• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Tugas dan Kewajiban PT BPP sebagai Bapak Angkat :

6.1. Pendapatan Usaha Perkebunan PTPN VI dan PT BPP

6.1.1. Pendapatan Kebun Plasma

Pendapatan kebun plasma merupakan hasil pengurangan penerimaan kebun plasma dengan biaya yang dikeluarkan. Penerimaan kebun plasma berasal dari produksi TBS yang dihasilkan kebun kelapa sawit seluas 2 Ha (1 kapling) dikalikan harga TBS yang diterima dari perusahaan inti dalam periode 1 tahun. Biaya terdiri dari biaya tunai dan biaya tidak tunai (biaya diperhitungkan). Biaya tunai yang dikeluarkan adalah biaya manajemen, pemeliharaan jalan, biaya angkutan, pemberantasan hama dan penyakit, pupuk dan analisa daun, simpanan wajib, replanting, PBB, dana sosial, upah tenaga kerja, peralatan dan angsuran kredit. Biaya tidak tunai yang dikeluarkan kebun plasma adalah penyusutan tanaman menghasilkan, penyusutan peralatan dan sewa lahan.

a) Biaya Tunai

Biaya tunai terbesar yang dikeluarkan oleh petani plasma PTPN VI adalah biaya pupuk dan analisa daun sebesar Rp 3.925.000,00 dengan persentase sebesar 38,52 persen sedangkan untuk petani plasma PT BPP adalah angsuran kredit sebesar Rp 1.661.097,00 atau 49,09 persen. Pemupukan dilakukan atas dasar pendekatan hasil analisa daun yang dilakukan per tahun, hasil analisis tanah yang dilakukan per lima tahun, pengamatan lapangan/lingkungan, proyeksi produksi, data pemupukan sebelumnya, hasil percobaan dan aspek finansial. Jenis pupuk yang diberikan adalah Urea, RP, MOP, Kieserit dan Borate.

Angsuran kredit untuk petani plasma PT BPP dilakukan dengan pemotongan 30 persen dari hasil penjualan TBS setelah dipotong biaya produksi. Jika pemotongan 30 persen penjualan TBS tidak mencukupi untuk pembayaran angsuran minimum pinjaman bank maka PT BPP akan menutupi kekurangan atas angsuran pinjaman tersebut. Jika pemotongan 30 persen melebihi angsuran minimum pinjaman bank maka akan diperhitungkan sebagai tambahan pembayaran pokok pinjaman setelah dikurangi dengan tagihan PT BPP atas pinjaman untuk menutupi kekurangan angsuran minimum sebelumnya. Pinjaman dana kebun plasma PT BPP akan dilunasi dalam jangka waktu 8 tahun dengan masa tenggang 1 tahun. Petani plasma PTPN VI tidak melakukan angsuran kredit karena kredit telah lunas pada Mei 1998. Komponen biaya tunai dan berapa besar jumlah biayanya dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Total Biaya Tunai Kebun Plasma per 2 Ha Tahun 2005

No Komponen Biaya Tunai

PTPN VI PT BPP Biaya (Rp) Persentase (%) Biaya (Rp) Persentase (%) 1 Biaya Manajemen 42.890 0,42 276.849 8,18 2 Pemeliharaan Jalan 1.008.652 9,90 36.000 1,06 3 Biaya Angkutan 419.870 4,12 547.344 16,18 4 Pemberantasan H&P 30.000 0,29 30.000 0,89 5 Pupuk, Analisa Daun dll 3.925.000 38,52 294.611 8,71

6 Simpanan Wajib 432.901 4,25 0 0,00

7 Replanting 900.000 8,83 0 0,00

8 PBB/Kontribusi Amprah 115.000 1,13 0 0,00

9 Dana Sosial 492.000 4,83 0 0,00

10 Upah Tenaga Kerja 2.700.000 26,50 437.875 12,94

11 Peralatan 122.000 1,20 100.000 2,96

12 Angsuran Kredit 0 0,00 1.661.097 49,09

Total 10.188.313 100,00 3.383.777 100,00

Replanting adalah dana yang dikumpulkan untuk peremajaan kebun kelapa

sawit. Kelapa sawit yang dilakukan peremajaan adalah tanaman kelapa sawit yang produktivitasnya sudah rendah (dibawah break event point biaya operasionalnya atau biaya eksploitasi), batang tanamnya sudah terlalu tinggi dan umurnya berkisar antara 25–30 tahun setelah tanam. Dana peremajaan kebun plasma PTPN VI dihimpun melalui program asuransi IDAPERTABUN (Iuran Dana Peremajaan Tanaman Perkebunan) yang diadakan oleh AJB Bumi Putera 1912. Dana peremajaan kebun plasma PTPN VI pada tahun 2005 sebesar Rp 900.000,00 atau 8,83 persen dari total biaya tunai. Dana replanting dihimpun 8 tahun sebelum tanaman kelapa sawit berumur 25 tahun. Kebun plasma PT BPP belum dilakukan penghimpunan dana replanting karena tanaman paling tua berumur 14 tahun.

Biaya manajemen yang dikenakan pada kebun plasma PTPN VI adalah biaya operasional Koperasi Petani Sawit (KPS) dalam mengelola kebun plasma. Semua biaya tunai yang dikeluarkan oleh kebun plasma kecuali upah tenaga kerja dan peralatan dikelola oleh KPS. Petani plasma secara individu bertanggungjawab dalam pemeliharaan kebun, jika dalam pemeliharaan menggunakan tenaga kerja sewaan maka upah dibayar sendiri.

Biaya manajemen yang dikenakan pada kebun plasma PT BPP adalah biaya operasional KUD dan kelompok tani. Biaya operasional ini dipotong sebesar 5 persen dari hasil penjualan TBS setelah dikurangi biaya produksi (biaya pemeliharaan, pengangkutan, PHP, pupuk, upah tenaga kerja dan peralatan). Biaya operasional ini terbagi dua yaitu 70 persen untuk operasional kelompok tani dan 30 persen untuk operasional KUD.

b) Biaya Tidak Tunai (Biaya yang Diperhitungkan)

Biaya tidak tunai pada kebun plasma PTPN VI adalah penyusutan tanaman menghasilkan, penyusutan peralatan, dan sewa lahan sedangkan untuk petani plasma PT BPP adalah penyusutan tanaman menghasilkan dan sewa lahan. Lahan kebun plasma PT BPP belum dilakukan konversi yaitu pengalihan status pemeliharaan kebun dari PT BPP kepada petani plasma. Petani plasma PT BPP tidak melakukan pengelolaan kebun sendiri tetapi keseluruhan kebun plasma dikelola oleh bagian estate plasma PT BPP. Petani plasma PT BPP merupakan pemilik lahan dimana dibangun kebun plasma kelapa sawit sehingga sewa lahan dimasukkan kedalam biaya tidak tunai. Pada petani plasma PTPN VI dan PT BPP tidak mempunyai tenaga kerja dalam keluarga, yang dimasukkan kedalam biaya tenaga kerja adalah tenaga kerja tetap dan tenaga kerja upahan.

Tabel 8. Total Biaya Tidak Tunai Kebun Plasma per 2 Ha Tahun 2005

No Komponen Biaya Tidak

Tunai PTPN VI PT BPP Biaya (Rp) Persentase (%) Biaya (Rp) Persentase (%) 1 Penyusutan a Tanaman menghasilkan 306.828 12,97 1.033.000 67.38% b Peralatan 58.334 2,47 0 0.00% 2 Sewa Lahan 1.000.000 84,56 500.000 32.62% Total 1.365.162 100,00 1.533.000 100,00

Sumber : PTPN VI dan PT BPP (diolah)

Sewa lahan pada kedua kebun plasma ini berbeda yaitu pada kebun plasma PTPN VI adalah Rp 1.000.000,00 (84,56 %) dan PT BPP sebesar Rp 500.000,00 (32.62 %). Harga ini disesuaikan dengan harga sewa lahan yang berlaku di daerah masing-masing. Pada kebun plasma PT BPP sewa lahan relatif murah karena terletak di daerah terpencil (± 250 Km dari Ibukota Propinsi) dan sebelumnya merupakan lahan tidur yang tidak termanfaatkan.

c) Total Biaya Faktor Produksi Kebun Plasma Perkebunan Kelapa Sawit Total biaya tunai yang dikeluarkan oleh kebun plasma PTPN VI sebesar 88,18 persen yang lebih besar dari biaya tunai yang dikeluarkan oleh kebun plasma PT BPP sebesar 68,82 persen. Total biaya tidak tunai untuk petani plasma PTPN VI adalah sebesar Rp 1.365.162,00 (11,82 %) sedangkan pada petani plasma PT BPP adalah Rp 1.533.000,00 (31,18 %). Biaya produksi terbesar kebun plasma PTPN VI adalah pupuk dan analisa daun sebesar 33,97 persen sedangkan untuk kebun plasma PT BPP adalah angsuran kredit sebesar 33,78 persen.

Tabel 9. Total Biaya Kebun Plasma per 2 Ha Tahun 2005

No Komponen Biaya PTPN VI PT BPP Biaya (Rp) Persentase (%) Biaya (Rp) Persentase (%)

A Komponen Biaya Tunai

1 Biaya Manajemen 42.890 0,37 276.849 5,63

2 Pemeliharaan Jalan 1.008.652 8,73 36.000 0,73

3 Biaya Angkutan 419.870 3,63 547.344 11,13

4 Pemberantasan H&P 30.000 0,26 30.000 0,61 5 Pupuk, Analisa Daun dll 3.925.000 33,97 294.611 5,99

6 Simpanan Wajib 432.901 3,75 0 0,00 7 Replanting 900.000 7,79 0 0,00 8 PBB/Kontribusi Amprah 115.000 1,00 0 0,00 9 Dana Sosial 492.000 4,26 0 0,00 10 Tenaga Kerja 2.700.000 23,37 437.875 8,91 11 Peralatan 122.000 1,06 100.000 2,03 12 Angsuran Kredit 0 0,00 1.661.097 33,78

Total Biaya Tunai 10.188.313 88,18 3.383.777 68,82

B Komponen Biaya Tidak Tunai

1 Penyusutan

a Tanaman menghasilkan 306.828 2,66 1.033.000 21,01

b Peralatan 58.334 0,50 0 0,00

2 Sewa Lahan 1.000.000 8,66 500.000 10,17

Total Biaya Tidak Tunai 1.365.162 11,82 1.533.000 31,18

d) Pendapatan Usaha Kebun Plasma Perkebunan Kelapa Sawit

Pendapatan usaha perkebunan kelapa sawit diperoleh dengan cara mengurangi penerimaan dengan biaya-biaya. Biaya yang dikeluarkan meliputi biaya tunai dan biaya tidak tunai. Biaya total merupakan penjumlahan biaya tunai dengan biaya tidak tunai. Pendapatan yang dihitung adalah pendapatan atas biaya tunai dan pendapatan atas biaya total. Pendapatan atas biaya tunai diperoleh dengan mengurangi penerimaan dengan biaya tunai sedangkan pendapatan atas biaya total diperoleh dengan mengurangi penerimaan dengan biaya total.

Penerimaan diperoleh dari perkalian jumlah produksi dalam suatu periode dengan harga penjualan yang berlaku. Pendapatan kebun plasma dihitung dalam periode satu tahun yaitu pada tahun 2005 (Tabel 9). Dari 2 Ha kebun plasma PTPN VI jumlah produksi rata-rata yang dihasilkan dalam satu tahun adalah 46.727,61 Kg sedangkan untuk kebun plasma PT BPP adalah 10.946,88 Kg. Berbedanya jumlah produksi ini disebabkan perbedaan produktivitas tanaman kelapa sawit. Produktivitas kelapa sawit dipengaruhi oleh umur tanaman dan faktor lainnya seperti kriteria lahan, kesesuai iklim, kualitas bibit dan pemeliharaan. Berdasarkan pusat penelitian Marihat Medan (Lampiran 9) untuk tanaman kelapa sawit berumur 20-24 tahun TBS yang dihasilkan untuk lahan kelas 1 (lahan yang baik) adalah 18-25 ton/Ha/tahun sehingga produksi pada kebun plasma PTPN VI dianggap sudah optimal. Untuk tanaman kelapa sawit berumur 3-14 tahun produksi TBS adalah 5-21 ton/Ha/tahun pada lahan kelas IV (lahan tidak baik) sehingga dapat dilihat bahwa produksi kebun plasma PT BPP tidak optimal.

Harga TBS rata-rata yang diterima oleh petani plasma PTPN VI pada tahun 2005 adalah Rp 696,16/Kg sedangkan untuk petani plasma PT BPP adalah Rp 637,88/Kg. Harga yang diterima petani plasma dari PT BPP berdasarkan harga pasar TBS sedangkan untuk PTPN VI, perhitungan harga TBS dipengaruhi oleh harga CPO, inti sawit dan faktor K yang ditetapkan oleh perusahaan.

Tabel 10. Analisis Pendapatan Perkebunan Kelapa Sawit Kebun Plasma Per 2 Ha Tahun 2005 No Uraian PTPN VI PT BPP A Penerimaan 1 Produksi TBS 46.727,61 10.946,88 2 Harga TBS (Rp)/Kg 696,16 637,88 Penerimaan TBS 32.530.050 6.982.820 3 Premi/Finalty TBS (Rp) 0 224.380 Penerimaan Total 32.530.050 7.207.200 B Biaya 1 Biaya Tunai 10.188.313 3.383.777

2 Biaya Tidak Tunai 1.365.162 1.533.000

Total Biaya 11.553.475 4.916.777

C Pendapatan Atas Biaya Tunai 22.341.737 3.823.423

D Pendapatan Atas Biaya Total 20.976.576 2.290.423

Sumber : PTPN VI dan PT BPP (diolah)

Penerimaan kebun plasma PTPN VI adalah Rp 32.530.050,00 dan kebun plasma PT BPP adalah Rp 6.982.820,00. Selain penerimaan dari TBS petani plasma PT BPP juga memperoleh premi sebagai penerimaan. Premi diperoleh jika kebun plasma menghasilkan TBS sesuai dengan standar yang berlaku. Pemberian premi bertujuan untuk meningkatkan mutu hasil panen TBS dan meningkatkan pendapatan petani plasma sesuai dengan jumlah dan mutu hasil yang diperoleh. Pendapatan atas biaya tunai yang diperoleh kebun plasma PTPN VI adalah sebesar Rp 22.341.737,00 dan kebun plasma PT BPP adalah Rp 3.823.423,00.

Rp 20.976.576,00 dan PT BPP adalah Rp 2.290.423,00. Selisih pendapatan atas biaya total antara petani plasma PTPN VI dan PT BPP sebesar Rp 18.686.153,00 Pendapatan kebun plasma PT BPP lebih rendah disebabkan masih rendahnya produksi kebun dan harga TBS yang diterima lebih kecil dari plasma PTPN VI.

Pendapatan kebun plasma PTPN VI merupakan pendapatan rata-rata yang diterima oleh satu kepala keluarga petani peserta selama satu tahun sehingga pendapatan atas biaya tunai perbulan adalah Rp 1.861.811,00 dan pendapatan atas biaya total per bulan adalah Rp 1.748.048,00. Untuk kebun plasma PT BPP pendapatan yang dihitung belum merupakan pendapatan yang diterima oleh petani plasma. Pemilikan lahan rata-rata petani plasma adalah 1,13 hektar sehingga pendapatan atas biaya tunai perbulan adalah Rp 180.019,00 dan pendapatan atas biaya total petani adalah Rp 107.841,00 per bulan. Pendapatan ini tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarga petani peserta.