PEMERIKSAAN atas pendapatan, biaya, dan investasi dilakukan atas 6 objek pemeriksaan pada 5 entitas BUMN yaitu PT Angkasa Pura I (Persero) /PT AP I, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero)/ PT PLN, PT Pupuk Kalimantan Timur (PT PKT), PT Kereta Api Indonesia (Persero)/ PT KAI, dan PT Sang Hyang Seri (Persero)/ PT SHS.
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai apakah sistem pengendalian intern atas pengelolaan pendapatan, biaya, dan investasi telah dilaksanakan secara memadai, dan apakah kegiatan tersebut juga telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Berdasarkan pemeriksaan BPK dapat disimpulkan bahwa pendapatan, biaya, dan investasi BUMN belum sepenuhnya dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pemeriksaan mencakup Rp7,89 triliun dari realisasi anggaran Rp18,77 triliun.
Hasil pemeriksaan mengungkapkan 84 temuan yang memuat 136 permasalahan. Permasalahan tersebut terdiri dari 48 kelemahan SPI dan 88 ketidakpatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan senilai Rp898,71 miliar. Perincian hasil pemeriksaan disajikan pada Lampiran 3.4 dalam cakram padat.
Selama pemeriksaan berlangsung, perusahaan telah menindaklanjuti rekomendasi BPK dan terdapat penyetoran ke kas perusahaan sebesar Rp6,86 miliar.
Permasalahan utama yang ditemukan antara lain:
● Kerugian PT SHS, PT AP I, dan PLN sebesar Rp60,95 miliar (Lampiran D.1). Permasalahan ini diakibatkan antara lain oleh: Pengeluaran PT SHS tidak sesuai atau melebihi ketentuan
sebesar Rp50,95 miliar. Permasalahan tersebut antara lain: ▪ Terdapat penggunaan dana Program Kemitraan Bina
Lingkungan (PKBL) BUMN pembina lain untuk melaksanakan program Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) dan pengeluaran lainnya sebesar Rp38,41 miliar.
▪ Terdapat realisasi biaya transport kegiatan rapat dan biaya lain yang tidak berhubungan dengan core business perusahaan serta honorarium dan perjalanan dinas ganda dengan keseluruhan berjumlah Rp1,02 miliar.
Terdapat kekurangan volume pekerjaan atas proyek
pembangunan dan perluasan Bandara Ngurah Rai oleh PT AP I, sehingga terjadi kelebihan pembayaran kepada rekanan senilai Rp6,68 miliar.
● PT AP I berpotensi mengalami kerugian Rp58,38 miliar (Lampiran D.1). Permasalahan tersebut diakibatkan antara lain:
Terdapat piutang pendapatan aeronautika dan non-aeronautika di Kantor Cabang Utama Bandara Ngurah Rai pada tahun 1997 sebesar Rp28,68 miliar yang hingga kini belum tertagih.
Lahan milik PT AP I seluas 3.404 m² digunakan untuk
pembangunan akses jalan tol Nusa Dua - Ngurah Rai - Benoa (Mandara) dan belum ada kepastian dari pemerintah atas penyelesaian ganti ruginya. Permasalahan ini berpotensi merugikan perusahaan sebesar Rp29,29 miliar.
● Kekurangan penerimaan pada PLN dan PT KAI senilai Rp323,51 miliar (Lampiran D.1), terutama sebagai berikut:
Pelaksanaan 15 pekerjaan jasa borongan Unit Induk Proyek Jaringan PLN mengalami keterlambatan dan belum dikenakan denda keterlambatan. Akibatnya, PLN belum dapat memanfaatkan pendapatan denda Rp253,32 miliar.
PLN belum menerima pelunasan biaya penyambungan dan penambahan daya tegangan tinggi sebesar Rp50,72 miliar dari dua pelanggan industri, meskipun pekerjaan tersebut telah selesai dilakukan.
Denda keterlambatan Rp6,65 miliar dari pekerjaan pengadaan dan pemasangan trafo, di PLN Penyaluran dan Pusat Pengaturan Beban wilayah Jawa dan Sumatera (P3BS) belum diterima dari rekanan.
Klaim pencairan jaminan pelaksanaan dari pengakhiran pekerjaan Pembangunan Jalur Ganda Niru-Tanjungenim Baru Sumatera Selatan sebesar Rp11,56 miliar berpotensi tidak tertagih. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya pernyataan wanprestasi secara tegas dari PT KAI, batas waktu pengajuan
klaim telah lewat, dan kesepakatan pengakhiran pekerjaan menjadikan objek yang dijamin menjadi tidak ada lagi.
● Terdapat pemborosan keuangan di PT PKT, PT AP I, dan PLN sebesar Rp64,62 miliar (Lampiran D.1), terutama sebagai berikut: PT PKT memilih letter of credit (L/C) dibandingkan dengan
telegraphic transfer (TT) sebagai sarana pembayaran progress pekerjaan proyek Kaltim 5 sehingga harus menanggung biaya tambahan sebesar Rp9,95 miliar.
PT AP I mengeluarkan belanja untuk pembelian material on site yang tidak dapat digunakan, dan melakukan perubahan desain pekerjaan serta perubahan lainnya senilai Rp7,80 miliar. ● Terdapat ketidakefisienan pada PT PKT senilai Rp146,84 miliar
karena pekerjaan pembangunan pabrik pupuk Kaltim 5 mengalami keterlambatan. Akibatnya, PT PKT belum dapat mengoperasikan pabrik pupuk Kaltim 5 secara tepat waktu sehingga PT PKT kehilangan kesempatan untuk memperoleh tambahan penghasilan dari hasil efisiensi penggunaan bahan baku gas dan amonia dalam memproduksi pupuk urea.
● Pembelian/ pengadaan barang di PLN dan PT SHS senilai Rp203,36 miliar tidak dimanfaatkan (Lampiran D.1). Permasalahan yang ditemukan antara lain:
Tujuh Gardu Induk (GI) dan Gas Insulated Substation (GIS) yang dibangun PLN senilai Rp192,15 miliar belum dimanfaatkan, karena adanya kendala dalam pembebasan lahan, material yang belum terpasang atau transmisi yang belum selesai.
PT SHS bermaksud memperluas usaha dengan membangun
kolam benih ikan, pabrik pakan ikan, dan pengadaan mesin pakan ikan. Namun, meskipun telah selesai dibangun, pabrik, kolam dan mesin tersebut tidak pernah dipakai dan dalam kondisi rusak, sehingga biaya yang telah dikeluarkan sebesar Rp3,05 miliar menjadi tidak efektif.
● Kelemahan pengendalian intern dalam perusahaan. Permasalahan ini di antaranya:
Administrasi pengiriman atau pengeluaran barang pada pengadaan dan pemasangan Inter Busbar Transformator (IBT) yang tidak cepat. Akibatnya, PLN harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membayar penalti sebesar Rp2,26 miliar atas penyimpanan dua IBT di gudang Pelabuhan Tanjung Priok.
Pengelola kawasan komersial di Bandara Ngurah Rai Bali (SBU Commercial-PT AP I), belum mempunyai prosedur serta sistem pengendalian terhadap laporan penjualan dari tenant sebagai dasar perhitungan pembagian pendapatan.
Terhadap berbagai permasalahan tersebut, BPK merekomendasikan direksi BUMN terkait untuk:
● Menagihkan dan menyelesaikan piutang macet dan melakukan langkah-langkah penyelesaian ganti rugi secara optimal, termasuk melalui jalur hukum jika diperlukan.
● Menarik denda keterlambatan sesuai ketentuan dalam kontrak. ● Memperbaiki sistem pengendalian internal perusahaan terutama
dengan memperbaiki perencanaan dan menyusun pedoman yang diperlukan.
● Memberikan sanksi kepada pihak yang melakukan kelalaian.
● Menjalankan langkah-langkah konkrit guna mengurangi
keterlambatan waktu penyelesaian pembangunan pabrik pupuk Kaltim 5.