. Cit., hal. 99.

dilakukan tersebut menghalangi atau menghambat persaingan usaha.143 Pendekatan rule of reason diisyaratkan untuk mempertimbangkan faktor-faktor seperti latar belakang dilakukannya tindakan, alasan bisnis dibalik tindakan itu dan sebagainya. Setelah melakukan pertimbangan terhadap faktor-faktor tersebut barulah dapat ditentukan apakah suatu tindakan bersifat ilegal atau tidak.144

Untuk melakukan penerapan prinsip rule of reason, yang diperlukan tidak hanya pengetahuan ilmu hukum, tetapi penguasaan terhadap ilmu ekonomi.

Karena dalam banyak kasus bukan tidak mungkin perbuatan yang dilakukan oleh pelaku usaha itu secara ekonomi dapat dibenarkan. Oleh karena itu, sangat disarankan bila komposisi anggota Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) itu terdiri dari para ahli ekonomi dan ahli hukum.145 Pasal-pasal yang menggunakan pendekatan rule of reason dalam UU Nomor 5 Tahun 1999, biasanya dapat diidentifikasi dengan melihat istilah “...yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan/atau persaingan usaha tidak sehat”.

C. Integrasi Vertikal dan Ketentuan Hukumnya dalam UU Nomor 5 Tahun