• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendokumentasian Laporan dalam CD, yang berisi Laporan Akhir, DED dan RAB, Draft

Dalam dokumen PT. ADITYA RIDHO GUMILANG (Halaman 22-26)

Peraturan Bupati/Walikota dan Executive Summary.

Secara keseluruhan, tahap-tahap kegiatan tersebut di atas akan divisualisasikan secara sistematis dalam Metodologi Pelaksanaan, yang dapat dilihat pada Gambar 1.5.

1.5 Landasan Hukum

Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan didasarkan pada:

a. Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman;

b. Undang-Undang Republik Indonesia No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya;

c. Undang-Undang Republik Indonesia No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana

d. Undang-undang RI No. 26 Tahun 2007, tentang Penataan Ruang;

e. Undang-undang RI No. 28 Tahun 2002, tentang Bangunan Gedung;

f. Undang-Undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup;

g. Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah;

h. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang

i. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional;

j. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-undang Nomor 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung

k. Peraturan Menteri PU Nomor 29/PRT/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung;

l. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor:

05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan dan

m. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor:

06/PRT/M/2007 tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan;

n. Peraturan Menteri PU Nomor 30/PRT/M/2006 tentang Persyaratan Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Umum dan Lingkungan;

o. SNI 03-1733-2004 tentang Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan;

p. Surat Edaran Direktur Jenderal Cipta Karya Nomor 01/SE/DC/2009 perihal Modul Sosialisasi Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan;

q. Peraturan Daerah/Rancangan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) pada Kabupaten/Walikota tempat lokasi studi; dan r. Peraturan Daerah/Rancangan Peraturan Daerah

tentang Bangunan Gedung pada

Kabupaten/Walikota tempat lokasi studi.

1.6 Manfaat dan Hasil Pekerjaan

Manfaat dari Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan untuk Kawasan Merlung Kabupaten Tanjung Jabung Barat ini meliputi :

a. Mengarahkan jalannya pembangunan sejak dini;

b. Mewujudkan pemanfaatan ruang secara efektif, tepat guna, spesifik setempat dan konkret sesuai dengan rencana tata ruang wilayah;

c. Melengkapi peraturan daerah tentang bangunan gedung;

e. Mengendalikan pertumbuhan fisik suatu lingkungan/kawasan;

f. Menjamin implementasi pembangunan agar sesuai dengan aspirasi dan kebutuhan masyarakat dalam pengembangan lingkungan/kawasan yang berkelanjutan;

g. Menjamin terpeliharanya hasil pembangunan pasca pelaksanaan, karena adanya rasa memiliki dari masyarakat terhadap semua hasil pembangunan.

Setelah terlaksananya pekerjaan ini, keluaran yang diharapkan adalah dihasilkannya Rencana Tata Bangunan dan LIngkungan (RTBL) pada Kawasan Merlung, Kabupaten Tanjung Jabung Barat sesuai dengan Pedoman Penyusunan RTBL yang terdapat pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum N0. 06/PRT/M/2007, yang dapat digunakan sebagai panduan dalam penyelenggaraan bangunan gedung dan lingkungan di kawasan tersebut.r

Keluaran yang diharapkan dari kegiatan ini adalah : 1. Laporan Pendahuluan

2. Laporan Antara 3. Laporan Draft Akhir 4. Laporan Akhir

5. DED dan dokumen RAB

6. Gambar Perspektif/Ilustrasi (3D)

7. Rancangan Peraturan Bupati Kabupaten Tanjung Jabung Barat, dan

8. CD Dokumentasi.

2.1. UNSUR UNSUR PENGERTIAN PERENCANAAN DAN RENCANA TATA RUANG

2.1.1 Wawasan Tata Ruang

Tata ruang mempunyai kaitan pengertian dengan kata spatial (bahasa inggris). Artinya sebagai segala sesuatu yang mempunyai kaitan dengan keruangan.

Pandangan para pakar mengenai wawasan tata ruang terkait dengan segala sesuatu yang berada di dalam ruang sebagai wadah menyelenggarakan kehidupan.

Amos Raporport, menekankan tata ruang merupakan lingkungan fisik, dimana terdapat hubungan organisatoris antara berbagai macam objek dan manusia yang terpisah dalam ruang-ruang tertentu.

Larry Witzling sudah jauh memberikan arti ”tata ruang”

sebagai sesuatu yang berupa hasil perencanaan fisik. Ia menekankan bahwa di dalam tata ruang terdapat suatu distribusi dari tindakan manusia dan kegiatannya untuk mencapai tujuan sebagaimana yang dirumuskan sebelumnya. Tata ruang dalam hal ini merupakan jabaran dari suatu produk perencanaan fisik.

Pakar lain, I Made Sandy mengatakan penataan ruang baru bisa ada, setelah tanah peruntukan dan dikuasai oleh calon yang akan menggunakan tanah itu untuk proyek.

Jadi ruang sama artinya dengan tanah. Dengan menganggap ruang sebagaimana genus dan tanah sebagai species maka yang bisa ditata adalah ”tanah”

bukan ”ruang”.

Menurut Undang-undang No.24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang, tidak selalu berkonotasi sesuatu yang sudah berencana. Tata ruang diartikan sebagai wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang, baik yang direncanakan maupun tidak. Pengertian wujud struktural dan pemanfaatan ruang ini menunjukan adanya hirarki dan

keterkaitan pemanfaatan ruang. Sedangkan rencana tata ruang itu sendiri diartikan sebagai hasil perencanaan tata ruang, berupa strategi dan arahan kebijaksanaan dan memperuntukan (alokasi) pemanfaatan ruang yang secara struktural menggambarkan ikatan fungsi lokasi yang terpadu bagi berbagai kegiatan.

Berdasarkan hal-hal diatas, menurut Djoko Sujarto, ruang dalam artian segala sesuatu yang berkaitan dengan wawasan ruang di bumi (jagad raya) ini adalah semua bagian bumi yang dimulai dari titik pusat bumi, yang mengandung berbagai potensi sumber daya alam, air dll.;

permukaan bumi dengan berbagai cara pemanfaatan dan penggunaan lahan, pemanfaatan kemampuan berproduksinya lahan, kemungkinan pemanfaatan nilai strategis lahan dan air serta manfaatnya serta bagian di atas bumi yaitu angkasa dengan berbagai potensi cara pemanfaatannya dan masalahnya. Kesemua ini dalam upaya penataan ruang (spatial planning) perlu diatur demi menjaga agar segala pemanfaatannya dapat efisien dan efektif.

2.1.2 Pengertian Perencanaan

Pada awalnya istilah ” plan ” atau rencana selalu diasosiasikan dengan segala sesuatu yang merupakan produk arsitek atau insinyur. Wujudnya dalam bentuk gambar atau peta. Rencana pada masa ini merupakan suatu hasil yang sifatnya statis, walaupun produk akhirnya merupakan sesuatu yang dinamis, mobil misalnya, sekali mobil itu dibuat merupakan suatu produk yang tetap seperti itu. Dalam perkembangan selanjutnya, planning atau perencanaan kemudian dikaitkan dengan upaya merumuskan keinginan dan cita-cita manusia dalam arti yang lebih luas.

Sebagai mahluk yang dinamis, pengertian perencanaan terus berkembang. Pada masa kini perencanaan mengandung pengertian adanya suatu rangkaian yang terus menerus secara berkesinambungan. Hal ini karena berkaitan dengan upaya merumuskan keinginan dan cita-cita dimasa mendatang bagi manusia yang mempunyai ciri tersebut. Perencanaan merupakan suatu hasil rangkaian kerja untuk merumuskan sesuatu yang didasari oleh suatu pola tindakan yang defenitif, yang menurut pertimbangan secara sistematis akan membawa keuntungan tetapi dengan anggapan bahwa akan ada tindakan-tindakan selanjutnya yang akan merupakan rangkaian kegiatan sistematis lainnya (Djoko Sujarto, 1995). Dengan kata lain, tindakan yang semula dirumuskan masih bersifat terbuka bagi kemungkinan adanya pilihan cara tindakan lain dan bahkan tindakan yang telah dirumuskan semula,

masih mungkin disesuaikan apabila dianggap kurang menguntungkan pada saat tertentu lainnya.

Terminologi perencanaan (planning) selalu dikaitkan dengan perancangan (design). Perencanaan berlingkup luas–makro, sedangkan perancangan marupakan bagian dari perencanaan; berlingkup mikro. Lingkup pengertian ini (walaupun belum baku) berkaitan dengan pengertian semantik dan bahasanya. Perancangan merupakan produk perumusan keinginan atau cita-cita masa mendatang yang lebih terbatas mikro.

Rencana adalah produk dari suatu kegiatan perencanaan yang merupakan pedoman dan arahan untuk mencapai keinginan atau cita-cita yang sasaran dan jangkauannya telah didefinisikan terlebih dahulu. Rencana merupakan rumusan-rumusan keinginan atau cita-cita yang lingkupnya menyeluruh dan luas. Rancangan merupakan produk dari kegiatan perancangan (designing) yaitu berupa upaya tindak lanjut, penjabaran, dan rincian dari produk perencanaan terdahulu.

2.1.3 Pengertian Rencana Tata Ruang

Berdasarkan Undang-Undang No 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, definisi Ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan mahluk lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya. Sedangkan Tata Ruang adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang, baik direncanakan maupun tidak. Jadi Penataan

Ruang adalah proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang.

Rencana Tata Ruang adalah hasil perencanaan wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang. Yang dimaksud dengan wujud struktural pemanfaatan ruang adalah susunan unsur-unsur pembentuk rona lingkungan alam, lingkungan sosial dan lingkungan buatan yang secara hirarkis dan struktural berhubungan satu dengan lainnya membentuk tata ruang; diantaranya meliputi hirarki pusat pelayanan seperti pusat wilayah, lingkungan; prasarana jalan seperti jalan arteri, kolektor, lokal dan sebagainya.Sementara pola pemanfaatan ruang adalah bentuk pemanfaatan ruang yang menggambarkan ukuran fungsi, serta karakter kegiatan manusia dan atau kegiatan alam; diantaranya meliputi pola lokasi, sebaran permukiman, tempat kerja, industri, dan pertanian, serta pola penggunaan tanah perdesaan dan perwilayahan.

Dalam Undang – Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, beberapa pengertian tentang penataan ruang yang terkait RDTR, yaitu :

1. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang

Dalam dokumen PT. ADITYA RIDHO GUMILANG (Halaman 22-26)