NOMMENSEN Rani Farida Sinaga
2. Tahap pelaksanaan Tindakan Pemberian tindakan masih
melakukan pengajaran di kelas dengan materi yang berbeda dari sebelumnya. Metode yang diajarkan bukan lagi dengan tanya jawab melainkan dengan diskusi kelompok. Pada akhir tindakan diberikan post-tes II yang bertujuan untuk mengetahui kesulitan dan keberhasilan dari tindakan yang dilaksanakan (kemampuan mahasiswa setelah melaksanakan pembelajaran Osborn di siklus 2) dan melihat letak kesulitan yang
a) Kemampuan Mahasiswa Setelah Pembelajaran Osborn di Siklus 2
Kemampuan mahasiswa setelah pelaksanaan siklus 2 dapat dilihat dari tes hasil belajar yang diberikan pada akhir pelaksanaan siklus 2. Dari hasil tes mahasiswa dapat diperoleh skor terendah, skor tertinggi, rata – rata seperti tabel berikut :
Tabel 3. Skor Terendah, Skor tertinggi, Rata-rata dan Hasil Post-tes II
Kategori Skor Skor Terendah Skor Tertinggi Rata – rata 30 90 68,28 Dari tabel diatas dapat dilihat peningkatan kemampuan mahasiswa dalam menyelesaikan soal turunan implisit dibandingkan dengan hasil pre-tes dan post-tes I. Dari 35 orang mahasiswa 31 orang telah mencapai tingkat ketuntasan belajar sedangkan 4 orang lagi belum. Rata – rata kelas telah mencapai 68,28 dan meningkat dari tes sebelumnya
b) Letak Kesulitan Mahasiswa
Dari tes hasil belajar diperoleh yang menjadi kesulitan/kesalahan mahasiswa khusus bagi 4 orang mahasiswa yang tidak mengalami ketuntasan dalam belajar yaitu : dalam menyelesaikan tugas menentukan turunan implisit yang nilai turunan implisitnya diketahui. Sulit mengubah soal jika tidak sesuai dengan contoh yang diberikan ke dalam model matematika didalam menyelesaikan soal dan yang paling banyak menyebabkan kesalahan adalah kurangnya ketelitian mahasiswa dalam perhitungan.
3. Tahap Pengamatan
Dari hasil pengamatan pada siklus 2 ini dapat terlihat bahwa mahasiswa semakin semangat dan aktif dalam belajar khususnya bagi mahasiswa yang pintar karena dengan serius mengajari temannya yang masih kurang mampu menyelesaikan soal yang diberikan. Di antaranya mahasiswa tersebut mahasiswa yang pintar ada juga yang tidak
mau mengajari temannya yang kurang memahami soal yang diberikan demikian juga sebaliknya mahasiswa yang kurang mampu tidak mau bertanya kepada temannya yang bisa mengerjakan soal.
Dengan dilakukannya pengajaran dengan metode pemberian tugas yang dikerjakan secara bersama ini mengakibatkan hasil belajar mahasiswa meningkat. Ini terlihat dari meningkatnya rata – rata kelas mahasiswa pada tes hasil belajar dibandingkan hasil post-tes I yaitu 60 menjadi 68,28 dengan tingkat ketuntasan belajar 11,43%.
4. Tahap Refleksi
Dengan berpedoman pada hasil analisis yang telah dilakukan dapat dikatakan bahwa terdapat peningkatan hsil rata – rata kelas, yaitu dari 60 pada post-tes I menjadi 68,28 pada post-tes II. Peningkatan ini menunjukkan bahwa tindakan pembelajaran Osborn yang diberikan pada siklus 2 dapat meningkatkan hsil belajar mahasiswa dalam menyelesaikan tugas turunan implisit khususnya dengan metode pemberian tugas dengan diskusi kelompok untuk memecahkan masalah.
Melalui strategi pembelajaran Osborn mahasiswa yang belajar dengan modul dapat aktif belajar mandiri sedangkan mahasiswa kemampuan sedang dan rendah yang diajar dengan metode belajar kelompok dengan pemecahan masalah, hasil belajar matematikanya dapat meningkat pada pokok bahasan turunan implisit.
Berdasarkan hasil penelitian, setelah diberikan tindakan pada siklus 1 dengan diberikan pembelajaran Osborn menggunakan metode tanya jawab disertai pemecahan masalah. Pada siklus ini tampak mahasiswa masih kurang berani bertanya dan juga untuk menjawab pertanyaan yang diberikan dosen, sehingga dosen lebih dominan dalam menjelaskan kembali soal pre-tes I serta materi yang dianggap sulit
banyak contoh – contoh kemudian menyelesaikannya. Pada akhir siklus 1 diberikan post-tes I kepada mahasiswa untuk melihat kemampuan mahasiswa apakah yang berkemampuan tinggi dapat mempertahankan hasil tesnya dan kemampuan sedang dan rendah dapat meningkat atau tetap pada kemampuan semula serta untuk mengetahui keberhasilan tindakan yang diberi pada siklus 1.
Siklus 2, mahasiswa tetap diberikan pembelajaran Osborn tetapi metode yang diberikan berbeda dengan siklus 1. Pada tindakan siklus 2 ini diberikan metode pemberian tugas dengan belajar diskusi kelompok. Pada siklus ini mahasiswa diberikan tugas yang dikerjakan bersama teman sekelompoknya sebanyak 4 orang, mereka bukan hanya mengerjakan tugas tetapi juga saling mengajari. Mahasiswa lebih aktif dan semangat dalam mengerjakan tugas – tugas yang diberikan dosen pada mereka. Pada akhir siklus 2 ini diberikan post-tes II untuk mengetahui tingkatan hasil belajar mahasiswa apakah meningkat atau menurun dari sebelumnya serta untuk mengetahui kesulitan dari tindakan yang diberikan pada siklus 2.
Hal ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran Osborn yang dilakukan dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa dalam menyelesaikan soalturunan implisit , khususnya dengan menggunakan metode pemberian tugas dan diskusi kelompok disertai pemecahan masalah. Walaupun ada mahasiswa no 31 yang hasil belajarnya kurang begitu memuaskan itu dikarenakan pada saat penelitian mahasiswa tersebut sedang mengalami masalah sehingga tidak konsentrasi belajarnya sehingga nilainya menurun dan mahasiswa no 7 dan 11 memang selalu rendah hasil belajarnya, masalah ini sebelumnya sudah dikemukakan dosen bidang studi tersebut. Karena peningkatan hasil belajar mahasiswa dilihat dari pensiklusnya, maka
ini meningkat walaupun hasil penilaian mahasiswa pada kemampuannya tidak signifikan (terus – menerus).
4. KESIMPULAN DAN SARAN a) Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa belajar dengan menggunakan model pembelajaran Osborn dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa. Dimana pada setiap siklusnya mahasiswa dengan kemampuan tinggi selalu belajar dengan menggunakan modul agar mereka dapat belajar sesuai dengan kecepatan belajar mereka masing – masing, sedangkan untuk mahasiswa kemampuan sedang dan rendah pada siklus pertama mereka diberikan pengajaran dengan metode pemecahan masalah dan dipadukan dengan tanya jawab, pada siklus kedua pengajaran diberikan dengan memadukan antara metode pemecahan masalah dengan metode belajar kelompok dimana satu kelompok terdiri 4 orang. Melalui belajar kelompok mahasiswa dilatih untuk lebih aktif berdiskusi dan saling memberikan informasi sehingga kemampuan mereka dalam menyelesaikan soal – soal turunan impisit semakin meningkat.
b) Saran
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran Osborn di Prodi Pendidikan Matematika Universitas HKBP Nommensen tahun ajaran 2014/2015 pada mata kuliah kalkulus dengan pokok bahasan turunan implisit adalah baik pada kemampuan pemecahan
masalah mahasiswa dan respon mahasiswa positif. Sehingga disarankan kepada dosen agar mengembangkan model ini pada pokok bahasan yang lain maupun pada bidang studi yang lain yang sesuai.
DAFTAR PUSTAKA
Anita, T,(2007), Pembelajaran Matematika dengan Metode Proyek untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa dalam Pemecahan Masalah, Tesis, FPMIPA UPI: Tidak diterbitkan Baumgartner, J, (2006), Creative
Brainstorming. New York: Dephatd Publishing
Bell, F, (1978), Teaching and Learning Mathematics (In Secondary School). Lowa:WC.Brown Co.
BSNP, (2006), Draft Final Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Standar Kompetensi Mata Pelajaran Matematika Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah., Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan
Cahyono, A.N, (2007), Pengembangan Model Creative Problem Solving berbasis Teknologi dalam Pembelajaran Matematika di SMA, Jurnal Pendidikan UPI
Dahlan, A, (2006), Pengaruh Model Pembelajaran Osborn terhadap Kemampuan Pemahaman Matematik Siswa, Skripsi FPMIPA UPI: Tidak diterbitkan
Guntar, A, (2008), Masalah dan Sasaran dalam Pemecahan Masalah, Tesis FMIPA UPI: Tidak diterbitkan
Mulia, A, (2010), Pembelajaran Matematika dengan Menggunakan Pendekatan Problem Posing untuk
Meningkatkan Kemampuan
Pemecahan Masalah Matematis Siswa SMP, Tesis FPMIPA UPI: Tidak diterbitkan
Osborn, F, Alex, (2000), Applied Imagination, Iowa: WC.Brown Co
Rusffendi, E.T, (1998), Pengajaran Matematika Modern untuk Orang Tua Murid, Guru, dan SPG, Bandung: Tarsito
Rusffendi, E.T, (2005), Dasar-dasar Penelitian Pendidikan dan Bidang Non-Eksakta Lainnya, Bandung: Tarsito
Mengembangkan Kemampuan Siswa SMA pada Aspek Problem Solving Matematik, Tesis pada FPMIPA UPI: Tidak diterbitkan
Suyatno, 2009, Menjelajah Pembelajaran Inovatif, Masmedia Buana Pustaka, Surabaya
Sri Mertasari, Ni Made, (2005), Peningkatan Penguasaan Konsep Dan Hasil BelajarMahasiswa Jurusan Pendidikan Biologi dalam Mata Kuliah Kalkulus I dengan Penerapan Strategi Pembelajaran Kon-tekstual Melalui Pendekatan Pemecahan Masalah, Jurnal Pendidikan dan
Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 2 TH.XXXVIII April 2005
Veragawati, (2009), Pengaruh Implementasi Strategi Working Backward terhadap Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika siswa SMP, Tesis FPMIPA UPI : Tidak diterbitkan. ________,Ground Rules of Brainstorming,
[Online], Tersedia: www.wikipedia.org/wiki/Brainstorming ________(2008) . Teknik Brainstorming. [Online]. Tersedia:id.wordpress.com/tag/brainstormi ng/
CORRELATION BETWEEN MOTIVATION AND STUDENTS’ ACHIEVEMENT