• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh pemberian silase jerami (%)

BIOURIN TERNAK SAPI POTONG

6.29. Perbanyakan Benih Sumber Padi Dan Kedelai

Keberhasilan diseminasi teknologi varietas unggul ditentukan kemampuan industri benih untuk memasok benih hingga ke petani dalam kondisi 6 tepat (Tepat waktu, tepat jumlah, tepat tempat, tepat mutu, tepat jenis dan tepat harga).

Salah satu kelembagaan perbenihan internal Badan Litbang Pertanian berkedudukan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), yaitu Unit Pengelola Benih

142 Sumber (UPBS). UPBS BPTP Jawa Barat telah berperan dalam membantu produksi dan distribusi benih sumber sejak tahun 2007. Benih yang diproduksi adalah benih komersial, yaitu benih yang banyak diminati petani dan non komersial terutama benih varietas unggul baru yang belum banyak dikenal petani. Distribusi benih non komersial diarahkan pada pengenalan varietas unggul baru melalui display varietas dan bantuan benih kepada kelompoktani dengan tujuan untuk lebih mengenalkan varietas unggul baru kepada pengguna.

Kegiatan perbanyakan benih sumber Padi dan Kedele tahun 2017 dilaksanakan secara partisipatif di lahan petani penangkar (sebagai mitra kerjasama) di Jawa Barat. Untuk perbanyakan benih padi dilaksanakan di Kabupaten Ciamis, dan Majalengka. Cianjur, dan Indramayu. Sedangkan perbanyakan benih kedelai dilaksanakan di Kabupaten Majalengka, dan Indramayu. Kegiatan dimulai pada bulan Januari sampai dengan Desember 2017.

Tujuan kegiatan adalah : 1) Membuat peta (mapping) sebaran varietas padi dan kedelai di Provinsi Jawa Barat, 2) Memproduksi benih sumber varietas unggul baru (VUB) padi kelas benih Dasar (BD/FS) 4 ton, benih pokok (BP/SS) sebanyak 10 ton, benih sebar (BR/ES) 33 ton. VUB kedelai kelas benih benih pokok (BP/SS) 2,5 ton, dan benih sebar (BR/ES) 13 ton yang disesuaikan dengan kebutuhan, permintaan, preferensi, karakteristik agroekosistem dan sosial-budaya masyarakat Jawa Barat, dan 3) Menyebarluaskan VUB padi dan kedelai yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian / UPBS BPTP Jawa Barat.

Keluaran kegiatan adalah : 1) Peta sebaran (map) varietas padi dan kedelai di Provinsi Jawa Barat, 2) Benih sumber varietas unggul baru (VUB) padi kelas benih Dasar (BD/FS) 4 ton, benih pokok (BP/SS) sebanyak 10 ton, benih sebar (ES/BR) 33 ton. VUB kedelai kelas benih benih pokok (BP/SS) 2,5 ton, dan benih sebar (ES/BR) 13 ton yang disesuaikan dengan kebutuhan, permintaan, preferensi, karakteristik agroekosistem dan sosial-budaya masyarakat Jawa Barat, dan 3 )VUB Padi dan kedelai yang dihasilkan oleh UPBS BPTP tersebar dan diadopsioleh pengguna di seluruh Kabupaten/Kota di Jawa Barat.

Hasil kegiatan yang diperoleh adalah :1) Dihasilkan Peta sebaran varietas padi dan kedelai sebagai dasar dalam memproduksi benih VUB padi dan kedelai, dengan memuat informasi jenis VUB padi dan kedelai yang ditanam secara dominan dimasing-masing kabupaten/kota di Jawa Barat. Pada umumnya disetiap kabupaten/kota di Jawa Barat, varietas Ciherang masih menduduki peringkat pertama, kemudian disusul oleh Mekongga.

Sedangkan VUB Inpari, baru Inpari 30 sudah mulai banyak diadopsi yaitu 15 % dari kebutuhan benih di Jawa Barat. Untuk komoditas kedelai tersebar di 12 Kabupaten/Kota.

Penggunaan varietas didominansi oleh varietas Anjasmoro, 2) Produksi benih padi yang dihasilkan 3.365 kg kelas FS, 11.880 SS, dan 32.005 kg ES. Produksi benih padi berdasarkan volume yang harus dicapai, sudah terpenuhi, bahkan lebih 250 kg (0,5%), 3) Produksi benih kedelai yang dihasilkan 2.820 kelas SS dan 13.240 kelas ES. Secara keselluruan capaian target produksi benih kedelai sebesar 103,61%. Adanya kelebihan capaian target, karena pertanaman kedelai tumbuh dengan baik, mulai dari pertumbuhan agronomis sampai panen. Serangan OPT terutama hama penyakit masih dibawah ambang kendali, dan masih dapat dikendalikan, sehingga produksi bisa tercapai, dan 4) Benih padi hasil UPBS didistribusikan secara komersial maupun bantuan (diseminasi) pada umumnya masih diwilayah Jawa Barat. Distribusi benih tertinggi masuk di wilayah Ciamis dan Majalengka, kemudian Cianjur dan Bandung. Dilihat dari minat penggunaan varietas, Inpari 30 lebih banyak diminati oleh petani, disusul oleh Inpari 31, 32 dan terakhir 35. Sedangkan untuk benih kedelai banyak terdistibusi di Kabupaten Majalengka, dan Indramayu.

Penerimaan negara Bukan Pajak (PNBP) : Pada tahun 2017 target setoran PNBP dari hasil tanaman Pangan, termasuk didalamnya hasil penjualan benih UPBS, ditargetkan sebesar Rp. 335.000.000,-. Sampai dengan bulan Desember 2017, jumlah setoran PNBP yang berasal dari penjualan benih padi dan kedelai mencapai Rp. 850.878.000,- Dengan

143 demikian, capaian PNBP dari UPBS BPTP Jawa Barat telah melampaui target dengann capaian 253,99%.

Foto aktivitas kegiatan perbanyakan benih sumber padi

Kegiatan perbanyakan benih padi di Kabupaten Ciamis

Kegiatan perbanyakan benih padi di Kabupaten Majalengka

144 Kegiatan perbanyakan benih padi di Kabupaten Cianjur

Kegiatan perbanyakan benih padi di Kabupaten Indramayu

145 Foto aktivitas kegiatan perbanyakan benih sumber kedelai

Kegiatan perbanyakan benih kedelai di Kabupaten Majalengka

Kegiatan perbanyakan benih kedelai di Kabupaten Indramayu

146 6.30. Perbanyakan Benih Biji Botani Bawang Merah

Penggunaan benih biji bawang merah (True seed of shallot = TSS) dapat menjadi alternatif sebagai sumber benih bawang merah karena memiliki beberapa keuntungan dibandingkan benih umbi seperti penggunaan sedikit (3-6 kg/ha), relatif sehat, dapat disimpan lama dan dapat digunakan pada saat diperlukan (terutama saat off season), mudah ditransportasikan, tidak ada dormansi, dan potensi hasil mencapai 32 ton/ha. BPTP Jawa Barat telah melaksanakan produksi dan distribusi benih sumber sejak tahun 2007 untuk tanaman pangan terutama padi dan kedelai. Pada tahun 2017, pengembangan benih dimulai untuk bawang merah berupa biji (TSS). Tujuan kegiatan adalah memproduksi benih TSS sebanyak 150 kg, mensosialisasikan teknologi produksi TSS dan penggunaan benih TSS di Jawa Barat, dan menghasilkan 1 karya tulis ilmiah (KTI).

Kegiatan perbanyakan benih sumber dilaksanakan melalui beberapa pendekatan, yaitu:

partisipatif, agroekosistem, dan terpadu. Ruang lingkup kegiatan terdiri dari kegiatan produksi benih TSS sebanyak 150 kg dan sosialisasi teknologi dan penggunaan TSS. Kegiatan produksi benih TSS dilaksanakan secara partisipatif di lahan petani di lahan kering dataran tinggi (1000 mdpl) Desa Cilame, Kec Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat. Lahan produksi seluas 9000 m2, 7 blok, di kelompoktani Hasil Bumi dengan ketua kelompok Jaenudin. Sosialisasi teknologi TSS dilaksanakan di lokasi TSS, sedangkan sosialisasi penggunaan TSS dilaksanakan di Kabupaten Majalengka dengan mengundang petani penangkar dan petugas dari 4 kabupaten sentra bawang merah, yaitu Majalengka, Cirebon, Indramayu, dan Kuningan. Tahapan kegiatan meliputi: (1) persiapan: koordinasi, sosialisasi, penetapan benih sumber yang akan diproduksi, dan identifikasi mencakup identifikasi ketersediaan benih sumber (benih penjenis dan/atau benih dasar) di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, serta identifikasi calon lokasi dan calon petani pelaksana kegiatan melalui survei lapangan; (2) pelaksanaan kegiatan (produksi benih dan sosialisasi TSS dan penggunaan TSS); (3) supervisi, monitoring dan evaluasi; (4) penulisan laporan, baik laporan tengah tahun maupun laporan akhir tahun.

Hasil kegiatan adalah sebagai berikut 1) Produksi benih biji sebesar 3,474 kg atau 2,32% dari target produksi TSS sebesar 150 kg dengan kualitas benih sebesar 33-44%

atau tidak dapat menjadi benih biji TSS bersertifikat. Target produksi tidak tercapai karena kesalahan vernalisasi, serangan hama penyakit, dan gangguan iklim. Kerusakan cold storage menyebabkan banyak benih rusak dan usahatani menjadi tidak efisien. Serangan hama ulat sebesar 29%, serangan Alternaria sebesar 56%, dan stemphyillium sebesar 44%. Tanaman mengalami dua kali terkena hujan mendadak disertai kabut setelah 1,5-2 minggu kering, sehingga serangan Alternaria tinggi terutama pada tanaman muda saat pertumbuhan vegetatif, diikuti serangan Stemphyillium. Produksi TSS mengalami kerugian karena produksi biji dan umbi yang rendah. BEP produksi biji adalah 126 kg dan BEP harga adalah Rp. 2.500.000 per kg. 2) Sosialisasi teknologi produksi TSS dan penggunaan TSS telah dilaksanakan. Semua responden mengetahui tentang teknologi produksi TSS setelah mengikuti kegiatan temu lapang. 70% responden petani menganggap teknologi TSS lebih sulit dan lebih mahal. Urutan teknologi yang paling mudah diterapkan adalah pemberian ZPT, penggunaan agen penyerbukan, pemasangan naungan, dan vernalisasi. Apabila teknologi TSS sudah adaptif dan mudah diterapkan, responden berminat menerapkan TSS.

62% responden sudah mengenal teknologi biji TSS dari membaca buku, kios, Balitsa, dan BPTP Jabar. 79% responden mau mencoba teknologi TSS baik dengan cara sebar maupun pindah tanam karena lebih efisien dan irit. Adanya benih TSS di pasaran sudah ditunggu oleh responden. 3) Telah diperoleh 1 draft KTI.

147 Berita Acara Gagal Perbanyakan Benih Biji Bawang Merah TSS

1. Serangan Alternaria

2. Serangan Stemphyillium

3. Serangan Ulat

148 4. Angin kencang merusak atap plastik