QUR’AN SURAT AL BAQARAH AYAT
B. Pendidik Profesional dalam Surat Al-Baqarah Ayat
Adapun konsep pendidik profesional dalam Surat Al-Baqarah ayat 247 adalah sebagai berikut:
1. Sehat dalam jasmani maupun ruhani
Kesehatan jasmani adalah keserasian yang sempurna antara bermacam-macam fungsi jasmani, disertai dengan kemampuan untuk menghadapi kesukaran-kesukaran yang terdapat dalam lingkungan, disamping secara positif merasa gesit, kuat, dan bersemangat (Daradjat, 1974:36). Jadi kesehatan jasmani yaitu berfungsinya semua anggota tubuh dengan baik dan mampu menggunakannya dalam hal kebaikan.
Kesehatan jiwa atau ruhani adalah kemampuan seseorang menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri, dan lingkungan alam sekitar sehingga dapat dicapai kebahagiaan dalam kehidupannya (Daradjat, 1974:39). Kesehatan jiwa atau ruhani yakni kemampuan seseorang dalam menyesuaikan keadaan agar mencapai kebahagiaan.
Kesehatan jasmani sering menjadi syarat bagi seseorang yang akan menjadi guru. Jika ada guru mengidap penyakit menular, maka akan membahayakan kesehatan peserta didik (Husein, 2017:25). Apabila guru tidak sehat jasmani, tidak akan optimal dalam mengajar. Aspek fisik menyangkut makanan bernutrisi baik dan olahraga teratur dapat meningkatkan kebugaran tubuh, dan akan menambah performa pendidik. Seorang pendidik harus mengembangkan kemampuan dan
42
keterampilan fisiknya menuju kepada pencapaian tubuh yang kuat
atau fit. Ada sebuah ungkapan “Mens sana in corpore sano”, di dalam
tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat, walaupun tidak seluruhnya benar (Nurdin, 2010:130).
Apabila kemampuan fisik saja yang diprioritaskan, hal itu hanya akan membanggakan individualnya saja. Islam memandang kekuatan fisik orang beriman bukan hanya dilihat dari postur tubuhnya yang kuat, tapi juga memandang terhadap keyakinan dan keimanannya (ruhaniyah). Ini artinya pendidik harus sehat jasmani dan rohani. Apabila jasmaninya yang tidak sehat akan menghambat pelaksanaan pendidikan (Nurdin, 2010:131). Pendidik yang sakit- sakitan terpaksa kerap kali absen dan tentunya merugikan peserta didik (Asdiqoh, 2015:31).
Disamping itu, pendidik yang mempunyai penyakit tidak akan bergairah dalam mengajar. Di samping itu, seorang pendidik harus sehat rohaninya. Orang yang ruhaninya tidak sehat akan sangat berpeluang untuk menderita stress (Husein, 2017:25). Agar seorang pendidik selalu sehat ruhaninya, maka harus bertakwa kepada Allah SWT. Takwa merupakan suatu bangunan tumpuan causa pendidikan. Pendidik selalu ingat bahwa Tuhan, selalu mengawasi setiap langkah, sehingga akan selalu ingat akan Tuhannya (Nurdin, 2010:135).
Takwa adalah iman kepada Allah yang menumbuhkan karakter rendah hati dan optimistik. Bertakwa adalah cinta kepada
43
Allah, sedangkan cinta akan menumbuhkan motivasi positif dan berkreativitas tinggi. Sebab guru adalah tauladan bagi peserta didik (Husein, 2017:25). Dengan meningkatkan ketakwaan kepada Allah, pendidik akan selalu berfikiran positif tidak mudah terserang depresi sehingga dapat melakukan proses belajar mengajar dengan optimal. 2. Mempunyai ilmu pengetahuan luas
Setiap orang apalagi pendidik harus meningkatkan keilmuannya. Tanpa mempunyai ilmu pengetahuan, maka pendidik akan meninggalkan generasi yang tidak siap berkompetisi. Seorang pendidik setiap saat harus membekali dirinya dengan ilmu dan kesediaan membiasakan diri untuk mengkajinya. Seorang pendidik harus benar-benar berpengetahuan luas, kuat dalam mengkaji, dan memiliki pemahaman mendalam, sehingga anak didik menghormati dan mempercayainya (Nurdin, 2010:137).
Ilmu adalah penghias diri yang mengantarkan kepada keilmuan. Karenanya, seorang guru harus menenggelamkan diri ke tengah samudera pengetahuan untuk mengambil mutiara ilmu yang bermanfaat. Setiap hari para pendidik harus menambah ilmu sebagai sarana pengabdian kepada-Nya (Nurdin, 2010:138). Walaupun tidak banyak, setiap akan mengajar pendidik wajib menambah keilmuannya setiap hari.
Ijazah sarjana bukan semata-mata selembar kertas, akan tetapi merupakan bukti bahwa dirinya telah menyelesaikan penidikan
44
tingkat tinggi. Itu dapat diperoleh dengan cara belajar (menuntut ilmu), karena syarat seorang guru secara administrasi harus dibuktikan dengan ijazah sarjana (Husein, 2017:26). Ijazah dapat diperoleh seorang pendidik ketika sudah selesai menempuh jenjang pendidikan. Dengan dibuktikan melalui ijazah, dapat dipastikan pendidik sudah memahami apa saja yang dipelajari pada waktu belajar di suatu lembaga pendidikan.
Oleh sebab itu, ilmu sangat penting bagi manusia. Namun lebih penting lagi adalah sosok pendidik sebagai pembawa ilmu pengetahuan yang disampaikan kepada peserta didiknya. Sehingga ilmu tidak hanya memperluas cakrawala berpikir, tetapi juga membawa perubahan terhadap anak didik dalam menghambakan dirinya kepada Allah swt. pendidik yang kaya akan ilmu pengetahuan akan menjadi sumber bagi anak didik untuk menggalinya (Nurdin, 2010:138).
Segala rasa ingin tahu anak didik dapat dipenuhi dengan sempurna sehingga peserta didik membutuhkan guru. Tidak akan ada peserta didik melecehkan sang guru, bahkan mereka bangga kepada gurunya sehingga termotivasi untuk lebih pintar dari gurunya. Inilah pendidikan yang sesungguhnya, antara anak didik dan guru saling berlomba untuk memperkaya khazanah keilmuannya (Nurdin, 2010:138). Sesungguhnya ketika dalam proses pembelajaran antara pendidik dengan peserta didik ada simbiosis mutualisme atau saling
45
menguntungkan. Peserta didik mendapat ilmu baru dan pendidik dapat berbagi dengan ilmunya.
Sebagai seorang yang profesional, guru harus selalu meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan secara terus menerus. Guru harus bersikap selalu mengadakan pembaharuan sesuai dengan tuntutan tugasnya (Soetjipto & Raflis Kosasi, 1999:55). Salah satu indikator keberhasilan guru dalam pelaksanaan tugas, adalah dapatnya guru itu menjabarkan, memperluas, menciptakan relevansi kurikulum dengan kebutuhan peserta didik dan perkembangan serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Nurdin & Basyirudin Usman, 2002:68). Yang dimaksud dengan menguasai bidang yang ditekuni adalah seorang guru yang ahli dalam mata pelajaran tertentu. Tidak menutup kemungkinan seorang guru mamapu menagajar dua mata pelajaran, yang penting dia profesional dan menguasai mata pelajaran tersebut (Husein, 2017:28).
Seorang pendidik juga harus menunjukkan wawasan keilmuan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, penguasaan terhadap isu-isu mutakhir yang sedang terjadi (Nata, 2010:167). Menguasai bidang yang ditekuni maksudnya adalah seorang guru yang ahli dalam mata pelajaran tertentu. Tidak menutup kemungkinan seorang guru mampu menagajar dua mata pelajaran, yang terpenting profesional dan menguasai mata pelajaran tersebut (Husein, 2017:28).
46
C. Implementasi menjadi Pendidik Profsional pada Surat Al-Baqarah