BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.3 Hasil Uji Hipotesis Penelitian I
4.1.3.1 Uji Normalitas Distribusi Data
Uji normalitas data dilakukan untuk mengetahui normal atau tidaknya distribusi data, sehingga dapat ditentukan jenis statistik yang digunakan untuk menganalisis data tersebut (Field, 2009: 144). Data pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen diuji menggunakan One Samples Kolmogorov-Smirnov
test. Data yang diuji normalitasnya yaitu skor pretest, posttest I, posttest II, dan
selisih dari pretest ke posttest I.
Kriteria yang digunakan untuk kesimpulan uji normalitas data yaitu sebagai berikut. Jika harga p > 0,05 maka distribusi data normal, sehingga uji statistik selanjutnya menggunakan statistik parametrik misalnya dengan
65
Independent samples t-test atau Paired samples t-test (Field, 2009: 326). Jika
harga p < 0,05 maka distribusi data tidak normal, sehingga uji statistik berikutnya menggunakan statistik non parametrik misalnya dengan Mann-Whitney atau
Wilcoxon signed rank test (Field, 2009: 345). Berdasarkan kriteria tersebut, hasil
uji normalitas kemampuan mengingat sebagai berikut (lihat Lampiran 4.3.1).
Tabel 4.5 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data
No Aspek p Keterangan
1 Pretest mengingat kelompok kontrol 0,123 Normal 2 Pretest mengingat kelompok eksperimen 0,058 Normal 3 Posttest I mengingat kelompok kontrol 0,000 Tidak Normal 4 Posttest I mengingat kelompok eksperimen 0,023 Tidak Normal 5 Posttest II mengingat kelompok kontrol 0,002 Tidak Normal 6 Posttest II mengingat kelompok eksperimen 0,002 Tidak Normal
7 Selisih pretest-posttest I mengingat kelompok kontrol 0,067 Normal
8 Selisih pretest-posttest I mengingat kelompok eksperimen 0,200 Normal
Tabel 4.5 menunjukkan harga p > 0,05 pada aspek pretest dan selisih
pretest-posttest I untuk kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Aspek
tersebut menunjukkan distribusi data normal, sehingga analisis data selanjutnya menggunakan statistik parametrik. Statistik parametrik yang digunakan yaitu
Independent samples t-test, untuk menganalisis data dari dua kelompok yang
berbeda, misalnya kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Field, 2009: 326). Sedangkan yang menunjukkan harga p < 0,05 pada aspek posttest I dan
posttest II. Aspek tersebut menunjukkan distribusi data tidak normal, sehingga
analisis data selanjutnya menggunakan statistik non parametrik. Statistik non parametrik yang digunakan yaitu Wilcoxon signed rank test digunakan untuk analisis data dari kelompok yang sama, misalnya kelompok kontrol dan kelompok eksperimen atau kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol (Field, 2009: 345).
4.1.3.2 Uji Perbedaan Kemampuan Awal
Uji perbedaan kemampuan awal bertujuan untuk memastikan bahwa kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki kemampuan awal yang sama pada kemampuan mengingat. Uji kemampuan awal skor pretest menggunakan statistik parametrik Independent samples t-test, karena data
66 terdistribusi normal (Field, 2009: 326). Data yang digunakan yaitu rerata skor pretest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Sebelum dilakukan analisis, dilakukan uji asumsi untuk memeriksa homogenitas varians dengan
Levene’s test. Jika harga p > 0,05 maka ada homogenitas varians pada kedua data
yang dibandingkan. Sedangkan jika harga p < 0,05 maka tidak ada homogenitas varians pada kedua data yang dibandingkan (Field, 2009: 150). Berikut ini adalah hasil uji asumsi homogenitas varians (lihat Lampiran 4.4.1).
Tabel 4.6 Hasil Uji Asumsi Homogenitas Varians
Uji Statistik F P Keputusan
Levene’s Test for Equality of Variances 0,75 0,387 Homogen Levene’s test dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan harga F =
0,75 dan harga p = 0,387. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat homogenitas data. Apabila varians homogen, maka data uji statistik Independent
samples t-test yang diambil adalah data baris petama pada output SPSS (Field,
2009: 340). Tingkat kepercayaan untuk melakukan uji perbedaan kemampuan awal adalah 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah jika p < 0,05 (Field, 2009: 53). Berikut adalah hasil uji perbedaan kemampuan awal dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat Lampiran 4.4.1).
Tabel 4.7 Hasil Uji Perbedaan Rerata Pretest
Uji Statistik p Keterangan
Independent samples t-test 0,032 Berbeda Rerata skor yang dicapai pada kelompok eksperimen (M = 2,21, SE = 0,06) lebih tinggi daripada rerata skor yang dicapai pada kelompok kontrol (M = 1,97, SE = 0,08). Perbedaan skor tersebut signifikan dengan t (66) = -2,19, p = 0,032 (p < 0,05) maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan kemampuan awal pada kedua kelompok. Ancaman terhadap validitas internal berupa karakteristik subjek kurang bisa dikendalikan dengan baik. Idealnya kedua kelompok tidak berbeda.
67 4.1.3.3 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan
Uji signifikansi pengaruh perlakuan dilakukan untuk mengetahui pengaruh penerapan STAD terhadap kemampuan mengingat. Hal ini dapat dilihat dari perbedaan rerata selisih skor pretest dan posttest I pada kedua kelompok. Pengaruh perlakuan dapat dihitung menggunakan rumus (O2-O1) – (O4-O3), yaitu dengan mengurangkan selisih skor posttest I – pretest pada kelompok eksperimen dengan selisih posttest I – pretest pada kelompok kontrol (Cohen, 2007: 277). Jika hasil perhitungan bernilai lebih dari 0, maka terdapat pengaruh perlakuan. Hasil perhitungan kemampuan mengingat menunjukkan selisih skor rerata pretest dan
posttest I pada kelompok eksperimen sebesar 0,70. Sedangkan selisih pretest dan posttest I pada kelompok kontrol sebesar 0,33. Hasil perhitungan selisih dari 0,70
dan 0,33 diperoleh angka 0,37 atau positif. Oleh karena itu, terdapat pengaruh pada penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan mengingat. Berdasarkan uji normalitas data, rerata selisih skor pretest ke posttest I pada kedua kelompok berdisribusi normal. Kemudian, analisis statistik yang dilakukan selanjutnya adalah statistik parametrik dengan Independent samples
t-test (Field, 2009: 326). Hal ini dikarenakan data yang dimasukkan berasal dari
kelompok yang berbeda.
Sebelum melakukan uji statistik, peneliti melakukan uji asumsi terhadap homogenitas varians dengan melihat harga p. Jika harga p < 0,05 maka tidak terdapat homogenitas varians pada kedua data yang dibandingkan (Field, 2009: 340). Tetapi, jika p > 0,05 maka terdapat homogenitas pada kedua data yang dibandingkan. Berikut ini adalah tabel hasil uji asumsi homogenitas varians (lihat Lampiran 4.5.1).
Tabel 4.8 Hasil Uji Asumsi Homogenitas Varians
Uji Statistik F p Keputusan
Levene’s Test for Equality of Variances 1,87 0,175 Homogen Hasil Levene’s test menunjukkan harga F = 1,87 dan harga p = 0,175, (p > 0,05), sehingga terdapat homogenitas varians data. Jika terdapat homogenitas varians, maka data uji statistik Independent samples t-test yang digunakan adalah
68 data baris pertama pada output SPSS (Field, 2009: 340). Analisis selanjutnya menggunakan Independent samples t-test dengan tingkat kepercayaan 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah jika p < 0,05 (Field, 2009: 53). Berikut ini adalah hasil uji signifikansi pengaruh perlakuan pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terhadap kemampuan mengingat (lihat Lampiran 4.5.1).
Tabel 4.9 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan
Uji Statistik p Keterangan
Independent samples t-test 0,026 Ada perbedaan
Skor rerata kelompok eksperimen (M = 0,69, SE = 0,12) lebih tinggi daripada rerata selisih kelompok kontrol yaitu (M = 0,33, SE = 0,10). Perbedaan skor tersebut terlihat signifikan t(66) = - 2,28, p = 0,026 ( p < 0,05). Oleh karena itu, Hnull ditolak dan Hi diterima. Hal ini berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara rerata selisih skor pretest – posttest I pada kelompok kontrol dan eksperimen. Dengan kata lain, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan mengingat. Berikut adalah diagram hasil perbandingan rerata selisih skor pretest ke posttest I kemampuan mengingat pada kelompok kontrol dan eksperimen.
Gambar 4.1 Grafik Pretest dan Posttest 1 Kemampuan Mengingat 1,97 2,50 2,21 2,90 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 Pretest Posttest1 M ea n Kel Kontrol Kel Eksperimen
69 Data di atas menunjukkan bahwa hasil pretest kedua kelompok berbeda. Kelompok kontrol dengan rerata 1,97 sedangkan kelompok eksperimen 2,21. Hasil tersebut terlihat berbeda, sehingga pada kemampuan awal kedua kelompok berbeda.
Gambar 4.2 Grafik Perbandingan Rerata Selisih Skor Pretest-Posttest I
Grafik di atas menunjukkan perbedaan selisih antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Mean pada kelompok kontrol sebesar 0,33, sedangkan
mean kelompok eksperimen sebesar 0,69. Data tersebut menunjukkan mean
kelompok eksperimen lebih tinggi daripada mean kelompok kontrol.
4.1.3.4 Uji Besar Pengaruh Perlakuan
Uji besar pengaruh perlakuan (effect size) bertujuan untuk mengetahui besar pengaruh penerapan model STAD terhadap kemampuan mengingat. Data terdistribusi dengan normal, sehingga menggunakan rumus koefisien korelasi
Pearson (Field, 2009: 57). Independent samples t-test digunakan untuk
70 perlakuan diperoleh dengan menghitung koefisien determinasi (R2). Menghitung koefisien determinasi dilakukan dengan mengkwadratkan harga r (harga koefisien korelasi Pearson yang didapat) kemudian dikalikan 100% (Field, 2009: 179). Berikut adalah hasil perhitungan effect size terhadap kemampuan mengingat (lihat Lampiran 4.6).
Tabel 4.10 Hasil Uji Effect Size
Variabel t t2 df r (effect size) R2 % Kategori
Efek
Mengingat -2,281 5,20 66 0,27 0,0729 7,29% Kecil
Tabel di atas memperlihatkan hasil uji effect size. Besar pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan mengingat adalah r = 0,27 atau 7,29%. Hal ini berarti besar pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD sebesar 7,29% atau kecil.
4.1.3.5 Analisis Lebih Lanjut
1. Perhitungan Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I
Perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I bertujuan untuk mengetahui persentase peningkatan skor rerata dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Analisis perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I pada uji normalitas data menggunakan One Samples Kolmogorov-Smirnov test. Persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I dihitung dengan membagi selisih rerata pretest –
posttest I dengan rerata pretest, kemudian dikali 100%. Berikut adalah hasil
perhitungan persentase peningkatan rerata skor pretest ke posttest I (lihat lampiran 4.7.1)
Tabel 4.11 Peningkatan Rerata Skor Pretest ke Posttest I
No Kelompok Rerata Peningkatan
(%) p Signifikansi
Pretest Posttest I
1 Kontrol 1,98 2,31 17 0,000 Signifikan
71 Gambar 4.3 Grafik Perbandingan Rerata Skor Pretest ke Posttest I
Data peningkatan rerata skor pretest ke posttest I menunjukkan rerata
pretest kelompok kontrol 1,98 dan rerata pretest kelompok eksperimen sebesar
2,21. Sedangkan hasil skor posttest I kelompok kontrol sebesar 2,31 dan rerata skor posttest I kelompok eksperimen sebesar 2,91. Hasil perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol sebesar 17% sedangkan hasil perhitungan persentase rerata pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen sebesar 32%. Berdasarkan perhitungan tersebut, kedua kelompok mengalami peningkatan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I.
Persentase peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol yaitu sebesar 32%. Sedangkan persentase kelompok kontrol memperoleh sebesar 17%. Berikut grafik yang menunjukkan frekuensi selisih pretest – posttest I (gain score) pada kedua kelompok. 1,98 2,21 2,31 2,91 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5
Kel Kontrol Kel Eksperimen
Rer
a
ta
Pretest Posttest I
72 Gambar 4.4 Grafik Gain Score
Gambar 4.3 menunjukkan bahwa gain score terendah pada kelompok kontrol adalah -1,00, sedangkan gain score terendah pada kelompok eksperimen adalah -0,67. Gain score tertinggi kelompok kontrol adalah 1,33, sedangkan gain
score tertinggi kelompok eksperimen adalah 2,00. Namun frekuensi siswa yang
mendapat nilai ≥ 0,50 pada kelompok kontrol berjumlah 13 anak, sedangkan kelompok eksperimen berjumlah 20 anak. Nilai 0,50 merupakan nilai tengah gain score yang yang didapat dengan menghitung 50% dari nilai tertinggi. Persentase gain score ≥ 0,50 pada kelompok kontrol sebesar 38%, sedangkan pada kelompok eksperimen sebesar 59% (lihat Lampiran 4.7.3). Hal ini berarti 38% siswa pada kelompok kontrol diuntungkan dengan penerapan ceramah. Sebaliknya, 59% siswa pada kelompok eksperimen diuntungkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Berdasarkan perhitungan tersebut, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD memiliki persentase lebih besar daripada metode ceramah.
2. Uji Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I
Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui peningkatan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Peneliti menggunakan uji statistik non parametrik Wilcoxon signed rank test karena data yang diuji data tidak normal dan dari kelompok yang sama. Tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95%.
1 2 4 5 9 7 2 4 1 3 5 4 1 1 5 5 3 4 2 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 -1 -0,5 0 0,5 1 1,5 2 fre k uens i Gain Score Kelompok Kontrol Kelompok Ekperimen
73 Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 (Field, 2009: 53). Berikut adalah hasil uji peningkatan rerata pretest ke posttest I (lihat Lampiran 4.8.1).
Tabel 4.12 Hasil Uji Besar Pengaruh Peningkatan Rerata Skor Pretest ke PosttestI
No Kelompok Z N R R2 % Kategori Efek
1 Kontrol -3,863 68 -0,47 0,22 22 Kecil
2 Eksperimen -4,148 68 -0,50 0,25 25 Kecil
Tabel hasil uji besar pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan mengingat. Pada kelompok eksperimen persentasenya lebih besar daripada persentase besar pengaruh penerapan metode ceramah pada kelompok kontrol. Besar pengaruh pada kelompok eksperimen sebanyak 0,25 atau 25%, sedangkan pada kelompok kontrol sebesar 0,22 atau 22% . Hasil uji besar pengaruh peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol menunjukkan efek kecil.
3. Uji Korelasi antara Rerata Pretest dan Posttest I
Uji korelasi dilakukan untuk mengetahui korelasi antara rerata pretest dan
posttest I positif atau negarif. Jika hasil menunjukkan positif berarti semakin
tinggi skor pretest maka semakin tinggi pula skor posttest I. Signifikan berarti hasil skor korelasi tersebut dapat digeneralisasikan pada populasi. Selain itu, dalam uji korelasi digunakan untuk memastikan kontrol terhadap ancaman validitas internal penelitian regresi statistik. Regresi statistik terjadi jika siswa mendapat skor pretest tinggi dan juga mendapat skor posttest yang lebih rendah. Sedangkan siswa yang mendapat skor pretest rendah akan mendapat skor posttest lebih tinggi. Data yang digunakan adalah skor rerata pretest dan skor rerata
posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Data yang digunakan
terdistribusi tidak normal, sehingga menggunakan rumus Pearson Correlation. Tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 (Failed, 2009: 53). Berikut hasil uji korelasi antara rerata pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat Lampiran 4.9.1).
74 Tabel 4.13 Hasil Uji Korelasi antara Rerata Pretest dan Posttest I
No Kelompok Pearson
Correlation
P Keterangan
1 Kontrol 0,000 0,998 Positif dan Tidak Signifikan
2 Eksperimen -0,340 0,049 Negatif dan Signifikan
Berdasarkan hasil uji korelasi antara pretest dan posttest I, harga p pada kelompok kontrol sebasar 0,998 (p > 0,05) dan kelompok eksperimen sebesar 0,049 (p < 0,05). Hasil Pearson Correlation pada kelompok kontrol sebesar 0,000, sedangkan pada kelompok eksperimen sebesar -0,340. Angka ini menunjukkan kedua kelompok memiliki korelasi yang berbeda. Harga Pearson
Correlation kelompok kontrol menunjukkan nilai positif dan kelompok
eksperimen menunjukkan nilai negatif. Hal ini berarti pada kelompok kontrol siswa yang mendapat rerata skor pretest tinggi skor posttest rendah dan sebaliknya. Sedangkan pada kelompok eksperimen siswa yang mendapat rerata skor pretest tinggi, tinggi pula skor posttestnya dan sebaliknya. Kondisi ini tidak ideal sehingga menjadi ancaman pada regresi statistik. Regresi statistik tidak dapat dikendalikan dengan baik pada kelompok eksperimen.
4. Uji Retensi Pengaruh Perlakuan
Uji retensi pengaruh perlakuan untuk mengetahui efek perlakuan yang diberikan setelah beberapa waktu. Uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan dengan menggunakan hasil pekerjaan siswa pada soal posttest II. Jarak waktu mengerjakan posttest I dan posttest II kurang lebih satu minggu. Data yang diuji berasal dari kelompok yang sama tetapi tidak normal, sehingga diuji menggunakan statistik non parametrik Wilcoxon signed rank test (Field, 2009: 345). Tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah p < 0,05 (Field, 2009: 53). Jika harga p < 0,05 maka Hnull ditolak dan Hi diterima, atau dapat dikatakan terdapat perbedaan skor yang signifikan. Berikut hasil uji retensi pengaruh perlakuan pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat Lampiran 4.10.1).
75 Tabel 4.14 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan
No Kelompok Rerata Peningkatan
(%) P Keterangan
Posttest I Posttest II
1 Kontrol 2,31 2,26 -2 0,012 Ada Perbedaan
2 Eksperimen 2,91 2,57 -12 0,004 Ada Perbedaan
Data di atas menunjukkan harga p sebesar 0,012 (p < 0,05), maka Hnull
ditolak dan Hi diterima. Hal ini berarti terdapat perbedaan skor yang signifikan dari skor posttest I ke posttest II pada kelompok kontrol. Sedangkan p pada kelompok eksperimen sebesar 0,004 (p < 0,05), maka Hnull ditolak dan Hi
diterima. Hal ini berarti terdapat perbedaan yang signifikan dari hasil posttest I ke hasil posttest II. Jadi, terdapat penurunan yang signifikan dari hasil posttest I ke hasil posttest II pada kemampuan mengingat kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.
Persentase penurunan rerata posttest I ke posttest II pada kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Hal ini ditunjukkan dengan persentase penurunan kelompok eksperimen sebesar 12%, sedangkan pada kelompok kontrol sebesar 2%. Berikut adalah grafik skor pretest, posttest I, dan
posttest II kemampuan mengingat pada kelompok kontrol dan kelompok
eksperimen.
Gambar 4.5 Grafik Pretest, Posttest I, dan Posttest II Kemampuan Mengingat 1,97 2,50 2,26 2,21 2,90 2,56 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5
Pretest Posttest1 Posttest2
M
ea
n
Kel Kontrol Kel Eksperimen
76 Untuk memastikan pencapaian skor pada posttest II berbeda dengan pretest maka dilakukan analisis terhadap perbedaan skor posttest II dan pretest. Tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95%. Jika harga p < 0,05 maka Hnull
ditolak dan Hi diterima, atau dapat dikatakan ada perbedaan skor yang signifikan. Berikut tabel hasil uji perbandingan skor pretest dan posttest II (lihat Lampiran