• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN STUD

Dalam dokumen Laporan Akuntabilitas Kinerja KPK 2014 Upload (Halaman 125-127)

NO KEGIATAN PENJELASAN 1. Studi Lanjut Pencegahan Korupsi Berbasis Keluarga

Sejak akhir 2012 s.d. 2013, telah dilakukan baseline studi yang menunjukkan bahwa orangtua belum menyadari fungsi-fungsi keluarga yang penting untuk menanamkan nilai kejujuran kepada anak. Output dari kegiatan ini adalah penyusunan strategi intervensi melalui program yang disingkat dengan FIT, yang kegiatannya meliputi: penyadaran fungsi keluarga (fungsi afeksi, fungsi sosialisasi, fungsi identitas sosial) kepada orangtua; internalisasi nilai kejujuran kepada anak, orangtua dan lingkungan; serta mempengaruhi orangtua dan lingkungan untuk menjadi teladan bagi anak dalam menerapkan nilai kejujuran.

Tahun 2014, KPK melakukan studi lanjut dengan ruang lingkup terkait penentuan lokasi pilot project Pencegahan Korupsi berbasis Keluarga berikut baseline study dan studi etnografi lokasi pilot project; Penyusunan materi program intervensi Pencegahan Korupsi berbasis Keluarga; dan Evaluasi program intervensi Pencegahan Korupsi berbasis Keluarga.

Kegiatan yang dilakukan dalam studi lanjut adalah observasi lapangan, diskusi pakar psikologi intervensi sosial, studi etnografi Kelurahan Prenggan, baseline survei, workshop dan FGD dengan praktisi intervensi, dan pembuatan matriks logical framework approach (LFA) dalam rangka penyusunan blue print konsep intervensi pembangunan budaya antikorupsi berbasis keluarga.

2. Studi Lanjut Penguatan Sistem Politik

Tujuan studi Penguatan Sistem Politik adalah mendapatkan pola pendanaan partai yang relatif ideal bagi Indonesia. Studi ini menggunakan metode analisis-deskriptif. Pada tahap awal, studi mempelajari konsep dan pengalaman negara lain. Lalu, studi mengumpulkan informasi teoritis dari ilmuwan politik, juga empiris dari beberapa pengurus partai dan praktisi. Kemudian, fakta yang terkumpul dipaparkan secara deskriptif. Selanjutnya, fakta tersebut dijadikan dasar analisis untuk mendapatkan pola pendanaan partai yang relatif ideal bagi Indonesia.

Hasil studi menunjukkan bahwa partai politik membutuhkan dana besar untuk menggerakkan dirinya. Idealnya, partai tidak dibiayai negara, tetapi oleh komunitas (anggota partai). Karena kondisi saat ini dimana komunitas masih lemah dan belum terorganisir, maka negara harus mengintervensi dengan cara mendanai partai. Sehingga, tindak lanjut studi ini adalah membangun formulasi dana bantuan pemerintah yang tepat dan tidak memberatkan keuangan negara.

3. Penyempurnaan Metodologi Survei Integritas

Studi ini dilakukan untuk memberikan arti strategis baru Survei Integritas bagi KPK, sekaligus meningkatkan validitas dan reliabilitas hasil penelitian Survei Integritas yang dilakukan selama ini. Studi ini juga dilakukan dalam rangka penyesuaian pengukuran berdasarkan kebutuhan Road Map dan Renstra KPK.

Hasil analisis penyempurnaan metodologi Survei Integritas mengedepankan kebutuhan Road Map dan Renstra KPK 2012-2015. Bagian penting di antaranya adalah terdapatnya kebutuhan organisasi untuk menilai/mengukur integritas di mana tidak dapat sepenuhnya diakomodasi oleh pengukuran survei integritas yang ada saat ini. Oleh karena itu dilakukan penyempurnaan- penyempurnaan metode dan pelaksanaan terutama dalam hal: Definisi Integritas dan Aspek Integritas; Definisi Korupsi; Variabel, indikator dan sub indikator; Target Organisasi; Target Pekerjaan/Layanan; Sampling dan Teknik Pengumpulan Data Survei; Perhitungan Skor; On site Inspection, dan Pendekatan dalam Pelaksanaan Survei Integritas.

4. Naskah Sistem Integritas Nasional (SIN)

Pendekatan pemberantasan korupsi melalui upaya membangun integritas perlu terus didorong. Di Indonesia upaya tersebut sudah muncul, diinisiasi oleh berbagai institusi, baik itu institusi pemerintah, swasta maupun masyarakat sipil. Kendatipun demikian, upaya tersebut perlu dikoordinasi dengan baik untuk hasil yang optimal. Dalam konteks ini diperlukan kehadiran suatu Sistem Integritas Nasional Indonesia (SINI) yang akan berperan sebagai payung dan acuan bagi berbagai upaya membangun integritas. Diperlukan juga kehadiran sebuah institusi yang bertanggung jawab menjalankan konsep sistim integritas tersebut, sehingga yang tertulis di kertas dapat terwujud dalam kehidupan nyata.

Tujuan umum disusunnya Sistem Integritas Nasional adalah untuk menjadikannya payung bagi upaya untuk mewujudkan integritas dalam kehidupan keseharian guna mendorong pembangunan yang berkelanjutan dan mensejahterakan rakyat Indonesia. Tujuan khusus dari dokumen SINI ini adalah memberikan gambaran tentang konsep SIN dan memberikan gambaran tentang strategi mewujudkan SINI yang efektif bagi seluruh pemangku kepentingan. Penyerahan Buku Konsep SIN kepada Kepala Bappenas oleh Pimpinan KPK pada 7 Agustus 2014.

PENGUKURAN

NO KEGIATAN PENJELASAN 1. Pengukuran Indeks

Penegakan Hukum (IPH)

Indeks Penegakan Hukum adalah salah satu indikator untuk mengukur keberhasilan capaian setiap fase dalam Road Map KPK, selain ukuran Tingkat keberhasilan Pemberantasan Korupsi. Indeks ini dikembangkan dan digunakan untuk menilai tingkat keberhasilan penegakan hukum yang dilakukan oleh KPK dalam pemberantasan korupsi. Kegiatan yang dilakukan pada tahun ini adalah mengukur Indeks Penegakan Hukum KPK tahun 2013 dan memberikan saran perbaikan terkait bisnis proses penanganan kasus korupsi di KPK.

Indeks Penegakan Hukum yang dikembangkan terdiri dari lima sub indikator yaitu: (1) Rasio Persentase Penyelesaian Laporan Tindak Pidana Korupsi (bobot 10%); (2) Rasio Persentase Penyelidikan yang menjadi Penyidikan (bobot 20%); (3) Rasio Persentase Penyidikan yang menjadi Tuntutan (bobot 30%); (4) Conviction Rate (bobot 30%); dan (5) Execution Rate (bobot 10%). Formula penghitungan total Indeks Penegakan Hukum didapatkan dengan menjumlahkan hasil perkalian nilai masing-masing indikator dengan bobotnya masing-masing.

2. Pengukuran Indeks Integritas Organisasi KPK

Perwujudan dari pentingnya pengembangan integritas bagi organisasi dituangkan ke dalam salah satu fokus area dalam dokumen Rencana Strategis KPK khususnya pada perspektif pemangku kepentingan. Pada prespektif ini KPK berkomitmen untuk melakukan pembangunan kelembagaan KPK dengan sasaran strategis berupa terwujudnya integritas organisasi KPK. Indikator keberhasilan dari fokus area tersebut kemudian diukur dengan Indeks Integritas KPK. Hasil pengukuran indeks integritas organisasi KPK berdasarkan pendekatan survei mendapatkan skor 3,26 dan nilai penilaian diri sebesar 2,74. Nilai ini menunjukkan adanya keselarasan penilaian antara penilaian yang dilakukan oleh manajemen (penilaian diri) dan dari prespektif pegawai. Skor mencerminkan nilai integritas KPK masuk dalam kategori nilai sedang, yaitu pada tahapan kelayakan dan implementasi. Pada tahapan ini KPK sudah memiliki upaya-upaya awal dalam mengembangkan integritas namun upaya-upaya tersebut masih mengalami kendala ditingkat implementasinya. Persoalan dapat terkait kelayakan penerapan dari instrumen (kejelasan peraturan, kemudahan pelaksanaan dan lainnya) ataupun kekonsistenan dan keadilan dalam penerapan upaya/instrumen integritas tersebut.

3. Survei Integritas Sektor Publik (SI) 2014

Survei Integritas (SI) tahun 2014 yang merupakan survei tahunan yang dilakukan oleh KPK sejak 2007, dilakukan dalam rangka memberikan penilaian terhadap integritas layanan yang diberikan oleh unit layanan di kementerian/lembaga kepada masyarakat. Tahun 2014, SI dilakukan pada 40 unit layanan di 20 Kementerian/Lembaga.

Dengan menggunakan skala 0-10, nilai Integritas kementerian/lembaga tahun 2014 adalah 7,22. Nilai ini disusun dari nilai pengalaman integritas (7,41) dan nilai potensi integritas (6,83). Meski nilai kedua variabel tersebut sudah di atas standar minimal (6,00), namun masih ada indikator dan sub indikator penyusun variabel Potensi Integritas yang nilainya di bawah standar minimal, antara lain: Indikator Pencegahan Korupsi (5,89) dan subindikator: Tingkat Upaya Anti Korupsi (5,93) serta Mekanisme Pengaduan Masyarakat (5,77). Hal tersebut menunjukkan perlu peningkatan upaya pencegahan korupsi.

4. Indeks Kinerja Sektor Strategis

Salah satu alat ukur pencapaian sasaran dalam Rencana Strategis (Renstra) KPK terutama untuk sasaran kedua yaitu pembangunan sektor strategis adalah Indeks Kinerja Sektor Strategis. Indeks Kinerja Sektor Strategis mengukur kinerja dan upaya-upaya yang sudah dilakukan KPK pada sektor-sektor strategis yang menjadi prioritas dalam renstra KPK. Hasil studi diharapkan dapat memberikan landasan bagi evaluasi implementasi rencana strategis yang sudah diterapkan. Pengukuran dilakukan untuk mendapatkan nilai secara umum dan nilai pada masing-masing sektor strategis. Nilai indeks diperoleh dari rerata nilai di masing-masing sektor. Skala yang digunakan adalah skala satu (1) sampai lima (5). Hasil perhitungan menunjukkan Nilai indeks kinerja sektor strategis tahun 2013 (yang dilakukan pada tahun 2014) sebesar 4,58, meningkat dari skor periode tahun sebelumnya (4,45). Nilai skor terendah diperoleh pada sektor infrastruktur (4,46) diikuti oleh sektor aparat penegak hukum (4,51), sektor ketahanan energi dan lingkungan (4,57), sektor ketahanan pangan (4,69) dan sektor penerimaan (4,73).

5. Survei Pemahaman Masyarakat terhadap Integritas Pemilu 2014

KPK melaksanakan Survei Persepsi Masyarakat terhadap Integritas Pemilu (SPM Integritas Pemilu) untuk mendapatkan data mengenai pemahaman masyarakat terhadap pemilu yang berintegritas. KPK ingin mengetahui tingkat pemahaman masyarakat berkaitan dengan etika dalam pemilu baik dari sisi masyarakat sendiri sebagai pemilih maupun etika penyelenggara dan peserta pemilu.

Secara keseluruhan skor integritas pemilih di 10 (sepuluh) kota cukup baik, terutama pada indikator Pengetahuan Tentang Perilaku Peserta Berintegritas, Pengetahuan Tentang Perilaku Penyelenggara Berintegritas, dan Sikap Terhadap Perilaku Penyelenggara Pemilu yang memiliki skor lebih besar dari 4 (Indeks 1-5). Yang perlu mendapat perhatian khusus untuk skor integritas adalah yang nilainya dibawah 3 (tiga), yaitu indikator Sikap Terhadap Perilaku Pemilih (2.49), dan Perilaku Pemilih (2.30). Hal ini menandakan bahwa pengetahuan tidak selamanya konsisten dengan sikap dan perilaku. Misalnya, salah satu hasil survei menyatakan bahwa sebanyak 67,6% responden menjawab akan menerima bila diberi bingkisan oleh peserta pemilu atau tim sukses. Lalu 64,9% menganggap pemberian-pemberian saat atau menjelang pemilu adalah hal yang baik/biasa karena kebutuhan ekonomi sehari-hari.

Dalam dokumen Laporan Akuntabilitas Kinerja KPK 2014 Upload (Halaman 125-127)