BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.4 Uji Hipotesis Penelitian II
Tabel 4.15 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan
No Kelompok Rerata p Signifikansi
Pretest Posttest II
1 Kontrol 1,98 2,26 0,008 Ada Perbedaan
2 Eksperimen 2,21 2,57 0,003 Ada Perbedaan
Data di atas menunjukkan harga p kelompok kontrol 0,008 (p < 0,05), sedangkan harga p pada kelompok eksperimen sebesar 0,003 (p < 0,05), maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Hal ini berarti pada kedua kelompok terdapat perbedaan penurunan yang signifikan dari hasil pretest ke posttest II.
4.1.4 Uji Hipotesis Penelitian II
Hipotesis penelitian II adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Model ini berpengaruh terhadap kemampuan memahami pada materi siklus air kelas V SD Kanisius Kalasan semester gasal 2017/2018. Variabel dependen pada hipotesis tersebut yaitu kemampuan memahamit, sedangkan variabel independen adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Instrumen yang digunakan untuk mengukur kemampuan mengingat yaitu satu soal uraian dengan butir soal nomer 2. Soal ini menggunakan indikator memberikan contoh faktor yang mempengaruhi proses siklus air, memprediksi kegiatan manusia yang mempengaruhi siklus air, dan menjelaskan proses siklus air.
Hasil analisis statistik secara keseluruhan dihitung menggunakan program statistik yaitu IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Tahapan analisis data dilakukan yaitu; 1) uji normalitas data untuk mengetahui distribusi data normal atau tidak, dari hasil tersebut dapat ditentukan analisis menggunakan statistik parametrik atau nonparametrik, 2) uji perbedaan
77 kemampuan awal, untuk mengetahui kemampuan awal siswa pada kelompok kontrol dan eksperimen, 3) uji signifikansi pengaruh perlakuan, 4) uji besar pengaruh perlakuan. Selanjutnya dilakukan analisis lebih lanjut yang terdiri dari 1) perhitungan presentase peningkatan rerata pretest ke posttest I, 2) uji signifikansi peningkatan rerata pretest ke posttest, 3) uji korelasi rerata pretest ke
posttest, 4) uji retensi pengaruh perlakuan.
4.1.4.1 Uji Normalitas Distribusi Data
Uji normalitas data dilakukan untuk mengetahui normal atau tidaknya distribusi data, sehingga dapat ditentukan jenis statistik yang digunakan untuk menganalisis data tersebut (Field, 2009: 144). Data pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen diuji menggunakan One Samples Kolmogorov-Smirnov
test. Data yang diuji normalitasnya yaitu skor pretest, posttest I, posttest II, dan
selisih dari pretest ke posttest I.
Kriteria untuk menerima Hnull adalah jika p > 0,05 maka distribusi data normal, sehingga uji statistik selanjutnya menggunakan statistik parametrik misalnya dengan Independent samples t-test atau Paired samples t-test (Field, 2009: 326). Jika harga p < 0,05 maka distribusi data tidak normal, sehingga uji statistik berikutnya menggunakan statistik non parametrik misalnya dengan
Mann-Whitney atau Wilcoxon signed rank test (Field, 2009: 345). Berdasarkan
kriteria tersebut, hasil uji normalitas kemampuan memahami sebagai berikut (lihat Lampiran 4.3.2).
Tabel 4.16 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data
No Aspek p Keterangan
1 Pretest memahami kelompok kontrol 0,107 Normal 2 Pretest memahami kelompok eksperimen 0,043 Tidak Normal 3 Posttest I memahami kelompok kontrol 0,001 Tidak Normal 4 Posttest I memahami kelompok eksperimen 0,019 Tidak Normal 5 Posttest II memahami kelompok kontrol 0,000 Tidak Normal 6 Posttest II memahami kelompok eksperimen 0,000 Tidak Normal
7 Selisih pretest-posttest I memahami kelompok kontrol 0,200 Normal
8 Selisih pretest-posttest I memahami kelompok eksperimen 0,070 Normal
Tabel 4.16 menunjukkan harga p > 0,05 pada aspek pretest kelompok kontrol dan selisih pretest-posttest I untuk kelompok kontrol dan kelompok
78 eksperimen. Aspek tersebut menunjukkan distribusi data normal, sehingga analisis data selanjutnya menggunakan statistik parametrik. Statistik parametrik yang digunakan yaitu Independent samples t-test, untuk menganalisis data dari dua kelompok yang berbeda, misalnya kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Field, 2009: 326). Sedangkan yang menunjukkan harga p < 0,05 pada aspek
pretest kelompok eksperimen, posttest I, dan posttest II. Aspek tersebut
menunjukkan distribusi data tidak normal, sehingga analisis data selanjutnya menggunakan statistik non parametrik. Statistik non parametrik yang digunakan yaitu Mann-Whitney dan Wilcoxon signed rank test digunakan untuk analisis data dari kelompok yang sama, misalnya kelompok kontrol dan kelompok eksperimen atau kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol (Field, 2009: 345).
4.1.4.2 Uji Perbedaan Kemampuan Awal
Uji perbedaan kemampuan awal bertujuan untuk memastikan bahwa kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki kemampuan awal yang sama pada kemampuan memahami. Uji kemampuan awal skor pretest menggunakan statistik non parametrik Mann-Whitney, karena salah satu data terdistribusi tidak normal (Field, 2009: 326). Data yang digunakan yaitu rerata skor pretest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.
Tingkat kepercayaan untuk melakukan uji perbedaan kemampuan awal adalah 95%. Kriteria yang digunakan adalah jika p < 0,05 berarti ada perbedaan kemampuan awal. Sedangkan jika harga p > 0,05 tidak ada perbedaan kemampuan awal. Berikut adalah hasil uji perbedaan kemampuan awal dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat Lampiran 4.4.2).
Tabel 4.17 Hasil Uji Perbedaan Rerata Pretest
Uji Statistik p Keterangan
Mann-Whitney 0,282 Tidak berbeda Rerata skor yang dicapai pada kelompok kontrol (M = 37,03) lebih tinggi daripada rerata skor yang dicapai pada kelompok eksperimen (M = 31,97). Perbedaan skor tersebut tidak signifikan dengan, U = (492,00), Z = (-1,07) p =
79 0,282 (p < 0,05) maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Hal ini berarti tidak ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest kemampuan memahami pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki kemampuan mengingat yang sama sehingga dapat dibandingkan.
4.1.4.3 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan
Uji signifikansi pengaruh perlakuan dilakukan untuk mengetahui pengaruh penerapan STAD terhadap kemampuan memahami. Hal ini dapat dilihat dari perbedaan rerata selisih skor pretest dan posttest I pada kedua kelompok. Pengaruh perlakuan dapat dihitung menggunakan rumus (O2-O1) – (O4-O3), yaitu dengan mengurangkan selisih skor posttest I – pretest pada kelompok eksperimen dengan selisih posttest I – pretest pada kelompok kontrol (Cohen, 2007: 277). Jika hasil perhitungan bernilai lebih dari 0, maka terdapat pengaruh perlakuan. Hasil perhitungan kemampuan mengingat menunjukkan selisih skor rerata pretest dan
posttest I pada kelompok eksperimen sebesar 1, 05. Sedangkan selisih pretest dan posttest I pada kelompok kontrol sebesar 0,48. Hasil perhitungan selisih dari 1,05
dan 0,48 diperoleh angka 0,57 atau positif. Oleh karena itu, terdapat pengaruh pada penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan memahami. Berdasarkan uji normalitas data, rerata selisih skor pretest ke posttest
I pada kedua kelompok berdisribusi normal. Kemudian, analisis statistik yang
dilakukan adalah statistik parametrik dengan Independent samples t-test (Field, 2009: 326). Hal ini dikarenakan data yang dimasukkan berasal dari kelompok yang berbeda.
Sebelum melakukan uji statistik, peneliti melakukan uji asumsi terhadap homogenitas varians dengan melihat harga p. Jika harga p < 0,05 maka tidak terdapat homogenitas varians pada kedua data yang dibandingkan (Field, 2009: 340). Tetapi jika p > 0,05 maka terdapat homogenitas pada kedua data yang dibandingkan. Berikut tabel hasil uji asumsi homogenitas varians (lihat Lampiran 4.5.2).
80 Tabel 4.18 Hasil Uji Asumsi Homogenitas Varians
Uji Statistik F p Keputusan
Levene’s Test for Equality of Variances 0,03 0,858 Homogen Hasil Levene’s test menunjukkan harga F = 0,03 dan harga p = 0,858, (p > 0,05), sehingga terdapat homogenitas varians data. Jika terdapat homogenitas varians, maka data uji statistik Independent samples t-test yang digunakan adalah data baris pertama pada output SPSS (Field, 2009: 340).
Analisis selanjutnya menggunakan Independent samples t-test dengan tingkat kepercayaan 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah jika p < 0,05 (Field, 2009: 53). Berikut ini adalah hasil uji signifikansi pengaruh perlakuan pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terhadap kemampuan memahami (lihat Lampiran 4.5.2).
Tabel 4.19 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan
Uji Statistik p Keterangan
Independent samples t-test 0,000 Ada perbedaan
Skor rerata kelompok eksperimen (M = 1,05, SE = 0,107) lebih tinggi daripada rerata selisih kelompok kontrol yaitu (M = 0,48, SE = 0,102). Perbedaan skor tersebut terlihat signifikan t(66) = - 3,83, p = 0,000 ( p < 0,05). Maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Hal ini berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara rerata selisih skor pretest – posttest I pada kelompok kontrol dan eksperimen. Dengan kata lain penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan memahami. Berikut adalah diagram hasil perbandingan rerata selisih skor pretest ke posttest I kemampuan memahami pada kelompok kontrol dan eksperimen.
81 Gambar 4.6 Grafik Pretest dan Posttest 1 Kemampuan Memahami
Data di atas menunjukkan bahwa hasil pretest kedua kelompok tidak berbeda. Kelompok kontrol dengan rerata 1,94 sedangkan kelompok eksperimen 1,81. Hasil tersebut terlihat tidak jauh berbeda, sehingga pada kemampuan awal kedua kelompok tidak berbeda.
Gambar 4.7 Grafik Perbandingan Rerata Selisih Skor Pretest-Posttest I 1,94 2,42 1,81 2,86 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 Pretest Posttest1 M ea n Kel Kontrol Kel Eksperimen
82 Grafik di atas menunjukkan perbedaan selisih antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Mean pada kelompok kontrol sebesar 0,48, sedangkan mean kelompok eksperimen 1,05. Data tersebut menunjukkan mean kelompok eksperimen lebih tinggi daripada mean kelompok kontrol.
4.1.4.4 Uji Besar Pengaruh Perlakuan
Uji besar pengaruh perlakuan (effect size) bertujuan untuk mengetahui besar pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan memahami. Data terdistribusi dengan normal, sehingga menggunakan rumus koefisien korelasi Pearson (Field, 2009: 57). Independent
samples t-test digunakan untuk mengambil r dalam melakukan uji besar pengaruh
perlakuan. Presentase pengaruh perlakuan diperoleh dengan menghitung koefisien determinasi (R2). Menghitung koefisien determinasi dilakukan dengan cara mengkwadratkan harga r (harga koefisien korelasi Pearson yang didapat) kemudian dikalikan 100% (Field, 2009: 179). Berikut adalah hasil perhitungan
effect size terhadap kemampuan memahami (lihat Lampiran 4.6).
Tabel 4.20 Hasil Uji Effect Size
Variabel t t2 df r (effect size) R2 % Kategori
Efek
Memahami -3,830 14,67 66 0,42 0,18 18% Menengah
Tabel hasil uji effect size menunjukkan persentase pada kemampuan memahami. Besar pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan memahami adalah r = 0,42 atau 18%. Hal ini berarti besar pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD sebesar 18% atau menengah.
4.1.4.5 Analisis Lebih Lanjut
1. Perhitungan Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I
Perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I bertujuan untuk mengetahui persentase peningkatan skor rerata dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Analisis perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I pada uji normalitas data
83 menggunakan One Samples Kolmogorov-Smirnov test. Persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I dihitung dengan membagi selisih rerata pretest –
posttest I dengan rerata pretest, kemudian dikali 100%. Berikut adalah hasil
perhitungan persentase peningkatan rerata skor pretest ke posttest I (lihat lampiran 4.7.1)
Tabel 4.21 Peningkatan Rerata Skor Pretest ke Posttest I
No Kelompok Rerata Peningkatan
(%) P Signifikansi
Pretest Posttest I
1 Kontrol 1,94 2,42 25 0,000 Signifikan
2 Eksperimen 1,82 2,87 58 0,000 Signifikan
Gambar 4.8 Grafik Perbandingan Rerata Skor Pretest ke Posttest I
Data peningkatan rerata skor pretest ke posttest I menunjukkan rerata
pretest kelompok kontrol 1,94 dan rerata pretest kelompok eksperimen sebesar
1,82. Sedangkan hasil skor posttest I kelompok kontrol sebesar 2,42 dan rerata skor posttest I kelompok eksperimen sebesar 2,87. Hasil perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol sebesar 25% sedangkan hasil perhitungan persentase rerata pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen sebesar 58%. Berdasarkan perhitungan tersebut, kedua kelompok mengalami peningkatan skor dari pretest ke posttest I.
Persentase peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol yaitu sebesar
1,94 1,82 2,42 2,87 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5
Kel Kontrol Kel Eksperimen
Rer
a
ta
Pretest Posttest I
84 58%. Sedangkan persentase kelompok kontrol memperoleh sebesar 25%. Berikut grafik yang menunjukkan frekueni selisih pretest – posttest I (gain score) pada kedua kelompok.
Gambar 4.9 Grafik Gain Score
Gambar 4.7 menunjukkan bahwa gain score terendah pada kelompok kontrol adalah -1,00, sedangkan gain score terendah pada kelompok eksperimen adalah -0,67. Gain score tertinggi kelompok kontrol adalah 1,33, sedangkan gain
score tertinggi kelompok eksperimen adalah 2,00. Namun frekuensi siswa yang
mendapat nilai ≥ 0,83 pada kelompok kontrol berjumlah 4 anak, sedangkan kelompok eksperimen berjumlah 24 anak. Nilai 0,83 merupakan nilai tengah gain
score yang yang didapat dengan menghitung 50% dari nilai tertinggi. Persentase gain score ≥ 0,83 pada kelompok kontrol sebesar 26%, sedangkan pada kelompok
eksperimen sebesar 70% (lihat Lampiran 4.7.3). hal ini berarti 26% siswa pada kelompok kontrol diuntungkan dengan penerapan ceramah. Sebaliknya 70% siswa pada kelompok eksperimen diuntungkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Berdasarkan perhitungan tersebut, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD memiliki persentase lebih besar daripada metode ceramah.
1 4 6 6 8 6 1 1 1 1 2 5 2 1 8 1 4 8 1 1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 -1 -0,5 0 0,5 1 1,5 2 fr e ku e n si Gain Score Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen
85 2. Uji Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I
Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui peningkatan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Peneliti menggunakan uji statistik non parametrik Wilcoxon signed rank test karena data yang diuji data tidak normal dan dari kelompok yang sama. Tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 (Field, 2009: 53). Berikut adalah hasil uji peningkatan rerata pretest ke posttest I (lihat Lampiran 4.8.2).
Tabel 4.22 Hasil Uji Besar Pengaruh Peningkatan Rerata Skor Pretest ke PosttestI
No Kelompok Z N r R2 % Kategori Efek
1 Kontrol -3,750 68 -0,45 0,20 20 Kecil
2 Eksperimen -4,846 68 -0,59 0,35 35 Menengah
Tabel hasil uji besar pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan memahami. Persentase kelompok eksperimen lebih besar daripada persentase besar pengaruh penerapan metode ceramah pada kelompok kontrol. Besar pengaruh pada kelompok eksperimen sebanyak 0,35 atau 35%. Sedangkan pada kelompok kontrol sebesar 0,20 atau 20% . Pada kelompok eksperimen menunjukkan efek menengah dan kelompok kontrol menunjukkan efek kecil.
3. Uji Korelasi antara Rerata Pretest dan Posttest I
Uji korelasi dilakukan untuk mengetahui korelasi antara rerata pretest dan
posttest I positif atau negarif. Jika hasil positif berarti semakin tinggi skor pretest
maka semakin tinggi pula skor posttest I. Signifikan berarti hasil skor korelasi tersebut dapat digeneralisasikan pada populasi. Selain itu, uji korelasi untuk memastikan kontrol terhadap ancaman validitas internal penelitian regresi statistik. Regresi statistik terjadi jika siswa mendapat skor pretest tinggi dan juga mendapat skor posttest yang lebih rendah. Sedangkan siswa yang mendapat skor pretest rendah akan mendapat skor posttest lebih tinggi. Data yang digunakan adalah skor rerata pretest dan skor rerata posttest I pada kelompok kontrol dan
86 kelompok eksperimen. Dalam uji korelasi, data yang digunakan terdistribusi tidak normal, sehingga menggunakan rumus Pearson Correlation. Tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 (Failed, 2009: 53). Berikut hasil uji korelasi antara rerata
pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat
Lampiran 4.9.2).
Tabel 4.23 Hasil Uji Korelasi antara Rerata Pretest dan Posttest I
No Kelompok Pearson
Correlation
p Keterangan
1 Kontrol 0,37 0,031 Positif dan Signifikan
2 Eksperimen 0,16 0,376 Positif dan Tidak Signifikan
Berdasarkan hasil uji korelasi antara pretest dan posttest I, harga p pada kelompok kontrol sebasar 0,031 < 0,05. Hal ini berarti Hnull ditolak dan Hi diterima. Sehingga korelasi yang signifikan antara hasil rerata pretest dan hasil
posttest I pada kelompok kontrol. Sedangkan pada kelompok eksperimen harga p
sebesar 0,376 > 0,05, artinya Hnull diterima dan Hi ditolak. Maka korelasi yang tidak signifikan antara hasil rerata pretest dan hasil posttest I pada kelompok eksperimen. Hasil Pearson Correlation pada kelompok kontrol sebesar 0,37, sedangkan pada kelompok eksperimen sebesar 0,16. Harga Pearson Correlation menunjukkan nilai positif, berarti siswa yang mendapat rerata skor pretest rendah, pada posttest I mendapat rerata skor rendah. Sedangkan siswa yang mendapat rerata skor pretest tinggi, pada posttest I mendapat rerata skor tinggi. Kondisi ini ideal sehingga ancaman pada regresi statistik tidak terjadi dan dapat dikendalikan.
4. Uji Retensi Pengaruh Perlakuan
Uji retensi pengaruh perlakuan untuk mengetahui efek perlakuan yang diberikan setelah beberapa waktu. Uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan dengan menggunakan hasil pekerjaan siswa pada soal posttest II. Jarak waktu mengerjakan posttest I dan posttest II kurang lebih satu minggu. Data yang diuji berasal dari kelompok yang sama tetapi tidak normal, sehingga diuji menggunakan statistik non parametrik Wilcoxon signed rank test (Field, 2009: 345). Tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95%. Kriteria yang digunakan
87 untuk menolak Hnull adalah p < 0,05 (Field, 2009: 53). Jika harga p < 0,05 maka Hnull ditolak dan Hi diterima, atau dapat dikatakan terdapat perbedaan skor yang signifikan. Berikut adalah hasil uji retensi pengaruh perlakuan pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat Lampiran 4.10.2).
Tabel 4.24 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan
No Kelompok Rerata Peningkatan
(%) p Keterangan
Posttest I Posttest II
1 Kontrol 2,42 2,36 -2 0,404 Tidak ada
Perbedaan
2 Eksperimen 2,87 2,65 -8 0,030 Ada Perbedaan
Data di atas, kelompok kontrol menunjukkan harga p sebesar 0,404 (p > 0,05), maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Hal ini berarti tidak terdapat penurunan skor yang signifikanpada hasil posttest I ke hasil posttest II kelompok kontrol. Sedangkan harga p pada kelompok eksperimen sebesar 0,030 (p < 0,05), maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Hal ini berarti terdapat perbedaan skor yang signifikan dari skor posttest I ke hasil posttest II pada kelompok eksperimen.
Persentase penurunan rerata posttest I ke posttest II pada kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Hal ini ditunjukkan dengan persentase penurunan kelompok eksperimen sebesar -8%, sedangkan pada kelompok kontrol sebesar -2%. Berikut grafik skor pretest, posttest I, dan posttest
II kemampuan memahami pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.
Gambar 4.10 Grafik Pretest, Posttest I, dan Posttest II Kemampuan Memahami 1,94 2,42 2,36 1,81 2,86 2,64 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5
Pretest Posttest1 Posttest2
M
ea
n
Kel Kontrol Kel Eksperimen
88 Untuk memastikan pencapaian skor pada posttest II berbeda dengan pretest maka dilakukan analisis terhadap perbedaan skor posttest II dan pretest. Tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah p < 0,05, atau dapat dikatakan ada perbedaan skor yang signifikan. Berdasarkan tabel hasil uji perbandingan skor pretest dan posttest II (lihat Lampiran 4.11.2).
Tabel 4.25 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan
No Kelompok Rerata p Signifikansi
Pretest Posttest II
1 Kontrol 1,94 2,36 0,002 Ada Perbedaan
2 Eksperimen 1,82 2,65 0,000 Ada Perbedaan
Data di atas menunjukkan harga p kelompok kontrol sebesar 0,002 (p < 0,05), sedangkan harga p pada kelompok eksperimen sebesar 0,000 (p < 0,05), maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Hal ini berarti pada kedua kelompok terdapat perbedaan yang signifikan dari hasil pretest ke posttest II.