• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian Kualitatif (Focus Group Discussion) dalam Brainstorming Ide Special Event

Dalam dokumen 4. ANALISIS DAN INTERPRETASI DATA (Halaman 34-44)

4.5. Analisis, Interpretasi, dan Triangulasi Data

4.5.1. Penelitian Kualitatif (Focus Group Discussion) dalam Brainstorming Ide Special Event

Ciputra World Fashion Week (CWFW) 2018 adalah sebuah special event tahunan yang diselenggarakan oleh mal Ciputra World Surabaya. CWFW 2018 termasuk ke dalam special event karena merupakan acara yang diselenggarakan berbeda dari hari-hari biasanya (Goldblatt, 2002, p. 6). Acara CWFW 2018 ini termasuk ke dalam jenis artistic events. Artistic event adalah event yang berkaitan dengan hal-hal yang berbau seni dan budaya (Smith, 2013, pp. 237-239). Dalam hal ini, CWFW 2018 dapat digolongkon ke dalam acara yang berbau dengan seni. CWFW 2018 merupakan pertunjukan seni khususnya dalam bidang fashion.

Sebelum melakukan sebuah event, penting bagi PR untuk melakukan penelitian terlebih dahulu. Penelitian yang baik akan mengecilkan resiko. Penelitian dapat dilakukan melalui metode kuantitatif dan kualitatif. Metode kuantitatif digunakan untuk mendapatkan gambaran mengenai target pasar berdasarkan pemetaan seperti gender, usia, pendapatan, dan lain-lain. Metode kualitatif digunakan untuk menggali data-data yang tidak tersaji dalam melakukan metode kuantitatif. Metode kualitatif dapat dilakukan dalam bentuk fokus grup, penelitian

71

partisipan/pengamat dan studi kasus. Research juga dapat dilakukan dengan menggabungkan kedua metode tersebut (Goldblatt, 2002, p. 36-42).

Sebelum menyelenggarakan special event CWFW 2018, divisi promosi tidak melakukan penelitian secara terstruktur terlebih dahulu. Padahal menurut Cutlip, Center, dan Broom, pada tahap preparation, PR melakukan pengumpulan data yang cukup terkait program yang akan dijalankan (Watson & Noble, 2007, p. 82-83). PR CWS bersama-sama dengan Chief Promotion dan Event Coordinator pada tahap penelitian ini melakukan FGD dan observasi. Hal ini dibuktikan dalam hasil wawancara dengan para informan bahwa mereka tidak melakukan penelitian secara resmi dan terstruktur. Metode penelitian yang digunakan oleh divisi promosi CWS adalah metode kualitatif. Penelitian kualitatif ini dilakukan dengan cara fokus grup dengan kedua pihak yang dianggap ahli di bidangnya yakni dosen fashion designer Universitas Ciputra (UC) dan juga agensi Jim Model.

Menurut Don W. Stacks (2017, pp. 3-4), bahwa research merupakan hal yang penting dilakukan untuk aktivitas atau kampanye PR apapun. Tanpa adanya penelitian, PR tidak dapat menentukan keberhasilan dari program yang dibuat. Terdapat 2 jenis penelitian yang biasa dilakukan oleh PR yakni penelitian informal dan penelitian formal. Penelitian formal dilakukan secara sistematis dengan mengumpulkan, menganalisis dan mengevaluasi data melalui beberapa metodologi seperti kualitatif atau kuantitatif. Sedangkan, penelitian informal dilakukan dengan cara observasi orang, event atau objek tertentu, biasanya dilakukan dengan metode kualitatif. Peneliti melihat bahwa pada tahap penelitian, selain mengadakan fokus grup, divisi promosi juga melakukan observasi pada acara fashion week serupa seperti Plaza Indonesia Fashion Week. Fashion week yang diadakan oleh mal lain menjadi contoh bagi pihak CWS. Dari observasi yang dilakukan maka divisi promosi mendapatkan pengalaman mengenai cara membuat fashion week yang baik. Melalui pengalaman, dapat menjadi acuan bagi divisi promosi untuk membuat acara serupa.

Penelitian kualitatif memiliki kelebihan dalam memberikan deskripsi mendalam mengenai suatu event, namun di sisi lain, penelitian ini juga memiliki kekurangan. Penelitian kualitatif lebih tidak terkontrol dibandingkan penelitian kuantitatif. Selain itu, kurangnya objektivitas dari penelitian ini mengakibatkan

praktisi PR tidak dapat memprediksi dan menyamaratakan hasil dari observasi. Sedangkan dengan melakukan penelitian secara kuantitatif, PR dapat bergantung kepada data yang akurat untuk membuat suatu keputusan. Penelitian kuantitatif juga memberikan praktisi PR untuk melakukan generalisasi terhadap sampel yang diteliti. Dengan menggabungkan kedua metode penelitian, PR CWS akan dapat memprediksi bagaimana sekelompok orang bertindak dan juga menyediakan informasi yang mendalam mengenai alasan mengapa mereka bertindak demikian.

Menurut Goldblatt terdapat lima buah pertanyaan yang harus ditanyakan kepada penyelenggara sebuah event. Pertanyaan-pertanyaan tersebut meliputi mengapa, siapa, kapan, dimana dan apa. Dengan menjawab pertanyaan ini, penyelenggara mengetahui alasan menyelenggarakan event, stakeholder yang di sasar, waktu dan tempat acara dan objektif yang ingin dicapai (Goldblatt, 2002, pp. 41-42). Jadi walaupun divisi promosi tidak melakukan penelitian secara terstruktur dan sistematis, divisi promosi tetap dapat menjawab lima pertanyaan yang menjadi dasar dalam mengadakan special event.

Di dalam bukunya, Goldblatt menuliskan bahwa penyelenggara harus melakukan penelitian mengenai waktu yang tepat untuk menyelenggarkan suatu event. Apabila waktu yang ditentukan tidak tepat, maka penyelenggara harus memikirkan ulang rencana yang sudah dibuat atau juga dapat mengganti tanggal yang sudah ditetapkan (Goldblatt, 2002, p. 42). Menurut Hendra dan Riera, bulan September merupakan waktu yang tepat. Penetapan bulan September juga melalui hasil observasi pada mal-mal lain. Selain melihat dari hasil observasi mal-mal yang lain, divisi promosi juga mencocokkan dengan kalender event yang dimiliki. Sehingga kedua pertimbangan inilah yang menyebabkan penetapan mengenai waktu acara diselenggarakan.

Penetapan tanggal ini sudah sesuai dengan apa yang dikatakan Any Noor (2009, p. 111) dalam buku mengenai manajemen event, bahwa perlu dilakukan riset agar tidak terjadi kegiatan yang sama pada tanggal penyelenggaraan event. Apabila terjadi event serupa pada tanggal yang ditetapkan perusahaan maka akan berdampak pada jumlah pengunjung dan desainer yang mengikuti event. Untuk menghindari hal tersebut, memang diperlukan riset mengenai tanggal-tanggal event serupa dilaksanakan. Di setiap tahunnya dari tahun pertama diadakannya CWFW,

73

acara ini selalu diadakan pada bulan September. Hal ini mengingat seperti yang dikatakan Any Noor yaitu untuk menghindari kesamaan event serupa dilaksanakan pada waktu yang sama. Penetapan waktu yang dianggap tepat membuat penyelenggara tidak perlu mengganti waktu acara.

Ketika penyelenggara sudah menetapkan suatu tempat untuk menggelar acara, maka tempat akan menentukan pekerjaan yang diemban akan menjadi lebih mudah ataupun lebih sulit. Maka, penentuan tempat harus dikerjakan sedini mungkin dikarenakan dapat mempengaruhi keputusan yang lainnya (Goldblatt, 2002, p. 42). Penetapan tempat acara di atrium mal memiliki pekerjaan tambahan tersendiri bagi divisi promosi. Penentuan tempat di atrium mal mempengaruhi dekorasi yang akan dipakai. Atrium merupakan tempat terbuka, sehingga divisi promosi harus membuat dekor yang lebih meriah.

Penentuan tempat ini dipilih untuk mendukung objektif yang hendak dicapai perusahaan yaitu menjadi mal ikon lifestyle di Surabaya. Untuk mencapai objektif tersebut, maka divisi promosi memutuskan untuk mengadakan di dalam mal Ciputra World Surabaya.

“Karena kan CWFW ini produk kita sendiri ya, jadi ya maka dari itu diadain di mal sendiri.” (Wawancara dengan Riera, Promotion Coordinator Ciputra World Surabaya, 2 Mei 2019).

Tujuan diselenggarakan CWFW 2018 adalah sebagai bentuk tanggung jawab untuk membangun image mal Ciputra World Surabaya (CWS) sebagai salah satu ikon lifestyle yang ada di Surabaya. Lifestyle tidak bisa dilepaskan dari dunia fashion. Sehingga, mal CWS membuat suatu event tahunan yang berhubungan dengan fashion yakni CWFW. Penetapan tujuan ini sesuai dengan tujuan special events menurut Natoradjo (2011, p. 133), yakni untuk menciptakan publisitas dan citra positif perusahaan. Maka dalam menetapkan tujuan CWFW 2018 sudah sesuai dengan tujuan diadakannya special events menurut Natoradjo.

“Jadi untuk image mal Ciputra World Surabaya sebagai salah satu lifestyle icon yang ada di Surabaya.” (Wawancara dengan Riera, Promotion Coordinator Ciputra World Surabaya, 2 April 2019).

Untuk mencapai tujuan tersebut, CWFW 2018 ini kembali diselenggarakan dengan mengangkat tema Gallivant yang berarti menjelajah dunia. Objektif yang ingin dicapai melalui event ini adalah untuk membangun image mal CWS sebagai salah satu ikon lifestyle di Surabaya. Menurut tamu undangan yang

hadir, acara CWFW 2018 telah menggambarkan mal CWS sebagai ikon lifestyle. Hal ini berarti objektif yang ditetapkan oleh CWS sudah terpenuhi.

“Iya sudah menggambarkan.” (Wawancara dengan Diana, tamu undangan CWFW 2018, 8 Mei 2019).

Selain itu, objektif lain yang ingin dicapai ialah untuk mengedukasi masyarakat Surabaya mengenai tren pakaian terbaru. Tamu-tamu undangan yang hadir mengatakan bahwa dari acara CWFW 2018 mereka mendapatkan inspirasi dan juga perkembangan dunia fashion. Hal ini menunjukkan bahwa objektif yang telah ditentukan telah tercapai.

“Pengen tahu perkembangan dunia fashion.” (Wawancara dengan Tressya, tamu undangan CWFW 2018, 8 Mei 2019).

Tolok ukur yang digunakan sama pada objektif mengenai membangun image mal CWS sebagai mal lifestyle dan mengedukasi masyarakat. Tolok ukur yang ditetapkan oleh PR adalah dengan observasi pakaian yang dikenakan oleh tamu undangan. Pakaian yang dikenakan adalah yang sesuai dengan dress code atau tema yang ada pada undangan yang dibagikan. Tolok ukur ini dipilih karena menurut PR dengan datang ke acara CWFW 2018 menggunakan pakaian yang pantas maka dengan kata lain tamu undangan telah mengikuti standar atau citra dari mal CWS sebagai ikon lifestyle. Lebih lanjut, PR CWS mengatakan bahwa kedua objektif ini telah tercapai dengan melihat pakaian tamu undangan yang hadir pada saat CWFW 2018. Pada saat acara berlangung PR melakukan observasi terhadap pakaian-pakaian yang digunakan oleh tamu undangan.

”Tolok ukur kesuksesannya kalau mereka hadir di show-show CWFW dengan berpakaian seperti layaknya datang show, atau ikut dress code. Karena dengan mereka nerpakaian proper, mereka mengikuti standard atau citra mal CW sendiri.” (Wawancara dengan Riera, Promotion Coordinator Ciputra World Surabaya, 2 April 2019).

Namun peneliti melihat bahwa tolok ukur yang digunakan tidak dapat diukur kesuksesannya. Dalam buku Watson & Noble (2007, p.17), dalam menentukan keberhasil dari suatu objetif terdapat lima buah pertanyaan yang harus dijawab seperti isi objektif, target populasi, waktu perubahan yang diinginkan terjadi, perubahan yang diinginkan bersifat kesatuan atau banyak, dan yang terakhir adalah seberapa besar efek yang diinginkan. Dalam hal ini, tolok ukur mengenai pakaian yang dikenakan oleh tamu undangan ini tidak memiliki jumlah yang ditentukan oleh PR. PR hanya mengatakan keinginan tamu undangan sebagai target

75

sasaran untuk dapat menggunakan pakaian sesuai dress code. Namun di dalam undangan tidak terdapat pesan mengenai keharusan dress code yang dikenakan pada saat acara.

Penentuan tolok ukur PR mengenai dress code yang ada di undangan ini tidak diketahui oleh tamu undangan. Menurut wawancara oleh para tamu undangan, mereka tidak mengetahui bahwa terdapat dresscode tertentu yang harus digunakan untuk datang ke dalam acara CWFW 2018. Mereka menggunakan pakaian yang menurut mereka pantas digunakan untuk datang ke suatu perhelatan fashion week. Menurut hasil temuan data yang dikumpulkan oleh peneliti, terlihat bahwa di dalam desain undangan yang dibagikan kepada tamu tidak memiliki tulisan mengenai dresscode yang harus digunakan untuk datang ke acara CWFW 2018. Sehingga, hal ini membuat para tamu undangan tidak mengetahui bahwa terdapat dresscode yang sebenarnya ditentukan oleh penyelenggara. Jadi, pesan yang ingin disampaikan oleh PR mengenai adanya dresscode tertentu tidak sampai kepada publik. Hal ini disebabkan oleh kurangnya informasi di dalam undangan yang dibagikan, sehingga tidak tersampaikannya pesan PR kepada publik yang disasar.

“Wah gatau ya kalo ada dresscode-nya segala. Kayaknya kok di undangan ga ada.” (Wawancara dengan Diana, tamu undangan CWFW 2018, 8 Mei 2019).

“Kok aku gatau ya di undangan ada ditentuin harus pake apa.” (Wawancara dengan Herman, tamu undangan CWFW 2018, 8 Mei 2019). “Wah aku sih nggak tau kalo ada dresscode tertentu di undangannya.” (Wawancara dengan Tressya, tamu undangan CWFW 2018, 8 Mei 2019). Objektif terakhir yang ingin dicapai adalah ingin menaikkan standar fashion Surabaya seperti yang ada di Jakarta. Hal ini dikarenakan standar fashion di Jakarta dianggap sebagai referensi oleh Chief Promotion dan PR CWS. Standar fashion masyarakat Jakarta menurut PR dan Chief Promotion adalah dengan memadankan kaos dan kemeja ditambah lagi dengan mengenakan aksesoris seperti kalung yang tidak hanya 1 lapis saja. Standar fashion yang diinginkan terlukis seperti dalam gambar 4.7. Namun objektif ini belum tercapai. Hal ini disampaikan oleh Chief Promotion bahwa masyarakat Surabaya masih belum bisa mencapai standar fashion seperti yang ada di Jakarta. Menurut PR, masyarakat Surabaya masih jarang menggunakan aksesoris dan hanya memakai satu lapis baju saja seperti mengenakan kaos saja atau kemeja saja.

Gambar 4.7 Standar Fashion Jakarta Sumber: Instagram

Objektif ini dilihat paska special event CWFW 2018 diadakan. Melihat dari wawancara yang dilakukan dengan para tamu undangan juga menunjukkan bahwa mereka hanya terinspirasi namun tidak sampai pada tahap perubahan perilaku. Tolok ukur yang digunakan adalah dengan melihat perubahan kebiasaan masyarakat Surabaya dalam berbusana setelah menghadiri CWFW 2018. Chief Promotion mengatakan bahwa objektif ini diukur dengan cara melakukan observasi terhadap pengunjung yang datang di mal CWS. Namun untuk mempermudah melaporkan kesuksesan acara kepada GM, Chief Promotion menggunakan tolok ukur jumlah undangan yang hadir.

“Kalo yang aku dapet dari acara itu terinspirasi fashion-nya. Cuman kalo aku sendiri pake sih enggak ya karena terlalu unik sih.” (Wawancara dengan Diana, tamu undangan CWFW 2018, 8 Mei 2019).

Tolok ukur yang digunakan untuk mengukur kesuksesan objektif yang ketiga ini juga tidak memiliki ukuran yang jelas. Chief Promotion hanya mengatakan tolok ukurnya berupa perubahan busana masyarakat Surabaya namun tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai seberapa banyak dari masyarakat Surabaya yang ingin disasar untuk menentukan kesuksesan objektif. Padahal menurut George T. Doran (1981, p. 36), objektif haruslah sesuai dengan konsep SMART, yakni specific, measurable, assignable, realistic, dan time-related. Melihat hal ini,

77

objektif-objektif yang ditentukan tidak memiliki indikator measurable. Dalam penentuan keberhasilan objektif, PR tidak memiliki jumlah yang pasti untuk mengatakan keberhasilan objektif. PR tidak memiliki kriteria untuk mengukur progress dari objektif yang diinginkan. Sehingga, disimpulkan bahwa penentuan tolok ukur untuk ketiga objektif ini tidak memiliki ukuran yang jelas dalam menentukan keberhasilan. Peneliti berpendapat bahwa dengan tidak jelasnya tolok ukur pada setiap objektif, membuat penyelenggara sulit untuk mengatakan kesuksesan acara. Ketidakjelasan penentuan tolok ukur objektif membuat penyelenggara membuat opini sendiri mengenai hasil dari kesuksesan acara.

Dengan melihat objektif yang ingin dicapai, menurut Chief Promotion, sasaran yang menjadi target acara CWFW 2018 ini adalah direct customer dari para desainer. Hal ini dikarenakan Chief Promotion menginginkan bahwa di dalam terjadi transaksi selama tiga hari acara berlangsung.

“Selalu yang ditarget itu customer-nya dari para desainer sih.” (Wawancara dengan Hendra, Chief Promotion Ciputra World Surabaya, 2 April 2019).

Penetapan sasaran ini ditentukan langsung oleh Hendra selaku Chief Promotion Ciputra World Surabaya. Namun terdapat perbedaan penetapan sasaran yang dikatakan oleh Promotion Coordinator selaku PR dengan Chief Promotion. Menurut PR CWS, sasaran dari acara ini adalah untuk para pecinta fashion atau yang disebut sebagai fashionista yang ada di Surabaya. Hal ini dikarenakan menurut PR CWS, yang terpenting adalah untuk mengedukasi fashionista Surabaya mengenai tren fashion terbaru. Selain itu karena CWFW 2018 diadakan di atrium mal, maka juga turut menargetkan pengunjung mal CWS.

“Targetnya yang pasti buat fashionista Surabaya karena pada dasarnya kalau kamu nggak suka fashion pasti nggak tertarik untuk datang ke acara itu kan. Itu target utamanya, tapi juga ke customer Ciputra World Surabaya yang lain.” (Wawancara dengan Riera, Promotion Coordinator Ciputra World Surabaya, 2 April 2019).

Perbedaan penetapan sasaran ini disebabkan karena selama ini Chief Promotion tidak menjelaskan kepada PR bahwa sasaran yang ingin ditarget adalah customer dari para desainer yang melakukan show. Tidak disampaikannya target acara, membuat PR menentukan target sendiri dalam acara CWFW 2018. Adanya

perbedaan dalam menentukan sasaran dari acara ini membuat sasaran acara CWFW 2018 ini menjadi tidak jelas.

Publik adalah orang-orang yang memiliki ketertarikan yang sama. Publik memiliki peranan penting terhadap kemajuan suatu organisasi dan merupakan sebuah ekspektasi dari organisasi yang bersangkutan. PR menjadi penghubung antara organisasi yang diwakilinya dengan seluruh publik atau stakeholder dari organisasi. Publik terdiri dari publik internal dan eksternal (Newsom, Turk & Kruckeberg, 2012, pp. 87-88). Dalam hal ini, publik eksternal yang dipilih dalam acara CWFW 2018. Publik eksternal dipilih karena CWFW 2018 merupakan event yang digunakan untuk mempertahankan citra mal sebagai ikon lifestyle. Publik eksternal yang dimaksud dalam acara ini adalah pecinta fashion atau fashionista Surabaya dan pengunjung mal CWS. Fashionista sendiri dapat diartikan sebagai orang yang mengikuti perkembangan fashion terkini. Fashionista dipilih karena dinilai sebagai target yang cocok bagi acara CWFW 2018.

Penentuan target yang dilakukan oleh PR sudah sesuai dengan objektif yang ingin dicapai dalam hal ingin mengedukasi masyarakat Surabaya mengenai tren fashion terbaru. Pernyataan ini turut didukung oleh pernyataan dari salah satu tamu undangan yang hadir.

“Respect penyelenggara, bertemu sesama fashion industry, melihat karya teman-teman dan supaya tahu fashion sekarang tren-nya gimana.” (Wawancara dengan Herman, tamu undangan CWFW 2018, 8 Mei 2019). Selain itu, objektif yang ditetapkan oleh Chief Promotion tidak memiliki tolok ukur kesuksesan yang jelas. Tujuan yang ditetapkan dalam acara CWFW 2018 untuk menaikkan standar fashion masyarakat Surabaya tidak memiliki tolok ukur yang jelas. Padahal salah satu objektif dari acara ini adalah ingin menaikkan standar fashion Surabaya seperti yang ada di Jakarta. Tolok ukur yang digunakan untuk mengetahui standar fashion masyarakat Surabaya adalah dengan mengamati busana pengunjung yang ada di mal CWS. Menurut peneliti, tolok ukur yang digunakan kurang tepat. Hal ini dikarenakan bahwa target dari acara CWFW 2018 adalah fashionista, namun observasi dilakukan pada pengunjung mal CWS.

Untuk mempermudah laporan kesuksesan acara kepada GM, tolok ukur yang digunakan oleh Chief Promotion dan PR CWS adalah dengan menghitung jumlah tamu undangan yang hadir. Tolok ukur keberhasilan yang ditetapkan adalah

79

70% kursi yang disediakan terisi oleh tamu undangan. Menurut Chief Promotion, respon yang baik dari para undangan dapat dilihat dari penuh tidaknya tempat duduk yang disediakan. Dalam model evaluasi Cutlip, Center dan Broom pada tahap implementation, program PR dilihat dari jumlah publik yang datang pada saat acara (Watson & Noble, 2007, p. 82-83). Maka, Chief Promotion telah melakukan evaluasi program PR dengan cara melihat seberapa banyak publik yang disasar datang pada acara CWFW 2018.

Hasil analisis peneliti menemukan bahwa walaupun divisi promosi tidak melakukan penelitian secara sistematis dan terstruktur, namun divisi promosi tetap dapat menjawab 5 W yang merupakan inti dari tahapan riset yang dikemukakan oleh Goldblatt. Penelitian yang dilakukan oleh divisi promosi adalah dengan mengadakan focus group discussion melalui pertemuan dengan berbagai pihak dan mengunjungi perhelatan acara fashion show serupa. Jadi, menurut divisi promosi kedua proses yang dilakukan tersebut merupakan tahapan penelitian. Kedua cara penelitian ini sudah dirasa cukup bagi divisi promosi untuk melakukan acara CWFW 2018.

Selain itu, setelah menjawab semua pertanyaan 5W yang diajukan sebelum menyelenggarakan sebuah event, penyelenggara harus melakukan analisis SWOT untuk memastikan bahwa special event dapat berjalan baik dalam mencapai objektif yang diinginkan (Goldblatt, 2002, pp. 42-44). Peneliti melihat bahwa riset yang dilakukan oleh divisi promosi tidak melalui analisis SWOT. Berdasarkan hasil wawancara dari narasumber disiumpulkan bahwa special events yang diadakan tidak memiliki ancaman (Threat). Chief Promotion berpendapat bahwa event fashion show yang lain tidak sebanding dengan CWFW 2018, sehingga event fashion show kompetitor tidak menjadi ancaman bagi event CWFW 2018. Contohnya saja event fashion yang diadakan oleh Tunjungan Plaza yaitu Surabaya Fashion Parade (SFP). Menurut Chief Promotion, SFP memiliki konsep yang berbeda yaitu berupa parade, sedangkan event CWFW memiliki konsep seperti fashion week yang terbagi ke dalam beberapa slot show.

“SWOT kan berarti dipengaruhi dari pihak luar, jadi kita ga bisa ngeliat dari sisi satu event kita aja. Berarti event ini harus ada kompetitornya. Nah jujur itu agak sulit, soalnya jujur secara event, kita nggak ada kompetitor sih di Surabaya.” (Wawancara dengan Hendra, Chief Promotion Ciputra World Surabaya, 2 April 2019).

Peneliti berpendapat bahwa penting bagi divisi promosi untuk juga membuat analisis SWOT terhadap event CWFW 2018. Hal ini dikarenakan kelemahan dari acara nantinya akan mengganggu kelancaran acara. Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti, CWFW 2018 memiliki kelemahan dalam hal Sumber Daya Manusia yang dimiliki oleh divisi promosi. Terlihat dari hasil wawancara bahwa divisi promosi merasa sangat terbantu dengan adanya tim magang. Peneliti berpendapat bahwa kebetulan terdapat tim magang pada saat itu, sehingga Dengan melakukan analisis terhadap weaknesses, divisi promosi dapat terlebih dahulu mengetahui kelemahan dari event ini. Sehingga sebelum mengadakan event, divisi promosi mengetahui hal-hal apa saja yang kurang sehingga dapat diatasi. Maka dalam hal ini, sangat penting diperlukan analisis SWOT secara menyeluruh.

“Menurutku sih adil lah as long as kita punya, biasanya sih untungnya kita waktu itu punya kayak tim magang gitu ya. Kalau nggak kita pasti keteteran.” (Wawancara dengan Riera, Promotion Coordinator Ciputra World Surabaya, 2 April 2019).

4.5.2. Mind Mapping dalam Desain Special Event Ciputra World Fashion

Dalam dokumen 4. ANALISIS DAN INTERPRETASI DATA (Halaman 34-44)