BAB II. PENDIDIKAN IMAN DAN MORAL ANAK OLEH ORANGTUA
C. Pendidikan Moral
Moral berasal dari bahasa Latin “mos” (mores) yang berarti kebiasaan, adat istiadat, tata cara kehidupan. Magnis Suseno (1987: 18-19) mengatakan bahwa “Moral selalu mengacu pada baik buruknya manusia sebagai manusia, karena bidang moral adalah bidang kehidupan manusia dilihat dari segi kebaikannya sebagai manusia”. Pendidikan moral adalah upaya membawa orang
hidup dan berperilaku dengan baik. Hal tersebut juga disinggung dalam Kitab Perjanjian Lama yang berbunyi: “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya ia tidak akan menyimpang dari jalan itu” (Ams. 22:6). Gereja menyadari tugasnya mengusahakan pendidikan moral dan keagamaan bagi anak-anak dalam keluarga katolik. Oleh karena itu, Gereja hadir dengan kasih keprihatinan serta bantuannya yang istimewa bagi anak-anak yang dididik dalam sekolah non-katolik sesuai dengan prinsip moral yang dianut oleh keluarganya (GE 7).
KHK 1983 kanon 795 membicarakan mengenai pembinaan moral bagi anak dan kaum muda isinya:
“Karena pendidikan yang sejati harus meliputi pembentukan pribadi manusia seutuhnya yang harus memperhatikan tujuan akhir dari manusia dan sekaligus pula kesejahteraan umum dari masyarakat, maka anak-anak dan kaum muda hendaknya dibina sedemikian sehingga dapat mengembangkan bakat-bakat, fisik, moral, intelektual mereka secara harmonis agar mereka memperoleh rasa tanggungjawab yang lebih sempurna dan dapat menggunakan kebebasan mereka dengan benar dan terbina pula untuk berperan serta secara aktif dalam kehidupan sosial”. Moral terbagi dua yakni segi batiniah dan segi lahiriah. Oleh karena itu, orang dapat dikatakan sebagai orang baik, apabila memiliki sikap batin yang baik dan melakukan perbuatan lahiriah yang baik pula. Dengan demikian moral dapat diukur dengan tepat jika memperhatikan kedua segi tersebut (Hadiwardoyo, 1990: 113). Namun orang cenderung hanya melihat perbuatan lahiriah.
1. Makna Pendidikan Moral
Moral selalu mengacu pada baik buruknya manusia sebagai manusia. Norma hukum tidak sama dengan norma moral. Norma hukum ialah norma yang
tidak dibiarkan dilanggar. Orang yang melanggar pasti dikenakan hukuman sebagai sanksi. Bisa saja orang melanggar hukum karena mendengarkan suara hati dan karena kesadaran moral sebab hukum tidak dipakai untuk mengukur baik buruknya seseorang sebagai manusia melainkan untuk menjamin ketertiban dalam masyarakat (Magnis-Suseno, 1987:19). Maka orantua perlu mengajarkan nilai-nilai moral yang baik kepada anak-anak, sehingga anak-anak bisa memahami dan menerapkannya.
2. Tahap-Tahap Perkembangan Moral Menurut L. Kohlberg
Orangtua perlu mengetahui tahap-tahap perkembangan moral anak, karena bimbingan atau pendidikan diberikan sesuai dengan tingkat usia masing-masing anak. Tahap-tahap perkembangan moral sesuai dengan usia anak dapat membantu orangtua dalam memberikan pendidikan moral kepada anaknya.
Lawrence Kohlberg seorang Amerika sebagai professor pendidikan dan psikologi sosial di Universitas Harvard. Di tempat itu ia mengadakan suatu penelitian dan memimpin banyak penelitian di bidang perkembangan moral. Ronald Duska dan Mariellen Whelan menceritakan dalam bukunya yang berjudul perkembangan moral bahwa Kohlberg melakukan penelitian pada 50 pria Amerika yang berumur 10-28 tahun selama 18 tahun dengan mewawancarai mereka setiap 3 tahun. Ia mengidentifikasikan adanya 6 sikap perkembangan yang pada umumnya dapat dibedakan secara tegas yang disebut orientasi atau perspektif. 6 orientasi itu menjadi dasar dari setiap tahap perkembangan moral (Duska dan Whelan, 1982: 56).
Kohlberg dalam penelitiannya menggunakan sekumpulan cerita ilustrasi, yang membawa orang pada suatu dilema moral, salah satunya adalah cerita ilustrasi yang dikenal sebagai dilemma Heinz, sebagai berikut:
“ Di Eropa, ada seorang wanita yang mendekati ajalnya, karena mengidap penyakit sejenis kanker. Para dokter berpendapat bahwa hanya ada satu macam obat yang mungkin dapat menyembuhkan penyakit tersebut. obat itu sejenis radium hasil temuan seorang apoteker. Namun biaya pembuatan obat tersebut sangat mahal sehingga sang apoteker melipatkan harga obat tersebut sepuluh kali lipat dari biaya pembuatannya. Untuk membuat obat tersebut sang apoteker mengeluarkan $200 dan untuk satu dosis kecil obat tersebut dijual seharga $2,000. Sedangkan Heinz pergi ke semua kenalannya untuk meminjam uang tetapi yang ia peroleh hanya $1,000 separuh dari harga obat yang ingin dibeli. Heinz mengatakan kepada sang apoteker bahwa istrinya hampir meninggal dan membutuhkan obat itu. Ia meminta agar sang apoteker menjualnya lebih murah atau kalau boleh membayar kekurangannya dikemudian hari. Namun sang apoteker mengatakan “ jangan begitu, saya sudah menemukan obat itu dan saya ingin mendapatkan keuntungan dari hasil penemuan saya itu.” Heinz menjadi putus harapan, dan kemudian menggedor toko orang itu dan mencuri obat tersebut untuk istrinya”. (Duska dan Whelan,1987:58). Kohlberg menemukan dari jawaban responden sebagai tahap-tahap perkembangan moral. Tahap perkembangan moral anak ada tiga tingkat dan dengan dua tahap setiap tingkatan sebagai berikut:
a. Tingkat Pra-Konvensional
Pada tingkat pra-konvensional, anak sangat peka terhadap berbagai peraturan berlatarbelakang budaya dan penilaian baik-buruk, benar-salah, namun mengartikannya dari sudut akibat-akibat fisik suatu tindakan yang dilakukan (Duska dan Whelan, 1982: 60). Pada tingkat ini, terjadi pada anak-anak berusia empat sampai sepuluh tahun. Kecenderungan utama anak dalam berinteraksi
dengan orang lain adalah menghindari hukuman atau mencapai maksimalisasi kenikmatan (hedonistis). Dalam tingkat pra- konvensional ini dibagi menjadi dua tahap yaitu:
(1) Tahap Satu: Hukuman dan ketaatan
Orientasi pada hukuman dan rasa hormat yang tak dipersoalkan terhadap kekuasan yang lebih tinggi sedangkan nilai manusiawi tidak diperhatikan. Akibat fisik tindakan, terlepas arti atau nilai manusiawinya, menentukan sifat baik dan sifat buruk dari tindakan (Kohlberg, 1995: 81), misalnya ketika anak berusaha keras belajar bukan karena ingin menambah ilmu, namun semata-mata supaya mendapat nilai yang tinggi, sehingga mendapat pujian atau apresiasi dari orangtua dan orang sekitarnya. Anak menaati suatu peraturan bukan didasarkan hormat, melainkan menghindari suatu hukuman, misalnya anak tidak pulang sampai larut malam bukan karena mengetahui itu kurang baik, melainkan ketika pulang ia tidak mendapatkan hukuman dari ayahnya maupun ibunya.
(2) Tahap Dua : Relativisme-Instrumental
Perbuatan yang benar adalah perbuatan yang secara instrumental memuas- kan kebutuhan individu sendiri dan kadang-kadang memperalat orang lain.
Hubungan antar manusia dipandang seperti hubungan di tempat umum atau hubungan dagang. Terdapat unsur-unsur kewajaran, timbal-balik, dan persamaan
pembagian, akan tetapi semuanya itu selalu ditafsirkan secara fisis pragmatis. Kohlberg memberikan contoh: ketika kamu menggaruk punggungku, maka aku melakukan hal yang sama (Duska dan Whelan, 1982: 60).
Pada tahap ini, anak melakukan sesuatu agar mendapatkan yang sama, ada unsur balas budi. Kohlberg memberikan contoh lain: seorang siswa mempunyai sebuah pekerjaan rumah dari gurunya, dia meminta kakak membantunya dan apabila kakak membantu, dia akan membantu kakaknya membersihkan pekerjaan rumah.
b. Tingkat Konvensional
Pada tingkat ini, memenuhi harapan-harapan keluarga, kelompok atau bangsa dianggap sebagai sesuatu yang berharga pada dirinya sendiri, tanpa mengindahkan akibat yang segera dan nyata, karena ketika menyimpang dari harapan kelompok, maka akan terisolasi. Ia berusaha menyesuaikan diri dengan tatanan sosial untuk mempertahankan, mendukung dan membenarkan tatanan sosial itu. Maka pada tingkat konvensional perasaan yang lebih dominan adalah rasa takut dan malu (Duska dan Whelan,1982:60).
(3) Tahap Tiga: Kesepakatan Antara Pribadi Atau Orientasi Anak Manis
Kohlberg mengatakan bahwa perilaku yang baik adalah perilaku yang dapat menyenangkan atau membantu orang lain, dan yang disetujui oleh mereka. Anak berusaha bersikap baik atau manis, agar dapat diterima dalam kelompok dan lingkungan ia tinggal, misalnya: seorang anak terlibat aktif dalam kerja bakti di
desanya, dengan maksud agar warga di desanya memiliki pandangan baik tentang dirinya dengan kata lain anak mencari persetujuan dengan berprilaku baik (Kholberg, 1995:81).
(4) Tahap Empat: Hukuman Dan Ketertiban
Pada tahap ini, orientasi terhadap otoritas, peraturan yang pasti dan pemeliharaan tata aturan sosial. Perbuatan yang benar adalah menjalankan tugas, memperlihatkan rasa hormat terhadap otoritas, dan pemeliharaan tata aturan sosial tertentu demi tata aturan itu sendiri. Orang mendapatkan rasa hormat dengan berperilaku menurut kewajibannya, misalnya seorang siswa mematuhi tata tertib disekolah dengan memakai seragam lengkap dalam upacara bendera, demi mematuhi aturan dan menghindari hukuman karena pelanggaran (Kholberg, 1995:82).
c. Tingkat Pasca-Konvensional
Pada tingkat pasca-konvensional, orang bertindak sebagai subyek hukum dengan mengatasi hukum yang ada. Pada tahap ini, orang mulai menyadari bahwa hukum merupakan kontrak sosial demi ketertiban dan kesejahteraan. Maka ketika hukum tidak sesuai dengan martabat manusia, maka hukum dapat dirumuskan kembali. Perasaan cenderung pada rasa bersalah, sehingga ukuran yang dipakai untuk suatu keputusan moral adalah mendengarkan suara hati atau hati nurani (Budiningsih, 2008: 30). Pada tingkat pasca-konvensional ini dibagi kedalam dua tahap yaitu:
(5) Tahap Lima: Kontrak Sosial Legalistis
Suatu orientasi kontrak sosial, umumnya bernada dasar legalistis dan utilitarian. Perbuatan benar cenderung didefinisikan dari segi hak-hak bersama dan ukuran-ukuran yang telah diuji secara kritis dan disepakati oleh seluruh masyarakat, terdapat kesadaran yang jelas mengenai relativisme nilai-nilai dan pendapat-pendapat pribadi serta suatu tekanan pada prosedur yang sesuai untuk mencapai kesepakatan (Kohlberg, 1995: 82). Maka jika hukum menghalangi kemanusiaan, maka hukum dapat diubah (Budiningsih, 2008: 31).
(6) Tahap Enam: Prinsip Etika Universal
Pada tahap terakhir ini, orientasi terletak pada keputusan suara hati dan pada prinsip-prinsip etis yang dipilih sendiri, yang mengacu pada pemaham logis, menyeluruh, universalitas dan konsistensi. Prinsip-prinsip ini bersifat abstrak dan etis. Prinsip-prinsip itu adalah prinsip-prinsip universal mengenai keadilan, timbal-balik, dan persamaan hak asasi manusia, serta rasa hormat terhadap martabat manusia sebagai person individual (Kholberg, 1995:82).
Budiningsih (2008: 31) mengatakan bahwa ”Prinsip moral pada tahap ini sangat abstrak, misalnya soal perintah Yesus tentang mencintai sesama manusia seperti kita mencintai diri sendiri”. Kohlberg menceritakan dalamdilema Heinz: seorang suami tidak mempunyai uang, dia mencuri untuk membeli obat demi keselamatan nyawa istrinya dengan keyakinan menyelematkan kehidupan seseorang merupakan kewajiban moral yang lebih tinggi dari pada mencuri (Duska dan Whelan, 1982: 58).
3. Bentuk-Bentuk Pendidikan Moral
Orangtua melaksanakan pendidikan moral dengan melatih kepekaan anak terhadap suara hati dan bertindak berdasarkan suara hati. PPK 36 menjelaskan bahwa “Pendidikan moral mencakup suara hati, kebebasan, tanggung jawab dan norma-norma moral.” Dapiyanta (2013: 1-36) juga dalam buku teologi moral katolik menuliskan mengenai suara hati, kehendak bebas dan tanggung jawab. PPK 36. 2 mengatakan kebebasan kehendak adalah prasyarat perbuatan moral. Bentuk-bentuk pendidikan moral meliputi:
a. Suara hati
Suara hati adalah inti manusia yang paling rahasia, sanggar sucinya, dimana seseorang hanya seorang diri bersama dengan Allah sehingga Allah dapat menggemakan sapaan-Nya dalam batin manusia (GE 16). PPK 36.1 mengatakan bahwa ”Suara hati sering disebut juga hati nurani adalah sanggar suci manusia, tempat Allah bersemayam dalam hati manusia dan menjadi penuntun perilaku karena suara hati mrnuntun orang pada kebenaran.” Maka hati nurani dikenal sebagai mata hati.
Perjumpaan manusia dengan Allah dalam hati nurani merupakan peristiwa yang penuh misteri, karena hanya Allah sendiri yang lebih mengenal hati manusia. Oleh karena itu, perbuatan yang sifatnya melawan suara hati adalah dosa (Kieser, 1987: 112). Magnis Seseno (1987: 53) mengatakan bahwa “ Suara hati adalah kesadaran moral dalam situasi konkret”.Norma-norma dalam kehidupan diperoleh melalui orangtua, guru, tetangga, teman dan masyarakat,agar dapat memahami dan berbuat kebaikan. Suara hati senantiasa mendorong untuk melakukan
kebaikan, namun suara hati dapat tumpul, ketika manusia melalaikan bisikan suara hati.
1) Fungsi Suara Hati
Pada saat mengambil keputusan, membutuhkan pertimbangan, baik pikiran maupun hati. Suara hati adalah inti dari kepribadian manusia dalam membedakan baik dan buruk, serta mendorong kearah kebaikan. Suara hati muncul pada saat akan melakukan suatu tindakan, baik perbuatan baik maupun buruk. Pada saat melakukan perbuatan salah atau dosa, suara hati terus terusik dan hati merasa tidaktenang dan tidak damai. Sebaliknya pada saat melakukan perbuatan baik atau benar, hati merasa tenang, damai dan bahagia.
Ketika mengabaikan bisikan suara hati, menyebabkan manusia jatuh pada konkupisensi (kecenderungan jatuh dalam dosa). Maka perlu pembinaan suara hati.
2) Pembinaan suara hati
Pembinaan suara hati tidak sama dengan penyadaran akan norma.Pembinaan suara hati menuntut orang untuk semakin sadar pada kondisi individual dari hidupnya, pandangan nilai-nilai yang telah diinternalisasikan, kepentingan pribadi dan kelompok yang mengarahkan pengertian akan kondisi sosial yang membatasi pertimbangan dan keputusan (Kieser,1987:140). Pembinaan suara hati bagi orang beriman pertama-tama ditekankan ialah
keterbukaan dan harapan hati manusia pada Allah. Suara hati dibina melalui pengalaman hidup rohani yang disebut pembedaan Roh (Kieser, 1987: 150).
3) Kemutlakan Suara Hati
Kemutlakan tuntutan suara hati tidak berarti bahwa suara hati pasti benar, karena yang mutlak dalam suara hati adalah tuntutan tidak menyeleweng dari yang disadari sebagai kewajiban. Suara hati mutlak dalam arti bahwa tuntutannya tidak dapat ditiadakan kembali oleh pertimbangan untung rugi, senang tidak senang oleh pendapat orang lain, dan pendapat pelbagai otoritas atau oleh perasaan kita sendiri (Magnis Suseno,1987:56-57).
b. Kebebasan Kehendak
PPK 35 mengatakan bahwa”Kebebasan kehendak adalah prasyarat perbuatan moral’. Kebebasan itu memungkinkan orang untuk melakukan atau mengabaikan tindakan yang baik maupun buruk. Ketika orang memiliki kehendak bebas untuk berbuat dan bertindak berarti lepas dari tekanan dan pemaksaan. Manusia dapat berpaling dari kebaikan, karena kehendak bebas. Kebebasan telah rusak karena disalahartikan dengan tindakan sewenang-wenang. Manusia hanya dapat berpaling pada kebaikan apabila ia bebas namun orang-orang yang mendukung kebebasan dengan cara yang salah, dan cenderung mengartikan kebebasan dengan kesewenang-wenangan untuk melakukan suatu tindakan sesuka hati bahkan juga kejahatan, akibatnya kebebasan manusia terluka oleh dosa, maka
hanya dengan berkat Allah mampu mewujudkannya secara konkret hatinya kepada Allah (GS 17).
c. Tanggungjawab
PPK 36.3 mengatakan bahwa“Tanggung jawab sebagai keberanian melakukan apa yang diyakini dan memikul konsekuensinya”. Dapiyanta (2013:34) mengatakan bahwa“Tanggung jawab sebagai kemampuan seseorang untuk memberikan tanggapan atas tindakannya”.
d. Norma Moral
Norma moral adalah tolok ukur yang digunakan dalam masyarakat untuk mengukur kebaikan seseorang (Magnis Suseno, 1987: 19). Keluarga memberikan pemahaman kepada anak mengenai norma-norma katolik sesuai dengan tahap-tahap perkembangan pribadi. Perkembangan moral seorang anak dipengaruhi oleh lingkungan. Masyarakat memperngaruhi perkembangan kepribadian individu, demikian juga dengan aspek moral pada anak (Singgih Gunarsa, 1983:61).
Orangtua perlu menanamkan nilai-nilai moral kepada anak sejak dini. Anak sejak dini telah menerima berbagai norma dari orangtua, orang lain, masyarakat dan guru di sekolah. Norma-norma yang diajarkan orangtua kepada anak di rumah,misalnya, ketika seorang anak menerima sesuatu dari pastor atau suster, orangtua mengajarkan mengucapkan terima kasih dan menerima pemberian menggunakan tangan kanan; orangtua memberikan pakaian sesuai
dengan jenis kelamin; orangtua mengajarkan sikap berjalan di depan orang yang lebih tua.
e. Norma Moral Kristiani
Pada perjanjian lama, bangsa Israel taat pada Tradisi dan Hukum Taurat.Orang beriman kristiani menggunakan sepuluh perintah Allah sebagai norma moral sebagai berikut:
1) Larangan Menyembah allah-allah Lain (Kel. 20: 3.5-6, Ul. 5: 7.9-10)
Keluaran 20:3 “Jangan ada padamu allah lain dihadapan-Ku”.Teks menegaskan kepada bangsa Israel, agar percaya pada Allah yang satu dan esa seperti terdapat dalam syahadat para rasul.
2) Larangan Menyebut Nama Allah Dengan Tidak Hormat (Kel. 20:7, Ul. 5:11)
Allah boleh disebut dengan nama-Nya namun tidak boleh dikuasai (Kieser, 1987: 179). Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan (Kel. 20:7).Maka orang Yahudi tidak menyebut nama YHWH dan menggantinya dengan sebutan Adonai atau Hashshem.
3) Perintah Menguduskan Hari Sabat (Kel. 20:8-11, Ul. 5:12-15)
Hari Sabat merupakan peringatan akan kemerdekaan Israel dan karya Allah yang membebaskan (Kieser, 1987: 177). Perintah menguduskan hari Sabat bukan semacam larangan, melainkan suatu pemberian Allah sebagai perlindungan
bagi hidup manusia, terutama bagi mereka yang lemah. Allah telah bekerja selama enam hari menciptakan bumi berserta segala isinya dan kemudian pada hari ketujuh Ia beristirahat, dan Allah memberkati hari ketujuh dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah Ia kerjakan (Kel. 1:4-31, 2:1-3).
“Janganlah melakukan pekerjaan pada hari ketujuh”, perintah untuk hari Sabat mengenai pekerjaan dan istirahat. Allah menghendaki supaya manusia beristirahat dari segala aktivitas/ bekerja. Perintah ini bukan sepenuhnya beribadat, tetapi pada keseimbangan antara bekerja dan beristirahat.
Waktu beristirahat supaya lembu ataupun binatang yang digunakan meringankan pekerjaan dapat beristirahat dan orang lain dipekerjakan dapat melepas lelah. Oleh karena itu,hari Sabat merupakan hari kemerdekaan yang diberikan kepada Bangsa Israel. Maka hari kemerdekaan juga berlaku bagi setiap orang. Oleh karena itu, bagi orang Israel perayaan Hari Sabat yang semula adalah pemberian bagi manusia yang lemah, akhirnya menjadi hari ibadat dan tuntunan agama bagi orang Israel (Kieser, 1987: 176-177).
4) Perintah Menghormati Orangtua (Kel. 20:12; Ul. 5:16)
Buku “Kasih setia dalam suka duka”(1994: 77) mengatakan bahwa “Menghormati dan menaati kehendak orangtua merupakan kewajiban sebagai anak, namun setelah dewasa kewajiban anak ialah membantu dan merawat orangtuanya.”Kewajiban tidak bersifat statis dan tidak selalu sama, karena dipengaruhi oleh perkembangan maupun situasi dan kondisi. Beberapa hal yang
perlu diperhatikan dan dikembangkan oleh anak terhadap orangtua, yaitu; mengasihi, sikap penuh syukur dan sikap hormat pada orangtua.
Buku “Kasih setia dalam suka duka” (1994: 114) mengatakan bahwa “Ketaatan terhadap orangtua bersifat dinamis, karena dengan perkembangan anak yang semakin mampu menata hidup dan bersikap mandiri, sehingga keperluan ketaatan berkurang secara proporsional.”
Perintah menghormati orangtua berlaku untuk anak kecil sampai dewasa. Kitab Amsal menuliskan mengenai orangtua dan anak ”Siapa mengutuki ayah atau ibunya, pelitanya akan padam pada waktu gelap” dan “anak yang menganiaya ayahnya atau mengusir ibunya, memburukkan dan memalukan diri” (Ams. 19:26.20:20). Kedua teks menegaskan bahwa sebagai anak kita harus memberikan perlakuan baik kepada ibu maupun ayah, dengan menghormati dan memberikan perlakuan baik kepada orangtua, berarti menghormati Allah, karena orangtua merupakan gambaran Allah yang nyata dalam keluarga.
Perintah menghormati orangtua secara tidak langsung menyampaikan kepada para orantua untuk menghormati anak-anaknya baik laki-laki maupun perempuan. Paus Yohanes Paulus II dalam surat kepada keluarga-keluarga 15 mengatakan bahwa “Mereka pantas untuk dihormati, sebab mereka hidup, sebab mereka ada seperti adanya sekarang ini, dan hal ini benar mulai sejak pertama kali mereka berada dalam kandungan. Dan memiliki ikatan mendalam yang mempersatukan keluarga, menyoroti dasar dari kesatuan batin keluarga.”
5) Larangan Membunuh (Kel. 20:13; Ul. 5:17)
Membunuh berarti meniadakan kehidupan. Allah sebagai pemberi kehidupan, maka Allah yang berhak mengambil kehidupan, maksudnya manusia tidak mempunyai hak meniadakan kehidupan. Beberapa arti “membunuh”kata Ibrani: membunuh orang atau membunuh hewan, menjatuhkan hukuman mati atau membunuh dalam suatu perang. Membunuh sudah jelas menumpahkan darah (Kieser, 1987: 172). Manusia dilarang membunuh, karena Allah pemberi kehidupan dan Allah selalu melindungi ciptaan-Nya.
6) Larangan mencuri (Kel. 20:15; Ul. 5:19)
Perbuatan mencuri milik orang lain sama dengan merampas hak milik orang yang bukan miliknya. Tindakan mencuri terjadi karena mengingini sesuatu atau barang yang bukan milik atau hak pribadi. Larangan ini diajarkan keluarga-keluarga kristiani kepada anak-anak, agar mampu menghargai barang milik orang lain, sehingga ketika dewasa, tidak mencuri barang milik orang lain.
7) Larangan Bersaksi Dusta (Kel. 20:16; Ul. 5:20)
Istilah saksi dusta berasal dari lingkungan pengadilan dan hukum (Kieser, 1987: 175). Larangan mengucapkan saksi dusta untuk melindungi kepastian hukum dan keamanan sosial. Bersaksi dusta berarti omong kosong sama dengan berbohong. Maka orangtua mengajarkan anak-anak untuk berkata jujur.
f. Norma Moral Umum
Penilaian terhadap norma moral berbobot, karena norma moral merupakan tolok ukur yang dipakai dalam masyarakat dalam mengukur kebaikan seseorang (Magnis Suseno, 1987: 19). Selain norma moral kristiani, terdapat beberapa keutamaan moral pada umumnya, antara lain:
1) Sikap Menghargai Orang Lain Dan Kehidupan
Konsili Vatikan II dalam GS 27 menekankan sikap hormat terhadap pribadi manusia, sehingga memandang orang lain sebagai sesamanya. Orang lain sebagai pribadi yang lain “dia adalah aku yang lain”, sehinggasemakin menghargai orang lain, seperti kata Yesus “segala sesuatu yang dilakukan pada orang lain, dilakukan untuk Dia, sebab Allah hadir dalam setiap pribadi kita masing-masing, entah ia miskin atau pun kaya (Mat. 25: 40).
2) Kejujuran
Kejujuran terdapat dalam perintah Allah kedelapan (Kel. 20:16). Allah tidak menghendaki manusia berkata dusta, karena orang tidak jujur, ibarat pedang atau panah tajam bagi orang lain (Ams. 25:18), namun sebaliknya Allah lebih mengasihi orang jujur (Ams. 16:13).
3) Kerendahan Hati Dan Menolong Orang Lain
Kerendahan hati berawal dari kisah penciptaan, saat manusia dibentuk dari tanah dan akan kembali menjadi tanah (Kej 3:19). Yesus menghendaki agar manusia belajar kelemahlembutan dan kerendahan hatiNya (Mat 11:29). Yesusbersikap rendah hati dan menolong orang lain melalui mukjizat-mukjizat-Nya.
4) Penuh Cinta Dan Kasih
Hukum utama dan pertama adalah hukum kasih. Ketika seorang ahli taurat datang mencobai Yesus, mengenai hukum mana yang paling utama dalam