KAJIAN PUSTAKA A. Pembahasan Tentang Pendidikan Agama Islam
7. Guru Pendidikan Agama Islam
Menurut H.A. Ametembun dalam buku karya Akmil, guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan peserta didik, baik secara individu ataupun klasikal, baik di sekolah maupun di luar sekolah.17 Dari pengertian ini bahwa guru dituntut untuk mendidik dan mengajar baik di lingkungan lembaga formal, maupun nonformal. Mengajar lebih cenderung membentuk peserta didik hanya sekedar menjadi orang yang pandai ilmu pengetahuan saja, tetapi jiwa dan watak peserta didik tidak dibangun dan dibina. Seharusnya mendidik bertujuan untuk membentuk jiwa dan watak peserta didik, dengan kata lain mendidik adalah kegiatan transfer of values, memindahkan sejumlah nilai kepada peserta didik.
Menurut pandangan Islam pendidikan diawali dari saat Allah SWT, sebagai rabb-al „alamin, menciptakan para nabi dan rasul untuk mendidik manusia di muka bumi ini. Kata “rabb” (tuhan) dan murrabby (pendidik) berasal dari akar kata seperti termuat dalam ayat Al Qur‟an surah Al Isra‟ ayat 24 yang artinya: “Wahai Tuhan, sayangilah keduanya sebagaimana mereka mendidikku sewaktu kecil”.
Dalam Islam, istilah guru biasa disebut dengan ustadz, mu‟allim, murabby, mursyid, mudarris, dan mu‟adib.18
Kata ustadz biasa digunakan untuk memanggil profesor. Ini mengandung makna seorang guru dituntut untuk
17 Akmal Hawi, Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam, (Depok: Rajawali Press, 2013), 9 18 Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Raja Grafindo, 2010), 44
61
berkomitmen terhadap profesionalisme dalam mengemban tugasnya. Seseorang dikatakan profesional apabila di dalam dirinya mempunyai dedikasi yang tinggi terhadap tugasnya, sikap komitmen terhadap mutu proses dan hasil kerja, serta sikap continous improvement, yakni selalu berusaha memperbaiki dan memperbarui cara kerja sesuai dengan tuntutan zaman. Sahabat Ali bin Abi Thalib menyatakan “Didiklah anak-anakmu karena mereka diciptakan untuk zamannya dimasa depan dan bukan untuk zamanmu sekarang.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa guru mempunyai tugas yang berat selain harus menyiapkan peserta didik mengenai hal kekinian, guru harus mampu memberi bekal kepada peserta didik untuk masa depannya.
Kata mu‟allim berasal dari kata „ilm yang berarti menangkap hakikat sesuatu. Dalam setiap „ilm terkandung dimensi teoritis dan dimensi amaliah.19 Dari pengertian ini guru dituntut untuk mampu menjelaskan hakikat ilmu pengetahuan yang diajarkannya, serta menjelaskan dimensi teoritis dan praktisnya, dan berusaha membangkitkan peserta didik untuk mengamalkannya. Allah mengutus rasulNya antara lain agar beliau mengajarkan (ta‟lim) kandungan al Kitab dan al Hikmah, yakni kebijakan dan kemahiran melaksanakan hal yang mendatangkan manfaat dan menampik madharat. Ini mengandung makna bahwa seorang guru dituntut untuk mampu mengajarkan kandungan ilmu pengetahuan dan kebajikan dalam kehidupannya yang bisa mendatangkan manfaat dan berusaha semaksimal mungkin untuk
19
62
menjauhi madharat. Guru Fisika semisal, berusaha mengajarkan Fisika, yaitu mengajar nilai kepastian dan ketepatan dalam mengambil sikap dan tindakan dalam kehidupannya, yang dilandasi oleh pertimbangan yang rasional dan perhitungan yang matang. Guru Fisika bukan hanya sekedar mentransfer ilmu saja tetapi juga mendorong agar rumus-rumus Fisika tersebut dapat dihayati dalam kehidupan peserta didik untuk selanjutnya diwujudkan dalam bentuk sikap dan amaliah.
Kata murabby berasal dari kata dasar rabb al „alamin dan rabb al-nas, yakni yang menciptakan, mengatur dan memelihara alam seisinya termasuk manusia. Manusia sebagai khalifah di bumi diberi tugas untuk menumbuhkembangkan kreatifitasnya agar mampu mengkreasikan, mengatur dan memelihara alam seisinya. Dari pengertian ini, maka tugas guru adalah mendidik dan menyiapkan peserta didik agar mampu berkreasi, sekaligus mengatur dan memelihara hasil kreasinya agar tidak menimbulkan malapetaka bagi dirinya, masyarakat dan alam sekitarnya.
Kata mursyid biasa digunakan untuk guru dalam thariqah. Imam Waki‟ pernah memberi nasehat kepada Imam Syafi‟i bahwa untuk memperoleh ingatan diperlukan upaya meninggalkan perbuatan maksiat. Adakah hubungan antara ingatan dengan maksiat? Dalam konsep psikologi seseorang dikatakan sehat mentalnya jika terwujud keserasian antara fungsi jiwa atau tidak ada konflik antara jiwa dan lainnya. Fungsi jiwa antara lain
63
berupa dorongan, perasaan, ingatan, pikiran. Jika salah satu fungsinya terganggu maka dapat mengganggu fungsi ingatannya.
Kata mudaris berasal dari kata darasa-yadrusu-darsan yang berarti terhapus, hilang bekasnya menghapus, menjadikan usang, melatih, mempelajari. Dari pengertian ini maka tugas guru adalah berusaha mencerdaskan peserta didiknya, menghilangkan ketidaktahuan atau memberantas kebodohan mereka, serta melatih keterampilan mereka sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya.
Kata mu‟addib berasal dari adab, yang berarti modal, etika, dan adab atau kemajuan (kecerdasan, kebudayaan). Kata peradaban juga berasal dari kata dasar ada, sehingga guru adalah orang yang beradab sekaligus memiliki peran dan fungsi untuk membangun peradaban (civilization) yang berkualitas di masa depan.
Untuk menjadi seorang guru harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu: takwa kepada Allah, berilmu, sehat jasmani, dan berkelakuan baik.20 Adapun persyaratan lain adalah:
Harus memliki sifat rabbani
Menyempurnakan sifat rabbani dengan keikhlasan Memiliki rasa sabar
20
64
Memiliki kejujuran dengan menerangkan apa yang diajarkan dalam kehidupan pribadi
Meningkatkan wawasan dan pengetahuan
Mampu bersikap tegas dan meletakkan waktu sesuai dengan tempatnya sehingga dia mampu mengontrol diri dan peserta didiknya
Memahami dan menguasai psikologi anak dan memperlakukan mereka sesuai dengan kemampuan intelektual dan kesiapan psikologisnya. Mampu menguasai fenomena kehidupan sehingga memahami berbagai
kecenderungan dunia beserta dampak yang timbul bagi peserta didik. Dituntut memiliki sifat adil terhadap peserta didik.
Peranan guru sangatlah penting sebagai seorang pendidik, tidak terbatas hanya pada saat berlangsung interaksi pembelajaran dalam kelas. Seorang guru harus siap sedia mengontrol peserta didik kapan saja, dan dimana saja. Dalam pendidikan, efektifitas dapat ditinjau dari dua segi:
1. Kegiatan mengajar guru, menyangkut sejauh mana kegiatan belajar mengajar yang direncanakan dapat terlaksana.
2. Kegiatan belajar peserta didik, yang menyangkut sejauh mana tujuan pelajaran yang ingin dicapai melalui kegiatan belajar mengajar.
65
Akan tetapi dalam masyarakat orang masih berpendapat bahwa tugas guru adalah mengajar saja. Padahal secara luas peran guru meliputi:
Guru sebagai pengajar Guru sebagai pembimbing Guru sebagai fasilitator Guru sebagai ilmuwan Guru sebagai pribadi
Selain itu guru dituntut untuk mempunyai kompetensi seperti yang tercantum dalam UU Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang menyatakan bahwa kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Guru yang profesional adalah guru yang kompeten (berkemampuan). Ciri guru yang kompeten adalah (1) memiliki pendidikan, keahlian, dan keterampilan tertentu, (2) memiliki standar kompetensi yang sesuai dengan tuntutan kinerja sebagai guru profesional, (3) sertifikasi dan lisensi sebagai tanda kewenangan untuk melaksanakan tugas sebagai guru profesional, (4) kode etik guru yang mengatur perilaku guru sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat, (5) pengakuan masyarakat yang menggunakan jasa guru melalui pemberian kedudukan sosial.21
21 Imas Kurniasih, Sukses Mengimplementasikan Kurikulum 2013 (Jakarta: kata pena, 2014), 21
66