Al-Qur’an merupakan firman Allah yang selanjutnya dijadikan pedoman hidup kaum muslim yang tidak ada lagi keraguan di dalamnya. Di dalamnya terkandung ajaran-ajaran pokok (prinsip dasar) menyangkut segala aspek kehidupan manusia yang selanjutnya dapat dikembangkan sesuai dengan nalar masing-masing bangsa dan kapanpun masanya dan hadir secara fungsional memecahkan problem kemanusiaan. Dan salah satu permasalah yang tidak sepi dari perbincangan umat adalah masalah pendidikan.
Dalam Al-Qur’an sendiri telah memberi isyarat bahwa permasalahan pendidikan sangat penting, jika Al-Qur’an dikaji lebih mendalam maka akan ditemukan beberapa prinsip dasar pendidikan, yang selanjutnya bisa dijadikan inspirasi untuk dikembangkan dalam rangka membangun pendidikan yang bermutu. Ada beberapa indikasi yang terdapat dalam Al-Qur’an yang berkaitan dengan pendidikan, antara lain; Menghormati akal manusia, bimbingan ilmiah, fitrah manusia, penggunaan cerita (kisah). Kedudukan Al-Qur’an sebagai sumber pokok Pendidikan Islam dapat dipahami dalam firman Allah:
Artinya: “Dan kami tidak menurunkan kepadamu al-kitab (Al-Qur’an) ini melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka perselisihan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”. (QS.16:64). !$tΒuρ $uΖø9t“Ρr& y7ø‹n=tã |=≈tGÅ3ø9$# ωÎ) t⎦Îi⎫t7çFÏ9 ÞΟçλm; “Ï%©!$# (#θàn=tG÷z$# ÏμŠÏù “Y‰èδuρ ZπuΗ÷qu‘uρ 5Θöθs)Ïj9 šχθãΖÏΒ÷σム∩∉⊆∪
Menurut Al-Jamali: “Pada hakikatnya Al-Qur’an merupakan per-bendaharaan besar tentang kebudayaan manusia, terutama bidang kerohanian. Pada umumnya Al-Qur’an adalah merupakan pendidikan, kemasyarakatan, moril (akhlak) dan spiritual”.14 Menurut Al-Nadwi pendidikan umat Islam yang tidak berdasarkan kepada aqidah yang bersumberkan kepada Al-Qur’an dan al-Hadits, maka pendidikan yang dilaksanakan bukanlah Pendidikan Islam, tetapi adalah pendidikan asing.15
2. Sunnah
Dasar yang kedua selain Al-Qur’an adalah Sunnah Rasulullah SAW. Amalan yang dikerjakan oleh Rasulullah SAW dalam kehidupanya sehari-hari menjadi sumber utama Pendidikan Islam setelah Al-Qur’an. Hal ini disebabkan, karena Allah SWT menjadikan Muhammad sebagai teladan bagi umatnya. Konsepsi dasar pendidikan yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. adalah sebagai berikut:
a. Disampaikan sebagai rahmatan lil’alamîn (QS. 21:107); b. Disampaikan secara universal (QS. 15:9);
c. Apa yang disampaikan merupakan kebenaran mutlak (QS. 15:9);
d. Kehadiran Nabi sebagai evaluator dalam segala aktivitas pendidikan (QS. 42:48);
e. Perilaku Nabi sebagai figur identifikasi (uswah hasanah) bagi umatnya.
Adapun alasan dipergunakan kedua dasar yang kokoh di atas, karena keabsahan dasar Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman hidup manusia dan kehidupan sudah mendapat jaminan Allah SWT dan Rasul-Nya. Firman Allah SWT: Artinya: “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak
ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”. (QS. 2:2).
14 Muhammad Fadhil al-Jumali, Tarbiyah al-Insan al-Jadid, (Al-Tunissiyyat: al-Syarikat, tt.), h.37
15 Abu al-Hasan al-Nadwi, Nahwa al-Tarbiyat al-Islamiyat al-Hurrat, (Kairo: al-Muktar al-Islami.1947), h. 3
Sabda Rasulullah SAW, yang artinya: “Kutinggalkan kepadamu
dua perkara (pustaka) tidak lah kamu akan tersesat selama-lamanya, selama kamu masih berpegang kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. (HR. Bukhari dan Muslim).
Prinsip menjadikan Al-Qur’an dan Hadits sebagai dasar Pendidikan Islam bukan hanya dipandang sebagai kebenaran keyakinan semata. Lebih jauh, kebenaran yang dikandungnya sejalan dengan kebenaran yang dapat diterima oleh akal yang sehat dan bukti sejarah. Dengan demikian, barang kali wajar jika kebenaran kedua sumber tersebut dijadikan dasar seluruh kehidupan, termasuk pendidikan.
3. Perkataan, Perbuatan dan Sikap Para Sahabat
Selain Al-Qur’an dan Sunnah, digunakan juga perkataan, sikap, dan perbuatan para sahabat sebagai dasar pendidikan. Perkataan para sahabat dan ulama dapat dipegangi karena Allah sendiri dalam Al-Qur’an yang memberikan pernyataan, bahwa:
Artinya: “Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama masuk Islam diantara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada Allah dan Allah menjadikan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS. 9:100)
Menurut Rahman, para sahabat Nabi memiliki karakteristik yang berbeda dari kebanyakan orang. Diantaranya yaitu:
a. Sunnah yang dilakukan para sahabat tidak terpisah dari Sunnah Nabi. šχθà)Î6≈¡¡9$#uρ tβθä9¨ρF{$# z⎯ÏΒ t⎦⎪ÌÉf≈yγßϑø9$# Í‘$|ÁΡF{$#uρ t⎦⎪Ï%©!$#uρ Νèδθãèt7¨?$# 9⎯≈|¡ômÎ*Î/ š†Å̧‘ ª!$# öΝåκ÷]tã (#θàÊu‘uρ çμ÷Ζtã £‰tãr&uρ öΝçλm; ;M≈¨Ζy_ “Ìôfs? $yγtFøtrB ã≈yγ÷ΡF{$# t⎦⎪Ï$Î#≈yz !$pκÏù #Y‰t/r& 4 y7Ï9≡sŒ ã—öθxø9$# ãΛ⎧Ïàyèø9$# ∩⊇⊃⊃∪
b. Kandungan khusus yang aktual atas sunnah sahabat sebagian besar merupakan produk ijtihad sahabat.
c. Unsur kreatif dari kandungan pemikiran sahabat merupakan ijtihad personal yang mengalami kristalisasi menjadi ijma’ berdasarkan petunjuk nabi terhadap sesuatu yang bersifat spesifik. d. Praktek amaliah sahabat identik dengan ijma’ ulama.16
4. Ijtihad
Menurut Al-Auza’i, Abu Hanifah, dan Imam Malik sebagai imam-imam mujtahid yang telah ada waktu itu, merasa perlu untuk memecahkan permasalahan yang timbul sebagai akibat interaksi nilai-nilai budaya dan adat-istiadat yang berbeda tersebut dengan menggunakan ijtihad. Dengan demikian, ijtihad dapat dijadikan sebagai sumber pendidikan, karena sesuai dengan hikmah Islam.17
Ijtihad adalah penggunaan akal oleh para fuqahâ’ Islam untuk menetapkan suatu hukum yang belum ada ketetapannya dalam Al-Qur’an dan Hadits dengan syarat-syarat tertentu. Ijtihad dapat dilakukan dengan ijma’, qiyas, istihsân, mashâlih al-mursalah dan lain-lain. Dalam penggunaannya, ijtihad meliputi seluruh aspek ajaran Islam termasuk juga aspek pendidikan. Dalam hal ini, ijtihad dalam bidang pendidikan ternyata semakin perlu, sebab ajaran Islam yang terdapat dalam Al-Qur’an dan al-Sunnah hanya berupa prinsip-prinsip pokok saja. Sejak diturunkannya ajaran Islam kepada Nabi Muhammad SAW. sampai sekarang, Islam telah tumbuh dan berkembang melalui ijtihad yang dituntut oleh perubahan situasi dan kondisi sosial yang tumbuh dan berkembang. Dengan demikian, untuk melengkapi dan merealisasi ajaran Islam memang sangat dibutuhkan ijtihad.
16 Lihat Fazlur Rahman dalam Ramayulis, Dikotomi Pendidikan Islam (Sebab-Sebab Timbul Dan Cara Mengatasinya), Makalah, (Padang: IAIN Imam Bonjol, 1995), h. 7.
17 Hasan Langgulung, Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Islam, (Bandung: al-Ma’rif, 1980), h. 223