• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBELAJARAN MENULIS TEKS ANEKDOT BERBASIS KURIKULUM 2013 Beslina Afriani Siagian(1); Elza Leyli Lisnora Saragih(2)

1. PENDAHULUAN 1 Latar Belakang

Proses perubahan kurikulum yang terjadi di Indonesia selama kurun waktu 67 tahun dengan rentetan 11 periode bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Sebagai negara yang memahami konsep ‘dunia terbuka’ di abad 21, Indonesia membenahi masa depan melalui peningkatan kualitas generasi penerus di masa mendatang. Itu sebabnya, untuk menghadapi ‘ancaman dari luar’ diadakan perbaikan dalam kurikulum di Indonesia.

Khusus untuk Kurikulum 2013, pemerintah menanamkan tiga ranah sekaligus dalam setiap pembelajarannya. Ranah sikap, kognitif, dan psikomotorik diperbaharui satu sama lain melalui kompetensi inti. Berdasarkan ketiga kompetensi tersebut, setiap siswa diharapkan mampu menjadi pembelajar yang mandiri sepanjang hayatnya serta mampu menghalau peningkatan gelombang globalisasi. Mereka akan menjadi

komponen penting untuk mewujudkan sebuah masyarakat belajar (komunitas belajar/learning community). Kualitas lain yang dikembangkan kurikulum dan harus terealisasikan dalam proses pembelajaran yang wujudnya yakni berupa kreativitas, kemandirian, kerja sama, solidaritas, kepemimpinan, empati, toleransi dan kecakapan hidup peserta didik guna membentuk watak serta meningkatkan peradaban dan martabat bangsa.

Salah satu implementasi mendasar kurikulum 2013 tampak pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Mottonya sebagai pembawa dan penghela pengetahuan membuat mata pelajaran tersebut memiliki beban berat untuk dapat mengarahkan mata pelajaran lainnya untuk memuat ketiga aspek yang disebutkan di atas. Secara otomatis, guru mata pelajaran tersebut mengemban beban tersebut agar motto itu dapat terealisasi. Guru bahasa Indonesia harus mampu menjadikan bahasa

Indonesia sebagai penghela dan pembawa pengetahuan.

Sejalan dengan hal itu, sebagai penghela pengetahuan, terdapat beberapa materi baru yang ditambahkan dalam buku teks bahasa Indonesia. Salah satu di antaranya adalah pembelajaran menulis teks anekdot. Anekdot adalah sebuah cerita singkat dan lucu atau menarik yang menggambarkan kejadian atau orang sebenarnya. Kata ‘anekdot’ dalam (Yunani: vekootov “tidak diterbitkan”, secara harfiah “tidak dikeluarkan”) berasal dari Procopius of Caesarea, penulis biografi dari Justinian I, yang membuat sebuah karya berjudul vekootov (aul nekdota, secara beragam diterjemahkan dengan memoar yang tak diterbitkan atau Kisah Rahasia) yaitu sebuah koleksi kejadian-kejadian singkat dari kehidupan pribadi dari istana Bizantin. Secara bertahap, makna anekdot dipakai untuk setiap kisah singkat yang digunakan untuk menekankan atau mengilustrasikan apapun poin yang si penulis inginkan.

Anekdot terkadang bersifat sindiran alami. Di bawah rezim otoritarian di Uni Soviet berbagai macam anekdot politik tersebar di masyarakat sebagai satu-satunya cara untuk membuka dan mencela kejahatan dari sistem politik dan pemimpinnya. Mereka menertawakan kepribadian Vladimir Lenin, Nikita Khrushchev, Leonid Brezhnev, dan pemimpin Soviet lainnya. Pada zaman Rusia modern, ada banyak anekdot tentang Vladimir Putin.

Dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, peserta didik dituntut agar mampu menulis anekdot berdasarkan struktur isi dan ciri teks anekdot. Struktur isi terdiri dari abstraksi, orientasi, krisis, reaksi, dan koda. Ciri teks anekdot bersifat sindiran, lucu, protes sosial, dan dari tokoh penting maupun tokoh rekaan. Dalam hal ini, peserta didik diharapkan mampu memecahkan permasalahan sosial,

lingkungan, dan kebijakan publik melalui teks anekdot. Itu sebabnya, penelitian perlu dilakukan untuk urgensi kompetensi tersebut. Setakat ini, ada dua alasan orientatif dalam penelitian ini. Pertama, pentingnya mengukur dan menganalisis kemampuan yang diperoleh mahasiswa dalam menulis teks anekdot. Kedua, sebagai calon guru bahasa Indonesia, mahasiswa juga harus mengikuti pembelajaran menulis teks anekdot sebagai bahan persiapan mengajarkan kompetensi tersebut dalam dunia pendidikan.

Pembelajaran menulis anekdot terbagi menjadi tiga kegiatan, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, dan (3) penilaian. Peran pendidik begitu sentral dalam pembelajaran. Pendidik dituntut untuk mampu membuat perencanaan, pelaksanaan, dan juga penilaian yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, mengemasnya semenarik mungkin sehingga mampu mendorong motivasi dan membangkitkan semangat belajar siswa. Yusi (2012:4) menyatakan “ketercapaiannya tujuan pembelajaran juga bergantung pada kemampuan guru sebagai perencana, pelaksana, dan penilai”. Selain itu, perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian harus disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku hal ini agar tidak terjadi perbedaan dengan tujuan pembelajaran yang ditetapkan pemerintah.

Teks anekdot memiliki struktur atau bagian-bagian yang harus diikuti dan diaplikasikan, yakni: 1) Abstraksi adalah bagian di awal paragraf yang berfungsi memberi gambaran tentang isi teks. Biasanya bagian ini menunjukkan hal yang unik yang akan ada di dalam teks; 2) Orientasi adalah bagian yang menunjukkan awal kejadian cerita atau latar belakang bagaimana peristiwa itu terjadi. Biasanya penulis bercerita dengan detil di bagian ini; 3) Krisis adalah bagian di mana terjadi hal atau masalah yang unik atau tidak biasa

yang terjadi pada si penulis atau orang yang diceritakan; 4) Reaksi adalah bagian bagaimana cara penulis atau orang yang ditulis menyelesaikan masalah yang timbul di bagian krisis tadi; 5) Koda merupakan bagian akhir dari cerita unik tersebut. Bisa juga dengan memberi kesimpulan tentang kejadian yang dialami penulis atau orang yang ditulis.

Pada dasarnya, anekdot hanya terbagi atas dua jenis, yakni lisan dan tulisan. Anekdot lisan merupakan jawaban yang bersifat menyindir dan disampaikan secara langsung, sedangkan anekdot tulisan merupakan bentuk karya yang diproduksi secara tertulis yang didalamnya terkandung sindiran yang bersifat humor (lucu). Dalam penelitian ini, jenis anekdot yang akan diteliti adalah anekdot tulisan karena dapat terukur dengan baik dan mewakili penilaian objektif.

Dalam mata pelajaran anekdot, peserta didik dituntut agar mampu menulis anekdot berdasarkan struktur isi dan ciri teks anekdot. Struktur isi terdiri dari abstraksi, orientasi, krisis, reaksi, dan koda. Ciri teks anekdot bersifat sindiran, lucu, protes sosial, dan dari tokoh penting maupun tokoh rekaan.

Tabel 1. Aspek Penilaian Menulis Teks Anekdot

No. Aspek Kompetensi

1. Isi Menguasai topik tulisan; substantif; abstraksi-orientasi-krisis-reaksi-koda yang relevan dengan topik yang dibahas.

2. Struktur Ekspresi lancar; gagasan terungkap padat dengan jelas; tertata dengan baik; urutan logis (abstraksi- orientasi-krisis-reaksi-koda); serta kohesif.

3. Kosakata Penguasaan kata canggih; pilihan kata dan ungkapan efektif; menguasai

No. Aspek Kompetensi

pembentukan kata; penggunaan register tepat. 4 Kalimat Konstruksi kompleks dan

efektif; terdapat hanya sedikit kesalahan penggunaan bahasa (urutan/fungsi kata, artikel, pronomina, preposisi). 5. Mekanik Menguasai aturan

penulisan; terdapat sedikit kesalahan ejaan, tanda baca, penggunaan huruf kapital, dan penataan paragraf. Sebagai sebuah karya tulis, anekdot memiliki ciri khas kebahasaan yang menjadi penanda teks. Hal itu tampak pada beberapa bagian, antara lain: 1) Menggunakan konjungsi (kata penghubung) dalam menyatakan unsur peristiwa yakni konjungsi temporal seperti lalu, kemudian, setelah itu dan sebagainya; dan juga menyatakan akibat yakni konjungsi akibatnya, maka, dan sebagainya; 2) Menggunakan gaya bahasa, khususnya majas metafora; 3) Memiliki pertanyaan retoris; 4) Mengandung unsur lucu (berbau humor); 5) Menggunakan kalimat perintah yang ditandai dengan kata seru; 6) Mengandung sindiran yang dapat diungkapkan dengan pengandaian atau dengan lawan kata (antonim); 7) Ditandai dengan adanya partisipan (pelaku).

Sedangkan kurikulum 2013 memuat konsep bahwa kegiatan pembelajaran adalah suatu proses pendidikan yang memberikan kesempatan bagi siswa agar dapat mengembangkan segala potensi yang mereka miliki menjadi kemampuan yang semakin lama semakin meningkat dilihat dari aspek sikap (afektif), pengetahuan (kognitif), dan keterampilan (psikomotor). Kemampuan ini akan diperlukan oleh siswa tersebut untuk kehidupannya dan untuk

bermasyarakat, berbangsa, serta berkontribusi pada kesejahteraan kehidupan umat manusia. Karena itu suatu kegiatan pembelajaran seharusnya mempunyai arah yang menuju pemberdayaan semua potensi siswa agar dapat menjadi kompetensi yang diharapkan.

Berhubungan dengan itu, pada materi bahasa Indonesia, khususnya pembelajaran menulis teks anekdot, kompetensi yang diharapkan mengarah pada kemampuan siswa dalam memecahkan permasalahan sosial, lingkungan, dan kebijakan publik melalui produksi teks anekdot

Berkaitan dengan hal itu, kegiatan pembelajaran harusnya menggunakan prinsip sebagai berikut.

a. berpusat pada peserta didik,

b. mengembangkan kreativitas peserta didik,

c. menciptakan kondisi yang menyenangkan dan menantang,

d. bermuatan nilai, etika, estetika, logika, dan juga kinestetika, dan

e. menyediakan pengalaman belajar yang beragam melalui penerapan berbagai strategi dan metode pembelajaran yang menyenangkan, kontekstual, efektif, efisien, dan bermakna.

Pada suatu kegiatan belajar-mengajar, siswa diajak untuk menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi-informasi yang kompleks, mengecek informasi baru dengan yang sudah ada dalam ingatannya, dan melakukan pengembangan menjadi informasi atau kemampuan yang sesuai dengan lingkungan dan jaman tempat dan waktu ia hidup. Kurikulum 2013 menganut pandangan dasar bahwa pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari guru ke siswa (konstruktivisme). Itu sebabnya, siswa dibantu agar dapat melibatkan diri secara aktif untuk mengembangkan potensinya sehingga menjadi suatu kompetensi. Guru menyediakan pengalaman belajar untuk siswa sehingga

mereka dapat melakukan beragam aktivitas yang dapat membantu mereka untuk mengembangkan potensi menjadi kompetensi yang ditetapkan dalam dokumen kurikulum 2013 atau bahkan melebihinya. Pengalaman belajar semakin lama semakin meningkat hingga akhirnya akan menjadi suatu kebiasaan belajar mandiri dan tetap sebagai salah satu fondasi untuk menjadi pebelajar sepanjang hayat (lifelong learner).

Pembelajaran kurikulum 2013 memuat pengembangan sikap, pengetahuan, dan keterampilan siswa dalam kombinasi dan penekanan yang bervariasi. Setiap kegiatan pembelajaran memiliki kombinasi dan penekanan yang berbeda dari kegiatan pembelajaran lainnya. Hal ini tentu saja bergantung pada sifat konten yang sedang dipelajari siswa. Walaupun begitu, aspek pengetahuan (kognitif) akan selalu menjadi faktor penggerak untuk pengembangan kemampuan lain (afektif dan psikomotor).

Berdasarkan pemaparan di atas, maka penelitian ini diarahkan pada penelitian bertajuk, “Pembelajaran Menulis Teks Anekdot Berbasis Kurikulum 2013 pada Mahasiswa Semester Tiga Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas HKBP Nommensen”. Yang menjadi identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah: a. Pentingnya mengukur dan juga menganalisis kemampuan yang diperoleh mahasiswa dalam menulis teks anekdot. b. Pentingnya mengajarkan pembelajaran menulis teks anekdot sebagai bahan persiapan bagi mahasiswa untuk mengajarkan kompetensi tersebut dalam dunia pendidikan.

Masalah yang ditelaah dalam penelitian ini dibatasi pada “Pembelajaran Menulis Teks Anekdot Berbasis Kurikulum 2013 pada Mahasiswa Semester Tiga Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas HKBP Nommensen”. Itu sebabnya, penelitian akan mendasarkan

telaahnya pada analisis kemampuan mahasiswa dalam menulis teks anekdot berbasis kurikulum 2013. Sehingga, sesuai dengan pembatasan masalah di atas, maka rumusan masalah di atas hanya didasarkan pada dua hal berikut: a. Bagaimanakah kemampuan mahasiswa dalam menulis teks anekdot berbasis kurikulum 2013? b. Apakah kurikulum 2013 tepat digunakan pada pembelajaran menulis teks anekdot? Rumusan masalah tersebut dibuat untuk mencapai tujuan yang antara lain: a. Untuk mengetahui kemampuan mahasiswa dalam menulis teks anekdot berbasis kurikulum 2013. b. Untuk mengetahui ketepatan kurikulum 2013 yang diterapkan pada pembelajaran menulis teks anekdot. Berdasarkan pemaparan teori di atas, maka penelitian ini mengacu pada pertanyaan, “Bagaimanakah kemampuan mahasiswa dalam menulis teks anekdot berbasis kurikulum 2013 pada mahasiswa semester tiga prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas HKBP Nommensen?”

3. METODE PENELITIAN

Dokumen terkait