• Tidak ada hasil yang ditemukan

RIG pengeboran adalah bangunan dengan peralatan untuk melakukan pengeboran ke dalam reservoir bawah tanah untuk memperoleh air, minyak, atau gas bumi, atau deposit mineral bawah tanah. Rig pengeboran bisa berada di atas tanah (on shore) atau di atas laut/ lepas pantai (off shore) tergantung kebutuhan pemakaiannya.

Kapal merupakan sarana untuk menunjang kegiatan yang dilakukan oleh fungsi drilling and completion, dan fungsi field operation. Kapal memiliki kualifikasi berdasarkan kebutuhan penggunaan oleh anak perusahaan PT Pertamina Hulu Energi, yaitu kualifikasi kapal drilling dan kapal operasional.

PT Pertamina Hulu Energi (PHE) merupakan anak perusahaan PT Pertamina (Persero) dengan aset terbesar ketiga setelah PT Pertamina Exploration and Production (EP) dan Petral. Selain itu, bidang hulu minyak dan gas bumi merupakan penyumbang profit terbesar bagi Pertamina.

Dari pencapaian kinerja berdasarkan Key Performance Indicator (KPI) 2013 terdapat 3 dari 5 indikator kinerja utama operasional PT PHE yang tidak mencapai target. Tiga indikator kinerja utama yang tidak mencapai target yaitu volume produksi migas, lifting migas, dan volume produksi migas hulu.

Dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut, BPK memeriksa kinerja efektivitas dan efisiensi penyediaan dan pengoperasian rig dan kapal pada PT PHE dan anak perusahaan serta SKK Migas tahun 2013 dan 2014 di DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Kalimantan Utara.

Anak perusahaan PT PHE yang menjadi objek pemeriksaan yaitu PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (ONWJ), PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (WMO), PT Pertamina Hulu Energi Randugunting, dan PT Pertamina Hulu Energi Nunukan Company.

Pada tahun 2013 dan 2014, ke-4 anak perusahaan PT PHE tersebut telah mengoperasikan 9 unit rig dan 95 unit kapal dan mengadakan 8 unit rig senilai US$617,87 juta dan 95 unit kapal senilai US$253,91 juta.

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa penyediaan dan pengoperasian rig dan kapal pada PT PHE ONWJ, PT PHE

Randugunting, dan PHE Nunukan Company sudah efektif dan efisien, sedangkan pada PT PHE WMO belum sepenuhnya efektif dan efisien. Permasalahan yang memerlukan langkah-langkah perbaikan antara lain:

● Kinerja pengoperasian rig Java Star tidak efektif dikarenakan adanya waktu yang tidak produktif yang cukup besar dan melebihi batas toleransi 24 jam.

Permasalahan tersebut karena kendala peralatan rig. Hal tersebut mengakibatkan pengeboran sumur KE39-A8 mundur selama 14,75 hari dan PHE West Madura Offshore harus menanggung biaya kontraktor pendukung pengeboran sebesar US$3,96 juta.

● Terdapat indikasi pengaturan pemenangan lelang oleh panitia pengadaan lelang Nomor STC-0610A PT PHE Offshore North West Java (ONWJ).

Pemeriksaan atas pelelangan kapal tipe A dan pelaksanaan kontrak diketahui terdapat indikasi pengaturan penetapan pemenang lelang kepada PT PTB. Pada penilaian teknis, PT PTB tidak memenuhi empat persyaratan teknis yang merupakan persyaratan wajib, tetapi hasil evaluasi teknisnya ditetapkan sebagai satu-satunya perusahaan yang lulus persyaratan spesifikasi teknis. Hal tersebut mengakibatkan tidak terciptanya persaingan yang adil dalam proses pelelangan STC-0610A yang berpotensi dapat menimbulkan tuntutan dari pihak vendor yang dirugikan.

● Ketidakcermatan PT PHE Offshore North West Java dalam

merencanakan kebutuhan vessel anchor handling tug and supply (AHTS).

Fungsi kapal AHTS adalah untuk menarik dan memosisikan jack-up rig, baik dari yard tempat rig berasal sampai titik pengeboran maupun dari satu titik pengeboran ke titik pengeboran lain. Ketidakcermatan tersebut dapat dilihat dari kondisi antara lain jumlah kapal AHTS yang disewa untuk mendukung kegiatan rig melebihi kebutuhan, dan tidak terdapat peristiwa di mana 5 kapal dipergunakan secara bersamaan dalam melakukan kegiatan pemindahan dan penarikan rig. Selain itu, terdapat ketidakcermatan penyusunan jadwal penggunaan kapal. Permasalahan tersebut mengakibatkan inefisiensi biaya pengoperasian kapal AHTS pada PT PHE ONWJ sebesar US$2,69 juta.

● Penyediaan RIG kontrak No.114/DS/DRLG/13 oleh PT PHE West Madura Offshore tidak efektif dan efisien.

Dalam pelelangan rig terdapat indikasi adanya perlakuan tidak adil dan menguntungkan satu penyedia jasa, yaitu PT COSL Indo oleh pihak PT PHE West Madura Offshore. PHE West Madura Offshore membuat amandemen kontrak dengan PT COSL Indo untuk menghindari sanksi keterlambatan kedatangan rig.

Permasalahan tersebut mengakibatkan pengeboran mundur selama 4 bulan dan hilangnya kesempatan memperoleh sanksi keterlambatan sebesar US$1,02 juta. Selain itu, berakibat tidak terciptanya persaingan yang adil dalam proses pelelangan No. 155 yang berpotensi adanya tuntutan vendor yang dirugikan.

Quality assurance dan quality control belum optimal terhadap casing runner service provider di pengeboran sumur Badik-2 PHE Nunukan Company.

Kondisi tersebut di antaranya ditunjukkan oleh persiapan yang buruk, tenaga kerja yang tidak berpengalaman, masalah pada peralatan yang mengarah down time yang signifikan. Beberapa permasalahan itu mengakibatkan PT PHE Nunukan Company kehilangan 8 hari masa operasi dan inefisiensi biaya pengeboran sebesar US$2,21 juta.

Atas permasalahan tersebut, BPK merekomendasikan agar:

● PT PHE West Madura Offshore membuat SOP prakualifikasi atau evaluasi teknis atas penyedia rig yang menempatkan rig cold stack hanya akan dipertimbangkan sebagai alternatif terakhir.

● Manajemen PT PHE melakukan evaluasi dan penggantian

personil yang terlibat dalam proses pengadaan (fungsi marine and supply chain management) PT PHE ONWJ. Selain itu, SKK Migas melakukan post audit atas pembebanan pengadaan STC-0610A pada perhitungan cost recovery PHE ONWJ.

● Direksi PT PHE ONWJ mempertanggungjawabkan

ketidakefisienan kelebihan penyewaan kapal AHTS serta membuat kajian kebutuhan kapal AHTS di PT PHE ONWJ.

● Manajemen PHE dan PT PHE West Madura Offshore

menginstruksikan internal audit PT PHE dan PT PHE West Madura Offshore untuk melakukan pemeriksaan dan investigasi lebih lanjut atas proses pengadaan rig No.114/DS/DRLG/13.

● PT PHE Nunukan membuat SOP kegiatan pengeboran yang di dalamnya mencakup pengaturan quality assurance dan quality

control atas setiap barang/ jasa personel yang disediakan oleh kontraktor pendukung pengeboran.

Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu

IHPS I tahun 2015 memuat ringkasan 23 objek PDTT yang meliputi 22 objek pemeriksaan BUMN dan 1 objek pemeriksaan Badan Lainnya. Hasil pemeriksaan tersebut mengungkapkan 409 temuan yang memuat 605 permasalahan senilai Rp9,97 triliun. Permasalahan tersebut meliputi 264 kelemahan SPI dan 341 ketidakpatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan senilai Rp9,97 triliun.

Adapun, daftar kelompok dan sub-kelompok temuan menurut objek PDTT pada BUMN dan Badan Lainnya disajikan pada Lampiran 3.4 dalam cakram padat.

Hasil PDTT atas BUMN dan Badan Lainnya dibagi dalam 5 bidang, yaitu 1) operasional BUMN; 2) pendapatan, biaya, dan investasi; 3) pelaksanaan subsidi/ kewajiban pelayanan umum; 4) program bina lingkungan BUMN Peduli; dan 5) pencetakan, pengeluaran, dan pemusnahan rupiah.