BAB II LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
2. Pencegahan Eksploitasi Seksual Komersial Anak
a. Pencegahan
Pencegahan agar anak-anak dapat terhindar sebagai korban
eksploitasi seksual komersial merupakan langkah strategis yang harus
dilakukan. Langkah-langkah pencegahan selayaknya memperhatikan
faktor-faktor yang mempengaruhi seorang anak dapat menjadi korban.
Menurut Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 3 Tahun 2006
tentang Penanggulangan Eksploitasi Seksual Komersial menerangkan bahwa,
“Pencegahan adalah usaha mengurangi potensi terjadinya eksploitasi seksual
komersial”.
commit to user
Seperti yang diungkapkan oleh Stephanie Delaney (2006: 19),
“Pencegahan adalah aktivitas-aktivitas yang dirancang untuk memberikan
perlindungan permanen dari bencana”.
Tindakan pencegahan pada dasarnya bertujuan untuk meniadakan
kegiatan dan atau dampak kegiatan eksploitasi seksual komersial anak.
Jadi kesimpulannya pencegahan adalah segala usaha untuk
melindungi anak dan mengurangi potensi terjadinya eksploitasi seksual
komersial anak.
b. Eksploitasi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia “Eksploitasi adalah
pengusahaan, pendayagunaan, pemanfaatan untuk keuntungan sendiri;
penghisapan; pemerasan (tenaga orang)”. (Departemen Pendidikan Nasional,
2007: 290)
Kemudian dalam Pasal 1 angka 7 Undang-Undang Nomor 21 Tahun
2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang menjelaskan:
Eksploitasi adalah tindakan dengan atau tanpa persetujuan korban yang
meliputi tetapi tidak terbatas pada pelacuran, kerja atau pelayanan paksa,
perbudakan atau praktik serupa perbudakan, penindasan, pemerasan,
pemanfaatan fisik, seksual, organ reproduksi, atau secara melawan
hukum memindahkan atau mentransplantasi organ dan/atau jaringan
tubuh atau memanfaatkan tenaga atau kemampuan seseorang oleh pihak
lain untuk mendapatkan keuntungan baik materiil maupun immaterial.
Dalam Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 3 Tahun 2006
tentang Penanggulangan Eksploitasi Seksual Komersial Pasal 1 angka 21,
“Eksploitasi adalah tindakan pemanfaatan fisik, seksual, tenaga dan/atau
kemampuan diri sendiri oleh pihak lain yang dilakukan atau
sekurang-kurangnya dengan cara sewenang-wenang atau penipuan yang dilakukan
untuk mendapatkan keuntungan baik material maupun non material”.
Kesimpulannya eksploitasi adalah tindakan yang berupa
pendayagunaan, pemanfaatan, pengusapan, pemerasan fisik maupun seksual
untuk mendapatkan keuntungan baik material maupun non material.
commit to user
c. Eksploitasi Seksual
Dalam bukunya Kartini Kartono (2005: 221-222), Freud menyebut
bahwa “Seks sebagai libido sexualis (libido = gasang, dukana, dorongan hidup
nafsu erotik). Seks juga merupakan mekanisme bagi manusia untuk
mengadakan keturunan. Karena itu seks dianggap sebagai mekanisme yang
sangat vital dimana manusia bisa mengabadikan jenisnya”.
Pengertian eksploitasi seksual menurut pendapat Irwanto adalah:
Eksploitasi Seksual adalah memperlakukan anak sebagai komoditas,
sebagai barang dagangan. Anak yang diperlakukan sebagai objek seksual
dipakai untuk mendapatkan uang, barang, atau jasa-kebaikan oleh pelaku
eksploitasi, perantara atau agen dan orang-orang lain yang terlibat.
Pelakunya adalah orang-orang terdekat, seperti orang tua, saudara
kandung, atau orang-orang yang dikenal anak dalam komunitasnya,
tetapi juga orang-orang yang tidak dikenal. (Irwanto dkk, 2008: 9)
Menurut Kartini Kartono, “Eksploitasi seks berarti penghisapan atau
penggunaan serta pemanfaatan relasi seks semaksimal mungkin oleh pihak
pria. Sedang komersialisasi seks berarti perdagangan seks, dalam bentuk
penukaran kenikmatan seksual dengan benda-benda, materi dan uang”.
(Kartini Kartono, 2005: 217)
Pasal 1 angka 8 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, menjelaskan bahwa:
“Eksploitasi Seksual adalah segala bentuk pemanfaatan organ tubuh seksual
atau organ tubuh lain dari korban untuk mendapatkan keuntungan, termasuk
tetapi tidak terbatas pada semua kegiatan pelacuran dan percabulan”.
Sarah Alexander, Stan Meuwese, dan Annemieke Wolthuis (2000:
479) mengemukakan bahwa Serikat Eropa mendefinisikan eksploitasi seksual
seperti perilaku berikut:
1) The inducement or coercion of a child to engage in any unlawful sexual
activity;
2) The exploitative use of a child in prostitution or other unlawful sexual
practices, and/ or
3) The exploitative use of children in pornographic performances and
materials, including the production, sale and distribution or other forms
of trafficking in such materials. And the possession of such materials.
commit to user
Artinya adalah:
1) Penghasutan atau pemaksaan anak untuk terlibat dalam kegiatan seks yang
melanggar hukum;
2) Eksploitasi anak dalam prostitusi (pelacuran) atau praktek seksual yang
melanggar hukum lainnya, dan/atau
3) Eksploitasi anak-anak dalam pertunjukan dan materi-materi pornografi,
termasuk pembuatan, penjualan dan penyebaran atau bentuk-bentuk
perdagangan lainnya dalam barang-barang tersebut. Dan kepemilikan
barang-barang semacam itu.
Dalam Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 3 Tahun 2006
tentang Penanggulangan Eksploitasi Seksual Komersial Pasal 1 angka 22,
“Seksual Komersial adalah segala tindakan mempergunakan badan/fisik untuk
kepuasaan seksual orang lain dengan imbalan tunai atau dalam bentuk lain”.
Jadi dapat disimpulkan eksploitasi seksual adalah segala bentuk
perlakuan yang menempatkan anak sebagai objek seksual untuk tujuan-tujuan
mendapatkan keuntungan.
d. Eksploitasi Seksual Komersial
Dalam Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 3 Tahun 2006
tentang Penanggulangan Eksploitasi Seksual Komersial Pasal 1 angka 23
menjelaskan:
Eksploitasi Seksual Komersial adalah tindakan eksploitasi terhadap
orang (dewasa dan anak, perempuan dan laki-laki) untuk tujuan seksual
dengan imbalan tunai atau dalam bentuk lain antara orang, pembeli jasa
seks, perantara atau agen, dan pihak lain yang memperoleh keuntungan
dari perdagangan seksualitas tersebut.
“Eksploitasi seksual komersial dapat didefinisikan sebagai kekerasan
seksual terhadap anak untuk mendapatkan bayaran atau kebaikan. Bayaran ini
bisa berupa uang, kebaikan atau keuntungan-keuntungan lain seperti makanan,
perlindungan atau tempat tinggal”. (Stephanie Delaney, 2006: 10-11)
Kesimpulannya eksploitasi seksual komersial adalah tindakan yang
berupa pendayagunaan, pemanfaatan, pengusapan, pemerasan fisik maupun
commit to user
seksual untuk mendapatkan keuntungan materiil dalam bentuk perlakuan yang
menempatkan anak sebagai objek seksual untuk tujuan-tujuan mendapatkan
keuntungan.
e. Eksploitasi Seksual Komersial Anak
Eksploitasi seksual komersial anak mencangkup praktek-praktek
kriminal yang merendahkan dan mengancam integritas fisik dan psikososial
anak. Deklarasi dan Agenda Aksi untuk menentang eksploitasi seksual
komersial anak merupakan instrumen yang pertama-tama mendefinisikan
eksploitasi seksual komersial anak sebagai:
Sebuah pelanggaran mendasar terhadap hak-hak anak. Pelanggaran
tersebut terdiri dari kekerasan seksual oleh orang dewasa dan pemberian
imbalan dalam bentuk uang tunai atau barang terhadap anak, atau orang
ketiga, atau orang-orang lainnya. Anak tersebut diperlakukan sebagai
sebuah objek seksual dan sebagai objek komersial. Eksploitasi Seksual
Komersial Anak merupakan sebuah bentuk pemaksaan dan kekerasan
terhadap anak, dan mengarah pada bentuk-bentuk kerja paksa serta
perbudakan modern. (ECPAT Internasional, 2006: 4)
Deklarasi dan Agenda Aksi ini telah diadopsi oleh 122 negara
termasuk Indonesia, merupakan pelaksanaan Kongres Dunia pertama kali
untuk menentang Eksploitasi Seksual Komersial Anak bertempat di
Stockholm, Swedia, pada tahun 1996.
Eksploitasi Seksual Komersial Anak sering disebut ESKA, ECPAT
(End Child Prostitution In Asia Tourism) Internasional dalam Pusat Kajian
dan Perlindungan Anak (PKPA) Medan, dkk (2008: 6) mendefinisikan bahwa
“ESKA sebagai sebuah pelanggaran mendasar terhadap hak-hak anak.
Pelanggaran tersebut berupa kekerasan seksual oleh orang dewasa dengan
pemberian imbalan kepada anak, atau orang ketiga, atau orang-orang lainnya.
Sederhananya anak diperlakukan sebagai objek seksual dan komersial”.
Berdasarkan pengertian eksploitasi seksual komersial anak yang
ditegaskan di atas tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa anak-anak
tersebut merupakan korban dari kejahatan (tindak kriminal) yang dilakukan
commit to user
oleh orang (dewasa) dengan memanfaatkan seksualitas anak yang
bersangkutan.
Eksploitasi seksual komersial dibedakan dari eksploitasi seksual non
komersial, yang biasa disebut dengan berbagai istilah seperti pencabulan
terhadap anak, perkosaan, kekerasan seksual, dan sebagainya. Melalui ESKA,
seorang anak tidak hanya menjadi sebuah obyek seks tetapi juga sebuah
komoditas yang membuatnya berbeda dalam hal intervensi. ESKA adalah
penggunaan seorang anak untuk tujuan-tujuan seksual guna mendapatkan
uang, barang atau jasa kebaikan bagi pelaku eksploitasi, perantara atau agen
dan orang-orang lain yang mendapatkan keuntungan dari eksploitasi seksual
terhadap anak tersebut. Hal ini merupakan pelanggaran terhadap hak-hak anak
dan elemen kuncinya adalah bahwa pelanggaran ini muncul melalui berbagai
bentuk transaksi komersial dimana satu atau berbagai pihak mendapatkan
keuntungan.
Penting untuk memasukkan transaksi-transaksi yang bersifat jasa dan
kebaikan ke dalam definisi tersebut karena ada kencenderungan untuk
memandang transaksi-transaksi seperti itu sebagai pemberian izin dari pihak
anak. Jika terjadi eksploitasi seksual untuk mendapatkan perlindungan, tempat
tinggal, akses untuk mendapatkan nilai yang lebih tinggi di sekolah atau naik
kelas maka anak tersebut tidak memberikan “izin” atas transaksi tersebut
melainkan korban dari orang atau orang-orang yang memanipulasi dan
menyalahkan kekuasaan dan tanggung jawab mereka.
Antara eksploitasi seksual komersial anak berbeda dengan kekerasan
seksual anak, kekerasan seksual terhadap anak tidak ada keuntungan
komersial walaupun eksploitasi seksual juga merupakan kekerasan.
Tindakan pencegahan eksploitasi seksual komersial menurut
Peraturan Daerah Kota Surakarta nomor 3 Tahun 2006 tentang
Penanggulangan Eksploitasi Seksual Komersial dalam Pasal 11 ayat (2) dapat
dilakukan dengan cara:
1) Memperluas lapangan pekerjaan;
commit to user
3) Membangun kesadaran hak anak dan perempuan terhadap hak-haknya
khususnya di lingkungan yang rentan terhadap adanya kegiatan eksploitasi
seksual komersial;
4) Memberikan pendidikan seks melalui jalur pendidikan formal dan non
formal;
5) Melakukan sosialisasi dan kampanye terhadap pencegahan eksploitasi
seksual komersial;
6) Melakukan pengawasan yang bersifat preventif maupun represif dalam
upaya melaksanakan tindakan pencegahan dan penanggulangan eksploitasi
seksual komersial;
7) Melaksanakan kerjasama antar daerah yang dilakukan melalui pertukaran
informasi, kerja sama penanggulangan dan kegiatan teknis lainnya sesuai
dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku;
8) Melakukan koordinasi yang diperlukan pemerintah provinsi dan
pemerintah pusat.
Dalam suatu kegiatan tidak selamanya berjalan dengan lancar sering
kali ditemukan hambatan-hambatan, begitu pula dalam mencegah ESKA.
Salah satu hambatan yang dihadapi organisasi non pemerintah berkaitan
dengan masalah internalnya seperti yang diungkapkan oleh Stephanie Delaney
(2006: 44) bahwa “salah satu kesulitan yang dihadapi organisasi-organisasi
lokal adalah bahwa mereka mengalami kekurangan sumber-sumber yang
dibutuhkan”. Adapun hambatan lain yaitu dari sisi eksternalnya, menurut
PKPA Medan dkk (2008: 12) salah satu hambatannya yaitu “masyarakat
sudah menganggap lumrah pekerjaan sebagai PSK, malahan sebagai alternatif
termudah, jalan pintas mencapai kekayaan”. Selanjutnya, dijelaskan pula
bahwa:
Faktor yang melangengkan anak untuk tetap berada dalam lingkaran
ESKA adalah sebuah kenyataan bahwa bekerja di sektor ini membuat
anak merasa mudah mendapatkan uang untuk mencukupi kebutuhan
mereka, bahkan ketika mereka berkeinginan untuk keluar, anak-anak
mengalami kesulitan karena pengaruh orang lain, atau sudah terlanjur
nyaman dengan kondisi mereka. (PKPA Medan dkk, 2008: 28)
commit to user
Hal yang dikemukakan diatas mungkin menjadi hambatan-hambatan
ketika yayasan KAKAK melakukan pencegahan ESKA.
f. Bentuk-bentuk Eksploitasi Seksual Komersial Anak
Menurut ECPAT (End Child Prostitution In Asia Tourism)
Internasional bentuk-bentuk Eksploitasi Seksual Komersial Anak yaitu:
1)Prostitusi anak
Tindakan menawarkan pelayanan atau pelayanan langsung seorang anak
untuk melakukan tindakan seksual demi mendapatkan uang atau imbalan
lain.
2)Pornografi anak
Pertunjukkan apapun atau dengan cara apa saja yang melibatkan anak
didalam aktivitas seksual yang nyata atau yang menampilkan bagian tubuh
anak demi tujuan-tujuan seksual.
3)Perdagangan anak untuk tujuan seksual
Proses perekrutan, pemindah-tanganan atau penampungan dan penerimaan
anak untuk tujuan eksploitasi seksual.
(PKPA Medan dkk, 2008: 6)
Definisi lain menurut Stephanie Delaney (2006: 10-11) ada tiga
bentuk dasar ekspoitasi seksual komersial terhadap anak yang saling berkaitan
antara yang satu dengan yang lainnya, yaitu: “pelacuran, pornografi dan
perdagangan untuk tujuan seksual”.
1) Pelacuran anak terjadi ketika seseorang mengambil keuntungan dari
sebuah transaksi komersial dimana seorang anak dipergunakan untuk
tujuan-tujuan seksual. Beberapa orang yang mendapat keuntungan dari
transaksi komersial tersebut adalah mucikari atau germo, perantara atau
agen, orang tua dan sektor-sektor bisnis terkait seperti hotel. Anak-anak
tersebut juga dilibatkan dalam pelacuran ketika mereka melakukan
hubungan seks dengan imbalan kebutuhan-kebutuhan dasar seperti
makanan, tempat tinggal atau keamanan atau bantuan untuk mendapatkan
nilai yang tinggi di sekolah atau uang saku ekstra untuk membeli
barang-barang konsumtif.
2) Pornografi anak berarti pertunjukkan apapun atau dengan cara apa saja
yang melibatkan anak di dalam aktivitas seksual yang nyata atau eksplisit
atau yang menampilkan bagian tubuh anak demi tujuan-tujuan seksual.
commit to user
Ciri-ciri utama pornografi anak adalah bahwa pornografi anak dibuat untuk
mendapatkan kepuasan seksual. Yang termasuk pornografi anak adalah
foto, negatif film, slide, majalah, buku, gambar, rekaman film, kaset video,
disket, atau file komputer dan foto-foto yang disimpan dalam telepon
gengggam.
3) Trafficking adalah perekrutan, pemindahan, pengiriman atau penerimaan,
anak-anak (dan orang dewasa) untuk tujuan eksploitasi. Bentuk yang lain
adalah pariwisata seks anak. Pariwisata seks anak merupakan eksploitasi
seksual komersial anak yang dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan
yang melakukan perjalanan dari suatu tempat ke tempat lain, baik di
negara lain maupun di dalam wilayah yang berbeda di negaranya sendiri,
dan di tempat tersebut mereka melakukan hubungan seks dengan
anak-anak, para wisatawan seks anak dapat secara khusus memiliki pilihan
untuk menjadikan anak-anak sebagai pasangan seks mereka atau mereka
mungkin hanya sekedar memanfaatkan sebuah situasi dimana seorang
anak memang tersedia untuk mereka untuk melakukan eksploitasi seksual.
Dalam Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 3 Tahun 2006
tentang Penanggulangan Eksploitasi Seksual Komersial juga dijelaskan
kegiatan yang masuk dalam kategori ESKA namun hanya difokuskan pada
dua kegiatan yaitu:
1) Perdagangan orang untuk tujuan seksual adalah kegiatan mencari,
mengirim, memindahkan, menampung, menerima tenaga kerja dengan
ancaman kekerasan dan/atau kekerasan, bentuk-bentuk pemaksaan lainnya
dengan cara menculik, menipu, memperdaya termasuk membujuk dan
mengiming-imingi korban untuk tujuan eksploitasi seksual komersial.
2) Prostitusi adalah penggunaan orang dalam kegiatan seksual dengan
pembayaran atau dengan imbalan dalam bentuk lain.
Berikut ini penulis jabarkan lagi tentang bentuk-bentuk eksploitasi
seksual komersial anak, yaitu sebagai berikut:
commit to user
1) Pelacuran Anak
Pengertian pelacuran menurut Kartini Kartono (2005: 207),
“Pelacuran berasal dari bahasa latin pro-stituere atau pro-stauree, yang
berarti membiarkan diri berbuat zina, melakukan persundalan, pencabulan,
dan pergendakan. Sedang prostitute adalah pelacur atau sundal”.
Definisi prostitusi dikemukakan pula oleh Kartini Kartono
bahwa:
Prostitusi adalah bentuk penyimpangan seksual, dengan pola-pola
organisasi impuls/dorongan seks yang tidak wajar dan tidak
terintegrasi dalam bentuk pelampiasan nafsu-nafsu seks tanpa
kendali dengan banyak orang (promiskiutas), disertai eksploitasi dan
komersialisasi seks impersional tanpa afeksi sifatnya.
(Kartini Kartono, 2005: 216)
Menurut Brian M. Willis dan Barry S. Levy (2002: 1417) dalam
jurnal internasional, mengatakan bahwa, “Child prostitution involves
offering the sexual services of a child or inducing a child to perform
sexual acts for any form of compensation, financial or otherwise”. Yang
artinya, Pelacuran anak menyangkut penawaran jasa seksual anak atau
membujuk seorang anak untuk melakukan tindakan seksual atas setiap
bentuk kompensasi, keuangan atau sebaliknya.
Pelacur-pelacur ini bisa digolongkan dalam dua kategori yaitu:
a) Mereka yang melakukan profesinya dengan sadar dan suka rela
berdasarkan motivasi-motivasi tertentu;
b) Mereka yang melakukan tugas melacur karena ditawan/dijebak dan
dipaksa oleh germo-germo yang terdiri atas penjahat-penjahat,
calo-calo, dan anggota-anggota organisasi gelap penjual wanita dan
pengusaha bordil. Dengan bujukan dan janji-janji manis, ratusan
bahkan ribuan gadis-gadis cantik dipikat dengan janji akan
mendapatkan pekerjaan terhormat dengan gaji besar. Namun pada
akhirnya, mereka dijebloskan ke dalam rumah-rumah pelacuran yang
dijaga dengan ketat, secara paksa, kejam, dan sadistis, dengan
pukulan dan hantaman mereka harus melayani buaya-buaya seks
yang tidak berperikemanusiaan. Jika para gadis itu tampak ragu-ragu
atau enggan melakukan relasi seks, maka mereka itu dihajar dengan
pukulan-pukulan dan diberi obat perangsang nafsu seks, sehingga
mereka menjadi tidak sadar dan tidak berdaya. Dan di bawah
pengaruh obat-obatan itu, mereka dipaksa melakukan adegan-adegan
porno/cabul yang seram (namun menghancurkan hati anak-anak
commit to user
gadis tersebut). Dengan bandit-bandit seks. (Kartini Kartono, 2005:
239)
Berdasarkan golongan kategori pelacur tersebut dapat ditarik
kesimpulan bahwa pelacur anak yang dimaksud dalam penelitian ini, yaitu
mereka yang masuk kategori yang kedua, karena mereka adalah korban
sehingga mereka berprofesi sebagai pelacur.
Pelacuran anak terjadi ketika seseorang mengambil keuntungan
dari sebuah transaksi komersial dimana seorang anak disediakan untuk
tujuan-tujuan seksual. Anak-anak tersebut mungkin dikendalikan oleh
seorang perantara yang mengatur atau mengawasi transaksi tersebut atau
oleh seorang pelaku eksploitasi yang bernegosiasi langsung dengan anak
tersebut.
Anak-anak tersebut juga dilibatkan dalam pelacuran ketika
mereka melakukan hubungan seks dengan imbalan-imbalan
kebutuhan-kebutuhan dasar seperti makanan, tempat tinggal atau keamanan atau
bantuan untuk mendapatkan nilai yang tinggi di sekolah atau uang saku
ekstra untuk membeli barang-barang konsumtif. Semua perbuatan ini
dapat terjadi tempat yang berbeda seperti lokalisasi, bar, klub malam,
rumah, hotel atau di jalanan.
Kuncinya bahwa bukan anak-anak yang memilih untuk terlibat
dalam pelacuran agar dapat bertahan hidup atau untuk membeli
barang-barang konsumtif, tetapi mereka didorong oleh keadaan, struktur sosial
dan pelaku-pelaku individu kedalam situasi-situasi dimana orang dewasa
memanfaatkan kerentanan mereka serta mengeksploitasi dan melakukan
kekerasaan seksual kepada mereka.
Istilah “pelacur anak” atau “pekerja seks anak” mengisyaratkan
bahwa seorang anak seolah-olah memilih hal tersebut sebagai sebuah
pekerjaan atau profesi. Hal ini salah, karena orang-orang dewasalah yang
menciptakan “pelacuran anak” melalui permintaan mereka atas anak-anak
untuk dijadikan sebagai obyek seks, penyalahgunaan kekuasaan dan
keinginan mereka untuk mengambil keuntungan sedangkan anak-anak
commit to user
tersebut hanyalah korban. Jadi dapat dikatakan bahwa mereka adalah
“anak yang dilacurkan”.
Eksploitasi seksual komersial anak melalui pelacuran merupakan
masalah global dan terkait erat dengan pornografi anak dan perdagangan
anak untuk tujuan-tujuan seksual.
2) Pornografi Anak
Mengutip pendapatnya A. Hamzah, “Kata pornografi berasal dari
bahasa Yunani, porne artinya pelacur, dan graphein artinya ungkapan”.
(Neng Djubaedah, 2003: 138)
Menurut R. Ogien, dalam Haryatmoko, (2007: 93) “Pornografi
dapat didefinisikan sebagai representasi eksplisit (gambar, tulisan, lukisan,
dan foto) dari aktivitas seksual atau hal yang tidak senonoh, mesum atau
cabul yang dimaksudkan untuk dikomunikasikan ke publik”.
Dalam Protokol Opsional Konvensi Hak Anak menyebutkan
“Pornografi anak berarti pertunjukkan apaun atau dengan cara apa saja
yang melibatkan anak di dalam aktivitas seksual yang nyata atau eksplisit
atau yang menampilkan bagian tubuh anak demi tujuan-tujuan seksual”.
(ECPAT Internasional, 2006: 7)
Pornografi anak termasuk foto, pertunjukan visual, dan audio dan
tulisan dan dapat disebarkan melalui majalah, buku, gambar, film, kaset
video, hand phone serta disket atau file komputer. Penggambaran itu dapat
bersifat eksplisit atau secara jelas melukiskan anak dalam sebuah aktivitas
seksual atau secara tersamar di mana tubuh anak dicitrakan secara seronok
dan merangsang.
Dengan bahasa lugas, pornografi dianggap akan menimbulkan
daya tarik seksual sehingga akan mendorong perilaku yang
membahayakan atau merugikan orang lain dan dirinya sendiri.
Mengutip pendapatnya Haryatmoko (2007: 96) “Menurut teori
peniruan, semakin orang sering melihat pornografi, semakin ia terdorong
untuk ikut melakukan”.
commit to user
Dalam teori ini terlihat bahaya dari pornografi dimana seseorang
akan meniru segala sesuatu yang dilihat secara terus menerus. Hal inilah
yang nantinya akan menjadi suatu kebiasaan dan akan merusak moral.
Persoalan pornografi ini akan menjadi sebuah perdebatan ketika
dihadapkan dengan suatu karya seni (baik seni rupa maupun fotografi)
karena selalu dihubungkan dengan kebebasan berekspresi dan berbicara.
Seperti yang dikemukakan oleh Haryatmoko:
Persoalan pornografi menjadi pelik karena pertama, berhadapan
dengan masalah kebebasan berekspresi, terutama bila mengandung
nilai seni. Kedua, bagaimana menghadapi hak akan informasi. Dan
ketiga, bagaimana menjamin hak untuk memenuhi pilihan pribadi,
bila nilai seni dan pendidikannya dianggap meragukan.
(Haryatmoko, 2007: 96)
Menghadapi masalah tersebut langkah yang dilakukan adalah
menentukan batasan pornografi, selanjutnya Haryatmoko (2007: 97)
menyatakan bahwa:
Masalah pornografi bukan masalah relativisme bila
mempertimbangkan sedikitnya empat acuan: pertama,
mempertimbangkan konsepsi umum tentang seni. Dalam hal ini
perlu diperhitungkan peran maksud pengarang dalam penentuan
ciri-ciri karya seni, hakikat semua apresiasi yang masuk akal tentang
karya seni. Kedua, mempertimbangkan konsepsi moral. Dasar
ukuran moral umum ialah apakah mengakibatkan dehumanisasi atau
terjadi pengobjekkan manusia. Ketiga, perlu diperhitungkan reaksi
emosional yang ditimbulkan. Reaksi emosional macam apa yang
ditimbulkan oleh karya tersebut (senang, jijik atau rangsangan
seksual). Keempat, perlu dipertimbangkan pandangan dari berbagai
teori psikologi (cartharsis, imitasi, dan pembiasaan). Dari keempat
pertimbangan itu, penting untuk mendefinisikan secara lebih
bertanggung jawab pembedaan seni dan pornografi, termasuk
pembedaan antara pornografi dan erotisme.
Secara umum dalam ECPAT Internasional (2006: 7)
menyebutkan ada dua kategori pornografi yaitu “Pornografi yang tidak
eksplisit secara seksual tetapi mengandung gambar anak-anak yang
telanjang dan menggairahkan serta pornografi yang menyajikan gambar
anak-anak yang terlibat dalam kegiatan seksual”. Pengunaan gambar anak
dalam kedua kategori tersebut adalah eksploitasi seksual.
commit to user
Pornografi anak mengeksploitasikan anak-anak dalam berbagai
Dalam dokumen
PENCEGAHAN EKSPLOITASI SEKSUAL KOMERSIAL ANAK (Studi Tentang Partisipasi Yayasan “KAKAK” di Surakarta)
(Halaman 31-59)