• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN (UHN) MEDAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN (UHN) MEDAN"

Copied!
82
0
0

Teks penuh

(1)

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN (UHN)

MEDAN

Jl. Sutomo Nomor: 4A Medan, Kode Pos 20234 Medan Timur. Telepon: (061) 4522922;4522831, Faks : 4571426;

Alamat URL: http://akademik.uhn.ac.id/portal/public_html/JurnalSuluhPendidikan/

ISSN: 2356-2595

Volume: 2

Edisi : 1

Bln/Thn: Maret 2015

DAFTAR ISI

Perbandingan Hasil Belajar Siswa yang Menggunakan Strategi Inkuiri Jurisprudensial Berbantuan LKS dengan Menggunakan Strategi Pembelajaran Ekspositori.

Simon Panjaitan(1), Efron Manik(2).

1-7 Analisis Kinerja Guru Profesional untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan di Kota Pematangsiantar

Dearlina Sinaga 8-21

Penerapan Pembelajaran Osborn Pada Mata Kuliah Kalkulus 1 di Prodi Pendidikan Matematika Fkip Universitas HKBP Nommensen.

Rani Parida Sinaga 22-31

Correlation Between Motivation And Students’ Achievement With The Interest Of Becoming An English Teacher Of English Department Students

Kammer Tuahman Sipayung 32-39

Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Kelas VIII SMP Rayon VII Kotamadya Medan Melalui PMR

Arisan Candar Nainggolan 40-48

Pembelajaran Menulis Teks Anekdot Berbasis Kurikulum 2013

Beslina Afriani Siagian(1), Elza Leyli Lisnora Saragih(2) 49-58 Desain Model Pembelajaran Aktif Berbasis Bahan Ajar Pada Mata Kuliah Teori Bilangan di Program Studi

Pendidikan Matematika FKIP Univ. HKBP Nommensen

Agusmanto J.B. Hutauruk(1); Simon Panjaitan(2). 59-64

Upaya Meningkatkan Reativitas Berpikir Matematis Melalui Model Pembelajaran Pencapaian Konsep Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Bilah Barat

(2)

UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN MEDAN

Jl. Sutomo Nomor: 4A Medan, Kode Pos 20234. Telepon: (061) 4522922;4522831, Faks : 4571426; Email: [email protected]

Jurnal Suluh Pendidikan ISSN: 2356-2595

Pembina

Prof. Dr. Belferik Manullang Prof. Manihar Situmorang, M.Sc., Ph.D

Ketua Dewan Editor Dr. Dearlina Sinaga, M.Pd.

Sekretaris Dewan Editor Drs. Efron Manik, M.Si.

Dewan Editor

Drs. Juliper Nainggolan, M.Si. Dra. Friska B. Siahaan, M.Pd. Drs. Sahlan Tampubolon, M.Hum

Hebron Pardede, S.Si., M.Si. Mariana Surbakti, M.Si. Drs. Pontas J. Sitorus, M.Si

Editor Teknik

Adi Suarman Situmorang, S.Pd., M.Pd. Parlindungan Sitorus, S.Si., M.Si.

Alamat Redaksi Tata Usaha: Gedung Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas HKBP Nommensen Lantai II

Jl. Sutomo Nomor: 4A Medan, Kode Pos 20221 Medan Timur. Telepon: (061) 522922;4522831 , Faks : 4571426 Alamat URL: akademik.nommensen-id.org/portal/public_html/Jurnal Suluh Pendidikan

Email: [email protected]

Jurnal Suluh Pendidikan ini merupakan jurnal penelitian yang berisikan tulisan tentang pendidikan atau proses belajar mengajar. Jurnal Suluh Pendidikan terbit sebanyak dua kali dalam kurun waktu satu tahun yaitu setiap bulan Maret dan bulan September dengan jumlah minimal muatan tulisan sebanyak delapan setiap kali terbit.

Penyunting menerima sumbangan artikel yang belum pernah dipublikasikan dalam media lain. Naskah di atas kertas HVS A4 dengan spasi 1½ dengan maksimum tulisan 17 halaman, dengan format seperti tercantum dalam halaman kulit belakang.

(3)

UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN MEDAN

Jl. Sutomo Nomor: 4A Medan, Kode Pos 20234. Telepon: (061) 4522922;4522831, Faks : 4571426; Email: [email protected]

Jurnal Suluh Pendidikan

Volume: 2, Nomor 2, Bln/Thn: Maret 2015

DAFTAR ISI

Perbandingan Hasil Belajar Siswa yang Menggunakan Strategi Inkuiri Jurisprudensial Berbantuan LKS dengan Menggunakan Strategi Pembelajaran Ekspositori.

Simon Panjaitan(1), Efron Manik(2).

1-7 Analisis Kinerja Guru Profesional untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan di Kota Pematangsiantar

Dearlina Sinaga

8-21 Penerapan Pembelajaran Osborn Pada Mata Kuliah Kalkulus 1 di Prodi Pendidikan

Matematika Fkip Universitas HKBP Nommensen. Rani Parida Sinaga

22-31 Correlation Between Motivation And Students’ Achievement With The Interest Of Becoming

An English Teacher Of English Department Students

Kammer Tuahman Sipayung 32-39

Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Kelas VIII SMP Rayon VII Kotamadya Medan Melalui PMR

Arisan Candar Nainggolan

40-48 Pembelajaran Menulis Teks Anekdot Berbasis Kurikulum 2013

Beslina Afriani Siagian(1), Elza Leyli Lisnora Saragih(2) 49-58 Desain Model Pembelajaran Aktif Berbasis Bahan Ajar Pada Mata Kuliah Teori Bilangan di

Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Univ. HKBP Nommensen Agusmanto J.B. Hutauruk(1); Simon Panjaitan(2).

59-64 Upaya Meningkatkan Reativitas Berpikir Matematis Melalui Model Pembelajaran Pencapaian

Konsep Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Bilah Barat Sintong Nainggolan

(4)

UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN MEDAN

Jl. Sutomo Nomor: 4A Medan, Kode Pos 20234. Telepon: (061) 4522922;4522831, Faks : 4571426; Email: [email protected]

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, oleh karena kasih dan RahmatNya sajalah Jurnal Suluh Pendidikan FKIP Universitas HKBP Nommensen ini dapat terbit untuk Volume 2, Edisi 1, Maret 2015. Tulisan yang dimuat dalam jurnal ini difokuskan pada bidang pendidikan baik itu pengembangan dan desain model pembelajaran, inovasi metode pembelajaran, inovasi media pembelajaran, inovasi teknik, dan pengembangan pendekatan pembelajaran.

Pada kesempatan ini, kami mengucapkan terimakasih kepada Saudara yang telah mengirimkan tulisannya untuk dimuat dalam jurnal Suluh Pendidikan FKIP Universitas HKBP Nommensen ini dan minta maaf bagi Saudara yang tulisannya ditolak maupun yang masih menunggu antrian untuk dimuat dalam jurnal ini. Demi kesempurnaan jurnal ini dan untuk pengembangan kualitas tulisan dan terbitan serta menjalin komunikasi dalam pertukaran informasi ilmiah, dengan senang hati kami bersedia menerima masukan yang membangun dari saudara serta bersedia menerima tulisan Saudara untuk terbitan selanjunya.

Akhir kata, kami berharap semoga tulisan-tulisan yang dimuat pada edisi ini bermanfaat bagi setiap pihak yang membacanya.

(5)

PERBANDINGAN HASIL BELAJAR SISWA YANG MENGGUNAKAN STRATEGI INKUIRI JURISPRUDENSIAL BERBANTUAN LKS DENGAN MENGGUNAKAN

STRATEGI PEMBELAJARAN EKSPOSITORI Simon Panjaitan(1), Efron Manik(2).

Jurusan Pendidikan Matematika FKIP Universitas HKBP Nommensen E-mail: [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan hasil belajar siswa yang menggunakan Strategi Pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial berbantuan LKS dengan menggunakan Strategi Ekspositori Dengan menggunakan uji liliefors untuk menguji normalitas data skor hasil belajar siswa untuk kelompok strategi pembelajaran inkuiri jurisprudensial diperoleh L0 = 0,159 dan Ltabel = 0,167 dengan n

= 38 dan ternyata diperoleh L0 < Ltabel dan untuk strategi pembelajaran

Ekspositori doperoleh L0 = 0,138 dan Ltabel = 0,174 denan n = 35 dan

ternyata diperoleh L0< Ltabel , sehingga dapat disimpulkan bahwa data skor hasil

belajar kedua kelas berdistribusi normal. Berdasarkan skor hasil belajar siswa diperoleh hasil uji homogenitas sampel dengan menggunakan uji F untuk taraf signifikansi 0,01 diperoleh Fhitung = 0,355 dan Ftabel = 2,217 ternyata diperoleh Fhitung

< Ftabel . Sehingga dapat dikatakan bahwa kedua sampel adalah homogen atau

berasal dari populasi yang bervarians sama. Pengujian hipotesis penelitian dilakukan dengan uji selisih dua rataan denan taraf signifikansi dan diperoleh thitung =

2,377 dan jika dibandingkan dengan harga ttabel = 1,66084, ternyata thitung > ttabel .

sehingga dapat dikatakan bahwa rataan kedua sampel berbeda secara signifikan. Hasil analisis data menggambarkan rata-rata skor untuk strategi pembelajaran inkuiri jurisprudensial berbantuan LKS adalah 70,395 dan rata-rata skor untuk strategi pembelajaran ekspositori adalah 70,143. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa: Hasil belajar siswa menggunakan strategi inkuiri jurisprudensial lebih baik daripada hasil belajar siswa yang menggunakan strategi pembelajaran ekspositori, hal ini dapat diketahui hasil rataan skor tes siswa dengan strategi inkuiri jurisprudensial lebih tinggi dibandingkan rataan skor tes siswa dengan strategi ekspositori.

Kata Kunci: Hasil Belajar, Strategi Inkuiri Jurisprudensial Berbantuan LKS

1. PENDAHULUAN

Saat ini dunia pendidikan matematika dihadapkan pada masalah rendahnya penguasaan anak didik pada setiap jenjang pendidikan terhadap matematika. Hal ini dapat dilihat dari prestasi belajar matematika yang dicapai siswa masih rendah. Rendahnya hasil belajar matematika disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu secara umum ditinjau dari tuntutan kurikulum yang lebih

menekankan pada pencapaian target. Artinya, semua bahan harus selesai diajarkan dan bukan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep matematika.

Berdasarkan informasi yang diperoleh peneliti dari guru matematika di SMP PGRI 6 Medan bahwa hasil belajar siswa kurang memuaskan karena siswa mengalami kesulitan menemukan jawaban dari suatu masalah yang diberikan guru, terutama dalam

(6)

mengubah soal cerita dan menyelesaikan soal cerita pada pokok bahasan sistem persamaan linier dua variabel. Peneliti menemukan masalah hasil belajar yang rendah pada pokok bahasan persamaan linier dua variabel karena dalam proses pembelajaran guru menggunakan strategi pembelajaran ekspositori yaitu strategi yang pola belajarnya didominasi oleh guru sehingga siswa cenderung bersikap pasif karena hanya menerima bahan ajaran yang disampaikan. Hasil yang kurang memuaskan ini memotivasi peneliti untuk mencoba strategi lain yaitu strategi pembelajaran inkuiri jurisprudensial yang bertujuan mengajari siswa untuk menganalisis dan berpikir secara sistematis dan kritis.

Untuk mencapai suatu kemampuan analisi dan berpikir sistematis maka diperlukan suatu strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam mencari suatu jawaban dari permasalahan. Strategi pembelajaran itu adalah strategi pembelajaran inkuiri jurisprudensial karena strategi pembelajaran ini mampu memotivasi siswa untuk mencari suatu solusi dari suatu permasalahan sehingga merangsang kemampuan analisi dan berpikir sistematis siswa yang akhirnya meningkatkan kreativitas siswa dalam menghadapi tantangan era globalisasi (Situmorang A.S., 2013).

Strategi pembelajaran ini dikembangkan oleh Donald Oliver dan James P.Shaver . strategi pembelajaran ini bertujuan mengajari siswa untuk menganalisis dan berfikir secara sistematis dan kritis. Secara umum tahap pembelajaran inkuiri juridprudensial adalah: 1) Orientasi kasus/permasalahan (orientation to the case).Pada tahap ini guru mengajukan kasus dengan membacakan kasus yang terjadi, memperlihatkan film/video kasus , atau mendiskusikan suatu kasus dalam kehidupan sehari-hari dimasyarakat maupun disekolah. Langkah berikutnya adalah meninjau fakta-fakta dengan jalan melakukan analisis permasalahan tersebut; 2) Identifikasi

isu (identifying the issue). Pada tahap ini siswa dibimbing untuk mensintesis fakta-fakta yang ada kedalam sebuah isu yang sedang dibahas. Melakukan identifikasi konflik terhadap nilai-nilai yang ada. Dalam tahap ini siswa belum diminta untuk menentukan pendapatnya terhadap kasus yang dibahas; 3) Penetapan pendapat (taking position). pada tahap ini siswa mengambil pendapat terhadap kasus/permasalahan yang ada; 4) Menyelidiki cara berpendirian, pola argumentasi (exploring the stance, patterns of argumentation). Memberikan klarifikasi terhadap nilai-nilai konflik/permasalahan dengan menggunakan analogi. Menetapkan prioritas dari satu keputusan di antara keputusan/nilai-nilai lainnya dan mengevaluasi kekurangan-kekurangan dari nilai/keputusan yang lainnya; 5) Memperbaiki dan mengkualifikasi posisi (refining and argumentation). Siswa menyatakan posisi dan alasanya terhadap masalah, dan menguji sejumlah situasi/kondisi yang mirip terhadap

permasalahannya. Siswa

mengkualifikasi(terhadap standar) posisinya; 6) Melakukan pengujian asumsi-asumsi terhadap posisinya/pendapatnya (testing factual assumtions behind qualified positions). Siswa melakukan identifikasi asumsi-asumsi pendapat dan melihat relevansinya, serta melakukan pengujian atas asumsi-asumsi.

Di sisi lain Ekspositori berasal dari bahasa Inggris, yaitu to expose yang berarti mengungkapkan, membongkar, dan membeberkan. Sanjaya (2010:179) menyatakan bahwa: “Strategi pembelajaran ekspositori adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal”.

Pembelajaran dengan strategi ekspositori bertolak dari pandangan bahwa tingkah laku kelas dan penyebaran pengetahuan dikontrol dan ditentukan oleh guru atau pengajar.

(7)

Dalam strategi ini siswa diharapkan dapat menangkap dan mengingat informasi yang telah diberikan guru, serta mengungkapkan kembali yang dimiliki siswa melalui respon yang diberikan siswa pada saat diberikan pertanyaan oleh guru. Strategi ekspositori digunakan guru untuk menyajikan bahan pelajaran secara utuh atau menyeluruh, lengkap dan sistematis dengan penyampaian secara verbal. Pembelajaran dengan strategi ekspositori menempatkan guru sebagai pusat pengajaran, karena guru lebih aktif memberikan informasi, menerangkan suatu konsep, mendemonstrasikan keterampilan dalam memperoleh pola, aturan, dalil, memberi contoh soal beserta penyelesaiannya, memberikan kesempatan bagi siswa untuk bertanya.

Sedangkan LKS merupakan lembar kerja bagi siswa baik dalam kegiatan intrakurikuler maupun kokurikuler untuk mempermudah pemahaman terhadap materi pelajaran yang didapat. Menurut Hamdani (2011 : 74) bahwa “LKS merupakan perangkat pembelajaran sebagai pelengkap atau sarana pendukung pelaksanaan rencana pembelajaran. Lembar kerja siswa berupa lembaran kertas yang berupa informasi maupun soal-soal (pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh siswa)”. Hal ini sejalan dengan pendapat Trianto(2011 : 223) bahwa “Lembar kerja siswa atau LKS memuat sekumpulan kegiatan mendasar yang harus dilakukan oleh siswa untuk memaksimalkan pemahaman dalam upaya pembentukan kemampuan dasar sesuai indikator pencapaian hasil belajar yang harus ditempuh”.

Jadi berdasarkan pendapat-pendapat para ahli tersebut dipahami bahwa Lembar Kerja Siswa (LKS) adalah lembar kerja yang intinya berisi kegiatan siswa dalam proses pem,belajaran dimana siswa mencari informasi dari buku-buku yang digunakan dan instruksi dari guru kepada siswa agar dapat mengerjakan sendiri suatu kegiatan belajar melalui praktek atau mengerjakan tugas dan latihan yang dengan berkaitan dengan materi

yang diajarkan untuk mencapai tujuan pengajaran.

Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimanakah hasil belajar siswa dengan Strategi Pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial berbantuan LKS pada Materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel Di Kelas IX SMP PGRI 6 Medan; 2) Bagaimanakah hasil belajar siswa dengan Strategi Pembelajaran Ekspositori pada Materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel Di Kelas IX SMP PGRI 6; 3) Apakah hasil belajar siswa menggunakan Strategi Pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial berbantuan LKS lebih baik daripada menggunakan Strategi Pembelajaran Ekspositori pada Materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel Di Kelas IX SMP PGRI 6 Medan.

Berdasarkan rumusan masalah pada bab I dan landasan teoritis pada bab II ini maka hipotesis dari penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

0: 1 2

H   , Rataan hasil belajar siswa menggunakan strategi pembelajaran inkuiri jurisprudensial tidak lebih baik daripada menggunakan strategi pembelajaran ekspositori.

1 2

:

a

H   , Rataan hasil belajar siswa menggunakan strategi pembelajaran inkuiri jurisprudensial lebih baik daripada menggunakan strategi pembelajaran ekspositori. 2. METODE

Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen yang membedakan hasil belajar siswa yang menggunakan strategi pembelajaran inkuiri jurisprudensial berbantuan LKS dengan strategi pembelajaran ekspositori. Sesuai dengan judul penelitian ini, maka yang menjadi lokasi penelitian ini adalah SMP PGRI 6 Medan . Peneliti memilih lokasi penelitian tersebut karena di

(8)

sekolah tersebut belum pernah dilakukan penelitian yang sama dengan penelitian ini.

Dalam penelitian ini untuk mengetahui normalitas dari sampel digunakan uji liliefors. Prosedur pengujian adalah sebagai berikut: a) Menyusun skor siswa dari skor yang terendah ke skor tertinggi; b) Skor mentah dijadikan bilangan baku Z1, Z2, Z3, …, Zn dengan rumus: S X x z i i   ; c) Pengamatan X1, X2 , X3 , …, Xn dijadikan Z1, Z2, Z3, …, Zn dengan rumus: S X x z i i   ; d) Menghitung peluang F(zi) = P(z < zi) dengan menggunakan daftar distribusi normal baku; e) Menghitung proporsi S(zi) dengan rumus:

n z z Banyaknya z S i i   ) ( ; f) Menghitung

selisih F(zi) – S(zi) kemudian menentukan harga mutlaknya; g) Mengambil harga yang paling besar di antara harga-harga mutlak tersebut. Sebutlah harga terbesar ini L . 0 Untuk menerima atau menolak hipotesis, L 0 dibandingkan dengan nilai kritis L yang diambil dari daftar nilai kritis untuk uji liliefors dengan taraf nyata  = 0,01. Kriteria pengujian: 1) Jika L < L0 tabel maka sampel berdistribusi normal; 2) Jika L > L0 tabel maka sampel tidak berdistribusi normal. Jika data tidak berdistribusi normal maka untuk pengujian hipotesis digunakan statistik non parametric.

Untuk uji homogenitas (uji kesamaan dua varians) dengan hipotesis:

Ho: 12 = 22

(mengetahui Varians populasi kelompok pembelajaran inkuiri jurisprudensial dan kelompok pembelajaran ekspositori sama secara signifikan)

Ho: 12 ≠ 22

(Varians populasi kelompok pembelajaran inkuiri jurisprudensial dan kelompok pembelajaran ekspositori berbeda secara signifikan)

Diuji dengan menggunakan rumus:

Y X hit S S terkecil Varians terbesar Varians F 2 2   .(Simbolon 2009:168).

Kriteria pengujian adalah sebagai berikut : jika Fhit;(v1,v2) F;(V1,V2) dengan F;(V1,V2)

didapat dari daftar distribusi F dengan peluang α, sedangkan derajat kebebasan (dk).

1

1 1  N

v dan v2  N2 1 dengan taraf nyata α = 0,01 maka kedua kelompok sampel berasal dari populasi yang memiliki varians yang homogen.

Untuk membedakan prestasi belajar siswa dari kedua sampel digunakan uji selisih dua rataan. Untuk selanjutnya pengolahan data diawali dengan menguji persyaratan statistik yang diperlukan sebagai dasar dalam pengujian hipotesis antara lain uji normalitas dan homogenitas, selanjutnya dilakukan ANOVA 2 jalur untuk menguji hipotesis yang disesuaikan dengan permasalahannya. Seluruh perhitungan statistik menggunakan bantuan komputer yakni program SPSS 17. 3. PEMBAHASAN DAN HASIL

3.1. Analisis Data Hasil Penelitian

Penelitian dilakukan di SMP PGRI 6 Medan T.P.2014/2015, dimulai dari tanggal 29 September 2014 s/d 12 Januari 2015, mengambil dua kelas untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol.

4.2. Statistik Data

Statistik dari dua Strategi yaitu Inkuiri Jurisprudensial berbantuan LKS dan Strategi Ekspositori disajikan pada tabel 1 berikut :

Tabel 1.Statistik Skor Kedua Sampel

Jenis Statistik Kelas Eksperimen Kelas Kontrol N(Banyak data) 38 35 Rata-rata 70,395 70,143 Varians 405,867 342,067 Simpangan baku 20,146 18,495 Skor tertinggi 100 100 Skor terendah 40 40

(9)

Dari data statistik diatas tampak nilai kedua sampel, sehingga dapat disimpulkan hasil belajar matematika siswa menggunakan Strategi Inkuiri Jurisprudensial berbantuan LKS lebih tinggi dari pada hasil belajar matematika siswa menggunakanStrategi Ekspositori.

4.2.2 Uji Normalitas Data 1. Kelompok eksperimen

Dari hasil perhitungan diperoleh harga L0 = 0,132dengan menggunakan tabel uji normalitas Liliefors dimana n = 38 dan taraf nyata α = 0,01 maka harga Ltabel = 0,167. Selanjutnya dengan L0 dibandingkan dengan harga Ltabel dan dilihat bahwaLo< Ltabel.Dengan demikian disimpulkan bahwa data hasil belajar siswa berasal dari populasi yang menyebar normal.

2. Kelompok kontrol

Dari hasil perhitungan diperoleh harga Lo = 0,138 sedangkan Ltabel = 0,174 untuk n = 35 dan taraf nyata α = 0,01. Ternyata Lo< Ltabel.Dengan demikian disimpulkan bahwa data hasil belajar siswa berasal dari populasi yang menyebar normal.

4.2.3 Uji Homogenitas Varians

Dari hasil perhitungan diperoleh nilai Fhit = 1,186. Jika dibandingkan dengan Ftabel untuk α = 0,01 dan v1 = 37 serta v2 = 34 maka dengan menggunakan uji dua pihak diperolah titik-titik kritik F0,01;37, 34 = 2,61, dimana daerah kritiknya adalah Fhit< F(0,01;37,34). Ternyata diperoleh Fhit berada pada daerah kritik yaitu 1,186 < 2,61. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kedua sampel berasal dari populasi yang bervarians homogen.

4.3 Pengujian Hipotesis Penelitian

Hipotesis ini diuji dengan menggunakan uji selisih dua rataan yaitu dengan menggunakan uji t menunjukkan bahwa thitung = 2,377. Setelah membandingkan harga thitung dengan ttabel dengan taraf nyata α = 0,01 dan dk = 71 didapat bahwa t0,95,71 = -2,377 dan t0,95,71 = 2,377, ternyata thitung tidak

ada pada daerah kritik karena 2,377 > 1,66084 sehingga H0 ditolak dan Ha diterima.

Dengan demikian, disimpulkan bahwa rataan kedua sampel berbeda secara signifikan. Maka, dapat dikatakan strategi pembelajaran inkuiri jurisprudensial berbantuan LKS lebih baik digunakan daripada strategi pembelajaran ekspositoripada Materi Sistem Persamaan Linier Dua Variabel di kelas IX SMP PGRI 6 Medan.

Hasil penelitian yang telah dianalisi berdasarkan peningkatan kemampuannya selanjutnya diperoleh temuan penelitian yang mengkaji seberapa besar peningkatan itu yang telah tuntas dalam proses pembelajaran yang dapat digunakan sebagai acuan untuk mengetahui keefektifan dari peningkatan kemampuan yang terjadi. Hasil ketuntasan itu dapat dilihat pada tabel 2 berikut.

Interval Nilai Jumlah Siswa Persentasi Kategori Penilaian 85-100 30 75% Sangat Baik 75-84 8 20% Baik 60-74 1 3% Cukup 45-59 0 0% Kurang 0-44 1 3% Sangat Kurang 40 100%

Dari segi ketuntasan atau siswa yang mencapai skor 75 atau lebih sesuai dengan ketetapan yang berlaku di tempat penelitian ditemukan bahwa yang memperoleh pembelajaran PBI ada sebesar 95% (38 orang dari 40 orang) yang telah tuntas belajar untuk indikator translasi, 95% (38 orang dari 40 orang) yang telah tuntas belajar untuk indikator interpretasi, 95% (38 orang dari 40 orang) yang telah tuntas belajar untuk indikator ekstrapolasi, dan 95% (38 orang dari 40 orang) yang telah tuntas belajar untuk kumulatif indikator. Hal ini lebih banyak daripada pembelajaran biasa sebesar 32,5% (13 orang dari 40 orang) untuk indikator translasi, 32,5% (13 orang dari 40 orang) untuk indikator interpretasi, 35% (14 orang

(10)

dari 40 orang) untuk indikator ekstrapolasi dan 30% (12 orang dari 40 orang) untuk kumulatif indikator. Hal ini menunjukkan bahwa model pencapaian konsep dan pembelajaran biasa efektif untuk digunakan dan ketuntasan belajar dengan menggunakan model Problem Based Instruction (PBI) lebih tinggi dibanding dengan ketuntasan dengan pembelajaran biasa.

3. KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil analisis data serta pengujian hipotesis, peneliti mengemukakan kesimpulan dan saran sesuai dengan penelitian ini.

a) Kesimpulan

1. Kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang diajar menggunakan strategi inkuiri jurisprudensial berbantuan LKS pada materi Sistem Persamaan Linier Dua Variabel di kelas IX SMP PGRI 6 Medan berturut-turut hasil rata-rata, varians, dan simpangan baku yang di peroleh yaitu

X 70,395 ; S2 = 405,867; S = 20,146 2. Kemampuan pemecahan masalah

matematika siswa yang diajar menggunakan strategi pembelajaran ekspositori pada materi Sistem Persamaan Linier Dua Variabel di kelas IX SMP PGRI 6 Medan dapat dilihat dari hasil rata-rata, varians dan simpangan baku yang di peroleh yaitu Y 70,143;

2

S 342,067; S = 18,495.

3. Terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang diajar menggunakan strategi inkuiri jurisprudensial berbantuan LKS dengan strategi ekspositori pada materi Sistem Persamaan Linier Dua Variabel di kelas IX SMP PGRI 6 Medan.

b) Saran

Berdasarkan kesimpulan yang telah dikemukakan peneliti di SMP PGRI 6 Medan maka peneliti mengemukakan saran yang mungkin berguna khususnya bagi pendidik, yaitu:

1. Sesuai dengan hasil penelitian ini bahwa kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang diajar menggunakan strategi inkuiri jurisprudensial berbantuan LKS lebih baik daripada strategi ekspositori, maka peneliti menyarankan kepada guru dan calon guru untuk mencoba menggunakan strategi ini dalam pembelajaran matematika khususnya pada materi sistem persamaan linier dua variabel.

2. Dapat dipertimbangkan untuk menggunakan strategi ini pada materi matematika lainnya di tingkatan kelas yang berbeda pula.

3. Penggunaan LKS dalam pembelajaran yang menggunakan strategi inkuiri jurisprudensial membantu proses pembelajaran, namun dapat dipikirkan penggunaan sumber-sumber belajar lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Mulyono. 2009. Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta

Arikunto, Suharsimi. 2010. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

Arikunto, Suharsimi. 2009. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

Djamarah, Syaiful.2006. Stategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta Hamalik , Oemar. 2009. Proses Belajar

(11)

Hamdani.2011.Strategi Belajar Mengajar.Jakarta: Pustaka Setia. Mudjiono dan Dimyati. 2009. Belajar dan

Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Sagala, Syaiful. 2009. Konsep dan Makna

Pembelajaran. Bandung: Alfabeta Sanjaya, Wina. 2010. Strategi Pembelajaran.

Jakarta : KencanaPerdana media Group

Simbolon, Hotman. 2009. Statistika. Yogyakarta: Graha Ilmu

Situmorang, A.S., 2014. Desain Model Pembelajaran Based Learning dalam peningkatan kemampuan pemahaman konsep mahasiswajurusan pendidikan

matematika semester 3 FKIP-UHN Medan. Medan: 1(1), (1– 9).

Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta

Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT

Remaja Rosdakarya

Trianto.2009.Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif.Jakarta : Kencana Perdana Media Group

Wena, Made. 2013. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer Suatu Tinjauan Konseptual Operasional. Jakarta. PT Bumi Aksara

(12)

ANALISIS KINERJA GURU PROFESIONAL UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN DI KOTA PEMATANGSIANTAR

( Studi Kasus di SMA Negeri Pematangsiantar ) Dearlina Sinaga

Jurusan Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas HKBP Nommensen E-mail: [email protected]

ABSTRAK

Profession means that education is based on field work expertise. Professional as an adjective means requires the knack to do it. Professional and effective teacher is the key to the success of the learning process so that efforts to improve teacher quality must be done continuously in accordance with Law No. 14 2005, and PP No. 19 2005 on National Education Standards, also No. 10 2009 on certification for teachers position. To carry out all duties in a professional manner, needs to be seen from the performance of teachers .One of the main causes of the low quality of education in Indonesia is low performance of teachers. This phenomenon should be a boost for the city government Pematangsiantar to participate in improving the quality of education, so to realize the City Siantar into Education City. From the description of research questions can be formulated as follows: (1) Is there a role of the professional teacher performance in improving the quality of education in Pematangsiantar? (2) Do the efforts of principals and education authorities to address indiscipline teachers? (3) Does the Department of Education in an effort to improve the quality of teachers in Pematangsiantar? The purpose of this research is as follows: (1) To analyze the performance of professional teachers in improving the quality of education in Pematangsiantar. (2) To know the efforts of principals and education authorities in applying the rules that have been created for teachers. (3) Knowing the efforts of the Department of Education to improve the quality teachers.Type of research is a case study , aiming to find a professional to analyze the performance of teachers in improving the quality of education in Pematangsiantar . Data analysis was performed by organizing the data , translate it into units , synthesize, organize into a pattern , choose which ones are important to be studied and make conclusions that can be told to others.The data analysis technique used in this study descriptive analysis. Descriptive analysis method using rules , descriptions and explanations based on the data and information obtained from interviews and questionnaires. From the respondents' answers in the discussion above it can be concluded that the discipline of teachers are still low , because there are many teachers who came late , no excuse at the time of leaving the class or do not attend school , including lack of awareness to follow the flag ceremony. Based on the data from each of the schools stated that students who enter State Universities slightly increased. Based on the answers of respondents said that teachers are still a few who use a variety of methods , so the less the main attraction for students to interact so much faster to understand and comprehend. From the Vice Principal description of each part of the school curriculum that both the professional teacher is still much to be expected , because they daily do not show the title of the job professionalism.

(13)

1. PENDAHULUAN

Para ahli pendidikan, secara terus terang mengakui bahwa pokok persoalan dunia pendidikan yang sering dibahas adalah kualitas guru yang rendah. Pernyataan tersebut memberikan gambaran bahwa masalah pendidik atau guru memang belum sepenuhnya mendapat perhatian yang memadai oleh para praktisi pendidikan, apalagi oleh pengambil kebijakan pendidikan. Hak-hak tenaga pendidik sebagai pribadi, pemangku profesi keguruan, anggota masyarakat dan warga Negara yang selama ini terabaikan, perlu mendapat prioritas dalam era pasca reformasi kini.

Profesi sebagai kata benda berarti bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian tertentu. Profesional sebagai kata sifat berarti memerlukan kepandaian khusus untuk melaksanakannya. Guru yang profesional dan efektif merupakan kunci keberhasilan proses belajar mengajar sehingga upaya meningkatkan kualitas guru harus tetap dilakukan terus menerus sesuai dengan UU No 14 Thn 2005, dan PP No 19 thn 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, juga Permendiknas No 10 thn 2009 tentang Sertifikasi bagi guru dalam jabatan.

Secara lebih terukur, Muhlisin (2012:12) mengemukakan bahwa :”kinerja adalah tingkat keberhasilan seseorang atau kelompok orang dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya serta kemampuan untuk mencapai tujuan dan standar yang telah ditetapkan”. Kemudian menurut Indrawati (2012:12), “kinerja adalah penampilan hasil karya personil, baik kuantitas maupun kualitas dalam suatu organisasi dan merupakan penampilan individu maupun kelompok kerja personi”l. Sementara Barnawi (2012:12) lebih tegas menyebutkan bahwa “kinerja mengacu kepada kadar pencapaian tugas-tugas yang membentuk sebuah pekerjaan seseorang”. Kinerja merefleksikan seberapa

baik karyawan memenuhi persyaratan sebuah pekerjaan. Dari ketiga pendapat di atas dapat kita simpulkan bahwa Kinerja adalah tingkat keberhasilan seseorang atau kelompok orang dalam melaksanakan tugas baik secara kuantitas maupun kualitas yang membentuk suatu pekerjaan.

Kinerja guru tidak terwujud dengan begitu saja, tetapi dipengaruhi oleh faktor faktor tertentu. Baik faktor internal maupun eksternal sama-sama membawa dampak terhadap kinerja guru. Faktor internal kinerja adalah faktor yang datang dari dalam diri yang dapat memengaruhi kinerjanya, contohnya ialah kemampuan, keterampilan, kepribadian, persepsi, pengalaman lapangan, motivasi menjadi guru dan latar belakang keluarga.

Faktor internal tersebut pada dasarnya dapat direkayasa melalui pre-service dan in service training. Pada pre-service training, cara yang dapat dilakukan ialah dengan menyeleksi calon guru secara ketat, penyelenggara proses pendidikan guru yang berkualitas, dan penyaluran lulusan yang sesuai dengan bidangnya. Sementara pada in-service training, cara yang bisa dilakukan ialah dengan menyelenggarakan diklat yang berkualitas secara berkelanjutan.Faktor eksternal kinerja guru adalah faktor yang datang dari luar guru yang dapat memengaruhi kinerjanya, contohnya ialah (1) gaji; (2) sarana dan prasarana; (3) lingkungan kerja fisik; (4) kepemimpinan.

Bagan 2.1. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja guru

(14)

Rendahnya kinerja guru dapat menurunkan mutu pendidikan dan menghambat tercapainya visi di suatu sekolah. Oleh kerena itu, kinerja guru harus dikelola dengan baik dan dijaga agar tidak mengalami penurunan. Menurut Barnawi (2012:78),“Upaya untuk mengembangkan dan meningkatkan kinerja pegawai pada dasarnya merupakan suatu kebutuhan organisasi yang tidak pernah berakhir.”.Agar standar kinerja yang baru dapat lebih menantang bagi guru, perlu adanya strategi peningkatan kinerja yang mampu mendorong peningkatan kinerja yang optimal.Proses peningkatan kinerja dapat dilihat pada diagram ini.

Bagan 2.2. Diagram meningkatkan kerja (Sumber: Barnawi, 2012:79)

Diagram di atas menunjukan bahwa dalam meningkatkan kinerja ada beberapa tahap yang harus dilewati, yaitu (1); Meningkatkan prestasi bawahan; (2) Meningkatkan kebiasaan kerja; (3) Melakukan tindak lanjut yang efektif; (4) Melakukan tindakan disiplin yang efektif;(5) Memelihara prestasi yang meningkat.

Ada dua strategi penting yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kinerja guru, yaitu pelatihan dan motivasi kinerja. Pelatihan digunakan untuk menangani rendahnya kemampuan guru, sedangkan motivasi kinerja digunakan untuk menangani rendahnya semangat dan gairah kerja. Intensitas pengguna kedua strategi tersebut tergantung dari kondisi guru itu sendiri.

Dalam bahasa inggris, disciple memiliki arti penganut, pengikut, atau murid. Sementara dalam bahasa latin, diciplina berarti latihan atau pendidikan, pengembangan tabiat, dan kesopanan. Dalam konteks keguruan, disiplin mengarah pada kegiatan yang mendidik guru untuk patuh terhadap aturan sekolah. Dalam disiplin terdapat unsur-unsur yang meliputi pendoman perilaku, peraturan yang konsisten, hukuman, dan penghargaan. Sinambela (2012:109) mengemukakan, “hakikatnya disiplin adalah kepatuhan pada aturan atau perintah yang ditetapkan oleh organisasi. Menurut Aritonang (2012:110), “disiplin pada hakikatnya adalah kemampuan untuk mengendalikan diri dalam bentuk tidak melakukan sesuatu tindakan yang tidak sesuai atau bertentangan dengan sesuatu yang telah ditetapkan”. Muhlisin (2012:110) memberikan pengertian “disiplin sebagai suatu keadaan tertib ketika orang–orang bergabung dalam suatu organisasi tunduk pada peraturan- peraturan yang telah ada dengan rasa senang”.

Berbagai teori tersebut menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang signifikan diantara variabel kinerja dengan disiplin kerja. Dalam hal ini jika di telaah lebih lanjut variabel disiplin kerjalah yang mempengaruhi kinerja pegawai. Artinya, semakin tinggi disiplin kerja seseorang, akan semakin tinggi juga kinerja orang tersebut. Meskipun ada kemungkinan terdapat hubungan timbal balik diantaranya dimana paradigmanya bisa dibalik bahwa kinerja dapat mempengaruhi disiplin kerja, secara umum justru disiplin kerjalah yang berkontribusi pada kinerja Sinambela (2012:109).

Disiplin kerja guru sangat penting untuk dikembangkan karena tidak hanya bermanfaat bagi sekolah, tetapi juga bagi guru itu sendiri. Barnawi (2012:116).” mengemukakan bahwa kegunaan disiplin dalam organisasi dapat diperlihatkan dalam

(15)

empat perspektif yaitu restribusi, korektif, hak-hak individual dan utilitarian”. Dalam perspektif retribusi, disiplin kerja berguna untuk menghukum para pelanggar aturan sekolah. Pendisiplinan dilakukan secara proporsional dengan sasarannya. Dalam perspektif korektif, disiplin kerja berguna untuk mengoreksi tindakan guru yang tidak tepat. Sanksi yang diberikan bukan sebagai hukuman, melainkan untukmengoreksi perilaku yang salah. Biasanya guru yang melanggar aturan dipantau apakah guru tersebut menunjukan sikap untuk mengubah prilaku atau tidak. Dalam perspektif hak– hak individu, disiplin kerja berguna untuk melindungi hak-hak dasar guru. Dalam perspektif utilitarian, disiplin kerja berguna untuk memastikan bahwa manfaat penegakan disiplin melebihi konsekuensi-konsekuensi negatif yang harus ditanggung sekolah (Sinambela2012:243). Dengan adanya disiplin kerja guru, kegiatan sekolah dapat dilaksanakan dengan tertib dan lancar. Selain itu, prestasi siswa juga dapat terwujud secara optimal. Tidak ada lagi guru yang terlambat masuk dan tidak ada lagi guru yang mengajar tanpa persiapan. Semua bekerja sesuai dengan standar waktu dan standar kualitas yang telah ditetapkan sebelumnya.

Hal ini yang menjadi alasan untuk mengetahui apakah guru-guru tersebut menerapkan cara-cara profesional mereka dalam melaksanakan tugasnya, namun dari observasi langsung di lapangan masih banyak tidak sesuai dengan sertifikat profesional yang mereka miliki. Seperti contoh beberapa guru bidang studi menggunakan cara atau metode yang monoton dalam menyajikan materi pembelajaran, sehingga membuat siswa jenuh dan tidak tertarik pada materi yang disajikan tersebut. Ada juga guru yang tidak menguasai materi yang disajikan, sehingga sering sekali siswa mengeluh dan guru tersebut sering meninggalkan kelas sampai waktu pelajarannya usai, Hal yang

terpenting dari itu adalah ketidakdisiplinan guru-guru dalam menjalankan tugasnya, sehingga hal ini harus benar-benar mendapat perhatian pimpinan yang terkait agar peraturan yang ada benar-benar dapat dilaksanakan dengan baik, sehingga dapatlah dikatakan guru itu benar sebagai orang yang profesional.

Seseorang dianggap professional, apabila mampu mengerjakan tugasnya dengan selalu berpegang teguh pada etika kerja, independen ( bebas dari tekanan pihak luar ), cepat ( produktif ), tepat ( efektif ), efisien dan inovatif serta didasarkan pada prinsip-prinsip pelayanan prima yang didasarkan pada unsur-unsur ilmu atau teori yang sistematis, kewenangan profesional, pengakuan masyarakat dan kode etik yang regulatif. Pengembangan wawasan dapat dilakukan melalui forum pertemuan profesi atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran ( MGMP ), pelatihan ataupun upaya pengembangan dan belajar secara mandiri. Tugas dan peran guru dari hari ke hari semakin berat, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Guru sebagai komponen utama pendidikan dan dituntut untuk mampu mengimbangi bahkan melampaui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang dalam masyarakat. Melalui sentuhan guru di sekolah diharapkan menghasilkan peserta didik yang memiliki kompetensi tinggi dan siap menghadapi tantangan hidup.

Untuk menjalankan semua tugas secara profesional, perlu dilihat dari kinerja guru. Salah satu penyebab utama rendahnya mutu pendidikan di Indonesia ialah rendahnya kinerja guru. Rendahnya kinerja guru dipengaruhi banyak faktor, baik internal maupun eksternal. Disiplin kerja merupakan salah satu faktor internal yang perlu dipertimbangkan dalam upaya meningkatkan kinerja guru. Disiplin kerja guru berhubungan erat dengan kepatuhan dalam menerapkan peraturan

(16)

sekolah.Disiplin kerja guru yang terabaikan akan menjadi budaya yang buruk sehingga menurunkan kinerja guru dalam menyelenggarakan proses pendidikan.

Dari uraian tersebut dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut:(1) Apakah ada peran kinerja guru profesional dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Kota Pematangsiantar ? (2) Apakah upaya kepala sekolah dan pihak dinas pendidikan menyikapi ketidakdisplinan guru-guru ? (3) Apakah upaya Dinas Pendidikan dalam meningkatkan kualitas guru di Kota Pematangsiantar?

Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Untuk menganalisis kinerja guru profesional dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Kota Pematangsiantar. (2) Mengetahui upaya kepala sekolah dan pihak dinas pendidikan dalam menerapkan peraturan yang telah di buat bagi guru-guru. (3) Mengetahui upaya Dinas Pendidikan dalam meningkatkan Kualitas Guru.

2. METODE

3.1. lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di kota Pematangsiantar dan yang menjadi unit adalah semua SMA Negeri di Pematangsiantar, di provinsi Sumatera Utara.

3.2. Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi adalah semua guru SMA Negeri yang ada di Pematangsiantar dengan jumlah 510 guru (yang sudah bersertifikasi maupun yang belum).Sedangkan sampel adalah semua guru yang belum bersertifikasi dengan jumlah sampel 92 orang. Penentuan jumlah sampel dengan Rumus Slovin:

n = N / 1 + Nα2

Tabel 3.1. Populasi dan sampel Penelitian

Sumber: Diolah Peneliti 3.3 Variabel Penelitian

Adapun yang menjadi variabel penelitian dalam penelitian ini adalah :

a. Variabel Bebas adalah Kinerja guru professional

b. Variabel terikat adalah Kualitas Pendidikan.

3.4. Jenis dan Desain Penelitian 1.Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan adalah studi kasus, bertujuan untuk mengetahui menganalisis kinerja guru profesional dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Kota Pematangsiantar.

1. Desain Penelitian

Adapun desain penelitian dengan analisis deskriptif yang dikuantitatifkan.

3.5. Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang sebenarnya mengenai topik penelitian ini, maka peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yaitu:.

a.Dokumentasi

Untuk memperoleh data sekunder objek penelitian

b.Angket

Angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket tertutup dengan model skala likert. Angket yang diberikan kepada responden adalah tentang cara belajar siswa dan kompetensi guru dengan jumlah soal sebanyak soal. Setiap soal diberi alternatif jawaban dengan indeks nilai sebagai berikut:

a. Selalu Skor = 4 b. Kadang-kadang Skor = 3 c. Jarang Skor = 2

(17)

d. Tidak pernah Skor = 1 Tabel 3.2. Kisi-kisi Instrumen penelitian Variabel Indikator No Item JLH Kinerja Guru Profesio nal 1. Kompetensi Pedagogik 1, 2, 4, 5, 6, 7, 9, 14, 24, 9 2. Kompetensi Sosial 8, 10, 13, 15, 17, 27, 29 7 3. Kompetensi Pribadi 11, 12, 16, 18, 19,20,22, 23, 30 9 4. Kompetensi Profesional 3, 21, 25, 26, 28 5 Kualitas Pendidi kan 1. Mengikuti Olimpiade Sains Tingkat daerah, Provinsi dan Nasional. 31,32 2 2. Nilai Ujian Nasional Meningkat 33,34 2 3. Masuk ke PTN 35 1 JUMLAH 35

Teknik Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting yang akan dipelajari dan membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang lain.

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini analisis deskritif. Metode analisis deskriptif menggunakan peraturan, uraian dan penjelasan berdasarkan data serta informasi yang diperoleh dari hasil wawancara maupun kuisoner.

Tahapan analisis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a.Mereduksi data yang berarti merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal penting, di cari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu. b.Setelah data di reduksi, maka langkah selanjutnya

adalah mendisplay data. Penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, dan hubungan antar kategori. c.Langkah selanjutnya adalah menarik kesimpulan dan verifikasi

3. PEMBAHASAN DAN HASIL 4.1. Hasil Penelitian

Berikut ini, diberikan gambaran tentang data yang diperoleh dari hasil kuesioner. Dari Jawaban Responden Mengenai persiapan bahan ajar sebelum mengajar dapat diketahui bahwa sebelum mengajar guru-guru yang sudah sertifikasi, dalam melaksanakan tugasnya tidak selalu mempersiapkan bahan ajar sesuai dengan tujuan pembelajaran, hanya 30 % yang selalu mempersiapkan bahan ajar, 54 % yang sering, yang jarang 16 %, dan yang tidak pernah 0 %.

Dari Jawaban Responden Mengenai metode mengajar yang ditentukan sendiri oleh guru sebelum mengajar.dapat dilihat bahwa jawaban responden yang menyatakan metode sebelum mengajar ditentukan sendiri oleh guru adalah sebagai berikut: selalu 45 %, sering 53 %, jarang 2 % dan tidak pernah 0 %, dari ke tiga persentase yang paling tinggi adalah menyatakan sering menentukan metode sendiri dalam persiapan sebelum mengajar.

Dari Jawaban Responden Mengenai persiapan mengajar.dapat dilihat jawaban responden yang menyatakan guru jarang dapat mengajar dengan baik tanpa persiapan. Sesuai dengan persentase adalah : jarang 60 % , sering 23 %, selalu 1 % dan tidak pernah 16 %,`

Dari jawaban Responen mengenai perangkat penilaian dapat dilihat jawaban responden yang menyatakan guru yang sertifikasi tidak semuanya menyiapkan perangkat penilaian untuk kelas yang menjadi tanggung jawabnya, hanya 26 % yang selalu menyiapkan perangkat penilaian, yang sering 53 % dan yang jarang 21 %. Hal ini menunjukan bahwa sebagian guru menilai siswa pada saat akhir

(18)

semester saja, ini menunjukan nilai yang dikelolah berkesan asal- asalan atau tidak sesuai dengan hasil yang diperoleh.

Dari jawaban Responden mengenai metode yang bervariasi dalam pembelajaran.dapat dilihat jawaban responden yang menyatakan hanya 2 % guru yang sertifikasi menggunakan metode yang bervariasi dalam pembelajaran, 21 % yang sering, 72 % yang jarang dan yang tidak pernah menggunakan metode yang bervariasi adalah 5 %. Metode yang bervariasi merupakan cara agar dalam proses pembelajaran membuat siswa tertarik dan dapat mudah mengerti dan memahami.

Dari jawaban Responden mengenai evaluasi dan remedial dapat dilihat jawaban responden yang menyatakan bahwa guru yang sertifikasi yang selalu memberikan kesempatan kepada siswa untuk remedial setiap mengadakan evaluasi hanya 4 %, yang sering 32 %, yang jarang 50 %, dan yang tidak pernah mengadakan remedial bagi siswa setiap evaluasi adalah 7 %. Dari tabel juga dapat kita lihat, masih ada guru yang tidak pernah mengadakan remedial, karena ini berguna untuk melihat kemampuan murid, sejauh mana siswa menguasai materi yang disampaikan oleh guru, sehinnga dapat mengukur juga keberhasilan guru dalam penyampaian materi pembelajaran.

Dari jawaban Responden mengenai metode ceramah yang digunakan dalam pembelajaran. dapat dilihat jawaban responden yang menyatakan bahwa guru yang sudah sertifikasi selalu menggunakan metode ceramah sebagai satu-satunya metode dalam pembelajaran yaitu 22 %, yang menyatakan sering 56 % , yang menyatakan jarang 22 %, dan yang menyatakan tidak pernah 0 %.

Dari jawaban Responden mengenai ide-ide baru yang diberikan guru kepada Kepala Sekolah dapat dilihat jawaban responden yang menyatakan bahwa guru

yang sertifikasi sering memberikan ide-ide baru kepada Kepala Sekolah untuk kemajuan Sekolah, Hal ini ditunjukan pada tabel yang menyatakan selalu 0 %, sering 46 %, Jarang 52 % dan Tidak Pernah 2 %.

Dari jawaban Responden mengenai pemberian nilai kepada siswa.dapat dilihat jawaban Responden yang menyatakan bahwa guru yang sertifikasi memberikan nilai kepada siswa sesuai dengan keinginan hatinya tanpa mengolah nilai sebelumnya. Dalam hal ini di tunjukan yang menyatakan selalu 6 %, Sering 45 %, Jarang 46 %, Tidak Pernah 3 %. Hal di atas yang dapat kita baca bahwa pemberian nilai seperti itu merugikan bagi siswa yang tidak sesuai dengan kemampuannya, hal ini dapat terjadi karena guru tersebut tidak mau merepotkan dirinya, sehingga dalam pemberian nilai tidak di analisa dulu sesuai dengan kemampuan siswa tersebut.

Dari jawaban Responden mengenai keikutsertaan guru dalam kegiatan Sekolah dapat dilihat jawaban Responden yang menyatakan bahwa Kepala Sekolah Sering melibatkan guru yang sertifikasi dalam berbagai kegiatan di Sekolah, hal ini ditunjukan dalam tabel Selalu 26 %, Sering 61 %, Jarang 12 %, dan Tidak Pernah 1 %.

Dari jawaban Responden mengenai tugas yang dijalani dapat dilihat jawaban Responden yang menyatakan bahwa guru-guru yang sertifikasi jarang menjalankan tugasnya sesuai dengan tanggung jawabnya, terlihat dari tabel yang menyatakan selalu 9 %, sering 29 %, Jarang 59 %, Tidak Pernah 3 %.

Dari jawaban Responden mengenai sanksi yang diberikan dapat dilihat jawaban Responden yang menyatakan bahwa guru yang sertifikasi jarang melaksanakan sanksi yang diberikan oleh Kepala Sekolah. Hal ini terlihat dari tabel yang menunjukan selalu 2%, sering 20 %, Jarang 68 %, dan Tidak Pernah 10 %. Hal ini karena sanksi yang diberikan tidak tegas oleh kepala

(19)

sekolah dan dinas pendidikan bagi guru yang melanggar.

Dari jawaban Responden mengenai kerjasama dengan bagian tata usaha. dapat dilihat jawaban Responden yang menyatakan bahwa guru yang sertifikasi lebih banyak menyatakan tidak pernah membantu bagian tata usaha, hal ini ditunjukan pada tabel yaitu selalu membantu ada 4 %, sering 1 %, jarang 33 % dan yang tidak pernah 62 %, hal ini disebabkan karena sebagian guru menganggap bahwa tugas tersebut menjadi tanggung jawab tata usaha, tetapi sebagian guru mau membantu pabila bagian tata usah dalam keadaan sibuk dan tidak mengganggu jam kerja guru, misalnya penerimaan siswa baru.

Dari jawaban Responden mengenai pemanfaatkan lingkungan sekolah . dapat dilihat jawaban Responden yang menyatakan bahwa guru yang sertifikasi jarang memanfaatkan lingkungan sekolah untuk dijadikan sebagai media dan alat peraga, hal ini ditunjukan pada tabel yaitu yang menjawab selalu 9 %, sering 29 %, Jarang 59 % dan Tidak pernah 3 %. Dalam hal ini masih ada guru yang tidak memanfaatkan lingkungan sekolah, padahal ini bisa dijadikan alat peraga atau contoh agar siswa mudah mengerti, seperti contoh dalam pembelajaran biologi tentang tumbuhan dikotil dan monokotil, sekitar lingkungan dapat kita manfaatkan sebagai contoh ( tumbuhan yang berada di sekitar sekolah ).

Dari jawaban Responden mengenai kerjasama guru.dapat dilihat dari jawaban Responden yang menyatakan guru yang sertifikasi selalu bekerja sama dengan guru yang non sertifikasi, hal ini dapat dilihat pada tabel yang menyatakan selalu 35 %, sering 29 %, jarang 27 % dan yang tidak pernah 9 %. Dari tabel di atas kerjasama antara guru yang sudah sertifikasi dan yang belum di masing- masing sekolah berjalan dengan baik, disini guru yang sudah

sertifikasi tidak membedakan dalam menjalin kerjasama dengan guru yang belum sertifikasi.

Dari jawaban Responden mengenai komitmen guru, dapat dilihat dari jawaban Responden yang menyatakan guru yang sertifikasi jarang mempunyai komitmen untuk menjadi guru profesional, yang menyatakan selalu 0 %, Sering 24 %, Jarang 73 %, Tidak Pernah 3 %.

Dari jawaban Responden mengenai ide yang diberikan dalam rapat., dapat dilihat dari jawaban yang menyatakan bahwa ide-ide yang guru sertifikasi ungkapkan dalam rapat tidak membuat guru tersinggung, ini ditunjukan dalam tabel yaitu selalu 0 %, Sering 1 %, jarang 38 % dan Tidak Pernah 61 %. Berarti dalam hal ini di sekolah masing- masing tercipta suatu hubungan yang harmonis antara guru, terbukti dalam rapat masing – masing guru dalam menyampaikan idenya tidak membuat guru tersinggung.

Dari jawaban Responden mengenai disiplin Upacara Bendera, dapat dilihat jawaban Responden yang menyatakan bahwa guru yang sertifikasi mengikuti upacara bendera sebagian setelah mendapat teguran dari Kepala Sekolah, hal ini ditunjukan pada tabel yang menyatakan Selalu 1 %, sering 43 %, Jarang 51 %, dan yang Tidak Pernah 5 %. Hal ini menunjukan kurangnya kesadaran guru dalam mengikuti upacara ,padahal ini merupakan kewajiban. Dari masing – masing sekolah hanya 1 % yang selalu mengikuti upacara bendera setiap hari senin dan hari – hari besar.

Dari jawaban Responden mengenai kehadiran di kelas, dapat dilihat dari jawaban Responden yang menyatakan bahwa guru yang sertifikasi selalu meninggalkan kelas tanpa permisi apabila ada urusan pesta atau keluarga, hal ini ditunjukan pada tabel yang menyatakan selalu 50 %, Sering 39 %, Jarang 7 %, Tidak Pernah 0 %.

(20)

Dari jawaban Responden mengenai motivasi bagi guru yang non sertifikasi, dapat dilihat dari jawaban Responden yang menyatakan bahwa guru yang sertifikasi jarang bekerja dengan baik, sehingga tidak bisa dijadikan motivasi bagi guru yang non sertifikasi. Pada tabel ditunjukan yang menyatakan selalu 3 %, Sering 27 %, Jarang 70 % dan Tidak Pernah 0 %. Dari jawaban responden tersebut menyatakan bahwa tidak ada bedanya guru yang sertifikasi dengan guru yang belum sertifikasi, padahal ini yang diharapkan pemerintah untuk guru yang sudah sertifikasi akan menunjukan kinerja yang lebih baik dari waktu sebelum sertifikasi. Apabila guru yang sertifikasi menunjukan kinerja yang lebih dibandingkan guru yang non sertifikasi, maka dapat menjadi motivasi bagi guru yang belum sertifikasi.

Dari, jawaban Responden mengenai kemampuan mencari informasi. dapat dilihat jawaban Responden yang menyatakan bahwa guru yang sertifikasi jarang mencari informasi dari internet dan membaca buku untuk menambah dan menguasai materi yang disajikannya. Hal ini dapat dilihat pada tabel yang menunjukan selalu 4 %, Sering 41 %, Jarang 54 % dan yang tidak pernah 1 %. Dalam hal ini disebabkan oleh faktor usia guru yang kurang menguasai teknologi sekarang ini seperti computer sehingga untuk mencari berbagai informasi mengalami kesulitan.

Dari jawaban Responden mengenai kerja tambahan dari Kepala sekolah., dapat dilihat jawaban Responden yang menyatakan bahwa sebagian guru yang melakukan kerja tambahan dari kepala sekolah , Hal ini ditunjukan pada tabel yang menyatakan selalu 8 %, Sering 3 %, Jarang 43 % dan yang Tidak Pernah 46 %. Dalam hal ini kerja tambahan yang dimaksud adalah segala kegiatan yang membutuhkan peran serta guru, contohnya penerimaan

siswa baru, bimbingan olimpiade dan sebagainya.

Dari jawaban Responden mengenai kebiasaan meninggalkan kelas., dapat dilihat jawaban Responden yang menyatakan bahwa guru sering memanfaatkan waktunya duduk dikantin bercerita dengan teman dengan meninggalkan tugas catatan pada siswa, hal ini ditunjukan pada tabel yang menyatakan selalu 2 %, Sering 49 %, Jarang 36 % dan Tidak Pernah 13%. Kebiasaan jelek seperti ini kurang disadari oleh guru, sehingga hal ini merugikan para siswa. Hal seperti ini perlu pengawasan dari kepala sekolah dan pembantu kepala sekolah untuk memberikan arahan kepada guru- guru yang meninggalkan kelas untuk duduk di kantin dengan terlebih dulu meninggalkan catatan.

Dari jawaban Responden mengenai interaksi siswa di dalam kelas, dapat dilihat jawaban Responden yang menyatakan bahwa guru yang sertifikasi jarang membuat siswa beristeraksi saat pembelajaran, hanya 2 % yang menyatakan selalu, 32 % sering, 75 % Jarang dan yang tidak pernah 0 %. Dalam proses pembelajaran di dalam kelas sangat perlu sekali keterlibatan murid atau interaksi dari murid, sehingga pembelajaran hidup serta memicu siswa untuk saling mengeluarkan pendapatnya dan memudahkan untuk mengerti.

Dari jawaban Responden mengenai perangkat pembelajaran, dapat dilihat jawaban Responden yang menyatakan bahwa guru yang sertifikasi sering melakukan pembelajaran sesuai dengan perangkat pembelajaran yang di susun, hal ini ditunjukan pada tabel yang menyatakan selalu 13 %, Sering 68 %, Jarang 19 % dan yang Tidak Pernah 0 %.

Dari jawaban Responden mengenai penyajian materi dalam pembelajaran, dapat dilihat jawaban Responden yang menyatakan bahwa guru yang sertifikasi sering menggunakan berbagai media (

(21)

elektronik dan cetak ) dalam pembelajaran untuk memudahkan siswa mengerti. Hal ini dilihat dari tabel yang menyatakan Selalu 5 %, Sering 53 %, Jarang 41 %, Tidak Pernah 1 %. Hal ini menunjukan setengah dari jumlah guru sudah mulai menggunakan berbagai media dalam menyajikan materi pembelajaran, sehingga dapat mempermudah siswa untuk mengerti, sebagian lagi belum menunjukan hal yang seharusnya dilakukan.

Dari jawaban Responden mengenai kegiatan sosial di Sekolah, dapat dilihat jawaban Responden yang menyatakan bahwa guru yang sertifikasi jarang menghindar kalau ada kegiatan sosial di Sekolah, Hal ini di tunjukan pada tabel yang menyatakan selalu 3 %, Sering 10 %, Jarang 59 % dan yang Tidak Pernah 28 %. Dari jawaban responden menunjukan terdapat hubungan yang baik antara guru di sekolah, kekeluargaan yang harus lebih ditingkatakan karena hal ini sangat penting, untuk membina kerjasama yang baik.

Dari jawaban Responden mengenai bidang studi yang diajarkan., dapat dilihat dari jawaban Responden yang menyatakan bahwa guru yang sertifikasi jarang mengajar dengan baik yang bukan jurusannya, hal ini dapat dilihat pada tabel yang menyatakan selalu 0 %, Sering 5 %, Jarang 62 %, Tidak Pernah 33 %. Dalam hal ini dapat kita lihat dari persentase yang ditampilkan, guru yang bukan jurusannya tidak dapat mengajar dengan baik, sesuai dengan program pemerintah untuk meningkatkan kinerja guru, dilakukan program sertifikasi untuk menjadikan guru menjadi profesional dalam bidangnya, sehingga apa yang diajarkan harus sesuai dengan bidang ilmu yang dikuasainya.

.Dari jawaban Responden mengenai kerjasama guru yang sertifikasi dan yang non sertifikasi.i, dapat dilihat dari jawaban Responden yang menyatakan guru yang sertifikasi selalu kerjasama dengan guru yang non sertifikasi meskipun lain jurusan,

hal ini terlihat dari tabel yang menyatakan Selalu 47 %, Sering 35 %, Jarang 17 %, dan Yang Tidak Pernah 1 %.

Dari jawaban Responden mengenai tata cara ketidakhadiran guru,dapat dilihat jawaban Responden yang menyatakan bahwa guru yang sertifikasi jarang permisi atau mengirim surat kepada Kepala Sekolah apabila berhalangan hadir, hal ini di tunjukan pada tabel yang menyatakan selalu 19 %, Sering 27 %, Jarang 54 % dan Tidak Pernah 0 %. Dalam hal ini guru yang tidak hadir hanya permisi dengan teman atau melalui sms, sehingga kurang etis, dalam hal ini perlu mendapat perhatian yang serius agar guru dapat mematuhi peraturan dalam hal permisi apabila berhalangan hadir.

Dari jawaban Responden mengenai pembimbing olimpiade i, dapat dilihat jawaban Responden yang menyatakan bahwa guru yang sertifikasi sering menjadi guru pembimbing olimpiade, karena dianggap lebih bermutu, hal ini ditunjukan pada tabel yang menyatakan selalu 13 %, sering 63 %, Jarang 11 %, dan Tidak Pernah 13 %.

Dari jawaban Responden mengenai Sekolah sebagai perwakilan olimpiade., dapat dilihat jawaban Responden yang menyatakan bahwa Sekolah yang menjadi perwakilan olimpiade tingkat daerah yang menyatakan Selalu 0 %, Sering 11 %, Jarang 27 % dan yang Tidak Pernah 62 %. Dalam hal ini, dari 6 sekolah negeri yang ada hanya beberapa sekolah yang menjadi perwakilan tingkat daerah. Sesuai dengan persentase yang ditampilkan menunjukan perlunya kerja keras guru dalam meningkatkan mutu sekolahnya, kerjasama dengan kepala sekolah dan dinas pendidikan itu sangat penting, sehingga untuk tahun berikutnya dapat bersaing dengan sekolah swasta sebagai duta sekolah untuk mengikuti olimpiade tingkat yang lebih tinggi.

Dari jawaban Responden mengenai pelatihan bagi guru-guru dapat dilihat dari

(22)

jawaban Responden yang menyatakan tidak pernah mendapat pelatihan dari Dinas Pendidikan, hal ini ditunjukan pada tabel yang menyatakan Selalu 1 %, Sering 5 %, Jarang 9 % dan Tidak Pernah 85 %. Pelatihan bagi guru- guru sangat penting untuk diadakan, sehingga dapat menambah kualitas guru dalam meningkatkan kualitas pendidikan di kota Pematangsiantar.

Dari jawaban Responden mengenai nilai UN., dapat dilihat dari jawaban Responden yang menyatakan bahwa guru yang sertifikasi jarang berusaha untuk meningkatkan kinerjanya, dalam hal ini ditunjukan pada tabel yang menyatakan Selalu 12 %, Sering 34 %, Jarang 54 %, dan yang tidak pernah 0 %. Dalam hal ini, upaya guru untuk lebih meningkatkan kinerjanya kurang mendapat perhatian dari dinas pendidikan dan pengawasan langsung dari kepala sekolah. Seperti contoh mengadakan seminar, pelatihan dan pendisiplinan di sekolah masing – masing oleh kepala sekolah, sehingga kinerja guru dapat meningkat dan dapat meningkatkan nilai UN.

Dari jawaban Responden mengenai Siswa yang masuk ke PTN. , dapat dilihat dari jawaban Responden yang menyatakan bahwa Siswa yang masuk ke PTN meningkat sedikit karena motivasi guru yang sertifikasi, hal ini ditunjukan pada tabel Selalu 10 %, Sering 30 %, Jarang 47 % dan yang 13 %. Siswa yang masuk PTN sedikit mengalami peningkatan, namun hal ini sudah menunjukan usaha oleh guru yang sertifikasi dalam memotivasi siswa, sehingga kerja guru semangkin berat untuk lebih meningkatkan persentase siswa yang masuk ke PTN. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi orang tua siswa untuk memasukan anaknya ke SMA Negeri yang ada di Pematangsiantar.

4.2. Pembahasan

Dari hasil angket jawaban Responden untuk menjawab rumusan masalah yang pertama tersebut

menggambarkan bahwa ada peran guru Profesional dalam meningkatkan pendidikan di Kota Pematangsiantar, tertera dari jawaban Responden yang dilihat dari persentasenya yang paling tinggi adalah menyatakan jarang, hal ini berarti peran guru profesional atau guru yang sudah sertifikasi hanya sebagian saja yang kinerjanya memenuhi kriteria baik, padahal peran guru profesional sangat berpengaruh dalam meningkatkan mutu pendidikan, karena dari segi kesejahteraannya sudah mendapatkan perhatian dari pemerintah, yang di harapkan dari penelitian ini adalah harus ada perbedaannya dari guru yang non sertifikasi sehingga dapat dijadikan motivasi, bukan sebaliknya.

Dari hasil jawaban Responden juga dapat menjawab pertanyaan rumusan masalah yang kedua mengenai apakah upaya Kepala Sekolah dan pihak Dinas Pendidikan dalam menyingkapi ketidakdisiplinan guru-guru?, dari hasil kuesioner jawaban responden menyatakan tidak adanya upaya kepala Sekolah dan Dinas Pendidikan karena masih banyak guru yang kurang disiplin dalam menjalankan tugasnya, seperti contoh meninggalkan kelas tanpa permisi, tidak adanya pemberitahuan apabila berhalangan hadir, bercerita di kantin dengan meninggalkan kelas dan sebagainya, karena sanksi dari pelanggaran tidak ada, maka hal ini terus berlanjut, sehingga perlu diterapkan peraturan dengan baik agar disiplin kerja terus meningkat.

Dari pertanyaan rumusan yang ketiga yaitu Apakah upaya dinas Pendidikan dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Kota Pematangsiantar? Maka dapat dijawab dari hasil jawaban Responden yang menyatakan tidak adanya upaya Dinas Pendidikan dalam meningkatkan kualitas Pendidikan di Kota Pematangsiantar, dalam hal ini tidak adanya pelatihan bagi guru- guru, tidak adanya seminar-seminar yang menunjang kinerja

(23)

guru, Kurangnya upaya peningkatan sarana dan prasarana yang mendukung, sehingga kualitas pendidikan di Kota Pematangsiantar khususnya untuk SMA Negeri masih jauh dari yang diharapkan.

Berdasarkan persentase jawaban Responden menyatakan persentase tertinggi adalah menyatakan jarang dengan jumlah 41 %, yang menyatakan sering 33 %, menyatakan tidak pernah 14 % dan menyatakan selalu 12 %, hal ini menunjukan bahwa kinerja guru profesional untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Kota Pematangsiantar masih jarang yang mempunyai kinerja yang baik dalam meningkatkan mutu pendidikan di Kota Pematangsiantar.

Hasil Tabulasi data dan perhitungan skor secara statistik yang disajikan pada lampiran diperoleh total skor pada setiap opsi pernyataan sebagaimana tertera di bawah ini :

Tabel 4.1. Hasil Perhitungan Frekuensi dan Skor

Jawaban 92 Responden terhadap 35 Pernyataan. No Skala Bobot Pengertian Total Frekuensi Total Skor 1 4 Selalu 380 1.520 2 3 Sering 1.047 3.141 3 2 Jarang 1.334 2.668 4 1 Tidak Pernah 459 459 Jumlah3.220 7.788 Sumber : Hasil Pengolahan,2013 Dari nilai Skala Likert diketahui :

a. Nilai Terendah (TR) = 1x35 x 92 = 3.220 b. Nilai Tertinggi (TT) = 4x35x92 = 12.880 c. Maka Rentang Skor = (12.880 – 3.220) / 4 = 2.415

d. Penentuan kelas dilakukan sebagai berikut:

Tabel 4.2. Penentuan Kelas Interval berdasarkan Rentang Skor Kelas Interval Sebutan 3.220 – 6.442 Buruk Sekali 6.443 – 9.663 Buruk 9.664 – 12.884 Baik 12.885 – 16.105 Baik Sekali

e. Total Skor yang diperoleh berdasarkan Tabulasi Skor atas jawaban Responden tentang Kinerja Guru Profesional dan Kualitas Pendidikan di Kota Pematangsiantar adalah sebesar 7.788, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa Skor 6.443 – 9.663 berada pada kelas Interval kedua yang berarti kinerja guru dan kualitas pendidikan di Kota Pematangsiantar masih Buruk.

4. KESIMPULAN DAN SARAN a) Kesimpulan

Guru- guru tidak pernah mendapat pelatihan dari Dinas Pendidikan padahal ini merupakan suatu cara yang baik untuk meningkatkan kualitas guru, karena guru merupakan kunci dari maju mundurnya pendidikan.

1. Dari hasil jawaban responden dalam pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa disiplin guru – guru masih rendah, karena masih banyak guru yang datang terlambat, tidak permisi pada saat meninggalkan kelas atau tidak hadir ke sekolah, termasuk masih kurangnya kesadaran untuk mengikuti upacara bendera.

2. Berdasarkan hasil data dari sekolah masing-masing menyatakan bahwa Siswa yang masuk ke Perguruan Tinggi Negeri mengalami sedikit peningkatan.

3. Berdasarkan hasil jawaban responden yang menyatakan guru masih sedikit yang menggunakan metode yang bervariasi, sehingga kurang menjadi daya tarik kepada siswa untuk berinteraksi sehingga lebih cepat mengerti dan memahami.

4. Dari hasil keterangan Wakil Kepala Sekolah bagian kurikulum setiap sekolah menyatakan kinerja guru profesional masih jauh yang diharapkan, kerena setiap harinya melakukan pekerjaan belum menunjukan predikat keprofesionalannya.

b) Saran

1. Agar kualitas pendidikan di Kota Pematangsiantar meningkat perlu adanya

Gambar

Diagram  di  atas  menunjukan  bahwa  dalam  meningkatkan  kinerja  ada  beberapa  tahap  yang  harus  dilewati,  yaitu  (1);
Tabel  3.1.  Populasi  dan  sampel  Penelitian
Tabel 3.2. Kisi-kisi Instrumen  penelitian   Variabel  Indikator  No Item  JLH  Kinerja  Guru  Profesio nal  1
Gambar  2.1: Prosedur Pelaksanaan  Penelitian Tindakan Kelas
+7

Referensi

Dokumen terkait

Ratna Dewi Siregar : Gambaran Umum Perpustakaan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas HKBP Nomensen (FKIP UHN) Pematang Siantar, 2006... Ratna Dewi Siregar : Gambaran

Dari jawaban Responden mengenai bidang studi yang diajarkan., dapat dilihat dari jawaban Responden yang menyatakan bahwa guru yang sertifikasi jarang mengajar dengan

sebab guru kurang kreatif dalam mengajar materi pembelajaran lari cepat, sehingga siswa merasa bosan dan jenuh dalam mengikuti pembelajaran lari cepat.

menyatakan dengan sungguh-sungguh bahwa skripsi yang berjudul “Profil Keterampilan Bertanya dan Memberi Penguatan Calon Guru dalam Pembelajaran Biologi Kelas X

Dalam pembelajaran matematika dengan materi operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat guru lebih sering menggunakan alat peraga garis bilangan yang telah

Hal ini sesuai dengan pendapat Enidarwaniswati (2006:4) yang menyatakan bahwa dengan menggunakan media grafis kartu ini maka siswa dalam pembelajaran akan termotivasi

itu penelitian ini juga sekalian dapat memberikan inspirasi bagi guru mengenai metode Brainstorming dalam kegiatan pembelajaran sejarah khususnya SMA Yayasan Pendidikan

lxiii Rata-rata persentase aktivitas siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran PKn dengan menggunakan menggunakan model pembelajaran Value Clarification Technique Berbantuan Media