Di Kota Prabumulih
Linda 1 , Anton Arisman 2
1. PENDAHULUAN 1 Latar Belakang
Dalam menjalankan roda pemerintahan suatu negara terdapat pengeluaran rutin serta pengeluaran pembangunan yang memerlukan sejumlah dana (Ardyaksa & Kiswanto, 2014). Pajak merupakan sumber dana APBN terbesar. Terdapat banyak faktor yang bisa mengembangkan perekonomian suatu negara khususnya Indonesia, UMKM merupakan salah satu penggerak perekonomian nasional yang berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi dengan menyumbang penerimaan negara melalui
pajak. UMKM adalah usaha produktif yang dimiliki perorangan maupun badan usaha yang telah memenuhi kriteria sebagai usaha mikro.
UMKM menyumbang sekitar 60,3% atas Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap 96,99
% dari total tenaga kerja. Rektor FEB Udayana I Nyoman Mahaendra Yasa juga menjelaskan dengan memberikan kontribusi yang baik dalam makroekonomi membuat UMKM menjadi usaha yang dilirik negara (kontan.co.id).
Berikut jumlah UMKM di Kota Prabumulih pada Tahun 2015-2018.
Tabel 1. Jumlah UMKM di Kota Prabumulih Tahun 2015-2018
Sumber : KPP Pratama Prabumulih, 2019
Tabel 2. Target dan Realisasi Pajak UMKM di Kota Prabumulih Tahun 2015-2018
Berdasarkan tabel 1 di atas dapat dilihat bahwa jumlah Wajib Pajak yang terdaftar tidak sesuai dengan jumlah Wajib Pajak yang melapor, hal ini menunjukkan bahwa masih banyak Wajib Pajak yang tidak melaporkan surat pemberitahuan tahunan or-ang pribadi. Meningkatnya jumlah WP akan ikut meningkatkan penerimaan pajak yang seharusnya diterima oleh Pemerintah. Berikut tabel Target dan Realisasi Pajak UMKM di Kota Prabumulih Tahun 2015-2018.
penggelapan pajak (tax evasion). Kenyataanya, Wajib Paja k lebih memutuskan unt uk melakukan penggelapan pajak (tax evasion) dikarenakan sulitnya penerapan tax avoidance. Penggelapan pajak (tax evasion) adalah tindakan yang melanggar undang-undang pajak dengan contoh Wajib Pajak melaporkan penghasilan yang tidak sebenarnya (Monica &
Arisman, 2018).
Kurangnya kesadaran masyarakat untuk melakukan kewajiban perpajakannya dikarenakan terdapat perbedaan pandangan skala etis di dimensi skala etika mengenai penggelapan pajak (Monica &
Arisman 2018). Etika atas penggelapan pajak umumnya memiliki tiga pandangan mendasar, antara lain penggelapan pajak (tax evasion) dipandang kadang-kadang etis, tidak pernah etis dan dipandang selalu etis (McGee, 2006).
Pandangan yang pertama mengatakan penggelapan pajak (tax evasion) pada situasi dan kondisi tertentu dipandang sebagai tindakan yang kada ng-ka da ng etis (McGee, 2006). Hal ini disebabkan tidak adanya kewajiban moral membayar pajak kepada negara jika pajak tersebut membuat harga barang untuk konsumen menjadi naik dan pajak yang diperoleh tidak digunakan oleh untuk membiayai Sumber: KPP Pratama Prabumulih, 2019
Diketahui dari tabel 2 bahwa pada tahun 2015-2016 persentase realisasi penerimaan pajak UMKM atas target mengalami peningkatan yaitu dari 72,93% menjadi 77,32%. Akan tetapi, pada tahun 2016-2018 justru mengalami penurunan dan tidak mencapai target yang telah ditetapkan sebelumnya.
Menteri keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan bahwa kontribusi penerimaan pajak pada 2018 dari sektor UMKM berada dikisaran Rp 5,7 triliun atau masih sangat minim jika dibandingkan dengan total penerimaan perpajakan nasional yang mencapai Rp 1.500 triliun (m.bisnis.com).
Faktor yang menyebabkan penerimaan pemerintah tidak maksimal yaitu adanya penggelapan paja k. Adanya anggapan bahwa pajak akan mengurangi penghasilan menyebabkan Wajib Pajak biasanya enggan untuk membayar pajak. Hal itu membuat, Wajib Pajak selalu berupaya untuk membayar pajak seminimal mungkin atau bahkan menghindarinya. Berbagai macam cara untuk menghindari pajak dilakukan oleh Wajib Pajak salah satunya yaitu melalui perencanaan pajak (Friskianti, 2014).
Perencanaan pajak terbagi menjadi 2 macam yaitu penghindaran pajak (tax avoidance) dan
fasilitas publik (Suminarsasi & Supriyadi, 2011).
Pandangan yang kedua, mengatakan penggelapan pajak (tax evasion) dipandang tidak pernah etis. Hal ini karena adanya kepercayaan bahwa setiap orang mempunyai tanggung jawab terhadap pemerintah untuk membayar pajak yang sudah ditentukan (Cohn, 1998; Smith & Kimball, 1998; Tamari, 1998).
Panda ngan yang ketiga , mengat akan penggelapan pajak (tax evasion) dipandang selalu etis jika tingkat korupsi yang ada tinggi, sistem pajaknya tidak adil dan tingginya tar if pajak sehingga pemerintah tidak mempunyai hak untuk mengambil apapun dari individu (Nickerson et al., 2009).
Salah satu faktor yang mempengaruhi Wajib Pajak dalam melakukan tindakan penggelapan pajak adalah keadilan, hal ini diketahui dari banyaknya penelitian yang telah dilakukan terkait penggelapan pajak (Ardiansyah, 2017). Wajib Pajak menganggap pajak itu adil jika kemampuan serta manfaat yang diterima sesuai dengan pajak yang dikenakan, sehingga Wajib Pajak merasakan manfaat dari beban pajak yang telah dikeluarkan (Indriyani dkk., 2016).
Hasil penelitian Monica dan Arisman (2018) menunjukkan bahwa Keadilan tidak berpengaruh terhadap persepsi Wajib Pajak mengenai etika penggelapan pajak. Sedangkan, penelitian yang dilakukan Paramita & Budiasih (2016) menemukan bahwa keadilan berpengaruh negatif pada persepsi Wajib Pajak tentang penggelapan pajak.
Penggelapan yang dilakukan Wajib Pajak juga dipengaruhi oleh cara pemungutan pajak. Sistem perpajakan yang tersistematis dengan baik akan memudahkan Wajib Pa jak dalam melakukan perhitungan, pembayaran, dan pelaporan pajak terhutangnya (Indriyani dkk., 2016).
Cara pemungutan pajak penghasilan di In-donesia mengunaka n sist em self assessment (Ardiansyah, 2017). Namun, kelemahannya sistem self assessment yang memberikan kepercayaan pada Wajib Pajak untuk menghitung, menyetorkan dan mela porkan sendiri p ajak ter utang, dalam implementasinya sulit berjalan sesuai dengan apa
yang diharapkan atau bahkan disalahgunakan (Tarjo dan Kusumawati, 2006).
Banyaknya penelitian terbaru mengenai kepatuhan pajak menegaskan pentingnya meneliti nilai-nilai internal yang berasal dari diri individu, salah satu faktor non ekonomi yang telah dilupakan oleh sebagian besar peneliti dan patut diteliti lebih lanjut adalah religiusitas (Mohdali dan Pope, 2014).
Nilai-nilai agama diharapkan secara efektif dapat mencegah per buatan negatif dan mendor ong perbuatan positif dalam kehidupan sehari-hari, sehingga religiusitas dianggap memotivasi Wajib Pajak dalam mematuhi peraturan pajak dengan sukarela (Torgler, 2006).
Berdasarkan fenomena yang terjadi dan adanya perbedaan hasil dari penelitian terdahulu serta UMKM merupakan faktor yang berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi sehingga penting untuk di teliti. Berdasarkan hal-hal yang telah dijelaskan maka peneliti tergugah untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Persepsi Wajib Pajak atas Keadilan Pajak, Sistem Pemungutan Pajak Self Assessment, dan Religiusitas terhadap etika Penggelapan Pajak pada Wajib Pajak UMKM di Kota Prabumulih”.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah Persepsi Wajib Pajak Atas Keadilan mempengaruhi etika Penggelapan Pajak?
2. Apakah Per sepsi Wajib Pa jak Atas Self Assessment System mempengaruhi etika Penggelapan Pajak?
3. Apakah Persepsi Wajib Pajak Atas Religiusitas mempengaruhi etika Penggelapan Pajak?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Mengetahui apakah Persepsi Wajib Pajak atas Keadilan Pajak mempengaruhi etika Penggelapan Pajak.
2. Mengetahui apakah Persepsi Wajib Pajak atas Self
Assessment System mempengaruhi etika Penggelapan Pajak.
3. Mengetahui apakah Persepsi Wajib Pajak atas Religiusitas mempengaruhi etika Penggelapan Pajak.
2. TINJAUAN PUSTAKA