III. Tinjauan Ekonomi Kota Tangerang Selatan
3.2. Pendapatan Masyarakat
Bila PDRB suatu daerah dibagi dengan jumlah penduduk yang tinggal di daerah itu, maka akan dihasilkan suatu indikator yang dinamakan PDRB per kapita. PDRB per kapita atas dasar harga berlaku menunjukkan nilai PDRB per kepala atau per satu orang penduduk. Pada tahun 2019, secara agregat PDRB per kapita Kota Tangerang Selatan mencapai 34,35 juta rupiah atau senilai US$ 2.427,80, meningkat 4,18 persen bila dibandingkan dengan tahun 2018 yang sebesar 32,98 juta rupiah (US$ 2.315,88).
Pertumbuhan pendapatan perkapita tahun 2019 mengalami perlambatan yaitu sebesar 4,18 persen.
7.25 6.74 7.30 7.37 7.35
5.47 5.31 5.75 5.82
5.52
4.79 5.02 5.07 5.17 5.02
2015 2016 2017 2018 2019
Tangsel Banten Indonesia
Badan Pusat Statistik & Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Tangerang Selatan | | | | 20 | |
Tahun 2020 Tabel 3. 4.
PDRB per Kapita Kota Tangerang Selatan, 2015-2019
Lapangan Usaha 2015 2016 2017 2018 Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Tangerang Selatan Catatan : * Angka sementara
** Angka sangat sementara
Secara riil pertumbuhan ekonomi Kota Tangerang Selatan dapat dikaji melalui perkembangan PDRB atas dasar harga konstan karena angka ini tidak dipengaruhi oleh adanya perubahan harga. Pada tahun 2019 laju pertumbuhan ekonomi (LPE) Kota Tangerang Selatan sebesar 7,35 persen. Artinya, pada tahun 2019 total nilai tambah riil (tidak dipengaruhi perubahan harga) yang tercipta dari hasil produksi barang dan jasa di Kota Tangerang Selatan tumbuh sebesar 7,35 persen dan mengalami sedikit perlambatan jika dibandingkan tahun 2018. Terciptanya pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan (LPE) pada tahun 2019 memberi gambaran bahwa telah terjadi peningkatan produksi barang dan jasa secara riil oleh para pelaku kegiatan ekonomi di Kota Tangerang Selatan dan peningkatannya lebih besar dari tahun sebelumnya.
PDRB per kapita merupakan proxy ukuran pendapatan per kapita atau dengan kata lain, PDRB per kapita diasumsikan sebagai pendapatan per kapita. Kemampuan masyarakat untuk mengkonsumsi produk barang/jasa sangat dipengaruhi oleh pendapatan per kapita. Apabila diperhatikan perkembangan daya beli masyarakat yang diasumsikan setara dengan peningkatan pendapatan per kapita yang dikoreksi oleh angka inflasi (Tabel 3.4), maka daya beli masyarakat di Kota Tangerang Selatan pada tahun 2019 mengalami peningkatan yang lebih tinggi dibanding peningkatan empat tahun terakhir, dimana tahun 2019 meningkat sebesar 1,38 juta rupiah, lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2018 yang mengalami peningkatan sebesar 1,30 juta
Badan Pusat Statistik & Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Tangerang Selatan | | | | 21 | |
Tahun 2020
rupiah, tahun 2017 meningkat sebesar 1,21 juta rupiah dan tahun 2016 meningkat sebesar 988 ribu rupiah.
Bila dibandingkan dengan kabupaten/kota di Provinsi Banten, maka PDRB PerKapita Kota Tangerang Selatan pada urutan keempat. Urutan pertama tertinggi tahun 2019 adalah Kota Cilegon dengan nilai sebesar 238,44 (juta Rp) perkapita pertahun, dikuti oleh Kota Tangerang sebesar 78,59 (juta Rp) perkapita pertahun, Kabupaten Serang sebesar 51,01 (juta Rp) perkapita pertahun, dan Kota Tangerang Selatan sebesar 47,39 (juta Rp) perkapita pertahun, Kota Serang sebesar 46,13 (juta Rp) perkapita pertahun dan Kabupaten Tangerang sebesar 37,12 (juta Rp) perkapita pertahun, sedangkan Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak masing-masing sebesar 23,37 (juta Rp) perkapita pertahun dan 22,20 (juta Rp) perkapita pertahun.
Tabel 3. 5.
PDRB per Kapita Kabupaten/Kota Provinsi Banten Tahun 2015-2019 (Juta Rp) Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Tangerang Selatan
Catatan : * Angka sementara ** Angka sangat sementara
Badan Pusat Statistik & Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Tangerang Selatan | | | | 22 | |
Tahun 2020 3.3. Kinerja Perekonomian
Kinerja perekonomian suatu daerah pada umumnya dinilai berdasarkan pencapaian angka laju pertumbuhan ekonomi (LPE) daerah tersebut. Pada sebuah daerah yang tergolong sebagai daerah berkembang angka LPE cenderung masih dapat didorong menjadi lebih tinggi setiap tahunnya. Sedangkan pada daerah yang tergolong maju angka LPE cenderung kecil dan stagnan karena biasanya kapasitas produksi sudah digunakan secara maksimal.
Gambar 3. 3.
Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kota Tangerang Selatan Menurut Kelompok Lapangan Usaha, 2015-2019
Sumber: Badan Pusat Statistik Kota Tangerang Selatan
Pertumbuhan ekonomi sendiri menunjukkan tingkat aktivitas/kegiatan perekonomian yang menghasilkan tambahan pendapatan masyarakat pada suatu periode tertentu. Karena pada dasarnya aktivitas perekonomian adalah suatu proses penggunaan faktor produksi untuk menghasilkan output, maka proses ini pada gilirannya akan menghasilkan suatu aliran balas jasa terhadap faktor produksi yang dimiliki masyarakat. Dengan demikian diharapkan pendapatan masyarakat sebagai pemilik faktor produksi juga akan turut meningkat. Dengan meningkatnya pendapatan masyarakat akan semakin meningkatkan daya beli masyarakat yang akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kota Tangerang Selatan.
Badan Pusat Statistik & Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Tangerang Selatan | | | | 23 | |
Tahun 2020
Secara riil pertumbuhan ekonomi Kota Tangerang Selatan dapat dikaji melalui perkembangan PDRB atas dasar harga konstan karena angka ini tidak dipengaruhi oleh adanya perubahan harga. Pada tahun 2019 laju pertumbuhan ekonomi (LPE) Kota Tangerang Selatan sebesar 7,35 persen. Artinya, pada tahun 2019 total nilai tambah riil (tidak dipengaruhi perubahan harga) yang tercipta dari hasil produksi barang dan jasa di Kota Tangerang Selatan tumbuh sebesar 7,35 persen dan sedikit mengalami perlambatan jika dibandingkan tahun 2018. Terciptanya pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan (LPE) pada tahun 2019 memberi gambaran bahwa peningkatan produksi barang dan jasa secara riil oleh para pelaku kegiatan ekonomi di Tangerang Selatan tidak sebesar peningkatan di tahun 2018.
Berdasarkan Gambar 3.3 diperoleh laju pertumbuhan ekonomi yang dikelompokkan menjadi 3 sektor yaitu sektor Primer, sektor Sekunder dan sektor Tersier. Bila dilihat dari perkembangan laju pertumbuhan tiap tahun masing-masing kelompok mengalami fluktasi, tetapi bila dilihat dari besaran laju pertumbuhannya maka kelompok yang mengalami pertumbuhan paling tinggi adalah kelompok tersier pada tahun 2019 dengan laju pertumbuhan sebesar 7,81 persen, disusul oleh kelompok sekunder yaitu sebesar 5,83 persen dan terakhir kelompok primer dengan laju pertumbuhan sebesar 1,50 persen.
Bila dilihat lebih rinci menurut lapangan usahanya pada tahun 2019, kategori Konstruksi mengalami pertumbuhan yang paling tinggi di Kota Tangerang Selatan yang tumbuh sebesar 9,01 persen, kemudian diikuti oleh kategori Tranportasi dan Pergudangan dengan tingkat pertumbuhan sebesar 8,93 persen, serta kategori Jasa Keuangan dan Asuransi dengan tingkat pertumbuhan sebesar 8,67 persen. Tertinggi keempat yaitu kategori Jasa Perusahaan dengan laju pertumbuhan sebesar 8,37 persen, diikuti kategori Real Estate sebesar 8,03 persen diurutan kelima dan urutan keenam kategori Informasi dan Komunikasi sebesar 7,97 persen, disusul kategori Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib sebesar 7,77 persen, kategori Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 7,76 persen, kategori Jasa Lainnya sebesar 7,59 persen, kategori Jasa Pendidikan dengan laju pertumbuhan sebesar 7,53 persen, kategori Pengadaan Listrik dan Gas sebesar 7,53 persen, kategori Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 7,43 persen, kategori Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 6,74 persen, kategori Pengadaan Air,
Badan Pusat Statistik & Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Tangerang Selatan | | | | 24 | |
Tahun 2020
Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang sebesar 4,97 persen. Kategori yang mengalami pertumbuhan paling kecil yaitu kategori Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yaitu sebesar 1,50 persen dan kategori Industri Pengolahan dengan laju pertumbuhan sebesar 0,99 persen. Sedangkan kategori Pertambangan dan Penggalian tidak ada kategori tersebut di Kota Tangerang Selatan.
Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, ada beberapa kategori yang laju pertumbuhannya mengalami peningkatan dan sebaliknya ada yang mengalami perlambatan. Kategori yang mengalami peningkatan anatara lain kategori Pertanian, Kehutanan dan Perikanan yaitu pada tahun 2018 dengan laju pertumbuhan sebesar 0,96 persen naik menjadi 1,50 persen pada tahun 2019, kategori Industri Pengolahan tumbuh sebesar 0,92 persen pada tahun 2018 kemudian naik menjadi 0,99 persen pada tahun 2019, kategori Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang tahun 2018 tumbuh sebesar 4,85 persen naik menjadi 4,97 persen tahun 2019, kategori Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum tahun 2018 tumbuh sebesar 7,49 persen tahun 2018 naik menjadi 7,76 persen tahun 2019. Kategori Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib tahun 2018 tumbuh sebesar 7,71 persen kemudian tahun 2019 naik menjadi 7,77 persen.
Sedangkan kategori yang mengalami perlambatan pertumbuhan antara lain kategori Pengadaan Listrik dan Gas dimana tahun 2018 dengan laju pertumbuhan sebesar 7,72 persen melambat menjadi 7,53 persen tahun 2019, kategori Konstruksi tahun 2018 tumbuh sebesar 9,03 persen melambat menjadi 9,01 persen tahun 2019, kategori Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor tahun 2018 tumbuh sebesar 7,57 persen melambat menjadi 7,43 persen tahun 2019, kategori Transportasi dan Pergudangan tahun 2018 tumbuh sebesar 9,16 persen melambat menjadi 8,93 persen tahun 2019, kategori Informasi dan Komunikasi tahun 2018 tumbuh sebesar 7,98 persen, melambat menjadi 7,97 persen tahun 2019, kategori Jasa Keuangan dan Asuransi tahun 2018 tumbuh sebesar 8,90 persen melambat menjadi 8,67 persen tahun 2019, kategori Real Estate tahun 2018 tumbuh sebesar 8,05 persen melambat menjadi 8,03 persen tahun 2019, kategori Jasa Perusahaan tahun 2018 tumbuh sebesar 8,66 persen kemudian melambat menjadi 8,37 persen tahun 2019, kategori Jasa Pendidikan tahun 2018 tumbuh sebesar 7,97persen kemudian melambat menjadi 7,58 persen tahun 2019, kategori Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial tahun
Badan Pusat Statistik & Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Tangerang Selatan | | | | 25 | |
Tahun 2020
2018 tumbuh sebesar 6,75 persen kemudian tahun 2019 melambat menjadi 6,74 persen, dan kategori Jasa Lainnya tahun 2018 tumbuh sebesar 7,66 persen kemudian melambat menjadi 7,59 persen tahun 2019.
Tabel 3. 6.
Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kota Tangerang Selatan Menurut Lapangan Usaha dan Andil, 2018-2019
Lapangan Usaha LPE (%) Andil
E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah
dan Daur Ulang 4,85 4,97 0,00 0,00
F Konstruksi 9,03 9,01 1,21 1,23
G Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi
Mobil dan Sepeda Motor 7,57 7,43 1,28 1,28
H Transportasi dan Pergudangan 9,16 8,93 0,28 0,27 I Penyediaan Akomodasi dan
Makan Minum 7,49 7,76 0,22 0,23
J Informasi dan Komunikasi 7,98 7,97 1,27 1,27
K Jasa Keuangan dan Asuransi 8,90 8,67 0,11 0,11
L Real Estat 8,05 8,03 1,48 1,49
M,N Jasa Perusahaan 8,66 8,37 0,29 0,29
O Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan
Produk Domestik Regional Bruto 7,37 7,35 7,31 7,35 Sumber: Badan Pusat Statistik Kota Tangerang Selatan Jika dilihat menurut andilnya terhadap perekonomian di Kota Tangerang Selatan, maka kategori Real Estate yang mempunyai andil paling besar yaitu sebesar 17,92 persen (1,49 basis point dari 7,35 basis point), sedangkan kategori Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor mampu memberikan andil sekitar 17,24
Badan Pusat Statistik & Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Tangerang Selatan | | | | 26 | |
Tahun 2020
persen (1,28 basis point dari 7,35 basis point) dan Konstruksi memberikan andil sekitar 16,26 persen (1,23 basis point dari 7,35 basis point).
Kategori lainnya yang mempunyai andil cukup besar yaitu kategori Informasi dan Komunikasi mempunyai andil sebesar 10,26 persen (1,27 basis point dari 7,37 basis point). Sedangkan kategori Industri Pengolahan mempunyai andil sebesar 8,40 persen (0,09 basis point dari 7,37 basis point).
3.4. Struktur Perekonomian
Struktur perekonomian Kota Tangerang Selatan selama ini didominasi oleh kategori Real Estate sebagai andalan. Kategori ini menyumbang 17,92 persen terhadap penciptaan nilai tambah di Kota Tangerang Selatan dengan nilai nominal 14,84 trilyun rupiah. Kategori dengan kontribusi terbesar kedua adalah Kategori perdagangan besar dan eceran dan reparasi mobil dan sepeda motor, dengan share sebesar 17,24 persen atau dengan nilai sekitar 14,28 triliun rupiah. Selanjutnya diikuti oleh kategori konstruksi yang mempunyai share sebesar 16,26 persen (13,47 trilyun rupiah).
Gambar 3. 4.
Struktur PDRB adhb Kota Tangerang Selatan, 2019
Sumber: Badan Pusat Statistik Kota Tangerang Selatan Dalam tiga tahun terakhir, kecenderungan peranan kategori yang berbasis jasa mengalami fluktuasi. Sedangkan share dari sektor primer dalam tiga tahun tidak melewati 0,25 persen. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat daya beli masyarakat perkotaan
Real Estate;
Jasa Perusahaan; 3,91% Transportasi dan Pergudangan;
3,40%
Lainnya;
9,31%
Badan Pusat Statistik & Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Tangerang Selatan | | | | 27 | |
Tahun 2020
sangat tinggi dan luas lahan pertanian semakin berkurang dan tidak menjanjikan terutama bagi para tenaga kerja muda. Maka pilihan lain yang tersedia adalah bekerja pada sektor industri atau bekerja pada sektor berbasis jasa.
Perkembangan kategori berbasis jasa juga tidak terlepas dari potensi yang dimiliki Kota Tangerang Selatan, sehingga sektor yang terkait dengan budaya masyarakat perkotaan seperti perdagangan, hotel, restoran, angkutan, komunikasi dan jasa perorangan masih sangat memungkinkan untuk berkembang terus. Selain itu, bekerja pada sektor berbasis jasa cenderung mudah dan tidak memerlukan keahlian khusus sehingga tidak heran jika kategori ini banyak menampung pekerja.
Pada tahun 2018 share sektor primer (agriculture) terhadap PDRB Kota Tangerang Selatan sebesar 0,24 persen dan pada tahun 2019 kontribusinya turun menjadi 0,22 persen. Hal sebaliknya terjadi pada sektor berbasis jasa (services). Jika pada tahun 2018 kontribusi sektor ini terhadap PDRB Kota Tangerang Selatan sebesar 74,70 persen, pada tahun 2019 meningkat menjadi 74,93 persen.
Tabel 3. 7.
Struktur Perekonomian Kota Tangerang Selatan Menurut Kategori, 2017-2019
Lapangan Usaha Share (%)
2017 2018 2019
(1) (2) (3) (4)
A Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 0,25 0,24 0,22
B Pertambangan dan Penggalian 0,00 0,00 0,00
C Industri Pengolahan 9,53 8,97 8,40
D Pengadaan Listrik dan Gas 0,16 0,15 0,14
E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah
dan Daur Ulang 0,04 0,04 0,04
F Konstruksi 15,60 15,90 16,26
G Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil
dan Sepeda Motor 17,00 17,09 17,24
H Transportasi dan Pergudangan 3,31 3,35 3,40
I Penyediaan Akomodasi dan
Makan Minum 3,12 3,07 3,02
J Informasi dan Komunikasi 11,03 10,66 10,26
K Jasa Keuangan dan Asuransi 1,31 1,34 1,37
L Real Estat 17,47 17,72 17,92
M,N Jasa Perusahaan 3,84 3,88 3,91
O Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan
Sosial Wajib 1,35 1,34 1,35
P Jasa Pendidikan 8,66 8,91 9,09
Badan Pusat Statistik & Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Tangerang Selatan | | | | 28 | |
Produk Domestik Regional Bruto 100,00 100,00 100,00 Sumber: Badan Pusat Statistik Kota Tangerang Selatan 3.5. PDRB Pengeluaran
Secara umum PDRB pengeluaran terdiri dari empat jenis pengeluaran yaitu pengeluaran konsumsi rumah tangga, pengeluaran untuk investasi, pengeluaran pemerintah, dan ekspor netto.
Komponen lengkap PDRB menurut penggunaan adalah pengeluaran konsumsi rumahtangga, pengeluaran konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap bruto, perubahan stok, dan ekspor netto (ekspor dikurangi impor).
Dimana :
Y : PDRB (GRDP; gross regional domestic products) Ch : Konsumsi rumah tangga (households consumption)
Cn : Konsumsi lembaga swasta non profit (private non-profit institutions consumption)
Cg : Konsumsi pemerintah dan pertahanan (government consumption) Ii : Pembentukan Modal Tetap Bruto (gross fixed capital formations) Is : Perubahan persediaan (changes in stocks)
X : Ekspor M : Impor
Dilihat dari PDRB Pengeluaran Kota Tangerang Selatan tahun 2019, konsumsi rumah tangga merupakan kontribusi terbesar dalam pembentukan PDRB penggunaan yaitu sebesar 73,97 persen. Pembentukan modal tetap bruto (investasi) merupakan konsumsi terbesar kedua setelah konsumsi rumahtangga yaitu sebesar 39,46 persen.
Kontribusi impor di Kota Tangerang Selatan tahun 2019 cukup signifikan jika dibandingkan dengan ekspornya, dimana impor di Kota Tangerang Selatan
Y = Ch + Cn + Cg + Ii + Is + X – M
Badan Pusat Statistik & Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Tangerang Selatan | | | | 29 | |
Tahun 2020
memberikan kontribusi sebesar 63,86 persen sedangkan ekspornya sebesar 48,57 persen. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar kebutuhan barang-barang di Kota Tangerang Selatan masih tergantung dari impor, baik impor luar negeri maupun impor antar daerah.
Jika dilihat laju pertumbuhannya dari tahun 2018 ke tahun 2019, ternyata pertumbuhan tertinggi berada di Komponen Konsumsi LNPRT dengan pertumbuhannya sebesar 7,28 persen, diikuti Pengeluaran Konsumsi Pemerintah dengan pertumbuhannya sebesar 6,87 persen. Sedangkan laju pertumbuhan untuk Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga sebesar 5,08 persen, Pengeluaran Konsumsi Pembentukan Modal TetapBruto (PMTB) sebesar 5,04 persen dan Pengeluaran Ekspor sebesar 1,91 persen. Sedangkan pertumbuhan Pengeluaran Impor tahun 2019 sebesar -0,55 persen dan pertumbuhan Pengeluaran Perubahan Inventori sebesar -14,40 persen.
Tabel 3. 8.
Hasil Perhitungan PDRB Pengeluaran Kota Tangerang Selatan, 2019
Komponen
dan Penyelenggaraan Rumah Tangga 10,25 7,69 12,37 4,65 1.d. Kesehatan dan Pendidikan 4,74 3,51 5,72 4,57 3. Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 1,44 0,95 1,74 6,87 4. Pembentukan Modal Tetap Bruto (4.a. +
4.b.) 37,92 23,70 45,78 5,04
Badan Pusat Statistik & Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Tangerang Selatan | | | | 30 | |
Tahun 2020 3.6. Koefisien Gini
Koefisien Gini atau Gini Rasio adalah alat mengukur derajat ketidakmerataan atau ketimpangan agregat yang angkanya berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan yang sempurna). Di banyak negara, syarat utama bagi terciptanya penurunan kemiskinan adalah melalui pertumbuhan ekonomi. Namun seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat tidak akan secara langsung menaikkan kesejahteraan penduduk, khususnya mereka yang berpendapatan rendah. Pertumbuhan ekonomi tetap perlu walaupun tidak cukup untuk memberantas kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi akan lebih berarti apabila diikuti dengan menurunnya disparitas antara si kaya dan si miskin, terutama dalam hal pendapatan.
Jika pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati oleh si kaya, maka akan terjadi gap yang semakin besar antara si kaya dan si miskin. Bahaya laten yang menunggu adalah munculnya berbagai macam gejolak sosial akibat timbulnya kesenjangan tersebut.
Ukuran standar yang biasa digunakan untuk mengetahui ketimpangan (disparitas) pendapatan adalah koefisien Gini (Gini Ratio) yang berkisar antara 0 (kesetaraan mutlak) hingga 1 (ketimpangan mutlak). Bank Dunia membagi penduduk ke dalam tiga golongan pendapatan, yaitu 40 persen penduduk berpendapatan rendah, 40 persen penduduk berpendapatan sedang dan 20 persen penduduk berpendapatan tinggi. Kondisi ideal adalah jika koefisien gini mencapai angka 0 (kesetaraan mutlak) dimana 40 persen penduduk berpendapatan rendah juga menikmati 40 persen dari total pendapatan, 40 persen penduduk bependapatan sedang menikmati 40 persen dari total pendapatan dan 20 persen penduduk berpendapatan tinggi menikmati 20 persen dari total pendapatan.
Nilai koefisien gini Kota Tangerang Selatan tahun 2019 sebesar 0,33 artinya bahwa ketimpangan pendapatan yang terjadi di Kota Tangerang Selatan masih dalam taraf sedang. Ini menggambarkan bahwa pendapatan antara si kaya dan si miskin terjadi gap/perbedaannya yang sedang. Dengan pemerataan pendapatan yang lebih merata maka akan mengurangi tingkat kemiskinan, tentunya dengan diimbangi pengendalian harga kebutuhan sehari-hari terutama pengenalian harga beras karena sebagian besar pengeluaran penduduk miskin adalah untuk pengeluaran konsumsi makanan.
Badan Pusat Statistik & Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Tangerang Selatan | | | | 31 | |
Tahun 2020 Tabel 3. 9.
Koefisien Gini dan Kriteria Bank Dunia Kota Tangerang Selatan, 2018-2019 Uraian Tahun 2018 Tahun 2019
(1) (2) (3)
Sumber: Badan Pusat Statistik Kota Tangerang Selatan
Menurut Kriteria Bank Dunia menyatakan bahwa jika 40% penduduk termiskin menerima kurang dari 12% total pendapatan, maka tingkat kemiskinannya parah, jika 40% penduduk termiskin menerima antara 12% − 17 % total pendapatan, maka tingkat kemiskinannya sedang, jika 40% penduduk termiskin menerima lebih dari 17 % total pendapatan, maka tingkat kemiskinannya rendah. Dalam hal ini untuk wilayah Kota Tangerang Selatan jika dilihat dari persentase yang diterima 40 % persen penduduk berpendapatan rendah yaitu sebesar 19,66 persen, maka Kota Tangerang Selatan mempunyai tingkat kemiskinan rendah, bahkan jika dilihat dari persentase penduduk miskin maka Kota Tangerang Selatan merupakan kota yang paling rendah tingkat kemiskinannya jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya diseluruh wilayah Negara Indonesia yaitu pada tahun 2019 sebesar 1,68 persen.
Bila dilihat dari Garis Kemiskinan di Kota Tangerang Selatan terjadi kenaikan dimana tahun 2018 sebesar Rp 549.150,- naik menjadi Rp 593.781,- tahun 2019. Ini menunjukkan bahwa tingkat kesejahtraan masyarakat di Kota Tangerang Selatan tahun 2019 mengalami peningkatan dibanding tahun 2018.
Badan Pusat Statistik & Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Tangerang Selatan | | | | 32 | |
Tahun 2020
IV. Analisis Sektor Basis dan
Ketenagakerjaan
Analisis Location Quotient
Analisis Shift Share
Incremental Capital Output Ratio
Analisis Ketenagakerjaan
Badan Pusat Statistik & Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Tangerang Selatan | | | | 33 | |
Tahun 2020
4.1 Analisis Location Quotient
Penentuan komoditas unggulan nasional dan daerah merupakan langkah awal menuju pembangunan yang berpijak pada konsep efisiensi untuk meraih keunggulan komparatif dan kompetitif dalam menghadapi era globalisasi. Langkah menuju efisiensi dapat ditempuh dengan fokus pada pengembangan sektor ekonomi yang mempunyai keunggulan komparatif terhadap daerah lainnya. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi sektor ekonomi unggulan adalah metode Location Quotient (LQ).
Secara matematik, Location Quotient atau lebih populer disebut dengan LQ diformulasikan sebagai perbandingan relatif antara kemampuan suatu sektor di daerah yang diamati dengan kemampuan sektor yang sama pada daerah yang lebih luas.
Analisis LQ salah satunya dilakukan untuk menentukan sektor basis atau sektor yang menjadi unggulan suatu daerah. Walaupun pada perkembangannya analisis LQ juga digunakan dengan berbasis pada data tenaga kerja dan pendapatan.
Secara matematis, LQ diformulasikan sebagai berikut:
dimana :
ntbi : Nilai tambah bruto sektor i di suatu daerah yang lebih kecil pdrbi : PDRB daerah yang lebih kecil
NTBi : Nilai tambah bruto sektor i di suatu daerah yang lebih luas PDRBi : PDRB daerah yang lebih luas
Setiap metode analisis memiliki kelebihan dan keterbatasan. Kelebihan metode LQ dalam mengidentifikasi sektor basis antara lain penerapannya sederhana, mudah dan tidak memerlukan program pengolahan data yang rumit. Sedangkan kelemahannya adalah analisis LQ tidak bisa menjawab apa yang menyebabkan sebuah sektor menjadi sektor unggulan. Sealain itu, dalam analisis LQ juga diperlukan data pembanding antara dua wilayah pada periode yang sama.
LQ = ( ntbi / pdrbi) / ( NTBi / PDRBi )
Badan Pusat Statistik & Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Tangerang Selatan | | | | 34 | |
Tahun 2020 Hasil perhitungan analisis LQ menghasilkan 3 kriteria, yaitu:
1. LQ > 1, artinya sektor tersebut menjadi basis atau memiliki keunggulan komparatif. Komoditas di sektor tersebut tidak saja dapat memenuhi kebutuhan di wilayahnya sendiri tapi juga dapat diekspor ke luar wilayah.
2. LQ = 1, artinya sektor tersebut tergolong non basis, tidak memiliki keungulan komparatif. Komoditas sektor tersebut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan di wilayahnya sendiri.
3. LQ < 1, artinya sektor tersebut tergolong non basis. Komoditas di sektor tersebut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sendiri sehingga perlu pasokan atau impor dari luar wilayah.
Metode LQ untuk mengidentifikasi komoditas unggulan diakomodasi dari Miller &
Wright (1991), Isserman (1997), dan Ron Hood (1998). Menurut Hood (1998), Loqation Quotient adalah suatu alat pengembangan ekonomi yang lebih sederhana dengan segala kelebihan dan keterbatasannya. Teknik LQ merupakana salah satu pendekatan yang umum digunakan dalam model ekonomi basis sebagai langkah awal untuk memahami sektor kegiatan yang menjadi pemicu pertumbuhan. LQ mengukur konsentrasi relatif atau derajat spesialisasi kegiatan ekonomi melalui pendekatan perbandingan.
Berdasarkan hasil analisis LQ Kota Tangerang Selatan dibandingkan dengan Provinsi Banten, kategori Jasa Perusahaan di Tangerang Selatan memiliki kemampuan yang relatif jauh lebih tinggi dibanding kategori yang sama di tingkat Provinsi Banten pada tahun 2019. Hal tersebut bisa dilihat melalui nilai LQ yang sebesar 3,47, artinya bahwa proporsi penciptaan nilai tambah kategori Jasa Perusahaan dan di Kota Tangerang Selatan 3,47 kali lebih besar daripada proporsi penciptaan nilai tambah sektor tersebut di Provinsi Banten.
Untuk beberapa kategori yang masih tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Tangerang Selatan sehingga diperlukan pasokan atau impor dari luar wilayah Kota Tangerang Selatan. Pada tahun 2019, dari 17 kategori pembentukan PDRB ternyata delapan kategori yang harus mengandalkan impor dari luar wilayah Tangerang Selatan. Kedelapan kategori tersebut adalah kategori Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, kategori Pertambangan dan Penggalian, kategori Industri Pengolahan,
Untuk beberapa kategori yang masih tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Tangerang Selatan sehingga diperlukan pasokan atau impor dari luar wilayah Kota Tangerang Selatan. Pada tahun 2019, dari 17 kategori pembentukan PDRB ternyata delapan kategori yang harus mengandalkan impor dari luar wilayah Tangerang Selatan. Kedelapan kategori tersebut adalah kategori Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, kategori Pertambangan dan Penggalian, kategori Industri Pengolahan,