• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. PENDIDIKAN IMAN DAN MORAL ANAK OLEH ORANGTUA

A. Tujuan Perkawinan

3. Pendidikan Anak

Pendidikan anak merupakan konsekuensi moral dan pemenuhan dari kelahiran anak (prokreasi). Konsili Vatikan II, di dalam Gravissimum Educationis (GE) 50 a mengatakan bahwa “Hakekat perkawinan dan cinta kasih suami istri tertuju pada keturunan serta pendidikan untuk anak”. Kemudian KHK 1983 kanon 1136 mengatakan bahwa “Orangtua mempunyai kewajiban yang sangat berat dan hak primer untuk sekuat tenaga mengusahakan pendidikan anak, baik fisik, sosial, dan kultural maupun moral dan religius.” Oleh karena itu orangtua adalah pendidik utama dan pertama bagi putra-putrinya, terutama nilai-nilai dasar, nilai kehidupan dan nilai-nilai religius. Pendidikan anak mencakup banyak hal, namun penulis memfokuskan pada pendidikan iman dan pendidikan moral dalam keluarga. Dengan demikian orangtua ikut membangun Gereja melalui pendidikan anak-anak secara manusiawi an kristiani sepenuhnya dan menjadi Gereja Rumah Tangga (ecclesia domestica) dalam menjalankan tugas-tugas ilahi dan gerejawi terhadap anak-anak, sehingga dapat menemukan guru iman sejati dalam diri orangtua mereka (Catur Raharso, 2006: 62).

Tugas menyelenggarakan pendidikan pertama-tama menjadi tanggung jawab orangtua, memerlukan bantuan seluruh masyarakat (GE 3). Orangtua hendaknya mendidik anak dengan sungguh-sungguh dan jangan sampai menyesatkan pikiran anak terdapat pada Matius 18:6 mengatakan bahwa ”Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya

lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut.” Hal ini menegaskan bahwa dalam pengajaran jangan sampai menyesatkan pikiran anak.

B.Pendidikan Iman

Kata pendidikan berasal dari kata “pedagogi” yakni “paid” artinya anak dan “agogos” artinya membimbing. Pedagogi adalah ilmu dalam membimbing anak. Pendidikan yaitu sebuah proses pembelajaran bagi setiap individu untuk mencapai pengetahuan dan pemahaman yang lebih tinggi mengenai obyek tertentu dan spesifik. Pengetahuan yang diperoleh secara formal tersebut berakibat pada setiap individu yaitu memiliki pola pikir, perilaku dan akhlak yang sesuai dengan pendidikan yang diperolehnya (KBBI).

Proses pertumbuhan adalah proses penyesuaian pada setiap fase dan menambah kecakapan dalam perkembangan seseorang melalui pendidikan. Iman merupakan tanggapan manusia atas wahyu Allah dalam ketaatan iman, dengan penuh kebebasan. Kebebasan dimaksud agar manusia dapat menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah dengan mempersembahkan kepatuhan akal budi, kehendak dan dengan sukarela menerima sebagai kebenaran wahyu yang dikaruniakan oleh-Nya. Dalam beriman kepada Allah, manusia membutuhkan rahmat Allah yang menolong untuk menyadari kehadiran Allah di dalam kehidupan sehari-hari dan Roh Kudus akan menyempurnakan iman manusia melalui kurnia-kurnia-Nya (DV 5). Allah adalah Sang Pencipta dan sumber kehidupan dan sesuatu yang berkaitan dengan Allah itu ialah iman, maka perlulah orangtua mendidik iman anaknya, sehingga anak mengenal siapa itu Allah dan segala karya-Nya serta mampu menjalin relasi intim dengan Allah.

Iman datang dari pendengaran (fides ex auditu) dan pendengaran timbul dari pewartaan sabda dan karya Kristus (Rom. 10:17).Oleh karena itu, tugas orangtua adalah mewartakan Kristus kepada anak-anak mereka sejak dari kandungan hingga dewasa. Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus mengatakan bahwa “Orangtua terutama seorang ayah untuk mendidik anak berdasarkan ajaran dan nasehat Tuhan” (Ef. 6:4).

PPK 31 mengatakan bahwa “Pendidikan dalam keluarga harus memperhatikan pendidikan iman dan moral katolik, karena keluarga adalah sekolah nilai-nilai kemanusiaan dan iman katolik.” Kemudian Pedoman Pastoral keluarga art. 32 mengatakan “Salah satu aspek pendidikan iman adalah pemberian dan pengembangan pengetahuan iman melalui harta kekayaan Gereja, yakni Kitab Suci, katekismus, dokumen Gereja dan buku-buku katekese.”

Pada zaman Skolastik (abad XIII-XI) Thomas Aquino mengatakan bahwa menurut kodrat yang khas manusiawi, hubungan seks suami-istri juga terarah kepada pendidikan anak yang dilahirkan (Hadiwardoyo, 2015: 67-68). KHK 1917§ 1 menekankan tentang tujuan primer dalam sebuah perkawinan yaitu prokreasi dan pendidikan untuk anak yang dilahirkan. Paus Yohanes Paulus II dalam surat kepada keluarga-keluarga artikel 16 mengatakan bahwa “Mendidik anak merupakan suatu sarana komunikasi yang hidup, bukan hanya menciptakan suatu hubungan yang mendalam antara pendidik dengan orang yang dididik, tetapi juga membuat mereka ikut ambil bagian dalam kebenaran dan kasih.”

Proses menurunkan anak tidak selesai pada saat kelahiran, tetapi hendaknya berlangsung terus melalui kehidupan sampai anak mencapai kedewasaannya (Eminyan, 2001: 152). Oleh karena itu setiap orangtua memiliki tanggungjawab mendidik iman anak, tidak hanya merawat dan memberi makan. Orangtua bertanggungjawab mampu memberikan pendidikan iman kepada anak yang dilahirkan, karena pendidikan adalah konsekuensi dari kelahiran anak.

Manusia dipanggil untuk hidup dalam kebenaran dan kasih, serta menemukan pemenuhan melalui pemberian diri yang tulus, kebenaran itu menyangkut dua hal, yaitu menjadi pendidik dan orang yang dididik.Manusia sebagai seorang pendidik bukan seorang yang hanya memberikan pengajaran berupa materi, melainkan seorang pribadi yang dapat melahirkan dalam arti rohani.Paus Yohanes Paulus II dalam surat kepada keluarga-keluarga art. 16mengatakan bahwa “Mendidik anak dianggap sebagai suatu kerasulan yang sejati, karena orangtua atau pendidik tidak hanya mempersiapkan pendidikan untuk anaknya, tetapi sekaligus untuk generasi berikutnya.”

Paus Yohanes Paulus II dalam surat kepada keluarga-keluarga 16 mengatakan bahwa “Tugas mendidik anak merupakan sarana yang digunakan untuk komunikasi yang hidup, tidak hanya menciptakan hubungan yang mendalam antara orangtua dan anak, tetapi juga ikut ambil bagian dalam kebenaran dan kasih yang bertujuan terakhir dimana setiap orang akan dipanggil oleh Allah Tri Tunggal.”

1. Makna Pendidikan Iman

Iman merupakan hubungan pribadi manusia dengan Allah penciptanya karena iman lahir dari suatu pengalaman perjumpaan dengan Allah yang hidup yang memanggil kita dan mewahyukan kasih-Nya (LF 4). Maka pendidikan iman berarti usaha-usaha orang dewasa untuk membantu anak-anak agar mampu menghormati dan mengasihi Allah sebagai Pencipta dan Penyelamat (Pudjiono, 2007: 10). Iman membantu untuk memahami seluruh kedalaman dan kekayaan arti melahirkan anak-anak sebagai tanda kasih Sang Pencipta yang mempercayakan kepada kita misteri seorang pribadi yang baru yang perlu kita rawat, kembangkan dan cintai (LF 52). Beriman berarti menerima atau mempercayai sesuatu yang dikatakan oleh orang lain. Iman memberi pengetahuan akan Allah, diri kita, alam tempat kita hidup, namun sifat khas dari pengetahuan baru tersebut dapat kita miliki hanya dengan iman, tidak hanya dengan penalaran. Paus Yohanes Paulus II mengatakan dalam suratnya kepada keluarga-keluarga 15 mengatakan bahwa “Cinta yang dipercayakan Allah kepada laki-laki dan perempuan di dalam Sakramen Perkawinan sebagai prinsip dasar dari kewajiban dan tanggung jawab timbal balik bagi mereka sebagai pasangan suami istri dan sebagai orangtua bagi anak-anak mereka. Oleh karena itu, dalam sakramen perkawinan mereka saling memberi dan menerima dan menyatakan kesediaan mereka untuk menerima dan mendidik anak sesuai dengan iman sebagai orang katolik.”

2. Tahap-Tahap Perkembangan Iman

Iman anak berkembang sesuai dengan tahap-tahap perkembangan usia. James W. Fowler adalah seorang psikolog dan teolog Amerika Serikat, teorinya dipengaruhi oleh perkembangan masa kecilnya dan suasana keluarga dimana ia dibesarkan. Ia membedakan antara kepercayaan eksistensial (iman) dengan agama dan juga membedakan iman dari kepercayaan (Budiningsih, 2008: 34-35).

Hasil analisis data yang diperoleh melalui wawancara semi klinisnya, Fowler menemukan teori baru yang dikenal dengan istilah Faith Development Theory (Teori Perkembangan Kepercayaan) dengan tujuh tahap. James W. Fowler membagi teori perkembangan imannya ke dalam tujuh kategori yakni, awal- elementer (Primal Faith), intuitif-proyektif (Intuitive-ProjectiveFaith), mistis-literal (Mithic-Literal Faith), sintesis-konvensional (Synthetic-Conventional Faith),individual-reflektif (Individuative-Reflective Faith), eksistensial-konjungtif (Conjunctive Faith), dan eksistensial-universalitas (Universalizing Faith). Namun penulis membahas tiga kategori sesuai dengan penelitian yang dilakukan,yaitu: primal faith, intuitive-projective faith dan mithic-literal faith.

a. Awal-Elementer (Primal Faith)

Tahapan usia kanak-kanak 0-2 atau 3 tahun disebut sebagai “Tahapan Primal”, benih iman dalam diri anak terbentuk melalui rasa percaya terhadap orang yang merawat dan membesarkannya. Kepercayaan ini disebut pratahap “kepercayaan yang belum terdiferensiasi” (Undifferentiated Faith), karena ciri disposisi praverbal bayi terhadap lingkungannya belum dirasakan dan disadari

sebagai sesuatau yang terpisah dan berbeda dari dirinya serta daya kepercayaan, keberanian, cinta maupun harapannya belum dapat ia bedakan melalui proses pertumbuhannya, melainkan masih tercampur dalam keadaan yang samar-samar (Cremers, 1995: 27).

Kepercayaan elementer adalah rasa yang menyusun gambaran atau pragambaran. Fowler menyebut gambaran sebagai preimages, karena disatu pihak gambaran dibentuk oleh adanya perasaan sebelum kemampuan berbahasa dan daya konseptual anak mulai berfungsi, namun dilainpihak telah terbentuk suatu kepercayaan diri dari seluruh kenyataan lainnya, sehingga pragambaran tentang Allah dan lingkungannya akhirnya matriks ontogenetiknya pada gambaran anak tentang orang yang mengasuhnya (Cremers, 1995: 99-100).

Pengalaman anak terhadap orang yang merawat, mengasuh dan memberikannya kehangatan serta kasih sayang, terutama ibu dan ayahnya akan mempengaruhi gambaran asli tentang Allah (Cremers, 1995: 101), sebaliknya pengalaman negatif sejak kanak-kanak dalam keluarga yang kurang harmonis terlebih perlakuan oangtua yang keras akan membuat anak memiliki gambaran yang negatif pula terhadap Allah yang transenden. Dengan demikian sebagai pendidik utama dan pertama, orangtua menumbuhkan keyakinan dalam diri anak bahwa sebagai manusia yang secitra dengan Allah, ia adalah insan yang dicintai dan dihargai.

b. Intuitif-Proyektif (Intuitive-Projective Faith)

Tahapan usia 3-7 tahun disebut tahapan intuitif proyektif. Intuisi memungkinkan anak untuk menangkap nilai-nilai religius yang dipantulkan oleh orang disekitarnya terutama kedua orangtua. Disini daya imajinasi dan dunia gambaran anak sangat berkembang, namun pada tahap ini anak belum memiliki kemampuan operasi logis yang mantap, tetapi dengan timbulnya kemampuan simbolis dan bahasa maka imajinasi dan dunia gambaran dirangsang oleh cerita, gerak, isyarat, upacara, simbol maupun kata-kata (Budiningsih, 2008: 37).

Dunia gambaran dan imajinasi berkembang secara bebas karena belum dikontrol oleh pikiran logis dan operasi-operasi kognitif lain yang baru berkembang kemudian (budiningsih, 2008: 37). Pada tahap inilah akan membuka kepekaan anak terhadap dunia misteri dan Yang Ilahi serta tanda-tanda kekuasaannya (Cremers, 1995: 28).

Pada tahap ini anak lebih banyak meniru tingkah laku orang dewasa baik vokal saat berbicara dan anak mulai menguasai dan menggunakan bahasa menurut peraturan bahasa itu sendiri, sehingga memiliki medium untuk menyusun, mengatur dan mengantarai seluruh relasinya dengan dunia (Cremers, 1995: 104- 105). Di sini cerita dari orangtua membentuk imajinasi dalam pikiran anak mengenai gambaran tentang Tuhan, misalnya ketika orangtua mengajarkan anak menyebut Allah sebagai Bapa, maka dalam pikiran anak membayangkan Allah seperti bapa yang memiliki jenggot, baik, berambut putih seperti yang dilihatnya dalam kartun atau bahkan anak membayangkan bahwa Allah seperti kakek atau ayahnya.

c. Mistis-Literal (Misthic-Literal Faith)

Bentuk kepercayaan biasanya muncul pada usia 7 atau 8-12 tahun. Gambaran emosional dan imajinal masih berpengaruh kuat, tetapi muncul pula operasi-operasi logis yang melampaui tingkat perasaan dan imajinasi pada tahap sebelumnya. Operasi-operasi tersebut masih bersifat konkret, tetapi sudah memungkinkan suatu daya pikir logis mengunakan kategori-kategori sebab-akibat, ruang dan waktu (Budiningsih: 2008:38). Tahapan mistis literal, peran kelompok atau intuisi kemasyarakatan berperan penting dalam perkembangan iman anak, misalnya melalui sekolah, bina iman atau PIA, sekolah minggu atau yang lebih di kenal dengan SEKAMI.

3. Faktor Pendukung Perkembangan Iman

Dalam Ensiklik Paus Fransiskus Luman Fidei 52-53 mengatakan bahwa “Lingkungan pertama dimana iman menerangi kota manusia adalah keluarga.” Iman menemani tahap setiap kehidupan, diawali dengan masa kanak-kanak ketika anak belajar percaya pada kasih orangtuanya. Iman tidak dapat bertumbuh dengan sendirinya tanpa faktor pendukung dalam memperkembangankan iman, baik intern maupun ekstern. Perkembangan iman mengantar dan mendorong anak semakin dekat dan mencintai Allah.

Soerjanto (2007: 11-12) memaparkan beberapa faktor pendukung dalam perkembangan iman anak antara lain:

a. Keyakinan Bahwa Allah Mencintai Dan Menganugerahi Berbagai Talenta Dalam keluarga perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak, dengan mengembangkan penghargaan yang mendalam terhadap martabat pribadi mereka, serta sikap sungguh menghormati dan memperhatikan hak-hak mereka, sehingga anak-anak merasakan cinta yang tulus dari keluarga. Sebagai citra Allah, setiap anak dianugerahi berbagai talenta bagaikan benih yang masih dapat bertumbuh dan berkembang. Maka orangtua hendaknya membantu anak-anak supaya memahami diri sebagai insan yang berpotensi (Soerjanto, 2007:12). Oleh karena itu cinta dari orangtua merupakan gambaran cinta dari Allah kepada anak-anak, sehinggaanak-anak sungguh merasakan bahwa Allah mencintai pribadi mereka dan menganugerahi berbagai talenta.

b. Teladan Iman Dari Orangtua

Teladan iman orangtua dan orang disekitar dapat membantu anak dalam proses beriman. Iman anak-anak dapat berkembang ketika mereka hidup bersama dengan orangtua yang sungguh beriman (Soerjanto, 2007: 12). Anak kecil adalah seorang peniru yang hebat, maka ketika orangtua memiliki teladan hidup yang baik, terutama dalam hal teladan iman, maka anak dapat meneladani atau meniru orangtuanya. Gereja mewariskan seluruh kekayaan imannya kepada anak-anak sebagai generasi muda penerus Gereja. Oleh karena itu, warisan iman diterima

anak-anak melalui keluarga. Pewarisan iman terjadi melalui pembaptisan sebagai pintu masuk bagi setiap orang dalam menerima sakramen-sakramen lainnya.

Orangtua sebagai figur untuk diteladani oleh anak. Allah sebagai Bapa, maka peran seorang ayah berpengaruh terhadap pandangan anak tentang Allah Bapa.Ketika anak tidak mendapatkan cinta dari seorang ayah atau gambaran ayah yang keras, kejam, pemabuk, suka memukul, memaki dan suka membatasi kebebasan anak, maka menjadi gambaran Allah yang ia yakini.

Pada suatu kali Yesus sedang berdoa dan para murid memintaNya untuk mengajari mereka berdoa, seperti halnya Yohanes mengajari para muridnya.Yesus mengajarkan para murid-Nya memanggil Allah sebagai “Bapa” sebagaimana Yesus menyebut-Nya dengan sebutan Bapa (Luk. 11:1-2). Ketika Yesus berada diatas salib, Yesus mengatakan bahwa Bunda Maria adalah Ibu bagi mereka dan sejak saat itu para murid menerima Maria sebagai ibu (Yoh. 19:27). Yesus menunjukkan bahwa Allah yang diimani sungguh sangat dekat. Allah bersemayam dalam hati dan tinggal bersama kita, sehingga kita mengalami kehadiran Allah setiap saat dalam figur seorang ayah dan seorang ibu.

Maka teladan dari orangtua berpengaruh pada anak-anak untuk dapat menerima dan mengimani Allah yang transenden, serta menghormati Bunda Maria. Dalam kehidupan keluarga, keteladanan seorang ayah lebih menjadi perhatian, karena sosok ayah berpengaruh di dalam memandang Allah sebagai Bapa yang Maha Rahim, Maha Kasih, Maha Pengampun dan lain sebagainya.

c. Rasa Aman Untuk Mengagumi Dan Bertanya

Pada saat anak merasa aman dalam mengagumi sesuatu,dapat menimbulkan pertanyaan yang membantu untuk berkembang, terlebih ketika anak-anak bertanya untuk menambah wawasannya mengenai iman. Perkembangan iman membantu anak berkembang mendekati kebaikan dan kebenaran, kebaikan dan kebenaran dapat dicapai bila anak lebih dahulu mengagumi segala sesuatu yang ia lihat (Soerjanto, 2007: 12).

Anak-anak memiliki sikap ingin tahu yang sangat besar. Pada saat anak mengagumi sesuatu, maka menimbulkan banyak pertanyaan dalam pikirannya mengenai sesuatu yang dikagumi. Maka orangtua diharapkan dapat menjalin relasi yang personal dan fungsional dengan anak.

PPK 25 mengatakan bahwa ”Orangtua hendaknya menjalin relasi yang bersifat personal dan fungsional, oleh karena itu dalam membangun relasi personal orangtua menghargai kepribadian dan potensi anak dan tidak bertindak sewenang-wenang, agar proses perkembangan kepribadian anak secara utuh dan menyeluruh sebab orangtua sebagai pendidik dapat mengarahkan dan membina anak, ketika anak bertanya karena merasa kagum. Kemudian melalui relasi yang fungsional orangtua diharapkan menyadari dan melaksanakan tugasnya sebagai pendidik utama dan pertama dengan mengarahkan, membina dengan menasehati atau keteladanan hidup.

Rasa kagum dapat berlanjut dengan aneka pertanyaan jujur yang menuntunnya menuju kebenaran (Soerjanto, 2007: 12). Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang besar, karena kagum terhadap sesuatu yang baru, sehingga

menimbulkan pertanyaan. Rasa ingin tahu mendorong anak untuk bertanya sampai ia mendapatkan jawaban yang memuaskan. Pertanyaan anak yang polos dan kritis, kadang sikap orangtua mengabaikan bahkan memarahi, sebab tidak dapat menjawab. Hal ini terjadi pada Yesus ketika masih kanak-kanak. Pada saat itu Yesus bersama dengan orangtuanya pergi ke Yerusalem merayakan paskah orang Yahudi. Yesus bertemu dengan para alim ulama sambil mendengarkan perkataan mereka, Yesus mengajukan banyak pertanyaan, sehingga mereka tercengang (Luk.2:46).

Pada saat Yusuf dan Maria mencari Yesus, Ia menanyakan alasan mengapa harus mencari-Nya. Orangtua akan melakukan hal yang sama, jika anaknya hilang. Setelah orangtua susah mencari dan setelah menemukan mendapat pertanyaan alasan mencari, dapat menimbulkan sikap kurang sabar bahkan marah serta mengatakan tidak sopan. Maria sebagai seorang ibu yang penuh kasih sayang, menyimpan semuanya dalam hati (Luk. 2:49-51).

d. Dorongan Untuk Mencintai Alam Dan Segala Isinya

Perkembangan iman mengantar anak semakin dekat dengan Allah. Anak semakin dekat dengan Allah Sang Pencipta, pada saat anak diajarkan mencintai dan menghargai alam dan segala isinya, terutama mahkluk-makhluk hidup terkhusus sesama manusia (Soerjanto, 2007: 12). Orangtua mengajarkan anak untuk mencintai sesama, maka secara tidak langsung telah mengajarkan anak mencintai Allah yang tak terlihat (1Yoh. 4:20).

Allah memberikan manusia segala tumbuh-tumbuhan, pepohonan, segala binatang baik di darat, air maupun di udara, agar manusia dapat memenuhi kelangsungan hidupnya. Allah menciptakan segalanya dan menempatkan manusia dalam taman Eden. Allah menghendaki agar manusia merawat, menjaga dan mencintai ciptaan yang diberikan-Nya itu (Kej. 1:29-30, 2:15).

Beberapa orang kudusyang akrab dan mencintai makhluk ciptaan Allah, contohnya Santo Fransiskus dari Asisi. Orangtua dapat memperkenalkan kisah-kisah orang kudus kepada anak-anak, sehingga anak-anak semakin mencintai alam dan segala isinya.

4. Faktor Penyebab Gagalnya Pendidikan Iman Dalam Keluarga

Pendidikan dalam keluarga dapat terlaksana, jika relasi orangtua dan anak-anak terjalin dengan baik. Pada saat kurangnya komunikasi antara orangtua dan anak-anakdapat merugikan proses pendidikan. Pudjiono (2007: 5) mengatakan beberapa faktor yang menyebabkan kegagalan orangtua dalam memberikan pendidikan iman bagi anak dalam keluarga antara lain:

a. Orangtua Kurang Menghayati Iman

Iman lahir didalam hati manusia merupakan tindakan Allah.Iman berkembang melalui kaidah-kaidah tertentu, seperti perkembangan manusia sendiri. Sebaliknya iman tidak bertumbuh dan berkembang, jika tidak dipeliharamelalui Sabda Allah dan doa kehidupan setiap hari. Hidup manusia sama halnya seperti tanaman, jika tidak diberi pupuk dan kurang mendapat

sumber air yang cukup, maka tumbuhan menjadi kerdil bahkan mati. Demikian halnya dengan iman (Powell, 1991: 130).

Dalam masyarakat dapat ditemukan orang katolik sejati, yang memiliki pengetahuan mengenai iman,melainkanjuga menghayati iman yang diwujudkan dalam tindakan nyata hidup sehari-hari, Selain itu ditemukan keluarga katolik beriman KTP, maksudnya sebatas tanda pengenal sebagai orang katolik, tetapi jarang pergi ke gereja dan kurang berdoa. Anak-anak memperhatikan tingkah laku orang dewasa, sehingga ketika orangtua menyuruh anak berdoa atau pergi ke gereja, namun orangtua sendiri tidak melakukan, maka anak mengalami kesulitan melaksanakannya. Sebaliknya ketika orangtua menghayati imannya secara baik dan benar,maka anak menuruti perkataan orangtua untuk mengikuti kegiatan hidup menggereja ataupun berdoa.

b. Orangtua Mempercayakan Tanggungjawab Pada Pihak Lain

Pendidikan pertama-tama diperoleh anak didalam keluarga, sedangkan pendidikan formal di sekolah sebagai pelengkap pendidikan yang diperoleh di rumah dari orangtua. PPK 31 mengatakan bahwa “Pendidikan dalam keluarga harus memperhatikan pendidikan iman dan moral katolik, karena keluarga adalah sekolah nilai-nilai kemanusiaan dan iman katolik.”

Kesibukan orangtua bekerja mencari nafkah, mendorong orangtua menyerahkan tanggungjawab mendidik anak kepada pihak lain, misalnya pengasuh, guru agama atau lembaga sekolah, sehingga pendidikan iman anak kurang diperhatikan. PPK 30 mengatakan bahwa “Pendidikan formal di sekolah

cenderung menekankan kemampuan intelektual, mengakibatkan anak-anak kurang memiliki kepekaan, solidaritas dan nilai-nilai hidup beriman.”

c. Orangtua Kurang Mendidik Anak Hidup Di Jalan Tuhan

Orangtua mengajarkan anak-anak agar taat pada orangtua, sama dengan mengajarkan anak-anak taat kepada Allah, karena orangtua adalah gambaran Allah yang nyata dalam keluarga (Ef. 6:1). Orangtua hendaknya mendidik anaknya dijalan Tuhan, karena Tuhan sebagai jalan dan menuntun, sehingga anak-anak tidak menyimpang dari jalan itu (Ams. 4:11, 22:6).

Dalam kehidupan ditemukan orangtua kurang mendidik anak-anak hidup dijalan Tuhan dan membiarkan anak-anak melakukan sesuai keinginan hatinya, sehingga ketika anak-anak menjadi dewasa, mereka dapat melakukan hal-hal yang kurang baik dan salah. Yesus mengatakan bahwa orangtua yang menyesatkan pikiran anak-anak, maka lebih baik sebuah batu diikatkan pada lehernya, kemudian ditenggelamkan ke dasar laut (Mat. 18:6, Mrk. 9:42, Luk 17:2) misalnya, orangtua mengajarkan anak-anak mencuri, berbuat curang, menipu, balas dendam dan perbuatan jahat lainnya. Orangtua yang salah dalam mendidik anak-anak, maka suatu saat anak-anak menjadi duri dalam daging orangtua sendiri, karena itulah Yesus dengan keras mengatakan orang yang salah dalam mendidik anak lebih baik mati.

d. Perkembangan Jaman (Media) Menjauhkan Anak Dari Tuhan

Manusia jaman sekarang dari anak-anak, remaja, orang dewasa maupun orang lanjut usiatidak dapat dipisahkan dari budaya media. Budaya media sendiri

Dokumen terkait