BAB II KAJIAN PUSTAKA
2. Pendidikan Anak Usia Dini
a. Pengertian Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Anak merupakan generasi penerus bangsa yang akan meneruskan perjuangan bangsa. Dalam Undang-Undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional ayat 1, disebutkan bahwa yang termasuk anak usia dini adalah anak yang masuk dalam rentang usia 0-6 tahun (Maimunah Hasan, 2012:17). Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar, merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun. Dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan ruhani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal dan informal (Maimunah Hasan, 2009: 15).
Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (DIRJEN PAUDNI, 2012: 2).
Pendidikan usia dini (PAUD) pada hakikatnya adalah pendidikan yang diselenggarakan dengan tujuan untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh atau menekankan pada pengembangan seluruh aspek kepribadian anak (Suyadi, 2014: 22). Secara institusional PAUD dapat diartikan sebagai salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar kearah pertumbuhan dan perkembangan, baik koordinasi motorik (halus dan kasar), kecerdasan emosi, kecerdasan jamak (multiple intellegence), maupun kecerdasan spiritual (Suyadi, 2014: 22-23).
Pendidikan pada usia dini pada dasarnya meliputi seluruh upaya dan tindakan yang dilakukan oleh pendidik dan orang tua dalam proses perawatan, pengasuhan dan pendidikan pada anak dengan menciptakan aura dan lingkungan dimana anak dapat mengeksplorasi pengalaman yang memberikan kesempatan kepadanya, untuk mengetahui dan memahami pengalaman belajar yang diperoleh dari lingkungan, melalui cara mengamati, meniru, dan bereksperimen yang berlangsung secara berulang-ulang dan melibatkan seluruh potensi dan kecerdasan anak (Yuliani Nurani Sujiono, 2009: 7).
Dari beberapa penjelasan tentang pendidikan anak usia dini di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan untuk anak sejak lahir hingga usia enam tahun, guna memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak serta membekali anak dalam memasukki jenjang pendidikan dasar. Pendidikan anak usia dini meliputi upaya dalam proses perawatan, pengasuhan dan pendidikan anak untuk mengeksplorasi pengalaman, kesempatan dan kecerdasan anak.
b. Tujuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Secara umum, tujuan pendidikan anak usia dini adalah memberikan stimulasi atau rangsangan bagi perkembangan potensi anak agar menjadi beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kritis, kreatif, inovatif, mandiri, percaya diri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab (Suyadi, 2014: 24).
Menurut Maimunah Hasan (2009: 17) tujuan diselenggarakannya pendidikan anak usia dini, yaitu sebagai berikut :
1. Membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya, sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa.
2. Membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah.
Selanjutnya, tujuan pendidikan anak usia dini untuk mengembangkan seluruh potensi anak agar kelak dapat berfungsi sebagai manusia yang utuh sesuai falsafah suatu bangsa (Slamet Suyanto, 2005:3).
Berdasarkan penjelasan tentang tujuan pendidikan anak usia dini yaitu memiliki tujuan untuk membekali anak usia dini tentang keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kritis, kreatif, inovatif, mandiri, percaya diri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab untuk melanjutkan kependidikan yang lebih tinggi lagi.
c. Satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan disebutkan bahwa ruang lingkup lembaga-lembaga PAUD terbagi kedalam tiga jalur, formal, nonformal dan informal. Keiga jalur tersebut diselenggarakan sebelum pendidikan dasar. Ruang lingkup lembaga penyelenggara PAUD terbagi ke dalam tiga jalur, yaitu formal, non-formal dan informal. PAUD jalur pendidikan formal diselenggarakan oleh Taman Kanak-kanak (TK), Raudhatul Athfal (RA), atau bentuk pendidikan lain sederajat dengan rentang usia antara 4-6 tahun. Selanjutnya, PAUD jalur pendidikan non-formal diselenggarakan oleh Kelompok Bermain (KB) dengan rentang usia 2-4 tahun, Taman Penitipan Anak (TPA) atau bentuk pendidikan sederajat lainnya seperti Satuan PAUD Sejenis/SPS (Pasal 28 UUSPN No. 20 tahun 2003). Terdapat berbagai lembaga PAUD yang selama ini telah dikenal oleh masyarakat luas, diantaranya (Yuliani Nurani Sujiono, 2009: 22-32) :
a. Taman Kanak-Kanak (TK) dan Raudhatul Atfhal (RA)
TK adalah salah satu bentuk satuan pendidikan bagi anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak usia empat sampai enam tahun. Sasaran pendidikan TK adalah anak usia empat sampai enam tahun yang dibagi kedalam dua kelompok belajar berdasarkan usia yaitu Kelompok A untuk usia empat sampai lima tahun dan Kelompok B untuk anak didik usia lima sampai enam tahun. Pelayanan pendidikan TK dilaksanakan minimal enam hari dalam seminggu dengan jam layanan minimal 2,5 jam per hari. Jumlah layanan dalam satu tahun minimal 160 hari atau 34 minggu, dengan kelompok dan alokasi waktu
perminggu adalah 15 jam. 15 jam merupakan pertemuan perminggu (15 x 60 menit), sedangkan jumlah jam untuk pembiasaan (pengembangan diri) dan kemampuan dasar fleksibel tidak dapat disamakan dengan jumlah jam pertemuan per mata pelajaran di Sekolah Dasar.
Tenaga edukatif dalam pendidikan TK disebut pendidik atau guru. Persyaratan tenaga edukatif di Tmana Kanak-Kanak sebagai berikut :
1. Memiliki tenaga pendidik dengan kualifikasi akademik seurang- kurangnya Diploma Empat (D-IV) atau Sarjana (S1) dibidang Pendidikan Anak Usia Dini, kependidikan lain atau psikologi dan memiliki sertifikasi profesi guru PAUD.
2. Memiliki tenaga kependidikan meliputi sekurang-kurangnya minimal satu kepala Taman Kanak-kanak, tenaga administrasi dan tenaga kebersihan.
3. Menyediakan tenaga kesehatan dan atau psikolog yang memiliki izin praktik.
Rasio antara pendidik dan anak dalam standar pelayanan minimal (SPM) adalah 1:25. Sedangkan rasio ideal satu orang pendidik melayani 10/12 anak. Struktur kurikulum TK dan RA memiliki dua bidang pengembangan, yaitu: (1) pembiasaan (pengembangan diri), yang terdiri dari: moral dan nilai-nilai agama, sosial, emosional dan kemandirian, dan (2) pengembangan kemampuan dasar yang terdiri dari: bidang pengembangan berbahasa, kognitif, fisik/motorik, dan seni.
b. Kelompok Bermain (KB)
Kelompok bermain adalah salah satu bentuk PAUD pada jalur pendidikan non formal yang menyelenggarakan program pendidikan sekaligus program kesejahteraan bagi anak usia dua sampai dengan empat tahun. Tujuan diselenggarakannya KB adalah untuk menyediakan pelayanan Pendidikan, Gizi dan Kesehatan anak secara holistik dan mengoptimalkan tumbuh kembang anak sesuai dengan potensi anak yang dilaksanakan sambil bermain. Secara lebih rinci tujuannya adalah, (1) meningkatkan keyakinan dalam beragama, (2) mengembangkan budi pekerti dalam kehidupan anak, (3) mengembangkan sosialisasi dan kepekaan emosional, (4) meningkatkan disiplin melalui kebiasaan hidup, (5) mengembangkan komunikasi dalam kemampuan berbahasa, (6) meningkatkan pengetahuan atau pengalaman melalui kemampuan daya pikir, (7) mengembangkan koordinasi motorik halus dan kreativitas dalam keterampilan dan seni, (8) meningkatkan kemampuan motorik kasar dalam kesehatan jasmani.
Peserta didik di KB diprioritaskan bagi anak usia dua sampai dengan empat tahun dengan jumlah anak sekurang-kurangnya sepuluh anak. Selain itu, anak usia lima sampai enam tahun yang karena sesuatu hal (terpaksa) tidak mendapat kesempatan terlayani di lembaga PAUD formal dapat dilayani di Kelompok Bermain dengan jumlah minimal sepuluh anak. Tenaga pendidik dari KB memberikan persyaratan berpendidikan minimal SLTA/sederajat, sehat jasmani dan rohani, mendapatkan pelatihan pendidikan anak usai dini, memiliki kemampuan mengelola kegiatan
pendidikan anak usia dini serta memahami dan menyayangi anak usia dini. Penyelenggaraan KB secara umum tidak terikat waktu, tempat, sarana dan prasarana dengan mengutamakan potensi sumber daya lingkungan sekitar.
Menurut Jasa Ungguh Muliawan (2009: 18), kelompok bermain (play group) adalah suatu lembaga pendidikan untuk anak prasekolah umur dua sampai tiga tahun. Sedangkan menurut Jamal Ma’mur Asmani (2010: 36) kelompok bermain adalah jalur pendidikan non formal yang menyelenggarakan program pendidikan sekaligus program kesejahteraan bagi anak usia dua sampai dengan empat tahun dengan jumlah anak sekurang-kurangnya sepuluh anak. Tujuan penyelenggaraan playgroup adalah sebagai penyedia layanan pendidikan, gizi dan kesehatan anak secara holistik dan mengoptimalkan tumbuh kembang anak sesuai potensi yang dilaksanakan sambil bermain.
Kualifikasi menjadi tenaga pendidik playgroup menurut Jamal Ma’mur Asmani (2009: 37) diberikan syarat sebagai berikut:
1. Berpendidikan minimal SLTA/sederajat 2. Sehat jasmani dan rohani
3. Mendapatkan pelatihan pendidikan anak usia dini
4. Memiliki kemampuan mengelola kegiatan/proses pembelajaran pendidikan anak usia dini
5. Memahami dan menyayangi anak
6. Memahami tahap tumbuh kembang anak
7. Memahami prinsip-prinsip pendidikan anak usia dini
8. Diangkat secara sah oleh pengelolaplaygroup(kelompok bermain) Dijelaskan pula manfaat playgroup bagi perkembangan anak, yaitu (1) mendapatkan ilmu, ilmu yang dimaksud adalah pengetahuan yang telah disesuaikan dengan perkembangan usia anak didik. (2) Bermain sambil
belajar, karena kecenderungan anak usia dini lebih senang bermain, oleh sebab itu diberikan terobosan media belajar dengan permainan. (3) Melatih kemandirian, yaitu anak diajarkan melakuka kegiatan tertentu yang menuntut kemampuannya sendiri. (4) Mengetahui bakat dan potensi diri, dengan memasukkan anak keplaygroup akan membantu orang tua melihat bakat anak, sehingga orang tua bisa mengembangkan bakat yang dimiliki anak. (5) Melahirkan kesadaran sosial, dengan menyekolahkan anak akan memberikan kesempatan pada anak untuk saling bersosialisasi dengan anak- anak usia dini lainnya.
c. Taman Penitipan Anak (TPA)
Taman penitipan anak adalah bentuk PAUD pada jalur pendidikan non formal yang menyelenggarakan program pendidikan sekaligus pengasuhan dan kesejahteraan anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun. Peserta didik TPA yaitu anak usia 0-4 tahun yang diprioritaskan orang tuanya bekerja, anak usia 0-6 tahun yang tidak mendapatkan layanan PAUD, dan sekurang- kurangnya berusia 3 bulan sampai 6 tahun, dengan jumlah minimal 5 anak.
Pendidik TPA diberikan persyaratan berpendidikan minimal SLTA/sederajat, sehat jasmani dan rohani, memiliki kemampuan mengelola kegiatan pendidikan anak usia dini serta memahami dan menyayangi anak usia dini. Rasio pendidik TPA menurut usia yaitu, 0-12 bulan dengan pendidik 1 untuk 2 orang bayi, 13-36 bulan dengan 1 pendidik untuk 4 anak, 37-60 bulan dengan 1 pendidik untuk 8 anak, dan 61-72 bulan dengan 1 pendidik untuk 10 anak.
d. POS PAUD; Sebagai salah satu Satuan PAUD Sejenis (SPS)
Peserta Pos PAUD berusia 0-6 tahun yang tidak terlayani PAUD lainnya. Pendidik Pos PAUD disebut Kader, kader tersebut berasal dari masyarakat sekitar minimal pendidikan terakhir SLTA/sederajat.
Berdasarkan penjelasan tentang lembaga satuan pendidikan anak usia dini, terdapat beberapa lembaga yang telah dikenal masyarakat luas, yaitu TK dan RA, KB, TPA, serta POS PAUD yang mana masing-masing lembaga memiliki kriteria khusus. Pertama, Taman Kanak-Kanak (TK) dan Raudhatul Athfal (RA) dengan sasaran anak usia empat sampai enam tahun. Pelayanan pendidikan TK dilaksanakan minimal 6 hari dalam seminggu dengan jam pelayanan minimal 2,5 jam. Memiliki syarat tenaga edukatif kekurang-kurangnya Diploma Empat (D-IV) atau Sarjana (S1) dibidang PAUD.
Kedua, Kelompok Bermain memiliki sasaran anak usia dua sampai empat tahun. Tujuan diselenggarakannya KB sebagai penyedia layanan pendidikan, gizi dan kesehatan serta mengoptimalkan tumbuh kembang sesuai potensi anak. Syarat tenaga pendidik KB yaitu berpendidikan minimal SLTA/sederajat, mendapatkan pelatihan PAUD, memahami dan menyayangi anak. Ketiga, Taman Penitipan Anak (TPA) merupakan bentuk PAUD non formal yang menyelenggarakan program pendidikan sekaligus pengasuhandan kesejahteraan anak, dari sejak lahir hingga usia enam tahun. Pendidik TPA minimal SLTA/sederajat, memiliki kemampuan mengelola kegiatan anak usia dini dan menyayangi anak. Keempat, POS PAUD
sebagai salah satu Satuan PAUD Sejenis (SPS). Peserta POS PAUD ini berusia 0-6 tahun yang tidak terlayani pendidikan anak usia dini lainnya. Pendidik POS PAUD disebut kader yang berasal dari masyarakat sekitar dan berpendidikan minimal SLTA/sedejarat.