Ketinggian Bangunan Blok 4
E. Usaha Yang Dilarang
(1) Daftar Bidang Usaha yang Tertutup Mutlak Bagi Penanaman Modal di Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Surat Keputusan Presiden RI No.96 tahun 2000)
Sektor Perindustrian, Perdagangan, dan Perhubungan
- Industri bahan kimia yang dapat merusak lingkungan, seperti penta chlorophenol, DDT, dieldrin, chlordane, carbon tentra chlororide, Chloro Flouro Carbon (CFC), methyl bromide, methol chloroform, halon, dan lain-lain.
- Industri bahan kimia Skedul-I Konvensi Senjata Kimia (sarin, soman, tabun, mustrad, levisite, ricine dan saxitoxin).
- Industri senjata dan komponennya.
- Industri siklamat dan sakarin.
- Industri minuman mengandung alkohol (minuman keras, anggur, dan minuman mengandung malt).
- Pengusaha kasino/perjudian.
- Sektor Perhubungan
- Pemanduan Lalu Lintas Udara (ATS Providers), serta klasifikasi dan survey statutoria kapal.
- Manajemen dan penyelenggaraan stasiun monitoring spektrum Frekwensi Radio dan Orbit Satelit.
(2) Daftar Bidang Usaha yang Tertutup Bagi Penanaman Modal yang Dalam Modal Perusahaan Ada Kepemilikan Warga Negara Asing dan atau Badan Hukum Asing (Surat Keputusan Presiden RI No.113 tahun 2000)
Sektor Perhubungan : Angkutan taksi/bis.
Sektor Perdagangan : Jasa perdagangan dan jasa penunjang perdagangan; Kecuali : Perdagangan eceran skala besar (mall, supermaket, department store, pusat pertokoan/ perbelanjaan), perdagangan besar (distributor/wholesalers, perdagangan ekspor dan impor), jasa pameran/konvensi, jasa pergudangan di luar lini 1 dan pelabuhan, dan jasa pelayanan purna jual.
Sektor Penerangan :
- Jasa penyiaran radio dan televisi, jasa siaran radio dan televisi berlangganan, jasa layanan informasi multimedia dan media cetak.
- Usaha perfilman (usaha pembuatan film, usaha jasa teknik film, usaha ekspor film, usaha impor film, usaha pengedaran film, dan usaha pertunjukan dan atau penayangan film).
(3) Daftar Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan Patungan Antara Asing dan Modal Dalam Negeri (Surat Keputusan Presiden RI No. 96 tahun 2000) :
Pembangunan dan pengusahaan pelabuhan
Produksi, transmisi dan distribusi tenaga listrik
Pengolahan dan penyediaan air bersih untuk umum
Kereta api umum
Pembangkit tenaga atom
Jasa pelayanan medis, meliputi pendirian dan penyelengga-raan rumah sakit, medical check-up, laboratorium klinik, pelayanan rehabilitasi mental, jaminan pemeliharaan kesehat-an masyarakat, penyewaan peralatan medis, jasa asistensi dalam pertolongan kesehatan dan evakuasi pasien dalam keadaan darurat, jasa manajemen rumah sakit, dan jasa pengetesan, pemeliharaan dan perbaikan peralatan medis.
Telekomunikasi
Angkutan udara niaga berjadwal/tidak berjadwal.
9.5.4 LEMBAGA TERKAIT
Lembaga-lembaga yang terkait degan realisasi pelaksanaan pengembangan dan pembangunan kawasan Merlung, mencakup keempat unsur stake holders, yaitu institusi pemerintah kabupaten/kota dengan seluruh jajarannya, institusi swasta sebagai pengguna kawasan, masyarakat pelaku pembangunan, dan masyarakat pemerhati pembangunan Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
Institusi Pemerintah dapat terdiri atas dinas-dinas yang terkait dengan perencanaan, proses perijinan, permodalan/investasi, dinas keciptakaryaan/ke-PU-an, Dinas Pertamanan, dan dinas pengawasan-penertiban pembangunan, sesuai SOTK dan TUPOKSI yang berlaku di sistem Pemerintahan Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
9.5.5 JADWAL PELAKSANAAN PROGRAM
Program-program yang akan diindikasikan disini adalah program-program jangka menengah sesuai dengan tahun RTBL Kawasan Merlung. Jadi program program jangka menengah adalah 5 (lima) tahunan. Keseluruhan indikasi program tersebut diturunkan dari strategi dan kebijaksanaan pengembangan kota yang telah ditetapkan sebelumnya. Hal ini dilakukan untuk menjaga konsistensi dari tujuan dan arah pengembangan yang telah disepakati bersama. Oleh karena itu beberapa pertimbangan prioritas periu dikemukakan terlebih dahulu dalam rangka memberikan acuan jenis dan bentuk program yang dirasakan paling panting dan mendesak untuk dilaksanakan dalam jangka menengah untuk mendukung strategi inti (core strategy) pembangunan kawasan.
Realisasi pelaksanaan program pembangunan di kawasan Merlung (Blok 1, 2, 3, dan 4) ini sangat bergantung selain kepada sistem pendanaan yang tersedia dan yang dapat diciptakan, juga tergantung kepada sistem pengembangan Kabupaten Tanjung Jabung Barat secara keseluruhan, terutama yang bersinambung dengan Kawasan Merlung ini.
Dalam realisasinya nanti terlebih dahulu perlu dilakukan review secara terpadu mengenai seluruh produk rencana tata ruang, mulai dari RTRW, RDTR, sampai dengan yang terkait dengan RTBL Kawasan ini, karena RTBL Kawasan ini hanya merupakan sebagian Blok dari Kawasan Merlung Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
Dengan demikian, maka jadwal waktu pelaksanaan disesuaikan dengan kondisi hal-hal tersebut diatas. Dan sebagaimana umumnya suatu perencanaan di Indonesia, jadwal waktu pelaksanaan dapat dituangkan ke dalam program jangka panjang, jangka menengah, dan jangka tahunan, seperti tersaji pada Tabel 9.5 berikut yang menyajikan matriks indikasi program, lembaga terkait, investor, dan waktu.
Tabel 9.5. Indikasi Program Pada Bagian Wilayah Kota (BWK) A Koridor Jalan Jenderal Gatot Subrot-Jalan Akmal-Jalan Serma Zakaria- Jalan Jenderal A. Yani
PROGRAM SUB PROGRAM LOKASI SUMBER DANA INSTANSI TERLIBAT TAHUN
1 2 3 4 5 Program Non
Fisik
1. Sosialisasi/desiminasi RTBL Kawasan Merlung Blok 1,2,3,4 APBD, APBN Pemkab Dinas-Dinas terkait
2. Proses RTBL menjadi Legalisasi Blok 1,2,3,4 APBD Pemerintah
3. Revitalisasi Kawasan Konservasi Sempadan Sungai Pengabuan Blok 2 dan 3 APBD, APBN Dinas Pekerjaan Umum Pengairan, Cipta Karya dan
Tata Ruang/Masyarakat 4. Penyusunan Studi Kelayakan penataan kembali kawasan pusat kota lama
dan penyusunan DED
Blok 3 APBD, APBN Dinas Pekerjaan Umum
Pengairan, Cipta Karya dan Tata Ruang
5. Pendataan batas hal milik tanah untuk mengantisipasi konsolidasi tanah Blok 1,2,3,4 APBD/Swasta Badan Pertanahan Nasional, swasta dan
masyarakat-
6. Persiapan model partisipasi masyarakat Blok 1,2,3,4 APBD/Swasta Pemerintah – Swasta -
Masyarakat Program Fisik
Penataan Bangunan dan Lingkungan
1. Penataaan Koridor Jalan Lintas Timur Sumatera Blok 1, dan 2 APBN/APBD Dinas Pekerjaan Umum Pengairan, Cipta Karya dan
Tata Ruang
2. Pembuatan Jalur-Jalur Pedestrian Blok 1,2,3,4 APBN/APBD Dinas Pekerjaan Umum
Pengairan, Cipta Karya dan Tata Ruang
3. Pembuatan Halte dan Rest Area Blok 1 APBN/APBD Dinas Perhubungan
4. Pemasangan PJU (penerangan jalan umum dan penerangan untuk pedestrian)
Blok 1,2,3,4 APBN/APBD Dinas Perhubungan/PLN
5. Penataan street furniture setiap 50 meter Blok 1,2,3,4 APBN/APBD Dinas Pertamanan dan
Kebersihan/ Dinas Pekerjaan Umum Pengairan, Cipta Karya dan
Tata Ruang 6. Jalur-jalur drainase yang menerus dan sesuai standar kelas jalan Blok 1,2,3,4 APBN/APBD Dinan Pekerjaan Umum
Bina Marga/ Dinas Pekerjaan Umum Pengairan, Cipta Karya dan
Tata Ruang 7. Penataan ruang terbuka hijau dan sempadan sungai, jalur hijau jalan Blok 1,2,3,4 APBN/APBD Dinas Pekerjaan Umum
Pengairan, Cipta Karya dan Tata Ruang/Dinas
Kebersihan dan Pertamanan 8. Penataan dan pembangunan Pasar Tradisional (perdagangan dan jasa) Blok 3 APBN/APBD/SWASTA Pemkab/Swasta
9. Pembangunan Lapangan Kuntala (olahraga, seni dan budaya) Blok 4 SWASTA Swasta
10. Konsolidasi lahan Blok 1,2,3,4 APBN/APBD Badan Pertanahan Nasional
11. Penataan sector informal Blok 1 dan 3 APBN/APBD Dinas Pertamanan dan
Kebersihan
12. Persiapan partisipasi masyarakat Blok 1,2,3,4 APBN/APBD Pemkab
Sumber : Hasil Analisis
10. PENGENDALIAN PELAKSANAAN
10.1.1 UMUM
Pedoman pengendalian pelaksanaan dibutuhkan untuk menjamin pemanfaatan dan pengelolaan aset-aset yang telah/ akan dibangun secara optimal. Yang dimaksudkan dengan aset, dalam hal ini adalah berbagai entitas fisik hasil investasi yang secara spesifik mewadahi seluruh kegiatan non-fisik yang berlangsung di dalamnya. Aset properti dapat berupa sumber daya alam, bangunan, lahan, lansekap, tata hijau, aset pelestarian budaya dan sejarah, serta infrastruktur kawasan.
10.1.2 MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud dari pedoman pengendalian pelaksanaan ini adalah agar seluruh Stakeholders yang terkait dapat secara bersama (sinergi) mengawasi dan memelihara aset tersebut sehingga tercipta lingkungan properti yang serasi, seimbang dan aset dapat terpelihara untuk jangka waktu lama, serta berkelanjutan (sustainable).
Tujuan yang spesifik dari pedoman pengendalian pelaksanaan ini adalah : a. Menjamin pelaksanaan kegiatan berdasarkan dokumen RTBL.
b. Menjamin pemanfaatan investasi dan mengoptimalkan nilai investasi.
c. Menghindari fenomena lahan tidur atau bangunan terbengkalai sebagai akibat investasi yang telah ditanamkan tidak berjalan dengan semestinya.
d. Menarik investasi lanjutan dalam pengelolaan lingkungan setelah masa pasca konstruksi.
10.1.3 DASAR PERTIMBANGAN
Dasar pertimbangan disusunnya Pedoman Pengendalian Pelaksanaan ini adalah sebagai berikut :
a. Memperhatikan kepentingan publik.
b. Adanya keragaman Pemangku Kepentingan (Stakeholders) yang dapat memiliki kepentingan berbeda.
c. Pendayagunaan sumber daya manusia dan sumber daya alam (sosial budaya, ekonomi, dan lingkungan) lokal, seperti Masyarakat setempat beserta kegiatan sosial-budayanya.
d. Perlu aturan main yang jelas dan ketat agar aset properti dapat terpelihara dan termanfaatkan secara tertib, adil dan berlangsung dalam jangka waktu yang panjang.
e. Kebutuhan koordinasi dan informasi untuk menghubungkan berbagai Pihak terkait dan Pengelola.
f. Sumber biaya pemeliharaan yang mengikat masing-masing Pemangku Kepentingan (Stakeholders) sesuai dengan kesepakatan.
10.1.4 ARAHAN UNTUK PENGENDALIAN PELAKSANAAN
Pengendalian pelaksanaan penataan bangunan dan lingkungan Kawasan Merlung, dilakukan oleh Badan Pengelola Kawasan yang dibentuk secara khusus, sesuai dengan kewenangan yang telah ditetapkan berdasarkan kesepakatan para Pemangku Kepentingan.
Dalam pengendalian pelaksanaan pembangunan RTBL Kawasan Merlung, Kecamatan Merlung tersebut, beberapa hal yang harus dilakukan oleh Badan Pengelola Kawasan adalah sebagai berikut:
a. Setiap unit kelengkapan Badan Pengelola Kawasan, terutama Tim Monitoring dan Evaluasi, Koordinator Penataan Fisik dan Pengadaan Infrastruktur, Koordinator Legal dan Administrasi Lahan, Koordinator Penyiapan/ Pendampingan Kemasyarakatan, Koordinator Pengembangan dan Kerjasama Usaha/ Bisnis, serta Koordinator Pendanaan/ Pembiayaan dapat melaksanakan tugasnya sesuai dengan kewenangan yang telah ditetapkan, dan selalu mengacu pada Rencana Umum (Master Plan) Kawasan, Panduan Rancangan (Design Guidelines), dan Rencana Investasi (5 tahun).
b. Setiap tahapan pelaksanaan pembangunan RTBL Kawasan Merlung harus didasarkan pada Detailed Engineering Design (DED) yang disusun terlebih dahulu, termasuk kesiapan lokasi dan kesiapan pendanaan, sesuai dengan arahan pada Rencana Umum (Master Plan) Kawasan, Panduan Rancangan (Design Guidelines), dan Rencana Investasi (5 tahun).
c. Melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap proses pelaksanaan pembangunan RTBL Kawasan Merlung secara berkala (bulanan).
d. Melakukan pengawasan teknis terhadap pelaksanaan kegiatan pembangunan di RTBL Kawasan Merlung.
e. Dalam proses pelaksanaan pembangunan RTBL Kawasan Merlung tersebut perlu dilakukan Rapat Koordinasi secara berkala di masing-masing unit kelengkapan
(bulanan) dan di seluruh Badan Pengelola (triwulan), serta pada waktu-waktu tertentu/
secara insidental (apabila diperlukan), yang berkaitan dengan realisasi pelaksanaan pembangunan, permasalahan dan kendala yang dihadapi, serta langkah-langkah penanganan yang harus dilakukan.
f. Melakukan evaluasi tahunan terhadap pelaksanaan peran dari para Pemangku Kepentingan, sesuai dengan kesepakatan dalam penataan bangunan dan lingkungan, baik Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Jambi, Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat, pihak Swasta (Dunia Usaha), maupun Masyarakat.
g. Melaksanakan pola-pola Insentif/ Disinsentif, termasuk pemberian sanksi kepada para Pemangku Kepentingan dalam rangka penyelenggaraan pembangunan RTBL Kawasan Merlung di Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
10.2 PENGELOLAAN KAWASAN
10.2.1 LINGKUP PENGELOLAAN
Lingkup pengelolaan kawasan meliputi kegiatan-kegiatan yang terkait dengan:
a. Pemeliharaan atas investasi fisik yang telah terbangun beserta segala aspek non fisik yang diwadahinya.
b. Kegiatan penjaminan bagi aset-aset yang menjadi bagian milik pribadi.
c. Kegiatan pengelolaan operasional, pemanfaatan, rehabilitasi/pembaharuan, perawatan, serta pelayanan dari aset properti lingkungan/kawasan.
10.2.2 ASET PROPERTI YANG DAPAT DIKELOLA
Jenis aset properti yang dapat dikelola ini dimaksudkan agar pemanfaatan dan perkembangannya selalu dapat dikontrol/ dipantau sesuai dengan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) yang telah disepakati bersama, meliputi:
a. Sumber daya alam, termasuk lahan, RTH dengan fasilitas-fasilitas yang terdapat di dalamnya, lahan terbuka (lansekap), dan lain-lain.
b. Bangunan fisik, dengan ruang-ruang yang menjadi aset bersama (kepemilikan publik setempat), maupun aset properti pribadi.
c. Aset pelestarian budaya dan sejarah, yang merupakan Benda Cagar Budaya yang harus dilindungi dan dilestarikan.
d. Infrastruktur kawasan, yang bukan menjadi milik atau aset Pemerintah Daerah.