• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendampingan Pengembangan Kawasan Pertanian Nasional Tanaman Hortikultura

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

6.19. Pendampingan Pengembangan Kawasan Pertanian Nasional Tanaman Hortikultura

Kegiatan Pendampingan Kawasan Hortikultura TA. 2017 dilaksanakan pada dua komoditas yaitu cabai dan bawang merah. Pendampingan kawasan cabai merah dilaksanakan di Desa Dangdeur Kecamatan Banyuresmi Kabupaten Garut dan pendampingan kawasan bawang merah di Kecamatan Ligung Kab Majalengka. Inovasi teknologi yang dikembangkan pada cabai merah adalah isolasi persemaian, penggunaan agen hayati dan biopestisida, serta pola tanam. Kinerja pertumbuhan demplot dengan perlakuan mampu mengurangi serangan hama / penyakit dan pertumbuhan lebih merata.

Sedangkan inovasi bawang merah yang dikenalkan berupa pengenalan varietas bawang merah Trisula dan Teknologi TSS. Minat petani bawang merah terhadap bawang Trisula cukup bagus. Varietas Trisula secara umum memperlihatkan jumlah bobot dan jumlah anakan lebih besar daripada varietas Bima sehingga varietas Trisula berpeluang untuk dikembangkan . Teknologi tanam bawang merah asal biji (TSS) masih dirasa baru dan perlu terus digencarkan guna meningkatkan mutu dan sebagai upaya mengatasi sulitnya mendapatkan benih bawang merah umbi.

Petani penangkar bawang merah sudah cukup maju dari aspek teknis, namun masih perlu dilakukan peningkatan linkage dengan stakeholder pemerintah maupun swasta.

Dinas Pertanian Kabupaten Majalengka telah menaruh perhatian terhadap keberadaan penangkar benih bawang merah. Selain itu telah dilakukan linkage ke bebarapa konsumen

55 di dalam maupun luar Jawa Barat. Pengenalan petani cabai menjadi penangkar masih dalam sebatas pengenalan umum mengingat terbatas penangkar bibit cabai maupun perlunya sarana prasarana prosesing benih cabai.

Kegiatan pendampingan kawasan hortikultura TA 2017 dilaksanakan di wilayah yang menjadi sentra cabai di Jawa Barat yaitu Kabupaten Garut , Tasikmalaya dan Ciamis.

Pendampingan kawasan cabai dilaksanakan dalam bentuk demfarm cabai dan bimbingan teknis serta kelembagaan. Demfarm cabai merah seluas 2 hektar dilaksanakan di Desa Dangdeur Kec Banyuresmi Kabupaten Garut kelompok tani Sugih Mukti.

Secara geografis Banyuresmi terletak di wilayah utara Kabupaten Garut dengan luas wilayah 5.313 Ha yang terdiri dari 15 desa dusun 37, RW 162 dan RT 495. Penduduk Kecamatan Banyuresmi berjumlah 87.841 jiwa yang terdiri dari penduduk laki-laki 45.047 jiwa dan penduduk perempuan 42.794 jiwa . Umumnya tanah berbentuk liat atau berpasir ( sekitar 35 %) yang lainnya antara lempung dan merah kuning Tanaman sayuran yang banyak dibudidayakan terutama cabai yang ditanam pada lahan darat sistem tumpang sari.

Tabel 10. Data Luas Tanam, Panen, Produktivitas dan Produksi Komoditas Sayuran di Kecamatan Banyuresmi Tahun 2015

Sumber Data : BP3K Kec. Banyuresmi

Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Kecamatan Banyuresmi memiliki 11 tenaga penyuluh yang terbagi dalam wilayah binaan seperti dalam Tabel 10.

Tabel 11. Data Penyuluh Petanian dan tugas Wilbin

No Nama / NIP Pangkat/Gol Pendidikan Wilbin/Desa

1.

Banyuresmi mempunyai fasilitas untuk dikembangkan kemitraan dengan pengusaha atau pabrik seperti pabrik kecap, tahu, aneka dodol, kacang tanah, pemotongan Ayam, serta gudang SILO Kapasitas Penyimpana 400 Ton.

No Komoditi Luas Tanam

56 Tabel 12. Data calon petani kooperator demfarm cabai

6.20. Pendampingan Pengembangan Kawasan Pertanian Nasional Peternakan 1. Inovasi teknologi pakan, reproduksi, pengolahan kotoran ternak telah berkembang di

lokasi pendampingan kawasan peternakan yang ditunjukan dengan jumlah adopter yang mengadopsi inovasi teknologi yang diintroduksikan baik didalam kelompok (10-14 orang) maupun di luar kelompok (2-10 orang).

2. Respon peternak terhadap inovasi teknologi dalam upaya peningkatan produksi dan produktivitas ternak di lokasi pendampingan kawasan ternak sapi potong cukup baik yang ditunjukan dengan respon peternak yang merasa perlu terhadap pemberian silase pada ternak (100%), perlunya pemberian pakan tambahan (konsentrat) berbahan baku lokal (86,67%) dan perlunya dilakukan pengolahan kotoran ternak (100%). Namun masih memerlukan pendampingan dan pembinaan yang intensif.

3. Respon peternak terhadap inovasi teknologi dalam upaya peningkatan produksi dan produktivitas ternak di lokasi pendampingan kawasan ternak sapi perah cukup baik yang ditunjukan dengan respon peternak yang merasa perlu terhadap pemberian silase pada ternak (78,57%), perlunya pemberian pakan tambahan (UMS) berbahan baku lokal (92,86%) dan perlunya dilakukan pengolahan kotoran ternak (85,71%).

Namun masih memerlukan pendampingan dan pembinaan yang intensif.

4. Demplot inovasi teknologi pakan melalui pemberian pakan tambahan (konsentrat) menggunakan bahan baku lokal terhadap sapi jantan penggemukan mampu memberikan rata-rata pertambahan bobot badan harian sebesar 0,93 kg/ekor/hari (mengalami peningkatan PBBH sebesar 0,43 kg/ekor/hari dbandingkan dengan PBBH eksisting), sedangkan pada induk sapi potong mampu memberikan PBBH rata-rata 0,84 kg/ekor/hari (mengalami peningkatan PBBH sebesar 0,44 kg/ekor/hari dibandingkan dengan PBBH eksisting).

5. Dukungan teknologi dan pembinaan yang intensif di lokasi pendampingan perlu dilakukan dalam upaya mendukung pengembangan usaha ternak sapi potong, sapi perah dan domba.

6. Peningkatan kinerja kelembagaan kelompok tani ternak di lokasi pendampingan kawasan peternakan dilakukan melalui peningkatan sumberdaya peternak dalam partisipasinya terhadap kelompok tani ternak yaitu melalui pembinaan atau ppendampingan dan bimbingan teknis.

57 Lokasi Pendampingan Kawasan Sapi Potong dan Sapi Perah tahun 2017

merupakan lokasi baru (berbeda dengan lokasi pada tahun sebelumnya). Hal ini karena berdasarkan Kepmentan No 8933/Kpts/OT.050/F/12/2016 tanggal 29 Desember 2016 BPTP Jawa Barat ditetapkan sebagai Tim Supervisi dan Pendampingan UPSUS SIWAB di Kabupaten Sukabumi dan Bandung, sehingga agar lebih efektif dan efisien, lokasi pendampingan Kawasan Sapi Potong dan Sapi Perah disesuaikan dengan lokasi UPSUS SIWAB. Sedangkan lokasi Kawasan Domba merupakan lanjutan dari tahun sebelumnya (Tabel 2).

Persyaratan penetapan kelompoktani ternak sebagai calon lokasi dan calon kelompok yang didampingi yaitu letak strategis dan mudah dijangkau, ketersediaan sarana dan prasarana, serta kelompoktani kompak dan memiliki minat tinggi untuk menerima inovasi teknologi yang diintroduksikan.

Tabel 2. Lokasi Pendampingan Pengembangan Kawasan Peternakan di Jawa Barat TA 2017

Sukabumi Purabaya Neglasari At-Tawakal - Bantuan kandang dari Bank Indonesia (CSR)

- Benih HMT Indigofera - Obat-obatan

- Bahan kandang 3. Domba

Garut Leles Dano Lembur

Sauyunan Bantuan sarana dan prasarana yang menunjang

58 Aktivitas Kegiatan Pendampingan Pengembangan Kawasan Peternakan