• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab ini berisi kesimpulan dan saran atas penelitian yang telah penulis lakukan.

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Modal Ventura 1. Pengertian

Kata ventura berasal dari bahasa Inggris, yakni venture yang berarti sesuatu yang mengandung risiko atau dapat pula diartikan sebagai usaha.22 Sejumlah ahli mengemukakan berbagai definisi modal ventura, antara lain sebagai berikut:

Tony Lorenz mendefinisikan bahwa modal ventura adalah investasi jangka panjang dalam bentuk pemberian modal yang mengandung risiko, dimana penyedia dana (venture capitalist) terutama mengharapkan capital gain, di samping mendapat bunga dan dividen.

Clinton Richardson mendefinisikan modal ventura adalah dana yang diinvestasikan pada perusahaan atau individu yang memiliki risiko tinggi.

White menyebut modal ventura adalah penyediaan pembiayaan untuk memungkinkan pembentukan dan pengembangan usaha-usaha baru, baik dibidang teknologi maupun di bidang nonteknologi23.

22

Martono, Bank dan Lembaga Keuangan Lain (Yogyakarta: Penerbit EKONISIA, 2010), h.127.

23

O.P. Simorangkir, Pengantar Lembaga Keuangan Bank dan Nonbank , (Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia, 2004), h, 169.

Arief (1994) mengemukakan bahwa modal ventura adalah suatu bentuk penyertaan modal atau sejenisnya ke dalam suatu PPU (Perusahaan Pasangan Usaha) yang ingin mengembangkan usahanya dengan melakukan ekspansi, namun tidak mempunyai kemampuan untuk memperoleh pembiayaan, baik dari bank maupun dari pasar modal 24.

Menurut Soemitro Djojohadikusumo (1994), Modal Ventura pada dasarnya adalah suatu usaha di bidang pembiayaan dalam bentuk penyertaan modal ke dalam suatu PPU.

Menurut Adi Sasono (1994), Modal Ventura adalah suatu usaha di bidang pembiayaan dalam bentuk penyertaan modal ke dalam suatu PPU. Ini berbeda dengan kredit di perbankan karena risiko kegagalan usaha modal ventura ditanggung bersama antara PMV dengan PPU, sebaliknya bila meraih laba dinikmati bersama sesuai proporsi jumlah saham yang dimiliknya.

Menurut Arthur Young, Modal Ventura didefinisikan sebagai risiko jika perusahaan mempunyai prospek yang baik, tetapi belum dapat mewujudkan harapan itu karena tidak mempunyai uang, maka keadaan seperti ini menarik minat pemodal ventura.

Sedangkan badan usaha yang menjalankan usaha pembiayaan dalam bentuk penyertaan modal ke dalam suatu perusahaan yang menerima bantuan

24

Veithzal Rivai, dkk, Bank and Financial Institution Management, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), h. 1141.

pembiayaan (Investee Company) untuk jangka waktu tertentu disebut dengan Perusahaan Modal Ventura (PMV).25

Jadi dapat disimpulkan bahwa modal ventura adalah modal yang diinvestasikan pada suatu Perusahaan Pasangan Usaha (PPU) yang mengalami kesulitan dana dalam pengembangan usahanya, di mana investasi ini mengandung risiko dan penyedia modal (venture capitalist) mengharapkan laba darinya. Sedangkan modal ventura syariah adalah bisnis pembiayaan dalam bentuk penyertaan modal ke dalam suatu perusahaan yang menerima bantuan pembiayaan untuk jangka waktu tertentu dengan berlandaskan prinsip-prinsip syariah. Praktik modal ventura yang dilakukan berdasarkan akad syariah dan bergerak di usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah yang diakui.26

2. Kegiatan Usaha Modal Ventura

Kegiatan usaha modal ventura bertujuan untuk: a. Pengembangan suatu penemuan baru

b. Pengembangan perusahaan atau UMKM yang pada tahap awal usahanya mengalami kesulitan dana;

c. Membantu perusahaan atau UMKM yang berada pada tahap pengembangan;

25

Keputusan Presiden Nomor 61 Tahun 1988 tentang Lembaga Pembiayaan, diakses pada 14 Februari 2014.

26

Andri Soemitra, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009), h. 309.

d. Membantu perusahaan atau UMKM yang berada pada tahap kemunduran usaha;

e. Pengembangan proyek penelitian dan rekayasa;

f. Pengembangan berbagai penggunaan teknologi baru dan alih teknologi baik dari dalam maupun luar negeri; dan/atau

g. Membantu pengalihan kepemlikan perusahaan.

3. Karakteristik Modal Ventura

Karakteristik modal ventura antara lain:

a. Pembiayaan modal ventura merupakan penyertaan modal (quasi equity financing) yang dilakukan dengan penyertaan modal langsung pada Perusahaan Pasangan Usaha (PPU). Selain itu, pembiayaan modal ventura dapat pula dilakukan dengan instrumen konversi (convertible bond) atau yang dikenal dengan istilah semi equity financing.

b. Modal ventura merupakan pembiayaan yang bersifat risiko tinggi (risk capital). Dikatakan berisiko tinggi karena pambiayaan modal ventura tidak disertai dengan jaminan seperti halnya dengan kredit perbankan. Akan tetapi didasarkan pada keyakinan atas gagasan yang diusulkan tersebut. risiko tinggi tersebut diimbangi dengan harapan mendapatkan return yang lebih besar.

c. Modal ventura merupakan investasi dengan perspektif jangka panjang (long term perspective). Modal ventura tidak mengharapkan perolehan keuntungan

dengan memperdagangkannya secara jangka pendek tetapi mengharapkan capital gain setelah jangka waktu tertentu.

d. Pembiayaan modal ventura bersifat investasi aktif (active investment), karena modal ventura selalu disertai dengan keterlibatan dalam manajemen perusahaan yang dibiayai, meliputi manajemen, keuangan, pemasaran dan pengawasan operasional. Keikutsertaan dalam manajemen tersebut diharapkan akan dapat mengurangi risiko investasi Perusahaan Modal Ventura (PMV) dan untuk membantu perusahaan yang bersangkutan meningkatkan profitabilitas.

e. Modal ventura bersifat sementara, yaitu untuk jangka waktu tertentu. Meskipun pembiayaan modal ventura berupa penyertaan saham, namun hanya bersifat sementara waktu, yakni maksimum 10 tahun. Dalam kurun waktu tersebut diharapkan perusahaan yang dibiayai sudah mencapai tingkat pertumbuhan yang diinginkan, selanjutnya PMV menarik diri dengan menjual sahamnya (divestasi) pada Perusahaan Pasangan Usaha (PPU). f. PMV dan PPU mempunyai kedudukan yang sejajar sebagai pemegang

saham. Konsekuensi hubungan ini adalah esensi perikatan dalam hukum, hubungan PMV dan PPU merupakan suatu ikatan bisnis. Kegagalan dalam usaha ditanggung bersama, sebaliknya bila meraih sukses dinikmati bersama sesuai dengan proporsi jumlah saham yang dimiliki.27

27

Veithzal Rivai, dkk, Bank and Financial Institution Management, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), h. 1151.

g. Keuntungan yang diharapkan oleh PMV adalah terutama capital gain atau apresiasi nilai saham di samping deviden.

h. Tingkat keuntungan yang tinggi artinya bidang usaha yang umumnya dibiayai oleh modal ventura bersifat terobosan baru yang menjanjikan keuntungan tinggi.

i. Mempunyai nilai tambah. Pembiayaan modal ventura tidak akan banyak artinya bila tidak disertai dengan paket lainnya, yaitu pertambahan nilai melalui technical assistence, manajemen dan strategi bisnisnya.28

Perbedaan antara pembiayaan dengan modal ventura dan kredit perbankan dari sudut pandang perusahaan pembiayaan dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2.1 Perbedaan Pembiayaan Modal Ventura dan Kredit Perbankan 29

Keterangan Modal Ventura Kredit Perbankan Tujuan Investasi Memaksimalkan

capital gain

Memperoleh bunga Jangka Waktu Jangka panjang

(maksimal 10 tahun)

Jangka pendek, menengah, dan panjang

Instrumen Saham biasa, obligasi konversi, options, warrants

Pinjaman

Tarif Price earning ratio

net tangible assets

Suku bunga

Jaminan Tidak ada Ada

Kepemilikan Ada Tidak ada

Pengendalian Minority shareholder Convenants

28

Veithzal Rivai, dkk, Bank and Financial Institution Management, h.1152.

29

right protection

Dampak pada neraca Mengurangi leverage Meningkatkan leverage Dampak pada cash

flow

Meningkat Meningkat Dampak pada laba Meningkat Meningkat Mekanisme divestasi IPO, sale to third

party, sale to enterpreneurs, private placement

Pelunasan utang

Di samping itu, bagi perusahaan modal ventura syariah terdapat karakteristik khusus berupa terpenuhinya prinsip-prinsip syariah, yaitu:30 a. Adanya Dewan Pengawas Syariah yang bertugas mengawasi penerapan

prinsip-prinsip syariah.

b. Aktivitas usaha yang dijalankan oleh perusahaan modal ventura haruslah sesuai dengan prinsip-prinsip syariah dan tidak dibenarkan melakukan kegiatan usaha yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah. Kegiatan usaha yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah tersebut, antara lain:

1. Perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang;

2. Lembaga keuangan konvensional (ribawi) termasuk perbankan dan asuransi konvensional;

30

Andri Soemitra, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009), h. 314.

3. Produsen, distributor, serta pedagang makanan dan minuman yang haram;

4. Produsen, distributor, dan/atau penyedia barang-barang ataupun jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat;

5. Melakukan investasi pada perusahaan yang pada saat transaksi tingkat (nisbah) utang perusahaan kepada lembaga keuangan ribawi lebih dominan dari modalnya.

4. Mekanisme Kerja Modal Ventura

Pada prinsipnya modal ventura merupakan suatu proses yang menggambarkan arus investasi yang dimulai dari masuknya pemodal dengan membentuk suatu pool of funds, proses pembiayaan pada PPU sampai proses penarikan kembali penyertaan tersebut (divestasi). Modal ventura dikelola secara profesional untuk dinvestasikan kepada perusahaan yang membutuhkan modal. Oleh karena itu, dalam mekanisme kerja modal ventura setidaknya terdapat tiga pihak yang terlibat secara langsung, yaitu:

a. Pemilik modal b. Profesional c. Perusahaan

Mekanisme pembiayaan modal ventura yang diterapkan lazimnya terdiri dari dua jenis berikut:31

1. Single Tier Approach

Modal ventura yang langsung dikelola oleh manajemen PMV yang membentuk/mendirikan perusahaan tersebut atau disebut juga single tier approach.

2. Two Tier Approach

Modal ventura yang pengelolaannya diserahkan pada Perusahaan Manajemen Investasi yang profesional, atau disebt juga model two tier approach.

31

Veithzal Rivai, dkk, Bank and Financial Institution Management, Ed.1, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), h. 1143. Investo Investo Investo PMV PPU Divestasi Investasi Kesepakatan Modal Ventura Investo Investo Investo Fund Company Investee Divestasi Management Company Pembiayaan Kesepakatan Modal Ventura Kontrak Manajemen Laporan Management Fee Success Fee Penunjang: Identifikasi Evaluasi Monitoring Administrasi Mengkaji

5. Sumber Dana Modal Ventura

Sumber dana modal ventura dapat berasal dari berasal dari: a) Investor perorangan

b) Saham

c) Obligasi Konversi d) Bagi Hasil

e) Investor Institusi

f) Perusahaan Asuransi dan Dana Pensiun g) Perbankan

h) Pemerintah Daerah

i) Lembaga Keuangan Internasional

6. Jenis Pembiayaan Modal Ventura

Jenis pembiayaan yang diberikan PMV dapat dilakukan dengan tiga cara. Ketiga cara ini secara umum bersesuaian dengan prinsip syariah, yakni:32 1. Penyertaan Modal Langsung (Equity Financing)

Penyertaan modal langsung adalah penyertaan modal Perusahaan Modal Ventura (PMV) pada perusahaan pasangan dengan cara mengambil bagian sejumlah tertentu saham Perusahaan Pasangan Usaha (PPU). Dalam penyertaan modal langsung, pembiayaan berupa penyertaan saham dan PPU harus berbentuk

32

Andri Soemitra, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009), h. 324.

Perseroan Terbatas (PT) atau akan menjadi PT bersamaan dengan masuknya modal ventura sebagai pemodal. Penyertaan modal ini dapat dilakukan dengan cara:

a) Bersama-sama mendirikan suatu perusahaan selanjutnya semua janji yang telah disepakati para pihak dituangkan dalam suatu dokumen hukum yang disebut Perjanjian Antar Calon Pendiri/Pemegang Saham (Shareholder Agreement).

b) Penyertaan modal PMV dalam bentuk pengambilan sejumlah portofolio saham PPU dalam hal ini PPU yang telah berbadan hukum.

Penyertaan modal langsung dalam bentuk saham pada modal ventura syariah didasarkan pada Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) No. 20/DSN-MUI/IV/2001 tentang Pedoman Pelaksanaan Reksa Dana Syariah dan Fatwa DSN MUI No. 40/DSN-MUI/X/2003 tentang Pasar Modal dan Pedoman Umum Oenerapan Prinsip Syariah di BidangPasar Modal yang mengakui saham sebagai salah satu instrumen penyerataan modal di lembaga keuangan syariah.

2. Penyertaan Modal Tidak Langsung (Semi Equity Financing)

Pembiayaan dalam bentuk penyertaan modal tidak langsung dilakukan dengan membeli obligasi konversi (convertible bond) yang diterbitkan oleh PPU. Syarat dari pembiayaan ini adalah calon PPU harus sudah berbentuk Perseroan Terbatas (PT), atau akan menjadi PT bersamaan dengan masuknya modal ventura sebagai pemodal. Penyertaan modal tidak langsung melalui obligasi konversi ini

didasarkan pada Fatwa DSN MUI No. 59/DSN-MUI/V/2007 tentang Obligasi Syariah Mudharabah Konversi.

3. Pembiayaan Bagi Hasil

Bentuk instrumen pembiayaan ini menekankan pada aspek-aspek bagi hasil dari keuntungan yang diperoleh dari usaha yang dibiayai, oleh karena itu hal-hal yang perlu diperhatikan dalam bentuk pembiayaan ini adalah kewenangan bertindak pihak yang mewakili PPU, objek usaha serta jaminan atas pemberian bantuan dana. Syarat pembiayaan bagi hasil dapat dilakukan terhadap semua bentuk badan usaha. Dalam syariah, jenis pembiayaan bagi hasil (profit and loss sharing) dapat dilakukan dengan akad musyarakah atau mudharabah.

7. Pola Pembiayaan Modal Ventura

Pola pembiayaan yang diberikan oleh perusahaan modal ventura antara lain:

a) Pembiayaan langsung yaitu PMV membiayai langsung PPU yang sudah/akan berbentuk badan hukum. PMV dapat berperan aktif dengan menempatkan wakilnya sebagai anggota direksi maupun komisaris dalam perusahaan tersbut. Pola pembiayaan ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu mendirikan perusahaan baru dengan pemegang saham PMV dab penemu/penggagas ide atau PMV ikut menjadi pemegang saham PPU yang sudah ada dengan mengambil porsi modal yang masih dalam portofolio dengan komposisi jumlah modal disetor ditentukan di awal kontrak.

b) Pembiayaan langsung dengan franchise, pola pembiayaan ini hampir sama dengan pola pembiayaan langsung. Bedanya adalah dalam hal pengawas yang dilakukan oleh PMV ataupun jasa profesional dapat dialihkan kepada franchisor. Dalam pola ini PMV lebih berfungsi sebagai penyedia dana/modal kepada PPU. Untuk itu biasanya franchisor aka nmendapatkan fee dari PPU. c) Inti-Plasma, yaitu pola dimana perusahaan inti membina beberapa perusahaan

plasma dalam suatu wadah usaha. Setiap perusahaan plasma harus mendukung usaha perusahaan inti. Dengan cara ini diharapkan terjadi kesinambungan yang saling menguntungkan antara inti dan plasma.

d) Pola Payung, yaitu bentuk pembiayaan yang diberikan kepada suatu perusahaan yang dimiliki oleh beberapa orang. Perusahaan dengan pola ini berfungsi sebagai trading house bagi perusahaan para pemiliknya dan biasanya dikelola oleh tenaga profesional yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan pemilik perusahaan sehingga independensi dapat terjaga dengan baik.

e) Kemitraan, yaitu pola ini melibatkan perusahaan besar yang akan membeli produk barang dan jasa yang dihasilkan dari perusahaan mitra binaan. Pola ini didahului dengan kerja sama antar perusahaan besar dengan PMV dan selanjutnya PMV melakukan pembiayaan kepada PPU ataupun sebaliknya.

B. Usaha Mikro Kecil dan Menengah 1. Pengertian

Di Indonesia, perhatian tehadap usaha kecil mulai muncul pada saat Presiden Soeharto mencanangkan Gerakan Kemitraan Usaha Nasional pada 15 Mei 1996. Presiden Soeharto mengatakan bahwa kemitraan usaha jangan sampai menimbulkan beban yang memberatkan rakyat sebab tujuan kemitraan membatasi konsentrasi kekuatan ekonomi yang akan berdampak pada kesenjangan usaha.

Di Indonesia dikenal dua definisi mengenai UMKM. Pertama, definisi UMKM menurut Undang-Undang (UU) No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang pengertiannya diklasifikasikan dalam tiga kriteria, yakni Usaha Mikro, Usaha Kecil, dan Usaha Menengah. Pengertian UMKM tidak hanya mencakup industri pengolahan saja namun juga mencakup sektor usaha lain, misalnya perdagangan, konstruksi, pengangkutan, pertanian, jasa, dan lainnya.33 Pengertian dan kriteria dari masing-masing klasifikasi usaha menurut UU No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yakni sebagai berikut:

1) Usaha Mikro

Usaha mikro adalah sebuah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan. Kriteria usaha mikro sebagai berikut:

33

Mudrajad Kuncoro, Ekonomika Pembangunan: Masalah, Kebijakan, dan Politik, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2010),h. 185.

a. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 50.000.000 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau b. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 300.000.000 (tiga

ratus juta rupiah) 2) Usaha Kecil

Kriteria usaha kecil sebagai berikut:

a) Memiliki kekayaan bersih dari Rp 50.000.000 (lima pulh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 500.000.000 (lima ratus juta rupiah)tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau

b) Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 300.000.000 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 2.500.000.000 (dua miliar lima ratus juta rupiah).

3) Usaha Menengah

Usaha menengah yakni usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau Usaha Besar.

Kriteria Usaha Menengah yakni sebagai berikut:

a) Memiliki kekayaan bersih dari Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 10.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau

b) Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah).

Kedua, definisi UMKM menurut BPS (Badan Pusat Statistik). BPS membagi jenis UMKM berdasarkan jumlah tenaga kerja dimana usaha kecil identik dengan Industri Kecil dan Industri Rumah Tangga (IKRT). Klasifikasi industri berdasarkan jumlahnya yakni: (1) Industri Rumah Tangga dengan pekerja 1-4 orang; (2) industri kecil dengan pekerja 5-19 orang; (3) industri menengah dengan pekerja 20-99 orang; (4) industri besar dengan pekerja 100 orang atau lebih.

2. Karakteristik-Karakteristik Utama Usaha Mikro, Usaha Kecil, dan Usaha Menengah

Di negara sedang berkembang, Usaha Mikro (UMI), Usaha Kecil (UK), dan Usaha Menengah (UM) memiliki karakteristiknya masing-masing. Sebagaimana terlihat dalam tabel 2.2 berikut ini:34

34

Tulus TH Tambunan, Usaha Mikro Kecil dan Menengah di Indonesia: Isu-Isu Penting, (Jakarta: LP3ES, 2012), h. 7.

Tabel 2.2

Karakteristik Utama UMI, UK, dan UM di Negara Sedang Berkembang

No Aspek UMI UK UM 1 Formalitas Beroperasi di sektor informal; usaha tidak terdaftar tidak/jarang bayar pajak Beberapa beroperasi di sektor formal; beberapa tidak terdaftar; sedikit yang bayar pajak Semua di sektor formal; terdaftar dan bayar pajak

2 Organisasi & Manajemen Dijalankan oleh pemilik; tidak menerapkan pembagian tenaga kerja ilternal (ILD), manajemen dan struktur organisasi formal (MOF), Dijalankan oleh pemilik; tidak ada ILD, MOF, ACS Banyak yang mengerjakan manajer profesional dan menerapkan ILD, MOF, ACS

sistem pembukuan formal (ACS) 3 Sifat dari kesempatan kerja Kebanyakan menggunakan anggota-anggota keluarga tidak dibayar Beberapa memakai tenaga kerja (TK) yang digaji - Semua memakai Tenaga Kerja digaji - Semua memiliki sitem perekrutan formal 4 Pola/sifat dari proses produksi Derajat mekanisasi sangat rendah/ umumnya manual; tingkat teknologi sangat rendah Beberapa memakai mesin-mesin terbaru Banyak yang mempunyai derajat mekanisasi yang tinggi/mempunyai akses terhadap teknologi tinggi 5 Orientasi pasar Umumnya menjual ke Banyak yang menjual ke pasar Semua menjual ke pasar domestik

pasar lokal untuk kelompok berpendapatan rendah domestik dan ekspor, dan melayani kelas menengah ke atas

dan banyak yang ekspor, dan melayani kelas menengah ke atas 6 Profil ekonomi & sosial dari pemilik usaha Pendidikan rendah dan dari rumah tangga (RT) miskin; motivasi utama: survival Banyak berpendidikan baik dan dari Rumah Tangga (RT) non miskin; banyak yang bermotivasi bisnis/mencari profit Sebagaian besar berpendidikan baik dan dari rumah tangga makmur; motivasi utam: profit 7 Sumber-sumber dari bahan baku dan modal Kebanyakan pakai bahan baku lokal dan uang sendiri

Beberapa

memakai bahan baku impor dan mempuyai akses ke kredit formal

Banyak yang memakai bahan baku impor dan mempunyai akses ke kredit formal 8 Hubungan- Kebanyakan Banyak yang Sebagian besar

hubungan ekternal tidak mempunyai akses ke program-program pemerintah dan tidak punya hubungan-hubungan bisnis dengan UB punya akses ke program-program pemerintah dan punya hubungan-hubungan bisnis dengan Usaha Besar (Termasuk Penanam Modal Asing) punya akses ke program-program pemerintah dan banyak yang punya hubungan-hubungan bisnis dengan Usaha Besar (termasuk Penanam Modal Asing) 9 Wanita pengusaha Rasio dari wanita terhadap pria sebagai pengusaha sangat tinggi Rasio dari wanita terhadap pria sebagai pengusaha cukup tinggi

Rasio dari wanita terhadap pria sebagai

pengusaha sangat rendah

3. Jenis-Jenis Usaha Kecil dan Menengah

Jenis-jenis usaha kecil dan menengah di Indonesia dibagi menjadi beberapa bentuk:35

a) Ditinjau dari segi kelembagaan ekonomi sektoral terdiri dari: 1) sektor koperasi; 2) sektor negara; 3) sektor swasta, yang terdiri dari Perseroan Terbatas, Perseoran Komanditer, Firma, Usaha Perorangan, dan Perusahaan Internasional.

b) Ditinjau berdasarkan bentuk produksinya,terbagi atas: 1) perusahaan industri; 2) perusahaan niaga; 3) perusahaan agribisnis; 4) perusahaan jasa; 5) Perusahaan ekstraktif; 6) perusahaan kredit.

c) Ditinjau berdasarkan tanggung jawabnya, yaitu tanggung jawab pemilik terhadap utang-utang perusahaan, maka perusahaan dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

1) Peusahaan dengan pemilik yang bertanggung jawab sepenuhnya terhadap utang perusahaan. Contoh: firma

2) Peusahaan dengan pemilik yang tidak bertanggung jawab sepenuhnya terhadap utang perusahaan. Contoh: Perseroan Terbatas.

35

Edillius, et all., Pengantar Ekonomi Peusahaan”, dalam Euis Amalia, Keadilan Distributif Dalam Ekonomi Islam : Penguatan Peran LKM dan UKM di Indonesia, (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), h. 47.

4. Strategi Pemberdayaan UMKM

Strategi pemberdayaan UMKM yang telah diupayakan selama ini dapat diklasifikasikan sebagai berikut:36

1. Aspek manajerial, yang meliputi: Peningkatan produktivitas/omzet/tingkat utilisasi/tingkat hunian, meningkatkan kemampuan pemasaran dan pengembangan sumber daya manusia

2. Aspek permodalan, yang meliputi bantuan modal (penyisihan 1-5% keuntungan BUMN dan kewajiban untuk menyalurkan kredit bagi usaha kecil minimum 20% dari portofolio kredit bank) dan kemudahan kredit (KUPEDES, KUK, KIK, KMKP, KCP, Kredit Mini/Midi, KKU)

3. Mengembangkan program kemitraan dengan usaha besar baik lewat sistem Bapak Anak Angkat, PIR, keterkaitan hulu-hilir (forward linkage), keterkaitan hilir – hulu (backward linkage), modal ventura ataupun sub kontrak

4. Pengembangan sentra industri kecil dalam suatu kawasan, baik berbentuk PIK (Pemukiman industri Kecil), LIK (Lingkungan Industri Kecil), SUIK (Sarjana Usaha Industri Kecil) yang didukung oleh UPT (Unit Pelayanan Teknis) ataupun TPI (Tenaga Penyuluh Industri)

36

Mudrajad Kuncoro, Ekonomika Pembangunan: Masalah, Kebijakan, dan Politik, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2010),h. 197.

5. Pembinaan untuk bidang usaha dan daerah tertentu lewat KUB (Kelompok Usaha Bersama), KOPINKRA (Koperasi Industri Kecil dan Kerajinan)

C. Regulasi Terkait Modal Ventura dan UMKM

Peraturan yang menjadi dasar hukum bagi Perusahaan Modal Ventura dan UMKM di Indonesia, antara lain meliputi:

1. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 61 Tahun 1988 Tanggal 20 Desember 1988, tentang Lembaga Pembiayaan;

2. Peraturan Pemerintah No. 62 Tahun 1992 tanggal 10 September 1992, tentang Sektor-sektor Usaha PPU dan PMV dalam pelaksanaan Undang-Undang No. 7 Tahun 1983, tentang Pajak Penghasilan, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 7 tahun 1991;

3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 4 Tahun 1995 tanggal 8

Dokumen terkait