Hasil penelitian ini sejalan dengan instrumen yang telah digunakan sebelumnya, yakni berupa teks anekdot tertulis. Teks anekdot tersebut dianalisis dengan mengacu pada aspek yang ditentukan sebelumnya sehingga
menghasilkan data kuantitatif yang akan dijelaskan lebih lanjut dalam pembahasan berikut ini.
4.2 Pembahasan Penelitian
Di bawah ini dijelaskan perolehan serta persentase kemampuan siswa dalam menentukan isi anekdot.
4.2.1 Aspek Kemampuan Menentukan Isi
Dalam hal ini, peneliti sekaligus sebagai pengajar terlebih dahulu mendeskripsikan hakikat sebuah anekdot, lalu mengarahkan mahasiswa untuk mulai menulis dengan mengacu pada esensi serta struktur anekdot. Cara paling sederhana adalah dengan menyuruh mahasiswa menemukan ide yang akan dijadikan topik, lalu mencari bahan yang dijadikan sebagai mediasi penyampai ide, yakni teks anekdot. Berikut persentase penilaian yang diperoleh.
Tabel 6. Persentase Perolehan Aspek Isi No Indikator Jumlah Mahasis wa % 1 Sangat baik – sempurna 26 orang 51% 2 Cukup – baik 16 orang 31,37 % 3 Sedang – cukup 7 orang 13,72
% 4 Sangat kurang -
kurang
2 orang 3,91% Berdasarkan tabel tersebut, ada 26 orang mahasiswa yang mencapai indikator sangat baik – sempurna. Itu artinya, mahasiswa telah mampu menemukan ide dan bahan sebagai esensi teks anekdot. 4.2.2 Aspek Kemampuan Menentukan Struktur
Aspek ini menuntut siswa untuk memahami lima struktur anekdot, yakni abstraksi, orientasi, krisis, reaksi, dan koda. Kelima struktur tersebut harus
diikutsertakan ketika mereka mulai menulis teks. Oleh karena itu, teks yang telah dituliskan harus memiliki kelima struktur tersebut tanpa berganti posisi.
Tabel 7. Persentase Perolehan Aspek Struktur No Indikator Jumlah Mahasiswa % 1 Sangat baik – sempurna 25 orang 49,01% 2 Cukup – baik 9 orang 17,64% 3 Sedang – cukup 7 orang 13,72% 4 Sangat kurang -
kurang 10 orang 19,6% Hal yang sama juga tampak pada aspek struktur ini. Tabel berikut juga menunjukkan bahwa indikator sangat baik – sempurna diperoleh 25 mahasiswa. Namun, berdasarkan hasil pengamatan peneliti diperoleh kesimpulan bahwa mereka cenderung kesulitan menentukan struktur reaksi dan koda karena ada kalanya keduanya memiliki substansi yang sama. Contoh dapat dilihat pada lampiran.
4.2.3 Aspek Menggunakan Kosakata Dalam hal ini, tampak bahwa beberapa mahasiswa memiliki penguasaan kosakata yang masih rendah. Sebagai seorang yang berasal dari Suku Batak, kosakata mereka masih kental dengan variasi Medan. Hal yang serupa juga tampak pada penguasaan menyusun kalimat pada aspek keempat. Hal ini sangat penting dalam menulis teks anekdot sebab kemampuan merangkai kata, kelogisan kalimat, kohesi, serta koherensi merupakan esensi kemampuan menulis.
Tabel 8. Perolehan Persentase Aspek Kosakata
No Indikator Jumlah
Mahasiswa %
1 Sangat baik – sempurna 28 orang 54,9%
2 Cukup – baik 18 orang 35,29%
3 Sedang – cukup 5 orang 9,8%
4 Sangat kurang - kurang - -
4. Aspek Menyusun Kalimat
Salah satu indikasi kekurangmampuan mahasiswa dalam menyusun kalimat tampak dalam teks anekdot seperti yang dikutip berikut ini.
a) Sepulang dari sekolah akibat terlalu banyak jajan merasakan sakit perut. (Teks Anekdot Nova Lestari Silitonga)
b) Melihat si abang yang menahankan rasa sakit ibu pun menghampirinya. (Teks Anekdot Nova Lestari Silitonga)
c) Berangkatlah anak tersebut ke perantauan.(Teks Anekdot Dora Panjaitan)
d) Diingatnya pesan ibunya. (Teks Anekdot Dora Panjaitan)
Namun demikian, perolehan persentase aspek kalimat ini juga menunjukkan nilai yang sangat baik. Hal itu tampak pada tabel berikut ini.
Tabel 9. Perolehan Persentase Aspek Kalimat
No Indikator Jumlah
Mahasiswa % 1 Sangat baik – sempurna 27 orang 52,94% 2 Cukup – baik 17 orang 33,33% 3 Sedang – cukup 7 orang 13,72% 4 Sangat kurang - kurang - - 4.2.5 Aspek Mekanis
Di antara semua aspek dalam menulis teks anekdot, aspek mekanis merupakan aspek yang paling bermasalah. Tampak 20 mahasiswa hanya mampu berada pada indikator cukup – baik. Meski aspek ini bukan orientasi kemampuan menulis teks anekdot, tetapi aspek ini juga harus selalu tercantum pada setiap kemampuan menulis. Dalam hal ini, beberapa kesalahan mekanis yang terdapat dalam teks anekdot mahasiswa disajikan seperti berikut.
a) Si A mengatakan kepada si B ”mengapa suara yang kau keluarkan begitu menggangguku?” (Teks Anekdot Dina Mariana Lumban Siantar)
b) (Anak tersebut pun mengelak) sambil berkata: aku cuma bilang, kata ibu kalau Pak Lurah cari ibu, bilang kalau ibu tidak di rumah, ibu tidak mau bertemu kakek tua seperti itu. udah gitu aja. (Teks Anekdot Sri May Astuti Simbolon)
Berdasarkan dua contoh kalimat di atas tampak bahwa mahasiswa kesulitan menempatkan tanda baca. Untuk kalimat a) tampak bahwa tanda koma tidak ditempatkan sebelum memulai kutipan langsung. Selain itu, awal kalimat pada kutipan langsung juga tidak dimulai dengan huruf kapital. Sedangkan, untuk kalimat b) juga tampak bahwa penempatan tanda kurung tidak tepat. Selain itu, ada penempatan kata yang salah yakni sambil berkata. Hal itu menunjukkan bahwa penggunaan mekanis belum dikuasai oleh sebagian besar mahasiswa.
Tabel 10. Perolehan Persentase Aspek Mekanis
No Indikator Jumlah
Mahasiswa %
1 Sangat baik – sempurna 24 orang 47,08% 2 Cukup – baik 20 orang 39,21% 3 Sedang – cukup 5 orang 9,8% 4 Sangat kurang - kurang 2 orang 3,92%
Berdasarkan perolehan dan pembahasan data tersebut, berikut disajikan nilai skor akhir kemampuan mahasiswa dalam menulis teks anekdot.
Tabel 11. Nilai skor Akhir Kemampuan Menulis Anekdot
No Skor Akhir Jumlah Mahasiswa % 1 A (85 – 100) 29 orang 56,86 % 2 B+ (77 – 84) 10 orang 19,60% 3 B (70 – 76) 5 orang 9,8% 4 C+ (65 – 69) - - 5 C (60 – 64) 2 orang 3,92% 6 D (50 – 59) 3 orang 5,88 % 7 E (0 – 49) 2 orang 3,92%
Tabel di atas menunjukkan bahwa di antara 51 mahasiswa, terdapat 29 orang yang mampu memperoleh nilai A, 10 orang
memperoleh nilai B+, 5 orang memperoleh nilai B, 2 orang memperoleh nilai C, 3 orang memperoleh nilai D, dan 2 orang memperoleh nilai E. Mahasiswa yang memperoleh nilai E kesulitan menguasai mekanik penulisan serta menguasai penggunaan kosakata dan kalimat.
Teks anekdot merupakan materi baru yang dimasukkan dalam Kurikulum 2013. Materi ini cukup menarik dan mengandung utilitas. Pengamatan peneliti, mahasiswa juga cukup antusias mengikuti pembelajaran materi ini. Hal itu disebabkan anekdot merupakan salah satu media yang cukup tepat untuk mengkritisi hal-hal yang kurang baik. Oleh karena itu, kesulitan-kesulitan dalam menulis teks anekdot akan diperbaiki ke depannya untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
5. KESIMPULAN 5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian di atas, berikut ini diperoleh simpulan penelitian.
a. Perolehan persentase aspek menentukan isi pada indikator sangat baik dicapai oleh 26 orang mahasiswa dengan persentase 51 %. Perolehan persentase aspek menentukan struktur pada indikator sangat baik dicapai oleh 25 orang mahasiswa dengan persentase 49,01 %. Perolehan persentase aspek menggunakan kosakata pada indikator sangat baik dicapai oleh 28 orang mahasiswa dengan persentase 54,9 %. Perolehan persentase aspek menyusun kalimat pada indikator sangat baik dicapai oleh 27 orang mahasiswa dengan persentase 52,94 %. Perolehan persentase aspek menguasai mekanik pada indikator sangat baik dicapai oleh 24 orang mahasiswa dengan persentase 47,08 %. b. Di antara 51 mahasiswa, terdapat 29
orang yang mampu memperoleh nilai A, 10 orang memperoleh nilai B+, 5 orang
memperoleh nilai B, 2 orang memperoleh nilai C, 3 orang memperoleh nilai D, dan 2 orang memperoleh nilai E.
5.2 Saran
Teks anekdot merupakan materi baru yang cukup menarik dan mengandung utilitas. Selain mengarahkan mahasiswa mampu menulis, materi ini juga memfasilitasi kritik-kritik sosial yang dapat
disampaikan dengan humoris tetapi tetap mengandung amanat. Oleh karena itu, ada baiknya kesulitan-kesulitan dalam menulis teks anekdot dapat diperbaiki ke depannya untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Meski pada akhirnya Kurikulum 2013 diberhentikan sementara, tetapi materi ini cukup baik diajarkan dalam aspek keterampilan menulis.
DAFTAR PUSTAKA Arikunto, S.1998. Prosedur Penelitian
Suatu Pendekatan dan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
2003. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. 2005. Manajemen Penelitian.
Jakarta: Rineka Cipta.
Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Faiq, M. 2013. Pandangan tentang Pembelajaran menurut Kurikulum 2013, [Diakses tanggal 20 September 2014] Tersedia dalam penelitiantindakankelas.blogspot.co m/.
Fauzi, A. 2014. Pengertian Anekdot, bagian Anekdot, dan Contoh Lengkap Anekdot [Diakses September 2014]
Tersedia dalam
http:akbarfaurazi.blogspot.com/201 4/01/pengertian-anekdot-bagian-anekdot-dan.html.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2012. Dokumen Kurikulum 2013. [Diakses tanggal 01 Maret 2014]
Tersedia dalam
http://kangmartho.com.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2013. Model Pembelajaran Penemuan Discovery Learning). Jakarta: Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan.
Kokasih., E. 2004. Kompetensi Ketatabahasaan dan Kesusasteraan. Bandung: Yarma Widya.
Panudji, N.S., dkk. 2014. Pembelajaran Menulis Anekdot Siswa SMA Kelas X. Malang: Universitas Negeri Malang. Academia.
Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia. 2009. Kurikulum Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Medan: Universitas HKBP Nommensen. Sudjana. 2002. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito.
Nana, dkk. 2001. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
DESAIN MODEL PEMBELAJARAN AKTIF BERBASIS BAHAN AJAR PADA