• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

2.2 Penelitian-Penelitian Relevan

3) Semakin ke atas suhu udara semakin rendah hingga uap air mengalami

kondensasi (pengembunan).

4) Pada daerah yang bermusim dingin, uap air akan langsung membeku menjadi hujan salju. Proses ini disebut sublimasi.

5) Akibat proses pengembunan tadi, uap air dapat berubah menjadi air dan jatuh menjadi air tanah.

6) Air hujan yang sampai ke permukaan Bumi sebagian meresap ke dalam tanah menjadi air tanah.

7) Seluruh air di permukaan Bumi akan mendapat pemanasan dari Matahari, sehingga proses penguapan berulang kembali.

Dalam proses daur air sangat besar peranan air tanah. Air tanah terjadi karena air hujan meresap melalui media kemudian masuk menuju tanah. Perairan darat berasal dari air yang meresap dan mengalir di permukaan Bumi. Faktor-faktor yang mempengaruhi kelangsungan proses daur air antara lain:

1) Pengurangan air tanah karena tidak ada keseimbangan lingkungan.

2) Terhalangnya proses penguapan air karena ulah manusia, misalnya adanya pabrik-pabrik dan pemukiman yang terlalu padat.

3) Iklim dan cuaca yang memungkinkan tidak terjadi proses pemanasan air. 4) Lemahnya daya dorong angin terhadap awan yang telah terbentuk.

2.2 Penelitian-Penelitian Relevan

2.2.1 Penelitian tentang Student Team Achievement Division (STAD)

XU dan Liming (2010) melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengoptimalkan manfaat pembelajaran berbasis komputer (CSCL) dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Objek penelitian ini adalah 110 siswa di

Johns Hopkins University, yang akan dibagi menjadi dua kelompok dan juga 1

guru serta 1 asisten. Metode penelitian menggunakan eksperimental. Hasil penelitian didapatkan sebagai berikut. (1) siswa puas menggunakan metode STAD sebanyak 82, 9%; (2) metode STAD lebih dari pada tradisional sebanyak 86, 2%; (3) pembelejaran CSCL sangat penting dan efektif yaitu 80, 1%; (4) pembelajaran CSCL tidak dapat menggantikan sistem face to face yaitu 79, 7%; (5) online CSCL lebih membutuhkan sedikit ketangkasan yaitu 60, 9%; (6) CSCL tidak

25 cocol sebanyak 20, 6%; dan (7) online CSCL seharusnya dikombinasikan dengan tatap muka CSCL sebanyak 88, 5%.

Sapitri dan Hartono (2015) melakukan penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan keefektifan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan GI, serta mendeskripsikan yang lebih efektif dari metode tersebut ditinjau dari kemampuan berpikir kritis dan komunikasi matematis siswa. Populasi pada penelitian yaitu seluruh siswa SMP Nurul Ilmi Kota Jambi, sampel yang digunakan siswa kelas VII dan diambil dua kelas secara acak dari tiga kelas yang ada. Metode penelitian ini adalah penelitian eksperi-men semu (quasi

eksperiment). Dua kelas yang dipilih secara acak akan diberi perlakuan STAD dan

GI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perhitungan uji one sample t test data

postest kelas STAD untuk kemampuan komunikasi matematis dan kemampuan

berpikir kritis siswa diperoleh nilai signifikansi 0,033 dan 0,009, nilai signifikansinya lebih kecil dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif STAD efektif ditinjau dari kemampuan komunikasi matematis dan kemampuan berpikir kritis siswa. Pembelajaran kooperatif tipe STAD dan GI efektif ditinjau dari kemampuan berpikir kritis dan kemampuan komunikasi matematis siswa pada pembelajaran himpunan di kelas VII, dan tidak terdapat perbedaan keefektifan antara pembelajaran kooperatif tipe STAD dan GI dalam pembelajaran matematika ditinjau dari kemampuan berpikir krtis dan kemampuan komunikasi matematis siswa pada pembelajaran himpunan di kelas VII.

Muharom (2014) melakukan penelitian yang bertujuan untuk, (1) mengetahui dan mengkaji apakah kemampuan penalaran matematik peserta didik yang mengikuti pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement

Division (STAD) lebih baik daripada peserta didik yang mengikuti pembelajaran

langsung; (2) mengetahui dan mengkaji apakah kemampuan penalaran matematik peserta didik yang mengikuti pembelajaran kooperatif tipe Student Teams

Achievement Division (STAD) lebih baik daripada peserta didik yang mengikuti

pembelajaran langsung berdasarkan level kemampuan awal; (3) mengetahui dan mengkaji apakah kemampuan komunikasi matematik peserta didik yang mengikuti pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division

26 (STAD) lebih baik daripada peserta didik yang mengikuti pembelajaran langsung; (4) mengetahui dan mengkaji apakah kemampuan komunikasi matematik peserta didik yang mengikuti pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement

Division (STAD) lebih baik daripada peserta didik yang mengikuti pembelajaran

langsung berdasarkan level kemampuan awal; (5) mengetahui dan mengkaji apakah terdapat korelasi antara kemampuan penalaran dan komunikasi matematik peserta didik. Populasi dalam penelitian ini adalah peserta didik SMK Negeri di Wilayah Timur Kabupaten Tasikmalaya, yaitu SMK Negeri Manonjaya. Sampel satu kelompok eksperimen dan satu kelompok kontrol diambil secara acak (random). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan desain kelompok kontrol hanya posttest. Analisis hipotesis dilakukan dengan uji-t, Anova dua jalur, dan korelasi Pearson. Hasil penelitian yaitu kemampuan penalaran matematik peserta didik pada kelas STAD mencapai hasil yang lebih baik daripada kemampuan penalaran matematik peserta didik pada kelas langsung, dan keduanya tergolong sedang (7,69 dan 4,81 dari 16 atau 48,06% dan 30,06%). Dalam kemampuan komunikasi matematikpun juga serupa. Setelah pembelajaran, kemampuan komunikasi matematik peserta didik pada kelas STAD mencapai hasil yang lebih baik daripada kemampuan komunikasi matematik peserta didik pada kelas langsung, dan keduanya tergolong sedang (6,16 dan 4,47 dari 12 atau 51,33% dan 37,25%). Kemampuan penalaran matematik peserta didik yang mengikuti pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) lebih baik dari peserta didik yang mengikuti pembelajaran langsung.

2.2.2 Penelitian tentang Taksonomi Bloom

Huda, Nizlel dan Kencana (2013) melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui kesulitan bedasarkan kemampuan pemahaman dalam menyelesaikan soal cerita pada materi kubus dan balok. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif yang menggunakan metodologi pendekatan penelitian deskritif. Pengumpulan data dilakukan berdasarkan lembar tes kemampuan pemahaman dan wawancara. Subjek dalam penelitian adalah siswa yang memiliki kemampuan pemahaman rendah dalam menyelesaikan soal cerita

27 pada materi kubus dan balok pada semester genap tahun akademik 2011/2012. Berdasarkan hasil tes dan wawancara diperoleh 12,5% siswa cenderung tidak bisa mengubah soal berbentuk kata-kata ke dalam simbol karena siswa tersebut cenderung sulit untuk memahami konsep-konsep yang ada pada soal materi kubus dan balok. 50% siswa cenderung tidak bisa menentukan konsep-konsep yang tepat untuk digunakan dalam menyelesaikan soal karena siswa cenderung sulit untuk menghitung, terutama pada operasi perkalian bilangan bulat dan desimal materi kubus dan balok. 95% siswa cenderung tidak bisa menerapkan konsep-konsep dalam perhitungan matematis dan mengembalikan jawaban sesuai dengan soal semula.

Utami dan Julianto (2013) melakukan penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa, mendeskripsikan aktivitas guru dan siswa, dan mendeskripsikan respon siswa setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan media audio visual. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN Panjunan. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian tindakan kelas. Data penelitian diperoleh melalui tes, observasi, dan angket. Data penelitian ini terdiri dari data pemahaman konsep, data aktivitas guru dan siswa, serta data respon siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil pemahaman konsep siswa mengalami peningkatan yaitu dari 71,43% pada siklus I menjadi 82,86% pada siklus II. Aktivitas guru mengalami peningkatan yaitu dari 74,52% pada siklus I menjadi 84,62% pada siklus II. Aktivitas siswa mengalami peningkatan yaitu dari 74,71% pada siklus I menjadi 81,27% pada siklus II. Respon siswa mengalami peningkatan yaitu dari 82,54% pada siklus I menjadi 88,57% pada siklus II.

Supardi (2011) melakukan penelitian yang bertujuan untuk memperoleh gambaran lebih lengkap tentang pengaruh intensitas penilaian formatif terhadap hasil belajar Kalkulus dengan mengendalikan kemampuan awal Kalkulus mahasiswa. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan teknik quasi

eksperimen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, variabel intensitas penilaian

formatif mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar Kalkulus mahasiswa setelah mengendalikan kemampuan awal mahasiswa. Penelitian ini juga berhasil menemukan bahwa hasil belajar Kalkulus mahasiswa yang diberikan Intensitas Penilaian Formatif per pokok bahasan lebih tinggi dari pada mahasiswa

28 yang diberikan Intensitas Penilaian Formatif Konvensional, setelah mengendalikan pengaruh kemampuan awal Kalkulus mahasiswa yang menunjukkan rerata hasil belajar Kalkulus mahasiswa yang diberikan Intensitas Penilaian Formatif Per Pokok Bahasan sebesar 80,05 dan rerata hasil belajar mahasiswa yang diberikan Intensitas Penilaian Formatif Konvensional sebesar 74,22.

Penelitian-penelitian relevan di atas menggunakan populasi siswa SD, SMP, SMK, dan mahasiswa. Dari penelitian-penelitian sebelumnya sudah terdapat model pembelajaran kooperatif yang digunakan dalam penelitian. Dalam penggunaannya Model Pembelajaran berpengaruh terhadap variabel dependen yang diteliti. Peneliti dalam penelitian ini akan menggunakan variabel independen model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement

Division (STAD) dan variabel dependen kemampuan taksonomi Bloom

khususnya kemampuan mengingat dan memahami. Maka dari itu, peneliti akan melakukan penelitian yang berbeda dari penelitian yang sudah dilakukan yaitu suatu penelitian eksperimen untuk melihat pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) terhadap kemampuan mengingat dan memahami pada siswa SD kelas V.

Dokumen terkait