● Menyetorkan sisa kas terkait dengan belanja barang dan Badan Layanan Umum (BLU).
● Memperbaiki pencatatan dan penyajian akun persediaan dan aset tetap.
● Memperbaiki data SIMAK BMN (Sistem Informasi Manajemen Aset dan Keuangan Barang Milik Negara).
● Menyajikan angka kewajiban jangka panjang dalam negeri lainnya atas pendapatan diterima dimuka.
Pada pemeriksaan LKKL 2014, terdapat 18 LKKL termasuk LK BUN yang memperoleh opini WDP dan 7 LKKL yang memperoleh opini TMP. Hal ini umumnya disebabkan oleh masih adanya kelemahan dalam:
● Piutang Bukan Pajak
Kelemahan ini terjadi pada 5 entitas antara lain:
Aplikasi yang digunakan Kemenkominfo untuk pencatatan piutang tidak dapat diandalkan, sehingga nilai piutang pada neraca diragukan kewajarannya.
Piutang pada Lembaga Penyiaran Publik (LPP) RRI diakui tanpa didasari dokumen sumber yang jelas, tidak direkonsiliasi, tidak dibuat buku besar dan buku pembantu piutang, dan perhitungan penyisihan piutang tak tertagih tidak didasarkan atas penggolongan kualitas piutang.
Pengakuan piutang bukan pajak pada LPP TVRI tidak didukung dokumen, terdapat perbedaan nilai berdasar hasil konfirmasi piutang dan metode perhitungan penyisihan piutang tak tertagih tidak sesuai dengan kebijakan akuntansi yang ditetapkan pemerintah.
Dana Kompensasi Penggunaan Tenaga Kerja Asing - Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (DKPTKA-IMTA) pada Kemenakertrans belum dipungut, belum terdapat unit penatausahaan piutang PNBP, serta inventarisasi, penetapan dan penagihan atas DKPTKA-IMTA tahun 2014 belum dilakukan.
Pengendalian intern atas piutang PNBP di Kementerian ESDM tidak memadai, sehingga terdapat kekurangan dan kelebihan penyajian pada neraca, serta hasil konfirmasi atas piutang tidak dapat dipakai untuk meyakini kewajaran nilai piutang.
● Persediaan
Permasalahan tersebut terjadi pada 11 entitas antara lain:
pencatatan tidak berdasar inventarisasi fisik serta tidak dilengkapi dokumen pendukung, sehingga nilai persediaan tidak dapat ditelusuri. Permasalahan tersebut terjadi pada Kementerian Sosial, Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT), Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), BPPT, BKKBN, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI), dan Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Persediaan telah kadaluwarsa masih tercatat pada SIMAK BMN. Kementerian Pemuda dan Olahraga.
Inventarisasi atas persediaan untuk dijual/ diserahkan kepada masyarakat tidak dilakukan pada Kemenkominfo.
Mutasi persediaan pada Ombudsman RI tidak didukung dengan dokumen dan pencatatan yang memadai.
Tidak ada kartu persediaan untuk mencatat mutasi persediaan, tidak melaporkan saldo barang-barang souvenir, saldo persediaan tidak disajikan berdasar inventarisasi fisik pada LPP RRI.
● Aset Tetap
Pencatatan aset jalan pada Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang (BPKS) tidak didukung dengan informasi mengenai lokasi dan panjang jalan. Permasalahan akun tanah pada 3 entitas antara lain berupa
tanah pada BPKS tidak didukung dengan bukti kepemilikan dan tidak dapat ditelusuri keberadaannya; tanah pada BPPT dikuasai masyarakat, dan dipersengketakan sekelompok warga; tanah pada LPP TVRI diragukan kepemilikannya, tidak wajar penilaian harganya dan tidak jelas keberadaannya, serta terdapat tanah yang dijual secara angsuran kepada pegawai/ pensiunan tetapi tidak diadministrasikan dengan tertib.
Kelemahan pengelolaan peralatan dan mesin terjadi pada 5 entitas, antara lain:
▪ Peralatan dan mesin pada ANRI dan BPKS tidak diketahui keberadaannya.
▪ Peralatan dan mesin pada Lembaga Sandi Negara tidak didukung data jenis dan jumlah aset.
▪ Peralatan dan mesin tidak diinventarisasi seluruhnya serta terdapat aset yang tidak dapat ditelusuri dari pencatatan ke fisik barang di BMKG.
▪ Peminjaman peralatan dan mesin pada Ombudsman RI tidak didukung dengan catatan pengguna barang dan dokumen serah terima barang.
Akumulasi penyusutan pada LPP RRI belum dilakukan
menyeluruh pada SIMAK BMN, sehingga terdapat selisih perhitungan penyusutan antara aplikasi dan perhitungan ulang atas nilai aset dan berpengaruh signifikan pada akun-akun terkait.
Aset belum diinventarisasi, disusutkan serta dikoreksi tanpa dokumen pendukung pada Kemenakertrans.
● Aset Tetap Lainnya
Kelemahan pada Aset Tetap Lainnya terjadi pada 3 entitas, antara lain:
Pencatatan aset dalam SIMAK berdasar paket bukan perincian aset, serta aset yang diperoleh dari hibah belum disajikan nilainya di PNRI.
Aset yang berasal dari hibah eks PT Pelindo I (Persero) belum diinventarisasi di BPKS.
Inventarisasi dan penilaian atas aset tetap lainnya pada BPPT belum pernah dilaksanakan serta belum seluruhnya dicatat dan dilaporkan dalam SIMAK BMN.
● Penerimaan Negara Bukan Pajak
Kelemahan tersebut terjadi pada 3 entitas, antara lain:
Penerimaan PNBP pada ANRI tidak melalui mekanisme yang berlaku.
Saldo PNBP pada BPKS belum mencakup pendapatan jasa kepelabuhanan yang belum disetor ke kas negara dan sisa dana hibah yang belum dilaporkan ke Kementerian Keuangan.
Data perjanjian pengelolaan lahan yang telah jatuh tempo pada Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (BP Batam) tidak dicatat dan disajikan serta belum didaftar ulang.
● Belanja Barang dan Jasa
Kelemahan pada belanja barang terjadi pada 6 entitas. Kelemahan tersebut antara lain:
Kelebihan pembayaran pada PNRI, tercatat dalam realisasi belanja barang, sehingga berpengaruh pada kewajaran penyajian.
Realisasi belanja barang pada BPKS belum termasuk
penggunaan dana hibah tahun berjalan dan realisasi belanja jasa konsultan tidak dilengkapi bukti pengeluaran riil.
Pelaksanaan pekerjaan sewa jaringan dan komunikasi pada Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tidak efisien.
Bukti pertanggungjawaban realisasi belanja pada Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS) tidak diverifikasi. Terdapat pengadaan barang pada Bawaslu berindikasi fiktif,
realisasi belanja tidak didukung bukti pertanggungjawaban, dan pelaksanaan iklan layanan masyarakat tidak sesuai dengan ketentuan.
Terdapat kegiatan yang dibayar melebihi ketentuan dan kerugian negara pada penayangan iklan layanan masyarakat di BKKBN.
● Belanja Modal
Kelemahan pada belanja modal terjadi pada 6 entitas, antara lain: Realisasi belanja modal untuk pengadaan peralatan dan mesin
tidak sesuai ketentuan pengadaan dan ketentuan penyusunan anggaran. Selain itu, realisasi belanja modal untuk pengadaan jasa konsultansi dan tanah di Lembaga Sandi Negara tidak sesuai dengan ketentuan pengadaan.
Terdapat kelebihan pembayaran dan kekurangan volume
pekerjaan, serta pekerjaan tidak sesuai dengan spesifikasi teknis dalam kontrak pada BPKS.
Bukti pertanggungjawaban realisasi belanja modal tidak diverifikasi, sehingga terjadi kurang volume dan selisih harga, pekerjaan tidak sesuai dengan spesifikasi, kelebihan pembayaran pada BPWS.
Terdapat belanja modal yang merupakan pembayaran atas pekerjaan yang belum terselesaikan sampai dengan akhir
tahun anggaran 2014, tetapi sudah dibayarkan 100% dengan menggunakan pertanggungjawaban formalitas pada Lembaga Ketahanan Nasional.
Belanja modal pada Kemenkominfo berupa pengadaan barang dan jasa tidak sesuai dengan peraturan pengadaan barang dan jasa dan ketentuan penyusunan anggaran.
Belanja modal pada Kemenakertrans tidak didukung dengan dokumen pertanggungjawaban yang valid, adanya indikasi persekongkolan atas pengadaan peralatan untuk masyarakat dan pengadaan peralatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), serta pemotongan realisasi belanja barang untuk keperluan non-budgeter yang berindikasi merugikan negara. ● Kelemahan Lainnya
Selain kelemahan-kelemahan tersebut, pemeriksaan BPK juga menemukan kelemahan lain seperti:
Kas pada bendahara pengeluaran di KPU tidak dapat
dipertanggungjawabkan baik karena penyalahgunaan, kelalaian, maupun kecurian.
Utang kepada pihak ketiga di KPDT belum diverifikasi nilainya dan dokumen pendukung yang tersedia tidak memadai.
Penyelesaian konstruksi dalam pengerjaan pada Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan KPU tidak dapat diketahui.
Terdapat mutasi aset Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) senilai Rp2,78 triliun pada BUN yang tidak dapat dijelaskan. Terdapat permasalahan pada transaksi dan/ atau saldo yang
membentuk SAL, sehingga penyajian catatan dan fisik SAL tersebut tidak akurat.
Terdapat pencatatan aset lain-lain pada Lembaga Sandi Negara tidak didukung data jenis dan jumlah aset.
Tidak ada uraian pekerjaan dalam perjanjian kerja sama atas pengadaan barang di ANRI.
Belanja pegawai pada Ombudsman RI berupa pembayaran insentif kerja tidak berdasar data yang memadai dan realisasi belanja barang berupa kegiatan rapat dan konsinyering tidak didukung bukti pertanggungjawaban.
Perincian akun yang dikecualikan dalam LKKL Tahun 2014 dapat dilihat pada Lampiran B.2.
Sistem Pengendalian Intern
Selain permasalahan SPI yang telah diungkapkan dalam hasil pemeriksaaan LKPP tahun 2014, hasil pemeriksaan atas efektivitas SPI atas 86 KL mengungkapkan 1.009 kelemahan SPI. Kelemahan tersebut terdiri atas 368 kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan, 395 kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja, dan 246 kelemahan struktur pengendalian intern. Komposisi kelemahan SPI itu dapat dilihat pada