Pengaruh pemberian silase jerami (%)
B. Teknik Produksi Krisan a. Varietas
Varietas yang digunakan adalah produksi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Badan Litbang Pertanian) dalam hal ini dilaksanakan oleh Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi).
b. Persiapan Lahan
Penyiapan lahan untuk tanaman induk meliputi pembersihan gulma dan sisa-sisa tanaman sebelumnya. Tanah diolah minimal 2 kali sedalam + 30 cm untuk memperbaiki aerasi tanah. Kemudian dibuat bedengan, dengan ukuran tinggi 25-30 cm, lebar 1-1,2 m, dan jarak antar bedengan + 50 cm. Sedangkan panjang bedengan disesuaikan dengan rumah lindung. Tambahkan kapur pertanian dosis 100-200 g/ m2 secara merata diatas bedengan kemudian kering anginkan.
Untuk memperbaiki sifat fisik tanah, tambahkan pupuk kandang kambing dengan dosis 2-3 kg/m2 (2-3 minggu sebelum tanam). Aduk tanah dengan pupuk kandang dan siram sampai rata.
Penyiapan tidak mengalami gangguan fisiologis, mempunyai daya tumbuh yang kuat, dan memiliki nilai komersial di pasaran. Pemilihan varietas berdasarkan warna dan bentuk bunga yang mempunyai potensi untuk dikembangkan yaitu kesesuaian agro ekologi dan preferensi konsumen. Benih yang digunakan adalah stek berakar.
c. Penanaman
Sebelum dilakukan penanaman terlebih dahulu dipersiapkan peralatan dan bahan untuk membuat jarak tanam seperti patok dari kayu atau bambu dan tali. Jarak tanam yang digunakan adalah 10 x 10 cm dan kepadatan tanaman induk adalah 100 tanaman per meter persegi. Bahan tanaman berupa stek berakar. Kemudian lahan disiram sampai jenuh 1 hari sebelum tanam. Tanah digemburkan dan siram kembali sampai jenuh sesaat
112 sebelum tanam. Bedengan ditugal dengan tugal kayu kemudian stek ditanam pada lubang yang telah tersedia dan ditutup dengan tanah secukupnya serta posisi tanaman berdiri tegak. Penanaman dilakukan pada sore hari. Penyiraman tanaman induk dengan air secukupnya dan usahakan tanaman tetap berdiri tegak. Kelembaban bedengan harus diperhatikan karena tanaman krisan tidak toleran terhadap kekeringan, kelembaban yang rendah dan suhu yang tinggi terutama pada fase awal pertanaman.
d. Pemeliharaan
Penyulaman
Penyulaman tanaman dilakukan jika terdapat tanaman yang mati atau tidak tumbuh dengan baik . Penyulaman dilakukan pada saat awal masa tanam menggunakan bibit yang umurnya sama, sehingga tetap dapat menjaga keseragaman bibit yang dihasilkan.
Menyiram kembali tanaman induk pengganti dengan air secukupnya.
Pengaturan Pencahayaan Tambahan
Kegiatan yang dilakukan sebagai usaha untuk mempertahankan tanaman induk krisan tetap berada pada fase vegetatif. Pencahayaan tambahan dilakukan selama 4 jam setiap malam secara terus menerus atau dengan menggunakan metoda siklik. Memastikan kebenaran aplikasi pencahayaan pada malam hari secara berulang 2 kali seminggu untuk menghindarkan pembungaan dini.
Penyiraman
Pemberian air bertujuan untuk memenuhi kebutuhan air tanaman, menjaga stabilitas suhu, kelembaban media dan lingkungan tanam. Pennyiraman tanaman induk tiap pagi pada saat tanaman induk berumur 1 minggu. Pada umur lebih dari 1 minggu penyiraman dapat dilakukan 2-3 kali seminggu
Pemupukan
Pemupukan adalah kegiatan memberikan berbagai jenis hara dengan dosis, waktu aplikasi, dan cara aplikasi sesuai kebutuhan tanaman.
Tabel.1. Jenis perlakuan yang dilakukan
No Perlakuan Keterangan
Introduksi Cara petani
1. Pemberian pupuk kandang sapi potong 4 kg/pohon
0,8 kg/pohon Diberikan dgn cara ditabur
2. Pemberian biourine 500 ml/liter air.
Diberikan 1 minggu sekali dengan cara dicor per m2, mulai 2 MST
Pemberian pupuk buatan : Urea 150 kg, KCL, 50 kg dan SP-36 50 kg/ha
3 Pengendalian OPT dengan Pesnab.
Diaplikasikan jika ada serangan OPT sesuai ambang ekonomi.
Menggunakan pestisida sintetis.
Setelah umur 60 hari setelah tanam, harus dilakukan pinching (membuang tunas samping untuk bunga krisan tujuan standart) dan tipe sprey lakukan toping (membuang bunga pertama.)
Penyiangan
Penyiangan dilakukan dengan frekuensi setiap 2 minggu dan bisa lebih sering bilamana pertumbuhan gulma lebih cepat, frekuensi penyiangan akan menurun apabila
113 tajuk tanaman sudah mulai menutup areal tanam secara sempurna. Gulma dapat dibersihkan secara manual dengan cara mencabut gulma sampai akar-akarnya atau dengan menggunakan alat penyiang lainnya dan membuang gulma pada tempat yang aman dari pertanaman. Penyiangan juga dilakukan pada areal di sekitar rumah lindung untuk menghindari berkembang biaknya gulma secara cepat.
Pengendalian OPT
Pengendalian OPT menggunakan pengendalian biologi dan pestisida alami. Tujuan dari pengendalian OPT ini adalah mengelola populasi OPT pada tingkat yang tidak merugikan secara ekonomi tanpa mengganggu keseimbangan lingkungan dan mempertahankan produksi dan mutu stek krisan dari gangguan OPT. Monitoring ada tidaknya serangan hama penyakit pada tanaman induk. Jika ditemukan adanya serangan hama penyakit, lakukan strategi pengendalian sesuai dengan sebaran, tingkat dan dampak serangan hama penyakit terhadap pertumbuhan tanaman. Untuk hama penyakit dengan sebaran, tingkat dan dampak serangan pengendalian dilakukan dengan kombinasi biologi dan kultur teknis. Pengendalian dengan cara biologi yaitu perompesan bagian tanaman terserang lalu ditimbun atau dibakar, pengambilan hama dan membunuhnya secara langsung. Pengendalian kombinasi biologi dan pestisida alami yaitu pengendalian dilakukan terlebih dahulu secara biologi dilanjutkan dengan penyemprotan kepada tanaman yang sehat terlebih dahulu selanjutnya kepada tanaman yang terserang.
Untuk dapat menanggulangi hama, penyakit dan gulma yang mengganggu tanaman, secara garis besar dapat ditempuh dengan dua cara yaitu: dengan cara preventif dan kuratif.
1. Cara preventif, yaitu tindakan yang dilakukan sebelum tanaman diserang hama dan penyakit dan gulma. Diantaranya yaitu dengan : a). Pengolahan tanah sempurna, c).
Menanam kultivar yang resisten, c). Mendesinfeksi bibit/benih dalam larutan kimia d).
Mengadakan rotasi tanam dan e). Menanam tepat waktunya.
2. Cara kuratif, dengan cara biologis, dengan menggunakan musuh alami yaitu predator, parasit dan pathogen serangga serta penggunaan pestisida hayati nabati dll.
Hasil Percontohan budidaya krisan organik
Hasil pengkajian di kelompok tani Sakura menunjukkan bahwa perlakuan introduksi teknologi memberikan hasil lebih baik dibandingkan dengan kebiasaan petani dari parameter diameter batang, dan kualitas bunga.
Pengaruh perlakuan terhadap tinggi tanaman krisan
Tinggi tanaman merupakan salah satu parameter penting dalam grading tanaman krisan. Tinggi tanaman yang termasuk grade A berkisar antara 70-80 cm, grade B 60-70 cm dan grade C kurang dari 60 cm (Yiyin dan Laily (2008). Berdasarkan hasil pengamatan tinggi tanaman, tampak bahwa perlakuan kebiasaan petani (eksisting) memperlihatkan pertumbuhan tinggi tanaman lebih cepat dibandingkan dengan cara introduksi baik pada awal-awal pertumbuhan maupun di akhir pengamatan. Hal ini disebabkan karena pemenuhan unsur hara pada saat awal pertumbuhan yang hanya diberi aplikasi biourine tidak mencukupi untuk kebutuhan hara tanaman yang diperlukan pada umur tersebut, sehingga terlihat pertumbuhannya kurang bagus. Biourine sapi memiliki kandungan unsur hara yang cukup lengkap yaitu mengandung unsur C organik, N total, C/N ratio, P dan K.
Menurut Alfikri, dkk.(2015), unsur hara kompos kotoran atau biourien tidak dapat langsung diserap oleh tanaman, karena pupuk organik memerlukan waktun pelapukan dengan tanah agar unsur hara tersedia bagi tanaman. Selain dipengaruhi oleh unsur hara, tinggi tanaman krisan juga sangat tergantung pencahayaan tambahan. Oleh karena itu untuk
114 mempertahankan fase vegetatif yang optimal perlu penambahan hari panjang sekitar 4-5 jam/malam selama 4-5 minggu, tergantung genotipenya (Yiyin dan Laily, 2008).
Tabel 2. Perkembangan pertumbuhan tinggi tanaman krisan organik pada minggu ke-2, 4, 6, 8 dan 10 minggu HST
Perlakuan
Tinggi Tanaman (cm)
2 Minggu 4 Minggu 6 Minggu 8 Minggu 10 Minggu
Cara Petani 16.05 32.80 41.65 55.10 97.80
IntroduksiTeknologi 13.64 27.47 38.1 54.55 79.80
Pengaruh perlakuan terhadap diameter batang
Perkembangan diameter batang untuk perlakuan introduksi terlihat lebih besar bila dibandingkan dengan cara petani (eksisting), seperti terlihat dalam tabel 3. Namun untuk ke dua perlakuan sama-sama mengalami perkembangan diameter batang hingga akhir pengamatan (minggu ke 8). Hal ini menandakan bahwa perkembangan diameter batang tanaman krisan yang diberi perlakuan biourine dapat berkembang dengan baik hampir sama dengan cara petani yang menggunakan pupuk urea, KNO3 dan SP36. Nutrisi yang diberikan ke tanaman dari 2 cara aplikasi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap perkembangan diameter batang tanaman bunga krisan. Halini menandakan bahwa pertumbuhan sel-sel dalam jaringan tanaman untuk menumbuhkan diameter batang tidak berkembang lebih lanjut. Hasil penelitian ALifikri (2015) menyatakan bahwa aplikasi biourine pada tanaman anyelir memberikan pengaruh terhadap peningkatan luas daun sehingga meningkatkan juga jumlah bunga.
Tabel 3. Perkembangan pertumbuhan diameter batang tanaman krisan organik pada minggu ke-2, 4, 6, 8 dan 10 minggu HST
Perlakuan Diameter Batang (cm)
2 Minggu 4 Minggu 6 Minggu 8 Minggu 10 Minggu
Cara Petani 0.23 0.25 0.33 0.35 0.51
IntroduksiTeknologi 0.23 0.26 0.39 0.41 0.44
Pengaruh perlakuan terhadap jumlah ruas
Panjang ruas berkaitan erat dengan tinggi tanaman; makin panjang ruas, tanaman makin tinggi. Perlakuan cara petani hingga minggu ke-6 memberikan peningkatan panjang ruas batang pada awal fase pertumbuhan, sedangkan untuk fase berikutnya yaitu diatas 8 minggu HST, perlakuan introduksi (pemberian biourine dan kompos dari limbah ternak sapi) memberikan panjang ruas batang lebih tinggi dibandingkan cara petani. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Tedjasarwana et al. (2011), bahwa peningkatan tinggi tanaman berkaitan dengan panjang ruas batang. Cara aplikasi pemupukan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap panjang ruas batang.
Tabel 4. Hasil pengamatan vegetatif panjang ruas batang tanaman krisan organik pada minggu ke-2, 4, 6, 8 dan 10 minggu HST
115 Perlakuan
Panjang ruas batang (cm)
2 Minggu 4 Minggu 6 Minggu 8 Minggu 10 Minggu
Cara Petani 7.2 14.4 16.1 17.85 25.15
IntroduksiTeknologi 7.35 14.5 15.7 23.15 26.45
Pengaruh perlakuan terhadap panjang dan lebar daun
Hasil pengamatan terhadap panjang dan lebar daun antara perlakuan cara petani dan teknologi intrduksi, adalah sebagai berikut, terlihat daun perlakuan introduksi daunnya lebih panjang dan lebar. Perbedaannya cukup nyata sperti terlihat pada pengamatan minggu ke 8 lebih jelas perlakuan introduksi panjang dan lebar daun 9,24 cm dan lebar 6,25 cm bila dibandingkan dengan eksisting yang hanya panjangnya 7,17 cm dan lebarnya 3,99 cm. Hal ini menunjukkan, bahwa perlakuan introduksi proses asimilasinya lebih banyak, karena lebar permukaan daun dan butir-butir hijau daunnya lebih banyak pula.
Tabel 5. Hasil pengamatan vegetatif panjang daun tanaman krisan organik pada minggu ke-2, 4, 6, 8 dan 10 minggu HST
Perlakuan Panjang Daun
2 Minggu 4 Minggu 6 Minggu 8 Minggu 10 Minggu
Cara Petani 3.18 5.76 10.02 6.31 7.48
IntroduksiTeknologi 3.20 3.74 6.67 6.85 7.00
Tabel 6. Hasil pengamatan vegetatif lebar daun tanaman krisan organik pada minggu ke-2, 4, 6, 8 dan 10 minggu HST
Perlakuan Lebar Daun (cm)
2 Minggu 4 Minggu 6 Minggu 8 Minggu 10 Minggu
Cara Petani 2.25 4.07 4.28 4.55 5.03
IntroduksiTeknologi 2.02 3.74 4.06 3.99 4.11
Pengaruh perlakuan terhadap panjang tangkai daun
Perlakuan cara petani maupun introduksi teknologi tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap panjang tngkai daun. Hasil pengamatan menunjukkan, bahwa panjang tangkai daun teknologi introduksi lebih panjang bila dibandingkan dengan eksisting petani. Berdasarkan hasil penelitian (Kresnatita, dkk. 2013) bahwa pupuk organik secara umum mampu memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Dengan kondisi tanah yang baik akan menciptakan lingkungan tumbuh yang sesuai bagi pertumbuhan tanaman, yaitu tercermin pada penampilan tanaman yang berupa tingg, jumlah daun, luas daun dan bobot kering tanaman yang baik. Walaupun genotipe nya sama dalam lingkungan yang berbeda akan berbeda pula hasilnya. Adapun peran bahan organik terhadap tanah adalah menjadikan tanah berstruktur remah, aerasi tanah menjadi lebih baik, porositas tanah lebih baik, karena ruang pori tanah bertambah. Aerasi tanah berhubungan dengan kapasitas air, N2 dan CO2 di dalam tanah yang sangat berpengaruh terhadap
116 pekembangan akar dan mikroorganisme tanah. Penggunaan biourine domba sangat berpengaruh terhadap hasil bunga dan komoditas padi, karena pemberian biourine ini setara dengan pemberian pupuk N.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, bahwa perlakuan pemberian pupuk organik dan pemberian buiourine terhadap tanaman krisan memberikan hasil yang positif yaitu, memberikan pengaruh terhadap bunga menjadi lebih lama menjadi layu, penampakan warna menjadi lebih cerah. Disamping mempunyai efek juga terhadap penekanan OPT.
Tabel 7. Hasil pengamatan vegetatif jumlah tangkai daun tanaman krisan organik pada minggu ke-2, 4, 6, 8 dan 10 minggu HST
Perlakuan Panjang Tangkai Daun (cm)
2 Minggu 4 Minggu 6 Minggu 8 Minggu 10 Minggu
Cara Petani 0.53 1.02 1.50 1.62 2.03
IntroduksiTeknologi 0.73 1.31 1.53 1.62 1.74
Tabel 8. Perkembangan pertumbuhan tanaman krisan pada umur 12 minggu
Perl. Tinggi (cm) diameter
Berdasarkan tabel 9, tampak bahwa jumlah kuntum bunga yang dihasilkan baik dari cara petani maupun introduksi teknologi jumlahnya sama, namun apabila dilihat dari kualitas bunga, terlihat bahwa untuk kualitas bunga hasil dari perlakuan introduksi teknologi memiliki kualitas grade A lebih banyak dibandingkan dengan cara petani. Secara rinici kualitas bunga berdasrkan grade (kelas) disajikan sebagai berikut :
Tabel 9. Kualitas bunga potong krisan berdasarkan grade/kelas bunga
No Perlakuan Grade A Grade B Grade C Grade D
1. Cara Petani 300 ikat 400 ikat 225 ikat 75 ikat
2. Introduksi Teknologi 250 ikat 475 ikat 150 ikat 125 ikat Keterangan : @ 1 ikat = 10 batang
Hasil analisis finansial kelayakan usaha bunga potong krisan organik disajikan pada Tabel 10.
Tabel 10. Hasil Analisis Finansial Bunga Potong Krisan pada Luasan 500 m2 selama satu kali musim tanam
No. Komponen Cara petani Budidaya krisan organik
Unit Biaya (Rp) Unit Biaya (Rp) 1. Biaya
1.1. Biaya tetap
117
Pada Tabel diatas terlihat bahwa, hasil analisis finansial budidaya krisan cara petani dibandingkan dengan introduksi teknologi dengan aplikasi biourine memberikan nilai R/C lebih tinggi dari R/C cara petani. Hal ini dimungkinkan Karena bunga yang dihasilkan dengan aplikasi biourine lebih baik kualitasnya, sehingga lebih banyak yang masuk dalam kelas standar A. Budidaya krisan introduksi (menggunakan biourne) memberikan nilai R/C
> 1, dengan memanfaatkan biourine sapi yang dimiliki petani tanaman hias dapat memberikan dampak positif terhadap penurunan penggunaan pupuk kimia dan mengurangi limbah dari pertanian yang tidak termanfaatkan menjadi bermanfaat. Nilai BEP (titik impas) penerimaan untuk cara petani diperoleh pada Rp 4 545 454.55 (5 730.65 unit), sedangkan titik impas perlakuan introduksi teknologi dicapai pada 3 964.32 unit atau penerimaan sebesar Rp 3 225 806.45,-.
4.1.2. Penerapan budidaya Sedap malam organik dengan menggunakan biourine domba dan kompos kotoran domba
Pengaruh Introduksi teknologi terhadap pertumbuhan sedap malam.
Sedap malam merupakan tanaman hias (bunga) yang cukup lama umurnya, mulai berbunga pada umur 8 bulan, sedangkan bahan organik (pupuk kandang dan biourine) baru terlihat hasilnya pada pengamatan bulan ke 2 dan ke 3 terutama terhadap tinggi tanaman. Seperti terlihat pada tabel 11 . Pada bunga sedap malam ini, masih pada fase vegetatif karena baru ditanam pada bulan Agustus 2017, sehingga akan terlihat pengaruhnya terhadap bunga yaitu pada bulan Maret 2018. Hasil penelitian (Wati, dkk., 2017) menunjukkan bahwa aplikasi biourin berpengaruh nyata pada pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah. Biourine yang diaplikasikan pada tanaman bawang merah dapat meningkatkan produksi hingga 39,16%. Hal ini menunjukkan, bahwa biourine yang difermentasikan dapat meningkatkan produksi pada beberapa komoditas padi, jagung dan kacang-kacangan. Aplikasi biourine yang telah dilakukan, berdasarkan pengamatan, berpengaruh pula terhadap intensitas serangan OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan).
Pada perlakuan biourine dan bahan organik terlihat serangan OPT nya sangat ringan, dan pada beberapa kasus bila tanaman yang sudah terserang OPT maka penyembuhannya lebih cepat dan kembali seperti normal. Disamping itu, pertumbuhan anakan dan jumlah
118 daun pada sedap malam ini lebih banyak daripada perlakuan petani. Namun, kecepatan berbunga dan jumlah bunga per rumpun baru dapat diamati pada bulan Maret 2018 mendatang.
Tabel 11. Hasil pengamatan fase vegetatif tanaman bunga sedap malam
Perlakuan Rata-rata tinggi tanaman (cm) pengamatan bulan ke...
1 2 3
Introduksi Teknologi 24,93 29,40 33,00
Cara Petani 24,33 24,60 29,86
4.1.3. Pembuatan Pupuk Organik dan biourine dari kotoran sapi potong untuk budidaya bunga krisan
Pupuk Kandang Sapi Potong
Kandungan hara kotoran ternak sapi potong
Untuk mengetahui hara kotoran sapi potong yang belum dilakukan fermentasi, dilakukan uji laboratorium. Hasil pengujian laboratorium kotoran sapi potong disajikan pada Tabel 12.
Tabel 12. Kandungan hara kotoran ternak sapi potong Bahan
Sumber: Hasil analisa Laboratorium Penguji Balitsa, 2017
Bahan kotoran ternak sapi potong mempunyai, tekstur lembut dan mudah memadat, aerasi kurang sehingga perlu ditambahkan sekam atau bahan organik lain yang menambah porositas bahan sehingga proses perombakan bahan berlangsung secara aerob.
Temperatur
Suhu berpengaruh pada kehidupan mikroorganisma. Semakin tinggi suhu reaksi, semakin cepat laju reaksi, di mana untuk pengomposan suhu dianjurkan pada suhu termofilik (> 600C).
Pada hari ke 2 setelah pencampuran bahan dengan OrgaDec, dilakukan pengamatan temperatur dengan cara memasukan tangan ke dalam bahan, diperkirakan suhu mencapai 350C-390C. Peningkatan suhu yang terjadi menunjukkan ada aktivitas mikroorganisme yang mulai melakukan dekomposisi terhadap bahan organik.
Kemudian pengamatan temperatur dilakukan 7 hari setelah pencampuran bahan dengan OrgaDec, temperatur bahan diperkiran suhu 750C. Kemudian suhu berangsur-angsur turun dan relatif stabil pada minggu ke 3.Turunnya temperatur tersebut, menunjukkan proses dekomposisi telah berakhir dan pupuk kandang dapat digunakan sebagai pupuk organik untuk tanaman.
119 Panas dihasilkan dari aktivitas mikroba. Ada hubungan langsung antara peningkatan suhu dengan konsumsi oksigen. Semakin tinggi suhu akan semakin banyak konsumsi oksigen dan akan semakin cepat pula proses dekomposisi. Peningkatan suhu dapat terjadi dengan cepat pada tumpukan kompos. Temperatur yang berkisar antara 30 - 600C menunjukkan aktivitas pengomposan yang cepat. Suhu yang lebih tinggi dari 600C akam membunuh sebagian mikroba dan hanya mikroba thermofilik yang akan teteap bertahan hidup.suhu nyang tinggi juga akan membunuh mikroba-mikroba patogen tanaman dan benih-benih gulma. Oleh karena itu, untuk memperoleh oksigen yang cukup tumpukan bahan organik harus sering di balik agar proses perombakan bahan berjalan dengan cepat.
Pembalikan berfungsi untuk, memasukkan udara segar ke dalam tumpukan bahan, meratakan proses pelapukan di setiap bagian tumpukan, meratakan pemberian air, serta membantu penghancuran bahan menjadi partikel kecil-kecil (Isroi, 2008). Pada awal pengomposan (minggu 1) mikrobia mesofilik yang bekerja . Mikrobia mesofilik hidup pada temperatur 10-450C dan bertugas memperkecil ukuran partikel bahan organik sehingga luas permukaan bahan bertambah dan mempercepat proses pengomposan . Pada minggu 1 sampai minggu ke 2 kedua, mikrobia termofilik berkembang pesat dalam tumpukan bahan kompos. Mikrobia termofilik hidup pada temperatur 45-600C dan bertugas mengkonsumsi karbohidrat dan protein sehingga bahan kompos dapat terdegradasi dengan cepat sehingga temperatur puncak tercapai. Mikrobia ini terdiri dari Actinomycetes dan jamur. Sebagian dari Actinomycetes mampu merombak selulosa dan hemiselulosa. Kemudian proses dekomposisi mulai melambat. Setelah temperatur puncak terlewati, mulai minggu ke dua, suhu tumpukan mulai menurun dan bahan lebih mudah terdekomposisi.
Tahap ketiga (minggu ke-3) adalah tahap pendinginan dan pematangan. Pada tahap ini, jumlah mikrobia termofilik berkurang karena bahan makanan bagi mikrobia ini juga berkurang, hal ini mengakibatkan mikrobia mesofilik mulai beraktivitas kembali dan akan merombak selulosa dan hemiselulosa yang tersisa dari proses sebelumnya menjadi gula yang lebih sederhana, tetapi kemampuanya tidak sebaik mikrobia termofilik ( Cahaya dan Nugroho, 2008).
Kelembaban
Kelembaban perlu dijaga untuk memperoleh mikroorganisma yang cukup untuk proses dekomposisi. Selama pengamatan, kelembaban yang dicapai berkisar 40-75%.
Menurut standar SNI 19-7030-2004, pada akhir pengomposan kelembaban diharapkan mencapai 50%.
Apabila kondisi kelembaban lebih besar dari 60% akan mencegah oksigen berdifusi melalui masa sampah, sehubungan dengan rongga yang terjadi dipenuhi oleh air sehingga ruang udara bebas menjadi tidak ada, sehingga kondisi menjadi anaerobik. Kondisi ini akan menyebabkan proses pengomposan berlangsung lebih lama. Di sisi lain, jika kelembaban terlalu rendah, efisiensi degradasi akan menurun karena kurangnya air untuk melarutkan bahan organik yang akan dideradasi oleh mikroorganisma sebagai sumber energinya.
Kandungan Hara Pupuk Kandang Sapi potong
Untuk mengetahui kandungan nhara pupuk kandang, hasil dekomposisi kotoran sapi potong dilakukan pengujian kandungan hara di laboratorium. Kandungan hara pupuk kandang sapi potong disajikan pada Tabel 13.
Tabel 13. Kandungan hara pupuk kandang sapi potong Uraian Hasil uji laboratorium
Balitsa, 2017
Standar mutu Permentan No.
120 70/Permentan/SR.140/10/2011
C oraganik (%) 6,93 Miimum 15
C/N 7,00 Hara makro ( N + P2O5 + K2O)
Minimal 4
N total (%) 1,00
P2O5 0,04
K2O 2,81
Kandungan hara hasil pembuatan pupuk kandang ternak sapi potong, belum memuhi standar mutu. Namun demikian, kandungan hara pembuatan pupuk kandang sapi potong menggunakan OrgaDec lebih tinggi dibandingkan apabila tidak menggunakan OrgaDec. Hasil penelitian Winarni et al. (2013) pupuk kandang kambing ditambah bioaktivator OrgaDec mempunyai kandungan C-organik tinggi yaitu 28,11%, kandungan N-total tertinggi yaitu 2,5%, C/N yaitu 11,24 dibandingkan pupuk kambing tanpa OrgaDec, yaitu kandungan C-organik 4,61%, kandungan N-total tertinggi yaitu 0,69%, C/N yaitu 6,68.
Untuk memperbaiki kondisi bahan kotoran sapi potong yang dikomposkan maka kotoran ternak sapi potong tersebut dicampur dengan bahan lain seperti sekam (Pandebesie dan Rayuanti, 2012). Sekam mempunyai nilai kandungan C/N sekitar 80 dengan kadar air yang rendah (14,42%). Sekam juga merupakan bahan yang cocok untuk dikomposkan (Dalzell dan Biddlestone, 1987). Pencampuran ini akan meningkatkan rasio C/N dan menurunkan kadar air bahan awal kompos, sehingga diharapkan proses pengomposan dapat lebih singkat.
Pupuk kandang sapi potong yang sudah jadi dihamparkan sampai kering (kering angin) dan diayak untuk dipakai sebagai media tanaman bunga krisan. Bahan yang kasar dikumpulkan untuk bahan pembuatan kompos berikutnya. Pupuk kandang sapi potong halus siap dipakai langsung oleh petani bunga krisan dan apabila ingin dijual maka harus dimasukkan dalam kantung-kantung plastik ukuran 10 kilogram
Setelah pelatihan hampir semua peserta menggunakan pupuk organik yang sudah dibuat untuk media tanaman bunga krisan (bukan untuk dijual), sehingga mengurangi penggunaan pupuk kimia dan kerusakan lingkungan dapat dikurangi. Penggunaan pupuk organik, beban biaya petani untuk pembelian pupuk dapat dikurangi dan kesuburan tanah tetap dapat terjaga, sehingga peserta lebih tertarik untuk memproduksi pupuk organik sendiri.