• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Latar Belakang Masalah

Pertumbuhan GNP (Gross National Product) dan pengentasan kemiskinan menjadi topik central dalam pembangunan ekonomi sebuah negara. Dalam hal ini, terdapat dua prinsip yang digunakan sebagai strategi pembangunan yakni 1) pertumbuhan GNP, modernisasi alat-alat produksi, serta penggunaan modal besar dan teknologi, 2) Pengentasan masyaratakat dari kemiskinan, pemenuhan kebutuhan pokok, kemandirian, dan pembagian kekuasaan yang proporsional1.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam pembangunan ekonomi adalah dengan pengentasan masyarakat dari kemiskinan. Pengalaman yang ada menunjukan, pengentasan masyarakat dari kemiskinan dan pemenuhan kebutuhan pokok lebih penting daripada pertumbuhan GNP.2

Masyarakat miskin di dunia saat ini telah melebihi angka satu miliar orang dan sebagian besar dari masyarakat miskin tersebut terkonsentrasi di negara-negara Afrika, Asia, Pasifik dan Amerika Latin.3 Diperkirakan lebih dari

1

Rudolf H. Starhm, Kemiskinan Dunia Ketiga : Menelaah Kegagalan Pembangunan di Negara Berkembang (Jakarta: PT Pustaka CIDESINDO, 1999), h. 1.

2

Ibid.,h.1.

3

Iskandar Andi Nuhung, Pertanian, Kemiskinan dan Kawasan Timur Indonesia (Jakarta : PT Wahyu Promo Citra, 2010), h. 35.

80 persen orang miskin di dunia tersebar di kawasan tersebut. Di Indonesia sendiri, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada tahun 2013 masih ada sekitar 28,55 juta orang atau 11,47% dari 248,8 juta penduduk Indonesia yang masuk ke dalam kategori miskin. Hal ini berarti sekitar 1 dari 9 orang di Indonesia adalah orang miskin.4

Untuk itulah diperlukan sebuah program pengentasan kemiskinan yang lebih efisien dan tepat sasaran. Sejumlah program di buat untuk mengantisipasi masalah kemiskinan dengan harapan dapat meningkatkan daya beli masyarakat. Beberapa upaya penanggulangan kemiskinan yang dibuat pemerintah seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT), Beras subsidi untuk rumah tangga miskin (Raskin), Kredit Usaha Rakyat (KUR), dan lain sebagainya.

Upaya pengentasan kemiskinan ini dapat dilakukan antara lain dengan memutus mata rantai kemiskinan itu sendiri. Salah satu caranya adalah dengan penguatan berbagai aspek di sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang pada dasarnya merupakan bagian dari masyarakat miskin yang mempunyai kemauan dan kemampuan produktif.5 Melalui UMKM masyarakat

4

Bappenas, “Tanggapan atas Rancangan Teknokratik RPJMN 2015-2019 Bidang Sosial Budaya, Sarpras, dan Wilayah Tata Ruang, dengan Penekanan pada Substansi Kemiskinan, artikel

diakses pada 20 November 2014 dari

http://bappenas.go.id/files/3013/9338/5702/Paparan_Pakar_Tematik_Ambon.pdf.

5

Wiloejo Wirjo Wijono, Pemberdayaan Lembaga Keuangan Mikro sebagai Salah Satu Pilar Sistem Keuangan Nasional: Upaya Konkret Memutus Mata Rantai Kemiskinan (makalah Apresiasi terhadap Tahun Keuangan Mikro 2005 dan Millenium Development Goals (MDGs), Jakarta: T.tp., T.tth, 2005) h. 1, dalam Euis Amalia, Keadilan Distributif Dalam Ekonomi Islam : Penguatan Peran LKM dan UKM di Indonesia (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), h. 7.

bisa memperoleh pendapatan dengan menjadi pelaku atau pun pekerja dalam sektor usaha tersebut. Dari sinilah tenaga kerja dapat terserap, sehingga masalah pengangguran dapat teratasi, produksi meningkat dengan disertai peningkatan daya beli, terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan dan papan penduduk hingga akhirnya terciptalah kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.

Fakta mengenai peran UMKM tersebut dapat dilihat dari data yang dilansir oleh Kementerian Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah Republik Indonesia tercatat bahwa jumlah UMKM pada periode 2012 sebanyak 56.539.560 unit atau naik 2,41 persen dari periode sebelumnya di tahun 2011 yang berjumlah 55.211.396 unit. Kenaikan jumlah ini seiring dengan kontribusinya dalam hal penyerapan tenaga kerja yakni sekitar 97,16 persen atau 107.657.509 orang. Sementara terhadap Produk Domestik Bruto, UMKM menyumbang sebesar 59,08 persen dalam periode yang sama.6

Kontribusi UMKM yang besar dalam perekonomian Indonesia memang sudah bisa diakui. Namun, ada kendala yang dihadapi oleh pelaku UMKM, salah satunya mengenai keterbatasan modal. Sumber permodalan terbanyak masih berasal dari modal sendiri. Sementara akses perbankan belum dapat dijangkau dikarenakan beberapa hambatan, seperti ketidaktahuan tentang prosedur pengajuan kredit (kelemahan informasi), prosedur pengajuan kredit

6

Kementerian Koperasi dan UKM, “Perkembangan Data Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) dan Usaha Besar (UB) Tahun 2011 – 2012”, artikel diakses pada 2 September 2014 dari

yang berbelit-belit dan banyak persyaratan, serta adanya kekhawatiran kredit yang diajukan tidak memenuhi standar.7

Selain itu, kesulitan UMKM mendapatkan kredit bank juga disebabkan oleh tidak adanya agunan yang dimiliki UMKM ketika mengajukan kredit. Disusul dengan faktor bunga yang tinggi, proses kredit yang lama, keterbatasan petugas bank dan prosedur kredit. Hal ini tercermin dalam diagram 1.1 dibawah, yakni:

Diagram 1.1

Kendala Mendapatkan Kredit UMKM: Hasil Survei SMEDC-UGM, 20028

Namun upaya untuk mengembangkan UMKM tidak bisa dilakukan jika hanya dilihat dari sisi permodalan saja. Masih banyak masalah-masalah lain

7

Tulus TH Tambunan, Usaha Mikro Kecil dan Menengah di Indonesia: Isu-Isu Penting

(Jakarta: LP3ES, 2012), h. 141. 8 Ibid., h. 140. Agunan 25% Proses Kredit lama 17% Keterbatasan Petugas Bank 11% Lain-lain 17% Prosedur Kredit 8% Bunga Tinggi 22%

diluar pendanaan yang menjadi kendala berkembangnya UMKM, seperti penguasaan teknologi, pemasaran, sember daya manusia, dan manajemen usaha.9Kelompok ini masih menerapkan manajemen tradisional dan belum bankable sehingga untuk dapat akses kepada permodalan dibutuhkan lembaga keuangan alternatif.10

Secara lebih spesifik, masalah dasar yang dihadapi UMKM yakni:11 a) kelemahan dalam memperoleh peluang pasar dan memperbesar pangsa pasar; b) kelemahan dalam struktur permodalan dan keterbatasan untuk memperoleh jalur terhadap sumber-sumber permodalan; c) kelemahan dibidang organisasi dan manajemen sumber daya manusia; d) keterbatasan jaringan usaha kerja sama antar pengusaha kecil (sistem informasi pemasaran); e) iklim usaha yang kurang kondusif karena persaingan yang saling mematikan; f) pembinaan yang telah dilakukan masih kurang terpadu dan kurangnya kepercayaan serta kepedulian masyarakat terhadap usaha kecil; g) biaya transportasi dan energi yang tinggi; keterbatasan komunikasi, biaya tinggi akibat prosedur administrasi dan birokrasi yang kompleks khususnya dalam pengurusan izin usaha, dan ketidakpastian akibat peraturan dan kebijaksanaan ekonomi yang tidak jelas atau tak menentu

9

Dewan Perwakilan Daerah RI, Integrasi Sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dalam Strategi Perencanaan Ekonomi Nasional (Jakarta: Pusat Kajian Kebijakan dan Hukum Sekretariat Jenderal DPD RI, 2010), h. 40.

10

Euis Amalia, Keadailan Distributif Dalam Ekonomi Islam : Penguatan Peran LKM dan UKM di Indonesia (Jakarta : Rajawali Pers, 2009), h. 15.

11

Mudrajad Kuncoro, Ekonomika Pembangunan: Masalah, Kebijakan, dan Politik (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2010), h. 196.

arahnya;12 dan h) tidak ada pendampingan untuk mendapatkan akses dan untuk pengelolaan usaha serta penguasaan dan pengenalan teknis perbankan syariah masih kurang.13

Melihat kendala tersebut, diperlukan sebuah institusi keuangan yang dapat mengcover sumber permodalan UMKM. Dalam hal ini, sektor UMKM membutuhkan dukungan permodalan dari lembaga keuangan untuk memajukan usahanya agar tidak terjerat kepada tangan-tangan rentenir.

Dalam perkembangannya, terdapat beberapa lembaga keuangan yang memusatkan perhatian pada pembiayaan di skala mikro, baik dengan konsepnya yang konvensional ataupun dengan prinsip syariah. Kemudian muncullah konsep lembaga keuangan mikro (microfinance). Microfinance mempunyai peran penting untuk memacu pertumbuhan ekonomi, baik di desa maupun di kota dan menjadi alat untuk memberdayakan masyarakat.14 Kebangkitan keuangan mikro ditandai dengan keberadaan Grameen Bank dari Bangladesh pada tahun 1970-an yang dipelopori oleh Muhammad Yunus. Keberhasilannya memberdayakan perempuan miskin menularkan virus baru ke berbagai belahan penjuru untuk

12

Tulus TH Tambunan, Usaha Mikro Kecil dan Menengah di Indonesia: Isu-Isu Penting(Jakarta: LP3ES, 2012), h. 51.

13

Euis Amalia, Keadailan Distributif Dalam Ekonomi Islam : Penguatan Peran LKM dan UKM di Indonesia (Jakarta : Rajawali Pers, 2009), h. 70.

14

Iqbal Valiri Zulfikar, “Pengembangan Microfinance Syariah dalam Upaya Mendukung Sektor Riil dan UMKM di Indonesia: Meneladani BRI dan Mengikuti Jejak Mega Mitra Syariah”, artikel diakses pada 20 Januari 2014 dari http://iqbalvaliri.wordpress.com/2009/10/31/pengembangan- microfinance-syariah-dalam-upaya-mendukung-sektor-riil-dan-umkm-di-indonesia-meneladani-bri-dan-mengikuti-jejak-mega-mitra-syariah.

terus mengembangkan sistem lembaga keuangan yang concern pada skala mikro. Sementara di Indonesia, lembaga keuangan mikro sudah hadir 117 tahun lalu atau tepatnya pada 16 Desember 1895 yang didirikan oleh R. Aria Wiriaatmaja

dengan nama “De Poerwokertosche Hul En Spaarbank der Inlandesche besturr

Ambetenaren”. Lembaga ini melayani pegawai pemerintah (rendahan) dan para

petani (pegusaha mikro). Lembaga keuangan tersebut kini dikenal sebagai Bank Rakyat Indonesia15.

Lembaga lain yang juga menangani pembiayaan skala mikro yakni perusahaan modal ventura (PMV). UMKM bisa memperoleh dana untuk memulai dan/atau mengembangkan usaha nya melalui lembaga ini.

Di Indonesia, peran modal ventura dalam pembiayaan kepada UKM tidak bisa dilepaskan dari orientasi modal ventura sebagai lembaga pembiayaan pembangunan (development financing institution) yang menerapkan pembiayaan yang tetap mengindahkan cara berusaha yang sehat. Peran lainnya, yang terutama, adalah membina UKM yang belum bankable menjadi bankable (layak mendapat kredit).16

Perkembangan Perusahaan Modal Ventura di Indonesia dapat dilihat dalam grafik di bawah ini:

15

Bambang Ismawan, Membangun Indonesia dari Desa Melalui Keuangan Mikro (Jakarta: Gema PKM Indonesia, 2012), h.9.

16

Siwi Taufiqrachman, “Pembiayaan UMKM oleh Modal Ventura, artikel diakses pada 02 September 2013 dari http://007umkm.wordpress.com/2008/09/26/pembiayaan-umkm-oleh-modal-ventura.

Grafik 1.1

Jumlah Perusahaan Modal Ventura

Sumber : Diolah dari data Bapepam-LK tahun 2002 hingga 2011

Selama tahun 2002 hingga 2005 terlihat bahwa perkembangan perusahaan modal ventura mengalami stagnasi dengan jumlah 60 perusahaan. Penurunan terlihat pada tahun 2006 menjadi 55 perusahaan. Hal ini disebabkan selama tahun 2006 telah dilakukan pencabutan 9 izin usaha karena 1 perusahaan telah di likuidasi, 1 perusahaan telah mengubah kegiatan usahanya, dan 7 perusahaan tidak memenuhi ketentuan Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah. Dalam periode 2006 juga telah dikeluarkan izin usaha perusahaan modal ventura baru sebanyak 4 perusahaan dan semakin meningkat di tahun-tahun berikutnya hingga berjumlah 86 perusahaan di tahun 2011.

Salah satu perusahaan modal ventura yang beroperasi dengan menggunakan prinsip syariah yakni PT Permodalan Nasional Madani Ventura Syariah (PT PNM Ventura Syariah). Anak perusahaan dari PT PNM Venture

60 60 60 60 55 60 66 74 79 86 0 20 40 60 80 100 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Jumlah PMV

Capital ini bergerak di bidang modal ventura dengan prinsip syariah yang didukung dengan layanan jasa manajemen dan teknologi bagi UMKM. PT PNM didirikan sebagai bagian dari solusi strategis pemerintah untuk meningkatkan perekonomian masyarakat melalui akses permodalan dan program peningkatan kapasitas bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi (UMKMK).17

Secara strategis, PT PNM diarahkan untuk memberikan solusi finansial maupun non finansial bagi sektor UMKMK.18 Kepada mitra usahanya PT PNM tidak hanya memberikan solusi permodalan tetapi juga solusi non finansial. Jasa manajemen dan peningkatan kapasitas (capacity building) kewirausahaan merupakan beberapa solusi non finansial yang ditawarkan agar mitra usaha memperoleh manfaat yang lebih besar dari bantuan permodalan yang diterimanya.

Hal tersebut sejalan dengan visi PNM Techno Venture Syariah yakni menjadi lembaga modal ventura terkemuka yang berbasiskan syariah dalam meningkatkan akses Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) dan LKM (Lembaga Keuangan Mikro) terhadap modal finansial dan modal intelektual dengan berbasiskan kepada teknologi dengan tetap berlandaskan pada nilai

17

Portal PT Perusahaan Nasional Madani, “Profil Perusahaan”, artikel diakses pada 12 April 2013 dari http://www.pnm.co.id/read/1/Profil-Perusahaan.

18

Portal PT Perusahaan Nasional Madani, “Profil Perusahaan”, artikel diakses pada 12 April 2013 dari http://www.pnm.co.id/read/1/Profil-Perusahaan.

spiritual, best practices dan prinsip-prinsip GCG dan semangat inovasi untuk meningkatkan nilai perusahaan secara berkelanjutan.

Perkembangan Perusahaan Modal Ventura Syariah (PMVS) memang belum secemerlang pertumbuhan perbankan syariah. Namun dengan pendekatan yang berbeda dari perbankan, posisi PMVS bisa lebih menjangkau pelaku usaha di sektor UMKM yang belum terjangkau kredit bank.Bahkan untuk sektor UMKM, yang lebih ideal untuk dimasyarakatkan adalah pemanfaatan modal ventura sebagai salah satu alternatif sumber-sumber pembiayaan.19

Berdasarkan latar belakang tersebut penulis tertarik untuk membahas mengenai peran lembaga keuangan non bank syariah khususnya perusahaan modal ventura yang terkait dengan pengembangan UMKM. Maka penelitian skripsi ini berjudul Peran Perusahaan Modal Ventura Syariah dalam Mengembangkan UMKM dengan Metode ANP (Studi Pada PT Permodalan Nasional Mandiri Ventura Syariah).

B. Batasan dan Rumusan Masalah

a) Identifikasi dan Batasan Masalah

Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan di atas maka dapat di identifikasi beberapa permasalahan sebagai berikut:

19

Krisna Wijaya, Mengubah Mitos Mengasihani Usaha Kecil , artikel diakses pada 14 Agustus 2014 dari http://www.infobanknews.com/2011/06/mengubah-mitos-mengasihani-usaha-kecil.

1. Sulitnya UMKM dalam memperoleh modal untuk memulai atau mengembangkan usahanya.

2. Tidak terjangkaunya lembaga perbankan sebagai sumber modal UMKM dikarenakan prosedur dan persyaratan pengajuaan pembiayaan yang relatif sulit untuk dipenuhi serta tidak adanya jaminan yang dimiliki UMKM untuk memperoleh dana dari institusi keuangan karena keterbatasan aset.

3. Kebanyakan UMKM belum menjalankan usahanya secara profesional dengan menggunakan prinsip-prinsip manajemen modern, belum memiliki izin usaha resmi

4. Kebanyakan UMKM kurang memiliki orang-orang yang berkompeten dalam hal manajemen keuangan, pemasaran ataupun teknologi untuk mengembangkan UMKM agar usahanya lebih modern dan maju.

5. Pendampingan usaha oleh lembaga keuangan untuk pengelolaan usaha yang lebih baik.

Dari identifikasi masalah yang telah dijabarkan, penulis membatasi masalah yang akan dibahas. Hal ini dilakukan untuk menghindari perluasan masalah dalam penelitian agar nantinya lebih fokus dan terarah. Maka pembatasan permasalahan dalam penelitian ini yakni:

1. Peran Perusahaan Modal Ventura Syariah dalam mengembangkan UMKM oleh PT PNM Ventura Syariah.

2. Kriteria yang digunakan dalam menentukan prioritas pendampingan usaha kepada UMKM antara lain: modal, sumber daya manusia, pemasaran, dan teknologi.

3. Metode analisis yang digunakan adalah Analytic Network Proccess (ANP) dengan menggunakan software SuperDecisions version 2.2.6. b)Rumusan Masalah

Pokok permasalahan yang dicari jawabanya dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana menentukan kriteria yang menjadi prioritas dalam pengembangan UMKM oleh PT PNM Ventura Syariah?

2. Bagaimana menentukan prioritas strategi yang dilakukan oleh PT PNM Ventura Syariah dalam mengembangkan UMKM?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

a. Untuk mengetahui kriteria apa saja yang menjadi prioritas PT PNM Ventura Syariah dalam mengembangkan UMKM.

b. Untuk mengetahui prioritas strategi pendampingan usaha dalam rangka pengembangan UMKM yang dilakukan oleh PT PNM Ventura Syariah.

2. Manfaat Penelitian

Adapun pelaksanaan penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi: a. Bagi Penulis, untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang modal

ventura syariah khususnya yang berkaitan dengan pendampingan usaha perusahaan tersebut dalam mengembangkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah.

b. Bagi Perusahaan yang diteliti, hasil studi ini diharapkan bisa menjadi masukan dan sarana informasi agar sumbangan pemikiran ini dapat membuat perusahaan lebih kompetitif lagi ke depannya dalam mengembangkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah.

c. Bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, untuk memberikan informasi dan pengetahuan mengenai akses permodalan, kemudahan dan pendampingan usaha yang dilakukan lembaga keuangan modal ventura syariah.

d. Bagi pihak lain yang membutuhkan, diharapkan bisa menambah khazanah pengetahuan yang berkaitan dengan tema ini juga dapat dijadikan sebagai bahan rujukan untuk melakukan penelitian selanjutnya sehingga bisa menjadi perbandingan bagi penelitian yang lain.

D. TINJAUAN (REVIEW) STUDI TERDAHULU

Dalam penelitian ini penulis menemukan beberapa tinjauan (review) studi terdahulu yang tema penelitiannya berkaitan dengan UMKM dan lembaga microfinance syariah, beberapa diantaranya yakni:

1. Skripsi berjudul Peran Pusat Pengembangan Pendamping Usaha Kecil dan Menengah (P3KUM)) dalam Pengembangan UKM di Kota Sukabumi yang ditulis oleh Ridwan Fachrudin (Konsentrasi Perbankan Syariah, Program Studi Muamalat, FSH UIN Jakarta, 2011) meneliti tentang pola pendampingan usaha yang dilakukan oleh pendamping individu dan pengaruhnya terhadap perkembangan UKM di Kota Sukabumi. Dalam penelitian yang menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analatis ini menunjukan bahwa pendamping individu yang dijalankan oleh Sdr. Riki Koswara S.IP (pendamping UKM yg bekerja untuk Pusat Pengembangan Pendamping UKM di Kota Sukabumi) memiliki peran penting dan kontribusi yang signifikan dalam pengembangan UKM binaan di Kota Sukabumi. Sayangnya, UKM binaan belum proaktif dalam memanfaatkan fasilitas pendampingan individu untuk mengembangkan usahanya.

2. Skripsi berjudul Peran Wakaf Tunai dalam Pemberdayaan Usaha Kecil dan Menengah di Tabung Wakaf Indonesia yang ditulis oleh Maya Maimunah (Konsentrasi Perbankan Syariah, Program Studi Muamalat, FSH UIN Jakarta, 2011) meneliti tentang pemberdayaan UKM yang dilakukan

oleh Tabung Wakaf Indonesia serta kendala dan solusi yang di tawarkan oleh Tabung Wakaf Indonesia dalam pemberdayaan UKM. Dalam penelitian yang menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif ini menunjukan bahwa dana wakaf yang terkumpul di Tabung Wakaf Indonesia (TWI) baik tunai maupun non tunai dikelola dalam bentuk aset, properti, produksi dan perdagangan yang kemudian hasil surplusnya dialokasikan untuk pemberdayaan ekonomi umat. Program pemberdayaan ekonomi UKM yang dilakukan oleh TWI memberikan kesempatan kepada binaannya untuk memperoleh modal pembiayaan usaha, mendapatkan bagi hasil dan juga mendapatkan pembinaan bisnis, maupun pembinaan mental dan spiritual. 3. Jurnal berjudul Analisis Peranan Perusahaan Modal Ventura dalam

Mengembangkan UKM di Indonesia yang ditulis oleh Sri Lestari Rahayu (Kajian Ekonomi dan Keuangan Edisi Khusus, Badan Pengkajian Ekonomi, Keuangan dan Kerjasama Internasional, 2005) meneliti tentang peranan Perusahaan Modal Ventura dalam memberikan kemudahan terhadap perkembangan UKM serta kinerja Perusahaan Modal Ventura dalam memberikan kebijakan khusus terhadap perkembangan UKM di Indonesia dengan mengacu pada best practice di negara lain. Dalam penelitian yang menggunakan metode analisis deskriptif kualititatif ini menunjukan bahwa bentuk formal usaha modal ventura baru terjadi sejak ditetapkannya Keppres No. 61 Tahun 1998 dan hingga tahun 2005 peranan Perusahaan Modal

Ventura dalam mendorong UKM masih sangat kecil yakni sekitar 1,5 persen dari total peranan UKM.

E. KERANGKA KONSEP PENELITIAN PMVS

Permasalahan UMKM

Modal SDM Pemasaran Manajemen

Bentuk Pendampingan Usaha

Strategi PMVS untuk Pengembangan UMKM

Peran PMVS dalam Pengembangan UMKM Prioritas I Prioritas II Prioritas III Prioritas IV

Analisis Data Metode ANP dengan menggunakan software

F. METODE PENELITIAN 1. Jenis Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif dapat diartikan sebagai penelitian yang menghasilkan data deskriptif mengenai kata-kata lisan maupun tulisan, dan tingkah laku yang dapat diamati dari orang-orang yang diteliti.20 Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif, di mana data-data yang dikumpulkan dalam penelitian ini bukan berbentuk angka-angka yang bisa diproses secara statistik melainkan berbentuk kata-kata yang kemudian diolah dan dijelaskan sesuai dengan fakta yang ada.

2. Sumber Data

Data yang digunakan penulis dalam penelitian ini bersumber dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui hasil wawancara dan pengisian kuisioner oleh pihak PT PNM Ventura Syariah mengenai peran nya dalam mengembangkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah. Sementara data sekunder diperoleh melalui studi kepustakaan berupa laporan yang diterbitkan oleh lembaga terkait ataupun yang dikeluarkan oleh media lain yang terkait dengan pembahasan dalam penelitian ini.

Data yang dipergunakan dalam penelitian ini berupa laporan perkembangan lembaga, modal awal UMKM yang menjadi nasabah, produk

20

Bagong Suyanto dan Sutinah, Metode Penelitian Sosial : Berbagai Alternatif Pendekatan

pembiayaan modal ventura syariah, jumlah pembiayaan, jaminan pembiayaan dan bentuk pendampingan usaha yang dilakukan oleh lembaga. 3. Objek Penelitian

Penelitian ini dilakukan di PT PNM Ventura Syariah yang beralamat di Gedung Arthaloka Lantai 15 Jalan Jendral Sudirman Jakarta.

4. Teknik Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data, teknik yang digunakan oleh penulis adalah sebagai berikut:

a. Studi Dokumentasi

Dalam hal pengumpulan data dengan studi kepustakaan, teknik yang digunakan yakni mempelajari literatur-literatur yang berhubungan dengan penelitian ini melalui buku, artikel, studi terdahulu, majalah, surat kabar, brosur, media online dan lain sebagainya.

b. Studi Lapangan

Dalam hal studi lapangan (field research) untuk mendapatkan data dan informasi tentang sejauh mana peran Perusahaan Modal Ventura Syariah dalam mengembangkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah, teknik yang digunakan yakni melakukan wawancara langsung dengan pihak PT PNM Ventura Syariah.

5. Metode Analisis Data

Dalam menganalisa data penelitian, penulis menggunakan pendekatan metode ANP (Analytic Network Process). ANP merupakan pendekatan baru

dalam proses pengambilan keputusan yang memberikan kerangka kerja umum dalam memperlakukan keputusan-keputusan tanpa membuat asumsi-asumsi tentang independensi elemen-elemen pada level yang lebih tinggi dari elemen-elemen pada level yang lebih rendah dan tentang independensi elemen-elemen dalam suatu level.21 ANP menggunakan sistem perbandingan untuk mengukur bobot dari komponen struktur yang pada akhirnya digunakan untuk menentukan alternatif peringkat dalam sebuah keputusan. Kemudian data diolah dengan software SuperDecisions.

G. SISTEMATIKA PENULISAN

Untuk mempermudah penyusunan dalam skripsi ini, penulis membagi pembahasannya menjadi lima bab dan setiap bab terdiri dari beberapa sub bab. Secara garis besar sistematika penulisan laporan penelitian diuraikan sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini terdiri dari dari latar belakang masalah, identifikasi dan pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan (review) studi terdahulu, kerangka teori, metode penelitian, dan sistematika penelitian.

21

Ascarya, Analytic Network Process (ANP): Pendekatan Baru Studi Kualitataif , (Makalah Seminar Intern Program Magister Akuntasi, Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti, Jakarta, 2005), h. 4.

Dokumen terkait