• Tidak ada hasil yang ditemukan

PT. ADITYA RIDHO GUMILANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PT. ADITYA RIDHO GUMILANG"

Copied!
207
0
0

Teks penuh

(1)

Berdasarkan Surat Perjanjian Kerja Nomor : KU.03.08-PK.2/PBL-2.23/23, Tanggal 22 April 2013, untuk Pekerjaan Penyusunan RTBL Kawasan Merlung, Kab. Tanjung Jabung Barat, Prov. Jambi, bersama ini kami PT. ADITYA RIDHO GUMILANG, sebagai pelaksana pekerjaan tersebut, menyampaikan hasil pekerjaan yang saat ini telah mencapai pada tahap Laporan Akhir.

Laporan Akhir ini dibagi menjadi 10 (sepuluh) bab, antara lain : Bab 1 Pendahuluan

Bab 2 Tinjauan Teoritis Tentang Tata Ruang

Bab 3 Arah Kebijakan Tata Ruang Dan Lokasi Perencanaan Bab 4 Kondisi Umum Kawasan Perencanaan

Bab 5 Analisis Kawasan

Bab 6 Skenario Penanganan Dan Konsep

Bab 7 Rencana Umum dan Panduan Rancangan Bab 8 Pembiayaan / Investasi

Bab 9 Ketentuan Pengendalian Rencana Bab 10 Pedoman Pengendalian Pelaksanaan

Atas kerjasama yang baik antara Pemberi Tugas dan PT. ADITYA RIDHO GUMILANG kami mengucapkan banyak terima kasih.

Jakarta, Desember 2013

PT. ADITYA RIDHO GUMILANG

Ir. TRI UTORO, MM.

Direktur Utama

(2)

KATA PENGANTAR ...i

DAFTAR ISI ...ii

BAB 1 PENDAHULUAN ... 01-1

1.1 Latar Belakang ... 01-1 1.2 Maksud, Tujuan Dan Sasaran Kegiatan ... 01-2 1.2.1 Maksud Kegiatan ... 01-2 1.2.2 Tujuan Kegiatan ... 01-2 1.2.3 Sasaran Kegiatan ... 01-2 1.3 Ruang Lingkup Dan Tahapan Kegiatan ... 01-3 1.3.1 Lingkup Kegiatan ... 01-3 1.3.2 Tahapan Kegiatan ... 01-4 1.3.3 Lokasi Kegiatan ... 01-8 1.3.4 Batasan Kegiatan ... 01-9 1.4 Pendekatan Dan Metodologi ... 01-9 1.4.1 Kerangka Pemikiran ... 01-9 1.4.2 Pendataan dan Pencatatan... 01-11 1.4.3 Pendataan Analisis kualitatif dan Kuantitatif ... 01-13 1.4.4 Metodologi Pelaksanaan Kegiatan ... 01-14 1.5 Landasan Hukum ... 01-16 1.6 Manfaat dan Hasil Pekerjaan ... 01-17

(3)

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS TENTANG TATA RUANG ... 02-1

2.1 Unsur Unsur Pengertian Perencanaan Dan Rencana Tata Ruang ... 02-1 2.1.1 Wawasan Tata Ruang... 02-1 2.1.2 Pengertian Perencanaan ... 02-2 2.1.3 Pengertian Rencana Tata Ruang ... 02-2 2.1.4 Pendekatan Perencanaan Tata Ruang ... 02-3 2.2 Hirarkhi Dan Jenis Rencana Tata Ruang ... 02-6 2.2.1 Prinsip Perencanaan Tata Ruang ... 02-6 2.2.2 Hirarkhi Jenis Rencana Tata Ruang ... 02-7 2.3 Elemen-Elemen Perencanaan Ruang ... 02-9 2.4 Perencanaan Tata Ruang ... 02-12 2.4.1 Kedudukan Rencana Detail Tata Ruang ... 02-12 2.4.2 Kaitan Rencana Tata Ruang Dengan Program Pembangunan ... 02-13 2.4.3 Lingkup Perencanaan Tata Ruang ... 02-13 2.4.4 Kedudukan Rencana Tata Letak Bangunan danLingkungan (RTBL) ... 02-16 2.5 Wawasan Tentang Kawasan Perkotaan ... 02-16 2.6 Konsep Urban Design Dalam Tata Ruang Kota ... 02-18 2.6.1 Perkembangan dan Esensi Urban Design ... 02-18 2.6.2 Hubungan Urban Design Dalam Perencanaan Kota ... 02-19 2.6.3 Elemen Dasar Urban Design ... 02-19 2.6.4 Ilustrasi Beberapa Elemen-elemen Ruang Kota ... 02-20

BAB 3 ARAH KEBIJAKAN TATA RUANG DAN LOKASI PERENCANAAN ... 03-1

3.1 Tinjauan Kebijakan Pengembangan Wilayah Nasional Menurut RTRWN ... 03-1 3.2 Tinjauan Kebijakan Pengembangan Perkotaan Dan Penataan Ruang Di Tingkat Nasional ... 03-2 3.2.1 Kebijakan Program Nasional Penataan Ruang ... 03-2 3.2.2 Kebijakan Program Nasional Pengembangan Perkotaan ... 03-3 3.3 Kebijakan Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) ... 03-5 3.4 Kedudukan Rencana Tata Bangunan Dan Lingkungan (RTBL) ... 03-6 3.5 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Tanjung Jabung Barat ... 03-7 3.5.1 Visi dan Misi ... 03-7 3.6 Arahan Dan Kebijakan Tata Ruang Kabupaten Tanjung Jabung Barat ... 03-11 3.6.1 Arahan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten ... 03-11

(4)

3.6.3 meliputi : Arahan Rencana Pola Ruang Kabupaten Tanjung Jabung Barat ... 03-16 3.6.4 Arahan Kawasan Strategis Kabupaten Tanjung Jabung Barat ... 03-18 3.7 Arahan Deliniasi Kawasan Rencana Tata Bangunan Dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Merlung ... 03-22 3.7.1 Landasan Penentuan Delineasi ... 03-22 3.7.2 Hasil Delineasi Kawasan Merlung ... 03-22

BAB 4 KONDISI UMUM KAWASAN PERENCANAAN ... 04-1

4.1. Kondisi Makro Wilayah Perencanaan Kecamatan Merlung - Kabupaten Tanjung Jabung Barat ... 04-1 4.1.1. Kondisi Geografis ... 04-1 4.1.2. Pemerintahan ... 04-2 4.1.3. Penduduk ... 04-3 4.1.4. Sosial ... 04-5 4.1.5. Perekonomian Kawasan ... 04-8 4.2. Orientasi Kawasan Perencanaan Terhadap Wilayah Sekitar ... 04-9 4.2.1. Lokasi Kawasan Perencanaan ... 04-9 4.2.2. Integritas Kawasan Dengan Pusat Kegiatan ... 04-9 4.2.3. Aksesibilitas dan Permeabilitas ... 04-10 4.3. Tata Guna Lahan Kawasan Perencanaan ... 04-10 4.3.1. Deleniasi Kawasan Perencanaan ... 04-10 4.3.2. Ketersediaan Lahan Pengembangan ... 04-11 4.3.3. Pemanfaatan Lahan Kawasan ... 04-12 4.3.4. Status Lahan ... 04-12 4.4. Tata Bangunan Dan Lingkungan Kawasan Perencanaan ... 04-13 4.4.1. Topografi Kawasan ... 04-13 4.4.2. Kondisi Bangunan ... 04-13 4.4.3. Intensitas Bangunan ... 04-14 4.4.4. Pola Bangunan dan Lingkungan ... 04-14 4.4.5. Aksesibilitas dan Sirkulasi ... 04-15 4.5. Kondisi Prasarana Dan Utilitas ... 04-15 4.5.1. Jaringan Jalan ... 04-15 4.5.2. Jaringan Drainase ... 04-16 4.5.3. Jaringan Air Bersih/ Air Minum ... 04-16 4.5.4. Jaringan Listrik dan Telepon ... 04-16 4.5.5. Pengelolaan Persampahan ... 04-17 4.5.6. Pengelolaan Air Limbah ... 04-17

(5)

5.1 Perkembangan Sosial Kependudukan... 05-1 5.2 Prospek Pertumbuhan Ekonomi ... 05-1 5.3 Analisis Integritas Kawasan Terhadap Sekitar ... 05-2 5.4 Analisis Daya Dukung Fisik Dan Lingkungan ... 05-3 5.4.1 Tata Guna Lahan ... 05-3 5.4.2 Status Lahan ... 05-4 5.4.3 Tata Bangunan dan Lingkungan ... 05-4 5.5 Analisis Daya Dukung Prasarana Dan Fasilitas Lingkungan ... 05-9

BAB 6 SKENARIO PENANGANAN DAN KONSEP ... 06-1

6.1 Grand Konsep Pengembangan Kawasan ... 06-1 6.1.1 Konsep Mixed Use Development ... 06-1 6.1.2 Strategi Infill ... 06-1 6.1.3 Grand Concept Yang Dapat Dikembangkan ... 06-2 6.1.4 Skenario Penanganan Kawasan ... 06-3 6.2 Konsep Perancangan ... 06-5 6.2.1 Visi dan Misi ... 06-5 6.2.2 Konsep Komponen Perancangan Kawasan... 06-5 6.2.3 Blok Pengembangan Kawasan dan Program Penanganan ... 06-11

BAB 7 RENCANA UMUM DAN PANDUAN RANCANGAN ... 07-1

7.1. Skenario Pendekatan Sejarah ... 07-1 7.2. Rencana Desain Tapak Kawasan ... 07-2 7.3. Struktur Peruntukan Lahan ... 07-4 7.4. Intensitas Pemanfaatan Lahan ... 07-8 7.5. Tata Bangunan ... 07-11 7.6. Sistem Sirkulasi Dan Jalur Penghubung ... 07-36 7.7. Sistem Ruang Terbuka Dan Tata Hijau ... 07-39 7.8. Tata Kualitas Lingkungan ... 047 7.9. Sistem Prasarana Dan Utilitas Lingkungan ... 054 7.10. Panduan Rancangan ... 059

(6)

BAB 9 KETENTUAN PENGENDALIAN RENCANA ... 09-1

9.1 Pengawasan Rencana ... 09-1 9.2 Perangkat Pengendalian Rencana ... 09-1 9.3 Rencana Pengelolaan Pembangunan ... 09-3 9.4 Rencana Perangkat Kelembagaan ... 09-5 9.5 Indikasi Program Penataaan Bangunan Dan Lingkungan ... 09-7 9.5.1 Tinjauan Umum Indikasi Program ... 09-7 9.5.2 Bentuk Program Penataan... 09-8 9.5.3 Program Investasi Dan Pedanaan ... 09-10 9.5.4 Lembaga Terkait ... 09-13 9.5.5 Jadwal Pelaksanaan Program ... 09-13

BAB 10 PEDOMAN PENGENDALIAN PELAKSANAAN ... 10-1

10.1 Pengendalian Pelaksanaan ... 10-1 10.1.1 Umum ... 10-1 10.1.2 Maksud Dan Tujuan ... 10-1 10.1.3 Dasar Pertimbangan ... 10-1 10.1.4 Arahan Untuk Pengendalian Pelaksanaan ... 10-2 10.2 Pengelolaan Kawasan ... 10-2 10.2.1 Lingkup Pengelolaan ... 10-2 10.2.2 Aset Properti Yang Dapat Dikelola ... 10-2 10.2.3 Arahan Untuk Pengelolaan Kawasan ... 10-4 10.3 Ketentuan Perizinan ... 10-5 10.4 Ketentuan Pemberian Insentif Dan Disinsentif ... 10-6 10.4.1 Prosedur Penggunaan Insentif Dan Disinsentif ... 10-7 10.4.2 Identifikasi Jenis Insentif Dan Disinsentif Yang Potensial Dimanfaatkan ... 10-9 10.5 Arahan Sanksi ... 10-10

(7)

1.1 LATAR BELAKANG

Ruang adalah hasil rekayasa manusia untuk mewadahi berbagai aktifitas dan bentuk kehidupan manusia lainnya, sebaiknya ruang dapat memberikan stimulus bagi perilaku dan kehidupan sosial manusia. Perkembangan kota sebagai sebuah proses dinamis yang ditandai dengan aktifitas penduduk membutuhkan lahan (ruang) baru sebagai wadah aktifitas, pada dasarnya semua penggunaan lahan di perkotaan merupakan cerminan dari berbagai macam penggunaan melalui mekanisme supply dan demand.

Adanya kebutuhan terhadap lahan itu memunculkan persaingan dalam mendapatkannya. Hal ini karena lahan merupakan sumberdaya yang jumlahnya terbatas sementara permintaan lahan terus meningkat sehingga nilai lahan cenderung meningkat, dengan kata lain kebutuhann ruang dan jumlah ruang yang ada tidak seimbang, sehingga terjadi banyak penyimpangan dalam pemanfaatan ruang yang berpotensi besar menimbulkan konflik pemanfaatan ruang.

Sebagai bagian dari lingkungan kota beberapa kawasan di antaranya memiliki pertumbuhan fisik yang cepat namun berkembang kurang tertib, tidak selaras dan serasi dengan lingkungannya, sehingga kawasan tersebut menjadi tidak produktif. Suatu kawasan yang berkembang dengan pola demikian memerlukan pengaturan lebih khusus terutama dari segi tata bangunan dan lingkungannya. Diharapkan melalui upaya penataan dengan disiapkannya Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL), selain untuk mencapai kualitas lingkungan yang lebih baik, sekaligus juga dapat memberikan arahan terhadap pemanfaatan lahan sesuai Tata Ruang yang berlaku. RTBL tersebut juga merupakan arahan untuk perwujudan arsitektur lingkungan setempat agar lebih melengkapi peraturan bangunan yang ada.

Kegiatan Penataan Bangunan dan Lingkungan adalah kegiatan yang bertujuan mengendalikan pemanfaatan ruang dan menciptakan lingkungan yang tertata, berkelanjutan, berkualitas serta menambah vitalitas ekonomi dan kehidupan masyarakat. Oleh karenanya penyusunan dokumen RTBL, selain sebagai pemenuhan aspek legal-formal, yaitu sebagai produk pengaturan pemanfaatan ruang serta penataan bangunan dan

lingkungan pada kawasan terpilih, juga sebagai dokumen panduan/pengendali pembangunan dalam penyelenggaraan penataan bangunan dan lingkungan kawasan terpilih supaya memenuhi kriteria perencanaan tata bangunan dan lingkungan yang berkelanjutan meliputi:

pemenuhan persyaratan tata bangunan dan lingkungan, peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui perbaikan kualitas lingkungan dan ruang publik, perwujudan pelindungan lingkungan, serta peningkatan vitalitas ekonomi lingkungan.

Selain hal tersebut RTBL mempunyai manfaat untuk mengarahkan jalannya pembangunan sejak dini, mewujudkan pemanfaatan ruang secara efektif, tepat guna, spesifik setempat dan konkret sesuai dengan rencana tata ruang wilayah, melengkapi peraturan daerah tentang bangunan gedung, mewujudkan kesatuan karakter dan meningkatkan kualitas bangunan gedung dan lingkungan/kawasan, mengendalikan pertumbuhan fisik suatu lingkungan/ kawasan, menjamin implementasi pembangunan agar sesuai dengan aspirasi dan kebutuhan masyarakat dalam pengembangan lingkungan/kawasan yang berkelanjutan, menjamin terpeliharanya hasil

(8)

pembangunan.

Suatu kota yang baik harus merupakan satu kesatuan sistem organisasi yang mampu mengakomodasi kegiatan- kegaitan sosial, ekonomi, budaya, memiliki citra fisik maupun non fisik yang kuat, keindahan visual serta terencana dan terancang secara terpadu. Untuk meningkatkan pemanfaatan ruang kota yang terkendali, suatu produk tata ruang kota harus dilengkapi dengan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungannya. Hal tersebut sebagai bagian dari pemenuhan terhadap Persyaratan Tata Bangunan seperti tersirat dalam Undang – Undang No. 28 Tahuan 2002 tentang Bangunan Gedung Pasal 9 ayat (2) yang berbunyi “Persyaratan tata bangunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan lebih lanjut dalam rencana tata bangunan dan lingkungan oleh pemerintah daerah”.

Konsep kota hijau (kota berkelanjutan) merupakan kota yang dibangun dengan tidak mengorbankan aset kota, melainkan terus menerus memupuk semua kelompok aset meliputi manusia, lingkungan terbangun, sumber daya alam, lingkungan dan kualitas prasarana perkotaan. Kota hijau juga dapat dipahami sebagai kota yang ramah lingkungan berdasarkan perencanaan dan perancangan kota yang berpihak pada prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan, antara lain dengan memanfaatkan secara efektif dan efisien sumber daya air dan energi, mengurangi limbah, menerapkan sistem transportasi terpadu, menjamin kesehatan lingkungan, dan mensinergikan lingkungan alami dan buatan.

diharapkan dapat mensinergikan seluruh perencanaan yang ada di suatu kawasan sehingga dapat mendukung dan memberikan kontribusi terhadap terwujudnya kota hijau yang berkelanjutan.

RTBL adalah juga merupakan upaya konservasi kawasan berskala lingkungan dalam dokumen yang disusun sesuai Pedoman RTBL (Permen PU No. 06/PRT/M/2007). Upaya tersebut diharapkan tercapai dengan fokus pada penciptaan ide-ide kreatif sebagai target hijau kawasan yang:

1. Menciptakan suasana kondusif dalam rangka pembangunan bangunan gedung hijau;

2. Fokus pada desain lingkungan yang dapat menghemat penggunaan sumber daya tak terbarukan/fossil fuel; dan 3. Pendetilan tata cara pelaksanaan di tingkat basis masyarakat untuk mencapai target sasaran ‘hijau’di wilayahnya.

1.2 MAKSUD, TUJUAN DAN SASARAN KEGIATAN

1.2.1 Maksud Kegiatan

Kegiatan ini merupakan acuan bagi para Pihak/Pelaksana dalam melaksanakan kegiatan Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan Kawasan Merlung, Kab.

Tanjung Jabung Barat.

Terarahnya penyelenggaraan penataan bangunan dan lingkungan di Kawasan Merlung, Kab. Tanjung Jabung Barat, sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 06/PRT/M/2007 tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) guna mewujudkan tata bangunan dan dan lingkungan layak huni, berjati diri, produktif dan berkelanjutan, sebagaimana diamanatkan oleh UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung.

1.2.3 Sasaran Kegiatan

Sasaran dari kegiatan ini adalah:

1. Tersusunnya Dokumen Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Merlung, Kab. Tanjung Jabung Barat sesuai dengan Pedoman Penyusunan RTBL yang terdapat pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 06/PRT/M/2007, yang dapat digunakan sebagai panduan dalam penyelenggaraan bangunan gedung dan lingkungan di kawasan tersebut;

2. Tersusunnya Dokumen Detail Engineering Design (DED) pada spot terpilih Kawasan Merlung, Kab.

Tanjung Jabung Barat untuk pelaksanaan kegiatan fisik sebagai stimulan sesuai dengan rencana investasi yang ditetapkan dalam dokumen RTBL; dan

3. Tersusunnya Naskah Peraturan Bupati/Walikota tentang penetapan Dokumen RTBL pada Kawasan Merlung, Kab. Tanjung Jabung Barat sebagai produk pengaturan yang legal di kawasan tersebut.

(9)

KEGIATAN

1.3.1 Lingkup Kegiatan

Berikut ini adalah lingkup dan uraian kegiatan yang harus dilaksanakan:

a. Survey Lokasi dan Pendataan

Data yang dikumpulkan adalah segala jenis informasi yang diperlukan untuk melakukan analisis kawasan dan wilayah sekitarnya. Dari hasil pendataan ini akan diperoleh identifikasi kawasan dari segi fisik, sosial, budaya, dan ekonomi, serta identifikasi atas kondisi di wilayah sekitarnya yang berpengaruh pada kawasan perencanaan. Data tersebut meliputi: peta (peta regional, peta kota, dan peta kawasan perencanaan dengan skala 1:1.000 serta memperlihatkan kondisi topografis/garis kontur), foto-foto (foto udara/citra satelit dan foto-foto kondisi kawasan perencanaan, peraturan dan rencana-rencana terkait, sejarah dan signifikansi historis kawasan, kondisi sosial-budaya, kependudukan, pertumbuhan ekonomi, kondisi fisik dan lingkungan, kepemilikan lahan, prasarana dan fasilitas, dan data lain yang relevan.

b. Analisis Kawasan dan Wilayah Perencanaan Analisis adalah penguraian atau pengkajian atas data yang telah dikumpulkan. Analisis dilakukan

Komponen analisis yang diperlukan antara lain analisis sosial kependudukan, prospek pertumbuhan ekonomi, daya dukung fisik dan lingkungan, aspek legal konsolidasi lahan, daya dukung prasarana dan fasilitas, kajian aspek historis.

Dari hasil analisis ini akan diperoleh arahan solusi atau konsep perencanaan atas permasalahan yang telah diidentifikasikan pada tahap pendataan.

c. Penyusunan Konsep Program Bangunan dan Lingkungan

Hasil tahapan analisis program bangunan dan lingkungan akan memuat gambaran dasar penataan pada lahan perencanaan yang akan ditindaklanjuti dengan penyusunan konsep dasar perancangan tata bangunan yang merupakan visi pengembangan kawasan. Penetapan konsep disesuaikan dengan karakter wilayah kajian dan hasil analisis.

Komponen dasar perancangan berisi: visi pembangunan, konsep perancangan struktur tata bangunan dan lingkungan, konsep komponen perancangan kawasan, blok-blok pengembangan kawasan dan program penanganannya.

d. Penyusunan Rencana Umum dan Panduan Rancangan

Rencana umum dan panduan rancangan merupakan ketentuan tata bangunan dan

arahan pengembangan. Panduan rancangan bersifat melengkapi dan menjelaskan secara lebih rinci rencana umum yang telah ditetapkan sebelumnya, meliputi ketentuan dasar implementasi rancangan dan prinsip-prinsip pengembangan rancangan kawasan.

Adapun komponen rancangan meliputi: struktur peruntukan lahan, intensitas pemanfaatan lahan, tata bangunan, sistem sirkulasi dan jalur penghubung, sistem ruang terbuka dan tata hijau, tata kualitas lingkungan, sistem prasarana dan utilitas lingkungan. Ketentuan dasar implementasi rancangan dapat diatur melalui aturan wajib, aturan anjuran utama, dan aturan anjuran pada kawasan perencanaan dimaksud.

e. Penyusunan Rencana Investasi

Rencana Investasi disusun berdasarkan dokumen RTBL yang memperhitungkan kebutuhan nyata para pemangku kepentingan dalam proses pengendalian investasi dan pembiayaan dalam penataan lingkungan/kawasan. Rencana ini menjadi rujukan bagi para pemangku kepentingan untuk menghitung kelayakan investasi dan besaran biaya suatu program penataan, ataupun sekaligus menjadi tolak ukur keberhasilan investasi. Secara umum rencana investasi mengatur tentang besaran biaya yang dikeluarkan dalam suatu program penataan kawasan dalam suatu kurun waktu tertentu,

(10)

f. Penyusunan Ketentuan Pengendalian Rencana

Ketentuan Pengendalian Rencana bertujuan untuk mengendalikan berbagai rencana kerja, program kerja maupun kelembagaan kerja pada masa pemberlakuan aturan dalam RTBL dan pelaksanaan penataan suatu kawasan, dan mengatur pertanggungjawaban semua pihak yang terlibat dalam mewujudkan RTBL pada tahap pelaksanaan penataan bangunan dan lingkungan.

Ketentuan pengendalian rencana disusun sebagai bagian proses penyusunan RTBL yang melibatkan masyarakat, baik secara langsung (individu) maupun secara tidak langsung melalui pihak yang dianggap dapat mewakili (misalnya Dewan Kelurahan, Badan Keswadayaan Masyarakat/BKM dan Forum Rembug Desa).

Ketentuan Pengendalian Rencana menjadi alat mobilisasi peran masing-masing pemangku kepentingan pada masa pelaksanaan atau masa pemberlakuan RTBL sesuai dengan kapasitasnya dalam suatu sistem yang disepakati bersama, dan berlaku sebagai rujukan bagi para pemangku kepentingan untuk mengukur tingkat keberhasilan kesinambungan pentahapan pelaksanaan pembangunan.

g. Penyusunan Pedoman Pengendalian Pelaksanaan

pelaksanaan penataan bangunan dan lingkungan/kawasan yang berdasarkan dokumen RTBL, dan memandu pengelolaan kawasan agar dapat berkualitas, meningkat, dan berkelanjutan.

Pengendalian pelaksanaan dilakukan oleh dinas teknis setempat atau unit pengelola teknis/UPT/badan tertentu sesuai kewenangan yang ditetapkan oleh kelembagaan pemrakarsa penyusunan RTBL atau dapat ditetapkan kemudian berdasarkan kesepakatan para pemangku kepentingan. Pedoman pengendalian pelaksanaan dapat ditetapkan dan berupa dokumen terpisah tetapi merupakan satu kesatuan dengan dokumen RTBL, berdasarkan kesepakatan para pemangku kepentingan, setelah mempertimbangkan kebutuhan tingkat kompleksitasnya.

1.3.2 Tahapan Kegiatan

Dalam rangka memenuhi target sasaran sesuai dengan yang dipersyaratkan, berikut rincian tahapan kegiatan yang harus dilaksanakan:

a. Rapat Koordinasi Awal Kegiatan Penyusunan RTBL

Segera setelah proses kontrak antara Pejabat Pembuat Komitmen dengan pihak penyedia jasa konsultan RTBL selesai, akan diadakan rapat awal untuk koordinasi sebelum memulai pekerjaan penyusunan RTBL di pusat. Rapat

tersebut akan disampaikan hal-hal sebagai berikut:

- Penjelasan lingkup tugas konsultan penyusunan RTBL;

- Penjelasan tahapan kegiatan yang harus dilaksanakan;

- Penjelasan deliniasi kawasan studi;

- Penyampaian surat usulan penyusunan RTBL dari Pemerintah Daerah;

- Jadwal penyampaian dan pembahasan laporan;

- Perkenalan tenaga ahli Tim Penyedia Jasa;

dan

- Penjelasan sistem koordinasi antara penyedia jasa dengan tim teknis yang terdiri dari unsur Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

b. Pelaksanaan Penandatanganan MOU dan Perjanjian Kerjasama RTBL

Penandatanganan MOU merupakan Perjanjian Kerjasama antara Direktur Jenderal Cipta Karya dengan Bupati/Walikota perihal penyusunan RTBL pada Kawasan yang bersangkutan. Tim tenaga ahli konsultan RTBL diwajibkan mengikuti serangkaian kegiatan penyelenggaraan MOU Perjanjian Kerjasama RTBL yang diadakan di Pusat. Dalam rangka pembahasan penandatanganan MOU, penyedia jasa konsultan RTBL membiayai transport, uang harian dan honor 3 (tiga) orang narasumber yang ditentukan oleh tim PPK.

(11)

Segera setelah rapat koordinasi awal, tim tenaga ahli konsultan RTBL segera menyusun Laporan Pendahuluan serta bahan tayangan yang akan disampaikan pada Rapat Laporan Pendahuluan yang setidaknya memuat substansi sesuai dengan ketentuan mengenai isi materi laporan yang tertera pada Bagian X tentang INDIKATOR KELUARAN DAN KELUARAN.

d. Workshop Pembahasan Laporan Pendahuluan Sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, tim tenaga ahli konsultan RTBL segera mengagendakan dan menyelenggarakan Rapat Pendahuluan dalam bentuk workshop dengan mengundang seluruh tim teknis. Workshop Laporan Pendahuluan diselenggarakan oleh konsultan RTBL di Pusat (Jakarta). Dalam Workshop Laporan Pendahuluan tersebut harus disusun Berita Acara Pembahasan Laporan Pendahuluan yang berisi kesepakatan terhadap substansi Laporan Pendahuluan sebagaimana tertera pada Bagian X tentang INDIKATOR KELUARAN DAN KELUARAN, khususnya pada bagian Rencana Survey dan Rencana Pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD).

e. Pelaksanaan Survey oleh Tim Konsultan

Sesuai dengan jadwal dan agenda yang telah disepakati, tim tenaga ahli konsultan RTBL segera melaksanakan survey lokasi sesuai dengan rencana survey yang telah ditetapkan

dapat mengidentifikasi kemungkinan spot-spot prioritas yang berpotensi menjadi lokasi percontohan untuk pembangunan konstruksi di tahun anggaran 2014 sebagai tindak lanjut penyusunan dokumen RTBL.

f. Pelaksanaan Focus Group Discussion Pertama (FGD-I)

Sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, tim tenaga ahli konsultan RTBL segera mengagendakan dan menyelenggarakan Focus Group Discussion Pertama (FGD-I) dengan mengundang tim teknis daerah dan seluruh pemangku kepentingan terkait di daerah. Focus Group Discussion Pertama (FGD-I) diadakan di tingkat Provinsi pada lokasi studi, dengan melibatkan unsur Bappeda, Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas terkait, unsur kecamatan dan kelurahan, unsur masyarakat umum serta komunitas masyarakat yang terkait dengan studi RTBL di tingkat lokal.

Dalam Focus Group Discussion Pertama (FGD-I) tersebut tim tenaga ahli konsultan RTBL menyampaikan hasil survey awal lokasi untuk dapat dikonfirmasi oleh pihak terkait serta mengidentifikasi sebanyak-banyaknya aspirasi daerah terkait keterpaduan pembangunan di lokasi studi dari masing-masing pihak pemangku kepentingan di daerah yang akan diselaraskan menggunakan perangkat berupa Dokumen RTBL.

FGD-I yang ditandatangani bersama oleh peserta yang memuat kesepakatan bersama sebagai berikut:

- Pengesahan deliniasi kawasan studi oleh pihak berwenang Pemerintah Daerah;

- Identifikasi potensi dan permasalahan lokal kawasan serta penetapan visi dan misi pada kawasan RTBL;

- Draft Sistematika Peraturan Bupati/Walikota tentang Penetapan RTBL pada Kawasan Studi;

- Draft Sistematika Dokumen Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL);

- Draft materi RTBL pada bab ‘Program Bangunan dan Lingkungan’ dan bab ‘Rencana Umum dan Panduan Rancangan; dan

- Penetapan daftar kegiatan serta lokasi pembangunan sarana dan prasarana lingkungan pada spot-spot kawasan yang prioritas.

g. Penyusunan Laporan Antara

Segera setelah dilaksanakannya survey lokasi dan Focus Group Discussion Pertama (FGD-I), tim tenaga ahli konsultan RTBL segera menyusun Laporan Antara serta bahan tayangan yang akan disampaikan pada Rapat Pembahasan Laporan Antara yang setidaknya memuat materi hasil pelaksanaan survey dan hasil pembahasan serta kesepakatan Focus Group Discussion Pertama (FGD-I).

(12)

disepakati, tim tenaga ahli konsultan RTBL segera mengagendakan dan menyelenggarakan Rapat Laporan Antara dengan mengundang tim teknis, serta unsur Pemerintah Daerah termasuk diantaranya Bappeda, Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas terkait lainnya, unsur kecamatan dan kelurahan, unsur masyarakat umum serta unsur asosiasi/komunitas masyarakat yang terkait dengan studi RTBL di tingkat lokal.

Pembahasan Laporan Antara diselenggarakan di tingkat Provinsi pada lokasi kawasan studi RTBL.

Dalam rapat pembahasan Laporan Antara tersebut tim tenaga ahli konsultan RTBL menyampaikan hasil pelaksanaan survey dan hasil pembahasan serta kesepakatan Focus Group Discussion Pertama (FGD-I) dalam bentuk Laporan Antara.

Di akhir pelaksanaan Pembahasan Laporan Antara wajib disusun Berita Acara Pembahasan Laporan Antara yang ditandatangani bersama oleh peserta yang hadir. Notulensi tersebut pada intinya merupakan catatan, usulan, masukan dan kesepakatan bersama hasil pemaparan Laporan Antara yang perlu ditindaklanjuti oleh konsultan dalam rangka penyempurnaan Laporan Antara.

Segera setelah dilaksanakannya pembahasan Laporan Antara di daerah, tim tenaga ahli konsultan segera memperbaiki substansi materi sesuai dengan catatan, usulan, masukan dan

seluruh perbaikan selesai dilakukan, tim tenaga ahli konsultan segera menyampaikan produk Laporan Antara yang telah diperbaiki tersebut disertai dengan Berita Acara FGD-I dan Berita Acara Pembahasan Laporan Antara kepada tim teknis di tingkat pusat bersama dengan PPK kegiatan terkait di Direktorat Penataan Bangunan dan Lingkungan untuk mendapat persetujuan.

i. Kolokium RTBL

Tim tenaga ahli konsultan RTBL diwajibkan untuk hadir di acara kolokium RTBL yang diselenggarakan di Jakarta oleh Direktorat Penataan bangunan dan Lingkungan untuk mempresentasikan hasil sementara produk penyusunan dokumen RTBL sampai dengan tahap Laporan Antara. Penekanan yang diutamakan pada pembahasan bersama tim ahli (narasumber) dalam kolokium tersebut ialah terkait substansi materi RTBL pada Bab ‘Program Bangunan dan Lingkungan’ serta Bab ‘Rencana Umum dan Panduan Rancangan’.

j. Pelaksanaan Focus Group Discussion Kedua (FGD-II)

Sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, tim tenaga ahli konsultan RTBL segera mengagendakan dan menyelenggarakan Focus Group Discussion Kedua (FGD-II) dengan mengundang tim teknis daerah dan seluruh pemangku kepentingan terkait di daerah. Focus

melibatkan unsur Bappeda, Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas terkait, unsur kecamatan dan kelurahan, unsur masyarakat umum serta komunitas masyarakat yang terkait dengan studi RTBL di tingkat lokal.

Dalam Focus Group Discussion Kedua (FGD-II) tersebut tim konsultan menyampaikan hasil pekerjaan sementara sebagai berikut:

a. Rancangan Laporan Draft Akhir mencakup materi dokumen RTBL sesuai dengan ketentuan pada Peraturan Menteri No. 6 tahun 2007 tentang Pedoman Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL), yaitu:

 Program Bangunan dan Lingkungan;

 Rencana Umum dan Panduan Rancangan;

 Rencana Investasi;

 Ketentuan Pengendalian Rencana; dan

 Pedoman Pengendalian Pelaksanaan.

b. Draft Dokumen Perencanaan/Pra-DED; dan c. Draft Peraturan Bupati/Walikota tentang

Penetapan RTBL pada Kawasan Studi.

Di akhir pelaksanaan Focus Group Discussion Kedua (FGD-II) tim tenaga ahli konsultan RTBL wajib menyusun Berita Acara FGD-II yang ditandatangani bersama oleh peserta FGD-II yang memuat catatan dan masukan serta kesepakatan bersama terhadap dokumen- dokumen tersebut diatas.

(13)

Kedua (FGD-II), tim tenaga ahli konsultan segera menyusun Laporan Draft Akhir serta bahan tayangan yang akan disampaikan pada Rapat Pembahasan Laporan Draft Akhir yang memuat materi sebagai berikut:

a. Laporan Draft Akhir mencakup materi dokumen RTBL sesuai dengan ketentuan pada Peraturan Menteri No. 6 tahun 2007 tentang Pedoman Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL), yaitu:

 Program Bangunan dan Lingkungan;

 Rencana Umum dan Panduan Rancangan;

 Rencana Investasi;

 Ketentuan Pengendalian Rencana; dan

 Pedoman Pengendalian Pelaksanaan.

b. Dokumen Perencanaan/DED termasuk RKS, RAB dan simulasi 3 dimensional; dan

c. Rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penetapan RTBL pada Kawasan Studi.

l. Pelaksanaan Rapat Pembahasan Laporan Draft Akhir

Pada tahap ini tim tenaga ahli konsultan didampingi dengan tim teknis yang terdiri dari unsur pusat dan daerah menyampaikan paparan yang lengkap dan utuh mencakup keseluruhan materi Dokumen RTBL, Dokumen Perencanaan/DED dan Rancangan PeraturanBupati/Walikota tentang Penetapan RTBL pada Kawasan Studi di hadapan kepala

tertulis “disetujui” atau “disetujui dengan catatan”

keseluruhan dokumen tersebut oleh kepala daerah (Bupati/Walikota) yang dituangkan dalam Berita Acara Pembahasan Laporan Draft Akhir dan ditandatangani bersama oleh kepala daerah (Bupati/Walikota), Tim Teknis Pusat dan Daerah serta Tim Tenaga Ahli Konsultan RTBL.

m. Penyempurnaan Laporan Draft Akhir

Segera setelah pelaksanaan Rapat Pembahasan Laporan Draft Akhir, tim tenaga ahli konsultan segera bekerja menyempurnakan seluruh dokumen penyusunan RTBL berdasarkan catatan, usulan, masukan dan kesepakatan bersama pada saat dilaksanakannya rapat pembahasan Laporan Draft Akhir.

n. Pelaksanaan Rapat Pembahasan Laporan Akhir

Sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, tim Penyedia Jasa segera mengagendakan dan menyelenggarakan Rapat Pembahasan Laporan Akhir dengan mengundang seluruh tim teknis. Rapat Pembahasan Laporan Akhir diadakan di tingkat pusat dengan agenda finalisasi keseluruhan dokumen produk penyusunan RTBL sebagai berikut:

a. Laporan Akhir mencakup materi dokumen RTBL sesuai dengan ketentuan pada Peraturan Menteri No. 6 tahun 2007 tentang Pedoman

 Program Bangunan dan Lingkungan;

 Rencana Umum dan Panduan Rancangan;

 Rencana Investasi;

 Ketentuan Pengendalian Rencana; dan

 Pedoman Pengendalian Pelaksanaan.

b. Dokumen Perencanaan/DED termasuk RKS, RAB dan simulasi 3 dimensional; dan

c. Rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penetapan RTBL pada Kawasan Studi.

Di akhir rapat pembahasan laporan akhir disusun Berita Acara Pembahasan Laporan Akhir yang memuat catatan, usulan, masukan dan kesepakatan bersama dengan tim teknis terkait penyempurnaan keseluruhan dokumen tersebut diatas.

o. Proses Legalisasi/Penandatanganan Produk Dokumen RTBL

Setelah seluruh catatan, usulan, masukan dan kesepakatan bersama yang dituangkan dalam Berita Acara Pembahasan Laporan Akhir ditindaklanjuti oleh tim tenaga ahli konsultan, seluruh dokumen produk penyusunan RTBL tersebut diatas segera disampaikan ke Pemerintah Daerah untuk mendapat legalisasi dalam bentuk penandatanganan oleh pihak- pihak terkait sesuai dengan tugas dan

(14)

dan diperkirakan akan selesai melebihi Tahun Anggaran 2013, maka tim tenaga ahli konsultan RTBL diminta untuk membuat Berita Acara Serah Terima Dokumen RTBL yang ditandatangani oleh unsur pihak Pemerintah Daerah yang berwenang. Berita Acara Serah Terima Dokumen ini digunakan sebagai bukti telah selesainya serangkaian proses penyusunan RTBL yang telah menghasilkan keseluruhan produk RTBL yang telah diterima oleh pihak Pemerintah Daerah.

1.3.3 Lokasi Kegiatan

Kedudukan Kawasan Merlung berada di Kabupaten Tanjung Jabung Barat terletak dibagian barat Provinsi Jambi. Secara gerografis Kabupatan Tanjung Jabung Barat terletak diantara 1°15'58.13"S dan 103° 2'40.54"E.

Kabupaten Tanjung Jabung Barat memiliki Luas wilayahnya 5.503 km² dengan populasi 233.894 jiwa. Ibu kotanya ialah Kualatungkal. Kabupaten ini terbagi menjadi 13 kecamatan yang terbagi lagi menjadi 52 desa.

Kecamatan Merlung merupakan salah satu dari 13 kecamatan dalam wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat Propinsi Jambi. Menjadi kecamatan yang definitiv tanggal 10 Januari 1992 bedasarkan Keppres no. 60 tahun 1991 tgl. 20 Nvember 1991. Dan berdasarkan PERDA Kabupaten Tanjung Jabung Barat Nomor 8 Tahun 2008 Tentang Pemekaran Kecamatan dalam Kabupaten

Barat.

Gambar 1.1. Posisi Kab. Tanjung Jabung Barat dan Daerah Sekitarnya

(15)

Merlung adalah 409,8 Km² yang terbagi dalam 8 desa.

Kecamatan Merlung berada pada ketinggian antara 5 sampai dengan 8 meter diatas permukaan laut dengan topografi datar dan berbukit-bukit. Ibukota Kecamatan Merlung adalah Desa Merlung Jarak Ibukota kecamatan Ke ibukota Kabupaten Tanjung Jabung Barat sejauh ± 162 Km, sedangkan jarak ke ibukota ke Propinsi Jambi sejauh ± 120 Km. Desa

terjauh dari ibukota kecamatan Merlung adalah desa Tanjung Benanak dengan jarak ± 27Km, sedangkan desa terdekat adalah desa Merlung yang merupakan ibukota Kecamatan Merlung

B. Batasan Kawasan Perencanaan

Deliniasi batas kawasan RTBL Kecamatan Merlung ialah:

1. Merupakan pusat kecamatan di Desa Merlung

2. Merupakan kawasan ekonomi kabupaten Tanjung Jabung Barat

3. Terlayani oleh transportasi Lintas Sumatera Timur Kawasan Studi Penyusunan RTBL Kec. Merlung, Tanjung Jabung Barat, Kecamatan Merlung dapat dilihat dalam gambar 1.2

Gambar 1.2

Kawasan Studi Penyusunan RTBL Kec. Merlung, Tanjung Jabung Barat

1.3.4 Batasan Kegiatan

Jenis pekerjaan fisik yang dapat dibangun oleh Pemerintah Pusat melalui dana APBN sebagai dana stimulan yang merupakan tindak lanjut dari dokumen RTBL yang disusun, adalah prasarana dan sarana lingkungan pada lahan yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah yang dapat diakses secara luas oleh publik/masyarakat umum sehingga dapat mendukung aktivitas ekonomi dan sosial masyakarat pada kawasan tersebut, guna terwujudnya peningkatan dan pengembangan nilai kawasan, seperti:

b. pembangunan/peningkatan saluran lingkungan, dengan dimensi penampang saluran drainase ± 40x60 cm disesuaikan dengan intensitas curah hujan;

c. pembangunan/peningkatan ruang terbuka publik (plaza) beserta sarana/prasarana pendukungnya (gazebo, lampu taman/pedestrian, tugu/monumen, dll);

d. pembangunan/peningkatan jalan pedestrian;

e. pembangunan kios pedagang semi permanen;

f. pembangunan/peningkatan gerbang kawasan;

g. rehabilitasi (konservasi) bangunan adat/tradisional milik umum (Pemerintah Daerah) dan/atau masuk ke dalam Daftar Bangunan Cagar Budaya, sesuai dengan persyaratan pelestarian bangunan; dan h. Taman Kota atau Taman Bermain beserta

kelengkapan sarana dan prasarananya

1.4 PENDEKATAN DAN METODOLOGI 1.4.1 Kerangka Pemikiran

Pada dasarnya, kegiatan ini merupakan upaya untuk menyusun Dokumen Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Merlung, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi, yang disusun dalam format Laporan Akhir, disertai Detail Engineering Design (DED) Kawasan Prioritas, yang dilengkapi dengan Gambar Perspektif/ Ilustrasi 3 Dimensi, dan juga Draft Peraturan Bupati/ Walikota tentang Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan.

(16)

Kerja (KAK) dapat diidentifikasi yang menjadi alasan perlu dilaksanakannya kegiatan Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Merlung, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, sebagai berikut:

a. Adanya potensi kawasan yang diharapkan dapat dikembangkan, yaitu:

a. Terletak di Pusat Kota

b. Kawasan strategis, di lewat jalan lintas timur ( Sumsel, Kota Jambi – Riau), Jalan Menuju Kabupaten Muaro Bungo, provinsi Sumbar, Menuju Kuala Tungkal (pesisir)

c. Zone Perdagangan dan Pemerintahan telah terbagi dengan jelas

d. Memiliki nilai sejarah Perjuangan adanya keberadaan tugu peringatan perjuangan rakyat Merlung

e. Telah tersedia Sarana dan Prasarana pendukung

f. Terdapat pasar temporer pendukung potensi Perdagangan

b. Adanya permasalahan kawasan yang diharapkan dapat ditangani secara tepat, yaitu:

a. Masih terdapat fasilitas umum yang kurang memadai

b. Kurangnya Pemberdayaan segala potensi non fisik (sosial, budaya, ekonomi) terhadap potensi sebagai kawasan yang memiliki nilai sejarah perjuangan bangsa yang mampu memberikan peran bagi pembinaan dan

c. Masih banyak penyimpangan dari segi aturan sempadan bangunan

d. Tidak adanya ketegasan dalam pengaturan wujud fisik / fasade bangunan

e. Drainase terbuka dengan fungsi ganda yaitu saluran limbah rumah tangga

c. Adanya pemahaman bahwa kegiatan Penataan Bangunan dan Lingkungan adalah kegiatan yang bertujuan mengendalikan pemanfaatan ruang dan menciptakan lingkungan yang tertata, berkelanjutan, berkualitas serta menambah vitalitas ekonomi dan kehidupan masyarakat.

Oleh karenanya penyusunan dokumen RTBL, selain sebagai pemenuhan aspek legal-formal, yaitu sebagai produk pengaturan pemanfaatan ruang serta penataan bangunan dan lingkungan pada kawasan terpilih, juga sebagai dokumen panduan/ pengendali pembangunan dalam penyelenggaraan penataan bangunan dan lingkungan kawasan terpilih supaya memenuhi kriteria perencanaan tata bangunan dan lingkungan yang berkelanjutan meliputi:

pemenuhan persyaratan tata bangunan dan lingkungan, peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui perbaikan kualitas lingkungan dan ruang publik, perwujudan pelindungan lingkungan, serta peningkatan vitalitas ekonomi lingkungan.

d. Adanya kesadaran bahwa RTBL mempunyai manfaat untuk mengarahkan jalannya

spesifik setempat dan konkret sesuai dengan rencana tata ruang wilayah, melengkapi peraturan daerah tentang bangunan gedung, mewujudkan kesatuan karakter dan meningkatkan kualitas bangunan gedung dan lingkungan/kawasan, mengendalikan pertumbuhan fisik suatu lingkungan/ kawasan, menjamin implementasi pembangunan agar sesuai dengan aspirasi dan kebutuhan masyarakat dalam pengembangan lingkungan/kawasan yang berkelanjutan, menjamin terpeliharanya hasil pembangunan pascapelaksanaan, karena adanya rasa memiliki dari masyarakat terhadap semua hasil pembangunan.

Ke-empat hal tersebut memang saling terkait dan tidak terpisahkan hingga terfokus pada inti permasalahan, yaitu belum dilakukannya perencanaan dan penataan kawasan yang detail dan lengkap pada Kawasan Merlung, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi tersebut. Hal ini dapat dipahami karena kemungkinan Pemerintah Daerah menghadapi kendala atau kesulitan untuk melakukan penataaan kawasan tersebut melalui penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan yang benar dan berkualitas.

Kegiatan penyusunan RTBL di berbagai daerah di Indonesia yang telah dilakukan sebelumnya, baik oleh Pemerintah Daerah, maupun oleh Instansi atau Lembaga

(17)

seharusnya. Oleh karena itu, dalam melakukan kegiatan Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Merlung, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi ini, harus didasarkan pada tahapan- tahapan yang sudah ditetapkan dalam pedoman RTBL.

Tahapan kegiatan secara garis besar yang harus dilakukan meliputi pendataan kondisi eksisting kawasan perencanaan; analisis kawasan dan wilayah perencanaan;

penyusunan konsep program bangunan dan lingkungan;

penyusunan rencana umum dan panduan rancangan;

penyusunan rencana investasi; penyusunan ketentuan pengendalian rencana; serta penyusunan pedoman pengendalian pelaksanana.

Dalam proses Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Merlung, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi ini akan ditentukan suatu kawasan prioritas yang ditetapkan bersama dengan Pemerintah Daerah (Kabupaten Tanjung Jabung Barat), terutama didasarkan pada Visi Bupati ke depan.

Selanjutnya, akan dibuat/ disusun Detail Engineering Design (DED) pada kawasan prioritas tersebut, sebagai panduan/ acuan teknis untuk melaksanakan pembangunan (konstruksi) fisiknya. Hal ini merupakan langkah tindak lanjut untuk mengimplementasikan dokumen RTBL yang telah disusun. Oleh karena itu, hasil penyusunan RTBL tersebut harus diperkuat secara hukum, agar mempunyai kekuatan hukum, paling tidak dalam bentuk Peraturan Bupati tentang Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan.

Sebagaimana telah dijelaskan bahwa Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL)

mengacu pada ketentuan-ketentuan yang tertuang dalam pedoman RTBL. Agar penyusunan RTBL ini dapat menghasilkan produk-produk rencana yang tepat dan berkualitas, maka perlu dilakukan kesepahaman terhadap proses penyusunan, dari tahap persiapan hingga finalisasi dokumen Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan Kawasan Merlung, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi ini, sehingga dapat dimanfaatkan oleh seluruh Pemangku Kepentingan baik di Pusat maupun Daerah (Provinsi dan Kabupaten).

Dalam penyusunan dokumen Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Merlung, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi ini, Konsultan juga dapat belajar dari produk-produk rencana dan desain yang pernah dibuat (dari studi-studi terdahulu), atau dari produk-produk RTBL yang pernah dibuat di luar negeri. Namun demikian, potensi lokal juga seringkali bisa lebih baik, dan lebih menarik bergantung pada proses pengolahannya lebih lanjut.

Kerangka Pemikiran tersebut secara diagramatis dapat dicermati pada Gambar 1.4 dibawah ini.

1.4.2 Pendataan dan Pencatatan

Untuk mendukung Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Merlung, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi, perlu dilakukan kegiatan survey dan kunjungan lapangan ke Kawasan pusat kota Merlung, Kabupaten Tanjung Jabung Barat,

mengumpulkan seluruh data-data dan informasi yang relevan dan dapat digunakan untuk melakukan analisis kawasan perencanaan dan wilayah sekitarnya.

Pada kegiatan survey lapangan ini, Konsultan perlu melakukan koordinasi dengan beberapa Instansi/ Dinas Teknis terkait dan para Pemangku Kepentingan di Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung untuk lebih memudahkan dalam pengumpulan datanya, maupun dalam melaksanakan observasi lapangan. Kegiatan pendataan dan pencatatan yang dilakukan melalui survey lapangan ke kawasan perencanaan ini akan dilakukan dengan menggunakan teknik/ instrumen pengumpulan data, sebagai berikut :

a. Kuesioner

Kuesioner disusun untuk membantu pelaksanaan pengumpulan data di tingkat responden, baik pelaku maupun target group.

Materi pertanyaan dalam kuesioner akan berbentuk pertanyaan terbuka, semi terbuka, maupun pertanyaan pilihan. Data-data yang diperlukan meliputi :

Potensi dan permasalahan kawasan, serta penetapan delineasi kawasan perencanaan.

Data kondisi eksisting kawasan perencanaan dan wilayah sekitarnya, mencakup aspek fisik, sosial, budaya, dan ekonomi.

(18)

Gambar 1.3

Kerangka Pemikiran Penyusunan RTBL Kawasan Merlung

Pemanfaatan kawasan perencanaan bagi masyarakat, termasuk pengembangan potensi ekonomi, maupun potensi-potensi lainnya.

Persepsi masyarakat terhadap kegiatan pembangunan lingkungan permukiman;

potensi dan kendala sosial, ekonomi dan budaya masyarakat; tingkat partisipasi masyarakat, organisasi atau kelompok

masyarakat dalam pengelolaan pembangunan.

Untuk memudahkan proses pelaksanaannya, maka Kuesioner ini akan disusun berdasarkan paket jenis responden. Acuan ini menjadikan Kuesioner yang disusun akan terdiri atas :

Kuesioner untuk Instansi/Dinas terkait di tingkat Provinsi dan Kota/ Kabupaten.

Kuesioner untuk Masyarakat di dalam dan sekitar Kawasan.

Kuesioner untuk Stakeholders lainnya.

Agar proses wawancara dapat dilakukan secara lebih baik dan terfokus pada data dan informasi yang ingin dicari, maka akan disusun suatu pedoman wawancara sebagai acuan/pegangan dalam proses pelaksanaan wawancara yang akan dilakukan. Responden untuk pelaksanaan wawancara ini adalah Stakeholders terkait dari kalangan Pemerintah serta Tokoh-tokoh Masyarakat setempat. Dikaitkan dengan pelaksanaan pengumpulan data ini, wawancara juga ditujukan untuk mengejar lebih dalam informasi yang dimiliki oleh Narasumber yang mungkin tidak leluasa atau bersifat sensitif untuk dikemukakan di dalam forum diskusi. Data-data yang diperlukan hampir sama dengan data-data untuk Kuesioner.

c. Observasi Lapangan

Observasi lapangan merupakan bentuk pengumpulan data dengan melihat dan mengamati langsung obyek sasaran di lapangan.

Dalam konteks Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Merlung, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi, observasi lapangan dilakukan untuk melengkapi data-data yang akan dicari melalui wawancara, yang dilakukan melalui pengambilan fotografi. Enumerator yang bertugas akan membuat dokumentasi mengenai obyek-obyek strategis yang dapat menggambarkan kondisi eksisting kawasan

(19)

kondisi arsitektur, keberadaan bangunan gedung dan lingkungan yang penting/ bersejarah, batas- batas kawasan, serta obyek-obyek penting lainnya yang berada pada kawasan tersebut, dan sekitarnya.

d. Survey Data Sekunder

Survey data sekunder dilakukan untuk pengumpulan data-data sekunder yang dibutuhkan dalam Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Merlung, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi. Untuk mendapatkan data-data sekunder tersebut dilakukan melalui kunjungan ke Instansi-instansi/ Dinas terkait di Daerah.

Sesuai dengan lingkupnya, maka jenis data yang diperlukan, antara lain :

Produk-produk Kebijakan dan Rencana (RTRW, RENSTRADA, RPJM, RDTRK, RTBL, Master Plan Kawasan, dan lain-lain).

Berbagai Kebijakan, Peraturan, NSPM, serta Landasan Teori tentang penataan bangunan dan lingkungan, baik di Pusat maupun Daerah.

Peta-peta (peta regional, peta kota/kabupaten, dan peta kawasan perencanaan dengan skala 1:1000 yang dilengkapi dengan kondisi topografis/ garis kontur), serta foto udara/citra kawasan perencanaan dan sekitarnya.

sosial-budaya, kependudukan, pertumbuhan ekonomi, kondisi fisik dan lingkungan, kepemilikan lahan, kondisi prasarana dan fasilitas, dan data lain yang relevan.

Dan lain-lain.

Dalam melakukan pendataan dan pencatatan data tersebut, sumber data atau responden yang menjadi sasaran, baik untuk data primer maupun data sekunder adalah Stakeholders Daerah, mencakup Bappeda, Dinas PU Cipta Karya, Dinas Tata Kota, Dinas Tata Ruang dan Permukiman, Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Dinas Pertanian, Dinas Kehutanan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, LSM, Perguruan Tinggi, Masyarakat, dan lain-lain.

1.4.3 Pendataan Analisis kualitatif dan Kuantitatif

Setelah dilakukan pendataan dan pencatatan, dilanjutkan dengan melakukan kajian dan analisis terhadap data-data dan informasi yang diperoleh. Adapun metode analisis yang digunakan dalam Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Merlung, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi ini, disesuaikan dengan jenis data yang diperoleh, yaitu metode analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif.

Pendekatan Kualitatif dilakukan dengan menggunakan metode analisis deskripsi terhadap temuan-temuan yang

pengumpulan data wawancara mendalam, observasi lapangan, maupun penelusuran data sekunder. Deskripsi kualitatif yang dihasilkan diantaranya berupa informasi mengenai :

 Deskripsi perbandingan antara hasil temuan lapangan dengan standar prosedur yang telah ditetapkan, baik yang bersifat data kuantitatif maupun kualitatif.

 Deskripsi berbagai faktor yang memperngaruhi kondisi dari suatu variabel analisis, baik yang bersifat positif (potensi) maupun yang bersifat negatif (masalah/kendala).

 Deskripsi pengaruh atau implikasi yang mungkin terjadi sehubungan pencapaian suatu variabel analisis, baik terhadap kegiatan berikutnya (jika variabel tersebut merupakan input dari kegiatan yang akan dilakukan berikutnya) maupun terhadap hasil pelaksanaan program secara keseluruhan.

 Deskripsi rekomendasi penanganan untuk perbaikan hasil program dan kegiatan, yang disesuaikan dengan temuan terhadap faktor yang memperngaruhi pencapaian sasaran program/kegiatan.

Pendekatan Kuantitatif dilakukan dengan menggunakan metode perhitungan matematis atau statistik yang sederhana terhadap temuan-temuan yang diperoleh dari pelaksanaan pendataan dan pencatatan (survey lapangan), baik dengan menggunakan perangkat

(20)

Deskripsi kuantitatif yang dihasilkan pada umumnya berupa informasi mengenai besaran prosentase, proporsi, nilai tertinggi dan terendah, nilai rata-rata, jumlah sub total dan total, dan lain-lain.

Pengkajian dan analisis yang dilakukan dalam rangka Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Merlung, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi ini adalah analisis kawasan dan wilayah perencanaan, yang dilakukan secara berjenjang dari tingkat kota/ kabupaten, tingkat wilayah di sekitar kawasan, sampai pada tingkat kawasan perencanaan.

Aspek-aspek yang dianalisis meliputi antara lain:

a. Analisis sosial kependudukan.

b. Analisis prospek pertumbuhan ekonomi.

c. Daya dukung fisik dan lingkungan, serta analisis kesesuaian lahan.

d. Daya dukung prasarana, sarana, dan utilitas.

e. Kajian aspek legal konsolidasi lahan.

f. Kajian aspek historis kawasan.

g. Kajian aspek arsitektural, termasuk intensitas bangunan, perletakan bangunan, desain bangunan, dan lain-lain.

h. Analisis pola pemanfaatan ruang di kawasan perencanaan dan wilayah sekitarnya.

i. Dan lain-lain.

1.4.4 Metodologi Pelaksanaan Kegiatan

Kawasan Merlung, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi ini adalah sebagai upaya untuk mengembangkan Kawasan Merlung, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, melalui penyusunan RTBL pada Kawasan tersebut, yang nantinya diharapkan dapat dimanfaatkan oleh seluruh Pemangku Kepentingan. Untuk dapat menghasilkan keluaran kegiatan yang diharapkan, maka Konsultan perlu menyusun suatu metodologi pelaksanaan yang merupakan tahapan dan langkah-langkah dalam melaksanakan pekerjaan ini.

Berdasarkan pada kerangka pemikiran, beberapa pendekatan, serta ketentuan pelaksanaan kegiatan yang dituangkan dalam KAK, maka langkah-langkah sistematis dan metodologis yang akan dilakukan untuk menyelesaikan pekerjaan Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Merlung, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi ini secara rinci dapat dicermati pada penjelasan berikut ini.

1.4.4.1 Tahap Persiapan Pelaksanaan

Pada tahap ini, Konsultan akan mengawali pekerjaan dengan memobilisasi para Tenaga Ahli dan juga Tenaga Pendukungnya. Kemudian melakukan persiapan-persiapan yang dapat mendukung kemudahan bekerja bagi para Tenaga Ahlinya, dan dilanjutkan dengan melakukan pengumpulan data awal (studi literatur).

Secara substansi, kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan meliputi :

Mobilisasi Personil dan Pembagian Tugas Pekerjaan.

Penetapan Strategi dan Program Pencapaian Sasaran, mencakup:

Pendekatan dan Metodologi Pelaksanaan.

Program Kerja dan Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan.

Komposisi Tim dan Jadual Penugasan Personil.

Instrumen Pendataan (Kuesioner, Format Data, dan lain-lain), Pencatatan, dan Analisis Data.

Penyusunan Metode dan Rencana Survey Lapangan.

Menyusun Rencana FGD I dan II

Koordinasi dan konsultasi dengan Tim Teknis dan Stakeholders Daerah.

2. Pengumpulan Data Awal (Studi Literatur), meliputi :

Melakukan Kajian Studi Literatur, Peraturan, dan Dokumentasi terkait Program Penataan Bangunan dan Lingkungan.

Gambaran Umum Daerah Perencanaan.

3. Pengolahan Data dan Analisis Awal, meliputi :

Mereview, mempelajari dan mengkaji Laporan-laporan RTBL yang pernah dilakukan.

Perumusan batasan kawasan perencanaan berdasarkan ketentuan/ kriteria perencanaan.

Analisis pemecahan masalah.

(21)

4. Penyusunan Laporan Pendahuluan, mencakup :

Penulisan Laporan Pendahuluan.

Pembahasan Laporan Pendahuluan.

1.4.4.2 tahap Survey dan Analsis Data

Tahap ini merupakan tahap survey lapangan, yang dilanjutkan dengan kegiatan analisis kawasan dan wilayah perencanaan. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap ini, adalah sebagai berikut :

1. Koordinasi dan Diskusi

Pada kegiatan ini akan dilakukan diskusi dan koordinasi mengenai rencana dan jadwal pelaksanaan survey lapangan, bersama dengan Tim Teknis Pekerjaan.

2. Survey Lapangan

Survey lapangan dilakukan di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Kawasan Pusat Kota Tabanan.

Beberapa kegiatan pada survey lapangan yang perlu dilakukan, meliputi :

a) Pengumpulan Data Primer, meliputi diskusi/

wawancara, dan observasi lapangan (fotografi), yang terkait dengan kondisi/karakteristik, potensi dan permasalahan kawasan perencanaan dan sekitarnya.

b) Pengumpulan Data Sekunder, meliputi : Produk-produk Kebijakan dan Rencana

(RTRW, RPJMD, RENSTRADA

lain-lain).

Berbagai Kebijakan, Peraturan, NSPM, serta Landasan Teori tentang penataan bangunan dan lingkungan (RTBL).

Referensi/ Literatur, Studi-studi dan Kajian, Peraturan, dan Dokumentasi tentang RTBL, baik di Pusat maupun Daerah.

Situasi dan Kondisi Umum Daerah (Statistik).

Situasi dan Kondisi Kawasan Perencanaan, mencakup:

 Potensi dan permasalahan kawasan, serta penetapan batas-batas (delineasi) kawasan.

 Kegiatan sosial masyarakat, potensi ekonomi, dan potensi lainnya terkait RTBL.

 Peta-peta (peta kota, peta wilayah, peta kawasan perencanaan skala 1:1000, dilengkapi garis kontur), gambar site/tapak, dan gambar pendukung lainnya.

Hasil studi, gambar-gambar, dan peta- peta pendukung lainnya.

Data-data lainnya jika diperlukan.

Pengumpulan data sekunder dilakukan melalui Dinas/Instansi Teknis dan Kelembagaan yang terkait di Daerah (Provinsi dan Kota/Kab.), serta sebagian di Instansi teknis di Jakarta.

dengan Stakeholders Terkait, yang akan dilakukan di Daerah ( di Tingkat Provinsi), untuk memperoleh kesepakatan terkait delineasi, materi RTBL dan Format rancangan Peraturan Bupati, yang dapat digunakan sebagai panduan dalam penyelenggaraan bangunan gedung dan lingkungan di Kawasan Merlung, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, tersebut.

4. Analisis Data, yang dilakukan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif dari studi kebijakan/peraturan, laporan, data dan informasi terkait, hasil survey lapangan, pembahasan dan FGD -01, serta masukan dan pendapat pakar, praktisi dan pihak pelaksana dari instansi terkait terhadap rencana tata bangunan dan lingkungan di kawasan perencanaan.

Analisis seluruh potensi dan masalah terhadap elemen perancangan RTBL, meliputi Analisis Sosial Kependudukan, Prospek Pertumbuhan Ekonomi, Daya Dukung Fisik dan Lingkungan;

Analisis Aspek Legal Konsolidasi Lahan, Analisis Kesesuaian Lahan, Daya Dukung Prasarana dan Fasilitas, Kajian Aspek Historis dengan menggunakan kriteria terukur dan tidak terukur;

serta Analisis untuk menentukan prioritas program pembangunan dilakukan terhadap masing-masing elemen rancang RTBL dengan menggunakan metode SWOT.

(22)

sekitarnya.

6. Penyusunan Laporan Antara, mencakup :

Penulisan Laporan Antara.

Pembahasan Laporan Antara.

1.4.4.3 Tahap Perumusan dan Konsep Rencana

Tahap ini merupakan tahap perumusan dan konsep Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan. Kegiatan- kegiatan yang dilakukan pada tahap ini, adalah sebagai berikut :

1. Penyusunan Konsep Program Bangunan dan Lingkungan.

2. Penyusunan Rencana Umum dan Panduan Rancangan.

3. Penyusunan Rencana Investasi

4. Penyusunan Ketentuan Pengendalian Rencana 5. Penyusunan Pengendalian Pelaksanaan

6. Dokumen Perencanaan / Pra- DED.

7. DraftbPeraturan Bupati tentang Penetapan RTBL pada Kawasan Studi

8. Penyusunan Laporan Draft Akhir, mencakup :

Penulisan Laporan Draft Akhir.

Pembahasan Laporan Draft Akhir.

1.4.4.4 Tahap Finalisasi

penyempurnaan terhadap hasil Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Merlung, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi, yang kemudian dilakukan penyempurnaan laporan akhir. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap ini, adalah sebagai berikut :

1. Kegiatan Focus Group Discussion (FGD) – 02 dengan Stakeholders Terkait, yang akan dilakukan di Daerah ( di Tingkat Provinsi ), untuk memperoleh kesepakatan dan penyempurnaan terhadap hasil penyusunan RTBL, yang dapat digunakan sebagai panduan dalam penyelenggaraan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan Kawasan Merlung, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi.

2. Penyusunan Laporan Akhir, meliputi finalisasi seluruh kegiatan penyusunan RTBL, mencakup:

Analisis terhadap seluruh kajian yang dilakukan.

Program Bangunan dan Lingkungan.

Rencana Umum dan Panduan Rancangan, yaitu Rencana Umum (design plan), Rencana Detail (design-guidelines), dan Administrasi Pengendalian Program dan Rencana (administration guidelines).

Rencana Incestasi

Ketentuan dan Pedoman Pengendalian Rencana (development guidelines).

Pedoman Pengendalian Pelaksanaan.

4. Penyusunan RANCANGAN PERATURAN BUPATI tentang Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan.

5. Penyusunan Executive Summary yaitu berupa ringkasan eksekutif hasil kegiatan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan.

6. Pencetakan/penjilidan dan Penggandaan, mencakup :

Buku Laporan Akhir dan Executive Summary.

7. Pendokumentasian Laporan dalam CD, yang berisi Laporan Akhir, DED dan RAB, Draft Peraturan Bupati/Walikota dan Executive Summary.

Secara keseluruhan, tahap-tahap kegiatan tersebut di atas akan divisualisasikan secara sistematis dalam Metodologi Pelaksanaan, yang dapat dilihat pada Gambar 1.5.

1.5 Landasan Hukum

Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan didasarkan pada:

a. Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman;

b. Undang-Undang Republik Indonesia No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya;

c. Undang-Undang Republik Indonesia No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana

(23)

d. Undang-undang RI No. 26 Tahun 2007, tentang Penataan Ruang;

e. Undang-undang RI No. 28 Tahun 2002, tentang Bangunan Gedung;

f. Undang-Undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup;

g. Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah;

h. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang

i. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional;

j. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-undang Nomor 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung

k. Peraturan Menteri PU Nomor 29/PRT/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung;

l. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor:

05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan dan

m. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor:

06/PRT/M/2007 tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan;

n. Peraturan Menteri PU Nomor 30/PRT/M/2006 tentang Persyaratan Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Umum dan Lingkungan;

o. SNI 03-1733-2004 tentang Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan;

p. Surat Edaran Direktur Jenderal Cipta Karya Nomor 01/SE/DC/2009 perihal Modul Sosialisasi Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan;

q. Peraturan Daerah/Rancangan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) pada Kabupaten/Walikota tempat lokasi studi; dan r. Peraturan Daerah/Rancangan Peraturan Daerah

tentang Bangunan Gedung pada

Kabupaten/Walikota tempat lokasi studi.

1.6 Manfaat dan Hasil Pekerjaan

Manfaat dari Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan untuk Kawasan Merlung Kabupaten Tanjung Jabung Barat ini meliputi :

a. Mengarahkan jalannya pembangunan sejak dini;

b. Mewujudkan pemanfaatan ruang secara efektif, tepat guna, spesifik setempat dan konkret sesuai dengan rencana tata ruang wilayah;

c. Melengkapi peraturan daerah tentang bangunan gedung;

(24)

e. Mengendalikan pertumbuhan fisik suatu lingkungan/kawasan;

f. Menjamin implementasi pembangunan agar sesuai dengan aspirasi dan kebutuhan masyarakat dalam pengembangan lingkungan/kawasan yang berkelanjutan;

g. Menjamin terpeliharanya hasil pembangunan pasca pelaksanaan, karena adanya rasa memiliki dari masyarakat terhadap semua hasil pembangunan.

Setelah terlaksananya pekerjaan ini, keluaran yang diharapkan adalah dihasilkannya Rencana Tata Bangunan dan LIngkungan (RTBL) pada Kawasan Merlung, Kabupaten Tanjung Jabung Barat sesuai dengan Pedoman Penyusunan RTBL yang terdapat pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum N0. 06/PRT/M/2007, yang dapat digunakan sebagai panduan dalam penyelenggaraan bangunan gedung dan lingkungan di kawasan tersebut.r

Keluaran yang diharapkan dari kegiatan ini adalah : 1. Laporan Pendahuluan

2. Laporan Antara 3. Laporan Draft Akhir 4. Laporan Akhir

5. DED dan dokumen RAB

6. Gambar Perspektif/Ilustrasi (3D)

7. Rancangan Peraturan Bupati Kabupaten Tanjung Jabung Barat, dan

8. CD Dokumentasi.

(25)

2.1. UNSUR UNSUR PENGERTIAN PERENCANAAN DAN RENCANA TATA RUANG

2.1.1 Wawasan Tata Ruang

Tata ruang mempunyai kaitan pengertian dengan kata spatial (bahasa inggris). Artinya sebagai segala sesuatu yang mempunyai kaitan dengan keruangan.

Pandangan para pakar mengenai wawasan tata ruang terkait dengan segala sesuatu yang berada di dalam ruang sebagai wadah menyelenggarakan kehidupan.

Amos Raporport, menekankan tata ruang merupakan lingkungan fisik, dimana terdapat hubungan organisatoris antara berbagai macam objek dan manusia yang terpisah dalam ruang- ruang tertentu.

Larry Witzling sudah jauh memberikan arti ”tata ruang”

sebagai sesuatu yang berupa hasil perencanaan fisik. Ia menekankan bahwa di dalam tata ruang terdapat suatu distribusi dari tindakan manusia dan kegiatannya untuk mencapai tujuan sebagaimana yang dirumuskan sebelumnya. Tata ruang dalam hal ini merupakan jabaran dari suatu produk perencanaan fisik.

Pakar lain, I Made Sandy mengatakan penataan ruang baru bisa ada, setelah tanah peruntukan dan dikuasai oleh calon yang akan menggunakan tanah itu untuk proyek.

Jadi ruang sama artinya dengan tanah. Dengan menganggap ruang sebagaimana genus dan tanah sebagai species maka yang bisa ditata adalah ”tanah”

bukan ”ruang”.

Menurut Undang-undang No.24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang, tidak selalu berkonotasi sesuatu yang sudah berencana. Tata ruang diartikan sebagai wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang, baik yang direncanakan maupun tidak. Pengertian wujud struktural dan pemanfaatan ruang ini menunjukan adanya hirarki dan

keterkaitan pemanfaatan ruang. Sedangkan rencana tata ruang itu sendiri diartikan sebagai hasil perencanaan tata ruang, berupa strategi dan arahan kebijaksanaan dan memperuntukan (alokasi) pemanfaatan ruang yang secara struktural menggambarkan ikatan fungsi lokasi yang terpadu bagi berbagai kegiatan.

Berdasarkan hal-hal diatas, menurut Djoko Sujarto, ruang dalam artian segala sesuatu yang berkaitan dengan wawasan ruang di bumi (jagad raya) ini adalah semua bagian bumi yang dimulai dari titik pusat bumi, yang mengandung berbagai potensi sumber daya alam, air dll.;

permukaan bumi dengan berbagai cara pemanfaatan dan penggunaan lahan, pemanfaatan kemampuan berproduksinya lahan, kemungkinan pemanfaatan nilai strategis lahan dan air serta manfaatnya serta bagian di atas bumi yaitu angkasa dengan berbagai potensi cara pemanfaatannya dan masalahnya. Kesemua ini dalam upaya penataan ruang (spatial planning) perlu diatur demi menjaga agar segala pemanfaatannya dapat efisien dan efektif.

Proses Perencanaan

RENCANA

Proses – Proses Perencanaan

Rancangan C Rancangan B Rancangan A

Referensi

Dokumen terkait

Dalam rangka meningkatkan tertib penyelenggaraan pembangunan guna mewujudkan prasarana dan sarana bidang pekerjaan umum yang efisien, efektif, dan produktif, dipandang

keanekaragaman hayati guna mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Sehubungan dengan itu, Rencana Tata Ruang wilayah Nasional yang berwawasan nusantara dijadikan pedoman bagi

Strategi dan arah kebijakan pembangunan merupakan rumusan perencanaan untuk mencapai tujuan dan sasaran yang efektif dan efisien guna mewujudkan visi Rencana

Dalam menyusun Rencana Tata Ruang Kota Depok diperlukan sebuah tim yang efektif guna mewujudkan perencanaan Kota yang terpadu dan terarah. Tim yang efektif dapat diwujudkan jika

bahwa dalam rangka mewujudkan keterpaduan pembangunan antarsektor, antar bagian wilayah kota dan antar pelaku dalam pemanfaatan ruang di Kota Tarakan, maka Peraturan Daerah

Guna menunjang pelaksanaan pembangunan khususnya dalam mewujudkan keberadaan desa-desa mandiri energi, maka pemanfaatan energi baru terbarukan dalam hal ini potensi

Peraturan daerah ini berisi tentang rencana tata ruang wilayah Provinsi Kalimantan Barat untuk tahun 2014-2034, bertujuan untuk mengarahkan pembangunan daerah secara berdaya guna, berhasil guna, serasi, selaras, seimbang, dan

"Penegakan Hukum dalam Rangka Penataan Ruang Guna Mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan", Jurnal Penelitian Hukum De Jure, 2017 Crossref es.scribd.com Internet IGA Ketut Artatik,