• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDAHULUAN

Dalam dokumen LAPORAN AKSI PERUBAHAN (Halaman 6-10)

1. Latar Belakang

Rancangan Renstra Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) 2020-2024 berdasarkan Land Management Paradigm menjelaskan bahwa Kadaster dan Infrastruktur Pertanahan (KIP) dibutuhkan sebagai pondasi untuk mencapai visi dan misi Kementerian ATR/BPN. KIP menjadi basic layer bagi berbagai macam kegiatan pertanahan, yaitu land tenure, land value, land use, dan land development. KIP terwujud melalui penyediaan informasi geospasial tematik pertanahan dan ruang (GTPR).

Gambar 0.1 Rancangan Rencana Strategis (Renstra) Kementerian ATR/BPN 2020-2024 (sumber: Rapat Kerja Nasional Kementerian ATR/BPN 2020)

Salah satu indikator keberhasilan dari penyediaan informasi geospasial tematik pertanahan dan ruang adalah rasio/cakupan luas bidang tanah terpetakan.

Berdasarkan data dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, luas Area Penggunaan Lain (APL) di Indonesia adalah seluas 64.324.602 Ha. Dimana di luas APL tersebut, setiap bidang tanah harus sudah terpetakan, terdaftar, dan hasil akhirnya adalah bersertifikat (memiliki hak). Sedangkan data dari KKP sampai dengan 2019, luas bidang tanah terdaftar melalui kegiatan pertanahan di APL telah mencapai 43.239.305 Ha atau sekitar 67,2% (termasuk fasum dan fasos). Sehingga ada seluas 21.085.297 Ha (32,8%) tanah yang belum terpetakan dan terdaftar. Luas tersebut di atas, menjadi program prioritas nasional Kementerian ATR/BPN melalui Direktorat Jenderal Infrastruktur Keagrariaan untuk melaksanakan pemetaan dan pendaftarannya (Peta Bidang Tanah).

Dalam rangka pemenuhan bidang tanah terpetakan, di Unit Eselon II pada Direktorat Jenderal Infrastruktur Keagrariaan menyelenggarakan kegiatan antara lain: (1) pengukuran bidang tanah kadastral sistematis maupun sporadis, yang hasil akhirnya adalah Peta Bidang Tanah, dan (2) peta tematik pertanahan dan ruang yang hasil akhirnya adalah peta tematik yang memuat informasi penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah (P4T). Penyediaan Peta Tematik Pertanahan dan Ruang menjadi tanggung jawab Direktorat Survei dan Pemetaan Tematik dalam hal

7 ini Subdirektorat Pemetaan Tematik Pertanahan pada seksi Pemetaan Tematik dan Analis Tematik Pertanahan.

Sesuai dengan Instruksi Presiden Republik Indonesia dalam rangka pencadangan tanah pertanian untuk ketahanan pangan (food estate) dalam menghadapi musim kemarau panjang dan bencana COVID-19, melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (sumber: https://www.youtube.com/watch?v=7xmyHabH0Ig), pemerintah mendorong untuk membuka lahan baru persawahan baik lahan basah maupun lahan gambut di Provinsi Kalimantan Tengah.

Lahan yang akan digunakan untuk pengembangan food estate di Provinsi Kalimantan Tengah berada di Kawasan Eks-PLG seluas 1.462.000 Ha, yang terdiri dari Blok A, B, C, D dan E. Menurut data dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian ada seluas 295.500 Ha, lahan yang berpotensi menjadi wilayah pengembangan sesuai peruntukan kawasan budidaya, terletak di Blok A dan D kawasan Eks PLG, yang meliputi 3 kabupaten, yaitu Kabupaten Kapuas, Kabupaten Pulang Pisau, dan Kabupaten Barito Selatan.

Gambar 0.2 Zonasi Makro Kawasan Eks-PLG 1.462.000 Ha

Rincian pemanfaatan di Kawasan Eks-PLG seluas 295.000 Ha dapat dijelaskan pada tabel berikut:

Tabel 1 Pemanfaatan Kawasan Eks-PLG untuk Pengembangan Food Estate di Provinsi Kalimantan Tengah

8 Sejak dicanangkannya kebijakan pemerintah untuk membuka lahan baru persawahan di Provinsi Kalimantan Tengah, menuai banyak pro dan kontra dari masyarakat/pakar/(Lembaga Swadaya Masyarakat) LSM. Mengutip dari Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalimantan Tengah, Dimas Hartono, "Kami khawatir dengan prediksi BMKG 2020 ini kemarau cukup panjang.

Kami khawatir kalau ini dilaksanakan, merusak gambut yang ada, maka konflik lahan akan terus berlanjut, perusakan ekosistem akan terus terjadi di Kalteng." (sumber:

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200507203841-20-501110/walhi-lokasi-kotak-sawah-jokowi-adalah-kawasan-konservasi).

Membenarkan pernyataan Direktur Eksekutif WALHI, Pakar kebakaran hutan dan lahan gambut Institut Pertanian Bogor Bambang Hero Saharjo, meminta Pemerintah mempertimbangkan kegagalan proyek Pengembangan Lahan Gambut (PLG) satu juta hektare di Kalimantan Tengah terkait program cetak sawah (sumber:

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200515144653-20-503766/pengamat-soal-cetak-sawah-44-persen-karhutla-2019-di-gambut). Proyek itu berakhir dengan kegagalan total. Sekitar separuh dari 15.594 keluarga transmigran yang ditempatkan di kawasan gambut tersebut meninggalkan lokasi. Sementara, penduduk setempat mengalami kerugian akibat kerusakan sumber daya alam akibat proyek tersebut.

Hal-hal tersebut di atas, menjadi perhatian khusus pemerintah dalam hal penerapan kebijakan untuk menyusun perencanaan pengembangan dan pembangunan yang komprehensif pada area yang dijadikan lokasi lahan sawah baru.

Tujuan dari perencanaan yang komprehensif supaya tidak terjadi konflik kepentingan dikemudian hari dan pembangunan yang dilakukan tepat sasaran guna menciptakan ketahanan pangan yang berkelanjutan.

Dalam menyusun perencanaan yang komprehensif tersebut Kementerian ATR/BPN dilibatkan dalam menyusun kajian/studi kelayakan guna ekstensifikasi dan intensifikasi pada kawasan Eks-PLG yang dijadikan rekomendasi untuk pengembangan food estate. Dukungan yang diberikan oleh Kementerian ATR/BPN adalah berupa akses legal tata ruang dan pertanahan. Dukungan akses legal tata ruang dan pertanahan meliputi kegiatan: (a) survei P4T; (b) penyelarasan RDTR untuk keperluan pengembangan Kawasan Logistik (dry-port, stasiun, pelabuhan), Kawasan Agro Industrial Estate, Kawasan Permukiman; validasi tanah terdaftar di lokasi; (c) kegiatan sosial ekonomi dan pemberdayaan masyarakat; (d) penilaian tanah dan konsolidasi tanah.

Peran Direktorat Jenderal Infrastruktur Keagrariaan melalui Direktorat Survei dan Pemetaan Tematik adalah menyelenggarakan kegiatan Peta Tematik Pertanahan dan Ruang sebagai Basic Layer bagi Kegiatan Pengelolaan dan Pelayanan Pertanahan dalam rangka pengembangan food estate di Provinsi Kalimantan Tengah. Metode pengumpulan data primer yang dilakukan melalui Survei P4T. Output dari penyelenggaraan kegiatan ini adalah data dan informasi penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan setiap bidang tanah. Data-data ini nantinya yang akan digunakan untuk tahapan legal atau penataan ruang dan pertanahan selanjutnya.

Lebih lanjut, dengan keterbatasan anggaran yang tersedia di Direktorat Survei dan Pemetaan Tematik tahun 2020, luas wilayah yang ter-cover hanya ± 74.400 Ha. Sisa luas yang belum terpenuhi oleh kegiatan peta tematik pertanahan dan ruang akan dilaksanakan di tahun 2021.

2. Tujuan

Tujuan dari penyelenggaraan kegiatan Penyediaan Peta Tematik Pertanahan dan Ruang sebagai Basic Layer bagi Kegiatan Pengelolaan dan Pelayanan Pertanahan dalam rangka Pengembangan Food Estate di Provinsi Kalimantan Tengah adalah

9 melakukan pendataan pertanahan untuk mendapatkan gambaran secara spasial tentang penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah secara sistematis pada lokasi yang akan dijadikan ketahanan pangan. Hasil kegiatan ini menjadi informasi dasar (basic layer) bagi perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pertanahan selanjutnya serta perumusan kebijakan bagi K/L/D terkait.

3. Manfaat

Manfaat dari penyelenggaraan kegiatan Penyediaan Peta Tematik Pertanahan dan Ruang sebagai Basic Layer bagi Kegiatan Pengelolaan dan Pelayanan Pertanahan dalam rangka Pengembangan Food Estate di Provinsi Kalimantan Tengah adalah sebagai berikut:

a. Melindungi kepentingan-kepentingan masyarakat/badan hukum (jaminan keamanan) tentang penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah;

b. Menjadi dasar bagi tahapan kegiatan pertanahan selanjutnya (akses legal pertanahan dan tata ruang), yaitu:

- penyelarasan RDTR untuk keperluan pengembangan Kawasan Logistik (dry-port, stasiun, pelabuhan), Kawasan Agro Industrial Estate, Kawasan Permukiman;

- validasi tanah terdaftar di lokasi;

- kegiatan sosial ekonomi dan pemberdayaan masyarakat;

- penilaian tanah dan konsolidasi tanah;

c. Menjadi dasar bagi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dalam menentukan Kebijakan Pangan terkait Penanganan Dampak COVID-19 dan kemarau panjang;

d. Menjadi dasar bagi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk pengembangan dan pembangunan infrastruktur (seperti jalan, saluran irigasi, dsb);

e. Menjadi dasar bagi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam hal penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS);

f. Menjadi dasar bagi Kementerian Pertanian dalam melakukan kebijakan ekstensifikasi dan intensifikasi di lokasi ketahanan pangan;

g. Menjadi dasar bagi Pemerintah Daerah untuk menentukan kebijakan pengelolaan lahan di wilayah yang menjadi lokasi ketahanan pangan.

h. Menambah cakupan luas bidang tanah terpetakan dalam rangka tersedianya infrastruktur geospasial tematik dan ruang (kelengkapan spasial bidang tanah dan informasi penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah).

10

Dalam dokumen LAPORAN AKSI PERUBAHAN (Halaman 6-10)

Dokumen terkait