BAB IV ANALISIS YURIDIS PUTUSAN PENGADILAN NEGERI NOMOR 468/PDT.P/2020/PN JKT SEL YANG MEMBATALKAN PUTUSAN NOMOR
USAHA TERTENTU DALAM UU NO. 5/1999
A. Konsep Hukum Persaingan Usaha di Indonesia dalam UU Nomor 5 Tahun 1999
3. Tata Cara Penanganan Perkara di KPPU dalam Perkom No. 1 Tahun 2019 Tentang Tata Cara Penanganan Perkara di KPPU
Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) merupakan lembaga independen yang mempunyai tugas utama dalam menegakkan hukum persaingan
117 Osgar Sahim Matompo II, Maret 2019, “Penegakan Hukum Dalam Pengawasan Persaingan Usaha Di Indonesia”, Jurnal Ilmu Hukum, Vol.3 No.1, hal. 169.
118 Final and binding (final dan mengikat), fiinal (final) artinya putusan langsung memperoleh kekuatan hukum tetap sejak diucapkan. Akibat hukumnya secara umum, tidak ada upaya hukum yang dapat ditempuh terhadap putusan tersebut. Sedangkan arti putusan binding (mengikat) dalam putusan yaitu putusan tidak hanya berlaku bagi para pihak tetapi bagi seluruh masyarakat Indonesia. Tri Jata Ayu Pramesti, “Arti Putusan Final dan Mengikat”, https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt56fe01b271988/arti-putusan-yang-final-dan-mengikat/ diakses pada 11 Maret 2021.
119 Inkracht artinya berkekuatan hukum tetap dan tidak ada upaya hukum biasa yang dapat ditempuh lagi. https://kamushukum.web.id/arti-kata/inkracht/ diakses pada 13 Maret 2021.
120 Muh. Risnain, Maret 2014, “Eksistensi Lembaga Quasi Judisial Dalam Sistem Kekuasaan Kehakiman Di Indonesia : Kajian Terhadap Komisi Pengawas Persaingan Usaha”, Jurnal Hukum dan Peradilan, Volume 3, Nomor 1, hal. 53.
121 Ibid., hal. 50.
usaha sebagaimana ditegaskan dalam UU No. 5 Tahun 1999. Dalam menjalankan tugasnya tersebut, KPPU diberi kewenangan untuk menyusun pedoman atau publikasi yang berkaitan dengan UU NO. 5 Tahun 1999 sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 35 Huruf f. Selain itu juga, KPPU juga bertugas mengatur pelaksanaan tata cara penyampaian laporan sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 38 Ayat (4).122 Hukum Acara di KPPU ditetapkan dan berdiri sejak tahun 2000, hukum acara tersebut telah mengalami tiga kali perubahan diantaranya :
1. Keputusan Komisi 05/KPPU/Kep/IX/2000 tentang Tata Cara Penyampaian Laporan dan Penanganan Dugaan Pelanggaran Terhadap UU No. 5 Tahun 1999, diganti menjadi;
2. Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (PKPPU) Nomor 1 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penanganan Perkara di Komisi Pengawas Persaingan Usaha, digantikan dengan;
3. Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor (PKPPU) 1 Tahun 2010 tentang Tata Cara Penanganan Perkara, diganti dan dicabut dengan;
4. Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (PKPPU) Nomor 1 Tahun 2019 tentang Tata Cara Penanganan Perkara Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (PKPPU) Nomor 1 Tahun 2019 tentang Tata Cara Penanganan Perkara Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat merupakan peraturan hukum acara terbaru di KPPU.
Peraturan yang memiliki 78 pasal ini terdapat berbagai perubahan, penjelasan lebih detail dan lebih jelas jika dibandingkan dengan peraturan sebelumnya.
Dalam kesempatan terpisah, Ketua Umum Indonesia Competition Lawyers Association (ICLA), Asep Ridwan menyatakat terdapat sembilan hal ketentuan baru yang berimplikasi terhadap proses perkara persaingan usaha.123 Sembilan
122 Alum Simbolon, 2012, “Tata Cara Penanganan Perkara Persaingan Usaha”, Jurnal Hukum Bisnis Vol. 31 No. 06, hal. 656.
123 Mochamad Januar Rizki, “Yuk, Pahami Aturan Baru Tata Cara Persidangan KPPU”,
poin perubahan tersebut yaitu :
1. Kesempatan perubahan perilaku sebelum dilakukan pemeriksaan lebih lanjut;
2. Setiap dokumen yang diajukan bukti harus dilegalisasi di kantor pos;
3. Adanya pemberitahuan kepada pihak-pihak terkait apabila penyelidikan dihentikan;
4. Tata cara panggilan sidang kepada pihak yang di luar negeri;
5. Verstek atau kewenangan hakim memutus perkara jika terlapor tidak hadir setelah 2 kali dipanggil;
6. Penegasan mengenai prinsip minimum pembuktian dengan minimal 2 alat bukti;
7. Kriteria bukti petunjuk dan saksi yang bisa memberikan keterangan;
8. Tindakan-tindakan yang dapat dilakukan KPPU dalam pelaksanaan putusan seperti penyitaan;
9. Serta hal-hal lain yang bersifat teknis untuk kelancaran persidangan.124 Adapun tata cara penanganan perkara persaingan usaha di KPPU berdasarkan Perkom 1/2019 tentang Tata Cara Penanganan Perkara Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, ialah sebagai berikut:
a. Tahap Awal (Pasal 2-Pasal 14)
Berdasarkan Pasal 2 Perkom 1/2019, perkara di KPPU bersumber dari laporan dan inisiatif KPPU. Penanganan perkara yang bersumber dari laporan diawali dengan tahapan pelaporan yang dapat disampaikan melalui: kantor pusat Komisi; kantor perwakilan Komisi di daerah; atau aplikasi pelaporan secara daring. Kemudian Unit kerja melaporkan perihal diterimanya laporan kepada Ketua Komisi serta melakukan klarifikasi terhadap laporan.125 Apabila hasil Klarifikasi belum memenuhi persyaratan, maka unit kerja yang menangani laporan memberitahukan dan mengembalikan kepada Pelapor paling lama 14 (empat belas) hari sejak diterimanya laporan dan Pelapor wajib melengkapi www.hukumonline.com diakses pada 11 Maret 2021.
124 Ibid.
125 Alat bukti yang dimaksud yaitu berdasarkan Pasal 42 UU No. 5/1999 atau Pasal 45 Perkom No. 1/2019, yaitu: a. keterangan saksi, b. keterangan ahli, c. surat dan atau dokumen, d.
petunjuk, e. keterangan pelaku usaha.
laporannya paling lama 14 (empat belas) hari sejak dikembalikan. Jika Pelapor tidak melengkapi laporan dalam jangka waktu yang telah ditentukan, maka laporan dinyatakan tidak lengkap dan penanganannya dihentikan.
Penyelidikan perkara berdasarkan inisiatif KPPU dimulai atas persetujuan atau arahan rapat komisi, kemudian hasil dari penyelidikan tersebut dilaporkan secara administratif dan ringkas kepada Ketua Komisi. Unit kerja melaporkan secara ringkas dalam Rapat Koordinasi serta melakukan validasi dan analisis terhadap data atau informasi tentang dugaan pelanggaran Undang-Undang terkait identifikasi pelaku usaha dan pihak-pihak. Unit kerja yang menangani penelitian melaporkan hasil penelitian kepada Ketua Komisi setiap 14 (empat belas) hari. Kemudian, laporan hasil penelitian yang dilanjutkan ke tahap penelitian.
Untuk mengetahui apakah pemeriksaan yang dilakukan oleh KPPU karena adanya laporan ataupun atas dasar inisiatif dari KPPU, dapat dilihat dari nomor perkaranya. Untuk perkara atas dasar laporan No. perkara tersebut adalah:
nomor perkara/KPPU-L (laporan)/Tahun. Sedangkan untuk perkara atas dasar inisiatif dari KPPU, nomornya adalah sebagai berikut: No. perkara/KPPU-I (Inisiatif)/Tahun.126
b. Tahap Penyelidikan (Pasal 15-Pasal 28)
Penyelidikan dilakukan oleh unit kerja yang menangani penyelidikan dalam jangka waktu paling lama 60 (enam puluh) hari dan dapat diperpanjang berdasarkan keputusan Rapat Koordinasi dengan melakukan kegiatan, yaitu:
126 Andi Fahmi Lubis, dkk, Op. Cit., hal. 395.
a. memanggil dan menghadirkan Pelapor untuk dimintai keterangan;
b. memanggil dan menghadirkan Terlapor untuk dimintai keterangan;
c. memanggil dan menghadirkan Saksi untuk dimintai keterangan;
d. memanggil dan menghadirkan Ahli untuk dimintai keterangan;
e. mendapatkan surat dan/atau dokumen yang terkait dengan perkara;
memperoleh data terkait aset dan omset Terlapor;
f. melakukan Pemeriksaan setempat; dan/atau
g. melakukan analisis terhadap keterangan-keterangan, surat, dan/atau dokumen serta hasil Pemeriksaan setempat.
Investigator Pemeriksaan kemudian menilai kejelasan dan kelengkapan dugaan pelanggaran yang dituangkan dalam bentuk Laporan Hasil Penyelidikan.127 Kemudian Laporan Hasil Penyelidikan yang memenuhi ketentuan sebagaimana diserahkan kepada unit kerja yang menangani pemberkasan dan/atau penanganan perkara. Sedangkan Laporan Hasil Penyelidikan yang tidak memenuhi ketentuan dihentikan dan dicatat dalam Daftar Penghentian Penyelidikan dan selanjutnya dilaporkan dalam Rapat Koordinasi serta memberitahu penghentian kepada Pelapor dan Terlapor dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari setelah dicatat dalam Daftar Penghentian Penyelidikan.
c. Tahap Sidang Majelis Komisi (Pasal 29-Pasal 67)
Dalam tahap sidang Majelis Komisi, dibagi menjadi 2 (dua) tahap, yaitu:
1. Pemeriksaan Pendahuluan (Pasal 29-Pasal 39)
Tahap Pemeriksaan Pendahuluan dilakukan dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari. Jika Terlapor tidak hadir, Majelis Komisi akan melakukan pemanggilan secara patut kembali sebanyak-banyaknya 2 (dua) kali.
Apabila Terlapor tidak hadir pada panggilan kedua, maka Pemeriksaan Pendahuluan dimulai tanpa kehadiran Terlapor. Selanjutnya Investigator
127 Perkom 1 Tahun 2019 tentang Tata Cara Penanganan Perkara di KPPU, Pasal 45.
Penuntutan membacakan dan/atau menyampaikan Laporan Dugaan Pelanggaran yang dituduhkan kepada Terlapor. Kemudian Terlapor memberikan tanggapan terhadap Laporan Dugaan Pelanggaran dengan mengajukan alat-alat bukti (Alat bukti dapat berupa a. keterangan saksi; b. keterangan ahli; c. surat dan/atau dokumen; d. petunjuk; e. keterangan pelaku usaha, sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 45). Majelis Komisi memberikan kesempatan kepada Terlapor untuk melakukan perubahan perilaku yang diawasi oleh unit kerja yang menangani penyelidikan yang dilakukan paling lama 60 (enam puluh) hari, setelah Laporan Dugaan Pelanggaran dibacakan dan/atau disampaikan kepada Terlapor melalui komitmen Terlapor untuk melakukan perubahan perilaku yang dibuat dalam Pakta Integritas Perubahan Perilaku yang ditandatangani Terlapor.
2. Pemeriksaan Lanjutan (Pasal 40-Pasal 44)
Pemeriksaan Lanjutan terdiri dari: pemeriksaan Saksi; pemeriksaan Ahli;
pemeriksaan Terlapor; pemeriksaan alat bukti berupa surat dan/atau dokumen;
dan/atau penyampaian simpulan hasil persidangan oleh Terlapor dan Investigator Penuntutan. Pemeriksaan Lanjutan berakhir dalam jangka waktu paling lama 60 (enam puluh) hari sejak Pemeriksaan dimulai dan jika diperlukan, jangka waktu Pemeriksaan Lanjutan dapat diperpanjang paling lama 30 (tiga puluh) hari.
d. Tahap Putusan (Pasal 60-Pasal 67)
Majelis Komisi bermusyawarah secara tertutup untuk melakukan penilaian, menganalisa, menyimpulkan, dan memutuskan perkara berdasarkan alat bukti yang cukup terkait telah terjadi atau tidaknya pelanggaran terhadap UU No.
5 Tahun 1999 oleh terlapor yang terungkap dalam persidangan yang kemudian
dituangkan dalam putusan komisi. Putusan komisi harus dibacakan paling lambat 30 (tiga puluh hari) terhitung setelah berakhirnya pemeriksaan lanjutan.
Selanjutnya Panitera menyampaikan Petikan dan Salinan Putusan Komisi kepada Terlapor paling lambat 14 (empat belas) hari setelah Majelis Komisi membacakan Putusan Komisi. Apabila Terlapor tidak melaksanakan Putusan Komisi atau Putusan Pengadilan Negeri atau Putusan Mahkamah Agung yang telah memiliki kekuatan hukum tetap, maka Komisi menyerahkan Putusan tersebut kepada Pengadilan Negeri untuk dimintakan Penetapan Eksekusi.
4. Tata Cara Pengajuan Keberatan Terhadap Putusan KPPU dalam