BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Pembahasan
4.2.1 Pengendalian Ancaman Validitas Internal
Penelitian ini membutuhkan kehati-hatian dalam menarik kesimpulan. Perlu adanya kontrol terhadap variabel di luar variabel penelitian. Mengontrol variabel berarti peneliti melakukan pengendalian, sehingga peneliti dapat menghilangkan pengaruh variabel di luar variabel yang diteliti. Tujuan mengontrol variabel tersebut adalah untuk menghilangkan bias yang kemungkinan muncul karena pengaruh variabel di luar yang diteliti.
1. Sejarah
Pada setiap kejadian atau perlakuan terhadap kelompok yang sedang diteliti terjadi di antara pretest dan posttest di luar treatment penelitian yang bisa mempengaruhi hasil posttest pada variabel dependen (Johnson & Christensen, 2008: 260, Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 155). Pengaruh sejarah bisa terjadi terhadap salah satu kelompok yang diteliti terutama jika penelitian dilakukan dalam jangka waktu lama (beberapa bulan atau tahun). Kejadian tersebut misalnya
89
workshop, ekstrakurikuler, kursus, acara TV, dsb dengan perlakuan atau materi
yang sama dengan yang digunakan sebagai treatment penelitian. Jika kelompok kontrol dan kelompok eksperimen juga sama-sama mengikuti acara tersebut, pengaruhnya terhadap hasil posttest akan seimbang sehingga tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitiannya: rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283).
2. Difusi perlakuan atau kontaminasi (diffusion of treatment or contamination) Ancaman ini terjadi ketika kelompok kontrol dan kelompok eksperimen diam-diam saling berkomunikasi dan mempelajari perlakuan yang diberikan pada kelompok eksperimen. Solusinya kedua kelompok betul-betul dipisahkan dan berjanji untuk tidak saling mempelajari treatment yang diberikan pada kelompok eksperimen (Neuman, 2013: 130). Jika diabaikan, ancaman terhadap validitas internal penelitian: rendah sampai menengah.
3. Perilaku kompensatoris
Ancaman ini terjadi ketika perlakuan yang diberikan di kelompok eksperimen diketahui oleh kelompok kontrol. Keuntungan yang diperoleh oleh kelompok eksperimen dirasa jauh lebih banyak dibanding kelompok kontrol. Karena merasa didevaluasi, kelompok kontrol bisa jadi 1) berusaha menandingi kelompok eksperimen dengan belajar ekstra keras atau 2) mengalami demoralisasi sehingga marah dan tidak kooperatif (Neuman, 2013: 330). Solusi: kelompok kontrol diberi pengertian bahwa sesudah penelitian mereka juga akan mendapatkan treatment yang sama. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian: rendah sampai menengah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283).
4. Maturasi (maturation)
Setiap perubahan biologis atau psikologis yang terjadi sepanjang waktu penelitian dapat berpengaruh terhadap posttest pada variabel dependen (Johnson & Christensen, 2008: 261). Misalnya perubahan yang terjadi karena penuaan, kebosanan, rasa lapar, rasa haus, kelelahan, atau tambahan pengalaman belajar di luar penelitian. Melakukan penelitian eksperimental dalam waktu yang relatif singkat untuk menghindari ancaman terhadap validitas internal penelitian akibat
90 diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian: rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). Solusi untuk ancaman ini adalah menggunakan kelompok kontrol dengan waktu pretest dan posttest yang sama dengan kelompok eksperimen.
5. Regresi statistik (statistical regression)
Kecenderungan umum bahwa partisipan dengan hasil skor pretest yang sangat tinggi (mencapai skor tertinggi dalam skala pengukuran) biasanya memperoleh skor posttest yang lebih rendah dan sebaliknya hasil pretest yang sangat rendah (mencapai skor terendah dalam skala pengukuran) biasanya memperoleh skor posttest yang lebih tinggi merupakan ancaman regresi statistik. Skor yang rendah pada pretest akan cenderung naik mendekati mean pada posttest dan skor yang tinggi pada pretest akan cenderung turun mendekati mean. Ancaman ini akan lebih besar terjadi pada penelitian terhadap kelompok yang di dalamnya ada yang berkebutuhan khusus slow learner dan talented. Pada pretest, kelompok slow learner akan mendapat skor yang sangat rendah. Sesudah treatment, mereka akan mendapatkan skor yang lebih tinggi. Sementara yang talented biasanya akan langsung mendapatkan skor yang sangat tinggi pada waktu
pretest, tetapi akan mengalami penurunan pada posttest. Jika perubahan yang
terjadi pada posttest diklaim melulu sebagai hasil treatment penelitian, kesimpulan tersebut bisa diragukan persis karena efek regresi statistik ini. Hasil pretest atau
posttest belum tentu 100% mencerminkan kemampuan objektif. Bisa jadi
faktor-faktor lain ikut berpengaruh saat menjalani pretest atau posttest, misalnya stress saat mengerjakan test, kurang konsentrasi, kurang istirahat, salah menginterpretasikan pertanyaan, dsb. Solusi: kecermatan dalam melihat partisipan dengan skor pretest yang sangat tinggi atau sangat rendah dan membandingkannya dengan hasil posttest mereka. Penggunaan kelompok kontrol akan mengurangi ancaman ini karena keduanya kurang lebih memiliki partisipan khusus yang kurang lebih sama. Jika diabaikan, ancaman terhadap validitas internal penelitian: rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283).
6. Mortalitas (mortality)
Perbedaan jumlah partisipan pada waktu pretest dan posttest akibat mengundurkan diri dalam penelitian sehingga tidak ikut posttest dapat
91 berpengaruh terhadap validitas penelitian. Ancaman ini akan lebih besar untuk penelitian yang dilakukan dalam jangka waktu yang lama. Hasil posttest dari partisipan yang tersisa bisa jadi berbeda dengan jika dikerjakan oleh seluruh partisipan yang sama pada saat pretest. Solusi: digunakan kelompok kontrol sehingga kurang lebih jumlah partisipan yang mengundurkan diri sama. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian: menengah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 282).
7. Pengujian (testing)
Pretest pada awal penelitian bisa mempengaruhi hasil posttest sehingga
hasil posttest menjadi lebih tinggi jika tanpa ada pretest (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 156). Jika penelitian hanya dilakukan terhadap satu kelompok eksperimen saja, ancaman terhadap validitas internal akan lebih tinggi (Johnson & Christensen, 2008: 262). Solusi: penggunaan kelompok kontrol yang sama-sama mengerjakan pretest akan mengurangi ancaman terhadap validitas internal ini karena kedua kelompok sama-sama mendapatkan pretest. Rancangan penelitian eksperimental 4 kelompok tipe Solomon sangat membantu meminimalisir ancaman ini (Neuman, 2013: 328). Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian: rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). 8. Instrumentasi (instrumentation) v krna sama instrumen
Setiap perubahan atau perbedaan instrumen pretest dan posttest yang digunakan untuk mengukur variabel dependen akan meningkatkan ancaman terhadap validitas internal penelitian (Johnson & Christensen, 2008: 262). Instrumen yang tidak valid dan tidak reliabel menjadi ancaman serius terhadap hasil penelitian.
9. Lokasi (location)
Jika lokasi yang digunakan untuk pretest, posttest, maupun untuk perlakuan pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terlalu berbeda (misalnya ukuran ruang, kenyamanan ruang, kebisingan ruang, dsb), lokasi yang berbeda bisa menghasilkan skor posttest yang berbeda. Solusinya ruang yang digunakan harus kurang lebih sama. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian: menengah sampai tinggi (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 282).
92 10.Karakteristik subjek (subject characteristics)
Karakteristik subjek yang berbeda antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen menjadi ancaman besar bagi validitas internal penelitian (Frankel, Wallen, & Hyun, 2012: 282). Kemampuan awal yang berbeda pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen akan mempengaruhi hasil posttest. Solusinya yaitu dites dengan pretest, kedua kelompok tersebut memiliki kemampuan awal yang tidak berbeda, bias yang mungkin terjadi dianggap tidak ada (Neuman, 2013: 238).
11.Implementasi (implementation)
Perbedaan guru yang mengajar pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen bisa berpengaruh pada skor posttest. Guru yang berbeda juga akan memiliki style mengajar yang berbeda. Solusi: guru yang mengimplementasikan pembelajaran di kedua kelompok tersebut sama atau sama-sama dilaksanakan oleh guru yang berbeda-beda (banyak guru). Perlu kontrol implementasi pembelajaran yang lebih cermat. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian: tinggi (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 284).
Tabel 4.26 Ancaman dalam Penelitian
No Ancaman
Validitas
Tingkat ancaman Terkendali
Ya/Tidak
Cara pengendalian
1 Sejarah Rendah √ Penelitian dilakukan dalam
waktu yang singkat (dua
minggu).
2 Difusi treatment Rendah -menengah √ Tidak ada komunikasi tentang
CL ke kelompok kontrol secara sistematis.
3 Perilaku
kompensatoris
Rendah-menengah × Kelompok kontrol tidak diberi
CL sesudah penelitian selesai.
4 Maturasi Rendah √ Penelitian dilakukan dalam
waktu yang singkat (2 minggu) Penggunaan pretest dan posttest yang sama untuk kelompok kontrol dan eksperimen.
5 Regresi statistik Rendah × Hasil analisis korelasi
kemampuan mengingat pada
kelompok eksperimen yaitu
negatif dan signifikan sehingga
tidak dapat dikendalikan
dengan baik.
6 Mortalitas Menengah √ Penelitian dilakukan dalam
waktu yang singkat (2 minggu) Skor dari 1 atau 2 siswa yang tidak hadir saat pretest atau
93
posttest diisi dengan skor rerata
keseluruhan sehingga nilainya netral.
7 Pengujian Rendah √ Kelompok kontrol dan
eksperimen sama-sama diberi
pretest.
8 Instrumentasi
Rendah-menengah-tinggi
√ Digunakan instrumen yang
sama untuk pretest dan posttest.
9 Lokasi Menengah √ Ruang kelas yang digunakan
sama dan tidak bising.
10 Karakteristik
subjek
Menengah-tinggi × Hasil pretest pada kemampuan